Sabtu, 21 Februari 2015

Apa Kata TV Soal Konsumerisme

source : fineartamerica.com/profiles/allan-swart
Di ruang tengahnya yang hangat, David selonjoran di sofa, menjulurkan tangan lalu menekan tombol remot TV dengan malas, mencari-cari sesuatu untuk menghiburnya. Tapi percuma saja, Ia tetap gelisah menahan hasrat yang lebih besar daripada akal sehatnya. Matanya melirik jam dinding, sudah jam 1 malam rupanya. Dia tahu, kota seperti Sydney -tempat ia tinggal saat ini- ada banyak super market yang buka 24 jam. David sudah tidak tahan lagi, ia sambar baju hangat yang ada di ruang tengah, juga kunci mobil dan bergegas ke garasi. Mobil ia pacu, berharap agar ‘birahinya’ ini bisa segera menemukan pelampiasan.

Terang neon toko menyambut riang David, “oh saat-saat yang mendebarkan”, gumamnya.
Satu jam kemudian David keluar dari supermarket menenteng dua kantong besar belanjaan. Perjalanan dari kasir, ke pintu keluar menuju halaman parkir adalah puncak kenikmatan. Ia tak akan menyianyiakannya, David sedang “high”. Candu telah ia temukan, dihisap, dikunyah, dibiarkannya mengalir ke darah menuju otak dan mengantarkan domapin yang penuh kesenangan. Akhirnya Ia bisa tidur nyenyak malam ini.

Pagi, matahari lembut menyapu wajahnya. Tak jauh dari tempat tidur dua tumpuk barang bersesak-sesak di dalam kantong plastik putih. David menatap lesu. Penyesalan perlahan mengalir, memancar kemudian meledak di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hangat pagi membuatnya sadar, kecanduan akan belanja belum bisa ia kendalikan. Ia sakit dan butuh pertolongan.

Cerita mini di atas adalah potongan adegan program “Taboo” yang ditayangkan NG yang kali ini membahas tema “Addicted”. Sungguh sebuah kebetulan yang menarik sekaligus mengusik. Karena di malam yang sama saat tayangan itu muncul, saya baru saja menyelesaikan membaca buku “Sosiologi Waktu Luang: Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mall”. Buku ini ditulis oleh M. Ridha, seorang kenalan saat saya sedang aktif-aktifnya menghidupi sebuah jurnal bersama teman-teman di Makassar.

Addicted dan buku karya Ridha sama-sama membahas tentang konsumerisme, kebiasaan yang mulai menggeliat pada era pasca revolusi Industri, kemudian meledak di Eropa dan menjalar ke negara-negara dunia ke tiga termasuk Indonesia.Tentu saja keduanya membedah belanja dari perspektif yang berbeda. Dan karena perbedaan itulah saya membuat tulisan ini. Perbedaan-perbedaan ini serius adanya dan berimplikasi pada audiensnya masing-masing, pembaca pada buku M. Ridha dan pemirsa/penonton pada Addicted.

Pola, Narasumber dan Sudut Pandang “Addicted”

Baiklah saya akan bahas apa yang Addicted tawarkan ke pemirsa seperti saya. Lewat sebuah buku berjudul Analisis Framing yang kubaca 2008 silam, saya yang bukan mahasiswa Ilmu Komunikasi memperoleh sedikit panduan bagimana menilai sebuah karya Jurnalistik. Salah satunya adalah cara menebak sudut pandang sebuah berita (dalam kasus ini adalah sebuah dokumenter) melalui pemilihan narasumber. Mengetahui sudut pandang berarti mengetahui pesan “sebenarnya” yang ingin disampaikan oleh sebuah dokumenter sekaligus menyadari motif dibalik pembuatannya.

Sejauh yang saya amati ada 3 narasumber yang NG tampilkan dalam alur cerita Addicted. Yang pertama adalah David warga Sydney pengidap Shopaholic, Celia berprofesi sebagai psikiater dan terakhir dosen pengajar jurusan psikologi, Robert.

Ada pola yang berulang yang digunakan oleh NG dalam menceritakan Addicted. Menampilkan kisah David lebih dahulu, dikomentari oleh psikiater kemudian dilengkapi oleh pendapat dosen. Selama 30 menit menonton acara ini, pola ini cenderung konsisten dan tak berubah. David seperti terdakwa yang sedang disidang, ia dinilai oleh jaksa, hakim dan juri sekaligus. Tentu saja karena David adalah orang dengan perilaku menyimpang.

Namun, mengapa NG hanya menggunakan dua narasumber dari latar belakang yang sebenarnya hampir sama, psikologi? Addicted mengulik kecanduan belanja dari sudut pandang psikis semata! Hal ini menggiring saya (pemirsa TV) untuk menerima pesan bahwa shopaholic merupakan satu jenis penyakit jiwa disebabkan karena semata kelalaian dan kelemahan si pengidap serta faktor eksternal lain. Ada beberapa scene di mana faktor eksternal dijelaskan sebagai salah satu katalisator kecanduan pada David. Contohnya, scene di mana David diceritakan mewarisi beberapa juta dollar tabungan dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Selanjutnya ada kartu kredit dan bukti peminjaman dana. Kemudahan-kemudahan itu memberi jalan yang lapang bagi David untuk masuk ke dalam perangkap candu belanja.

Itu saja? Ya, saya pikir argumentasi NG melalui Addicted hanya sebatas pemberitahuan dan peringatan kepada pemirsanya. Ini adalah program TV yang memberi anda info tentang jenis kecanduan lain selain narkoba namanya shopaholic, ia berbahaya, bisa bikin bangkrut dan menghancurkan kehidupan (masa depan?) kita. Ini adalah sejenis penyakit yang muncul di jaman modern, kita harus berusaha keras untuk menghindarinya.

Itu adalah pesan yang baik, tulus dan menghindarkan kita dari bencana. Dan satu lagi, Addicted benar adanya, tapi tetap saja tayangan ini membut dahi saya berkerut.

Kedangkalan Bisa Jadi Sesat

Penggalian NG pada shopaholic hanyalah di permukaan saja, sementara sebab musabab lain masih dalam tertanam -tak dijangkau olehnya- sehingga pemirsa juga tak melihatnya. Apakah ini sengaja dilakukan? Atau karena soal durasi? Saya pikir bukan.  

Menuduh individu yang tak mampu menahan hasrat dan dukungan faktor eksternal sebagai penyebab gila belanja adalah kesimpulan yang prematur. Karena jika menilik akar historisnya shopaholic, konsumerisme disebabkan oleh faktor-faktor yang bersinggungan dengan lapangan ekonomi, politik, sosiologis juga psikologis (ranah yang dieksplogasi NG dengan sangat dangkal dalam addicted).

Tampaknya semakin rumit dan untuk menghindarinya saya tidak kan membahasnya terlalu panjang.

Sebagai televisi yang identik dengan nama majalah yang punya reputasi sangat baik, sebenarnya saya mengharapkan lebih ketika mereka menayangkan program-programnya. Namun tidak seperti artikel-artikel di majalah yang terkenal mendalam dengan pemilihan narasumber yang hati-hati dan kompeten, Addicted berbeda jauh secara kualitas.

Saya mengharapkan Addicted mampu mengeksplorasi shopaholic dengan lebih menyeluruh misalnya dengan menceritakan sejarahnya, latar sosial, ekonomi dan politik ketika penyakit jiwa tersebut mulai muncul dan menyebar. Siapa tahu saja, NG menemukan fakta bahwa penyakit gila belanja sudah temukan sebelum revolusi Industri dan revolusi Perancis terjadi. Dua momen penting sebagai tonggak lahirnya ideologi dominan hari ini : kapitalisme.

Saya juga berharap NG menampilkan data-data yang menjelaskan keterhubungan durasi menonton TV dengan jumlah konsumsi per kapita sebuah kota atau negara. Ekspektasi selanjutnya adalah Addicted akan menyuguhkan gambar saat peristiwa Malaise terjadi Amerika Serikat yang diakibatkan oleh over produksi. Momen yang diawali Selasa Kelam, peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929 menyebabkan depresi ekonomi berat di negeri uncle sam. Kejadian itu membuat korporasi belajar bahwa over produksi  adalah penyakit inheren dalam sistem kapitalisme dan obatnya selain ekspansi pasar juga mendorong semua pasar (baik yang dekat maupun yang letaknya ribuan kilometer jauhnya) untuk mempraktekkan budaya baru : konsumersime.

Saya mencurigai NG menyembunyikan fakta-fakta tentang konsumerisme sehingga pemirsanya mengambil kesimpulan yang prematur dan akhirnya tersesat. Penonton jadinya tak tahu duduk persoalan sebenarnya tentang konsumerisme, melanjutkan hidup dan tak akan mempertanyakan lebih jauh dunia seperti apa yang mereka jalani saat ini.

Agak naïf memang mengharapkan NG menelanjangi negara seperti AS-di mana korporasi raksasa bercokol-yang aktif mengekspor budaya mereka demi diadopsinya konsumerisme sesegera mungkin oleh negara-negara dunia ke tiga (baca: pasar). Naif memang, karena NG juga merupakan salah satu garda depan, bersama MTV, Hollywood dan kawan-kawannya yang aktif mengindtrodusir kebudayaan barat melalui tayangan-tayangannya. Standar hidup, membeli asuransi, makan di gerai-gerai cepat saji, jalan-jalan ke Mall, memakai baju, sepatu dan pernak-pernih yang dicontohkan para idola dari California adalah sedikit dari segudang kebiasaan baru yang diperkenalkan oleh barat ke negara-negara seperti Indonesia. American Dream, dua kata yang akrab saya dengar dari film Hollywood atau lirik dari lagu favorit saya.

Kita bisa tengok India, pada tahun 1990 hanya 10% dari total populasi masyarakat India yang mampu mengakses TV. Angka tersebut berubah menjadi 75% pada tahun 1999, delapan tahun setelah pemerintah India setuju untuk meminta bailout pada IMF dan merevisi sejumlah kebijakan ekonomi. Globalisasi ekonomi India kemudian diikuti oleh globalisasi kultur, beberapa orang menyebutnya sebagai westernisasi India. Stasiun TV asing meningkat pesat jumlahnya, begitu pula impor film Hollywood yang membanjiri pasar film nasional dan bersaing dengan film-film lokal[1]. Televisi yang banyak membawa nilai-nilai dari luar terutama dari Barat memberikan pola pemikiran baru, masyarakat mulai menginternalisasi nilai-nilai yang dipromosikan yang kemudian mendorong terciptanya gerakan bagi pola hidup mereka[2]. Seiring dengan hal tersebut, di India kemudian terbentuk jenis kelas sosial baru yaitu kelas menengah. Mereka mengejar standar hidup barat, fasih berbahasa Inggris dan menerima kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan (sesuatu yang tidak pernah ada di masyarakat India sebelumnya).

Di jaman di mana status jomblo sama dengan batu akik, sama-sama diekspoitasi demi menghidupi banyak orang, rasanya istilah Gegana (galau gundah gulana) bisa jadi katalisator yang baik bagi saya untuk menulis. Makanya tulisan ini selain disebabkan galau pada NG, juga karena ingin mengingatkan diri sendiri bahwa curiga tidak selamanya salah. Pemirsa televisi mesti memiliki sikap kritis terhadap tayangan televisi. Agar kita tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka sampaikan sebelum kita cerna baik-baik dan membandingkannya dengan sumber informasi lain yang punya sudut pandang yang berbeda. 

Ah rempong. Mana pilih, repot-repot berpikir atau terus dibodohi. :D

Atau mungkin kita bisa mengambil langkah lain. Matikan TV dan mulai mengerjakan hal-hal lain di mana kita berlaku sebagai subjek aktif, main game misalnya? :P 


Rujukan:
[1]http://mahrita-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-82498-PengantarGlobalisasi-Pengaruh Globalisasi terhadap Pergeseran Kelas dalam Masyarakat: Studi Kasus Fenomena Konsumerisme di India.html

[2] Ibid

Jumat, 23 Mei 2014

Tentang RR dan The Trees and The Wild

Pada suatu siang yang lowong ditemani laptop butut dengan koneksi yang masyallah lambatnya, saya bertemu dengan seseorang di dunia maya. Di sudut sunyi tanpa hiruk pikuk pemirsa fb dan laman sejenisnya yang tengah sibuk membicarakan siapa pendamping jokowow di bursa transfer presiden yang akan memantati seluruh warga negara, saya bertemu dengan RR. Siapa dia? Saya juga tidak mengenalnya. Saya hanya tertarik dengan selera musiknya, saya bertanya dan ia menjawab. Saat dia bertanya saya menjawab. Seperti itulah hubungan pertemanan yang berjalan satu jam ini.

Ia menyodorkan satu band, indie katanya dari Bandung. Tak ada salahnya mencoba, saya pun mencari ‘The Trees and The Wild’ di google. Selang beberapa detik saya menemukannya di soundcloud. Tanpa pikir panjang soal koneksi dan kuota yang lagi cekak, saya download satu lagu, judulnya ‘malino’. Memang prinsip jurnalistik yaitu proximitas selalu benar adanya. Saya memilih judul karena sama dengan nama daerah wisata gunung yang tak jauh dari Makassar dan tentu saja karena saya pernah ke sana. Tak ada kenangan buruk di tempat itu, jadi saya akan ingat.

Balik lagi ke soal lagu. Setelah menunggu sambil masak mie, bersih-bersih kamar, cuci baju, menolong tetangga yang cantik nan seksi membuang sampah, akhirnya donlotan yang tak sampai 4 mb itu selesai juga. Saya langsung putar, kebetulan speaker butut dengan denguangan bass yang ciamik sudah terhubung dengan lappy.

Intronya sungguh menggoda, petikan gitar yang jernih dan menjanjikan, dalam hati saya menggerutu riang. Saat suara vocal masuk saya sedikit kecewa, kedengarannya mirip dengan gaya bernyanyinya si band sok keren Alexa. Hehehe.

Ah…saya jatuh cinta dengan lagu ini. Membuat hayalan bisa ke mana-mana. Saat mendengarkan, saya berbagi dengan RR betapa nyamannya mendengar lagu ini. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih telah karena ia telah mengenalkan saya dengan band ini. RR bilang dia hanya suka band dengan konsep akustik, saya tak mengerti soal genre dan bukan tak punya banyak kata tentang jagad musik.

RR dari Toraja, ia sedang kuliah saat ini dan senang membaca.  Koneksi terputus, dan berpisahlah kami. Tak tau bagaimana cara menghubunginya lagi. Sejam yang menyenangkan, pikirku.

Saya kemudian mengkhayal ditemani bisikan di telinga suara “mari rasuk- mari rasuk”…..


Senin, 19 Mei 2014

Semoga Saya Tidak Lupa


Kemarin saya terlibat percakapan, walaupun tidak berapi-api seperti dulu tetap saja saya senang berbicara dengan temanku yang satu ini. Saat ini kami berdua terpisah di dua tempat yang berbeda, dan akan bertemu pada akhir bulan ini. Sama seperti sebelumnya percakapan kami masih seputar rencana ke depan, setelah berbulan-bulan ke tempat antah berantah mencari duit.

Ambisius, ya rencana yang kuajukan sendiri sangat ambisius walaupun di belakang hari motivasiku surut entah karena apa. Percakapan semalam membuat rencana yang mulai terlupa itu, tertata kembali, terususun kasar memberi gambaran apa yang akan saya lakukan sepulang nanti.

Saya mau menuliskannya di sini, jika suatu hari semangat kembali surut, saya akan mengingatnya bahwa saya sangat menginginkan hal ini terjadi.

#Plan 1 Membentuk Organisasi Massa
# Plan 2 Membentuk Komite Aksi Pendidikan dan Penyebarluasan Ide
#Plan 3 Membentuk Tim Organizer Buruh dan Miskin Kota Militan
#Plan 4 Menyusun sel usaha ekonomi kolektif
#Plan 5 Pengembangan sel kerja media dan propaganda

Hampir lima tahun kami terlibat dalam kerja kolektif namun hampir tidak ada hasil yang memuaskan. Sel media memang ada namun audiensnya kurang, sistem kerjanya terlalu cair, orang-orangnya tidak militan dan penerbitan medianya selalu molor dari deadline yang ditentukan.

Pengorganisiran? Hanya sebatas cerita di mulut saja, kami pernah mencobanya dan gagal total.

Membangun organisasi massa yang kuat dan militant? Saya baru kepikiran setahun terakhir, pengalaman minim dan eksperimentasi pertama menemui jalan buntu.

Satu jam lebih saya berbicara dengannya, teralu banyak hal disesali, terlalu banyak kesalahan dan tidak sedikit trauma yang dialami setelah banyak project yang gugur di tengah jalan atau hasilnya jauh dari ekspektasi.

Walaupun begitu, saya selalu dikuatkan oleh temanku yang satu ini. Saya masih percaya, kehidupan yang berbeda dari yang saat itu mungkin! Sangat mungkin, namun harus diusahakan dengan tangan dan keringat sendiri.  

Palu 19 Mei 2014
FF


Kamis, 31 Oktober 2013

Sabtu Biasa

Membersihkan
Menonton Night Train To Lisboa (
Baca Artikel Mabuk Ikan di Makassar
Makan Mie Instan
Nongkrong di Daeng Sija, mendengar obrolan pekerja

Minggu-minggu terakhir di Makassar sebelum berangkat ke Palu sungguh berat dan membosankan.

Belajar Trolled :p

Belakangan ini saya sedang suka dengan gambar-gambar Troll yang banyak melayang-layang di jagad super absurd Facebook. Page bernama Troll Football, tiap hari pasti merilis gambar troll yang bikin mood jadi segar kembali. Apalagi gambar-gambarnya memang punya 'niche' khusus sepak bola. Olala...si admin yang punya page tampaknya punya selera humor yang adiguna #apasih.

Berikut saya hantarkan satu karya saya yang pertama untuk Troll.. hihihihi :D
Bagus kayaknya kalo ada judulnya. ini moh #JenniferAnistonTrolled

JenniferAnistonTrolled
Menurut saya ini garing..hahaha...tak apalah...lebih dari cukup untuk menghibur diri di sore yang mendung dan sedikit membosankan :p

Jumat, 25 Oktober 2013

Di mana Pencerita Lebah?


Jenny
Hari-hari di sini semakin membosankan. Di mana kah kau pencipta cerita lebah? Di kota ini semua yang kulakukan hampir sama. Walau membosankan, saya ingin bertahan. Tidak tahu sampai kapan. Saya rindu rumah, saya rindu mama, saya rindu bapak. Mereka tinggal berdua di rumah papan itu. Saya semakin rindu kalau hujan seperti ini, karena rumah selalu hangat oleh mereka.

Hei pencerita, kau masih hidup bukan? Kemarin saya mimpi soal kau. Saya juga berbincang dengan teman tentang dirimu. Untuk sesaat kenangan dulu memanjat ke permukaan. Kau ingat Mou? Dia akan sukses di Inggris. Kau membencinya? Hahahaha. Kita tetap rival dalam urusan sepakbola.

Saya tidak tau kita memang dekat atau tidak. Tapi kurasa musim hujan beberapa tahun yang lalu, kita lalui dengan baik sebagai pengangguran angkatan baru.

Semoga kau sehat-sehat saja. Saya sedang bosan. Semoga bisa bertemu denganmu. Saya rindu.

Senin, 09 Juli 2012

Tiga Cerita di Rumah Panggung

Kami sedang menunggu siang itu, saya dan dua orang temanku menanti beberapa orang ibu-ibu di tanah rawa. Rencananya akan ada pertemuan sore itu, kami hendak belajar bersama tentang berbagai macam hal, mulai dari keterampilan kreatif hingga pengetahuan kritis tentang kondisi hari ini. Pertemuan belum juga dimulai, kami bersama dua orang ibu yang baru datang sudah  terlibat  dalam pembicaraan serius tentang anak-anak mereka yang mendaftar di SD negeri dan tentang keponakannya yang sulit mendapatkan layanan pengobatan. Mungkin seperti ini rekaman saya saat itu.

Rumah sakit yang benar-benar sakit
Mace (kata yang artinya sama degan ibu dalam bahasa indonesia) Rusna lebih dulu melontarkan kekesalannya akibat ulah pihak rumah sakit yang berseblahan dengan hotel bertaraf internasional. Ia mulai dengan keponakannya yang berumur 10 bulan yang tiba-tiba sesak nafas di malam hari. Saudara Mace Rusna  sudah mendatangi dua rumah sakit dan selalu ditolak dengan alasan sudah tidak ada lagi ruang perawatan yang kosong. Melihat kondisi ini, akhirnya mace Rusna  berinisiatif menemani saudaranya untuk berbicara ke pihak rumah sakit. Sesampainya di sana, mace Rusna  ngotot agar keponakannya segera ditangani, ia pun diarahkan untuk menemui salah satu dokter. Ia diundang masuk ke sebuah ruangan dan diminta menjelaskan duduk persoalannya. Dengan berapi-api ia mencontohkan apa yang dikatakannya pada dokter malam itu. “Saya mengerti pak sepenuhnya kalau dibilang sudah penuh, tapi saya tidak mengerti kalau anak kecil ini tidak bisa diobat hanya karena tidak ada ruangan”, ujar mace Rusna  mencontohkan. Ia melontarkan kata-kata itu sambil menangis karena ia sempat menoleh ke ponakannya yang bernafas tersenggal-senggal. Si dokter pun ngotot tak bisa menerima pasien, “dari tadi kan saya bilang di sini sudah penuh, masa ibu tidak mengerti!”.
Mace Rusna  bersikeras, ia tetap berdiri di pintu ruangan dokter tersebut walaupun dokter sudah mengakhiri pembicaraan. Tetap membatu demi menunggu kesempatan. Ia kembali memperagakan gerutuannya dalam hati. “Begini mi kayaknya kalau miskin ki di, selalu tidak diperhatikan, selalu dinomor dua kan”. Tak lama berselang seorang ibu paruh baya menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi. Mace Rusna  pun menjelaskan semuanya. Ibu itupun menawarkan tempatnya yang berada di ruang perawatan kelas 3 (ekonomi) dan ia rela pindah ke ruang kelas 1 (yang agak mahal). Mace Rusna  pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Mace Rusna  dan saudaranya mengurus semua administrasi sementara keponakannya sudah mulai dirawat, diberikan bantuan pernafasan. Malam yang panjang dan melelahkan pun terlewati dan ia menutup ceritanya dengan deretan kata,” jika kita tidak berusaha menuntut hak kita, selamanya mereka yang bekuasa tidak akan mempedulikan kita”.

Lima Bocah yang ditolak
Sesekali Mace Asih menggoyang-goyangkan badannya ketika bayi nya mulai menangis. Ia lantas melanjutkan cerita tentang anak ke tiganya yang tidak diterima di SD negeri yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia tak menyangka anaknya yang sudah menginjak usia 9 tahun itu, tidak lulus masuk ke sekolah negeri tersebut. Bukan hanya anaknya, ada 4 anak lain dari tanah rawa yang juga tidak diterima. Pada hari pengumuman, Mace Asih penasaran mengapa anaknya tidak diterima. Ia pun berinisitaif mencari tahu dan bertanya pada panitia penyeleksi.

Sebelum bercerita lebih lanjut, mace Asih mengungkapkan keheranannya akan proses seleksi yang berlakukan pihak sekolah terhadap calon siswa. Setelah mendapatkan nomor pendaftaran, anak-anak tersebut masih harus menjalani tes membaca dan menulis. “Terus apa gunanya sekolah itu anak-anak kalau sudah tahu memang mi membaca sama menulis, sekolah kan gunanya untuk mengajari itu”, ketus mace Asih.
Benar saja, alasan utama mengapa anaknya ditolak karena ia tidak lancar membaca dan menulis. Ia pun berang, begitu juga dengan ibu-ibu lain baik dari tanah rawa maupun sekitarnya yang juga mendapati nomor pendaftaran anaknya tidak tertera di papan pengumuman kelulusan. Mereka pun pulang dengan sesak di dada. Beberapa ibu-ibu pun mengeluarkan celetukan, “kalo orang miskin susah sekali diterima, sementara yang kaya tidak banyak tanya langsung-langsung ji diterima”. Lima anak tanah rawa tak jadi bersekolah.

Bukan Pencuri
Saya kaget ketika Mace Lia tiba-tiba saja naik ke rumah panggung tempat kami berkumpul. Tidak biasanya mace yang satu ini antusias dengan keramaian. Beberapa kali kami mengajaknya untuk ikut berkumpul dengan ibu-ibu lain di tanah rawa, namun ia selalu punya alasan untuk menolak. Kali ini ia punya sesuatu untuk dibagi, namun ini bukan sesuatu yang menyenangkan.
Anaknya yang paling tua sedang ditahan di polsek, padahal ia jadi tulang punggung perekenomian keluarga  saat ini. Ia dituduh mencuri penutup ban mobil yang biasa nangkring di belakang mobil Jeep. Menurut mace Lia anaknya, saat itu tidak jauh dari TKP dan tiba-tiba ada dua anak berlari ke arahnya dan memberikan sesuatu. Ternyata itu adalah penutup ban mobil, ia terpaku tak mengerti. Tak lama setelahnya satpam mendatanginya. Ia kemudian disemprot dengan pertanyaan tanpa sempat menyela,kemudian di bawa ke pos satpam pasar.

Ia meminta pendapat dari ibu-ibu yang lain tentang bagaimana cara mengeluarkan anaknya dari tahanan polisi. Kami pun silih berganti berbicara. Pembicaraan mengerucut pada satu solusi, mace Lia disarankan berbicara pada penyidik anaknya dan memaparkan tentang kejadian dan kondisinya saat ini. Jika celah tak ada, kami sepakat akan mencari jalan lain yang memungkinkan.  

Mace Lia sudah berbagi, ia perih karena ia tahu ini akan sulit. Ia tahu bahwa polisi sangat suka duit agar anaknya bebas. Ia tahu bahwa orang sepertinya sangat mudah dituduh kriminal, tanpa punya kesempatan membela diri. Ia juga tahu, hari-hari setelah hari ini akan semakin sulit. Ia kini hanya punya setumpuk utang dan seorang anak remaja yang murung di balik jeruji.

****

Saat itu pula, saat tiga cerita mengalir tulus dari tiga ibu di tanah rawa, saat kami berkumpul di rumah panggung saya berniat menuliskannya di sini. Agar saya tidak lupa, bahwa perih pernah  tergores dalam di hati mereka. Agar saya tidak lupa bahwa hidup yang lebih baik layak diperjuangkan!

Kamis, 28 Juni 2012

Footballize Me!


