Tampilkan postingan dengan label Catatan Biasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Biasa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2015

Apa Kata TV Soal Konsumerisme

source : fineartamerica.com/profiles/allan-swart
Di ruang tengahnya yang hangat, David selonjoran di sofa, menjulurkan tangan lalu menekan tombol remot TV dengan malas, mencari-cari sesuatu untuk menghiburnya. Tapi percuma saja, Ia tetap gelisah menahan hasrat yang lebih besar daripada akal sehatnya. Matanya melirik jam dinding, sudah jam 1 malam rupanya. Dia tahu, kota seperti Sydney -tempat ia tinggal saat ini- ada banyak super market yang buka 24 jam. David sudah tidak tahan lagi, ia sambar baju hangat yang ada di ruang tengah, juga kunci mobil dan bergegas ke garasi. Mobil ia pacu, berharap agar ‘birahinya’ ini bisa segera menemukan pelampiasan.

Terang neon toko menyambut riang David, “oh saat-saat yang mendebarkan”, gumamnya.
Satu jam kemudian David keluar dari supermarket menenteng dua kantong besar belanjaan. Perjalanan dari kasir, ke pintu keluar menuju halaman parkir adalah puncak kenikmatan. Ia tak akan menyianyiakannya, David sedang “high”. Candu telah ia temukan, dihisap, dikunyah, dibiarkannya mengalir ke darah menuju otak dan mengantarkan domapin yang penuh kesenangan. Akhirnya Ia bisa tidur nyenyak malam ini.

Pagi, matahari lembut menyapu wajahnya. Tak jauh dari tempat tidur dua tumpuk barang bersesak-sesak di dalam kantong plastik putih. David menatap lesu. Penyesalan perlahan mengalir, memancar kemudian meledak di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hangat pagi membuatnya sadar, kecanduan akan belanja belum bisa ia kendalikan. Ia sakit dan butuh pertolongan.

Cerita mini di atas adalah potongan adegan program “Taboo” yang ditayangkan NG yang kali ini membahas tema “Addicted”. Sungguh sebuah kebetulan yang menarik sekaligus mengusik. Karena di malam yang sama saat tayangan itu muncul, saya baru saja menyelesaikan membaca buku “Sosiologi Waktu Luang: Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mall”. Buku ini ditulis oleh M. Ridha, seorang kenalan saat saya sedang aktif-aktifnya menghidupi sebuah jurnal bersama teman-teman di Makassar.

Addicted dan buku karya Ridha sama-sama membahas tentang konsumerisme, kebiasaan yang mulai menggeliat pada era pasca revolusi Industri, kemudian meledak di Eropa dan menjalar ke negara-negara dunia ke tiga termasuk Indonesia.Tentu saja keduanya membedah belanja dari perspektif yang berbeda. Dan karena perbedaan itulah saya membuat tulisan ini. Perbedaan-perbedaan ini serius adanya dan berimplikasi pada audiensnya masing-masing, pembaca pada buku M. Ridha dan pemirsa/penonton pada Addicted.

Pola, Narasumber dan Sudut Pandang “Addicted”

Baiklah saya akan bahas apa yang Addicted tawarkan ke pemirsa seperti saya. Lewat sebuah buku berjudul Analisis Framing yang kubaca 2008 silam, saya yang bukan mahasiswa Ilmu Komunikasi memperoleh sedikit panduan bagimana menilai sebuah karya Jurnalistik. Salah satunya adalah cara menebak sudut pandang sebuah berita (dalam kasus ini adalah sebuah dokumenter) melalui pemilihan narasumber. Mengetahui sudut pandang berarti mengetahui pesan “sebenarnya” yang ingin disampaikan oleh sebuah dokumenter sekaligus menyadari motif dibalik pembuatannya.

Sejauh yang saya amati ada 3 narasumber yang NG tampilkan dalam alur cerita Addicted. Yang pertama adalah David warga Sydney pengidap Shopaholic, Celia berprofesi sebagai psikiater dan terakhir dosen pengajar jurusan psikologi, Robert.

Ada pola yang berulang yang digunakan oleh NG dalam menceritakan Addicted. Menampilkan kisah David lebih dahulu, dikomentari oleh psikiater kemudian dilengkapi oleh pendapat dosen. Selama 30 menit menonton acara ini, pola ini cenderung konsisten dan tak berubah. David seperti terdakwa yang sedang disidang, ia dinilai oleh jaksa, hakim dan juri sekaligus. Tentu saja karena David adalah orang dengan perilaku menyimpang.

Namun, mengapa NG hanya menggunakan dua narasumber dari latar belakang yang sebenarnya hampir sama, psikologi? Addicted mengulik kecanduan belanja dari sudut pandang psikis semata! Hal ini menggiring saya (pemirsa TV) untuk menerima pesan bahwa shopaholic merupakan satu jenis penyakit jiwa disebabkan karena semata kelalaian dan kelemahan si pengidap serta faktor eksternal lain. Ada beberapa scene di mana faktor eksternal dijelaskan sebagai salah satu katalisator kecanduan pada David. Contohnya, scene di mana David diceritakan mewarisi beberapa juta dollar tabungan dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Selanjutnya ada kartu kredit dan bukti peminjaman dana. Kemudahan-kemudahan itu memberi jalan yang lapang bagi David untuk masuk ke dalam perangkap candu belanja.

Itu saja? Ya, saya pikir argumentasi NG melalui Addicted hanya sebatas pemberitahuan dan peringatan kepada pemirsanya. Ini adalah program TV yang memberi anda info tentang jenis kecanduan lain selain narkoba namanya shopaholic, ia berbahaya, bisa bikin bangkrut dan menghancurkan kehidupan (masa depan?) kita. Ini adalah sejenis penyakit yang muncul di jaman modern, kita harus berusaha keras untuk menghindarinya.

Itu adalah pesan yang baik, tulus dan menghindarkan kita dari bencana. Dan satu lagi, Addicted benar adanya, tapi tetap saja tayangan ini membut dahi saya berkerut.

Kedangkalan Bisa Jadi Sesat

Penggalian NG pada shopaholic hanyalah di permukaan saja, sementara sebab musabab lain masih dalam tertanam -tak dijangkau olehnya- sehingga pemirsa juga tak melihatnya. Apakah ini sengaja dilakukan? Atau karena soal durasi? Saya pikir bukan.  

Menuduh individu yang tak mampu menahan hasrat dan dukungan faktor eksternal sebagai penyebab gila belanja adalah kesimpulan yang prematur. Karena jika menilik akar historisnya shopaholic, konsumerisme disebabkan oleh faktor-faktor yang bersinggungan dengan lapangan ekonomi, politik, sosiologis juga psikologis (ranah yang dieksplogasi NG dengan sangat dangkal dalam addicted).

Tampaknya semakin rumit dan untuk menghindarinya saya tidak kan membahasnya terlalu panjang.

Sebagai televisi yang identik dengan nama majalah yang punya reputasi sangat baik, sebenarnya saya mengharapkan lebih ketika mereka menayangkan program-programnya. Namun tidak seperti artikel-artikel di majalah yang terkenal mendalam dengan pemilihan narasumber yang hati-hati dan kompeten, Addicted berbeda jauh secara kualitas.

Saya mengharapkan Addicted mampu mengeksplorasi shopaholic dengan lebih menyeluruh misalnya dengan menceritakan sejarahnya, latar sosial, ekonomi dan politik ketika penyakit jiwa tersebut mulai muncul dan menyebar. Siapa tahu saja, NG menemukan fakta bahwa penyakit gila belanja sudah temukan sebelum revolusi Industri dan revolusi Perancis terjadi. Dua momen penting sebagai tonggak lahirnya ideologi dominan hari ini : kapitalisme.

Saya juga berharap NG menampilkan data-data yang menjelaskan keterhubungan durasi menonton TV dengan jumlah konsumsi per kapita sebuah kota atau negara. Ekspektasi selanjutnya adalah Addicted akan menyuguhkan gambar saat peristiwa Malaise terjadi Amerika Serikat yang diakibatkan oleh over produksi. Momen yang diawali Selasa Kelam, peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929 menyebabkan depresi ekonomi berat di negeri uncle sam. Kejadian itu membuat korporasi belajar bahwa over produksi  adalah penyakit inheren dalam sistem kapitalisme dan obatnya selain ekspansi pasar juga mendorong semua pasar (baik yang dekat maupun yang letaknya ribuan kilometer jauhnya) untuk mempraktekkan budaya baru : konsumersime.

Saya mencurigai NG menyembunyikan fakta-fakta tentang konsumerisme sehingga pemirsanya mengambil kesimpulan yang prematur dan akhirnya tersesat. Penonton jadinya tak tahu duduk persoalan sebenarnya tentang konsumerisme, melanjutkan hidup dan tak akan mempertanyakan lebih jauh dunia seperti apa yang mereka jalani saat ini.

Agak naïf memang mengharapkan NG menelanjangi negara seperti AS-di mana korporasi raksasa bercokol-yang aktif mengekspor budaya mereka demi diadopsinya konsumerisme sesegera mungkin oleh negara-negara dunia ke tiga (baca: pasar). Naif memang, karena NG juga merupakan salah satu garda depan, bersama MTV, Hollywood dan kawan-kawannya yang aktif mengindtrodusir kebudayaan barat melalui tayangan-tayangannya. Standar hidup, membeli asuransi, makan di gerai-gerai cepat saji, jalan-jalan ke Mall, memakai baju, sepatu dan pernak-pernih yang dicontohkan para idola dari California adalah sedikit dari segudang kebiasaan baru yang diperkenalkan oleh barat ke negara-negara seperti Indonesia. American Dream, dua kata yang akrab saya dengar dari film Hollywood atau lirik dari lagu favorit saya.

Kita bisa tengok India, pada tahun 1990 hanya 10% dari total populasi masyarakat India yang mampu mengakses TV. Angka tersebut berubah menjadi 75% pada tahun 1999, delapan tahun setelah pemerintah India setuju untuk meminta bailout pada IMF dan merevisi sejumlah kebijakan ekonomi. Globalisasi ekonomi India kemudian diikuti oleh globalisasi kultur, beberapa orang menyebutnya sebagai westernisasi India. Stasiun TV asing meningkat pesat jumlahnya, begitu pula impor film Hollywood yang membanjiri pasar film nasional dan bersaing dengan film-film lokal[1]. Televisi yang banyak membawa nilai-nilai dari luar terutama dari Barat memberikan pola pemikiran baru, masyarakat mulai menginternalisasi nilai-nilai yang dipromosikan yang kemudian mendorong terciptanya gerakan bagi pola hidup mereka[2]. Seiring dengan hal tersebut, di India kemudian terbentuk jenis kelas sosial baru yaitu kelas menengah. Mereka mengejar standar hidup barat, fasih berbahasa Inggris dan menerima kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan (sesuatu yang tidak pernah ada di masyarakat India sebelumnya).

Di jaman di mana status jomblo sama dengan batu akik, sama-sama diekspoitasi demi menghidupi banyak orang, rasanya istilah Gegana (galau gundah gulana) bisa jadi katalisator yang baik bagi saya untuk menulis. Makanya tulisan ini selain disebabkan galau pada NG, juga karena ingin mengingatkan diri sendiri bahwa curiga tidak selamanya salah. Pemirsa televisi mesti memiliki sikap kritis terhadap tayangan televisi. Agar kita tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka sampaikan sebelum kita cerna baik-baik dan membandingkannya dengan sumber informasi lain yang punya sudut pandang yang berbeda. 

Ah rempong. Mana pilih, repot-repot berpikir atau terus dibodohi. :D

Atau mungkin kita bisa mengambil langkah lain. Matikan TV dan mulai mengerjakan hal-hal lain di mana kita berlaku sebagai subjek aktif, main game misalnya? :P 


Rujukan:
[1]http://mahrita-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-82498-PengantarGlobalisasi-Pengaruh Globalisasi terhadap Pergeseran Kelas dalam Masyarakat: Studi Kasus Fenomena Konsumerisme di India.html

[2] Ibid

Jumat, 23 Mei 2014

Tentang RR dan The Trees and The Wild

Pada suatu siang yang lowong ditemani laptop butut dengan koneksi yang masyallah lambatnya, saya bertemu dengan seseorang di dunia maya. Di sudut sunyi tanpa hiruk pikuk pemirsa fb dan laman sejenisnya yang tengah sibuk membicarakan siapa pendamping jokowow di bursa transfer presiden yang akan memantati seluruh warga negara, saya bertemu dengan RR. Siapa dia? Saya juga tidak mengenalnya. Saya hanya tertarik dengan selera musiknya, saya bertanya dan ia menjawab. Saat dia bertanya saya menjawab. Seperti itulah hubungan pertemanan yang berjalan satu jam ini.

Ia menyodorkan satu band, indie katanya dari Bandung. Tak ada salahnya mencoba, saya pun mencari ‘The Trees and The Wild’ di google. Selang beberapa detik saya menemukannya di soundcloud. Tanpa pikir panjang soal koneksi dan kuota yang lagi cekak, saya download satu lagu, judulnya ‘malino’. Memang prinsip jurnalistik yaitu proximitas selalu benar adanya. Saya memilih judul karena sama dengan nama daerah wisata gunung yang tak jauh dari Makassar dan tentu saja karena saya pernah ke sana. Tak ada kenangan buruk di tempat itu, jadi saya akan ingat.

Balik lagi ke soal lagu. Setelah menunggu sambil masak mie, bersih-bersih kamar, cuci baju, menolong tetangga yang cantik nan seksi membuang sampah, akhirnya donlotan yang tak sampai 4 mb itu selesai juga. Saya langsung putar, kebetulan speaker butut dengan denguangan bass yang ciamik sudah terhubung dengan lappy.

Intronya sungguh menggoda, petikan gitar yang jernih dan menjanjikan, dalam hati saya menggerutu riang. Saat suara vocal masuk saya sedikit kecewa, kedengarannya mirip dengan gaya bernyanyinya si band sok keren Alexa. Hehehe.

Ah…saya jatuh cinta dengan lagu ini. Membuat hayalan bisa ke mana-mana. Saat mendengarkan, saya berbagi dengan RR betapa nyamannya mendengar lagu ini. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih telah karena ia telah mengenalkan saya dengan band ini. RR bilang dia hanya suka band dengan konsep akustik, saya tak mengerti soal genre dan bukan tak punya banyak kata tentang jagad musik.

RR dari Toraja, ia sedang kuliah saat ini dan senang membaca.  Koneksi terputus, dan berpisahlah kami. Tak tau bagaimana cara menghubunginya lagi. Sejam yang menyenangkan, pikirku.

Saya kemudian mengkhayal ditemani bisikan di telinga suara “mari rasuk- mari rasuk”…..


Jumat, 25 Oktober 2013

Di mana Pencerita Lebah?


Jenny
Hari-hari di sini semakin membosankan. Di mana kah kau pencipta cerita lebah? Di kota ini semua yang kulakukan hampir sama. Walau membosankan, saya ingin bertahan. Tidak tahu sampai kapan. Saya rindu rumah, saya rindu mama, saya rindu bapak. Mereka tinggal berdua di rumah papan itu. Saya semakin rindu kalau hujan seperti ini, karena rumah selalu hangat oleh mereka.

Hei pencerita, kau masih hidup bukan? Kemarin saya mimpi soal kau. Saya juga berbincang dengan teman tentang dirimu. Untuk sesaat kenangan dulu memanjat ke permukaan. Kau ingat Mou? Dia akan sukses di Inggris. Kau membencinya? Hahahaha. Kita tetap rival dalam urusan sepakbola.

Saya tidak tau kita memang dekat atau tidak. Tapi kurasa musim hujan beberapa tahun yang lalu, kita lalui dengan baik sebagai pengangguran angkatan baru.

Semoga kau sehat-sehat saja. Saya sedang bosan. Semoga bisa bertemu denganmu. Saya rindu.

Senin, 09 Juli 2012

Tiga Cerita di Rumah Panggung

Kami sedang menunggu siang itu, saya dan dua orang temanku menanti beberapa orang ibu-ibu di tanah rawa. Rencananya akan ada pertemuan sore itu, kami hendak belajar bersama tentang berbagai macam hal, mulai dari keterampilan kreatif hingga pengetahuan kritis tentang kondisi hari ini. Pertemuan belum juga dimulai, kami bersama dua orang ibu yang baru datang sudah  terlibat  dalam pembicaraan serius tentang anak-anak mereka yang mendaftar di SD negeri dan tentang keponakannya yang sulit mendapatkan layanan pengobatan. Mungkin seperti ini rekaman saya saat itu.

Rumah sakit yang benar-benar sakit
Mace (kata yang artinya sama degan ibu dalam bahasa indonesia) Rusna lebih dulu melontarkan kekesalannya akibat ulah pihak rumah sakit yang berseblahan dengan hotel bertaraf internasional. Ia mulai dengan keponakannya yang berumur 10 bulan yang tiba-tiba sesak nafas di malam hari. Saudara Mace Rusna  sudah mendatangi dua rumah sakit dan selalu ditolak dengan alasan sudah tidak ada lagi ruang perawatan yang kosong. Melihat kondisi ini, akhirnya mace Rusna  berinisiatif menemani saudaranya untuk berbicara ke pihak rumah sakit. Sesampainya di sana, mace Rusna  ngotot agar keponakannya segera ditangani, ia pun diarahkan untuk menemui salah satu dokter. Ia diundang masuk ke sebuah ruangan dan diminta menjelaskan duduk persoalannya. Dengan berapi-api ia mencontohkan apa yang dikatakannya pada dokter malam itu. “Saya mengerti pak sepenuhnya kalau dibilang sudah penuh, tapi saya tidak mengerti kalau anak kecil ini tidak bisa diobat hanya karena tidak ada ruangan”, ujar mace Rusna  mencontohkan. Ia melontarkan kata-kata itu sambil menangis karena ia sempat menoleh ke ponakannya yang bernafas tersenggal-senggal. Si dokter pun ngotot tak bisa menerima pasien, “dari tadi kan saya bilang di sini sudah penuh, masa ibu tidak mengerti!”.
Mace Rusna  bersikeras, ia tetap berdiri di pintu ruangan dokter tersebut walaupun dokter sudah mengakhiri pembicaraan. Tetap membatu demi menunggu kesempatan. Ia kembali memperagakan gerutuannya dalam hati. “Begini mi kayaknya kalau miskin ki di, selalu tidak diperhatikan, selalu dinomor dua kan”. Tak lama berselang seorang ibu paruh baya menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi. Mace Rusna  pun menjelaskan semuanya. Ibu itupun menawarkan tempatnya yang berada di ruang perawatan kelas 3 (ekonomi) dan ia rela pindah ke ruang kelas 1 (yang agak mahal). Mace Rusna  pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Mace Rusna  dan saudaranya mengurus semua administrasi sementara keponakannya sudah mulai dirawat, diberikan bantuan pernafasan. Malam yang panjang dan melelahkan pun terlewati dan ia menutup ceritanya dengan deretan kata,” jika kita tidak berusaha menuntut hak kita, selamanya mereka yang bekuasa tidak akan mempedulikan kita”.

Lima Bocah yang ditolak
Sesekali Mace Asih menggoyang-goyangkan badannya ketika bayi nya mulai menangis. Ia lantas melanjutkan cerita tentang anak ke tiganya yang tidak diterima di SD negeri yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia tak menyangka anaknya yang sudah menginjak usia 9 tahun itu, tidak lulus masuk ke sekolah negeri tersebut. Bukan hanya anaknya, ada 4 anak lain dari tanah rawa yang juga tidak diterima. Pada hari pengumuman, Mace Asih penasaran mengapa anaknya tidak diterima. Ia pun berinisitaif mencari tahu dan bertanya pada panitia penyeleksi.

Sebelum bercerita lebih lanjut, mace Asih mengungkapkan keheranannya akan proses seleksi yang berlakukan pihak sekolah terhadap calon siswa. Setelah mendapatkan nomor pendaftaran, anak-anak tersebut masih harus menjalani tes membaca dan menulis. “Terus apa gunanya sekolah itu anak-anak kalau sudah tahu memang mi membaca sama menulis, sekolah kan gunanya untuk mengajari itu”, ketus mace Asih.
Benar saja, alasan utama mengapa anaknya ditolak karena ia tidak lancar membaca dan menulis. Ia pun berang, begitu juga dengan ibu-ibu lain baik dari tanah rawa maupun sekitarnya yang juga mendapati nomor pendaftaran anaknya tidak tertera di papan pengumuman kelulusan. Mereka pun pulang dengan sesak di dada. Beberapa ibu-ibu pun mengeluarkan celetukan, “kalo orang miskin susah sekali diterima, sementara yang kaya tidak banyak tanya langsung-langsung ji diterima”. Lima anak tanah rawa tak jadi bersekolah.

Bukan Pencuri
Saya kaget ketika Mace Lia tiba-tiba saja naik ke rumah panggung tempat kami berkumpul. Tidak biasanya mace yang satu ini antusias dengan keramaian. Beberapa kali kami mengajaknya untuk ikut berkumpul dengan ibu-ibu lain di tanah rawa, namun ia selalu punya alasan untuk menolak. Kali ini ia punya sesuatu untuk dibagi, namun ini bukan sesuatu yang menyenangkan.
Anaknya yang paling tua sedang ditahan di polsek, padahal ia jadi tulang punggung perekenomian keluarga  saat ini. Ia dituduh mencuri penutup ban mobil yang biasa nangkring di belakang mobil Jeep. Menurut mace Lia anaknya, saat itu tidak jauh dari TKP dan tiba-tiba ada dua anak berlari ke arahnya dan memberikan sesuatu. Ternyata itu adalah penutup ban mobil, ia terpaku tak mengerti. Tak lama setelahnya satpam mendatanginya. Ia kemudian disemprot dengan pertanyaan tanpa sempat menyela,kemudian di bawa ke pos satpam pasar.

Ia meminta pendapat dari ibu-ibu yang lain tentang bagaimana cara mengeluarkan anaknya dari tahanan polisi. Kami pun silih berganti berbicara. Pembicaraan mengerucut pada satu solusi, mace Lia disarankan berbicara pada penyidik anaknya dan memaparkan tentang kejadian dan kondisinya saat ini. Jika celah tak ada, kami sepakat akan mencari jalan lain yang memungkinkan.  

Mace Lia sudah berbagi, ia perih karena ia tahu ini akan sulit. Ia tahu bahwa polisi sangat suka duit agar anaknya bebas. Ia tahu bahwa orang sepertinya sangat mudah dituduh kriminal, tanpa punya kesempatan membela diri. Ia juga tahu, hari-hari setelah hari ini akan semakin sulit. Ia kini hanya punya setumpuk utang dan seorang anak remaja yang murung di balik jeruji.

****

Saat itu pula, saat tiga cerita mengalir tulus dari tiga ibu di tanah rawa, saat kami berkumpul di rumah panggung saya berniat menuliskannya di sini. Agar saya tidak lupa, bahwa perih pernah  tergores dalam di hati mereka. Agar saya tidak lupa bahwa hidup yang lebih baik layak diperjuangkan!

Kamis, 28 Juni 2012

Footballize Me!


Saya tidak tahu pasti kapan kegilaan saya terhadap sepakbola dimulai. Seingatku waktu SMP, beberapa kali saya menyempatkan diri menonton siaran sepakbola di TV. Liga Italia kala itu menjadi liga paling bergengsi di eropa, sebelum akhirnya terpuruk karena kasus pengaturan skor dan krisis ekonomi.  Kebetulan TV di Indonesia (sampai sekarang) dengan sokongan produsen rokok mampu membeli hak siar tersebut, sehingga saya yang berada di kota kecil mampu mengkonsumsinya.
Sekarang saya sangat suka menonton sepakbola, dari pertandingan tarkam (antar kampung), liga indonesia hingga pertandingan bergengsi selevel liga inggris dan champions eropa. Tentu saja ini hanya bisnis, sebuah industri yang di dalamnya ada pekerja dan pemilik modal serta orang-orang seperti saya, konsumen. Hahaha
Begitu krisis ekonomi datang, kualitas kompetisi pun ikut menurun. Klub-klub di Italia dan Spanyol merasakan sulitnya mengelelola sebuah klub dengan besarnya utang. Walhasil Hernan Cerspo di Italia dan Ruud Van Nisteltoy masih bermain di divisi teratas dan menjadi tulang punggung timnya masing-masing. Gaji yang tak lagi mahal plus pengalaman dan kemampuan yang masih tersisa di mantan pemain top dunia tersebut  menjadi alasan kuat bagi klub untuk mempertahankannya.
Saya tak begitu fanatik dengan sebuah tim, tapi saya menyukai Chelsea FC. Tim asal London barat ini adalah tim yang sering saya pakai saat bermain game PES atau Winning Eleven. Mungkin alasannya hanya itu saja. Saat masih diasuh Jose Mourinho mereka punya pemain-pemain yang punya fisik yang kuat, sehingga di PES saya bisa dengan mudah merebut bola dari kaki lawan.
Chelsea bermain di liga Inggris, di mana kompetisi ini merupakan variabel yang baik untuk melihat bagaimana sepakbola dikelola sebagai sebuah industri yang menghasilkan keuntungan bagi pemodal. Inggris layaknya negeri-negeri miskin seperti Indonesia di mana segala syarat untuk membangun sebuah imperium ekonomi tersedia di dalamnya. Jika di negara seperti Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah dan pekerja yang murah, Inggris memiliki kultur masyarakat yang gila sepakbola serta deretan sekolah sepakbola yang siap memasok pemain-pemain baru. Oleh karenanya tidak heran jika investor kelas kakap seperti Abrahamovic dan Syekh Masour tidak ragu meggelontorkan miliaran dollar untuk membangun tim yang kuat di Inggris.
Dan hal yang penting tentang sepakbola adalah kenangan dengan seorang teman. Dia juga gila bola, dan kami sering menonton pertandingan liga inggris bersama-sama. Saya masih ingat bagaimana ekspresinya ketika Intermilan- tim yang ia bela karena pelatihnya Jose Mourinho-berjumpa Bayern Munich di final Liga Champions musim 2009-2010. Dia seperti menonton langsung di stadion tempat digelarnya pertandingan. Berteriak-teriak, rambutnya diacak-acak, bahkan menutup mata saat pemain Bayern mendapat peluang yang baik untuk mencetak gol. Sungguh lebay fans sepakbola yang satu ini. Hahaha
Sekarang ia sedang berjuang agar bisa kembali menapak tanah dan menikmati sepakbola, tentu saja sendiri tanpa saya. 