Saya tidak tahu pasti kapan kegilaan saya terhadap sepakbola dimulai. Seingatku waktu SMP, beberapa kali saya menyempatkan diri menonton siaran sepakbola di TV. Liga Italia kala itu menjadi liga paling bergengsi di eropa, sebelum akhirnya terpuruk karena kasus pengaturan skor dan krisis ekonomi.  Kebetulan TV di Indonesia (sampai sekarang) dengan sokongan produsen rokok mampu membeli hak siar tersebut, sehingga saya yang berada di kota kecil mampu mengkonsumsinya.
Sekarang saya sangat suka menonton sepakbola, dari pertandingan tarkam (antar kampung), liga indonesia hingga pertandingan bergengsi selevel liga inggris dan champions eropa. Tentu saja ini hanya bisnis, sebuah industri yang di dalamnya ada pekerja dan pemilik modal serta orang-orang seperti saya, konsumen. Hahaha
Begitu krisis ekonomi datang, kualitas kompetisi pun ikut menurun. Klub-klub di Italia dan Spanyol merasakan sulitnya mengelelola sebuah klub dengan besarnya utang. Walhasil Hernan Cerspo di Italia dan Ruud Van Nisteltoy masih bermain di divisi teratas dan menjadi tulang punggung timnya masing-masing. Gaji yang tak lagi mahal plus pengalaman dan kemampuan yang masih tersisa di mantan pemain top dunia tersebut  menjadi alasan kuat bagi klub untuk mempertahankannya.
Saya tak begitu fanatik dengan sebuah tim, tapi saya menyukai Chelsea FC. Tim asal London barat ini adalah tim yang sering saya pakai saat bermain game PES atau Winning Eleven. Mungkin alasannya hanya itu saja. Saat masih diasuh Jose Mourinho mereka punya pemain-pemain yang punya fisik yang kuat, sehingga di PES saya bisa dengan mudah merebut bola dari kaki lawan.
Chelsea bermain di liga Inggris, di mana kompetisi ini merupakan variabel yang baik untuk melihat bagaimana sepakbola dikelola sebagai sebuah industri yang menghasilkan keuntungan bagi pemodal. Inggris layaknya negeri-negeri miskin seperti Indonesia di mana segala syarat untuk membangun sebuah imperium ekonomi tersedia di dalamnya. Jika di negara seperti Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah dan pekerja yang murah, Inggris memiliki kultur masyarakat yang gila sepakbola serta deretan sekolah sepakbola yang siap memasok pemain-pemain baru. Oleh karenanya tidak heran jika investor kelas kakap seperti Abrahamovic dan Syekh Masour tidak ragu meggelontorkan miliaran dollar untuk membangun tim yang kuat di Inggris.
Dan hal yang penting tentang sepakbola adalah kenangan dengan seorang teman. Dia juga gila bola, dan kami sering menonton pertandingan liga inggris bersama-sama. Saya masih ingat bagaimana ekspresinya ketika Intermilan- tim yang ia bela karena pelatihnya Jose Mourinho-berjumpa Bayern Munich di final Liga Champions musim 2009-2010. Dia seperti menonton langsung di stadion tempat digelarnya pertandingan. Berteriak-teriak, rambutnya diacak-acak, bahkan menutup mata saat pemain Bayern mendapat peluang yang baik untuk mencetak gol. Sungguh lebay fans sepakbola yang satu ini. Hahaha
Sekarang ia sedang berjuang agar bisa kembali menapak tanah dan menikmati sepakbola, tentu saja sendiri tanpa saya. 

Senin, 04 Juli 2011

Imanjinasi, jenis kudapan apa lagi itu?


Sungguh sudah  lama...tidak..tidak..baru saja beberapa hari kok..meninggalakan kota sombong ini kadang dipelukan untuk menjaga pikiranmu supaya tetap waras. Ah...memang sedari awal kota ini dipenuhi orang gila kok dan saya tak mau membahasnya di sini. Hehehe. Ayolah, kau harus datang kembali secepatnya dan gila lagi bersamaku, bersama ubin jalan setapak, bersama ruko kecil di sudut jalan, bersama lubang-lubang di tengah jalan yang selalu kita lalui bersama hampir tiap hari.
Kau tahu? Sudah berapa hari ini saya sedang tertarik dengan sebuah kata. Ia adalah imajinasi, mungkin kata ini yang membuat beberapa dari kita tetap waras, dan jangan mendebatku soal kata ‘waras’ ini. Ayolah kita sama-sama tahu mana yang dibilang waras dan yang tidak, walaupun ada tepi yang tak jelas diantara keduanya. Alah, jika kau menginginkan lebih....ahh pusing saya dibuatnya.
Saya dan seorang perempuan tua, beberapa waktu yang lalu, ya kami berdua tersesat dalam percakapan kami sendiri, percakapan acak tentang banyak hal -yang kau tahu- ini sangat mengandalkan imajinasi. Entah bagaimana, ia lantas bertanya soal apa yang kau lakukan ketika masyarakat kita sudah meninggalkan gaya hidup dengan opresi kelas sosialnya seperti sekarang ini. Banyak hal kubilang, yang pertama ya mencukupi kebutuhan dasarku dengan bertani. Mendirikan Adobe, bertetangga, kadang-kadang menenun, membuat sebuah lagu untukmu, mungkin juga melukis wajahmu, atau menemukan  lelucon yang bisa membuatmu tertawa (hahaha..I’m still working on it).
Saya meninggalkan percakapan itu, ia punya si bibir mancung sekarang untuk mengobrol, dan tentu saja menguras imajinasinya. Saya kemudian sibuk dengan kepalaku sendiri, menciptakan dunia sendiri setelah menyedu kopi dan membakar rokok murah yang kubeli dari warung sebelah rumah. Dunianya mungkin seperti ini:
Siang tadi ketika hendak membeli makanan, motor hitam rongsokanku itu kupacu di jalan menuju warung makan. Disepanjang jalan tampak beberapa bocah memegang kaleng yang dililiti benang, mereka sedang bermain layang-layang pikirku. Yap, benar sekali beberapa layangan tampak dilangit di atasku. Jika ada kendaraan yang lewat, mereka akan meninggikan benangnya agar tak nyangkut pada motor atau mobil yang lewat. Sungguh sulit mendapat tanah lapang di tengah kota sombong ini pikirku, dan mereka begitu gigih bermain di jalan raya yang tak kenal belas kasih itu.
Karenanya pula saya jadi ingat masa kecil ku di kota kecil yang sangat mengandalkan pelabuhannya untuk tetap bisa berdenyut. Tentang bau tanah merah, kaki yang berdarah setelah berlarian di tengah tanah berbalut rumput liar, tentang baju dan celanaku yang selalu sangat kotor ketika pulang ke rumah di sore hari untuk mandi kemudian makan. Tentang itik yang kupelihara dan kucuri telurnya di tiap pagi untuk kujadikan sarapan. Tentang rawa tempat memancing ikan gabus yang seringkali berakhir dengan kegagalan membawa pulang tangkapan. Jika sudah begitu, saya akan mengambil jaring bekas ayakan pasir milik tetangga dan memanggil beberapa temanku untuk menjaring ikan brengsek yang tak mau memakan umpanku. Hahaha. Mereka berakhir di panggangan dengan arang dari ranting kayu dan dedaunan. Itu hanya hanya masa kecil dan untunglah saya masih bisa mengingatnya.
***
Semalam, dengan telpon genggam pemberian saudaraku saya menerima telponmu dari kota yang jauh. Katamu tadi siang kamu baru saja menggoreng tempe dan membuat kue, senang mendengarnya :p. Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu kita pergi ke toko buku, mencari-cari buku yang cocok. Aku menemukan satu di toko buku pertama yang sebenarnya lebih mirip swalayan satationary. Judulnya Ketika Manusia Kloning Berkuasa, ketika pertamakali melihatnya, judul dan covernya sungguh tak menarik, tapi setelah membaca sinopsisnya saya jadi tertarik. Ya, imajinasi yang kuat pikirku, hmm ..tentang bagaimana kehidupan manusia di masa yang akan datang. Oh bukan, ketika manusia tak ada lagi, berganti manusia cebol tak beralat kelamin yang berkembang biak dengan cara mengkloning dirinya sendiri. Tema fiksi tentang peradaban yang hancur, akan hancur, telah hancur, cukup banyak loh. Sederet buku dan film tentang tema inipun ku koleksi diantranya the road, the day the earth stood still, resident evil, the matrix, the book of eli, terminator, kulupai sisanya. Dan kau tahu? Entah mengapa saya begitu menikmati ketika adegan dalam film atau novel yang kubaca berakhir dengan kehancuran peradaban. Sayu sepertinya sudah sinting.  :p
Tentu penulis novel dan naskah film bertema ini punya imajinasi yang cukup kuat, dan juga dibantu oleh pengetahuan penulis dan perspektifnya yang radikal dalam melihat dunia hari ini. Dan imajinasiku hanya berhenti di sini? Coba kuingat-ingat dulu, apa imajinasi ku tentang masa depan? Saya berpikir kuat, tak menemukannya, hanya ada bayang samar, hmm ...saya melihat  dirimu didalamnya. Dan itulah imajinasiku untuk masa depan! :P

Senin, 09 Mei 2011

Untuk Sesaat Semua Menjadi Kami

Kami, ya kami! Hampir semuanya kami tinggalkan, tidak pekerjaan, tidak pula agenda pribadi. Di sabtu yang menjemukan ini, kami menutup pintu kamar dan meninggalkan dunia beserta semua adegan sirkusnya di luar sana. Untuk beberapa jam ke depan kami biarkan semua tergelatak, berkelahi, berserakan, menangis, tertawa, melata, melompat, menari, merenung, membaca, menulis, membisu, marah,  pasrah, terbang, terhempas, tertindih, perih, sendiri. 


Di ruang panas ini, hanya ada kipas kecil yang tak berdaya menawar terjangan mentari. Kami menemani sebuah kardus using berisi kaleng-kaleng berisi tinta yang hendak melompat dari mulut kardus. Ia jadi penawar dialog yang berujung pada bisu yang sesekali hadir di antara hangatnya perbincangan. 


Untuk beberapa waktu kemudian, biarkan kami memiliki dunia kami sendiri. Menikmati cumbu mentari sambil menggenggam erat jemari. Biar esok kami bisa sedikit mengerti di mana kami sedang berdiri, dan di setapak mana kami sedang berlari.

Minggu, 01 Mei 2011

Menantimu di Tanah Rawa

Kami membuat sebuah janji, lebih  tepatnya disebut kesepakatan untuk tak bertemu selama tiga hari, juga tak saling menghubungi. Hahaha. Aneh, sungguh persetujuan yang menyebalkan di antara membaranya kasihku padanya. Hahaha. Dan di antara tiga hari yang berat itu, tersiar kabar bahwa tanah rawa akan diserbu sekawanan preman yang dibayar oleh seorang pengusaha tambun yang hendak merampas sebidang lahan tersebut dari pemilik sah, orang-orang tanah rawa. 

Saudara tuaku Boriel, intens berkomunikasi dengan Enos pria lincah asal negeri timur matahari yang beberapa bulan terakhir sering nongkrong di tanah rawa. Boriel akhirnya menghubungiku dan saudara-saudaraku yang lain. Kami hendak ke tanah rawa di hari sabtu, hari ke dua dari perjanjianku selama tiga hari dengan gadis feromon. 

Pagi -pagi sekali, kami berempat sudah bangun. Sedikit merapikan diri sambil menyeruput kopi panas buatan Pinko, perempuan tua  tangguh yang tak lain adalah kekasih Boriel. Kami hanya sedikit mengobrol, tentang hasil pertemuan semalam, tentang kode sandi sampai strategi perang yang sudah disusun oleh barikade anti penggusuran tanah rawa. Kami mengakhirinya dengan tertawa lepas, sambil menimpali busuknya permainan negara dan pengusaha yang selalu kompak melakukan hal-hal seperti di tanah rawa ini, merebut ruang hidup dan kehidupan. 

Tak memakan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai di tanah rawa dari tempat kami nginap, kampung biru. Akhir pekan yang menjemukan, selalu membuat kota megapolitan ini lengang dan lesu, tak ada wajah yang terburu-buru, tak ada kuda besi yang tergesa-gesa menyelip deretan mobil pribadi mewah. Akhirnya kami sampai dengan selamat. Hehehe.
Sore di Tanah Rawa (diambil pake hengpong ji :p)
Inilah pagi di tanah rawa, bambu tua berderet rapi melintang di atas genangan besar air yang memisahkan satu rumah dengan rumah lainnya. Sesekali, riak air pecah di permukaannya akibat lambaian ekor ikan berwarna hitam dan mungil. Mereka tampaknya terganggu dengan kehadiran kaki-kaki kami yang kaku berjalan di atas jalan bambu ini. Pinko dan boriel begitu lamban berjalan, sementara saya dan Jo sibuk dengan kepala masing-masing setelah disuguhi adegan dingin seorang warga yang sedang mengasah sebilah parang.  Bukan sebilah, ada lima bilah! Kami menyaksikan ekspresi dingin khas luapan insting bertahan dan melindungi. Kami tak berkomentar, Jo hanya melempar senyum padaku dan kami melanjutkan perjalanan menuju posko induk tempat berkumpulnya teman-teman barikade anti penggusuran. 

Sebelum kulanjutkan, saya ingin membagikan sesuatu. Sialan! Jika kamu berpikir kami ke tanah rawa karena iba pada orang tanah rawa dan panggilan moral, kamu salah! Solidaritas adalah senjata yang paling ampuh untuk merenggut kehidupan yang telah lama dicuri oleh sistem bobrok ini. Hidup kami telah lama dicuri sejak saat itu, saat  kami telah dilabeli dengan embel-embel warga negara melalui akta kelahiran hingga diberi sistem kepercayaan demi menciptakan ketertundukan. Kami hanya tak mau lagi dicuri lebih banyak, tidak juga bagi orang-orang tanah rawa yang hendak dicuri tanahnya oleh Hanoman itu. Maka bersolidaritaslah!
Posko induk lengang, kawan-kawan yang malam tadi nginap di tanah rawa, masih menikmati keintimannya dengan pagi. Ini masih jam 7 pagi, kabut belum juga mau berpisah dengan muka rawa. Tampaknya ada perayaan kecil semalam di tanah rawa, demi menyambut om eman yang kan datang esok hari.
***
Hari semakin panas, canda tawa mulai tak bisa membunuh bosan kami menunggu serangan dari om eman. Sel  FNB (Food Not Bombs) sudah pula menyelesaikan misinya hari ini, logistik perang sudah siap di gudang altileri. Pria skinny di sampingku mengutuk dalam gerah dan marah, “sialan, tak ditunggu si eman muncul, saat kami siap menyambut dengan red carpet, mereka tak datang, sial!”. Hahaha, saya hanya bisa tertawa mendengarnya, saya sudah terlalu capek untuk menimpalinya. Hahaha

Ditengah-tengah kejemuan akut itu, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di kompleks tanah rawa, saya menemukan beberapa teman sedang ngobrol dengan warga, kuputuskan untuk masuk dalam sidang itu. Mereka sedang bercerita tentang berbagai topik, cukup panjang dan ramai, hingga akhirnya beberapa teman memutuskan untuk minggat, sepertinya ingin beristirahat. Tersisa kami berdua, saya dan bapak berkacamata dengan kemeja lusuh berwarna krem warga asli tanah rawa.

Setelah puas dengan topik pembicaraan di luar ‘kita’, akhirnya saya bertanya soal seputar tanah rawa dan kehidupan bapak berkacamata. Ia kemudian menyambutnya dengan aliran kisah pertama kali ia sampai di tanah ini. Tahun 1984 ia mendapati tanah ini adalah rawa-rawa yang dikelilingi pepohonan lebat. “Hanya di hitung jari ji rumah di dulu, masih sepi”, kenang bapak 3 anak ini. Ia mengisap dalam-dalam rokok di tangannya sembari mendengar tanggapanku. 

Saya lantas bertanya, di mana tepatnya letak rumahnya di tanah rawa ini, ia lantas menunjuk rumah panggung berdinding tripleks. Saya menengoknya dalam, “yang banyak lubang di dindingnya itu?”, gumamku dalam hati. Ia menarikku kembali dalam perbincangan dan berkata, “itu mi juga, saya mau perbaiki sedikit-sedikit tapi nda ada pi uang”. 

Ia lantas bercerita tentang hidupnya di kota ini, yang akhirnya berakhir sebagai tukang parkir di salah satu fasilitas umum tak jauh dari tanah rawa. Tanah rawa memang strategis, ia di apit barisan bangunan mewah menjulang yang tak lain adalah pusat perbelanjaan dan gedung berorientasi niaga. Ia seperti luka menganga di permukaan kulit mulus. Tak heran si Hanoman kepincut untuk menguasainya. 

Kami kembali larut dalam percakapan saat ia melontarkan barisan kata tentang kondisi anak dan istrinya. Ia terpaksa memboyong 2 anak serta istrinya pulang ke kampungnya di pesisir selatan celebes, semenjak kondisi kesehatan istrinya memburuk, ia takut rumah super sederhananya tak mampu menghadirkan kehangatan kala tubuh rapuh dan kedinginan. Hanya anaknya yang sudah berumur 18 tahun yang bertahan menemaninya.  Hitam kulitnya jadi penanda bahwa siang harinya ia lewati di bawah sengatan matahari, dan malamnya ia berkelahi dengan dingin. 

Sabtu, 23 April 2011

Hal Brengsek dari Mengakhiri Sesuatu adalah Ketika Kita Tak Sadar Bahwa Kita Sedang Memulainya Kembali

Biar saja, malam sepi ini hanya ingin kumaki, toh hanya ada sedikit telinga yang kan mendengarnya. Tidak pula kau yang punya setumpuk alasan untuk menutup rapat telinga dan tenggelam dengan rutinitas sampah itu. Taik! Tak ada yang lebih menyebalkan dari duduk dan memaki semuanya sendiri di layar monitor ini.

Ah, saya tau nya hanya menggerutu, mengutuk diri. Besok saya kan mengakhirnya! Lihat saja!

Jumat, 22 April 2011

Beberapa Baris yang Rindu

Seperti yang sudah-sudah, saya hendak tidur sementara kau sibuk merayakan insomnia gilamu. 
Di balik semuanyanya, kau menyembunyikan rapuh tubuhmu 
Dan menyimpan rapi segunung beban yang hanya pada pundakmu.
 ***
Besok menjadi semakin menyenangkan karena ada perayaan menjadi manusia
Sayangnya kau tak bisa turut dalam parade adrenalin ini.
Tak apalah, toh kau lebih aman jika tidak bersamaku untuk saat ini.
 ***
Senin masih begitu jauh
Semoga esok aku tak kalah
Semoga lusa kau tak jatuh
Hingga nanti tiba waktunya kita berbagi peluh

Selasa, 19 April 2011

2 Menit Untukmu

Ini tidak akan panjang, kau akan menemukanku terkapar tak berdaya segera setelah membacanya. Ya sayang, hari aku tak bisa menemanimu, menjadi bidak pion terdepan adalah peran yang mesti kujalani demi bertahan hidup. Hampir saja semuanya kutukar dengan hal menyebalkan ini, bekerja! Bahkan saat kau pun sakit aku hanya bisa memberikan sedikit waktu untukmu, hanya 2 menit! Itupun aku harus lihai mencurinya dari panjangnya jam kerja yang membosankan. 

Semoga kau tidak terus-terusan dipusingkan dengan prosedur sampah kampus, yang memaksamu melakukan hal yang sama sekali tak kau sukai.  Jika semuanya sampai di titik didih kejenuhan, kita toh masih punya sedikit spasi diantara bosannya rutinitas. Kita akan merayakan kematian kepalsuan diri dengan bergandengan, tertawa dan mencaci semua yang sudah berlalu. Brengsek! Hidup begitu pendek untuk dijalani dengan hal-hal yang miskin makna.  

Saya akan mentupnya dengan kecupan hangat, tentu saja hanya buatmu dan ini dari ku. Semoga itu cukup untuk menawar sepi dan penat di esok hari, selamat tidur dan teruslah bermimpi wahai kau  feromonku :p.

Minggu, 17 April 2011

Free Download "Collapse", Jared Diamond

Resensi oleh Ishmael Yahalah
Sekali lagi Jared Diamond membongkar erorr peradaban, dan berikut adalah salah satu karyanya yang berhasil divisualisasikan oleh salah satu production house raksasa dunia NG. Nikmati filmnya pada link berikut:
Sebelumnya, kamu bisa membaca resensinya yang di blog ini saya ambil dari:


Resensi

Sebuah Dunia Yang Akan Kolaps





Judul
: Collapse (Based on The Book of Jared Diamond)
Sutradara/penulis : Noel Dockstader
Editor : Steve Eagleton
Tahun : September, 2010
Produser : Noel Dockstader
Produksi : Far West Film Co. & National Geographic Television
Peresensi : Ishmael Yahalah


Jared Diamond
telah menggugah banyak orang di berbagai belahan dunia ini. Dalam tulisan-tulisannya, Diamond memberikan pandangan dan penafsiran ulang atas sejarah dan peradaban yang berdiri saat ini. Tulisannya yang kaya sekaligus kontroversial merentang dari sejarah hingga geografi, dari fisiologi hingga arkeologi. Dalam buku terkenalnya Gun, Germs, and Steel (2006) yang memenangi hadiah Pulitzer, Profesor Diamond menyingkap bagaimana peradaban di dunia ini bisa terbentuk sedemikian rupa melalui proses yang tidaklah alamiah. Ia menjelajahi gurun di Afrika, hutan Papua, kota-kota kuno di Bulan Sabit Subur, hingga Amerika Selatan. Salah satu tesis pentingnya bahwa agrikultur adalah “kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia”, menjadi perbincangan yang sengit di kalangan yang mendukung dan menolak tesis tersebut.

Dan
di buku setelahnya Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed (2005), Diamond belum beranjak dari tesis awalnya tersebut. Jika dalam “Gun, Germs and Steel” profesor fisiolog ini menjabarkan tentang asal usul dan kejatuhan sebuah peradaban, maka “Collapse” lebih banyak mengurai konsekuensi yang tidak bisa dijauhkan, manakala sebuah peradaban berjalan. Yang pada akhirnya, dikarenakan karakternya yang destruktif, peradaban akan runtuh mengulangi sejarah-sejarah terdahulu di masa silam.
Film “Collapse”
ini adalah kolaborasi kedua National Geographic dengan sang Professor, setelah Gun, Germs and Steel (2008) yang terdiri atas tiga seri diproduksi.

Seperti
gagasan inti dalam buku yang melatarbelakangi film ini, Collapse membawa sebuah pertanyaan besar ke ruang tengah rumah kita saat menontonnya : apa yang akan terjadi dengan bumi ini jika kehidupan kita pertahankan seperti sekarang ini? Jawabnya : kolaps!

Collapse
adalah pengujian mengenai kebiasaan-kebiasaan dalam peradaban manusia yang dapat berdampak pada keseluruhan jejaring kehidupan dan bumi. Film ini meninjau ulang, mengujinya dengan standar pengetahuan terkini, dan memberikan kesimpulan mengenai relasi antara metode kehidupan harian kita dengan efeknya ke depan. Dan tentu saja, berdasarkan kejadian-kejadian di masa silam serta fakta dan kecenderungan terkini, ia menunjukkan bahwa apa yang terjadi belakangan ini seperti penyusutan lahan, krisis pangan, air dan sumber energi berpotensi mendorong kolapsnya peradaban.
 
Memang bukanlah hal baru dalam mengkonversi buku menjadi film. Namun jika buku yang dimaksud adalah buku non-fiksi setebal 571 halaman, untuk kemudian diperas menjadi film dokumenter berdurasi lebih dari 90 menit yang bisa ditonton oleh semua kalangan, tentu memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Tetapi sang sutradara sekaligus penulis skenario Noel Dockstader punya siasat.
Berbeda dengan Inconventional Truth dimana Al Gore membangun argumen yang kuat dan populer tentang gejala pemanasan global dengan menyandingkan  paradoks masa lalu dengan yang kini terjadi di bumi. Dalam Collapse, Dockstader juga sekaligus membangun visualisasi masa depan untuk menggambarkan situasi yang bisa (atau akan!) terjadi –namun belum nampak disebabkan jaraknya yang terlalu dekat dengan kita dan karenanya lebih sering diremehkan. Dengan plot alur maju-mundur, versi film ini cukup berhasil memisahkan diri keluar dari bayang-bayang Collapse versi buku yang lebih dahulu popular.

Collapse mengajak melakukan perjalanan waktu menembus 200 tahun ke masa depan untuk melihat seperti apa sebuah peradaban yang kita tempati ini nantinya, sambil sesekali melongok ke ribuan tahun yang lampau. Interpretasi visual terhadap tulisan Jared Diamond ini memang cukup membantu untuk membangun kontras dan abstraksi antara kisah masa silam, sekarang dan masa depan.

Diceritakan, sekelompok ilmuwan di tahun 2210 yang tergabung dalam Project Collapse, paska kolapsnya peradaban saat ini, meneliti sisa-sisa keruntuhan. Mereka meneliti sisa-sisa dan artefak dari 200 tahun yang lalu (yakni masa sekarang) untuk mencari tahu mengapa peradaban sekarang runtuh. Para ilmuwan di masa depan tersebut mendatangi gurun bekas kota Phoenix, yang peradabannya runtuh karena pengelolaan sumber air. Mereka juga mengunjungi Central Valley, bekas lahan pertanian raksasa di California, hingga menyelami laut di perairan yang dulunya merupakan kota padat Cape Canaveral, Florida.

Berbagai artefak sisa-sisa manusia jaman sekarang ditemukan para peneliti. Dari kolam renang di rumah-rumah warga Amerika, bangkai pesawat luar angkasa, hingga ikon peradaban modern kita : mobil. Berdasarkan temuan artefak-artefak tersebut para ahli menelusuri mengapa peradaban yang berdiri saat ini bisa runtuh.

Apa yang dimaksud dengan situasi “kolaps” sendiri dijabarkan Jared dalam bukunya ‘Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed’, sebagai “penurunan drastis jumlah populasi manusia dan atau kompleksitasnya secara sosial, ekonomi, politik, pada wilayah dalam sebuah rentangan waktu.” Kejatuhan sebuah peradaban diawali oleh kemunduran-kemunduran yang dialaminya sedikit demi sedikit, yang dapat ditandai dengan beberapa bentuk-bentuk kecil (milder type) sebelumnya.

Bentuk-bentuk tersebut dapat berupa kemunculan atau kejatuhan yang bersifat minor yang ditandai dengan terjadinya restrukturisasi dalam sebuah masyarakat secara politik, ekonomi atau sosial; ditaklukkannya sebuah masyarakat oleh masyarakat tetangganya, atau kemundurannya terkait kejayaan daerah tetangganya tanpa adanya perubahan dalam keseluruhan populasi atau kompleksitas pada seluruh wilayah tersebut; dan pergantian elit penguasa dari satu ke satu lainnya.

Diamond memberikan beberapa contoh peradaban yang kolaps dalam sejarah dunia silam seperti Anasazi dan Cahokia di daerah yang kini kita kenal sebagai perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko, kota-kota suku Maya di Amerika Tengah,  masyarakat Moche dan Tiwanaku di daerah selatan benua Amerika, peradaban Mycenean di Yunani serta Minoan Crete di Eropa, zaman kebesaran Zimbabwe di Afrika, era Kuil Angkor di Kamboja, peradaban di kota-kota di Lembah Hindus, hingga Pulau Easter di kawasan Pasifik.