Senin, 04 Juli 2011

Imanjinasi, jenis kudapan apa lagi itu?


Sungguh sudah  lama...tidak..tidak..baru saja beberapa hari kok..meninggalakan kota sombong ini kadang dipelukan untuk menjaga pikiranmu supaya tetap waras. Ah...memang sedari awal kota ini dipenuhi orang gila kok dan saya tak mau membahasnya di sini. Hehehe. Ayolah, kau harus datang kembali secepatnya dan gila lagi bersamaku, bersama ubin jalan setapak, bersama ruko kecil di sudut jalan, bersama lubang-lubang di tengah jalan yang selalu kita lalui bersama hampir tiap hari.
Kau tahu? Sudah berapa hari ini saya sedang tertarik dengan sebuah kata. Ia adalah imajinasi, mungkin kata ini yang membuat beberapa dari kita tetap waras, dan jangan mendebatku soal kata ‘waras’ ini. Ayolah kita sama-sama tahu mana yang dibilang waras dan yang tidak, walaupun ada tepi yang tak jelas diantara keduanya. Alah, jika kau menginginkan lebih....ahh pusing saya dibuatnya.
Saya dan seorang perempuan tua, beberapa waktu yang lalu, ya kami berdua tersesat dalam percakapan kami sendiri, percakapan acak tentang banyak hal -yang kau tahu- ini sangat mengandalkan imajinasi. Entah bagaimana, ia lantas bertanya soal apa yang kau lakukan ketika masyarakat kita sudah meninggalkan gaya hidup dengan opresi kelas sosialnya seperti sekarang ini. Banyak hal kubilang, yang pertama ya mencukupi kebutuhan dasarku dengan bertani. Mendirikan Adobe, bertetangga, kadang-kadang menenun, membuat sebuah lagu untukmu, mungkin juga melukis wajahmu, atau menemukan  lelucon yang bisa membuatmu tertawa (hahaha..I’m still working on it).
Saya meninggalkan percakapan itu, ia punya si bibir mancung sekarang untuk mengobrol, dan tentu saja menguras imajinasinya. Saya kemudian sibuk dengan kepalaku sendiri, menciptakan dunia sendiri setelah menyedu kopi dan membakar rokok murah yang kubeli dari warung sebelah rumah. Dunianya mungkin seperti ini:
Siang tadi ketika hendak membeli makanan, motor hitam rongsokanku itu kupacu di jalan menuju warung makan. Disepanjang jalan tampak beberapa bocah memegang kaleng yang dililiti benang, mereka sedang bermain layang-layang pikirku. Yap, benar sekali beberapa layangan tampak dilangit di atasku. Jika ada kendaraan yang lewat, mereka akan meninggikan benangnya agar tak nyangkut pada motor atau mobil yang lewat. Sungguh sulit mendapat tanah lapang di tengah kota sombong ini pikirku, dan mereka begitu gigih bermain di jalan raya yang tak kenal belas kasih itu.
Karenanya pula saya jadi ingat masa kecil ku di kota kecil yang sangat mengandalkan pelabuhannya untuk tetap bisa berdenyut. Tentang bau tanah merah, kaki yang berdarah setelah berlarian di tengah tanah berbalut rumput liar, tentang baju dan celanaku yang selalu sangat kotor ketika pulang ke rumah di sore hari untuk mandi kemudian makan. Tentang itik yang kupelihara dan kucuri telurnya di tiap pagi untuk kujadikan sarapan. Tentang rawa tempat memancing ikan gabus yang seringkali berakhir dengan kegagalan membawa pulang tangkapan. Jika sudah begitu, saya akan mengambil jaring bekas ayakan pasir milik tetangga dan memanggil beberapa temanku untuk menjaring ikan brengsek yang tak mau memakan umpanku. Hahaha. Mereka berakhir di panggangan dengan arang dari ranting kayu dan dedaunan. Itu hanya hanya masa kecil dan untunglah saya masih bisa mengingatnya.
***
Semalam, dengan telpon genggam pemberian saudaraku saya menerima telponmu dari kota yang jauh. Katamu tadi siang kamu baru saja menggoreng tempe dan membuat kue, senang mendengarnya :p. Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu kita pergi ke toko buku, mencari-cari buku yang cocok. Aku menemukan satu di toko buku pertama yang sebenarnya lebih mirip swalayan satationary. Judulnya Ketika Manusia Kloning Berkuasa, ketika pertamakali melihatnya, judul dan covernya sungguh tak menarik, tapi setelah membaca sinopsisnya saya jadi tertarik. Ya, imajinasi yang kuat pikirku, hmm ..tentang bagaimana kehidupan manusia di masa yang akan datang. Oh bukan, ketika manusia tak ada lagi, berganti manusia cebol tak beralat kelamin yang berkembang biak dengan cara mengkloning dirinya sendiri. Tema fiksi tentang peradaban yang hancur, akan hancur, telah hancur, cukup banyak loh. Sederet buku dan film tentang tema inipun ku koleksi diantranya the road, the day the earth stood still, resident evil, the matrix, the book of eli, terminator, kulupai sisanya. Dan kau tahu? Entah mengapa saya begitu menikmati ketika adegan dalam film atau novel yang kubaca berakhir dengan kehancuran peradaban. Sayu sepertinya sudah sinting.  :p
Tentu penulis novel dan naskah film bertema ini punya imajinasi yang cukup kuat, dan juga dibantu oleh pengetahuan penulis dan perspektifnya yang radikal dalam melihat dunia hari ini. Dan imajinasiku hanya berhenti di sini? Coba kuingat-ingat dulu, apa imajinasi ku tentang masa depan? Saya berpikir kuat, tak menemukannya, hanya ada bayang samar, hmm ...saya melihat  dirimu didalamnya. Dan itulah imajinasiku untuk masa depan! :P

Minggu, 01 Mei 2011

Menantimu di Tanah Rawa

Kami membuat sebuah janji, lebih  tepatnya disebut kesepakatan untuk tak bertemu selama tiga hari, juga tak saling menghubungi. Hahaha. Aneh, sungguh persetujuan yang menyebalkan di antara membaranya kasihku padanya. Hahaha. Dan di antara tiga hari yang berat itu, tersiar kabar bahwa tanah rawa akan diserbu sekawanan preman yang dibayar oleh seorang pengusaha tambun yang hendak merampas sebidang lahan tersebut dari pemilik sah, orang-orang tanah rawa. 

Saudara tuaku Boriel, intens berkomunikasi dengan Enos pria lincah asal negeri timur matahari yang beberapa bulan terakhir sering nongkrong di tanah rawa. Boriel akhirnya menghubungiku dan saudara-saudaraku yang lain. Kami hendak ke tanah rawa di hari sabtu, hari ke dua dari perjanjianku selama tiga hari dengan gadis feromon. 

Pagi -pagi sekali, kami berempat sudah bangun. Sedikit merapikan diri sambil menyeruput kopi panas buatan Pinko, perempuan tua  tangguh yang tak lain adalah kekasih Boriel. Kami hanya sedikit mengobrol, tentang hasil pertemuan semalam, tentang kode sandi sampai strategi perang yang sudah disusun oleh barikade anti penggusuran tanah rawa. Kami mengakhirinya dengan tertawa lepas, sambil menimpali busuknya permainan negara dan pengusaha yang selalu kompak melakukan hal-hal seperti di tanah rawa ini, merebut ruang hidup dan kehidupan. 

Tak memakan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai di tanah rawa dari tempat kami nginap, kampung biru. Akhir pekan yang menjemukan, selalu membuat kota megapolitan ini lengang dan lesu, tak ada wajah yang terburu-buru, tak ada kuda besi yang tergesa-gesa menyelip deretan mobil pribadi mewah. Akhirnya kami sampai dengan selamat. Hehehe.
Sore di Tanah Rawa (diambil pake hengpong ji :p)
Inilah pagi di tanah rawa, bambu tua berderet rapi melintang di atas genangan besar air yang memisahkan satu rumah dengan rumah lainnya. Sesekali, riak air pecah di permukaannya akibat lambaian ekor ikan berwarna hitam dan mungil. Mereka tampaknya terganggu dengan kehadiran kaki-kaki kami yang kaku berjalan di atas jalan bambu ini. Pinko dan boriel begitu lamban berjalan, sementara saya dan Jo sibuk dengan kepala masing-masing setelah disuguhi adegan dingin seorang warga yang sedang mengasah sebilah parang.  Bukan sebilah, ada lima bilah! Kami menyaksikan ekspresi dingin khas luapan insting bertahan dan melindungi. Kami tak berkomentar, Jo hanya melempar senyum padaku dan kami melanjutkan perjalanan menuju posko induk tempat berkumpulnya teman-teman barikade anti penggusuran. 

Sebelum kulanjutkan, saya ingin membagikan sesuatu. Sialan! Jika kamu berpikir kami ke tanah rawa karena iba pada orang tanah rawa dan panggilan moral, kamu salah! Solidaritas adalah senjata yang paling ampuh untuk merenggut kehidupan yang telah lama dicuri oleh sistem bobrok ini. Hidup kami telah lama dicuri sejak saat itu, saat  kami telah dilabeli dengan embel-embel warga negara melalui akta kelahiran hingga diberi sistem kepercayaan demi menciptakan ketertundukan. Kami hanya tak mau lagi dicuri lebih banyak, tidak juga bagi orang-orang tanah rawa yang hendak dicuri tanahnya oleh Hanoman itu. Maka bersolidaritaslah!
Posko induk lengang, kawan-kawan yang malam tadi nginap di tanah rawa, masih menikmati keintimannya dengan pagi. Ini masih jam 7 pagi, kabut belum juga mau berpisah dengan muka rawa. Tampaknya ada perayaan kecil semalam di tanah rawa, demi menyambut om eman yang kan datang esok hari.
***
Hari semakin panas, canda tawa mulai tak bisa membunuh bosan kami menunggu serangan dari om eman. Sel  FNB (Food Not Bombs) sudah pula menyelesaikan misinya hari ini, logistik perang sudah siap di gudang altileri. Pria skinny di sampingku mengutuk dalam gerah dan marah, “sialan, tak ditunggu si eman muncul, saat kami siap menyambut dengan red carpet, mereka tak datang, sial!”. Hahaha, saya hanya bisa tertawa mendengarnya, saya sudah terlalu capek untuk menimpalinya. Hahaha

Ditengah-tengah kejemuan akut itu, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di kompleks tanah rawa, saya menemukan beberapa teman sedang ngobrol dengan warga, kuputuskan untuk masuk dalam sidang itu. Mereka sedang bercerita tentang berbagai topik, cukup panjang dan ramai, hingga akhirnya beberapa teman memutuskan untuk minggat, sepertinya ingin beristirahat. Tersisa kami berdua, saya dan bapak berkacamata dengan kemeja lusuh berwarna krem warga asli tanah rawa.

Setelah puas dengan topik pembicaraan di luar ‘kita’, akhirnya saya bertanya soal seputar tanah rawa dan kehidupan bapak berkacamata. Ia kemudian menyambutnya dengan aliran kisah pertama kali ia sampai di tanah ini. Tahun 1984 ia mendapati tanah ini adalah rawa-rawa yang dikelilingi pepohonan lebat. “Hanya di hitung jari ji rumah di dulu, masih sepi”, kenang bapak 3 anak ini. Ia mengisap dalam-dalam rokok di tangannya sembari mendengar tanggapanku. 

Saya lantas bertanya, di mana tepatnya letak rumahnya di tanah rawa ini, ia lantas menunjuk rumah panggung berdinding tripleks. Saya menengoknya dalam, “yang banyak lubang di dindingnya itu?”, gumamku dalam hati. Ia menarikku kembali dalam perbincangan dan berkata, “itu mi juga, saya mau perbaiki sedikit-sedikit tapi nda ada pi uang”. 

Ia lantas bercerita tentang hidupnya di kota ini, yang akhirnya berakhir sebagai tukang parkir di salah satu fasilitas umum tak jauh dari tanah rawa. Tanah rawa memang strategis, ia di apit barisan bangunan mewah menjulang yang tak lain adalah pusat perbelanjaan dan gedung berorientasi niaga. Ia seperti luka menganga di permukaan kulit mulus. Tak heran si Hanoman kepincut untuk menguasainya. 

Kami kembali larut dalam percakapan saat ia melontarkan barisan kata tentang kondisi anak dan istrinya. Ia terpaksa memboyong 2 anak serta istrinya pulang ke kampungnya di pesisir selatan celebes, semenjak kondisi kesehatan istrinya memburuk, ia takut rumah super sederhananya tak mampu menghadirkan kehangatan kala tubuh rapuh dan kedinginan. Hanya anaknya yang sudah berumur 18 tahun yang bertahan menemaninya.  Hitam kulitnya jadi penanda bahwa siang harinya ia lewati di bawah sengatan matahari, dan malamnya ia berkelahi dengan dingin. 

Selasa, 19 April 2011

2 Menit Untukmu

Ini tidak akan panjang, kau akan menemukanku terkapar tak berdaya segera setelah membacanya. Ya sayang, hari aku tak bisa menemanimu, menjadi bidak pion terdepan adalah peran yang mesti kujalani demi bertahan hidup. Hampir saja semuanya kutukar dengan hal menyebalkan ini, bekerja! Bahkan saat kau pun sakit aku hanya bisa memberikan sedikit waktu untukmu, hanya 2 menit! Itupun aku harus lihai mencurinya dari panjangnya jam kerja yang membosankan. 

Semoga kau tidak terus-terusan dipusingkan dengan prosedur sampah kampus, yang memaksamu melakukan hal yang sama sekali tak kau sukai.  Jika semuanya sampai di titik didih kejenuhan, kita toh masih punya sedikit spasi diantara bosannya rutinitas. Kita akan merayakan kematian kepalsuan diri dengan bergandengan, tertawa dan mencaci semua yang sudah berlalu. Brengsek! Hidup begitu pendek untuk dijalani dengan hal-hal yang miskin makna.  

Saya akan mentupnya dengan kecupan hangat, tentu saja hanya buatmu dan ini dari ku. Semoga itu cukup untuk menawar sepi dan penat di esok hari, selamat tidur dan teruslah bermimpi wahai kau  feromonku :p.

Sabtu, 16 April 2011

Kerangkeng Hari Sabtu

Image Hosted by PicturePush - Photo Sharing
Prison Break, Si Kumis Lele :p
Hari ini hari sabtu, sudah kuniatkan semalam untuk tidur sepuasnya diakhir pekan ini. Sungguh pekan yang menjengkelkan, ditendang dari kost-an, dapat kerjaan baru yang buat kau harus naik tangga 5 kali dalam sehari menuju lantai 3, dalam keadaan tidak fit lagi. Argghh…! Saya mau balas dendam dengan bermalas-malasan di akhir pekan ini. Hehehe


Sabtu subuh, mata terus melotot pada layar komputer, kebetulan sinyalnya modem lagi ciamik, juga ada teman keren yang sudi untuk ku ganggu. Lagian ini demi dia yang  punya penyakit insomnia akut, jadilah kami ngobrol lewat monitor. Hahaha. Pengeras suara dah teriak-teriak di subuh buta, itu tandanya saya harus segera cabut menuju pulau kapuk. Saya akhirnya ngorok di samping perempuan tua yang kepincut sama pesbuk. Apalagi tak lama berselang hujan pun turun, tidur makin sempurna, sungguh menyenangkan. 


Belum lagi matahari merangsek keluar dari kumpulan awan hitam, tiba-tiba kudengar suara pintu digedor kuat, akhirnya dengan malas saya bangun dan membuka pintu. Ternyata si pria bengis berhati merah muda yang datang di jam 9 pagi. Ia menanyakan apakah Opa menitip sejumlah uang padaku. Kujawab tidak. Kutanyakan perihal uang tersebut padanya. Ia bilang buat bekal si kumis lele yang sedang mendekam LP akibat kasus kemaren. Kami tak ngobrol banyak, kutawarkan sisa uang kostku yang dikembalikan si empunya kost untuk ia pinjam. Uang itu rencananya kupakai untuk menyewa kamar bar, tapi karena sampai detik ini tidak ada kejelasan di mana kamar baru yang akan kupinang sebagai tempat menghabiskan penat, makanya saya tawarkan saja padanya. Ia lantas mengajakku ke sana tuk menjenguk si kumis lele. Saya mau saja, kan nanti setelah pulang dari sana, saya bisa melanjutkan tidur panjang yang sudah kuagendakan. :)


Motor dengan warna hijaunya yang menyebalkan itu melaju kencang di hari yang mendung. Kami terlibat perbicangan panjang tentang banyak hal, mulai dari soal kuliahnya hingga kabar teman-teman yang masih setia nongkrong di taman hitam. Selain berhati pink, ia adalah pria dengan segudang informasi yang dengan lancar bercerita. Tak terasa belasan kilometer telah kami lalu, sampailah kami di LP. Setelah markir motor, kami menuju loket registrasi pengunjung atau penjenguk tahanan. Saya mengeluarkan KTP ku, si penjaga loket kemudian menyemprotkan kalimat, “kalo ada uangmu di situ, bisa ko kasi untuk biaya adminstrasi? Kalo nda ada ndapapaji”. Saya kemudian bertanya berapa jumlah uangnya, pria tua berkacamata tersebut, menjawab, “dua ribu mo”. Saya nda pikir panjang, langsung saja saya beri uang yang ada di kantong belakangku.  


Kami menuju pintu masuk yang pada sisi depannya terpampang gambar pohon beringin, dihiasi barisan huruf balok bertuliskan PEMBINAAN. Sebelum masuk, kami sempat menimpali kejadian tadi, “biar mi deh, kasi mi saja, mau ji juga makan itu bapak tadi”, kata si pria pink. Hahaha. Kami pun menyerahkan secarik kertas dari loket tadi dan ditukarkan dengan semacam Id Card pengunjung. Kami  diarahkan petugas menuju ruang penggeledahan, tubuh kami didekatkan dengan alat pendeteksi logam, tas si pria pink digeledah demi mencari barang terlarang. Saya tak tahu barang seperti apa yang telarang. Ganja mungkin..hahaha


Kami menyerahkan secarik kertas tadi ke petugas jaga kunjungan, ia kemudian mengumumkannya melalui alat pengeras suara, nama si kumis lele pun membahana seantero kompleks penjara. Tak lama berselang si lele muncul, rambut kritingnya sudah tak ada, kepalanya hanya dibalut rambut tipis, kumis lelenya juga sudah menghilang, yang tersisa hanya senyum lebarnya yang khas yang ia bagi pada kami saat bertemu. Tak banyak perubahan pada dirinya, hanya saja ia mengeluh bosan, nassami bosan ka disitu terus ko bela.hahaha.  Ia menumpahkan banyak kisah pada kami, tentang kasusnya, tentang kesehariannya di LP. Tepatnya ni si kumis punya kisah dilengkapi dengan OST dari lagunya Linkin Park “Waiting for The end”, atau The Killers dengan “Human”, hahaha, apa hubungannya coba? Cari mako sendiri! 


Seringkali saya tak menyimak apa isi obrolan ini, saya sibuk dengan isi kepalaku sendiri. Mengapa ada penjara, ada sipir, ada polisi, ada tindakan kriminal? Alah, masa mesti nganalisis lagi di tulisan ini, capek tau! Hahahaha. Pokoknya barang macam ini (penjara cuy!) itu baru ada semenjak muculnya peradaban. Kerangkeng digunakan untuk mengucilkan orang-orang yang dianggap mengancam tatanan peradaban yang ada, baik itu karena gila, terkena penyakit menular, atau sekedar protes atas banyak TAI yang bermunculan karena adanya kekuasaan tersentral. Begini mo pade singkatnya, ni barang dipake untuk menciptakan terror demi menciptakan ketertundukan pada order  yang sementara berjalan. Istilah kampusnya itu domestikasi manusia, penjinakan. Tahapan linear dari konsekuensi membangun peradaban, domestikasi alam, domestksi kehidupan harian kita! Sudah mi deh tambah parah nanti ini tulisan. :p


“Ting, ting, ting” suara bising keluar dari sumber yang tak ku ketahui di mana asalnya. Tiba-tiba ruang besuk menjadi gaduh, semua orang bercakap dengan terburu-buru, dua sejoli yang berada di samping kami pun melepaskan pelukan mereka. Banyak ekspresi keluar dari wajah mereka, ada yang muka bussu’, sedih, tetapi tetap ada simpul kecil yang melintang di beberapa wajah mereka. Ini tanda jam besuk sudah berakhir, si lele pun kembali melempar senyumnya kepada kami, “fella, buku nah nanti, bawakan ka’” sergap lele. Kamipun mengangguk dan pamit pulang. 


Mendung masih saja nongkrong dilangit Makassar, membuat perjalanan kami tak terlalu penat. Si Hijau kali ini tak terburu-buru lagi karena di hari Sabtu si pria berhati pink berwajah garang tak punya agenda khusus, saya pun begitu. Dan kamipun kembali tenggelam dalam percakapan tak penting demi menolak kebosanan perjalanan menuju kota yang punya obsesi gila menjadi kota dunia. :p

Selasa, 12 April 2011

Ini tentang Ibu, Tanta atau Uni di Jalan Bung!

Untuk kedua kalinya, saya bangun pagi, pagi sekali. Mungkin karena kondisi tubuh yang buruk memaksa ku untuk beristirahat lebih cepat di malam hari. Tapi, sama ji bangunnya juga terlalu cepat, hehehe..kenapa jam tidur dan bangunku seperti orang kantoran ya? Padahal ini rutinitas yang paling menyebalkan yang hampir setiap orang harus jalani, tidur cepat (demi kesehatan dan kebugaran) dan bangun di subuh hari (agar tak telat masuk kerja). Hei, kau melakukannya hampir tiap hari? Kau sinting ya? Hahahaha

Sudah-sudah, nanti saya melebar membahas panjang masalah alienasi dan pasar kerja, hahaha, kayaknya bukan di sini deh tempatnya. Kebetulan hari ini hari pertama ku cerai dari pondokan laknat perusak komputerku itu, untuk sementara saya ngungsi dulu di tempatnya anak-anak di Wesabbe, sambil mencari pondokan yang pas. Saya sebenarnya sedih berpisah dengan jalan bung. Tempat pertama kali saya habiskan malam di kota Makassar ya di bung ini. Saya masih ingat, ketika itu saya nda bisa tidur, terbangun jam 4 subuh, saya begitu terganggu dengan banyaknya suara yang berteriak-teriak melalui pengeras suara di subuh hari. Banyak dudui, deh, sampe-sampe sakit kepalaku.

Tapi ada yang hal yang tidak bisa kulupa dari jalan bung. Sebuah Warung makan, ia tak mempunyai nama jadi saya dan teman-teman dengan bebas menyebutnya warung tanta, ibu, atau Uni, nama anak dari ibu penjual makanan berat yang ketika itu tak jauh dari pondokan pertamaku. Seperti warung makan lainnya, ibu sebelum siang sudah siap dengan food gallery-nya, ada perkedel, ikan goreng, tempe tahu,  sayur bening, tumis, santan. Sungguh tak jauh berbeda dengan jenis masakan di rumah di kampung, hal ini membuatku tak perlu bersusah payah beradaptasi dengan jenis makanan di Makassar yang ku kira akan sangat berbeda. 

Ketika menjadi mahasiswa baru universitas hampir swasta Unhas di tahun  2004 silam, seingatku harga makanan dulu di Ibu itu seporsinya Rp 2.500,-. Itu sebelum BBM naik setahun kemudian. Ada satu hal yang menarik menurutku dari konsep Ibu menjual makanan sehingga mampu menarik banyak pembeli. Yaitu sistem prasmanan, kita bebas mengambil sendiri, mulai dari jenis makanan hingga jumlahnya yang ingin kita lahap di tempat itu. Bebas cuy, hanya saja kalau lauk utama seperti ikan atau telur kamu masukkan dalam satu porsi itu harganya agak sedikit naik, tapi seingatku untuk yang lainnya itu kalo ditambah nda dikenakan biaya tambahan, nyamanna makan sepuasnya. Hahaha

Ibu pun tidak hanya membangun relasi ekonomi semata dengan kami para anak kost, yang bisanya hanya sebatas pembeli dan penjual. Ia selalu menanyakan kabar kami, bagaimana kuliah kami, ospek kami, bahkan apa sudah ada pacar kami.hehehe. Ibu bertindak layaknya ibu, senyumnya yang membuat nyaman, repotnya ia ketika kami datang berbondon-bondong dengan memasang wajah bajipur (bajingan cipuru’) sepulang kuliah. Relasi emosional itu penting lho di tengah masyarakat sakit seperti sekarang ini yang hanya mengutamakan satu hal, pengejaran profit sebanyak-banyaknya. Peradaban kita sungguh dibangun pada satu pondasi yang lucu menurutku, yaitu kegilaan dan kesakitan. (aduh mulai lagi deh, kambuh :P)

Saya juga selalu melihat perubahan padanya dan keluarganya. Dulunya ibu rambutnya hitam lebat, entah kenapa setahun belakangan saya perhatikan sudah banyak uban, alias banyak rambut putih diantara arsiran rambut hitamnya. Saya juga sering bercanda dengan cucunya yang ketika dulu masih balita, deh sekarang sudah sekolah di SD Inpres Bung. Atau anak gadisnya Uni yang kini sudah menjadi Ibu dari bocah botak bermata sipit hasil perkawinannya dengan seorang pria gempal, hitam dan ramah. 