Di awal, Diamond mencontohkan peradaban Anasazi di Yucatan Peninzula, Meksiko yang hilang ribuan tahun yang lalu. Apa yang ironik disini adalah bahwa situs tersebut merupakan bekas peradaban asli Amerika yang termaju sebelum kedatangan orang-orang Eropa. Perkembangan arsitektur, kultur masyarakat, seni pahat dan ukir, serta seni lukisnya mengagumkan sehingga dijuluki sebagai Mesoamerica, Dunia Baru.

Namun, pada puncak peradabannya, kota-kota kuno tersebut mengalami penyusutan populasi secara ekstrim dalam waktu yang singkat dan berakhir dengan keruntuhan peradaban Maya kuno. Penduduk yang pada awalnya membangun kota tersebut menjadi sedemikian megah dan hidup dalam titik puncak peradaban, akhirnya keluar dari kota dan terpaksa mencari tempat baru. Ada apa gerangan?

Puncak peradaban Anasazi adalah menyulap padang pasir dengan curah hujan yang fluktuatif dan situasi geografis yang relatif terisolasi, menjadi kota yang dipenuhi dengan rumah bertingkat, pepohonan, dan sumber pangan yang melimpah. Perkembangan masyarakatnya dapat menjawab permasalahan-permasalahan sosial seperti bagaimana memberi makan seluruh penduduknya.
Dalam menghadapi alam yang kering misalnya, mereka menggali dataran rendah, memodifikasinya, membendung aliran air, menyadap rembesan dari karst (dan batuan kapur bawah tanah) dan membuatkannya saluran menuju sebuah penampungan air raksasa yang juga dapat menampung air hujan. Dengan begitu, mereka dapat menyediakan air minum untuk 10.000 orang selama 18 bulan. Dan kehidupan Maya berkembang menuju puncaknya.
Tetapi seiring itu, orang Maya harus membayar mahal. Lingkungan dan iklim yang mereka taklukkan pun berubah. Para klimatolog (ahli iklim) dan paleoecologist (ahli lingkungan masa lampau) menemukan beberapa bukti mengenai perubahan iklim dan lingkungan yang menyumbang kejatuhan. Tanpa sadar, dengan memodifikasi alam, mereka telah merusak lingkungannya sendiri, termasuk pembabatan hutan untuk pembukaan lahan pertanian dan erosi tanah oleh eksploitasi berlebihan.  Bangsa Maya kuno ditimpa kekeringan berkali-kali, dan memaksa mereka untuk eksodus. Situasi ini ditambah dengan faktor kultural dan politik, seperti persaingan antar raja-raja dan para bangsawan, yang berujung pada perang.

Kisah peradaban Anasazi kuno ini merupakan sudut pandang orang masa sekarang melihat masa lampau. Sementara untuk memahami masa kini, Diamond mengajak memakai sudut pandang orang masa depan. Maka sepanjang film ini ada banyak ilustrasi mengenai bagaimana para ilmuwan masa depan mendapati artefak-artefak sekarang untuk menjelaskan sebuah keruntuhan peradaban terkini.

Collapse mengajukan Las Vegas dan Los Angeles, sebagai sampel (calon) kota peradaban yang runtuh dengan puing-puing dunia modernnya. Kemajuan kota-kota modern tersebut digambarkan serupa dengan kota Anasazi kuno. Yang pada akhirnya ditinggal oleh penduduknya karena tidak memungkinkan lagi untuk hidup di tempat tersebut. Alasannya sederhana, pola kehidupan di kota-kota yang digambarkannya sudah tidak lagi masuk akal. Bagaimana sungai yang memiliki ekosistemnya sendiri dibendung untuk menyuplai air masyarakat kota, lahan pertanian massal dihamparkan dengan menggunduli hutan tropis terlebih dahulu.

Dalam salah satu scene digambarkan bagaimana sebuah usaha pertanian di Huron, harus membunuh (mereka menyebutnya rasionalisasi) pohon-pohon almond produktif yang awalnya mati-matian mereka tanam. Jumlah pohon yang dirasionalisasi mencapai setengah dari lahan, yang terpaksa dilakukan karena defisit air. Sesuatu yang lahir setelah bertahun-tahun mereka mengekstrak air tanpa batas. Di tahun 1950an, California adalah padang gersang yang disulap menjadi taman eden. Mereka melakukannya dengan membuat saluran air berjarak ratusan mil dari sumbernya untuk menyuplai kebutuhan pertanian dan kehidupan sehari-hari. Ini lantas menjadikan wilayah tersebut menjadi salah satu daerah pertanian paling produktif di seluruh dunia.

Sekarang, orang-orang di California mesti menggali sedalam 700 meter hanya untuk mendapatkan air. Sementara satu pohon almond mengkonsumsi 400 liter air setiap hari. Petani harus melakukan langkah radikal untuk beradaptasi dengan krisis atau Los Angeles, California akan menjadi Anasazi di masa kini.
Jared Diamond juga mengajukan krisis energi dan moneter sebagai salah satu hal penting yang menyumbang keruntuhan peradaban. Di masa silam, persoalan energi dan moneter ini sama-sama muncul dalam peradaban Romawi dan Maya. Meskipun kedua peradaban ini saling berjauhan dan belum terkoneksi secara langsung karena situasi teknologi telekomunikasi dan transportasi saat itu, namun keduanya memiliki sesuatu yang sama. Setelah berabad-abad dominasi kejayaannya, era kedua peradaban tersebut akhirnya habis.

Pada era Romawi, perang dan penaklukan serta imperialisme-lah yang membuat peradaban tersebut bertahan. Salah satu yang menopangnya adalah jaringan jalan. Namun seiring waktu, Romawi kehabisan energi untuk terus memperbesar wilayah dan menjalankan tata pemerintahannya.

Kini terdapat setidaknya 2 milyar mobil yang akan menjadi rongsokan berbahaya. Ini adalah salah satu penanda bagaimana absurdnya peradaban ini menyedot dan mengelola energi. Menurut para ahli, kita hanya butuh 200 tahun semenjak revolusi industri, untuk menghabisi cadangan bahan bakar berbasis fosil. Berdasarkan perhitungannya, dalam satu hari kerja manual hanya akan menghasilkan minyak sebanyak satu sendok makan. Ini berarti untuk satu tangki bensin yang tunggal setara dengan dua tahun kerja manusia!
Sementara itu, para ilmuwan dan kaum industrialis terus mengembangkan pembangkit listrik dengan teknologi terbaru. Nyatanya, teknologi yang kita pakai 50 tahun lebih itu hanya mampu mengekstrak 25 persen energi yang tersedia dan membuang percuma 75 persen sisanya. Saat hal itu dirasa tidak mencukupi, mereka kemudian mengembangkan teknologi yang dipandang bisa menghasilkan sumber energi berkali lipat : nuklir!
* * *
Peradaban adalah soal bagaimana menaklukkan alam. Hal ini berlaku semenjak peradaban pertama dimulai dengan pertanian sebagai upaya awal menundukkan dan memanipulasi alam. Pertanian terbukti mengambil lebih banyak dari tanah ketimbang yang bisa dikembalikannya. Dan karenanya Diamond memang benar bahwa hal ini adalah kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia.

Kini, penaklukan alam dalam peradaban modern ini sangatlah mengerikan. Pertambangan minyak, gas, logam dan mineral, menghasilkan lebih banyak kerusakan alam dan ketimpangan sosial ketimbang kemakmuran merata di masyarakat seperti mitos yang dijanjikan. Sementara di tempat lain, juga digambarkan bagaimana laju produksi kendaraan bermotor tak lagi terbendung. Ini akan terus menyerap permintaan akan sumber energi/bahan bakar fosil atau ‘gantinya’ berupa biofuel.

Sebagai konsekuensi inheren dalam peradaban, ancaman krisis pangan, perubahan iklim, bencana alam, gagal panen, genosida, serta perang militer besar-besaran adalah sesuatu yang melekat tak terpisahkan dari kehidupan saat ini.

Apa yang disampaikan Jared Diamond dalam Collapse ini sebenarnya bukanlah hal baru, melainkan rangkuman tentang konsekuensi dari tata kehidupan harian kita. Terbenam dalam peradaban, kita dapat menghancurkan planet ini bahkan dari kamar mandi saja. Tidak perlu ke hutan, dan cukup biarkan Unilever dan Sinar Mas menghabisi hutan tropis di Kalimantan untuk memproduksi sampo atau sabun mandi kita. Tetapi, mode kehidupan modern telah pelan-pelan menyandera kepekaan kita dalam memikirkan dampak dari kehidupan yang kita jalani saat ini. Segala sesuatu yang ‘masih jauh’ itu belum terasa padahal apa yang berlangsung di masa silam telah berulangkali membuktikan bahwa konvergensi kekeringan, kelaparan, bencana lingkungan dan kehancuran finansial adalah penyebab keruntuhan peradaban.
* * *
Peradaban adalah tema sentral dalam beberapa karya Diamond. Ia bukanlah yang pertama dan satu-satunya yang berbicara tentang tema ini. Namun karena pengetahuannya yang luas, keahliannya yang mumpuni, Diamond banyak menginspirasi gerakan radikal seperti kelompok-kelompok anarkis-hijau, anarkis-primitivis, maupun anarkis-antiperadaban secara luas.
Tetapi sang Profesor tetaplah seorang ilmuwan yang dibesarkan oleh peradaban sains itu sendiri yang belum sepenuhnya lepas dari nalar pencerahan. Nampaknya Diamond terlalu khawatir akan keruntuhan yang diramalkannya itu. Kadang pula ia menyamakan kejatuhan peradaban sebagai hal yang similar dengan berakhirnya kehidupan. Proposalnya adalah mempertahankan peradaban modern ini dengan sesuatu yang lebih berkelanjutan. Dalam tawaran praktisnya mendorong manajemen sumberdaya yang arif dan bijaksana di bawah kendali pemerintah dan swasta –sesuatu yang mustahil. Ini mengingatkan rekomendasi optimistiknya di Gun, Germs, and Steell, tentang wabah malaria dan kemiskinan akan dapat ditangani dengan baik lewat ‘kerjasama internasional yang solid’.

Ini sangat berbeda dengan ekspresi anti-peradaban dalam gerakan radikal seperti anarkis-primitivis maupun anarkis non-primitivis yang mengagendakan penghancuran peradaban sebagai satu-satunya jalan untuk mengembalikan harmoni dan kealamian yang lestari. Bukan mempertahankan, melainkan membalikkan arahnya. Dan tentu saja juga sangat berbeda dengan penghancuran dan kehancuran sebagai konsekuensi dari karakter peradaban itu sendiri.

Akhir kata, akan lebih baik jika membaca versi bukunya yang lebih lengkap dan detail. Serta untuk mengurangi kekecewaan atas rekomendasi agenda sang Professor, sering-seringlah mengingat bahwa bagaimanapun ini adalah dokumenter produksi National Geographic! [iy]

Sabtu, 16 April 2011

Kerangkeng Hari Sabtu

Image Hosted by PicturePush - Photo Sharing
Prison Break, Si Kumis Lele :p
Hari ini hari sabtu, sudah kuniatkan semalam untuk tidur sepuasnya diakhir pekan ini. Sungguh pekan yang menjengkelkan, ditendang dari kost-an, dapat kerjaan baru yang buat kau harus naik tangga 5 kali dalam sehari menuju lantai 3, dalam keadaan tidak fit lagi. Argghh…! Saya mau balas dendam dengan bermalas-malasan di akhir pekan ini. Hehehe


Sabtu subuh, mata terus melotot pada layar komputer, kebetulan sinyalnya modem lagi ciamik, juga ada teman keren yang sudi untuk ku ganggu. Lagian ini demi dia yang  punya penyakit insomnia akut, jadilah kami ngobrol lewat monitor. Hahaha. Pengeras suara dah teriak-teriak di subuh buta, itu tandanya saya harus segera cabut menuju pulau kapuk. Saya akhirnya ngorok di samping perempuan tua yang kepincut sama pesbuk. Apalagi tak lama berselang hujan pun turun, tidur makin sempurna, sungguh menyenangkan. 


Belum lagi matahari merangsek keluar dari kumpulan awan hitam, tiba-tiba kudengar suara pintu digedor kuat, akhirnya dengan malas saya bangun dan membuka pintu. Ternyata si pria bengis berhati merah muda yang datang di jam 9 pagi. Ia menanyakan apakah Opa menitip sejumlah uang padaku. Kujawab tidak. Kutanyakan perihal uang tersebut padanya. Ia bilang buat bekal si kumis lele yang sedang mendekam LP akibat kasus kemaren. Kami tak ngobrol banyak, kutawarkan sisa uang kostku yang dikembalikan si empunya kost untuk ia pinjam. Uang itu rencananya kupakai untuk menyewa kamar bar, tapi karena sampai detik ini tidak ada kejelasan di mana kamar baru yang akan kupinang sebagai tempat menghabiskan penat, makanya saya tawarkan saja padanya. Ia lantas mengajakku ke sana tuk menjenguk si kumis lele. Saya mau saja, kan nanti setelah pulang dari sana, saya bisa melanjutkan tidur panjang yang sudah kuagendakan. :)


Motor dengan warna hijaunya yang menyebalkan itu melaju kencang di hari yang mendung. Kami terlibat perbicangan panjang tentang banyak hal, mulai dari soal kuliahnya hingga kabar teman-teman yang masih setia nongkrong di taman hitam. Selain berhati pink, ia adalah pria dengan segudang informasi yang dengan lancar bercerita. Tak terasa belasan kilometer telah kami lalu, sampailah kami di LP. Setelah markir motor, kami menuju loket registrasi pengunjung atau penjenguk tahanan. Saya mengeluarkan KTP ku, si penjaga loket kemudian menyemprotkan kalimat, “kalo ada uangmu di situ, bisa ko kasi untuk biaya adminstrasi? Kalo nda ada ndapapaji”. Saya kemudian bertanya berapa jumlah uangnya, pria tua berkacamata tersebut, menjawab, “dua ribu mo”. Saya nda pikir panjang, langsung saja saya beri uang yang ada di kantong belakangku.  


Kami menuju pintu masuk yang pada sisi depannya terpampang gambar pohon beringin, dihiasi barisan huruf balok bertuliskan PEMBINAAN. Sebelum masuk, kami sempat menimpali kejadian tadi, “biar mi deh, kasi mi saja, mau ji juga makan itu bapak tadi”, kata si pria pink. Hahaha. Kami pun menyerahkan secarik kertas dari loket tadi dan ditukarkan dengan semacam Id Card pengunjung. Kami  diarahkan petugas menuju ruang penggeledahan, tubuh kami didekatkan dengan alat pendeteksi logam, tas si pria pink digeledah demi mencari barang terlarang. Saya tak tahu barang seperti apa yang telarang. Ganja mungkin..hahaha


Kami menyerahkan secarik kertas tadi ke petugas jaga kunjungan, ia kemudian mengumumkannya melalui alat pengeras suara, nama si kumis lele pun membahana seantero kompleks penjara. Tak lama berselang si lele muncul, rambut kritingnya sudah tak ada, kepalanya hanya dibalut rambut tipis, kumis lelenya juga sudah menghilang, yang tersisa hanya senyum lebarnya yang khas yang ia bagi pada kami saat bertemu. Tak banyak perubahan pada dirinya, hanya saja ia mengeluh bosan, nassami bosan ka disitu terus ko bela.hahaha.  Ia menumpahkan banyak kisah pada kami, tentang kasusnya, tentang kesehariannya di LP. Tepatnya ni si kumis punya kisah dilengkapi dengan OST dari lagunya Linkin Park “Waiting for The end”, atau The Killers dengan “Human”, hahaha, apa hubungannya coba? Cari mako sendiri! 


Seringkali saya tak menyimak apa isi obrolan ini, saya sibuk dengan isi kepalaku sendiri. Mengapa ada penjara, ada sipir, ada polisi, ada tindakan kriminal? Alah, masa mesti nganalisis lagi di tulisan ini, capek tau! Hahahaha. Pokoknya barang macam ini (penjara cuy!) itu baru ada semenjak muculnya peradaban. Kerangkeng digunakan untuk mengucilkan orang-orang yang dianggap mengancam tatanan peradaban yang ada, baik itu karena gila, terkena penyakit menular, atau sekedar protes atas banyak TAI yang bermunculan karena adanya kekuasaan tersentral. Begini mo pade singkatnya, ni barang dipake untuk menciptakan terror demi menciptakan ketertundukan pada order  yang sementara berjalan. Istilah kampusnya itu domestikasi manusia, penjinakan. Tahapan linear dari konsekuensi membangun peradaban, domestikasi alam, domestksi kehidupan harian kita! Sudah mi deh tambah parah nanti ini tulisan. :p


“Ting, ting, ting” suara bising keluar dari sumber yang tak ku ketahui di mana asalnya. Tiba-tiba ruang besuk menjadi gaduh, semua orang bercakap dengan terburu-buru, dua sejoli yang berada di samping kami pun melepaskan pelukan mereka. Banyak ekspresi keluar dari wajah mereka, ada yang muka bussu’, sedih, tetapi tetap ada simpul kecil yang melintang di beberapa wajah mereka. Ini tanda jam besuk sudah berakhir, si lele pun kembali melempar senyumnya kepada kami, “fella, buku nah nanti, bawakan ka’” sergap lele. Kamipun mengangguk dan pamit pulang. 


Mendung masih saja nongkrong dilangit Makassar, membuat perjalanan kami tak terlalu penat. Si Hijau kali ini tak terburu-buru lagi karena di hari Sabtu si pria berhati pink berwajah garang tak punya agenda khusus, saya pun begitu. Dan kamipun kembali tenggelam dalam percakapan tak penting demi menolak kebosanan perjalanan menuju kota yang punya obsesi gila menjadi kota dunia. :p

Sabtu, 21 Februari 2015

Apa Kata TV Soal Konsumerisme

source : fineartamerica.com/profiles/allan-swart
Di ruang tengahnya yang hangat, David selonjoran di sofa, menjulurkan tangan lalu menekan tombol remot TV dengan malas, mencari-cari sesuatu untuk menghiburnya. Tapi percuma saja, Ia tetap gelisah menahan hasrat yang lebih besar daripada akal sehatnya. Matanya melirik jam dinding, sudah jam 1 malam rupanya. Dia tahu, kota seperti Sydney -tempat ia tinggal saat ini- ada banyak super market yang buka 24 jam. David sudah tidak tahan lagi, ia sambar baju hangat yang ada di ruang tengah, juga kunci mobil dan bergegas ke garasi. Mobil ia pacu, berharap agar ‘birahinya’ ini bisa segera menemukan pelampiasan.

Terang neon toko menyambut riang David, “oh saat-saat yang mendebarkan”, gumamnya.
Satu jam kemudian David keluar dari supermarket menenteng dua kantong besar belanjaan. Perjalanan dari kasir, ke pintu keluar menuju halaman parkir adalah puncak kenikmatan. Ia tak akan menyianyiakannya, David sedang “high”. Candu telah ia temukan, dihisap, dikunyah, dibiarkannya mengalir ke darah menuju otak dan mengantarkan domapin yang penuh kesenangan. Akhirnya Ia bisa tidur nyenyak malam ini.

Pagi, matahari lembut menyapu wajahnya. Tak jauh dari tempat tidur dua tumpuk barang bersesak-sesak di dalam kantong plastik putih. David menatap lesu. Penyesalan perlahan mengalir, memancar kemudian meledak di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hangat pagi membuatnya sadar, kecanduan akan belanja belum bisa ia kendalikan. Ia sakit dan butuh pertolongan.

Cerita mini di atas adalah potongan adegan program “Taboo” yang ditayangkan NG yang kali ini membahas tema “Addicted”. Sungguh sebuah kebetulan yang menarik sekaligus mengusik. Karena di malam yang sama saat tayangan itu muncul, saya baru saja menyelesaikan membaca buku “Sosiologi Waktu Luang: Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mall”. Buku ini ditulis oleh M. Ridha, seorang kenalan saat saya sedang aktif-aktifnya menghidupi sebuah jurnal bersama teman-teman di Makassar.

Addicted dan buku karya Ridha sama-sama membahas tentang konsumerisme, kebiasaan yang mulai menggeliat pada era pasca revolusi Industri, kemudian meledak di Eropa dan menjalar ke negara-negara dunia ke tiga termasuk Indonesia.Tentu saja keduanya membedah belanja dari perspektif yang berbeda. Dan karena perbedaan itulah saya membuat tulisan ini. Perbedaan-perbedaan ini serius adanya dan berimplikasi pada audiensnya masing-masing, pembaca pada buku M. Ridha dan pemirsa/penonton pada Addicted.

Pola, Narasumber dan Sudut Pandang “Addicted”

Baiklah saya akan bahas apa yang Addicted tawarkan ke pemirsa seperti saya. Lewat sebuah buku berjudul Analisis Framing yang kubaca 2008 silam, saya yang bukan mahasiswa Ilmu Komunikasi memperoleh sedikit panduan bagimana menilai sebuah karya Jurnalistik. Salah satunya adalah cara menebak sudut pandang sebuah berita (dalam kasus ini adalah sebuah dokumenter) melalui pemilihan narasumber. Mengetahui sudut pandang berarti mengetahui pesan “sebenarnya” yang ingin disampaikan oleh sebuah dokumenter sekaligus menyadari motif dibalik pembuatannya.

Sejauh yang saya amati ada 3 narasumber yang NG tampilkan dalam alur cerita Addicted. Yang pertama adalah David warga Sydney pengidap Shopaholic, Celia berprofesi sebagai psikiater dan terakhir dosen pengajar jurusan psikologi, Robert.

Ada pola yang berulang yang digunakan oleh NG dalam menceritakan Addicted. Menampilkan kisah David lebih dahulu, dikomentari oleh psikiater kemudian dilengkapi oleh pendapat dosen. Selama 30 menit menonton acara ini, pola ini cenderung konsisten dan tak berubah. David seperti terdakwa yang sedang disidang, ia dinilai oleh jaksa, hakim dan juri sekaligus. Tentu saja karena David adalah orang dengan perilaku menyimpang.

Namun, mengapa NG hanya menggunakan dua narasumber dari latar belakang yang sebenarnya hampir sama, psikologi? Addicted mengulik kecanduan belanja dari sudut pandang psikis semata! Hal ini menggiring saya (pemirsa TV) untuk menerima pesan bahwa shopaholic merupakan satu jenis penyakit jiwa disebabkan karena semata kelalaian dan kelemahan si pengidap serta faktor eksternal lain. Ada beberapa scene di mana faktor eksternal dijelaskan sebagai salah satu katalisator kecanduan pada David. Contohnya, scene di mana David diceritakan mewarisi beberapa juta dollar tabungan dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Selanjutnya ada kartu kredit dan bukti peminjaman dana. Kemudahan-kemudahan itu memberi jalan yang lapang bagi David untuk masuk ke dalam perangkap candu belanja.

Itu saja? Ya, saya pikir argumentasi NG melalui Addicted hanya sebatas pemberitahuan dan peringatan kepada pemirsanya. Ini adalah program TV yang memberi anda info tentang jenis kecanduan lain selain narkoba namanya shopaholic, ia berbahaya, bisa bikin bangkrut dan menghancurkan kehidupan (masa depan?) kita. Ini adalah sejenis penyakit yang muncul di jaman modern, kita harus berusaha keras untuk menghindarinya.

Itu adalah pesan yang baik, tulus dan menghindarkan kita dari bencana. Dan satu lagi, Addicted benar adanya, tapi tetap saja tayangan ini membut dahi saya berkerut.

Kedangkalan Bisa Jadi Sesat

Penggalian NG pada shopaholic hanyalah di permukaan saja, sementara sebab musabab lain masih dalam tertanam -tak dijangkau olehnya- sehingga pemirsa juga tak melihatnya. Apakah ini sengaja dilakukan? Atau karena soal durasi? Saya pikir bukan.  

Menuduh individu yang tak mampu menahan hasrat dan dukungan faktor eksternal sebagai penyebab gila belanja adalah kesimpulan yang prematur. Karena jika menilik akar historisnya shopaholic, konsumerisme disebabkan oleh faktor-faktor yang bersinggungan dengan lapangan ekonomi, politik, sosiologis juga psikologis (ranah yang dieksplogasi NG dengan sangat dangkal dalam addicted).

Tampaknya semakin rumit dan untuk menghindarinya saya tidak kan membahasnya terlalu panjang.

Sebagai televisi yang identik dengan nama majalah yang punya reputasi sangat baik, sebenarnya saya mengharapkan lebih ketika mereka menayangkan program-programnya. Namun tidak seperti artikel-artikel di majalah yang terkenal mendalam dengan pemilihan narasumber yang hati-hati dan kompeten, Addicted berbeda jauh secara kualitas.

Saya mengharapkan Addicted mampu mengeksplorasi shopaholic dengan lebih menyeluruh misalnya dengan menceritakan sejarahnya, latar sosial, ekonomi dan politik ketika penyakit jiwa tersebut mulai muncul dan menyebar. Siapa tahu saja, NG menemukan fakta bahwa penyakit gila belanja sudah temukan sebelum revolusi Industri dan revolusi Perancis terjadi. Dua momen penting sebagai tonggak lahirnya ideologi dominan hari ini : kapitalisme.

Saya juga berharap NG menampilkan data-data yang menjelaskan keterhubungan durasi menonton TV dengan jumlah konsumsi per kapita sebuah kota atau negara. Ekspektasi selanjutnya adalah Addicted akan menyuguhkan gambar saat peristiwa Malaise terjadi Amerika Serikat yang diakibatkan oleh over produksi. Momen yang diawali Selasa Kelam, peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929 menyebabkan depresi ekonomi berat di negeri uncle sam. Kejadian itu membuat korporasi belajar bahwa over produksi  adalah penyakit inheren dalam sistem kapitalisme dan obatnya selain ekspansi pasar juga mendorong semua pasar (baik yang dekat maupun yang letaknya ribuan kilometer jauhnya) untuk mempraktekkan budaya baru : konsumersime.

Saya mencurigai NG menyembunyikan fakta-fakta tentang konsumerisme sehingga pemirsanya mengambil kesimpulan yang prematur dan akhirnya tersesat. Penonton jadinya tak tahu duduk persoalan sebenarnya tentang konsumerisme, melanjutkan hidup dan tak akan mempertanyakan lebih jauh dunia seperti apa yang mereka jalani saat ini.