Semua berubah, Ibu sudah mengganti TV kusam tua miliknya dengan TV baru dan canggih. Hehehe. Jadilah saya sering numpang nonton berita siang kalo sempat makan di situ. Sekarang ibu sudah jauh, dari wesabbe lumayan nampar betis lho kalo mau jalan kaki ke Bung :P. Untuk beberapa saat saya membiarkan lidahku jauh dari masakannya, jauh dari ibu dan nanti sekalian mampir bisa kutumpahkan semua kerinduanku, hahaha, makan cuy sampe poge’.

Senin, 11 April 2011

Sepasang Gumpalan Daging

Di saat normal pun ia tampak jadi anomali di saluran kerongkonganku. Sesekali aku melihat bayangannnya melalui cermin. Rupanya pasangan ini sangat betah berlama-lama menempel di tubuhku. Katanya, mereka ini adalah pasukan penahan invasi virus dan kuman yang mau masuk ke tubuh melalui jalur kerongkongan. Dan seingatku mereka mulai bekerja bereaksi terhadap kondisi lingkungan yang buruk saat masih harus memakai seragam putih merah. Ketika tubuh tidak fit seperti saat saya menuliskan ini, di serang flu, kemudian sakit kepala, mereka pun bereaksi membengkak dan memicu produksi air liur dan dahag. Awweh...sungguh menyebalkan. 

Saya tidak tahu apa istilah medisnya, tapi orang-orang sering bilangnya kalo mereka adalah amandel. Gumpalan daging yang tumbuh pada saluran kerongkongan memang dirancang untuk tujuan khusus. Saat mereka membengkak ada beberapa hal yang bisa dilakukan sendiri untuk membuat amandel kembali menyusut dan infeksi tidak terjadi. Nih ada beberapa poin yang sempat ku curi dari blog nya orang hehehe:
* Diusahakan untuk minum banyak air atau cairan seperti sari buah, terutama selama demam.
* Jangan minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan, makanan awetan yang diasinkan, dan manisan.
* Berkumur air garam hangat 3-4 kali sehari.
* Menaruh kompres hangat pada leher setiap hari.
* diberikan terapi antibiotik (atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk mencegah komplikasi.
* Istirahat yang cukup. 

Sepertinya semua sarannya bisa dikategorikan DIY yah? Hehehe Do It Yourself, dude! Alias bisa dilakukan sendiri. Hehehe. Pace juga kasi resep, katanya perasan jeruk nipis dan air hangat membantu mempecepat amandel itu gembos. Ah, saat-saat begini jadi rindu hangat rumah. Hehehe. 

Mantap cuy, lagi beringus begini kita embat dia
Kayaknya memang penyebab membengkaknya tuh tameng berbahan dasar daging adalah kondisi eksternal seperti cuaca, atau masuknya debu, atau bahkan bahan aditif yang terkandug dalam makanan yang masuk ke kerongkongan. Sulit memang mencari kondisi yang aman (menurut katergori kesehatan) di tengah kota metropolitan yang sedang dihantam sihir pembangunan, seperti Makassar. Belum lagi kenyataan bahwa asupan makanan yang kita konsumsi sehari-hari hampir seluruhnya adalah hasil pertanian transgenik. Dan juga banyaknya zat aditif makanan artifisial yang ditambahkan produsen makanan siap saji, sebagai upaya untuk menjawab mekanisme pasar yang punya hukum permintaan dan penawaran. Dan juga sistem ekonomi kapitalisme mengamini persaingan bebas tanpa batas antara pengusaha, siapa yang tidak memproduksi dengan murah dan menjualnya dengan lebih murah dari perusahaan lain, maka ia akan mati. Menger jako? Saya tidak. Hehehehe

Jika sudah begitu kenyataannya, hanya ada beberapa pilihan kejam yang harus ditempuh produsen makanan agar bisa memangkas biaya produksi, yang pertama menurunkan upah buruh. Jika pimpinan serikat buruh sudah disuap, akhirnya anggotanya manut, langkah lainnya adalah memakai bahan aditif makanan untuk menjaga rasa tetap enak walaupun dikurangi jumlah bahan baku yang betul-betul bahan makanan asli. Selain itu, zat aditif berupa monosodium glutamat atau yang na bilang maceku vitsin itu memang luar biasa bekerja menyedapkan makanan, hmm bubuk ajaib, aditif sekaligus adiktif.  Tapi deh, ko tau apa yang dampak jangka panjangnya bagi tubuh kalo terus-menerus dikonsumsi sepanjang hidup? Nanti pi kucari lagi. Hahaha

Belum selesai tadi soal tumbuhan dan hewan transgenik yang kita konsumsi sehari-hari. Aduh tapi ini ingus keluar-keluar mi. Kalo penasaran soal ini ada buku bagus pernah kubaca judulnya Rekayasa Genetik: Impian atau Petaka, terbitannya Insisst Press. Hehehe. Sampai nanti ya, saya mau menyedu mie instan  dulu, sarapan pagi anak kost, hehehe. Wah, ada MSG nya hahahaha. Tak apa, masih ada Rumah Sakit yang mengalunkan lagu Sakit Sendiri nya buatku.

Minggu, 10 April 2011

Menjaga Kantong Ajaib

Kantung Ajaib Sebenarnya
Kantung mataku tampak seperti jelaga, melingkar di sekelilingnya dan belum juga mau menyusut, hari ini pun saya mesti bangun pagi setelah sebelumnya berjibaku dengan setumpuk pekerjaan hingga  subuh hari. Jenis pekerjaanku ini mengandalkan satu hal, kelihaian jari ku menari di atas keyboard komputer. Ya, menjadi seorang yang bertanggungjawab untuk mendokumentasikan sebuah kegiatan dalam bentuk tulisan membuatku mampu meninggalkan teknik lama mengetik dengan ’11 jari’ menuju ‘unlimited finger for typing shit’ (hahahaha). Namun tetap saja, durasi kegiatan yang begitu panjang membuat ku harus menuliskan semuanya ke dalam puluhan bahkan ratusan lembar, yang memakan waktu cukup lama.  Dan alat satu-satunya yang saya punya agar bisa merampungkannya adalah komputer butut peninggalan masa kuliah dahulu. Dia sungguh kuat, hingga hari ini mampu menemaniku ditiap bilik masa yang ku lalui. 

Jika ia bisa bicara, mungkin komputer ku ini akan melayangkan protes padaku. Kenapa ia begitu jarang saya istirahatkan, hampir tak pernah aku bersihkan atau sekedar menambahkan hardware baru untuk membantunya ‘berlari’ saat bekerja. Ah, ia memang temanku yang setia. Sudah 4 ruang kamar sewa yang kutempati, dan ia selalu punya spasi di tiap kamar tersebut. Bagiku, ia seperti kantung ajaib Doraemon yang begitu berharga dalam kondisi apapun. Selagi bosan, saya bisa memutar lagu atau menghibur diri dengan game miliknya. Jika banyak tugas atau kerjaan, ia punya alat yang pas agar pekerjaanku cepat selesai. Saat saya rindu dengan semua temanku, aku bisa menggapainya lewat dunia maya melalui layarnya yang mulai kusam itu. Jika ingin membaca, ia punya segunung bahan bacaan, artikel buku dan sebagainya. Laparnya mata ini ketika ingin nonton film, ia sudah kupersiapkan dengan setumpuk file film menarik. Hei kamu, komputerku , kau sangat berguna. hahahahaha

Meskipun kau sering sakit akibat virus brengsek buatan korporasi antivirus rakus itu, namun sedianya saya selalu bisa menemukan obat yang pas. Jadilah kau sangat jarang sakit, apalagi sampai tidak bisa bekerja. Tetapi setahun terakhir, kau dan aku berhadapan dengan masalah baru, kelayakan pasokan listrik untuk bisa membuat otot dan otak mu bekerja sama sekali buruk. Seringnya listrik rumah kost padam akibat kelebihan pemakaian yang tidak sebanding dengan daya normal yang terpasang membuat perangkat kerasmu compang camping. Gudang data mu alias hardisk adalah organ tubuh pertama yang menjadi tumbal akibat krisis listrik ini. Kemudian disusul bunyi bising dari perangkat audio pada motherboard mu. Semuanya sungguh mengganggu. Puncaknya ketika hardisk berkapasitas 160 GB harus saya cabut dari tubuhmu dan menggantinya dengan yang baru karna rusak parah. Ini namanya“Sungguh terlalu” , kata bang Rhoma.

Bukannya tanpa sebab, mengapa listrik di kost ke empatku ini sering ‘latto’. Kehadiran kulkas milik ibu kost yang memutuskan untuk ikut tinggal di dalam rumah kost menjadi penyebab utama ketidakmampuan daya 900 watt milik rumah ini memikul semua hisapan listrik alat elektronik yang dimiliki semua penghuni. Jadilah, bapak meteran mengambil langkah taktis ketika pemakaian melewati batas kemampuan, mematikannya!

Ketidakmampuanku membeli UPS yang punya fungsi seperti baterai isi ulang pada laptop dan handphone, agar mencegah komputer ikut padam ketika listrik mati, membuat organ tubuh si dia rontok satu persatu. Karena komputer memiliki banyak komponen yang sangat sensitif terhadap perubahan tegangan, apalagi listrik yang tiba-tiba terputus pasokannya. Seorang teman yang jago soal komputer pernah menjelaskannya padaku, ia bilang hardisk memiliki dua komponen vital, jarum pembaca sekaligus penulis, dan piringan tempat menaruh/menuliskan data. Jarak antara keduanya ia gambarkan hanya setebal rambut manusia saat tidak dinyalakan. Saat bekerja, kedua permukaannya bersentuhan dengan batas pekerjaan yang diperintahkan, apakah membaca atau menuliskan data. Dan ketika listrik padam, kedua komponen ini saling bergesekan tajam tak terkontrol akibat kehilangan daya. Jadilah piringan tersebut tergores sana sini. Sisi yang tergores biasanya disebut bad sector, yang sudah tidak bisa lagi dipakai untuk ditulis atau dibaca oleh jarum ‘sakti‘. Semakin sering komputer mati tak wajar alias tidak dimatikan dengan perintah kita melalui OS yang kita install, maka semakin banyak bad sector yang muncul, bagai panu yang menjalar ke seluruh tubuh. Akhirnya, bang! Hardisk totally broken, damn it!

Dengan jerih payah mengetik semua dokumentasi kegiatan yang diselenggarakan sebuah lembaga donor asal negeri yang paling ‘kassa’ produksi sepeda motor itu, saya akhirnya mampu membeli hardisk baru. Kapasitasnya juga lumayan 1 Tera Byte, ‘senangnya dalam hati’seperti kata si Ahmad Dhani dalam lagu daur ulangnya madu tiga. Tetapi akar permasalahan belum juga terselesaikan, listrik di rumah kost masih saja sering padam. Di minggu ke tiganya, hardisk baru mulai menujukkan tanda-tanda ketidaknormalannya. Salah satu partisinya setiap kali log on OS, itu seringkali meminta disk checking. “Anjritt, masa’ hardisk ku yang baru sudah rusak lagi”. Saya memendamya dalam-dalam, lagian saya seringkali melupakannya karena tumpukan kesibukan di tiap harinya. 

Tibalah saya pada satu momen, setelah merampungkan dokumentasi tulisku saya kemudian didaulat untuk menjadi sekretaris kegiatan lokakarya jurnalistik bagi alumnus Jurusan Ilmu Kelautan Unhas. Namanya juga sekertartis, sedikit banyak bersentuhan dengan tugas ketik mengetik berbagai keperluan adiministrasi untuk mendukung terlaksananya kegiatan ini. Dasar brengsek, di pagi hari nan cerah ketika saya sedang olah jari di atas keyboard listrik tiba-tiba padam, selang beberapa menit kemudian menyala kembali. Dengan sesak di dada menahan jengkel, saya menyalakan kembali komputerku, mencari dokumen yang baru saja ku ketik. Saya mulai merapikan beberapa bagian yang tidak sempat disave, saya mesti mengetiknya kembali, bertambahlah kekesalanku. Tak lama kemudian, listrik kembali padam, saya tak bisa membendung lagi amarahku, keluarlah makian dari mulut, ditambah tendangan telak ke badan pintu kamar. 

Saya lantas mencari biang kerok permasalahan yang tak lain adalah pemilik rumah kost. Saya mendapatinya di teras rumah. Saya membuka percakapan dengan nada tinggi, menumpahkan kekesalanku selama ini, tentang listrik yang sering kali padam, daya listrik yang tak sesuai dengan konsumsi listrik semua penghuni dan tentu saja mengenai kepemilikan kulkas jahanam empunya kos yang membuat ini semua terjadi. Percakapan menemui jalan buntu, karena saya dan bos kos diselimuti amarah. Saya lantas melontarkan peryataan menantang, “jika tidak ada solusi, saya menolak membayar uang listrik untuk bulan ini, jika anda tidak terima, boleh usir saya tapi kembalikan uang sewa saya”. Saya pun meninggalkannya dalam kebisuan, menuju kamar ku untuk melanjutkan pekerjaan dan berharap listrik tidak lagi padam. Selang beberapa saat empunya kos menyatroni kamarku. Membawa secarik kertas dan beberapa lembar uang merah. Rupanya ia menerima permintaanku untuk pindah, entah karena ia tidak suka dengan kelakuanku tadi, atau apa. Saya pun langsung menerima uang itu dan mengajukan tenggat waktu pindah selama 1 minggu . Ia menyetujuinya, saya menghindari percakapannya soal listrik tadi, karena saya sudah bosan dengan argumennya yang kering solusi.  Saya menutup percakapan  itu dengan segera karena harus melanjutkan pekerjaan saya. 