Agak naïf memang mengharapkan NG menelanjangi negara seperti AS-di mana korporasi raksasa bercokol-yang aktif mengekspor budaya mereka demi diadopsinya konsumerisme sesegera mungkin oleh negara-negara dunia ke tiga (baca: pasar). Naif memang, karena NG juga merupakan salah satu garda depan, bersama MTV, Hollywood dan kawan-kawannya yang aktif mengindtrodusir kebudayaan barat melalui tayangan-tayangannya. Standar hidup, membeli asuransi, makan di gerai-gerai cepat saji, jalan-jalan ke Mall, memakai baju, sepatu dan pernak-pernih yang dicontohkan para idola dari California adalah sedikit dari segudang kebiasaan baru yang diperkenalkan oleh barat ke negara-negara seperti Indonesia. American Dream, dua kata yang akrab saya dengar dari film Hollywood atau lirik dari lagu favorit saya.

Kita bisa tengok India, pada tahun 1990 hanya 10% dari total populasi masyarakat India yang mampu mengakses TV. Angka tersebut berubah menjadi 75% pada tahun 1999, delapan tahun setelah pemerintah India setuju untuk meminta bailout pada IMF dan merevisi sejumlah kebijakan ekonomi. Globalisasi ekonomi India kemudian diikuti oleh globalisasi kultur, beberapa orang menyebutnya sebagai westernisasi India. Stasiun TV asing meningkat pesat jumlahnya, begitu pula impor film Hollywood yang membanjiri pasar film nasional dan bersaing dengan film-film lokal[1]. Televisi yang banyak membawa nilai-nilai dari luar terutama dari Barat memberikan pola pemikiran baru, masyarakat mulai menginternalisasi nilai-nilai yang dipromosikan yang kemudian mendorong terciptanya gerakan bagi pola hidup mereka[2]. Seiring dengan hal tersebut, di India kemudian terbentuk jenis kelas sosial baru yaitu kelas menengah. Mereka mengejar standar hidup barat, fasih berbahasa Inggris dan menerima kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan (sesuatu yang tidak pernah ada di masyarakat India sebelumnya).

Di jaman di mana status jomblo sama dengan batu akik, sama-sama diekspoitasi demi menghidupi banyak orang, rasanya istilah Gegana (galau gundah gulana) bisa jadi katalisator yang baik bagi saya untuk menulis. Makanya tulisan ini selain disebabkan galau pada NG, juga karena ingin mengingatkan diri sendiri bahwa curiga tidak selamanya salah. Pemirsa televisi mesti memiliki sikap kritis terhadap tayangan televisi. Agar kita tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka sampaikan sebelum kita cerna baik-baik dan membandingkannya dengan sumber informasi lain yang punya sudut pandang yang berbeda. 

Ah rempong. Mana pilih, repot-repot berpikir atau terus dibodohi. :D

Atau mungkin kita bisa mengambil langkah lain. Matikan TV dan mulai mengerjakan hal-hal lain di mana kita berlaku sebagai subjek aktif, main game misalnya? :P 


Rujukan:
[1]http://mahrita-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-82498-PengantarGlobalisasi-Pengaruh Globalisasi terhadap Pergeseran Kelas dalam Masyarakat: Studi Kasus Fenomena Konsumerisme di India.html

[2] Ibid

Jumat, 23 Mei 2014

Tentang RR dan The Trees and The Wild

Pada suatu siang yang lowong ditemani laptop butut dengan koneksi yang masyallah lambatnya, saya bertemu dengan seseorang di dunia maya. Di sudut sunyi tanpa hiruk pikuk pemirsa fb dan laman sejenisnya yang tengah sibuk membicarakan siapa pendamping jokowow di bursa transfer presiden yang akan memantati seluruh warga negara, saya bertemu dengan RR. Siapa dia? Saya juga tidak mengenalnya. Saya hanya tertarik dengan selera musiknya, saya bertanya dan ia menjawab. Saat dia bertanya saya menjawab. Seperti itulah hubungan pertemanan yang berjalan satu jam ini.

Ia menyodorkan satu band, indie katanya dari Bandung. Tak ada salahnya mencoba, saya pun mencari ‘The Trees and The Wild’ di google. Selang beberapa detik saya menemukannya di soundcloud. Tanpa pikir panjang soal koneksi dan kuota yang lagi cekak, saya download satu lagu, judulnya ‘malino’. Memang prinsip jurnalistik yaitu proximitas selalu benar adanya. Saya memilih judul karena sama dengan nama daerah wisata gunung yang tak jauh dari Makassar dan tentu saja karena saya pernah ke sana. Tak ada kenangan buruk di tempat itu, jadi saya akan ingat.

Balik lagi ke soal lagu. Setelah menunggu sambil masak mie, bersih-bersih kamar, cuci baju, menolong tetangga yang cantik nan seksi membuang sampah, akhirnya donlotan yang tak sampai 4 mb itu selesai juga. Saya langsung putar, kebetulan speaker butut dengan denguangan bass yang ciamik sudah terhubung dengan lappy.

Intronya sungguh menggoda, petikan gitar yang jernih dan menjanjikan, dalam hati saya menggerutu riang. Saat suara vocal masuk saya sedikit kecewa, kedengarannya mirip dengan gaya bernyanyinya si band sok keren Alexa. Hehehe.

Ah…saya jatuh cinta dengan lagu ini. Membuat hayalan bisa ke mana-mana. Saat mendengarkan, saya berbagi dengan RR betapa nyamannya mendengar lagu ini. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih telah karena ia telah mengenalkan saya dengan band ini. RR bilang dia hanya suka band dengan konsep akustik, saya tak mengerti soal genre dan bukan tak punya banyak kata tentang jagad musik.

RR dari Toraja, ia sedang kuliah saat ini dan senang membaca.  Koneksi terputus, dan berpisahlah kami. Tak tau bagaimana cara menghubunginya lagi. Sejam yang menyenangkan, pikirku.

Saya kemudian mengkhayal ditemani bisikan di telinga suara “mari rasuk- mari rasuk”…..


Senin, 19 Mei 2014

Semoga Saya Tidak Lupa


Kemarin saya terlibat percakapan, walaupun tidak berapi-api seperti dulu tetap saja saya senang berbicara dengan temanku yang satu ini. Saat ini kami berdua terpisah di dua tempat yang berbeda, dan akan bertemu pada akhir bulan ini. Sama seperti sebelumnya percakapan kami masih seputar rencana ke depan, setelah berbulan-bulan ke tempat antah berantah mencari duit.

Ambisius, ya rencana yang kuajukan sendiri sangat ambisius walaupun di belakang hari motivasiku surut entah karena apa. Percakapan semalam membuat rencana yang mulai terlupa itu, tertata kembali, terususun kasar memberi gambaran apa yang akan saya lakukan sepulang nanti.

Saya mau menuliskannya di sini, jika suatu hari semangat kembali surut, saya akan mengingatnya bahwa saya sangat menginginkan hal ini terjadi.

#Plan 1 Membentuk Organisasi Massa
# Plan 2 Membentuk Komite Aksi Pendidikan dan Penyebarluasan Ide
#Plan 3 Membentuk Tim Organizer Buruh dan Miskin Kota Militan
#Plan 4 Menyusun sel usaha ekonomi kolektif
#Plan 5 Pengembangan sel kerja media dan propaganda

Hampir lima tahun kami terlibat dalam kerja kolektif namun hampir tidak ada hasil yang memuaskan. Sel media memang ada namun audiensnya kurang, sistem kerjanya terlalu cair, orang-orangnya tidak militan dan penerbitan medianya selalu molor dari deadline yang ditentukan.

Pengorganisiran? Hanya sebatas cerita di mulut saja, kami pernah mencobanya dan gagal total.

Membangun organisasi massa yang kuat dan militant? Saya baru kepikiran setahun terakhir, pengalaman minim dan eksperimentasi pertama menemui jalan buntu.

Satu jam lebih saya berbicara dengannya, teralu banyak hal disesali, terlalu banyak kesalahan dan tidak sedikit trauma yang dialami setelah banyak project yang gugur di tengah jalan atau hasilnya jauh dari ekspektasi.

Walaupun begitu, saya selalu dikuatkan oleh temanku yang satu ini. Saya masih percaya, kehidupan yang berbeda dari yang saat itu mungkin! Sangat mungkin, namun harus diusahakan dengan tangan dan keringat sendiri.  

Palu 19 Mei 2014
FF


Kamis, 31 Oktober 2013

Sabtu Biasa

Membersihkan
Menonton Night Train To Lisboa (
Baca Artikel Mabuk Ikan di Makassar
Makan Mie Instan
Nongkrong di Daeng Sija, mendengar obrolan pekerja

Minggu-minggu terakhir di Makassar sebelum berangkat ke Palu sungguh berat dan membosankan.

Belajar Trolled :p

Belakangan ini saya sedang suka dengan gambar-gambar Troll yang banyak melayang-layang di jagad super absurd Facebook. Page bernama Troll Football, tiap hari pasti merilis gambar troll yang bikin mood jadi segar kembali. Apalagi gambar-gambarnya memang punya 'niche' khusus sepak bola. Olala...si admin yang punya page tampaknya punya selera humor yang adiguna #apasih.

Berikut saya hantarkan satu karya saya yang pertama untuk Troll.. hihihihi :D
Bagus kayaknya kalo ada judulnya. ini moh #JenniferAnistonTrolled

JenniferAnistonTrolled
Menurut saya ini garing..hahaha...tak apalah...lebih dari cukup untuk menghibur diri di sore yang mendung dan sedikit membosankan :p

Jumat, 25 Oktober 2013

Di mana Pencerita Lebah?


Jenny
Hari-hari di sini semakin membosankan. Di mana kah kau pencipta cerita lebah? Di kota ini semua yang kulakukan hampir sama. Walau membosankan, saya ingin bertahan. Tidak tahu sampai kapan. Saya rindu rumah, saya rindu mama, saya rindu bapak. Mereka tinggal berdua di rumah papan itu. Saya semakin rindu kalau hujan seperti ini, karena rumah selalu hangat oleh mereka.

Hei pencerita, kau masih hidup bukan? Kemarin saya mimpi soal kau. Saya juga berbincang dengan teman tentang dirimu. Untuk sesaat kenangan dulu memanjat ke permukaan. Kau ingat Mou? Dia akan sukses di Inggris. Kau membencinya? Hahahaha. Kita tetap rival dalam urusan sepakbola.

Saya tidak tau kita memang dekat atau tidak. Tapi kurasa musim hujan beberapa tahun yang lalu, kita lalui dengan baik sebagai pengangguran angkatan baru.

Semoga kau sehat-sehat saja. Saya sedang bosan. Semoga bisa bertemu denganmu. Saya rindu.

Senin, 09 Juli 2012

Tiga Cerita di Rumah Panggung

Kami sedang menunggu siang itu, saya dan dua orang temanku menanti beberapa orang ibu-ibu di tanah rawa. Rencananya akan ada pertemuan sore itu, kami hendak belajar bersama tentang berbagai macam hal, mulai dari keterampilan kreatif hingga pengetahuan kritis tentang kondisi hari ini. Pertemuan belum juga dimulai, kami bersama dua orang ibu yang baru datang sudah  terlibat  dalam pembicaraan serius tentang anak-anak mereka yang mendaftar di SD negeri dan tentang keponakannya yang sulit mendapatkan layanan pengobatan. Mungkin seperti ini rekaman saya saat itu.

Rumah sakit yang benar-benar sakit
Mace (kata yang artinya sama degan ibu dalam bahasa indonesia) Rusna lebih dulu melontarkan kekesalannya akibat ulah pihak rumah sakit yang berseblahan dengan hotel bertaraf internasional. Ia mulai dengan keponakannya yang berumur 10 bulan yang tiba-tiba sesak nafas di malam hari. Saudara Mace Rusna  sudah mendatangi dua rumah sakit dan selalu ditolak dengan alasan sudah tidak ada lagi ruang perawatan yang kosong. Melihat kondisi ini, akhirnya mace Rusna  berinisiatif menemani saudaranya untuk berbicara ke pihak rumah sakit. Sesampainya di sana, mace Rusna  ngotot agar keponakannya segera ditangani, ia pun diarahkan untuk menemui salah satu dokter. Ia diundang masuk ke sebuah ruangan dan diminta menjelaskan duduk persoalannya. Dengan berapi-api ia mencontohkan apa yang dikatakannya pada dokter malam itu. “Saya mengerti pak sepenuhnya kalau dibilang sudah penuh, tapi saya tidak mengerti kalau anak kecil ini tidak bisa diobat hanya karena tidak ada ruangan”, ujar mace Rusna  mencontohkan. Ia melontarkan kata-kata itu sambil menangis karena ia sempat menoleh ke ponakannya yang bernafas tersenggal-senggal. Si dokter pun ngotot tak bisa menerima pasien, “dari tadi kan saya bilang di sini sudah penuh, masa ibu tidak mengerti!”.
Mace Rusna  bersikeras, ia tetap berdiri di pintu ruangan dokter tersebut walaupun dokter sudah mengakhiri pembicaraan. Tetap membatu demi menunggu kesempatan. Ia kembali memperagakan gerutuannya dalam hati. “Begini mi kayaknya kalau miskin ki di, selalu tidak diperhatikan, selalu dinomor dua kan”. Tak lama berselang seorang ibu paruh baya menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi. Mace Rusna  pun menjelaskan semuanya. Ibu itupun menawarkan tempatnya yang berada di ruang perawatan kelas 3 (ekonomi) dan ia rela pindah ke ruang kelas 1 (yang agak mahal). Mace Rusna  pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Mace Rusna  dan saudaranya mengurus semua administrasi sementara keponakannya sudah mulai dirawat, diberikan bantuan pernafasan. Malam yang panjang dan melelahkan pun terlewati dan ia menutup ceritanya dengan deretan kata,” jika kita tidak berusaha menuntut hak kita, selamanya mereka yang bekuasa tidak akan mempedulikan kita”.

Lima Bocah yang ditolak
Sesekali Mace Asih menggoyang-goyangkan badannya ketika bayi nya mulai menangis. Ia lantas melanjutkan cerita tentang anak ke tiganya yang tidak diterima di SD negeri yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia tak menyangka anaknya yang sudah menginjak usia 9 tahun itu, tidak lulus masuk ke sekolah negeri tersebut. Bukan hanya anaknya, ada 4 anak lain dari tanah rawa yang juga tidak diterima. Pada hari pengumuman, Mace Asih penasaran mengapa anaknya tidak diterima. Ia pun berinisitaif mencari tahu dan bertanya pada panitia penyeleksi.

Sebelum bercerita lebih lanjut, mace Asih mengungkapkan keheranannya akan proses seleksi yang berlakukan pihak sekolah terhadap calon siswa. Setelah mendapatkan nomor pendaftaran, anak-anak tersebut masih harus menjalani tes membaca dan menulis. “Terus apa gunanya sekolah itu anak-anak kalau sudah tahu memang mi membaca sama menulis, sekolah kan gunanya untuk mengajari itu”, ketus mace Asih.
Benar saja, alasan utama mengapa anaknya ditolak karena ia tidak lancar membaca dan menulis. Ia pun berang, begitu juga dengan ibu-ibu lain baik dari tanah rawa maupun sekitarnya yang juga mendapati nomor pendaftaran anaknya tidak tertera di papan pengumuman kelulusan. Mereka pun pulang dengan sesak di dada. Beberapa ibu-ibu pun mengeluarkan celetukan, “kalo orang miskin susah sekali diterima, sementara yang kaya tidak banyak tanya langsung-langsung ji diterima”. Lima anak tanah rawa tak jadi bersekolah.

Bukan Pencuri
Saya kaget ketika Mace Lia tiba-tiba saja naik ke rumah panggung tempat kami berkumpul. Tidak biasanya mace yang satu ini antusias dengan keramaian. Beberapa kali kami mengajaknya untuk ikut berkumpul dengan ibu-ibu lain di tanah rawa, namun ia selalu punya alasan untuk menolak. Kali ini ia punya sesuatu untuk dibagi, namun ini bukan sesuatu yang menyenangkan.
Anaknya yang paling tua sedang ditahan di polsek, padahal ia jadi tulang punggung perekenomian keluarga  saat ini. Ia dituduh mencuri penutup ban mobil yang biasa nangkring di belakang mobil Jeep. Menurut mace Lia anaknya, saat itu tidak jauh dari TKP dan tiba-tiba ada dua anak berlari ke arahnya dan memberikan sesuatu. Ternyata itu adalah penutup ban mobil, ia terpaku tak mengerti. Tak lama setelahnya satpam mendatanginya. Ia kemudian disemprot dengan pertanyaan tanpa sempat menyela,kemudian di bawa ke pos satpam pasar.

Ia meminta pendapat dari ibu-ibu yang lain tentang bagaimana cara mengeluarkan anaknya dari tahanan polisi. Kami pun silih berganti berbicara. Pembicaraan mengerucut pada satu solusi, mace Lia disarankan berbicara pada penyidik anaknya dan memaparkan tentang kejadian dan kondisinya saat ini. Jika celah tak ada, kami sepakat akan mencari jalan lain yang memungkinkan.  

Mace Lia sudah berbagi, ia perih karena ia tahu ini akan sulit. Ia tahu bahwa polisi sangat suka duit agar anaknya bebas. Ia tahu bahwa orang sepertinya sangat mudah dituduh kriminal, tanpa punya kesempatan membela diri. Ia juga tahu, hari-hari setelah hari ini akan semakin sulit. Ia kini hanya punya setumpuk utang dan seorang anak remaja yang murung di balik jeruji.

****

Saat itu pula, saat tiga cerita mengalir tulus dari tiga ibu di tanah rawa, saat kami berkumpul di rumah panggung saya berniat menuliskannya di sini. Agar saya tidak lupa, bahwa perih pernah  tergores dalam di hati mereka. Agar saya tidak lupa bahwa hidup yang lebih baik layak diperjuangkan!

Kamis, 28 Juni 2012

Footballize Me!


Saya tidak tahu pasti kapan kegilaan saya terhadap sepakbola dimulai. Seingatku waktu SMP, beberapa kali saya menyempatkan diri menonton siaran sepakbola di TV. Liga Italia kala itu menjadi liga paling bergengsi di eropa, sebelum akhirnya terpuruk karena kasus pengaturan skor dan krisis ekonomi.  Kebetulan TV di Indonesia (sampai sekarang) dengan sokongan produsen rokok mampu membeli hak siar tersebut, sehingga saya yang berada di kota kecil mampu mengkonsumsinya.
Sekarang saya sangat suka menonton sepakbola, dari pertandingan tarkam (antar kampung), liga indonesia hingga pertandingan bergengsi selevel liga inggris dan champions eropa. Tentu saja ini hanya bisnis, sebuah industri yang di dalamnya ada pekerja dan pemilik modal serta orang-orang seperti saya, konsumen. Hahaha
Begitu krisis ekonomi datang, kualitas kompetisi pun ikut menurun. Klub-klub di Italia dan Spanyol merasakan sulitnya mengelelola sebuah klub dengan besarnya utang. Walhasil Hernan Cerspo di Italia dan Ruud Van Nisteltoy masih bermain di divisi teratas dan menjadi tulang punggung timnya masing-masing. Gaji yang tak lagi mahal plus pengalaman dan kemampuan yang masih tersisa di mantan pemain top dunia tersebut  menjadi alasan kuat bagi klub untuk mempertahankannya.
Saya tak begitu fanatik dengan sebuah tim, tapi saya menyukai Chelsea FC. Tim asal London barat ini adalah tim yang sering saya pakai saat bermain game PES atau Winning Eleven. Mungkin alasannya hanya itu saja. Saat masih diasuh Jose Mourinho mereka punya pemain-pemain yang punya fisik yang kuat, sehingga di PES saya bisa dengan mudah merebut bola dari kaki lawan.
Chelsea bermain di liga Inggris, di mana kompetisi ini merupakan variabel yang baik untuk melihat bagaimana sepakbola dikelola sebagai sebuah industri yang menghasilkan keuntungan bagi pemodal. Inggris layaknya negeri-negeri miskin seperti Indonesia di mana segala syarat untuk membangun sebuah imperium ekonomi tersedia di dalamnya. Jika di negara seperti Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah dan pekerja yang murah, Inggris memiliki kultur masyarakat yang gila sepakbola serta deretan sekolah sepakbola yang siap memasok pemain-pemain baru. Oleh karenanya tidak heran jika investor kelas kakap seperti Abrahamovic dan Syekh Masour tidak ragu meggelontorkan miliaran dollar untuk membangun tim yang kuat di Inggris.
Dan hal yang penting tentang sepakbola adalah kenangan dengan seorang teman. Dia juga gila bola, dan kami sering menonton pertandingan liga inggris bersama-sama. Saya masih ingat bagaimana ekspresinya ketika Intermilan- tim yang ia bela karena pelatihnya Jose Mourinho-berjumpa Bayern Munich di final Liga Champions musim 2009-2010. Dia seperti menonton langsung di stadion tempat digelarnya pertandingan. Berteriak-teriak, rambutnya diacak-acak, bahkan menutup mata saat pemain Bayern mendapat peluang yang baik untuk mencetak gol. Sungguh lebay fans sepakbola yang satu ini. Hahaha
Sekarang ia sedang berjuang agar bisa kembali menapak tanah dan menikmati sepakbola, tentu saja sendiri tanpa saya. 

Senin, 04 Juli 2011

Imanjinasi, jenis kudapan apa lagi itu?


Sungguh sudah  lama...tidak..tidak..baru saja beberapa hari kok..meninggalakan kota sombong ini kadang dipelukan untuk menjaga pikiranmu supaya tetap waras. Ah...memang sedari awal kota ini dipenuhi orang gila kok dan saya tak mau membahasnya di sini. Hehehe. Ayolah, kau harus datang kembali secepatnya dan gila lagi bersamaku, bersama ubin jalan setapak, bersama ruko kecil di sudut jalan, bersama lubang-lubang di tengah jalan yang selalu kita lalui bersama hampir tiap hari.
Kau tahu? Sudah berapa hari ini saya sedang tertarik dengan sebuah kata. Ia adalah imajinasi, mungkin kata ini yang membuat beberapa dari kita tetap waras, dan jangan mendebatku soal kata ‘waras’ ini. Ayolah kita sama-sama tahu mana yang dibilang waras dan yang tidak, walaupun ada tepi yang tak jelas diantara keduanya. Alah, jika kau menginginkan lebih....ahh pusing saya dibuatnya.
Saya dan seorang perempuan tua, beberapa waktu yang lalu, ya kami berdua tersesat dalam percakapan kami sendiri, percakapan acak tentang banyak hal -yang kau tahu- ini sangat mengandalkan imajinasi. Entah bagaimana, ia lantas bertanya soal apa yang kau lakukan ketika masyarakat kita sudah meninggalkan gaya hidup dengan opresi kelas sosialnya seperti sekarang ini. Banyak hal kubilang, yang pertama ya mencukupi kebutuhan dasarku dengan bertani. Mendirikan Adobe, bertetangga, kadang-kadang menenun, membuat sebuah lagu untukmu, mungkin juga melukis wajahmu, atau menemukan  lelucon yang bisa membuatmu tertawa (hahaha..I’m still working on it).
Saya meninggalkan percakapan itu, ia punya si bibir mancung sekarang untuk mengobrol, dan tentu saja menguras imajinasinya. Saya kemudian sibuk dengan kepalaku sendiri, menciptakan dunia sendiri setelah menyedu kopi dan membakar rokok murah yang kubeli dari warung sebelah rumah. Dunianya mungkin seperti ini:
Siang tadi ketika hendak membeli makanan, motor hitam rongsokanku itu kupacu di jalan menuju warung makan. Disepanjang jalan tampak beberapa bocah memegang kaleng yang dililiti benang, mereka sedang bermain layang-layang pikirku. Yap, benar sekali beberapa layangan tampak dilangit di atasku. Jika ada kendaraan yang lewat, mereka akan meninggikan benangnya agar tak nyangkut pada motor atau mobil yang lewat. Sungguh sulit mendapat tanah lapang di tengah kota sombong ini pikirku, dan mereka begitu gigih bermain di jalan raya yang tak kenal belas kasih itu.
Karenanya pula saya jadi ingat masa kecil ku di kota kecil yang sangat mengandalkan pelabuhannya untuk tetap bisa berdenyut. Tentang bau tanah merah, kaki yang berdarah setelah berlarian di tengah tanah berbalut rumput liar, tentang baju dan celanaku yang selalu sangat kotor ketika pulang ke rumah di sore hari untuk mandi kemudian makan. Tentang itik yang kupelihara dan kucuri telurnya di tiap pagi untuk kujadikan sarapan. Tentang rawa tempat memancing ikan gabus yang seringkali berakhir dengan kegagalan membawa pulang tangkapan. Jika sudah begitu, saya akan mengambil jaring bekas ayakan pasir milik tetangga dan memanggil beberapa temanku untuk menjaring ikan brengsek yang tak mau memakan umpanku. Hahaha. Mereka berakhir di panggangan dengan arang dari ranting kayu dan dedaunan. Itu hanya hanya masa kecil dan untunglah saya masih bisa mengingatnya.
***
Semalam, dengan telpon genggam pemberian saudaraku saya menerima telponmu dari kota yang jauh. Katamu tadi siang kamu baru saja menggoreng tempe dan membuat kue, senang mendengarnya :p. Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu kita pergi ke toko buku, mencari-cari buku yang cocok. Aku menemukan satu di toko buku pertama yang sebenarnya lebih mirip swalayan satationary. Judulnya Ketika Manusia Kloning Berkuasa, ketika pertamakali melihatnya, judul dan covernya sungguh tak menarik, tapi setelah membaca sinopsisnya saya jadi tertarik. Ya, imajinasi yang kuat pikirku, hmm ..tentang bagaimana kehidupan manusia di masa yang akan datang. Oh bukan, ketika manusia tak ada lagi, berganti manusia cebol tak beralat kelamin yang berkembang biak dengan cara mengkloning dirinya sendiri. Tema fiksi tentang peradaban yang hancur, akan hancur, telah hancur, cukup banyak loh. Sederet buku dan film tentang tema inipun ku koleksi diantranya the road, the day the earth stood still, resident evil, the matrix, the book of eli, terminator, kulupai sisanya. Dan kau tahu? Entah mengapa saya begitu menikmati ketika adegan dalam film atau novel yang kubaca berakhir dengan kehancuran peradaban. Sayu sepertinya sudah sinting.  :p
Tentu penulis novel dan naskah film bertema ini punya imajinasi yang cukup kuat, dan juga dibantu oleh pengetahuan penulis dan perspektifnya yang radikal dalam melihat dunia hari ini. Dan imajinasiku hanya berhenti di sini? Coba kuingat-ingat dulu, apa imajinasi ku tentang masa depan? Saya berpikir kuat, tak menemukannya, hanya ada bayang samar, hmm ...saya melihat  dirimu didalamnya. Dan itulah imajinasiku untuk masa depan! :P

Senin, 09 Mei 2011

Untuk Sesaat Semua Menjadi Kami

Kami, ya kami! Hampir semuanya kami tinggalkan, tidak pekerjaan, tidak pula agenda pribadi. Di sabtu yang menjemukan ini, kami menutup pintu kamar dan meninggalkan dunia beserta semua adegan sirkusnya di luar sana. Untuk beberapa jam ke depan kami biarkan semua tergelatak, berkelahi, berserakan, menangis, tertawa, melata, melompat, menari, merenung, membaca, menulis, membisu, marah,  pasrah, terbang, terhempas, tertindih, perih, sendiri. 


Di ruang panas ini, hanya ada kipas kecil yang tak berdaya menawar terjangan mentari. Kami menemani sebuah kardus using berisi kaleng-kaleng berisi tinta yang hendak melompat dari mulut kardus. Ia jadi penawar dialog yang berujung pada bisu yang sesekali hadir di antara hangatnya perbincangan. 


Untuk beberapa waktu kemudian, biarkan kami memiliki dunia kami sendiri. Menikmati cumbu mentari sambil menggenggam erat jemari. Biar esok kami bisa sedikit mengerti di mana kami sedang berdiri, dan di setapak mana kami sedang berlari.

Minggu, 01 Mei 2011

Menantimu di Tanah Rawa

Kami membuat sebuah janji, lebih  tepatnya disebut kesepakatan untuk tak bertemu selama tiga hari, juga tak saling menghubungi. Hahaha. Aneh, sungguh persetujuan yang menyebalkan di antara membaranya kasihku padanya. Hahaha. Dan di antara tiga hari yang berat itu, tersiar kabar bahwa tanah rawa akan diserbu sekawanan preman yang dibayar oleh seorang pengusaha tambun yang hendak merampas sebidang lahan tersebut dari pemilik sah, orang-orang tanah rawa. 

Saudara tuaku Boriel, intens berkomunikasi dengan Enos pria lincah asal negeri timur matahari yang beberapa bulan terakhir sering nongkrong di tanah rawa. Boriel akhirnya menghubungiku dan saudara-saudaraku yang lain. Kami hendak ke tanah rawa di hari sabtu, hari ke dua dari perjanjianku selama tiga hari dengan gadis feromon. 

Pagi -pagi sekali, kami berempat sudah bangun. Sedikit merapikan diri sambil menyeruput kopi panas buatan Pinko, perempuan tua  tangguh yang tak lain adalah kekasih Boriel. Kami hanya sedikit mengobrol, tentang hasil pertemuan semalam, tentang kode sandi sampai strategi perang yang sudah disusun oleh barikade anti penggusuran tanah rawa. Kami mengakhirinya dengan tertawa lepas, sambil menimpali busuknya permainan negara dan pengusaha yang selalu kompak melakukan hal-hal seperti di tanah rawa ini, merebut ruang hidup dan kehidupan. 

Tak memakan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai di tanah rawa dari tempat kami nginap, kampung biru. Akhir pekan yang menjemukan, selalu membuat kota megapolitan ini lengang dan lesu, tak ada wajah yang terburu-buru, tak ada kuda besi yang tergesa-gesa menyelip deretan mobil pribadi mewah. Akhirnya kami sampai dengan selamat. Hehehe.
Sore di Tanah Rawa (diambil pake hengpong ji :p)
Inilah pagi di tanah rawa, bambu tua berderet rapi melintang di atas genangan besar air yang memisahkan satu rumah dengan rumah lainnya. Sesekali, riak air pecah di permukaannya akibat lambaian ekor ikan berwarna hitam dan mungil. Mereka tampaknya terganggu dengan kehadiran kaki-kaki kami yang kaku berjalan di atas jalan bambu ini. Pinko dan boriel begitu lamban berjalan, sementara saya dan Jo sibuk dengan kepala masing-masing setelah disuguhi adegan dingin seorang warga yang sedang mengasah sebilah parang.  Bukan sebilah, ada lima bilah! Kami menyaksikan ekspresi dingin khas luapan insting bertahan dan melindungi. Kami tak berkomentar, Jo hanya melempar senyum padaku dan kami melanjutkan perjalanan menuju posko induk tempat berkumpulnya teman-teman barikade anti penggusuran. 

Sebelum kulanjutkan, saya ingin membagikan sesuatu. Sialan! Jika kamu berpikir kami ke tanah rawa karena iba pada orang tanah rawa dan panggilan moral, kamu salah! Solidaritas adalah senjata yang paling ampuh untuk merenggut kehidupan yang telah lama dicuri oleh sistem bobrok ini. Hidup kami telah lama dicuri sejak saat itu, saat  kami telah dilabeli dengan embel-embel warga negara melalui akta kelahiran hingga diberi sistem kepercayaan demi menciptakan ketertundukan. Kami hanya tak mau lagi dicuri lebih banyak, tidak juga bagi orang-orang tanah rawa yang hendak dicuri tanahnya oleh Hanoman itu. Maka bersolidaritaslah!
Posko induk lengang, kawan-kawan yang malam tadi nginap di tanah rawa, masih menikmati keintimannya dengan pagi. Ini masih jam 7 pagi, kabut belum juga mau berpisah dengan muka rawa. Tampaknya ada perayaan kecil semalam di tanah rawa, demi menyambut om eman yang kan datang esok hari.
***
Hari semakin panas, canda tawa mulai tak bisa membunuh bosan kami menunggu serangan dari om eman. Sel  FNB (Food Not Bombs) sudah pula menyelesaikan misinya hari ini, logistik perang sudah siap di gudang altileri. Pria skinny di sampingku mengutuk dalam gerah dan marah, “sialan, tak ditunggu si eman muncul, saat kami siap menyambut dengan red carpet, mereka tak datang, sial!”. Hahaha, saya hanya bisa tertawa mendengarnya, saya sudah terlalu capek untuk menimpalinya. Hahaha

Ditengah-tengah kejemuan akut itu, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di kompleks tanah rawa, saya menemukan beberapa teman sedang ngobrol dengan warga, kuputuskan untuk masuk dalam sidang itu. Mereka sedang bercerita tentang berbagai topik, cukup panjang dan ramai, hingga akhirnya beberapa teman memutuskan untuk minggat, sepertinya ingin beristirahat. Tersisa kami berdua, saya dan bapak berkacamata dengan kemeja lusuh berwarna krem warga asli tanah rawa.

Setelah puas dengan topik pembicaraan di luar ‘kita’, akhirnya saya bertanya soal seputar tanah rawa dan kehidupan bapak berkacamata. Ia kemudian menyambutnya dengan aliran kisah pertama kali ia sampai di tanah ini. Tahun 1984 ia mendapati tanah ini adalah rawa-rawa yang dikelilingi pepohonan lebat. “Hanya di hitung jari ji rumah di dulu, masih sepi”, kenang bapak 3 anak ini. Ia mengisap dalam-dalam rokok di tangannya sembari mendengar tanggapanku. 

Saya lantas bertanya, di mana tepatnya letak rumahnya di tanah rawa ini, ia lantas menunjuk rumah panggung berdinding tripleks. Saya menengoknya dalam, “yang banyak lubang di dindingnya itu?”, gumamku dalam hati. Ia menarikku kembali dalam perbincangan dan berkata, “itu mi juga, saya mau perbaiki sedikit-sedikit tapi nda ada pi uang”. 

Ia lantas bercerita tentang hidupnya di kota ini, yang akhirnya berakhir sebagai tukang parkir di salah satu fasilitas umum tak jauh dari tanah rawa. Tanah rawa memang strategis, ia di apit barisan bangunan mewah menjulang yang tak lain adalah pusat perbelanjaan dan gedung berorientasi niaga. Ia seperti luka menganga di permukaan kulit mulus. Tak heran si Hanoman kepincut untuk menguasainya. 

Kami kembali larut dalam percakapan saat ia melontarkan barisan kata tentang kondisi anak dan istrinya. Ia terpaksa memboyong 2 anak serta istrinya pulang ke kampungnya di pesisir selatan celebes, semenjak kondisi kesehatan istrinya memburuk, ia takut rumah super sederhananya tak mampu menghadirkan kehangatan kala tubuh rapuh dan kedinginan. Hanya anaknya yang sudah berumur 18 tahun yang bertahan menemaninya.  Hitam kulitnya jadi penanda bahwa siang harinya ia lewati di bawah sengatan matahari, dan malamnya ia berkelahi dengan dingin. 

Sabtu, 23 April 2011

Hal Brengsek dari Mengakhiri Sesuatu adalah Ketika Kita Tak Sadar Bahwa Kita Sedang Memulainya Kembali

Biar saja, malam sepi ini hanya ingin kumaki, toh hanya ada sedikit telinga yang kan mendengarnya. Tidak pula kau yang punya setumpuk alasan untuk menutup rapat telinga dan tenggelam dengan rutinitas sampah itu. Taik! Tak ada yang lebih menyebalkan dari duduk dan memaki semuanya sendiri di layar monitor ini.

Ah, saya tau nya hanya menggerutu, mengutuk diri. Besok saya kan mengakhirnya! Lihat saja!

Jumat, 22 April 2011

Beberapa Baris yang Rindu

Seperti yang sudah-sudah, saya hendak tidur sementara kau sibuk merayakan insomnia gilamu. 
Di balik semuanyanya, kau menyembunyikan rapuh tubuhmu 
Dan menyimpan rapi segunung beban yang hanya pada pundakmu.
 ***
Besok menjadi semakin menyenangkan karena ada perayaan menjadi manusia
Sayangnya kau tak bisa turut dalam parade adrenalin ini.
Tak apalah, toh kau lebih aman jika tidak bersamaku untuk saat ini.
 ***
Senin masih begitu jauh
Semoga esok aku tak kalah
Semoga lusa kau tak jatuh
Hingga nanti tiba waktunya kita berbagi peluh

Selasa, 19 April 2011

2 Menit Untukmu

Ini tidak akan panjang, kau akan menemukanku terkapar tak berdaya segera setelah membacanya. Ya sayang, hari aku tak bisa menemanimu, menjadi bidak pion terdepan adalah peran yang mesti kujalani demi bertahan hidup. Hampir saja semuanya kutukar dengan hal menyebalkan ini, bekerja! Bahkan saat kau pun sakit aku hanya bisa memberikan sedikit waktu untukmu, hanya 2 menit! Itupun aku harus lihai mencurinya dari panjangnya jam kerja yang membosankan. 

Semoga kau tidak terus-terusan dipusingkan dengan prosedur sampah kampus, yang memaksamu melakukan hal yang sama sekali tak kau sukai.  Jika semuanya sampai di titik didih kejenuhan, kita toh masih punya sedikit spasi diantara bosannya rutinitas. Kita akan merayakan kematian kepalsuan diri dengan bergandengan, tertawa dan mencaci semua yang sudah berlalu. Brengsek! Hidup begitu pendek untuk dijalani dengan hal-hal yang miskin makna.  

Saya akan mentupnya dengan kecupan hangat, tentu saja hanya buatmu dan ini dari ku. Semoga itu cukup untuk menawar sepi dan penat di esok hari, selamat tidur dan teruslah bermimpi wahai kau  feromonku :p.

Minggu, 17 April 2011

Free Download "Collapse", Jared Diamond

Resensi oleh Ishmael Yahalah
Sekali lagi Jared Diamond membongkar erorr peradaban, dan berikut adalah salah satu karyanya yang berhasil divisualisasikan oleh salah satu production house raksasa dunia NG. Nikmati filmnya pada link berikut:
Sebelumnya, kamu bisa membaca resensinya yang di blog ini saya ambil dari:


Resensi

Sebuah Dunia Yang Akan Kolaps





Judul
: Collapse (Based on The Book of Jared Diamond)
Sutradara/penulis : Noel Dockstader
Editor : Steve Eagleton
Tahun : September, 2010
Produser : Noel Dockstader
Produksi : Far West Film Co. & National Geographic Television
Peresensi : Ishmael Yahalah


Jared Diamond
telah menggugah banyak orang di berbagai belahan dunia ini. Dalam tulisan-tulisannya, Diamond memberikan pandangan dan penafsiran ulang atas sejarah dan peradaban yang berdiri saat ini. Tulisannya yang kaya sekaligus kontroversial merentang dari sejarah hingga geografi, dari fisiologi hingga arkeologi. Dalam buku terkenalnya Gun, Germs, and Steel (2006) yang memenangi hadiah Pulitzer, Profesor Diamond menyingkap bagaimana peradaban di dunia ini bisa terbentuk sedemikian rupa melalui proses yang tidaklah alamiah. Ia menjelajahi gurun di Afrika, hutan Papua, kota-kota kuno di Bulan Sabit Subur, hingga Amerika Selatan. Salah satu tesis pentingnya bahwa agrikultur adalah “kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia”, menjadi perbincangan yang sengit di kalangan yang mendukung dan menolak tesis tersebut.

Dan
di buku setelahnya Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed (2005), Diamond belum beranjak dari tesis awalnya tersebut. Jika dalam “Gun, Germs and Steel” profesor fisiolog ini menjabarkan tentang asal usul dan kejatuhan sebuah peradaban, maka “Collapse” lebih banyak mengurai konsekuensi yang tidak bisa dijauhkan, manakala sebuah peradaban berjalan. Yang pada akhirnya, dikarenakan karakternya yang destruktif, peradaban akan runtuh mengulangi sejarah-sejarah terdahulu di masa silam.
Film “Collapse”
ini adalah kolaborasi kedua National Geographic dengan sang Professor, setelah Gun, Germs and Steel (2008) yang terdiri atas tiga seri diproduksi.

Seperti
gagasan inti dalam buku yang melatarbelakangi film ini, Collapse membawa sebuah pertanyaan besar ke ruang tengah rumah kita saat menontonnya : apa yang akan terjadi dengan bumi ini jika kehidupan kita pertahankan seperti sekarang ini? Jawabnya : kolaps!

Collapse
adalah pengujian mengenai kebiasaan-kebiasaan dalam peradaban manusia yang dapat berdampak pada keseluruhan jejaring kehidupan dan bumi. Film ini meninjau ulang, mengujinya dengan standar pengetahuan terkini, dan memberikan kesimpulan mengenai relasi antara metode kehidupan harian kita dengan efeknya ke depan. Dan tentu saja, berdasarkan kejadian-kejadian di masa silam serta fakta dan kecenderungan terkini, ia menunjukkan bahwa apa yang terjadi belakangan ini seperti penyusutan lahan, krisis pangan, air dan sumber energi berpotensi mendorong kolapsnya peradaban.
 
Memang bukanlah hal baru dalam mengkonversi buku menjadi film. Namun jika buku yang dimaksud adalah buku non-fiksi setebal 571 halaman, untuk kemudian diperas menjadi film dokumenter berdurasi lebih dari 90 menit yang bisa ditonton oleh semua kalangan, tentu memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Tetapi sang sutradara sekaligus penulis skenario Noel Dockstader punya siasat.
Berbeda dengan Inconventional Truth dimana Al Gore membangun argumen yang kuat dan populer tentang gejala pemanasan global dengan menyandingkan  paradoks masa lalu dengan yang kini terjadi di bumi. Dalam Collapse, Dockstader juga sekaligus membangun visualisasi masa depan untuk menggambarkan situasi yang bisa (atau akan!) terjadi –namun belum nampak disebabkan jaraknya yang terlalu dekat dengan kita dan karenanya lebih sering diremehkan. Dengan plot alur maju-mundur, versi film ini cukup berhasil memisahkan diri keluar dari bayang-bayang Collapse versi buku yang lebih dahulu popular.

Collapse mengajak melakukan perjalanan waktu menembus 200 tahun ke masa depan untuk melihat seperti apa sebuah peradaban yang kita tempati ini nantinya, sambil sesekali melongok ke ribuan tahun yang lampau. Interpretasi visual terhadap tulisan Jared Diamond ini memang cukup membantu untuk membangun kontras dan abstraksi antara kisah masa silam, sekarang dan masa depan.

Diceritakan, sekelompok ilmuwan di tahun 2210 yang tergabung dalam Project Collapse, paska kolapsnya peradaban saat ini, meneliti sisa-sisa keruntuhan. Mereka meneliti sisa-sisa dan artefak dari 200 tahun yang lalu (yakni masa sekarang) untuk mencari tahu mengapa peradaban sekarang runtuh. Para ilmuwan di masa depan tersebut mendatangi gurun bekas kota Phoenix, yang peradabannya runtuh karena pengelolaan sumber air. Mereka juga mengunjungi Central Valley, bekas lahan pertanian raksasa di California, hingga menyelami laut di perairan yang dulunya merupakan kota padat Cape Canaveral, Florida.

Berbagai artefak sisa-sisa manusia jaman sekarang ditemukan para peneliti. Dari kolam renang di rumah-rumah warga Amerika, bangkai pesawat luar angkasa, hingga ikon peradaban modern kita : mobil. Berdasarkan temuan artefak-artefak tersebut para ahli menelusuri mengapa peradaban yang berdiri saat ini bisa runtuh.

Apa yang dimaksud dengan situasi “kolaps” sendiri dijabarkan Jared dalam bukunya ‘Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed’, sebagai “penurunan drastis jumlah populasi manusia dan atau kompleksitasnya secara sosial, ekonomi, politik, pada wilayah dalam sebuah rentangan waktu.” Kejatuhan sebuah peradaban diawali oleh kemunduran-kemunduran yang dialaminya sedikit demi sedikit, yang dapat ditandai dengan beberapa bentuk-bentuk kecil (milder type) sebelumnya.

Bentuk-bentuk tersebut dapat berupa kemunculan atau kejatuhan yang bersifat minor yang ditandai dengan terjadinya restrukturisasi dalam sebuah masyarakat secara politik, ekonomi atau sosial; ditaklukkannya sebuah masyarakat oleh masyarakat tetangganya, atau kemundurannya terkait kejayaan daerah tetangganya tanpa adanya perubahan dalam keseluruhan populasi atau kompleksitas pada seluruh wilayah tersebut; dan pergantian elit penguasa dari satu ke satu lainnya.

Diamond memberikan beberapa contoh peradaban yang kolaps dalam sejarah dunia silam seperti Anasazi dan Cahokia di daerah yang kini kita kenal sebagai perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko, kota-kota suku Maya di Amerika Tengah,  masyarakat Moche dan Tiwanaku di daerah selatan benua Amerika, peradaban Mycenean di Yunani serta Minoan Crete di Eropa, zaman kebesaran Zimbabwe di Afrika, era Kuil Angkor di Kamboja, peradaban di kota-kota di Lembah Hindus, hingga Pulau Easter di kawasan Pasifik.

Di awal, Diamond mencontohkan peradaban Anasazi di Yucatan Peninzula, Meksiko yang hilang ribuan tahun yang lalu. Apa yang ironik disini adalah bahwa situs tersebut merupakan bekas peradaban asli Amerika yang termaju sebelum kedatangan orang-orang Eropa. Perkembangan arsitektur, kultur masyarakat, seni pahat dan ukir, serta seni lukisnya mengagumkan sehingga dijuluki sebagai Mesoamerica, Dunia Baru.

Namun, pada puncak peradabannya, kota-kota kuno tersebut mengalami penyusutan populasi secara ekstrim dalam waktu yang singkat dan berakhir dengan keruntuhan peradaban Maya kuno. Penduduk yang pada awalnya membangun kota tersebut menjadi sedemikian megah dan hidup dalam titik puncak peradaban, akhirnya keluar dari kota dan terpaksa mencari tempat baru. Ada apa gerangan?

Puncak peradaban Anasazi adalah menyulap padang pasir dengan curah hujan yang fluktuatif dan situasi geografis yang relatif terisolasi, menjadi kota yang dipenuhi dengan rumah bertingkat, pepohonan, dan sumber pangan yang melimpah. Perkembangan masyarakatnya dapat menjawab permasalahan-permasalahan sosial seperti bagaimana memberi makan seluruh penduduknya.
Dalam menghadapi alam yang kering misalnya, mereka menggali dataran rendah, memodifikasinya, membendung aliran air, menyadap rembesan dari karst (dan batuan kapur bawah tanah) dan membuatkannya saluran menuju sebuah penampungan air raksasa yang juga dapat menampung air hujan. Dengan begitu, mereka dapat menyediakan air minum untuk 10.000 orang selama 18 bulan. Dan kehidupan Maya berkembang menuju puncaknya.
Tetapi seiring itu, orang Maya harus membayar mahal. Lingkungan dan iklim yang mereka taklukkan pun berubah. Para klimatolog (ahli iklim) dan paleoecologist (ahli lingkungan masa lampau) menemukan beberapa bukti mengenai perubahan iklim dan lingkungan yang menyumbang kejatuhan. Tanpa sadar, dengan memodifikasi alam, mereka telah merusak lingkungannya sendiri, termasuk pembabatan hutan untuk pembukaan lahan pertanian dan erosi tanah oleh eksploitasi berlebihan.  Bangsa Maya kuno ditimpa kekeringan berkali-kali, dan memaksa mereka untuk eksodus. Situasi ini ditambah dengan faktor kultural dan politik, seperti persaingan antar raja-raja dan para bangsawan, yang berujung pada perang.

Kisah peradaban Anasazi kuno ini merupakan sudut pandang orang masa sekarang melihat masa lampau. Sementara untuk memahami masa kini, Diamond mengajak memakai sudut pandang orang masa depan. Maka sepanjang film ini ada banyak ilustrasi mengenai bagaimana para ilmuwan masa depan mendapati artefak-artefak sekarang untuk menjelaskan sebuah keruntuhan peradaban terkini.

Collapse mengajukan Las Vegas dan Los Angeles, sebagai sampel (calon) kota peradaban yang runtuh dengan puing-puing dunia modernnya. Kemajuan kota-kota modern tersebut digambarkan serupa dengan kota Anasazi kuno. Yang pada akhirnya ditinggal oleh penduduknya karena tidak memungkinkan lagi untuk hidup di tempat tersebut. Alasannya sederhana, pola kehidupan di kota-kota yang digambarkannya sudah tidak lagi masuk akal. Bagaimana sungai yang memiliki ekosistemnya sendiri dibendung untuk menyuplai air masyarakat kota, lahan pertanian massal dihamparkan dengan menggunduli hutan tropis terlebih dahulu.

Dalam salah satu scene digambarkan bagaimana sebuah usaha pertanian di Huron, harus membunuh (mereka menyebutnya rasionalisasi) pohon-pohon almond produktif yang awalnya mati-matian mereka tanam. Jumlah pohon yang dirasionalisasi mencapai setengah dari lahan, yang terpaksa dilakukan karena defisit air. Sesuatu yang lahir setelah bertahun-tahun mereka mengekstrak air tanpa batas. Di tahun 1950an, California adalah padang gersang yang disulap menjadi taman eden. Mereka melakukannya dengan membuat saluran air berjarak ratusan mil dari sumbernya untuk menyuplai kebutuhan pertanian dan kehidupan sehari-hari. Ini lantas menjadikan wilayah tersebut menjadi salah satu daerah pertanian paling produktif di seluruh dunia.

Sekarang, orang-orang di California mesti menggali sedalam 700 meter hanya untuk mendapatkan air. Sementara satu pohon almond mengkonsumsi 400 liter air setiap hari. Petani harus melakukan langkah radikal untuk beradaptasi dengan krisis atau Los Angeles, California akan menjadi Anasazi di masa kini.
Jared Diamond juga mengajukan krisis energi dan moneter sebagai salah satu hal penting yang menyumbang keruntuhan peradaban. Di masa silam, persoalan energi dan moneter ini sama-sama muncul dalam peradaban Romawi dan Maya. Meskipun kedua peradaban ini saling berjauhan dan belum terkoneksi secara langsung karena situasi teknologi telekomunikasi dan transportasi saat itu, namun keduanya memiliki sesuatu yang sama. Setelah berabad-abad dominasi kejayaannya, era kedua peradaban tersebut akhirnya habis.

Pada era Romawi, perang dan penaklukan serta imperialisme-lah yang membuat peradaban tersebut bertahan. Salah satu yang menopangnya adalah jaringan jalan. Namun seiring waktu, Romawi kehabisan energi untuk terus memperbesar wilayah dan menjalankan tata pemerintahannya.

Kini terdapat setidaknya 2 milyar mobil yang akan menjadi rongsokan berbahaya. Ini adalah salah satu penanda bagaimana absurdnya peradaban ini menyedot dan mengelola energi. Menurut para ahli, kita hanya butuh 200 tahun semenjak revolusi industri, untuk menghabisi cadangan bahan bakar berbasis fosil. Berdasarkan perhitungannya, dalam satu hari kerja manual hanya akan menghasilkan minyak sebanyak satu sendok makan. Ini berarti untuk satu tangki bensin yang tunggal setara dengan dua tahun kerja manusia!
Sementara itu, para ilmuwan dan kaum industrialis terus mengembangkan pembangkit listrik dengan teknologi terbaru. Nyatanya, teknologi yang kita pakai 50 tahun lebih itu hanya mampu mengekstrak 25 persen energi yang tersedia dan membuang percuma 75 persen sisanya. Saat hal itu dirasa tidak mencukupi, mereka kemudian mengembangkan teknologi yang dipandang bisa menghasilkan sumber energi berkali lipat : nuklir!
* * *
Peradaban adalah soal bagaimana menaklukkan alam. Hal ini berlaku semenjak peradaban pertama dimulai dengan pertanian sebagai upaya awal menundukkan dan memanipulasi alam. Pertanian terbukti mengambil lebih banyak dari tanah ketimbang yang bisa dikembalikannya. Dan karenanya Diamond memang benar bahwa hal ini adalah kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia.

Kini, penaklukan alam dalam peradaban modern ini sangatlah mengerikan. Pertambangan minyak, gas, logam dan mineral, menghasilkan lebih banyak kerusakan alam dan ketimpangan sosial ketimbang kemakmuran merata di masyarakat seperti mitos yang dijanjikan. Sementara di tempat lain, juga digambarkan bagaimana laju produksi kendaraan bermotor tak lagi terbendung. Ini akan terus menyerap permintaan akan sumber energi/bahan bakar fosil atau ‘gantinya’ berupa biofuel.

Sebagai konsekuensi inheren dalam peradaban, ancaman krisis pangan, perubahan iklim, bencana alam, gagal panen, genosida, serta perang militer besar-besaran adalah sesuatu yang melekat tak terpisahkan dari kehidupan saat ini.