Tapi setelah saya pikir-pikir, biaya hidup yang terlalu tinggi menyebabkan pemilik kost-kostan segan untuk menaikkan daya listrik di tempat kami. Jika daya listrik dinaikkan, maka biaya beban normal tanpa pemakaian juga akan naik, tentu saja hal ini makin memberatkan penghuni rumah kost ini. PLN sebagai institusi di bawah naungan pemerintah terus mendapatkan rapor buruk sebagi BUMN yang paling sering mengalami kebocoran dana, penyebabnya apa lagi, ya kalau bukan korupsi. Di tiap akhir pelaporan anggaran, PLN selalu mengumumkan kerugian yang besar, padahal dana segar yang dihisap dari konsumennya yaitu masyarakt itu sendiri, lebih banyak masuk ke kantong pejabat terasnya. Relasi sosial yang mirip dengan bentuk upeti jaman feodal dahulu nyatanya terjadi di masa sekarang, namun dengan bentuk yang lebih samar. Kami para pekerja upahan, bersusah payah banting tulang di tiap jam kerja, lantas seketika dirampok penghasilan kami melalui pembayaran tagihan listrik yang tinggi. Dan nyatanya kenaikan tarif dasar listrik di tiap masa setelah perhelatan pemilu besar-besaran di negeri ini, sama sekali tidak di ikuti peningkatan pelayanan yang berarti. Sebut saja pemadaman bergilir yang berlangsung setahun silam di kota Makassar. Kita bisa melihat betapa tololnya pemerintah dengan menyetejui membeli dan membangun infrastruktur PLTA Bakaru Pinrang tanpa menyiapkan tenaga teknis yang mampu memelihara dan memperbaiki peralatan tersebut. Akibatnya ketika satu elemen kecil dalam mesin pada PLTA Bakaru rusak, kita harus menunggu berbulan-bulan hingga datang tenaga teknis dari Jerman, asal mesin tersebut dibuat. Dan kami sebagai konsumen dipaksa menikmati pemadaman bergilir yang menghancurkan property elektronik kami. Dan anehnya, tidak ada perubahan signifikan dari jumlah tagihan listrik sebelum adanya pemadaman dan setelahnya. Sungguh korup PLN ini! 

Dari pada saya terus menggerutu dengan analisa pas-pasan dan sotta’ mending saya akhiri saja. Sekedar informasi boy, saya menulis gerutuan ini 4 hari setelah saya mengajukan protes itu dan masih belum menemukan kamar kost yang baru untuk tinggal nantinya. Oh Iya, juga sementara berlangsung pelatihan atau Lokakarya Jurnalistiknya ISLA, dan Nurhady Sirimorok yang didaulat menjadi pematerinya mampu membakarku untuk kembali menulis, maka jadilah onggokan huruf-huruf ini. :P

Tampilkan postingan dengan label Catatan Biasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Biasa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2015

Apa Kata TV Soal Konsumerisme

source : fineartamerica.com/profiles/allan-swart
Di ruang tengahnya yang hangat, David selonjoran di sofa, menjulurkan tangan lalu menekan tombol remot TV dengan malas, mencari-cari sesuatu untuk menghiburnya. Tapi percuma saja, Ia tetap gelisah menahan hasrat yang lebih besar daripada akal sehatnya. Matanya melirik jam dinding, sudah jam 1 malam rupanya. Dia tahu, kota seperti Sydney -tempat ia tinggal saat ini- ada banyak super market yang buka 24 jam. David sudah tidak tahan lagi, ia sambar baju hangat yang ada di ruang tengah, juga kunci mobil dan bergegas ke garasi. Mobil ia pacu, berharap agar ‘birahinya’ ini bisa segera menemukan pelampiasan.

Terang neon toko menyambut riang David, “oh saat-saat yang mendebarkan”, gumamnya.
Satu jam kemudian David keluar dari supermarket menenteng dua kantong besar belanjaan. Perjalanan dari kasir, ke pintu keluar menuju halaman parkir adalah puncak kenikmatan. Ia tak akan menyianyiakannya, David sedang “high”. Candu telah ia temukan, dihisap, dikunyah, dibiarkannya mengalir ke darah menuju otak dan mengantarkan domapin yang penuh kesenangan. Akhirnya Ia bisa tidur nyenyak malam ini.

Pagi, matahari lembut menyapu wajahnya. Tak jauh dari tempat tidur dua tumpuk barang bersesak-sesak di dalam kantong plastik putih. David menatap lesu. Penyesalan perlahan mengalir, memancar kemudian meledak di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hangat pagi membuatnya sadar, kecanduan akan belanja belum bisa ia kendalikan. Ia sakit dan butuh pertolongan.

Cerita mini di atas adalah potongan adegan program “Taboo” yang ditayangkan NG yang kali ini membahas tema “Addicted”. Sungguh sebuah kebetulan yang menarik sekaligus mengusik. Karena di malam yang sama saat tayangan itu muncul, saya baru saja menyelesaikan membaca buku “Sosiologi Waktu Luang: Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mall”. Buku ini ditulis oleh M. Ridha, seorang kenalan saat saya sedang aktif-aktifnya menghidupi sebuah jurnal bersama teman-teman di Makassar.

Addicted dan buku karya Ridha sama-sama membahas tentang konsumerisme, kebiasaan yang mulai menggeliat pada era pasca revolusi Industri, kemudian meledak di Eropa dan menjalar ke negara-negara dunia ke tiga termasuk Indonesia.Tentu saja keduanya membedah belanja dari perspektif yang berbeda. Dan karena perbedaan itulah saya membuat tulisan ini. Perbedaan-perbedaan ini serius adanya dan berimplikasi pada audiensnya masing-masing, pembaca pada buku M. Ridha dan pemirsa/penonton pada Addicted.

Pola, Narasumber dan Sudut Pandang “Addicted”

Baiklah saya akan bahas apa yang Addicted tawarkan ke pemirsa seperti saya. Lewat sebuah buku berjudul Analisis Framing yang kubaca 2008 silam, saya yang bukan mahasiswa Ilmu Komunikasi memperoleh sedikit panduan bagimana menilai sebuah karya Jurnalistik. Salah satunya adalah cara menebak sudut pandang sebuah berita (dalam kasus ini adalah sebuah dokumenter) melalui pemilihan narasumber. Mengetahui sudut pandang berarti mengetahui pesan “sebenarnya” yang ingin disampaikan oleh sebuah dokumenter sekaligus menyadari motif dibalik pembuatannya.

Sejauh yang saya amati ada 3 narasumber yang NG tampilkan dalam alur cerita Addicted. Yang pertama adalah David warga Sydney pengidap Shopaholic, Celia berprofesi sebagai psikiater dan terakhir dosen pengajar jurusan psikologi, Robert.

Ada pola yang berulang yang digunakan oleh NG dalam menceritakan Addicted. Menampilkan kisah David lebih dahulu, dikomentari oleh psikiater kemudian dilengkapi oleh pendapat dosen. Selama 30 menit menonton acara ini, pola ini cenderung konsisten dan tak berubah. David seperti terdakwa yang sedang disidang, ia dinilai oleh jaksa, hakim dan juri sekaligus. Tentu saja karena David adalah orang dengan perilaku menyimpang.

Namun, mengapa NG hanya menggunakan dua narasumber dari latar belakang yang sebenarnya hampir sama, psikologi? Addicted mengulik kecanduan belanja dari sudut pandang psikis semata! Hal ini menggiring saya (pemirsa TV) untuk menerima pesan bahwa shopaholic merupakan satu jenis penyakit jiwa disebabkan karena semata kelalaian dan kelemahan si pengidap serta faktor eksternal lain. Ada beberapa scene di mana faktor eksternal dijelaskan sebagai salah satu katalisator kecanduan pada David. Contohnya, scene di mana David diceritakan mewarisi beberapa juta dollar tabungan dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Selanjutnya ada kartu kredit dan bukti peminjaman dana. Kemudahan-kemudahan itu memberi jalan yang lapang bagi David untuk masuk ke dalam perangkap candu belanja.

Itu saja? Ya, saya pikir argumentasi NG melalui Addicted hanya sebatas pemberitahuan dan peringatan kepada pemirsanya. Ini adalah program TV yang memberi anda info tentang jenis kecanduan lain selain narkoba namanya shopaholic, ia berbahaya, bisa bikin bangkrut dan menghancurkan kehidupan (masa depan?) kita. Ini adalah sejenis penyakit yang muncul di jaman modern, kita harus berusaha keras untuk menghindarinya.

Itu adalah pesan yang baik, tulus dan menghindarkan kita dari bencana. Dan satu lagi, Addicted benar adanya, tapi tetap saja tayangan ini membut dahi saya berkerut.

Kedangkalan Bisa Jadi Sesat

Penggalian NG pada shopaholic hanyalah di permukaan saja, sementara sebab musabab lain masih dalam tertanam -tak dijangkau olehnya- sehingga pemirsa juga tak melihatnya. Apakah ini sengaja dilakukan? Atau karena soal durasi? Saya pikir bukan.  

Menuduh individu yang tak mampu menahan hasrat dan dukungan faktor eksternal sebagai penyebab gila belanja adalah kesimpulan yang prematur. Karena jika menilik akar historisnya shopaholic, konsumerisme disebabkan oleh faktor-faktor yang bersinggungan dengan lapangan ekonomi, politik, sosiologis juga psikologis (ranah yang dieksplogasi NG dengan sangat dangkal dalam addicted).

Tampaknya semakin rumit dan untuk menghindarinya saya tidak kan membahasnya terlalu panjang.

Sebagai televisi yang identik dengan nama majalah yang punya reputasi sangat baik, sebenarnya saya mengharapkan lebih ketika mereka menayangkan program-programnya. Namun tidak seperti artikel-artikel di majalah yang terkenal mendalam dengan pemilihan narasumber yang hati-hati dan kompeten, Addicted berbeda jauh secara kualitas.

Saya mengharapkan Addicted mampu mengeksplorasi shopaholic dengan lebih menyeluruh misalnya dengan menceritakan sejarahnya, latar sosial, ekonomi dan politik ketika penyakit jiwa tersebut mulai muncul dan menyebar. Siapa tahu saja, NG menemukan fakta bahwa penyakit gila belanja sudah temukan sebelum revolusi Industri dan revolusi Perancis terjadi. Dua momen penting sebagai tonggak lahirnya ideologi dominan hari ini : kapitalisme.

Saya juga berharap NG menampilkan data-data yang menjelaskan keterhubungan durasi menonton TV dengan jumlah konsumsi per kapita sebuah kota atau negara. Ekspektasi selanjutnya adalah Addicted akan menyuguhkan gambar saat peristiwa Malaise terjadi Amerika Serikat yang diakibatkan oleh over produksi. Momen yang diawali Selasa Kelam, peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929 menyebabkan depresi ekonomi berat di negeri uncle sam. Kejadian itu membuat korporasi belajar bahwa over produksi  adalah penyakit inheren dalam sistem kapitalisme dan obatnya selain ekspansi pasar juga mendorong semua pasar (baik yang dekat maupun yang letaknya ribuan kilometer jauhnya) untuk mempraktekkan budaya baru : konsumersime.

Saya mencurigai NG menyembunyikan fakta-fakta tentang konsumerisme sehingga pemirsanya mengambil kesimpulan yang prematur dan akhirnya tersesat. Penonton jadinya tak tahu duduk persoalan sebenarnya tentang konsumerisme, melanjutkan hidup dan tak akan mempertanyakan lebih jauh dunia seperti apa yang mereka jalani saat ini.

Agak naïf memang mengharapkan NG menelanjangi negara seperti AS-di mana korporasi raksasa bercokol-yang aktif mengekspor budaya mereka demi diadopsinya konsumerisme sesegera mungkin oleh negara-negara dunia ke tiga (baca: pasar). Naif memang, karena NG juga merupakan salah satu garda depan, bersama MTV, Hollywood dan kawan-kawannya yang aktif mengindtrodusir kebudayaan barat melalui tayangan-tayangannya. Standar hidup, membeli asuransi, makan di gerai-gerai cepat saji, jalan-jalan ke Mall, memakai baju, sepatu dan pernak-pernih yang dicontohkan para idola dari California adalah sedikit dari segudang kebiasaan baru yang diperkenalkan oleh barat ke negara-negara seperti Indonesia. American Dream, dua kata yang akrab saya dengar dari film Hollywood atau lirik dari lagu favorit saya.