Apa yang disampaikan Jared Diamond dalam Collapse ini sebenarnya bukanlah hal baru, melainkan rangkuman tentang konsekuensi dari tata kehidupan harian kita. Terbenam dalam peradaban, kita dapat menghancurkan planet ini bahkan dari kamar mandi saja. Tidak perlu ke hutan, dan cukup biarkan Unilever dan Sinar Mas menghabisi hutan tropis di Kalimantan untuk memproduksi sampo atau sabun mandi kita. Tetapi, mode kehidupan modern telah pelan-pelan menyandera kepekaan kita dalam memikirkan dampak dari kehidupan yang kita jalani saat ini. Segala sesuatu yang ‘masih jauh’ itu belum terasa padahal apa yang berlangsung di masa silam telah berulangkali membuktikan bahwa konvergensi kekeringan, kelaparan, bencana lingkungan dan kehancuran finansial adalah penyebab keruntuhan peradaban.
* * *
Peradaban adalah tema sentral dalam beberapa karya Diamond. Ia bukanlah yang pertama dan satu-satunya yang berbicara tentang tema ini. Namun karena pengetahuannya yang luas, keahliannya yang mumpuni, Diamond banyak menginspirasi gerakan radikal seperti kelompok-kelompok anarkis-hijau, anarkis-primitivis, maupun anarkis-antiperadaban secara luas.
Tetapi sang Profesor tetaplah seorang ilmuwan yang dibesarkan oleh peradaban sains itu sendiri yang belum sepenuhnya lepas dari nalar pencerahan. Nampaknya Diamond terlalu khawatir akan keruntuhan yang diramalkannya itu. Kadang pula ia menyamakan kejatuhan peradaban sebagai hal yang similar dengan berakhirnya kehidupan. Proposalnya adalah mempertahankan peradaban modern ini dengan sesuatu yang lebih berkelanjutan. Dalam tawaran praktisnya mendorong manajemen sumberdaya yang arif dan bijaksana di bawah kendali pemerintah dan swasta –sesuatu yang mustahil. Ini mengingatkan rekomendasi optimistiknya di Gun, Germs, and Steell, tentang wabah malaria dan kemiskinan akan dapat ditangani dengan baik lewat ‘kerjasama internasional yang solid’.

Ini sangat berbeda dengan ekspresi anti-peradaban dalam gerakan radikal seperti anarkis-primitivis maupun anarkis non-primitivis yang mengagendakan penghancuran peradaban sebagai satu-satunya jalan untuk mengembalikan harmoni dan kealamian yang lestari. Bukan mempertahankan, melainkan membalikkan arahnya. Dan tentu saja juga sangat berbeda dengan penghancuran dan kehancuran sebagai konsekuensi dari karakter peradaban itu sendiri.

Akhir kata, akan lebih baik jika membaca versi bukunya yang lebih lengkap dan detail. Serta untuk mengurangi kekecewaan atas rekomendasi agenda sang Professor, sering-seringlah mengingat bahwa bagaimanapun ini adalah dokumenter produksi National Geographic! [iy]

Sabtu, 16 April 2011

Kerangkeng Hari Sabtu

Image Hosted by PicturePush - Photo Sharing
Prison Break, Si Kumis Lele :p
Hari ini hari sabtu, sudah kuniatkan semalam untuk tidur sepuasnya diakhir pekan ini. Sungguh pekan yang menjengkelkan, ditendang dari kost-an, dapat kerjaan baru yang buat kau harus naik tangga 5 kali dalam sehari menuju lantai 3, dalam keadaan tidak fit lagi. Argghh…! Saya mau balas dendam dengan bermalas-malasan di akhir pekan ini. Hehehe


Sabtu subuh, mata terus melotot pada layar komputer, kebetulan sinyalnya modem lagi ciamik, juga ada teman keren yang sudi untuk ku ganggu. Lagian ini demi dia yang  punya penyakit insomnia akut, jadilah kami ngobrol lewat monitor. Hahaha. Pengeras suara dah teriak-teriak di subuh buta, itu tandanya saya harus segera cabut menuju pulau kapuk. Saya akhirnya ngorok di samping perempuan tua yang kepincut sama pesbuk. Apalagi tak lama berselang hujan pun turun, tidur makin sempurna, sungguh menyenangkan. 


Belum lagi matahari merangsek keluar dari kumpulan awan hitam, tiba-tiba kudengar suara pintu digedor kuat, akhirnya dengan malas saya bangun dan membuka pintu. Ternyata si pria bengis berhati merah muda yang datang di jam 9 pagi. Ia menanyakan apakah Opa menitip sejumlah uang padaku. Kujawab tidak. Kutanyakan perihal uang tersebut padanya. Ia bilang buat bekal si kumis lele yang sedang mendekam LP akibat kasus kemaren. Kami tak ngobrol banyak, kutawarkan sisa uang kostku yang dikembalikan si empunya kost untuk ia pinjam. Uang itu rencananya kupakai untuk menyewa kamar bar, tapi karena sampai detik ini tidak ada kejelasan di mana kamar baru yang akan kupinang sebagai tempat menghabiskan penat, makanya saya tawarkan saja padanya. Ia lantas mengajakku ke sana tuk menjenguk si kumis lele. Saya mau saja, kan nanti setelah pulang dari sana, saya bisa melanjutkan tidur panjang yang sudah kuagendakan. :)


Motor dengan warna hijaunya yang menyebalkan itu melaju kencang di hari yang mendung. Kami terlibat perbicangan panjang tentang banyak hal, mulai dari soal kuliahnya hingga kabar teman-teman yang masih setia nongkrong di taman hitam. Selain berhati pink, ia adalah pria dengan segudang informasi yang dengan lancar bercerita. Tak terasa belasan kilometer telah kami lalu, sampailah kami di LP. Setelah markir motor, kami menuju loket registrasi pengunjung atau penjenguk tahanan. Saya mengeluarkan KTP ku, si penjaga loket kemudian menyemprotkan kalimat, “kalo ada uangmu di situ, bisa ko kasi untuk biaya adminstrasi? Kalo nda ada ndapapaji”. Saya kemudian bertanya berapa jumlah uangnya, pria tua berkacamata tersebut, menjawab, “dua ribu mo”. Saya nda pikir panjang, langsung saja saya beri uang yang ada di kantong belakangku.  


Kami menuju pintu masuk yang pada sisi depannya terpampang gambar pohon beringin, dihiasi barisan huruf balok bertuliskan PEMBINAAN. Sebelum masuk, kami sempat menimpali kejadian tadi, “biar mi deh, kasi mi saja, mau ji juga makan itu bapak tadi”, kata si pria pink. Hahaha. Kami pun menyerahkan secarik kertas dari loket tadi dan ditukarkan dengan semacam Id Card pengunjung. Kami  diarahkan petugas menuju ruang penggeledahan, tubuh kami didekatkan dengan alat pendeteksi logam, tas si pria pink digeledah demi mencari barang terlarang. Saya tak tahu barang seperti apa yang telarang. Ganja mungkin..hahaha


Kami menyerahkan secarik kertas tadi ke petugas jaga kunjungan, ia kemudian mengumumkannya melalui alat pengeras suara, nama si kumis lele pun membahana seantero kompleks penjara. Tak lama berselang si lele muncul, rambut kritingnya sudah tak ada, kepalanya hanya dibalut rambut tipis, kumis lelenya juga sudah menghilang, yang tersisa hanya senyum lebarnya yang khas yang ia bagi pada kami saat bertemu. Tak banyak perubahan pada dirinya, hanya saja ia mengeluh bosan, nassami bosan ka disitu terus ko bela.hahaha.  Ia menumpahkan banyak kisah pada kami, tentang kasusnya, tentang kesehariannya di LP. Tepatnya ni si kumis punya kisah dilengkapi dengan OST dari lagunya Linkin Park “Waiting for The end”, atau The Killers dengan “Human”, hahaha, apa hubungannya coba? Cari mako sendiri! 


Seringkali saya tak menyimak apa isi obrolan ini, saya sibuk dengan isi kepalaku sendiri. Mengapa ada penjara, ada sipir, ada polisi, ada tindakan kriminal? Alah, masa mesti nganalisis lagi di tulisan ini, capek tau! Hahahaha. Pokoknya barang macam ini (penjara cuy!) itu baru ada semenjak muculnya peradaban. Kerangkeng digunakan untuk mengucilkan orang-orang yang dianggap mengancam tatanan peradaban yang ada, baik itu karena gila, terkena penyakit menular, atau sekedar protes atas banyak TAI yang bermunculan karena adanya kekuasaan tersentral. Begini mo pade singkatnya, ni barang dipake untuk menciptakan terror demi menciptakan ketertundukan pada order  yang sementara berjalan. Istilah kampusnya itu domestikasi manusia, penjinakan. Tahapan linear dari konsekuensi membangun peradaban, domestikasi alam, domestksi kehidupan harian kita! Sudah mi deh tambah parah nanti ini tulisan. :p


“Ting, ting, ting” suara bising keluar dari sumber yang tak ku ketahui di mana asalnya. Tiba-tiba ruang besuk menjadi gaduh, semua orang bercakap dengan terburu-buru, dua sejoli yang berada di samping kami pun melepaskan pelukan mereka. Banyak ekspresi keluar dari wajah mereka, ada yang muka bussu’, sedih, tetapi tetap ada simpul kecil yang melintang di beberapa wajah mereka. Ini tanda jam besuk sudah berakhir, si lele pun kembali melempar senyumnya kepada kami, “fella, buku nah nanti, bawakan ka’” sergap lele. Kamipun mengangguk dan pamit pulang. 


Mendung masih saja nongkrong dilangit Makassar, membuat perjalanan kami tak terlalu penat. Si Hijau kali ini tak terburu-buru lagi karena di hari Sabtu si pria berhati pink berwajah garang tak punya agenda khusus, saya pun begitu. Dan kamipun kembali tenggelam dalam percakapan tak penting demi menolak kebosanan perjalanan menuju kota yang punya obsesi gila menjadi kota dunia. :p

Sabtu, 21 Februari 2015

Apa Kata TV Soal Konsumerisme

source : fineartamerica.com/profiles/allan-swart
Di ruang tengahnya yang hangat, David selonjoran di sofa, menjulurkan tangan lalu menekan tombol remot TV dengan malas, mencari-cari sesuatu untuk menghiburnya. Tapi percuma saja, Ia tetap gelisah menahan hasrat yang lebih besar daripada akal sehatnya. Matanya melirik jam dinding, sudah jam 1 malam rupanya. Dia tahu, kota seperti Sydney -tempat ia tinggal saat ini- ada banyak super market yang buka 24 jam. David sudah tidak tahan lagi, ia sambar baju hangat yang ada di ruang tengah, juga kunci mobil dan bergegas ke garasi. Mobil ia pacu, berharap agar ‘birahinya’ ini bisa segera menemukan pelampiasan.

Terang neon toko menyambut riang David, “oh saat-saat yang mendebarkan”, gumamnya.
Satu jam kemudian David keluar dari supermarket menenteng dua kantong besar belanjaan. Perjalanan dari kasir, ke pintu keluar menuju halaman parkir adalah puncak kenikmatan. Ia tak akan menyianyiakannya, David sedang “high”. Candu telah ia temukan, dihisap, dikunyah, dibiarkannya mengalir ke darah menuju otak dan mengantarkan domapin yang penuh kesenangan. Akhirnya Ia bisa tidur nyenyak malam ini.

Pagi, matahari lembut menyapu wajahnya. Tak jauh dari tempat tidur dua tumpuk barang bersesak-sesak di dalam kantong plastik putih. David menatap lesu. Penyesalan perlahan mengalir, memancar kemudian meledak di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hangat pagi membuatnya sadar, kecanduan akan belanja belum bisa ia kendalikan. Ia sakit dan butuh pertolongan.

Cerita mini di atas adalah potongan adegan program “Taboo” yang ditayangkan NG yang kali ini membahas tema “Addicted”. Sungguh sebuah kebetulan yang menarik sekaligus mengusik. Karena di malam yang sama saat tayangan itu muncul, saya baru saja menyelesaikan membaca buku “Sosiologi Waktu Luang: Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mall”. Buku ini ditulis oleh M. Ridha, seorang kenalan saat saya sedang aktif-aktifnya menghidupi sebuah jurnal bersama teman-teman di Makassar.

Addicted dan buku karya Ridha sama-sama membahas tentang konsumerisme, kebiasaan yang mulai menggeliat pada era pasca revolusi Industri, kemudian meledak di Eropa dan menjalar ke negara-negara dunia ke tiga termasuk Indonesia.Tentu saja keduanya membedah belanja dari perspektif yang berbeda. Dan karena perbedaan itulah saya membuat tulisan ini. Perbedaan-perbedaan ini serius adanya dan berimplikasi pada audiensnya masing-masing, pembaca pada buku M. Ridha dan pemirsa/penonton pada Addicted.

Pola, Narasumber dan Sudut Pandang “Addicted”

Baiklah saya akan bahas apa yang Addicted tawarkan ke pemirsa seperti saya. Lewat sebuah buku berjudul Analisis Framing yang kubaca 2008 silam, saya yang bukan mahasiswa Ilmu Komunikasi memperoleh sedikit panduan bagimana menilai sebuah karya Jurnalistik. Salah satunya adalah cara menebak sudut pandang sebuah berita (dalam kasus ini adalah sebuah dokumenter) melalui pemilihan narasumber. Mengetahui sudut pandang berarti mengetahui pesan “sebenarnya” yang ingin disampaikan oleh sebuah dokumenter sekaligus menyadari motif dibalik pembuatannya.

Sejauh yang saya amati ada 3 narasumber yang NG tampilkan dalam alur cerita Addicted. Yang pertama adalah David warga Sydney pengidap Shopaholic, Celia berprofesi sebagai psikiater dan terakhir dosen pengajar jurusan psikologi, Robert.

Ada pola yang berulang yang digunakan oleh NG dalam menceritakan Addicted. Menampilkan kisah David lebih dahulu, dikomentari oleh psikiater kemudian dilengkapi oleh pendapat dosen. Selama 30 menit menonton acara ini, pola ini cenderung konsisten dan tak berubah. David seperti terdakwa yang sedang disidang, ia dinilai oleh jaksa, hakim dan juri sekaligus. Tentu saja karena David adalah orang dengan perilaku menyimpang.

Namun, mengapa NG hanya menggunakan dua narasumber dari latar belakang yang sebenarnya hampir sama, psikologi? Addicted mengulik kecanduan belanja dari sudut pandang psikis semata! Hal ini menggiring saya (pemirsa TV) untuk menerima pesan bahwa shopaholic merupakan satu jenis penyakit jiwa disebabkan karena semata kelalaian dan kelemahan si pengidap serta faktor eksternal lain. Ada beberapa scene di mana faktor eksternal dijelaskan sebagai salah satu katalisator kecanduan pada David. Contohnya, scene di mana David diceritakan mewarisi beberapa juta dollar tabungan dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Selanjutnya ada kartu kredit dan bukti peminjaman dana. Kemudahan-kemudahan itu memberi jalan yang lapang bagi David untuk masuk ke dalam perangkap candu belanja.

Itu saja? Ya, saya pikir argumentasi NG melalui Addicted hanya sebatas pemberitahuan dan peringatan kepada pemirsanya. Ini adalah program TV yang memberi anda info tentang jenis kecanduan lain selain narkoba namanya shopaholic, ia berbahaya, bisa bikin bangkrut dan menghancurkan kehidupan (masa depan?) kita. Ini adalah sejenis penyakit yang muncul di jaman modern, kita harus berusaha keras untuk menghindarinya.

Itu adalah pesan yang baik, tulus dan menghindarkan kita dari bencana. Dan satu lagi, Addicted benar adanya, tapi tetap saja tayangan ini membut dahi saya berkerut.

Kedangkalan Bisa Jadi Sesat

Penggalian NG pada shopaholic hanyalah di permukaan saja, sementara sebab musabab lain masih dalam tertanam -tak dijangkau olehnya- sehingga pemirsa juga tak melihatnya. Apakah ini sengaja dilakukan? Atau karena soal durasi? Saya pikir bukan.  

Menuduh individu yang tak mampu menahan hasrat dan dukungan faktor eksternal sebagai penyebab gila belanja adalah kesimpulan yang prematur. Karena jika menilik akar historisnya shopaholic, konsumerisme disebabkan oleh faktor-faktor yang bersinggungan dengan lapangan ekonomi, politik, sosiologis juga psikologis (ranah yang dieksplogasi NG dengan sangat dangkal dalam addicted).

Tampaknya semakin rumit dan untuk menghindarinya saya tidak kan membahasnya terlalu panjang.

Sebagai televisi yang identik dengan nama majalah yang punya reputasi sangat baik, sebenarnya saya mengharapkan lebih ketika mereka menayangkan program-programnya. Namun tidak seperti artikel-artikel di majalah yang terkenal mendalam dengan pemilihan narasumber yang hati-hati dan kompeten, Addicted berbeda jauh secara kualitas.

Saya mengharapkan Addicted mampu mengeksplorasi shopaholic dengan lebih menyeluruh misalnya dengan menceritakan sejarahnya, latar sosial, ekonomi dan politik ketika penyakit jiwa tersebut mulai muncul dan menyebar. Siapa tahu saja, NG menemukan fakta bahwa penyakit gila belanja sudah temukan sebelum revolusi Industri dan revolusi Perancis terjadi. Dua momen penting sebagai tonggak lahirnya ideologi dominan hari ini : kapitalisme.

Saya juga berharap NG menampilkan data-data yang menjelaskan keterhubungan durasi menonton TV dengan jumlah konsumsi per kapita sebuah kota atau negara. Ekspektasi selanjutnya adalah Addicted akan menyuguhkan gambar saat peristiwa Malaise terjadi Amerika Serikat yang diakibatkan oleh over produksi. Momen yang diawali Selasa Kelam, peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929 menyebabkan depresi ekonomi berat di negeri uncle sam. Kejadian itu membuat korporasi belajar bahwa over produksi  adalah penyakit inheren dalam sistem kapitalisme dan obatnya selain ekspansi pasar juga mendorong semua pasar (baik yang dekat maupun yang letaknya ribuan kilometer jauhnya) untuk mempraktekkan budaya baru : konsumersime.

Saya mencurigai NG menyembunyikan fakta-fakta tentang konsumerisme sehingga pemirsanya mengambil kesimpulan yang prematur dan akhirnya tersesat. Penonton jadinya tak tahu duduk persoalan sebenarnya tentang konsumerisme, melanjutkan hidup dan tak akan mempertanyakan lebih jauh dunia seperti apa yang mereka jalani saat ini.

Agak naïf memang mengharapkan NG menelanjangi negara seperti AS-di mana korporasi raksasa bercokol-yang aktif mengekspor budaya mereka demi diadopsinya konsumerisme sesegera mungkin oleh negara-negara dunia ke tiga (baca: pasar). Naif memang, karena NG juga merupakan salah satu garda depan, bersama MTV, Hollywood dan kawan-kawannya yang aktif mengindtrodusir kebudayaan barat melalui tayangan-tayangannya. Standar hidup, membeli asuransi, makan di gerai-gerai cepat saji, jalan-jalan ke Mall, memakai baju, sepatu dan pernak-pernih yang dicontohkan para idola dari California adalah sedikit dari segudang kebiasaan baru yang diperkenalkan oleh barat ke negara-negara seperti Indonesia. American Dream, dua kata yang akrab saya dengar dari film Hollywood atau lirik dari lagu favorit saya.

Kita bisa tengok India, pada tahun 1990 hanya 10% dari total populasi masyarakat India yang mampu mengakses TV. Angka tersebut berubah menjadi 75% pada tahun 1999, delapan tahun setelah pemerintah India setuju untuk meminta bailout pada IMF dan merevisi sejumlah kebijakan ekonomi. Globalisasi ekonomi India kemudian diikuti oleh globalisasi kultur, beberapa orang menyebutnya sebagai westernisasi India. Stasiun TV asing meningkat pesat jumlahnya, begitu pula impor film Hollywood yang membanjiri pasar film nasional dan bersaing dengan film-film lokal[1]. Televisi yang banyak membawa nilai-nilai dari luar terutama dari Barat memberikan pola pemikiran baru, masyarakat mulai menginternalisasi nilai-nilai yang dipromosikan yang kemudian mendorong terciptanya gerakan bagi pola hidup mereka[2]. Seiring dengan hal tersebut, di India kemudian terbentuk jenis kelas sosial baru yaitu kelas menengah. Mereka mengejar standar hidup barat, fasih berbahasa Inggris dan menerima kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan (sesuatu yang tidak pernah ada di masyarakat India sebelumnya).

Di jaman di mana status jomblo sama dengan batu akik, sama-sama diekspoitasi demi menghidupi banyak orang, rasanya istilah Gegana (galau gundah gulana) bisa jadi katalisator yang baik bagi saya untuk menulis. Makanya tulisan ini selain disebabkan galau pada NG, juga karena ingin mengingatkan diri sendiri bahwa curiga tidak selamanya salah. Pemirsa televisi mesti memiliki sikap kritis terhadap tayangan televisi. Agar kita tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka sampaikan sebelum kita cerna baik-baik dan membandingkannya dengan sumber informasi lain yang punya sudut pandang yang berbeda. 

Ah rempong. Mana pilih, repot-repot berpikir atau terus dibodohi. :D

Atau mungkin kita bisa mengambil langkah lain. Matikan TV dan mulai mengerjakan hal-hal lain di mana kita berlaku sebagai subjek aktif, main game misalnya? :P 


Rujukan:
[1]http://mahrita-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-82498-PengantarGlobalisasi-Pengaruh Globalisasi terhadap Pergeseran Kelas dalam Masyarakat: Studi Kasus Fenomena Konsumerisme di India.html

[2] Ibid

Jumat, 23 Mei 2014

Tentang RR dan The Trees and The Wild

Pada suatu siang yang lowong ditemani laptop butut dengan koneksi yang masyallah lambatnya, saya bertemu dengan seseorang di dunia maya. Di sudut sunyi tanpa hiruk pikuk pemirsa fb dan laman sejenisnya yang tengah sibuk membicarakan siapa pendamping jokowow di bursa transfer presiden yang akan memantati seluruh warga negara, saya bertemu dengan RR. Siapa dia? Saya juga tidak mengenalnya. Saya hanya tertarik dengan selera musiknya, saya bertanya dan ia menjawab. Saat dia bertanya saya menjawab. Seperti itulah hubungan pertemanan yang berjalan satu jam ini.

Ia menyodorkan satu band, indie katanya dari Bandung. Tak ada salahnya mencoba, saya pun mencari ‘The Trees and The Wild’ di google. Selang beberapa detik saya menemukannya di soundcloud. Tanpa pikir panjang soal koneksi dan kuota yang lagi cekak, saya download satu lagu, judulnya ‘malino’. Memang prinsip jurnalistik yaitu proximitas selalu benar adanya. Saya memilih judul karena sama dengan nama daerah wisata gunung yang tak jauh dari Makassar dan tentu saja karena saya pernah ke sana. Tak ada kenangan buruk di tempat itu, jadi saya akan ingat.

Balik lagi ke soal lagu. Setelah menunggu sambil masak mie, bersih-bersih kamar, cuci baju, menolong tetangga yang cantik nan seksi membuang sampah, akhirnya donlotan yang tak sampai 4 mb itu selesai juga. Saya langsung putar, kebetulan speaker butut dengan denguangan bass yang ciamik sudah terhubung dengan lappy.

Intronya sungguh menggoda, petikan gitar yang jernih dan menjanjikan, dalam hati saya menggerutu riang. Saat suara vocal masuk saya sedikit kecewa, kedengarannya mirip dengan gaya bernyanyinya si band sok keren Alexa. Hehehe.

Ah…saya jatuh cinta dengan lagu ini. Membuat hayalan bisa ke mana-mana. Saat mendengarkan, saya berbagi dengan RR betapa nyamannya mendengar lagu ini. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih telah karena ia telah mengenalkan saya dengan band ini. RR bilang dia hanya suka band dengan konsep akustik, saya tak mengerti soal genre dan bukan tak punya banyak kata tentang jagad musik.

RR dari Toraja, ia sedang kuliah saat ini dan senang membaca.  Koneksi terputus, dan berpisahlah kami. Tak tau bagaimana cara menghubunginya lagi. Sejam yang menyenangkan, pikirku.

Saya kemudian mengkhayal ditemani bisikan di telinga suara “mari rasuk- mari rasuk”…..


Senin, 19 Mei 2014

Semoga Saya Tidak Lupa


Kemarin saya terlibat percakapan, walaupun tidak berapi-api seperti dulu tetap saja saya senang berbicara dengan temanku yang satu ini. Saat ini kami berdua terpisah di dua tempat yang berbeda, dan akan bertemu pada akhir bulan ini. Sama seperti sebelumnya percakapan kami masih seputar rencana ke depan, setelah berbulan-bulan ke tempat antah berantah mencari duit.

Ambisius, ya rencana yang kuajukan sendiri sangat ambisius walaupun di belakang hari motivasiku surut entah karena apa. Percakapan semalam membuat rencana yang mulai terlupa itu, tertata kembali, terususun kasar memberi gambaran apa yang akan saya lakukan sepulang nanti.

Saya mau menuliskannya di sini, jika suatu hari semangat kembali surut, saya akan mengingatnya bahwa saya sangat menginginkan hal ini terjadi.

#Plan 1 Membentuk Organisasi Massa
# Plan 2 Membentuk Komite Aksi Pendidikan dan Penyebarluasan Ide
#Plan 3 Membentuk Tim Organizer Buruh dan Miskin Kota Militan
#Plan 4 Menyusun sel usaha ekonomi kolektif
#Plan 5 Pengembangan sel kerja media dan propaganda

Hampir lima tahun kami terlibat dalam kerja kolektif namun hampir tidak ada hasil yang memuaskan. Sel media memang ada namun audiensnya kurang, sistem kerjanya terlalu cair, orang-orangnya tidak militan dan penerbitan medianya selalu molor dari deadline yang ditentukan.

Pengorganisiran? Hanya sebatas cerita di mulut saja, kami pernah mencobanya dan gagal total.

Membangun organisasi massa yang kuat dan militant? Saya baru kepikiran setahun terakhir, pengalaman minim dan eksperimentasi pertama menemui jalan buntu.

Satu jam lebih saya berbicara dengannya, teralu banyak hal disesali, terlalu banyak kesalahan dan tidak sedikit trauma yang dialami setelah banyak project yang gugur di tengah jalan atau hasilnya jauh dari ekspektasi.

Walaupun begitu, saya selalu dikuatkan oleh temanku yang satu ini. Saya masih percaya, kehidupan yang berbeda dari yang saat itu mungkin! Sangat mungkin, namun harus diusahakan dengan tangan dan keringat sendiri.  

Palu 19 Mei 2014
FF


Kamis, 31 Oktober 2013

Sabtu Biasa

Membersihkan
Menonton Night Train To Lisboa (
Baca Artikel Mabuk Ikan di Makassar
Makan Mie Instan
Nongkrong di Daeng Sija, mendengar obrolan pekerja

Minggu-minggu terakhir di Makassar sebelum berangkat ke Palu sungguh berat dan membosankan.

Belajar Trolled :p

Belakangan ini saya sedang suka dengan gambar-gambar Troll yang banyak melayang-layang di jagad super absurd Facebook. Page bernama Troll Football, tiap hari pasti merilis gambar troll yang bikin mood jadi segar kembali. Apalagi gambar-gambarnya memang punya 'niche' khusus sepak bola. Olala...si admin yang punya page tampaknya punya selera humor yang adiguna #apasih.

Berikut saya hantarkan satu karya saya yang pertama untuk Troll.. hihihihi :D
Bagus kayaknya kalo ada judulnya. ini moh #JenniferAnistonTrolled

JenniferAnistonTrolled
Menurut saya ini garing..hahaha...tak apalah...lebih dari cukup untuk menghibur diri di sore yang mendung dan sedikit membosankan :p

Jumat, 25 Oktober 2013

Di mana Pencerita Lebah?