Kita bisa tengok India, pada tahun 1990 hanya 10% dari total populasi masyarakat India yang mampu mengakses TV. Angka tersebut berubah menjadi 75% pada tahun 1999, delapan tahun setelah pemerintah India setuju untuk meminta bailout pada IMF dan merevisi sejumlah kebijakan ekonomi. Globalisasi ekonomi India kemudian diikuti oleh globalisasi kultur, beberapa orang menyebutnya sebagai westernisasi India. Stasiun TV asing meningkat pesat jumlahnya, begitu pula impor film Hollywood yang membanjiri pasar film nasional dan bersaing dengan film-film lokal[1]. Televisi yang banyak membawa nilai-nilai dari luar terutama dari Barat memberikan pola pemikiran baru, masyarakat mulai menginternalisasi nilai-nilai yang dipromosikan yang kemudian mendorong terciptanya gerakan bagi pola hidup mereka[2]. Seiring dengan hal tersebut, di India kemudian terbentuk jenis kelas sosial baru yaitu kelas menengah. Mereka mengejar standar hidup barat, fasih berbahasa Inggris dan menerima kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan (sesuatu yang tidak pernah ada di masyarakat India sebelumnya).

Di jaman di mana status jomblo sama dengan batu akik, sama-sama diekspoitasi demi menghidupi banyak orang, rasanya istilah Gegana (galau gundah gulana) bisa jadi katalisator yang baik bagi saya untuk menulis. Makanya tulisan ini selain disebabkan galau pada NG, juga karena ingin mengingatkan diri sendiri bahwa curiga tidak selamanya salah. Pemirsa televisi mesti memiliki sikap kritis terhadap tayangan televisi. Agar kita tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka sampaikan sebelum kita cerna baik-baik dan membandingkannya dengan sumber informasi lain yang punya sudut pandang yang berbeda. 

Ah rempong. Mana pilih, repot-repot berpikir atau terus dibodohi. :D

Atau mungkin kita bisa mengambil langkah lain. Matikan TV dan mulai mengerjakan hal-hal lain di mana kita berlaku sebagai subjek aktif, main game misalnya? :P 


Rujukan:
[1]http://mahrita-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-82498-PengantarGlobalisasi-Pengaruh Globalisasi terhadap Pergeseran Kelas dalam Masyarakat: Studi Kasus Fenomena Konsumerisme di India.html

[2] Ibid

Jumat, 23 Mei 2014

Tentang RR dan The Trees and The Wild

Pada suatu siang yang lowong ditemani laptop butut dengan koneksi yang masyallah lambatnya, saya bertemu dengan seseorang di dunia maya. Di sudut sunyi tanpa hiruk pikuk pemirsa fb dan laman sejenisnya yang tengah sibuk membicarakan siapa pendamping jokowow di bursa transfer presiden yang akan memantati seluruh warga negara, saya bertemu dengan RR. Siapa dia? Saya juga tidak mengenalnya. Saya hanya tertarik dengan selera musiknya, saya bertanya dan ia menjawab. Saat dia bertanya saya menjawab. Seperti itulah hubungan pertemanan yang berjalan satu jam ini.

Ia menyodorkan satu band, indie katanya dari Bandung. Tak ada salahnya mencoba, saya pun mencari ‘The Trees and The Wild’ di google. Selang beberapa detik saya menemukannya di soundcloud. Tanpa pikir panjang soal koneksi dan kuota yang lagi cekak, saya download satu lagu, judulnya ‘malino’. Memang prinsip jurnalistik yaitu proximitas selalu benar adanya. Saya memilih judul karena sama dengan nama daerah wisata gunung yang tak jauh dari Makassar dan tentu saja karena saya pernah ke sana. Tak ada kenangan buruk di tempat itu, jadi saya akan ingat.

Balik lagi ke soal lagu. Setelah menunggu sambil masak mie, bersih-bersih kamar, cuci baju, menolong tetangga yang cantik nan seksi membuang sampah, akhirnya donlotan yang tak sampai 4 mb itu selesai juga. Saya langsung putar, kebetulan speaker butut dengan denguangan bass yang ciamik sudah terhubung dengan lappy.

Intronya sungguh menggoda, petikan gitar yang jernih dan menjanjikan, dalam hati saya menggerutu riang. Saat suara vocal masuk saya sedikit kecewa, kedengarannya mirip dengan gaya bernyanyinya si band sok keren Alexa. Hehehe.

Ah…saya jatuh cinta dengan lagu ini. Membuat hayalan bisa ke mana-mana. Saat mendengarkan, saya berbagi dengan RR betapa nyamannya mendengar lagu ini. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih telah karena ia telah mengenalkan saya dengan band ini. RR bilang dia hanya suka band dengan konsep akustik, saya tak mengerti soal genre dan bukan tak punya banyak kata tentang jagad musik.

RR dari Toraja, ia sedang kuliah saat ini dan senang membaca.  Koneksi terputus, dan berpisahlah kami. Tak tau bagaimana cara menghubunginya lagi. Sejam yang menyenangkan, pikirku.

Saya kemudian mengkhayal ditemani bisikan di telinga suara “mari rasuk- mari rasuk”…..


Jumat, 25 Oktober 2013

Di mana Pencerita Lebah?


Jenny
Hari-hari di sini semakin membosankan. Di mana kah kau pencipta cerita lebah? Di kota ini semua yang kulakukan hampir sama. Walau membosankan, saya ingin bertahan. Tidak tahu sampai kapan. Saya rindu rumah, saya rindu mama, saya rindu bapak. Mereka tinggal berdua di rumah papan itu. Saya semakin rindu kalau hujan seperti ini, karena rumah selalu hangat oleh mereka.

Hei pencerita, kau masih hidup bukan? Kemarin saya mimpi soal kau. Saya juga berbincang dengan teman tentang dirimu. Untuk sesaat kenangan dulu memanjat ke permukaan. Kau ingat Mou? Dia akan sukses di Inggris. Kau membencinya? Hahahaha. Kita tetap rival dalam urusan sepakbola.

Saya tidak tau kita memang dekat atau tidak. Tapi kurasa musim hujan beberapa tahun yang lalu, kita lalui dengan baik sebagai pengangguran angkatan baru.

Semoga kau sehat-sehat saja. Saya sedang bosan. Semoga bisa bertemu denganmu. Saya rindu.

Senin, 09 Juli 2012

Tiga Cerita di Rumah Panggung

Kami sedang menunggu siang itu, saya dan dua orang temanku menanti beberapa orang ibu-ibu di tanah rawa. Rencananya akan ada pertemuan sore itu, kami hendak belajar bersama tentang berbagai macam hal, mulai dari keterampilan kreatif hingga pengetahuan kritis tentang kondisi hari ini. Pertemuan belum juga dimulai, kami bersama dua orang ibu yang baru datang sudah  terlibat  dalam pembicaraan serius tentang anak-anak mereka yang mendaftar di SD negeri dan tentang keponakannya yang sulit mendapatkan layanan pengobatan. Mungkin seperti ini rekaman saya saat itu.

Rumah sakit yang benar-benar sakit
Mace (kata yang artinya sama degan ibu dalam bahasa indonesia) Rusna lebih dulu melontarkan kekesalannya akibat ulah pihak rumah sakit yang berseblahan dengan hotel bertaraf internasional. Ia mulai dengan keponakannya yang berumur 10 bulan yang tiba-tiba sesak nafas di malam hari. Saudara Mace Rusna  sudah mendatangi dua rumah sakit dan selalu ditolak dengan alasan sudah tidak ada lagi ruang perawatan yang kosong. Melihat kondisi ini, akhirnya mace Rusna  berinisiatif menemani saudaranya untuk berbicara ke pihak rumah sakit. Sesampainya di sana, mace Rusna  ngotot agar keponakannya segera ditangani, ia pun diarahkan untuk menemui salah satu dokter. Ia diundang masuk ke sebuah ruangan dan diminta menjelaskan duduk persoalannya. Dengan berapi-api ia mencontohkan apa yang dikatakannya pada dokter malam itu. “Saya mengerti pak sepenuhnya kalau dibilang sudah penuh, tapi saya tidak mengerti kalau anak kecil ini tidak bisa diobat hanya karena tidak ada ruangan”, ujar mace Rusna  mencontohkan. Ia melontarkan kata-kata itu sambil menangis karena ia sempat menoleh ke ponakannya yang bernafas tersenggal-senggal. Si dokter pun ngotot tak bisa menerima pasien, “dari tadi kan saya bilang di sini sudah penuh, masa ibu tidak mengerti!”.
Mace Rusna  bersikeras, ia tetap berdiri di pintu ruangan dokter tersebut walaupun dokter sudah mengakhiri pembicaraan. Tetap membatu demi menunggu kesempatan. Ia kembali memperagakan gerutuannya dalam hati. “Begini mi kayaknya kalau miskin ki di, selalu tidak diperhatikan, selalu dinomor dua kan”. Tak lama berselang seorang ibu paruh baya menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi. Mace Rusna  pun menjelaskan semuanya. Ibu itupun menawarkan tempatnya yang berada di ruang perawatan kelas 3 (ekonomi) dan ia rela pindah ke ruang kelas 1 (yang agak mahal). Mace Rusna  pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Mace Rusna  dan saudaranya mengurus semua administrasi sementara keponakannya sudah mulai dirawat, diberikan bantuan pernafasan. Malam yang panjang dan melelahkan pun terlewati dan ia menutup ceritanya dengan deretan kata,” jika kita tidak berusaha menuntut hak kita, selamanya mereka yang bekuasa tidak akan mempedulikan kita”.

Lima Bocah yang ditolak
Sesekali Mace Asih menggoyang-goyangkan badannya ketika bayi nya mulai menangis. Ia lantas melanjutkan cerita tentang anak ke tiganya yang tidak diterima di SD negeri yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia tak menyangka anaknya yang sudah menginjak usia 9 tahun itu, tidak lulus masuk ke sekolah negeri tersebut. Bukan hanya anaknya, ada 4 anak lain dari tanah rawa yang juga tidak diterima. Pada hari pengumuman, Mace Asih penasaran mengapa anaknya tidak diterima. Ia pun berinisitaif mencari tahu dan bertanya pada panitia penyeleksi.

Sebelum bercerita lebih lanjut, mace Asih mengungkapkan keheranannya akan proses seleksi yang berlakukan pihak sekolah terhadap calon siswa. Setelah mendapatkan nomor pendaftaran, anak-anak tersebut masih harus menjalani tes membaca dan menulis. “Terus apa gunanya sekolah itu anak-anak kalau sudah tahu memang mi membaca sama menulis, sekolah kan gunanya untuk mengajari itu”, ketus mace Asih.
Benar saja, alasan utama mengapa anaknya ditolak karena ia tidak lancar membaca dan menulis. Ia pun berang, begitu juga dengan ibu-ibu lain baik dari tanah rawa maupun sekitarnya yang juga mendapati nomor pendaftaran anaknya tidak tertera di papan pengumuman kelulusan. Mereka pun pulang dengan sesak di dada. Beberapa ibu-ibu pun mengeluarkan celetukan, “kalo orang miskin susah sekali diterima, sementara yang kaya tidak banyak tanya langsung-langsung ji diterima”. Lima anak tanah rawa tak jadi bersekolah.

Bukan Pencuri
Saya kaget ketika Mace Lia tiba-tiba saja naik ke rumah panggung tempat kami berkumpul. Tidak biasanya mace yang satu ini antusias dengan keramaian. Beberapa kali kami mengajaknya untuk ikut berkumpul dengan ibu-ibu lain di tanah rawa, namun ia selalu punya alasan untuk menolak. Kali ini ia punya sesuatu untuk dibagi, namun ini bukan sesuatu yang menyenangkan.
Anaknya yang paling tua sedang ditahan di polsek, padahal ia jadi tulang punggung perekenomian keluarga  saat ini. Ia dituduh mencuri penutup ban mobil yang biasa nangkring di belakang mobil Jeep. Menurut mace Lia anaknya, saat itu tidak jauh dari TKP dan tiba-tiba ada dua anak berlari ke arahnya dan memberikan sesuatu. Ternyata itu adalah penutup ban mobil, ia terpaku tak mengerti. Tak lama setelahnya satpam mendatanginya. Ia kemudian disemprot dengan pertanyaan tanpa sempat menyela,kemudian di bawa ke pos satpam pasar.

Ia meminta pendapat dari ibu-ibu yang lain tentang bagaimana cara mengeluarkan anaknya dari tahanan polisi. Kami pun silih berganti berbicara. Pembicaraan mengerucut pada satu solusi, mace Lia disarankan berbicara pada penyidik anaknya dan memaparkan tentang kejadian dan kondisinya saat ini. Jika celah tak ada, kami sepakat akan mencari jalan lain yang memungkinkan.  

Mace Lia sudah berbagi, ia perih karena ia tahu ini akan sulit. Ia tahu bahwa polisi sangat suka duit agar anaknya bebas. Ia tahu bahwa orang sepertinya sangat mudah dituduh kriminal, tanpa punya kesempatan membela diri. Ia juga tahu, hari-hari setelah hari ini akan semakin sulit. Ia kini hanya punya setumpuk utang dan seorang anak remaja yang murung di balik jeruji.