Jenny
Hari-hari di sini semakin membosankan. Di mana kah kau pencipta cerita lebah? Di kota ini semua yang kulakukan hampir sama. Walau membosankan, saya ingin bertahan. Tidak tahu sampai kapan. Saya rindu rumah, saya rindu mama, saya rindu bapak. Mereka tinggal berdua di rumah papan itu. Saya semakin rindu kalau hujan seperti ini, karena rumah selalu hangat oleh mereka.

Hei pencerita, kau masih hidup bukan? Kemarin saya mimpi soal kau. Saya juga berbincang dengan teman tentang dirimu. Untuk sesaat kenangan dulu memanjat ke permukaan. Kau ingat Mou? Dia akan sukses di Inggris. Kau membencinya? Hahahaha. Kita tetap rival dalam urusan sepakbola.

Saya tidak tau kita memang dekat atau tidak. Tapi kurasa musim hujan beberapa tahun yang lalu, kita lalui dengan baik sebagai pengangguran angkatan baru.

Semoga kau sehat-sehat saja. Saya sedang bosan. Semoga bisa bertemu denganmu. Saya rindu.

Senin, 09 Juli 2012

Tiga Cerita di Rumah Panggung

Kami sedang menunggu siang itu, saya dan dua orang temanku menanti beberapa orang ibu-ibu di tanah rawa. Rencananya akan ada pertemuan sore itu, kami hendak belajar bersama tentang berbagai macam hal, mulai dari keterampilan kreatif hingga pengetahuan kritis tentang kondisi hari ini. Pertemuan belum juga dimulai, kami bersama dua orang ibu yang baru datang sudah  terlibat  dalam pembicaraan serius tentang anak-anak mereka yang mendaftar di SD negeri dan tentang keponakannya yang sulit mendapatkan layanan pengobatan. Mungkin seperti ini rekaman saya saat itu.

Rumah sakit yang benar-benar sakit
Mace (kata yang artinya sama degan ibu dalam bahasa indonesia) Rusna lebih dulu melontarkan kekesalannya akibat ulah pihak rumah sakit yang berseblahan dengan hotel bertaraf internasional. Ia mulai dengan keponakannya yang berumur 10 bulan yang tiba-tiba sesak nafas di malam hari. Saudara Mace Rusna  sudah mendatangi dua rumah sakit dan selalu ditolak dengan alasan sudah tidak ada lagi ruang perawatan yang kosong. Melihat kondisi ini, akhirnya mace Rusna  berinisiatif menemani saudaranya untuk berbicara ke pihak rumah sakit. Sesampainya di sana, mace Rusna  ngotot agar keponakannya segera ditangani, ia pun diarahkan untuk menemui salah satu dokter. Ia diundang masuk ke sebuah ruangan dan diminta menjelaskan duduk persoalannya. Dengan berapi-api ia mencontohkan apa yang dikatakannya pada dokter malam itu. “Saya mengerti pak sepenuhnya kalau dibilang sudah penuh, tapi saya tidak mengerti kalau anak kecil ini tidak bisa diobat hanya karena tidak ada ruangan”, ujar mace Rusna  mencontohkan. Ia melontarkan kata-kata itu sambil menangis karena ia sempat menoleh ke ponakannya yang bernafas tersenggal-senggal. Si dokter pun ngotot tak bisa menerima pasien, “dari tadi kan saya bilang di sini sudah penuh, masa ibu tidak mengerti!”.
Mace Rusna  bersikeras, ia tetap berdiri di pintu ruangan dokter tersebut walaupun dokter sudah mengakhiri pembicaraan. Tetap membatu demi menunggu kesempatan. Ia kembali memperagakan gerutuannya dalam hati. “Begini mi kayaknya kalau miskin ki di, selalu tidak diperhatikan, selalu dinomor dua kan”. Tak lama berselang seorang ibu paruh baya menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi. Mace Rusna  pun menjelaskan semuanya. Ibu itupun menawarkan tempatnya yang berada di ruang perawatan kelas 3 (ekonomi) dan ia rela pindah ke ruang kelas 1 (yang agak mahal). Mace Rusna  pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Mace Rusna  dan saudaranya mengurus semua administrasi sementara keponakannya sudah mulai dirawat, diberikan bantuan pernafasan. Malam yang panjang dan melelahkan pun terlewati dan ia menutup ceritanya dengan deretan kata,” jika kita tidak berusaha menuntut hak kita, selamanya mereka yang bekuasa tidak akan mempedulikan kita”.

Lima Bocah yang ditolak
Sesekali Mace Asih menggoyang-goyangkan badannya ketika bayi nya mulai menangis. Ia lantas melanjutkan cerita tentang anak ke tiganya yang tidak diterima di SD negeri yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia tak menyangka anaknya yang sudah menginjak usia 9 tahun itu, tidak lulus masuk ke sekolah negeri tersebut. Bukan hanya anaknya, ada 4 anak lain dari tanah rawa yang juga tidak diterima. Pada hari pengumuman, Mace Asih penasaran mengapa anaknya tidak diterima. Ia pun berinisitaif mencari tahu dan bertanya pada panitia penyeleksi.

Sebelum bercerita lebih lanjut, mace Asih mengungkapkan keheranannya akan proses seleksi yang berlakukan pihak sekolah terhadap calon siswa. Setelah mendapatkan nomor pendaftaran, anak-anak tersebut masih harus menjalani tes membaca dan menulis. “Terus apa gunanya sekolah itu anak-anak kalau sudah tahu memang mi membaca sama menulis, sekolah kan gunanya untuk mengajari itu”, ketus mace Asih.
Benar saja, alasan utama mengapa anaknya ditolak karena ia tidak lancar membaca dan menulis. Ia pun berang, begitu juga dengan ibu-ibu lain baik dari tanah rawa maupun sekitarnya yang juga mendapati nomor pendaftaran anaknya tidak tertera di papan pengumuman kelulusan. Mereka pun pulang dengan sesak di dada. Beberapa ibu-ibu pun mengeluarkan celetukan, “kalo orang miskin susah sekali diterima, sementara yang kaya tidak banyak tanya langsung-langsung ji diterima”. Lima anak tanah rawa tak jadi bersekolah.

Bukan Pencuri
Saya kaget ketika Mace Lia tiba-tiba saja naik ke rumah panggung tempat kami berkumpul. Tidak biasanya mace yang satu ini antusias dengan keramaian. Beberapa kali kami mengajaknya untuk ikut berkumpul dengan ibu-ibu lain di tanah rawa, namun ia selalu punya alasan untuk menolak. Kali ini ia punya sesuatu untuk dibagi, namun ini bukan sesuatu yang menyenangkan.
Anaknya yang paling tua sedang ditahan di polsek, padahal ia jadi tulang punggung perekenomian keluarga  saat ini. Ia dituduh mencuri penutup ban mobil yang biasa nangkring di belakang mobil Jeep. Menurut mace Lia anaknya, saat itu tidak jauh dari TKP dan tiba-tiba ada dua anak berlari ke arahnya dan memberikan sesuatu. Ternyata itu adalah penutup ban mobil, ia terpaku tak mengerti. Tak lama setelahnya satpam mendatanginya. Ia kemudian disemprot dengan pertanyaan tanpa sempat menyela,kemudian di bawa ke pos satpam pasar.

Ia meminta pendapat dari ibu-ibu yang lain tentang bagaimana cara mengeluarkan anaknya dari tahanan polisi. Kami pun silih berganti berbicara. Pembicaraan mengerucut pada satu solusi, mace Lia disarankan berbicara pada penyidik anaknya dan memaparkan tentang kejadian dan kondisinya saat ini. Jika celah tak ada, kami sepakat akan mencari jalan lain yang memungkinkan.  

Mace Lia sudah berbagi, ia perih karena ia tahu ini akan sulit. Ia tahu bahwa polisi sangat suka duit agar anaknya bebas. Ia tahu bahwa orang sepertinya sangat mudah dituduh kriminal, tanpa punya kesempatan membela diri. Ia juga tahu, hari-hari setelah hari ini akan semakin sulit. Ia kini hanya punya setumpuk utang dan seorang anak remaja yang murung di balik jeruji.

****

Saat itu pula, saat tiga cerita mengalir tulus dari tiga ibu di tanah rawa, saat kami berkumpul di rumah panggung saya berniat menuliskannya di sini. Agar saya tidak lupa, bahwa perih pernah  tergores dalam di hati mereka. Agar saya tidak lupa bahwa hidup yang lebih baik layak diperjuangkan!

Kamis, 28 Juni 2012

Footballize Me!


Saya tidak tahu pasti kapan kegilaan saya terhadap sepakbola dimulai. Seingatku waktu SMP, beberapa kali saya menyempatkan diri menonton siaran sepakbola di TV. Liga Italia kala itu menjadi liga paling bergengsi di eropa, sebelum akhirnya terpuruk karena kasus pengaturan skor dan krisis ekonomi.  Kebetulan TV di Indonesia (sampai sekarang) dengan sokongan produsen rokok mampu membeli hak siar tersebut, sehingga saya yang berada di kota kecil mampu mengkonsumsinya.
Sekarang saya sangat suka menonton sepakbola, dari pertandingan tarkam (antar kampung), liga indonesia hingga pertandingan bergengsi selevel liga inggris dan champions eropa. Tentu saja ini hanya bisnis, sebuah industri yang di dalamnya ada pekerja dan pemilik modal serta orang-orang seperti saya, konsumen. Hahaha
Begitu krisis ekonomi datang, kualitas kompetisi pun ikut menurun. Klub-klub di Italia dan Spanyol merasakan sulitnya mengelelola sebuah klub dengan besarnya utang. Walhasil Hernan Cerspo di Italia dan Ruud Van Nisteltoy masih bermain di divisi teratas dan menjadi tulang punggung timnya masing-masing. Gaji yang tak lagi mahal plus pengalaman dan kemampuan yang masih tersisa di mantan pemain top dunia tersebut  menjadi alasan kuat bagi klub untuk mempertahankannya.
Saya tak begitu fanatik dengan sebuah tim, tapi saya menyukai Chelsea FC. Tim asal London barat ini adalah tim yang sering saya pakai saat bermain game PES atau Winning Eleven. Mungkin alasannya hanya itu saja. Saat masih diasuh Jose Mourinho mereka punya pemain-pemain yang punya fisik yang kuat, sehingga di PES saya bisa dengan mudah merebut bola dari kaki lawan.
Chelsea bermain di liga Inggris, di mana kompetisi ini merupakan variabel yang baik untuk melihat bagaimana sepakbola dikelola sebagai sebuah industri yang menghasilkan keuntungan bagi pemodal. Inggris layaknya negeri-negeri miskin seperti Indonesia di mana segala syarat untuk membangun sebuah imperium ekonomi tersedia di dalamnya. Jika di negara seperti Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah dan pekerja yang murah, Inggris memiliki kultur masyarakat yang gila sepakbola serta deretan sekolah sepakbola yang siap memasok pemain-pemain baru. Oleh karenanya tidak heran jika investor kelas kakap seperti Abrahamovic dan Syekh Masour tidak ragu meggelontorkan miliaran dollar untuk membangun tim yang kuat di Inggris.
Dan hal yang penting tentang sepakbola adalah kenangan dengan seorang teman. Dia juga gila bola, dan kami sering menonton pertandingan liga inggris bersama-sama. Saya masih ingat bagaimana ekspresinya ketika Intermilan- tim yang ia bela karena pelatihnya Jose Mourinho-berjumpa Bayern Munich di final Liga Champions musim 2009-2010. Dia seperti menonton langsung di stadion tempat digelarnya pertandingan. Berteriak-teriak, rambutnya diacak-acak, bahkan menutup mata saat pemain Bayern mendapat peluang yang baik untuk mencetak gol. Sungguh lebay fans sepakbola yang satu ini. Hahaha
Sekarang ia sedang berjuang agar bisa kembali menapak tanah dan menikmati sepakbola, tentu saja sendiri tanpa saya. 

Senin, 04 Juli 2011

Imanjinasi, jenis kudapan apa lagi itu?


Sungguh sudah  lama...tidak..tidak..baru saja beberapa hari kok..meninggalakan kota sombong ini kadang dipelukan untuk menjaga pikiranmu supaya tetap waras. Ah...memang sedari awal kota ini dipenuhi orang gila kok dan saya tak mau membahasnya di sini. Hehehe. Ayolah, kau harus datang kembali secepatnya dan gila lagi bersamaku, bersama ubin jalan setapak, bersama ruko kecil di sudut jalan, bersama lubang-lubang di tengah jalan yang selalu kita lalui bersama hampir tiap hari.
Kau tahu? Sudah berapa hari ini saya sedang tertarik dengan sebuah kata. Ia adalah imajinasi, mungkin kata ini yang membuat beberapa dari kita tetap waras, dan jangan mendebatku soal kata ‘waras’ ini. Ayolah kita sama-sama tahu mana yang dibilang waras dan yang tidak, walaupun ada tepi yang tak jelas diantara keduanya. Alah, jika kau menginginkan lebih....ahh pusing saya dibuatnya.
Saya dan seorang perempuan tua, beberapa waktu yang lalu, ya kami berdua tersesat dalam percakapan kami sendiri, percakapan acak tentang banyak hal -yang kau tahu- ini sangat mengandalkan imajinasi. Entah bagaimana, ia lantas bertanya soal apa yang kau lakukan ketika masyarakat kita sudah meninggalkan gaya hidup dengan opresi kelas sosialnya seperti sekarang ini. Banyak hal kubilang, yang pertama ya mencukupi kebutuhan dasarku dengan bertani. Mendirikan Adobe, bertetangga, kadang-kadang menenun, membuat sebuah lagu untukmu, mungkin juga melukis wajahmu, atau menemukan  lelucon yang bisa membuatmu tertawa (hahaha..I’m still working on it).
Saya meninggalkan percakapan itu, ia punya si bibir mancung sekarang untuk mengobrol, dan tentu saja menguras imajinasinya. Saya kemudian sibuk dengan kepalaku sendiri, menciptakan dunia sendiri setelah menyedu kopi dan membakar rokok murah yang kubeli dari warung sebelah rumah. Dunianya mungkin seperti ini:
Siang tadi ketika hendak membeli makanan, motor hitam rongsokanku itu kupacu di jalan menuju warung makan. Disepanjang jalan tampak beberapa bocah memegang kaleng yang dililiti benang, mereka sedang bermain layang-layang pikirku. Yap, benar sekali beberapa layangan tampak dilangit di atasku. Jika ada kendaraan yang lewat, mereka akan meninggikan benangnya agar tak nyangkut pada motor atau mobil yang lewat. Sungguh sulit mendapat tanah lapang di tengah kota sombong ini pikirku, dan mereka begitu gigih bermain di jalan raya yang tak kenal belas kasih itu.
Karenanya pula saya jadi ingat masa kecil ku di kota kecil yang sangat mengandalkan pelabuhannya untuk tetap bisa berdenyut. Tentang bau tanah merah, kaki yang berdarah setelah berlarian di tengah tanah berbalut rumput liar, tentang baju dan celanaku yang selalu sangat kotor ketika pulang ke rumah di sore hari untuk mandi kemudian makan. Tentang itik yang kupelihara dan kucuri telurnya di tiap pagi untuk kujadikan sarapan. Tentang rawa tempat memancing ikan gabus yang seringkali berakhir dengan kegagalan membawa pulang tangkapan. Jika sudah begitu, saya akan mengambil jaring bekas ayakan pasir milik tetangga dan memanggil beberapa temanku untuk menjaring ikan brengsek yang tak mau memakan umpanku. Hahaha. Mereka berakhir di panggangan dengan arang dari ranting kayu dan dedaunan. Itu hanya hanya masa kecil dan untunglah saya masih bisa mengingatnya.
***
Semalam, dengan telpon genggam pemberian saudaraku saya menerima telponmu dari kota yang jauh. Katamu tadi siang kamu baru saja menggoreng tempe dan membuat kue, senang mendengarnya :p. Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu kita pergi ke toko buku, mencari-cari buku yang cocok. Aku menemukan satu di toko buku pertama yang sebenarnya lebih mirip swalayan satationary. Judulnya Ketika Manusia Kloning Berkuasa, ketika pertamakali melihatnya, judul dan covernya sungguh tak menarik, tapi setelah membaca sinopsisnya saya jadi tertarik. Ya, imajinasi yang kuat pikirku, hmm ..tentang bagaimana kehidupan manusia di masa yang akan datang. Oh bukan, ketika manusia tak ada lagi, berganti manusia cebol tak beralat kelamin yang berkembang biak dengan cara mengkloning dirinya sendiri. Tema fiksi tentang peradaban yang hancur, akan hancur, telah hancur, cukup banyak loh. Sederet buku dan film tentang tema inipun ku koleksi diantranya the road, the day the earth stood still, resident evil, the matrix, the book of eli, terminator, kulupai sisanya. Dan kau tahu? Entah mengapa saya begitu menikmati ketika adegan dalam film atau novel yang kubaca berakhir dengan kehancuran peradaban. Sayu sepertinya sudah sinting.  :p
Tentu penulis novel dan naskah film bertema ini punya imajinasi yang cukup kuat, dan juga dibantu oleh pengetahuan penulis dan perspektifnya yang radikal dalam melihat dunia hari ini. Dan imajinasiku hanya berhenti di sini? Coba kuingat-ingat dulu, apa imajinasi ku tentang masa depan? Saya berpikir kuat, tak menemukannya, hanya ada bayang samar, hmm ...saya melihat  dirimu didalamnya. Dan itulah imajinasiku untuk masa depan! :P

Senin, 09 Mei 2011

Untuk Sesaat Semua Menjadi Kami

Kami, ya kami! Hampir semuanya kami tinggalkan, tidak pekerjaan, tidak pula agenda pribadi. Di sabtu yang menjemukan ini, kami menutup pintu kamar dan meninggalkan dunia beserta semua adegan sirkusnya di luar sana. Untuk beberapa jam ke depan kami biarkan semua tergelatak, berkelahi, berserakan, menangis, tertawa, melata, melompat, menari, merenung, membaca, menulis, membisu, marah,  pasrah, terbang, terhempas, tertindih, perih, sendiri. 


Di ruang panas ini, hanya ada kipas kecil yang tak berdaya menawar terjangan mentari. Kami menemani sebuah kardus using berisi kaleng-kaleng berisi tinta yang hendak melompat dari mulut kardus. Ia jadi penawar dialog yang berujung pada bisu yang sesekali hadir di antara hangatnya perbincangan. 


Untuk beberapa waktu kemudian, biarkan kami memiliki dunia kami sendiri. Menikmati cumbu mentari sambil menggenggam erat jemari. Biar esok kami bisa sedikit mengerti di mana kami sedang berdiri, dan di setapak mana kami sedang berlari.

Minggu, 01 Mei 2011

Menantimu di Tanah Rawa

Kami membuat sebuah janji, lebih  tepatnya disebut kesepakatan untuk tak bertemu selama tiga hari, juga tak saling menghubungi. Hahaha. Aneh, sungguh persetujuan yang menyebalkan di antara membaranya kasihku padanya. Hahaha. Dan di antara tiga hari yang berat itu, tersiar kabar bahwa tanah rawa akan diserbu sekawanan preman yang dibayar oleh seorang pengusaha tambun yang hendak merampas sebidang lahan tersebut dari pemilik sah, orang-orang tanah rawa. 

Saudara tuaku Boriel, intens berkomunikasi dengan Enos pria lincah asal negeri timur matahari yang beberapa bulan terakhir sering nongkrong di tanah rawa. Boriel akhirnya menghubungiku dan saudara-saudaraku yang lain. Kami hendak ke tanah rawa di hari sabtu, hari ke dua dari perjanjianku selama tiga hari dengan gadis feromon. 

Pagi -pagi sekali, kami berempat sudah bangun. Sedikit merapikan diri sambil menyeruput kopi panas buatan Pinko, perempuan tua  tangguh yang tak lain adalah kekasih Boriel. Kami hanya sedikit mengobrol, tentang hasil pertemuan semalam, tentang kode sandi sampai strategi perang yang sudah disusun oleh barikade anti penggusuran tanah rawa. Kami mengakhirinya dengan tertawa lepas, sambil menimpali busuknya permainan negara dan pengusaha yang selalu kompak melakukan hal-hal seperti di tanah rawa ini, merebut ruang hidup dan kehidupan. 

Tak memakan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai di tanah rawa dari tempat kami nginap, kampung biru. Akhir pekan yang menjemukan, selalu membuat kota megapolitan ini lengang dan lesu, tak ada wajah yang terburu-buru, tak ada kuda besi yang tergesa-gesa menyelip deretan mobil pribadi mewah. Akhirnya kami sampai dengan selamat. Hehehe.
Sore di Tanah Rawa (diambil pake hengpong ji :p)
Inilah pagi di tanah rawa, bambu tua berderet rapi melintang di atas genangan besar air yang memisahkan satu rumah dengan rumah lainnya. Sesekali, riak air pecah di permukaannya akibat lambaian ekor ikan berwarna hitam dan mungil. Mereka tampaknya terganggu dengan kehadiran kaki-kaki kami yang kaku berjalan di atas jalan bambu ini. Pinko dan boriel begitu lamban berjalan, sementara saya dan Jo sibuk dengan kepala masing-masing setelah disuguhi adegan dingin seorang warga yang sedang mengasah sebilah parang.  Bukan sebilah, ada lima bilah! Kami menyaksikan ekspresi dingin khas luapan insting bertahan dan melindungi. Kami tak berkomentar, Jo hanya melempar senyum padaku dan kami melanjutkan perjalanan menuju posko induk tempat berkumpulnya teman-teman barikade anti penggusuran. 

Sebelum kulanjutkan, saya ingin membagikan sesuatu. Sialan! Jika kamu berpikir kami ke tanah rawa karena iba pada orang tanah rawa dan panggilan moral, kamu salah! Solidaritas adalah senjata yang paling ampuh untuk merenggut kehidupan yang telah lama dicuri oleh sistem bobrok ini. Hidup kami telah lama dicuri sejak saat itu, saat  kami telah dilabeli dengan embel-embel warga negara melalui akta kelahiran hingga diberi sistem kepercayaan demi menciptakan ketertundukan. Kami hanya tak mau lagi dicuri lebih banyak, tidak juga bagi orang-orang tanah rawa yang hendak dicuri tanahnya oleh Hanoman itu. Maka bersolidaritaslah!
Posko induk lengang, kawan-kawan yang malam tadi nginap di tanah rawa, masih menikmati keintimannya dengan pagi. Ini masih jam 7 pagi, kabut belum juga mau berpisah dengan muka rawa. Tampaknya ada perayaan kecil semalam di tanah rawa, demi menyambut om eman yang kan datang esok hari.
***
Hari semakin panas, canda tawa mulai tak bisa membunuh bosan kami menunggu serangan dari om eman. Sel  FNB (Food Not Bombs) sudah pula menyelesaikan misinya hari ini, logistik perang sudah siap di gudang altileri. Pria skinny di sampingku mengutuk dalam gerah dan marah, “sialan, tak ditunggu si eman muncul, saat kami siap menyambut dengan red carpet, mereka tak datang, sial!”. Hahaha, saya hanya bisa tertawa mendengarnya, saya sudah terlalu capek untuk menimpalinya. Hahaha

Ditengah-tengah kejemuan akut itu, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di kompleks tanah rawa, saya menemukan beberapa teman sedang ngobrol dengan warga, kuputuskan untuk masuk dalam sidang itu. Mereka sedang bercerita tentang berbagai topik, cukup panjang dan ramai, hingga akhirnya beberapa teman memutuskan untuk minggat, sepertinya ingin beristirahat. Tersisa kami berdua, saya dan bapak berkacamata dengan kemeja lusuh berwarna krem warga asli tanah rawa.

Setelah puas dengan topik pembicaraan di luar ‘kita’, akhirnya saya bertanya soal seputar tanah rawa dan kehidupan bapak berkacamata. Ia kemudian menyambutnya dengan aliran kisah pertama kali ia sampai di tanah ini. Tahun 1984 ia mendapati tanah ini adalah rawa-rawa yang dikelilingi pepohonan lebat. “Hanya di hitung jari ji rumah di dulu, masih sepi”, kenang bapak 3 anak ini. Ia mengisap dalam-dalam rokok di tangannya sembari mendengar tanggapanku. 

Saya lantas bertanya, di mana tepatnya letak rumahnya di tanah rawa ini, ia lantas menunjuk rumah panggung berdinding tripleks. Saya menengoknya dalam, “yang banyak lubang di dindingnya itu?”, gumamku dalam hati. Ia menarikku kembali dalam perbincangan dan berkata, “itu mi juga, saya mau perbaiki sedikit-sedikit tapi nda ada pi uang”. 

Ia lantas bercerita tentang hidupnya di kota ini, yang akhirnya berakhir sebagai tukang parkir di salah satu fasilitas umum tak jauh dari tanah rawa. Tanah rawa memang strategis, ia di apit barisan bangunan mewah menjulang yang tak lain adalah pusat perbelanjaan dan gedung berorientasi niaga. Ia seperti luka menganga di permukaan kulit mulus. Tak heran si Hanoman kepincut untuk menguasainya. 

Kami kembali larut dalam percakapan saat ia melontarkan barisan kata tentang kondisi anak dan istrinya. Ia terpaksa memboyong 2 anak serta istrinya pulang ke kampungnya di pesisir selatan celebes, semenjak kondisi kesehatan istrinya memburuk, ia takut rumah super sederhananya tak mampu menghadirkan kehangatan kala tubuh rapuh dan kedinginan. Hanya anaknya yang sudah berumur 18 tahun yang bertahan menemaninya.  Hitam kulitnya jadi penanda bahwa siang harinya ia lewati di bawah sengatan matahari, dan malamnya ia berkelahi dengan dingin. 

Sabtu, 23 April 2011

Hal Brengsek dari Mengakhiri Sesuatu adalah Ketika Kita Tak Sadar Bahwa Kita Sedang Memulainya Kembali

Biar saja, malam sepi ini hanya ingin kumaki, toh hanya ada sedikit telinga yang kan mendengarnya. Tidak pula kau yang punya setumpuk alasan untuk menutup rapat telinga dan tenggelam dengan rutinitas sampah itu. Taik! Tak ada yang lebih menyebalkan dari duduk dan memaki semuanya sendiri di layar monitor ini.

Ah, saya tau nya hanya menggerutu, mengutuk diri. Besok saya kan mengakhirnya! Lihat saja!

Jumat, 22 April 2011

Beberapa Baris yang Rindu

Seperti yang sudah-sudah, saya hendak tidur sementara kau sibuk merayakan insomnia gilamu. 
Di balik semuanyanya, kau menyembunyikan rapuh tubuhmu 
Dan menyimpan rapi segunung beban yang hanya pada pundakmu.
 ***
Besok menjadi semakin menyenangkan karena ada perayaan menjadi manusia
Sayangnya kau tak bisa turut dalam parade adrenalin ini.
Tak apalah, toh kau lebih aman jika tidak bersamaku untuk saat ini.
 ***
Senin masih begitu jauh
Semoga esok aku tak kalah
Semoga lusa kau tak jatuh
Hingga nanti tiba waktunya kita berbagi peluh

Selasa, 19 April 2011

2 Menit Untukmu

Ini tidak akan panjang, kau akan menemukanku terkapar tak berdaya segera setelah membacanya. Ya sayang, hari aku tak bisa menemanimu, menjadi bidak pion terdepan adalah peran yang mesti kujalani demi bertahan hidup. Hampir saja semuanya kutukar dengan hal menyebalkan ini, bekerja! Bahkan saat kau pun sakit aku hanya bisa memberikan sedikit waktu untukmu, hanya 2 menit! Itupun aku harus lihai mencurinya dari panjangnya jam kerja yang membosankan. 

Semoga kau tidak terus-terusan dipusingkan dengan prosedur sampah kampus, yang memaksamu melakukan hal yang sama sekali tak kau sukai.  Jika semuanya sampai di titik didih kejenuhan, kita toh masih punya sedikit spasi diantara bosannya rutinitas. Kita akan merayakan kematian kepalsuan diri dengan bergandengan, tertawa dan mencaci semua yang sudah berlalu. Brengsek! Hidup begitu pendek untuk dijalani dengan hal-hal yang miskin makna.  

Saya akan mentupnya dengan kecupan hangat, tentu saja hanya buatmu dan ini dari ku. Semoga itu cukup untuk menawar sepi dan penat di esok hari, selamat tidur dan teruslah bermimpi wahai kau  feromonku :p.

Minggu, 17 April 2011

Free Download "Collapse", Jared Diamond

Resensi oleh Ishmael Yahalah
Sekali lagi Jared Diamond membongkar erorr peradaban, dan berikut adalah salah satu karyanya yang berhasil divisualisasikan oleh salah satu production house raksasa dunia NG. Nikmati filmnya pada link berikut:
Sebelumnya, kamu bisa membaca resensinya yang di blog ini saya ambil dari:


Resensi

Sebuah Dunia Yang Akan Kolaps





Judul
: Collapse (Based on The Book of Jared Diamond)
Sutradara/penulis : Noel Dockstader
Editor : Steve Eagleton
Tahun : September, 2010
Produser : Noel Dockstader
Produksi : Far West Film Co. & National Geographic Television
Peresensi : Ishmael Yahalah


Jared Diamond
telah menggugah banyak orang di berbagai belahan dunia ini. Dalam tulisan-tulisannya, Diamond memberikan pandangan dan penafsiran ulang atas sejarah dan peradaban yang berdiri saat ini. Tulisannya yang kaya sekaligus kontroversial merentang dari sejarah hingga geografi, dari fisiologi hingga arkeologi. Dalam buku terkenalnya Gun, Germs, and Steel (2006) yang memenangi hadiah Pulitzer, Profesor Diamond menyingkap bagaimana peradaban di dunia ini bisa terbentuk sedemikian rupa melalui proses yang tidaklah alamiah. Ia menjelajahi gurun di Afrika, hutan Papua, kota-kota kuno di Bulan Sabit Subur, hingga Amerika Selatan. Salah satu tesis pentingnya bahwa agrikultur adalah “kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia”, menjadi perbincangan yang sengit di kalangan yang mendukung dan menolak tesis tersebut.

Dan
di buku setelahnya Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed (2005), Diamond belum beranjak dari tesis awalnya tersebut. Jika dalam “Gun, Germs and Steel” profesor fisiolog ini menjabarkan tentang asal usul dan kejatuhan sebuah peradaban, maka “Collapse” lebih banyak mengurai konsekuensi yang tidak bisa dijauhkan, manakala sebuah peradaban berjalan. Yang pada akhirnya, dikarenakan karakternya yang destruktif, peradaban akan runtuh mengulangi sejarah-sejarah terdahulu di masa silam.
Film “Collapse”
ini adalah kolaborasi kedua National Geographic dengan sang Professor, setelah Gun, Germs and Steel (2008) yang terdiri atas tiga seri diproduksi.

Seperti
gagasan inti dalam buku yang melatarbelakangi film ini, Collapse membawa sebuah pertanyaan besar ke ruang tengah rumah kita saat menontonnya : apa yang akan terjadi dengan bumi ini jika kehidupan kita pertahankan seperti sekarang ini? Jawabnya : kolaps!

Collapse
adalah pengujian mengenai kebiasaan-kebiasaan dalam peradaban manusia yang dapat berdampak pada keseluruhan jejaring kehidupan dan bumi. Film ini meninjau ulang, mengujinya dengan standar pengetahuan terkini, dan memberikan kesimpulan mengenai relasi antara metode kehidupan harian kita dengan efeknya ke depan. Dan tentu saja, berdasarkan kejadian-kejadian di masa silam serta fakta dan kecenderungan terkini, ia menunjukkan bahwa apa yang terjadi belakangan ini seperti penyusutan lahan, krisis pangan, air dan sumber energi berpotensi mendorong kolapsnya peradaban.
 
Memang bukanlah hal baru dalam mengkonversi buku menjadi film. Namun jika buku yang dimaksud adalah buku non-fiksi setebal 571 halaman, untuk kemudian diperas menjadi film dokumenter berdurasi lebih dari 90 menit yang bisa ditonton oleh semua kalangan, tentu memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Tetapi sang sutradara sekaligus penulis skenario Noel Dockstader punya siasat.
Berbeda dengan Inconventional Truth dimana Al Gore membangun argumen yang kuat dan populer tentang gejala pemanasan global dengan menyandingkan  paradoks masa lalu dengan yang kini terjadi di bumi. Dalam Collapse, Dockstader juga sekaligus membangun visualisasi masa depan untuk menggambarkan situasi yang bisa (atau akan!) terjadi –namun belum nampak disebabkan jaraknya yang terlalu dekat dengan kita dan karenanya lebih sering diremehkan. Dengan plot alur maju-mundur, versi film ini cukup berhasil memisahkan diri keluar dari bayang-bayang Collapse versi buku yang lebih dahulu popular.

Collapse mengajak melakukan perjalanan waktu menembus 200 tahun ke masa depan untuk melihat seperti apa sebuah peradaban yang kita tempati ini nantinya, sambil sesekali melongok ke ribuan tahun yang lampau. Interpretasi visual terhadap tulisan Jared Diamond ini memang cukup membantu untuk membangun kontras dan abstraksi antara kisah masa silam, sekarang dan masa depan.

Diceritakan, sekelompok ilmuwan di tahun 2210 yang tergabung dalam Project Collapse, paska kolapsnya peradaban saat ini, meneliti sisa-sisa keruntuhan. Mereka meneliti sisa-sisa dan artefak dari 200 tahun yang lalu (yakni masa sekarang) untuk mencari tahu mengapa peradaban sekarang runtuh. Para ilmuwan di masa depan tersebut mendatangi gurun bekas kota Phoenix, yang peradabannya runtuh karena pengelolaan sumber air. Mereka juga mengunjungi Central Valley, bekas lahan pertanian raksasa di California, hingga menyelami laut di perairan yang dulunya merupakan kota padat Cape Canaveral, Florida.

Berbagai artefak sisa-sisa manusia jaman sekarang ditemukan para peneliti. Dari kolam renang di rumah-rumah warga Amerika, bangkai pesawat luar angkasa, hingga ikon peradaban modern kita : mobil. Berdasarkan temuan artefak-artefak tersebut para ahli menelusuri mengapa peradaban yang berdiri saat ini bisa runtuh.

Apa yang dimaksud dengan situasi “kolaps” sendiri dijabarkan Jared dalam bukunya ‘Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed’, sebagai “penurunan drastis jumlah populasi manusia dan atau kompleksitasnya secara sosial, ekonomi, politik, pada wilayah dalam sebuah rentangan waktu.” Kejatuhan sebuah peradaban diawali oleh kemunduran-kemunduran yang dialaminya sedikit demi sedikit, yang dapat ditandai dengan beberapa bentuk-bentuk kecil (milder type) sebelumnya.

Bentuk-bentuk tersebut dapat berupa kemunculan atau kejatuhan yang bersifat minor yang ditandai dengan terjadinya restrukturisasi dalam sebuah masyarakat secara politik, ekonomi atau sosial; ditaklukkannya sebuah masyarakat oleh masyarakat tetangganya, atau kemundurannya terkait kejayaan daerah tetangganya tanpa adanya perubahan dalam keseluruhan populasi atau kompleksitas pada seluruh wilayah tersebut; dan pergantian elit penguasa dari satu ke satu lainnya.

Diamond memberikan beberapa contoh peradaban yang kolaps dalam sejarah dunia silam seperti Anasazi dan Cahokia di daerah yang kini kita kenal sebagai perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko, kota-kota suku Maya di Amerika Tengah,  masyarakat Moche dan Tiwanaku di daerah selatan benua Amerika, peradaban Mycenean di Yunani serta Minoan Crete di Eropa, zaman kebesaran Zimbabwe di Afrika, era Kuil Angkor di Kamboja, peradaban di kota-kota di Lembah Hindus, hingga Pulau Easter di kawasan Pasifik.

Di awal, Diamond mencontohkan peradaban Anasazi di Yucatan Peninzula, Meksiko yang hilang ribuan tahun yang lalu. Apa yang ironik disini adalah bahwa situs tersebut merupakan bekas peradaban asli Amerika yang termaju sebelum kedatangan orang-orang Eropa. Perkembangan arsitektur, kultur masyarakat, seni pahat dan ukir, serta seni lukisnya mengagumkan sehingga dijuluki sebagai Mesoamerica, Dunia Baru.

Namun, pada puncak peradabannya, kota-kota kuno tersebut mengalami penyusutan populasi secara ekstrim dalam waktu yang singkat dan berakhir dengan keruntuhan peradaban Maya kuno. Penduduk yang pada awalnya membangun kota tersebut menjadi sedemikian megah dan hidup dalam titik puncak peradaban, akhirnya keluar dari kota dan terpaksa mencari tempat baru. Ada apa gerangan?

Puncak peradaban Anasazi adalah menyulap padang pasir dengan curah hujan yang fluktuatif dan situasi geografis yang relatif terisolasi, menjadi kota yang dipenuhi dengan rumah bertingkat, pepohonan, dan sumber pangan yang melimpah. Perkembangan masyarakatnya dapat menjawab permasalahan-permasalahan sosial seperti bagaimana memberi makan seluruh penduduknya.
Dalam menghadapi alam yang kering misalnya, mereka menggali dataran rendah, memodifikasinya, membendung aliran air, menyadap rembesan dari karst (dan batuan kapur bawah tanah) dan membuatkannya saluran menuju sebuah penampungan air raksasa yang juga dapat menampung air hujan. Dengan begitu, mereka dapat menyediakan air minum untuk 10.000 orang selama 18 bulan. Dan kehidupan Maya berkembang menuju puncaknya.
Tetapi seiring itu, orang Maya harus membayar mahal. Lingkungan dan iklim yang mereka taklukkan pun berubah. Para klimatolog (ahli iklim) dan paleoecologist (ahli lingkungan masa lampau) menemukan beberapa bukti mengenai perubahan iklim dan lingkungan yang menyumbang kejatuhan. Tanpa sadar, dengan memodifikasi alam, mereka telah merusak lingkungannya sendiri, termasuk pembabatan hutan untuk pembukaan lahan pertanian dan erosi tanah oleh eksploitasi berlebihan.  Bangsa Maya kuno ditimpa kekeringan berkali-kali, dan memaksa mereka untuk eksodus. Situasi ini ditambah dengan faktor kultural dan politik, seperti persaingan antar raja-raja dan para bangsawan, yang berujung pada perang.

Kisah peradaban Anasazi kuno ini merupakan sudut pandang orang masa sekarang melihat masa lampau. Sementara untuk memahami masa kini, Diamond mengajak memakai sudut pandang orang masa depan. Maka sepanjang film ini ada banyak ilustrasi mengenai bagaimana para ilmuwan masa depan mendapati artefak-artefak sekarang untuk menjelaskan sebuah keruntuhan peradaban terkini.

Collapse mengajukan Las Vegas dan Los Angeles, sebagai sampel (calon) kota peradaban yang runtuh dengan puing-puing dunia modernnya. Kemajuan kota-kota modern tersebut digambarkan serupa dengan kota Anasazi kuno. Yang pada akhirnya ditinggal oleh penduduknya karena tidak memungkinkan lagi untuk hidup di tempat tersebut. Alasannya sederhana, pola kehidupan di kota-kota yang digambarkannya sudah tidak lagi masuk akal. Bagaimana sungai yang memiliki ekosistemnya sendiri dibendung untuk menyuplai air masyarakat kota, lahan pertanian massal dihamparkan dengan menggunduli hutan tropis terlebih dahulu.

Dalam salah satu scene digambarkan bagaimana sebuah usaha pertanian di Huron, harus membunuh (mereka menyebutnya rasionalisasi) pohon-pohon almond produktif yang awalnya mati-matian mereka tanam. Jumlah pohon yang dirasionalisasi mencapai setengah dari lahan, yang terpaksa dilakukan karena defisit air. Sesuatu yang lahir setelah bertahun-tahun mereka mengekstrak air tanpa batas. Di tahun 1950an, California adalah padang gersang yang disulap menjadi taman eden. Mereka melakukannya dengan membuat saluran air berjarak ratusan mil dari sumbernya untuk menyuplai kebutuhan pertanian dan kehidupan sehari-hari. Ini lantas menjadikan wilayah tersebut menjadi salah satu daerah pertanian paling produktif di seluruh dunia.

Sekarang, orang-orang di California mesti menggali sedalam 700 meter hanya untuk mendapatkan air. Sementara satu pohon almond mengkonsumsi 400 liter air setiap hari. Petani harus melakukan langkah radikal untuk beradaptasi dengan krisis atau Los Angeles, California akan menjadi Anasazi di masa kini.
Jared Diamond juga mengajukan krisis energi dan moneter sebagai salah satu hal penting yang menyumbang keruntuhan peradaban. Di masa silam, persoalan energi dan moneter ini sama-sama muncul dalam peradaban Romawi dan Maya. Meskipun kedua peradaban ini saling berjauhan dan belum terkoneksi secara langsung karena situasi teknologi telekomunikasi dan transportasi saat itu, namun keduanya memiliki sesuatu yang sama. Setelah berabad-abad dominasi kejayaannya, era kedua peradaban tersebut akhirnya habis.

Pada era Romawi, perang dan penaklukan serta imperialisme-lah yang membuat peradaban tersebut bertahan. Salah satu yang menopangnya adalah jaringan jalan. Namun seiring waktu, Romawi kehabisan energi untuk terus memperbesar wilayah dan menjalankan tata pemerintahannya.

Kini terdapat setidaknya 2 milyar mobil yang akan menjadi rongsokan berbahaya. Ini adalah salah satu penanda bagaimana absurdnya peradaban ini menyedot dan mengelola energi. Menurut para ahli, kita hanya butuh 200 tahun semenjak revolusi industri, untuk menghabisi cadangan bahan bakar berbasis fosil. Berdasarkan perhitungannya, dalam satu hari kerja manual hanya akan menghasilkan minyak sebanyak satu sendok makan. Ini berarti untuk satu tangki bensin yang tunggal setara dengan dua tahun kerja manusia!
Sementara itu, para ilmuwan dan kaum industrialis terus mengembangkan pembangkit listrik dengan teknologi terbaru. Nyatanya, teknologi yang kita pakai 50 tahun lebih itu hanya mampu mengekstrak 25 persen energi yang tersedia dan membuang percuma 75 persen sisanya. Saat hal itu dirasa tidak mencukupi, mereka kemudian mengembangkan teknologi yang dipandang bisa menghasilkan sumber energi berkali lipat : nuklir!
* * *
Peradaban adalah soal bagaimana menaklukkan alam. Hal ini berlaku semenjak peradaban pertama dimulai dengan pertanian sebagai upaya awal menundukkan dan memanipulasi alam. Pertanian terbukti mengambil lebih banyak dari tanah ketimbang yang bisa dikembalikannya. Dan karenanya Diamond memang benar bahwa hal ini adalah kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia.

Kini, penaklukan alam dalam peradaban modern ini sangatlah mengerikan. Pertambangan minyak, gas, logam dan mineral, menghasilkan lebih banyak kerusakan alam dan ketimpangan sosial ketimbang kemakmuran merata di masyarakat seperti mitos yang dijanjikan. Sementara di tempat lain, juga digambarkan bagaimana laju produksi kendaraan bermotor tak lagi terbendung. Ini akan terus menyerap permintaan akan sumber energi/bahan bakar fosil atau ‘gantinya’ berupa biofuel.

Sebagai konsekuensi inheren dalam peradaban, ancaman krisis pangan, perubahan iklim, bencana alam, gagal panen, genosida, serta perang militer besar-besaran adalah sesuatu yang melekat tak terpisahkan dari kehidupan saat ini.

Apa yang disampaikan Jared Diamond dalam Collapse ini sebenarnya bukanlah hal baru, melainkan rangkuman tentang konsekuensi dari tata kehidupan harian kita. Terbenam dalam peradaban, kita dapat menghancurkan planet ini bahkan dari kamar mandi saja. Tidak perlu ke hutan, dan cukup biarkan Unilever dan Sinar Mas menghabisi hutan tropis di Kalimantan untuk memproduksi sampo atau sabun mandi kita. Tetapi, mode kehidupan modern telah pelan-pelan menyandera kepekaan kita dalam memikirkan dampak dari kehidupan yang kita jalani saat ini. Segala sesuatu yang ‘masih jauh’ itu belum terasa padahal apa yang berlangsung di masa silam telah berulangkali membuktikan bahwa konvergensi kekeringan, kelaparan, bencana lingkungan dan kehancuran finansial adalah penyebab keruntuhan peradaban.
* * *
Peradaban adalah tema sentral dalam beberapa karya Diamond. Ia bukanlah yang pertama dan satu-satunya yang berbicara tentang tema ini. Namun karena pengetahuannya yang luas, keahliannya yang mumpuni, Diamond banyak menginspirasi gerakan radikal seperti kelompok-kelompok anarkis-hijau, anarkis-primitivis, maupun anarkis-antiperadaban secara luas.
Tetapi sang Profesor tetaplah seorang ilmuwan yang dibesarkan oleh peradaban sains itu sendiri yang belum sepenuhnya lepas dari nalar pencerahan. Nampaknya Diamond terlalu khawatir akan keruntuhan yang diramalkannya itu. Kadang pula ia menyamakan kejatuhan peradaban sebagai hal yang similar dengan berakhirnya kehidupan. Proposalnya adalah mempertahankan peradaban modern ini dengan sesuatu yang lebih berkelanjutan. Dalam tawaran praktisnya mendorong manajemen sumberdaya yang arif dan bijaksana di bawah kendali pemerintah dan swasta –sesuatu yang mustahil. Ini mengingatkan rekomendasi optimistiknya di Gun, Germs, and Steell, tentang wabah malaria dan kemiskinan akan dapat ditangani dengan baik lewat ‘kerjasama internasional yang solid’.

Ini sangat berbeda dengan ekspresi anti-peradaban dalam gerakan radikal seperti anarkis-primitivis maupun anarkis non-primitivis yang mengagendakan penghancuran peradaban sebagai satu-satunya jalan untuk mengembalikan harmoni dan kealamian yang lestari. Bukan mempertahankan, melainkan membalikkan arahnya. Dan tentu saja juga sangat berbeda dengan penghancuran dan kehancuran sebagai konsekuensi dari karakter peradaban itu sendiri.

Akhir kata, akan lebih baik jika membaca versi bukunya yang lebih lengkap dan detail. Serta untuk mengurangi kekecewaan atas rekomendasi agenda sang Professor, sering-seringlah mengingat bahwa bagaimanapun ini adalah dokumenter produksi National Geographic! [iy]

Sabtu, 16 April 2011

Kerangkeng Hari Sabtu

Image Hosted by PicturePush - Photo Sharing
Prison Break, Si Kumis Lele :p
Hari ini hari sabtu, sudah kuniatkan semalam untuk tidur sepuasnya diakhir pekan ini. Sungguh pekan yang menjengkelkan, ditendang dari kost-an, dapat kerjaan baru yang buat kau harus naik tangga 5 kali dalam sehari menuju lantai 3, dalam keadaan tidak fit lagi. Argghh…! Saya mau balas dendam dengan bermalas-malasan di akhir pekan ini. Hehehe


Sabtu subuh, mata terus melotot pada layar komputer, kebetulan sinyalnya modem lagi ciamik, juga ada teman keren yang sudi untuk ku ganggu. Lagian ini demi dia yang  punya penyakit insomnia akut, jadilah kami ngobrol lewat monitor. Hahaha. Pengeras suara dah teriak-teriak di subuh buta, itu tandanya saya harus segera cabut menuju pulau kapuk. Saya akhirnya ngorok di samping perempuan tua yang kepincut sama pesbuk. Apalagi tak lama berselang hujan pun turun, tidur makin sempurna, sungguh menyenangkan. 


Belum lagi matahari merangsek keluar dari kumpulan awan hitam, tiba-tiba kudengar suara pintu digedor kuat, akhirnya dengan malas saya bangun dan membuka pintu. Ternyata si pria bengis berhati merah muda yang datang di jam 9 pagi. Ia menanyakan apakah Opa menitip sejumlah uang padaku. Kujawab tidak. Kutanyakan perihal uang tersebut padanya. Ia bilang buat bekal si kumis lele yang sedang mendekam LP akibat kasus kemaren. Kami tak ngobrol banyak, kutawarkan sisa uang kostku yang dikembalikan si empunya kost untuk ia pinjam. Uang itu rencananya kupakai untuk menyewa kamar bar, tapi karena sampai detik ini tidak ada kejelasan di mana kamar baru yang akan kupinang sebagai tempat menghabiskan penat, makanya saya tawarkan saja padanya. Ia lantas mengajakku ke sana tuk menjenguk si kumis lele. Saya mau saja, kan nanti setelah pulang dari sana, saya bisa melanjutkan tidur panjang yang sudah kuagendakan. :)


Motor dengan warna hijaunya yang menyebalkan itu melaju kencang di hari yang mendung. Kami terlibat perbicangan panjang tentang banyak hal, mulai dari soal kuliahnya hingga kabar teman-teman yang masih setia nongkrong di taman hitam. Selain berhati pink, ia adalah pria dengan segudang informasi yang dengan lancar bercerita. Tak terasa belasan kilometer telah kami lalu, sampailah kami di LP. Setelah markir motor, kami menuju loket registrasi pengunjung atau penjenguk tahanan. Saya mengeluarkan KTP ku, si penjaga loket kemudian menyemprotkan kalimat, “kalo ada uangmu di situ, bisa ko kasi untuk biaya adminstrasi? Kalo nda ada ndapapaji”. Saya kemudian bertanya berapa jumlah uangnya, pria tua berkacamata tersebut, menjawab, “dua ribu mo”. Saya nda pikir panjang, langsung saja saya beri uang yang ada di kantong belakangku.  


Kami menuju pintu masuk yang pada sisi depannya terpampang gambar pohon beringin, dihiasi barisan huruf balok bertuliskan PEMBINAAN. Sebelum masuk, kami sempat menimpali kejadian tadi, “biar mi deh, kasi mi saja, mau ji juga makan itu bapak tadi”, kata si pria pink. Hahaha. Kami pun menyerahkan secarik kertas dari loket tadi dan ditukarkan dengan semacam Id Card pengunjung. Kami  diarahkan petugas menuju ruang penggeledahan, tubuh kami didekatkan dengan alat pendeteksi logam, tas si pria pink digeledah demi mencari barang terlarang. Saya tak tahu barang seperti apa yang telarang. Ganja mungkin..hahaha


Kami menyerahkan secarik kertas tadi ke petugas jaga kunjungan, ia kemudian mengumumkannya melalui alat pengeras suara, nama si kumis lele pun membahana seantero kompleks penjara. Tak lama berselang si lele muncul, rambut kritingnya sudah tak ada, kepalanya hanya dibalut rambut tipis, kumis lelenya juga sudah menghilang, yang tersisa hanya senyum lebarnya yang khas yang ia bagi pada kami saat bertemu. Tak banyak perubahan pada dirinya, hanya saja ia mengeluh bosan, nassami bosan ka disitu terus ko bela.hahaha.  Ia menumpahkan banyak kisah pada kami, tentang kasusnya, tentang kesehariannya di LP. Tepatnya ni si kumis punya kisah dilengkapi dengan OST dari lagunya Linkin Park “Waiting for The end”, atau The Killers dengan “Human”, hahaha, apa hubungannya coba? Cari mako sendiri! 


Seringkali saya tak menyimak apa isi obrolan ini, saya sibuk dengan isi kepalaku sendiri. Mengapa ada penjara, ada sipir, ada polisi, ada tindakan kriminal? Alah, masa mesti nganalisis lagi di tulisan ini, capek tau! Hahahaha. Pokoknya barang macam ini (penjara cuy!) itu baru ada semenjak muculnya peradaban. Kerangkeng digunakan untuk mengucilkan orang-orang yang dianggap mengancam tatanan peradaban yang ada, baik itu karena gila, terkena penyakit menular, atau sekedar protes atas banyak TAI yang bermunculan karena adanya kekuasaan tersentral. Begini mo pade singkatnya, ni barang dipake untuk menciptakan terror demi menciptakan ketertundukan pada order  yang sementara berjalan. Istilah kampusnya itu domestikasi manusia, penjinakan. Tahapan linear dari konsekuensi membangun peradaban, domestikasi alam, domestksi kehidupan harian kita! Sudah mi deh tambah parah nanti ini tulisan. :p


“Ting, ting, ting” suara bising keluar dari sumber yang tak ku ketahui di mana asalnya. Tiba-tiba ruang besuk menjadi gaduh, semua orang bercakap dengan terburu-buru, dua sejoli yang berada di samping kami pun melepaskan pelukan mereka. Banyak ekspresi keluar dari wajah mereka, ada yang muka bussu’, sedih, tetapi tetap ada simpul kecil yang melintang di beberapa wajah mereka. Ini tanda jam besuk sudah berakhir, si lele pun kembali melempar senyumnya kepada kami, “fella, buku nah nanti, bawakan ka’” sergap lele. Kamipun mengangguk dan pamit pulang. 


Mendung masih saja nongkrong dilangit Makassar, membuat perjalanan kami tak terlalu penat. Si Hijau kali ini tak terburu-buru lagi karena di hari Sabtu si pria berhati pink berwajah garang tak punya agenda khusus, saya pun begitu. Dan kamipun kembali tenggelam dalam percakapan tak penting demi menolak kebosanan perjalanan menuju kota yang punya obsesi gila menjadi kota dunia. :p