****

Saat itu pula, saat tiga cerita mengalir tulus dari tiga ibu di tanah rawa, saat kami berkumpul di rumah panggung saya berniat menuliskannya di sini. Agar saya tidak lupa, bahwa perih pernah  tergores dalam di hati mereka. Agar saya tidak lupa bahwa hidup yang lebih baik layak diperjuangkan!

Kamis, 28 Juni 2012

Footballize Me!


Saya tidak tahu pasti kapan kegilaan saya terhadap sepakbola dimulai. Seingatku waktu SMP, beberapa kali saya menyempatkan diri menonton siaran sepakbola di TV. Liga Italia kala itu menjadi liga paling bergengsi di eropa, sebelum akhirnya terpuruk karena kasus pengaturan skor dan krisis ekonomi.  Kebetulan TV di Indonesia (sampai sekarang) dengan sokongan produsen rokok mampu membeli hak siar tersebut, sehingga saya yang berada di kota kecil mampu mengkonsumsinya.
Sekarang saya sangat suka menonton sepakbola, dari pertandingan tarkam (antar kampung), liga indonesia hingga pertandingan bergengsi selevel liga inggris dan champions eropa. Tentu saja ini hanya bisnis, sebuah industri yang di dalamnya ada pekerja dan pemilik modal serta orang-orang seperti saya, konsumen. Hahaha
Begitu krisis ekonomi datang, kualitas kompetisi pun ikut menurun. Klub-klub di Italia dan Spanyol merasakan sulitnya mengelelola sebuah klub dengan besarnya utang. Walhasil Hernan Cerspo di Italia dan Ruud Van Nisteltoy masih bermain di divisi teratas dan menjadi tulang punggung timnya masing-masing. Gaji yang tak lagi mahal plus pengalaman dan kemampuan yang masih tersisa di mantan pemain top dunia tersebut  menjadi alasan kuat bagi klub untuk mempertahankannya.
Saya tak begitu fanatik dengan sebuah tim, tapi saya menyukai Chelsea FC. Tim asal London barat ini adalah tim yang sering saya pakai saat bermain game PES atau Winning Eleven. Mungkin alasannya hanya itu saja. Saat masih diasuh Jose Mourinho mereka punya pemain-pemain yang punya fisik yang kuat, sehingga di PES saya bisa dengan mudah merebut bola dari kaki lawan.
Chelsea bermain di liga Inggris, di mana kompetisi ini merupakan variabel yang baik untuk melihat bagaimana sepakbola dikelola sebagai sebuah industri yang menghasilkan keuntungan bagi pemodal. Inggris layaknya negeri-negeri miskin seperti Indonesia di mana segala syarat untuk membangun sebuah imperium ekonomi tersedia di dalamnya. Jika di negara seperti Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah dan pekerja yang murah, Inggris memiliki kultur masyarakat yang gila sepakbola serta deretan sekolah sepakbola yang siap memasok pemain-pemain baru. Oleh karenanya tidak heran jika investor kelas kakap seperti Abrahamovic dan Syekh Masour tidak ragu meggelontorkan miliaran dollar untuk membangun tim yang kuat di Inggris.
Dan hal yang penting tentang sepakbola adalah kenangan dengan seorang teman. Dia juga gila bola, dan kami sering menonton pertandingan liga inggris bersama-sama. Saya masih ingat bagaimana ekspresinya ketika Intermilan- tim yang ia bela karena pelatihnya Jose Mourinho-berjumpa Bayern Munich di final Liga Champions musim 2009-2010. Dia seperti menonton langsung di stadion tempat digelarnya pertandingan. Berteriak-teriak, rambutnya diacak-acak, bahkan menutup mata saat pemain Bayern mendapat peluang yang baik untuk mencetak gol. Sungguh lebay fans sepakbola yang satu ini. Hahaha
Sekarang ia sedang berjuang agar bisa kembali menapak tanah dan menikmati sepakbola, tentu saja sendiri tanpa saya. 

Senin, 04 Juli 2011

Imanjinasi, jenis kudapan apa lagi itu?


Sungguh sudah  lama...tidak..tidak..baru saja beberapa hari kok..meninggalakan kota sombong ini kadang dipelukan untuk menjaga pikiranmu supaya tetap waras. Ah...memang sedari awal kota ini dipenuhi orang gila kok dan saya tak mau membahasnya di sini. Hehehe. Ayolah, kau harus datang kembali secepatnya dan gila lagi bersamaku, bersama ubin jalan setapak, bersama ruko kecil di sudut jalan, bersama lubang-lubang di tengah jalan yang selalu kita lalui bersama hampir tiap hari.
Kau tahu? Sudah berapa hari ini saya sedang tertarik dengan sebuah kata. Ia adalah imajinasi, mungkin kata ini yang membuat beberapa dari kita tetap waras, dan jangan mendebatku soal kata ‘waras’ ini. Ayolah kita sama-sama tahu mana yang dibilang waras dan yang tidak, walaupun ada tepi yang tak jelas diantara keduanya. Alah, jika kau menginginkan lebih....ahh pusing saya dibuatnya.
Saya dan seorang perempuan tua, beberapa waktu yang lalu, ya kami berdua tersesat dalam percakapan kami sendiri, percakapan acak tentang banyak hal -yang kau tahu- ini sangat mengandalkan imajinasi. Entah bagaimana, ia lantas bertanya soal apa yang kau lakukan ketika masyarakat kita sudah meninggalkan gaya hidup dengan opresi kelas sosialnya seperti sekarang ini. Banyak hal kubilang, yang pertama ya mencukupi kebutuhan dasarku dengan bertani. Mendirikan Adobe, bertetangga, kadang-kadang menenun, membuat sebuah lagu untukmu, mungkin juga melukis wajahmu, atau menemukan  lelucon yang bisa membuatmu tertawa (hahaha..I’m still working on it).
Saya meninggalkan percakapan itu, ia punya si bibir mancung sekarang untuk mengobrol, dan tentu saja menguras imajinasinya. Saya kemudian sibuk dengan kepalaku sendiri, menciptakan dunia sendiri setelah menyedu kopi dan membakar rokok murah yang kubeli dari warung sebelah rumah. Dunianya mungkin seperti ini:
Siang tadi ketika hendak membeli makanan, motor hitam rongsokanku itu kupacu di jalan menuju warung makan. Disepanjang jalan tampak beberapa bocah memegang kaleng yang dililiti benang, mereka sedang bermain layang-layang pikirku. Yap, benar sekali beberapa layangan tampak dilangit di atasku. Jika ada kendaraan yang lewat, mereka akan meninggikan benangnya agar tak nyangkut pada motor atau mobil yang lewat. Sungguh sulit mendapat tanah lapang di tengah kota sombong ini pikirku, dan mereka begitu gigih bermain di jalan raya yang tak kenal belas kasih itu.
Karenanya pula saya jadi ingat masa kecil ku di kota kecil yang sangat mengandalkan pelabuhannya untuk tetap bisa berdenyut. Tentang bau tanah merah, kaki yang berdarah setelah berlarian di tengah tanah berbalut rumput liar, tentang baju dan celanaku yang selalu sangat kotor ketika pulang ke rumah di sore hari untuk mandi kemudian makan. Tentang itik yang kupelihara dan kucuri telurnya di tiap pagi untuk kujadikan sarapan. Tentang rawa tempat memancing ikan gabus yang seringkali berakhir dengan kegagalan membawa pulang tangkapan. Jika sudah begitu, saya akan mengambil jaring bekas ayakan pasir milik tetangga dan memanggil beberapa temanku untuk menjaring ikan brengsek yang tak mau memakan umpanku. Hahaha. Mereka berakhir di panggangan dengan arang dari ranting kayu dan dedaunan. Itu hanya hanya masa kecil dan untunglah saya masih bisa mengingatnya.
***
Semalam, dengan telpon genggam pemberian saudaraku saya menerima telponmu dari kota yang jauh. Katamu tadi siang kamu baru saja menggoreng tempe dan membuat kue, senang mendengarnya :p. Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu kita pergi ke toko buku, mencari-cari buku yang cocok. Aku menemukan satu di toko buku pertama yang sebenarnya lebih mirip swalayan satationary. Judulnya Ketika Manusia Kloning Berkuasa, ketika pertamakali melihatnya, judul dan covernya sungguh tak menarik, tapi setelah membaca sinopsisnya saya jadi tertarik. Ya, imajinasi yang kuat pikirku, hmm ..tentang bagaimana kehidupan manusia di masa yang akan datang. Oh bukan, ketika manusia tak ada lagi, berganti manusia cebol tak beralat kelamin yang berkembang biak dengan cara mengkloning dirinya sendiri. Tema fiksi tentang peradaban yang hancur, akan hancur, telah hancur, cukup banyak loh. Sederet buku dan film tentang tema inipun ku koleksi diantranya the road, the day the earth stood still, resident evil, the matrix, the book of eli, terminator, kulupai sisanya. Dan kau tahu? Entah mengapa saya begitu menikmati ketika adegan dalam film atau novel yang kubaca berakhir dengan kehancuran peradaban. Sayu sepertinya sudah sinting.  :p
Tentu penulis novel dan naskah film bertema ini punya imajinasi yang cukup kuat, dan juga dibantu oleh pengetahuan penulis dan perspektifnya yang radikal dalam melihat dunia hari ini. Dan imajinasiku hanya berhenti di sini? Coba kuingat-ingat dulu, apa imajinasi ku tentang masa depan? Saya berpikir kuat, tak menemukannya, hanya ada bayang samar, hmm ...saya melihat  dirimu didalamnya. Dan itulah imajinasiku untuk masa depan! :P

Minggu, 01 Mei 2011

Menantimu di Tanah Rawa

Kami membuat sebuah janji, lebih  tepatnya disebut kesepakatan untuk tak bertemu selama tiga hari, juga tak saling menghubungi. Hahaha. Aneh, sungguh persetujuan yang menyebalkan di antara membaranya kasihku padanya. Hahaha. Dan di antara tiga hari yang berat itu, tersiar kabar bahwa tanah rawa akan diserbu sekawanan preman yang dibayar oleh seorang pengusaha tambun yang hendak merampas sebidang lahan tersebut dari pemilik sah, orang-orang tanah rawa. 

Saudara tuaku Boriel, intens berkomunikasi dengan Enos pria lincah asal negeri timur matahari yang beberapa bulan terakhir sering nongkrong di tanah rawa. Boriel akhirnya menghubungiku dan saudara-saudaraku yang lain. Kami hendak ke tanah rawa di hari sabtu, hari ke dua dari perjanjianku selama tiga hari dengan gadis feromon. 

Pagi -pagi sekali, kami berempat sudah bangun. Sedikit merapikan diri sambil menyeruput kopi panas buatan Pinko, perempuan tua  tangguh yang tak lain adalah kekasih Boriel. Kami hanya sedikit mengobrol, tentang hasil pertemuan semalam, tentang kode sandi sampai strategi perang yang sudah disusun oleh barikade anti penggusuran tanah rawa. Kami mengakhirinya dengan tertawa lepas, sambil menimpali busuknya permainan negara dan pengusaha yang selalu kompak melakukan hal-hal seperti di tanah rawa ini, merebut ruang hidup dan kehidupan. 

Tak memakan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai di tanah rawa dari tempat kami nginap, kampung biru. Akhir pekan yang menjemukan, selalu membuat kota megapolitan ini lengang dan lesu, tak ada wajah yang terburu-buru, tak ada kuda besi yang tergesa-gesa menyelip deretan mobil pribadi mewah. Akhirnya kami sampai dengan selamat. Hehehe.
Sore di Tanah Rawa (diambil pake hengpong ji :p)
Inilah pagi di tanah rawa, bambu tua berderet rapi melintang di atas genangan besar air yang memisahkan satu rumah dengan rumah lainnya. Sesekali, riak air pecah di permukaannya akibat lambaian ekor ikan berwarna hitam dan mungil. Mereka tampaknya terganggu dengan kehadiran kaki-kaki kami yang kaku berjalan di atas jalan bambu ini. Pinko dan boriel begitu lamban berjalan, sementara saya dan Jo sibuk dengan kepala masing-masing setelah disuguhi adegan dingin seorang warga yang sedang mengasah sebilah parang.  Bukan sebilah, ada lima bilah! Kami menyaksikan ekspresi dingin khas luapan insting bertahan dan melindungi. Kami tak berkomentar, Jo hanya melempar senyum padaku dan kami melanjutkan perjalanan menuju posko induk tempat berkumpulnya teman-teman barikade anti penggusuran. 

Sebelum kulanjutkan, saya ingin membagikan sesuatu. Sialan! Jika kamu berpikir kami ke tanah rawa karena iba pada orang tanah rawa dan panggilan moral, kamu salah! Solidaritas adalah senjata yang paling ampuh untuk merenggut kehidupan yang telah lama dicuri oleh sistem bobrok ini. Hidup kami telah lama dicuri sejak saat itu, saat  kami telah dilabeli dengan embel-embel warga negara melalui akta kelahiran hingga diberi sistem kepercayaan demi menciptakan ketertundukan. Kami hanya tak mau lagi dicuri lebih banyak, tidak juga bagi orang-orang tanah rawa yang hendak dicuri tanahnya oleh Hanoman itu. Maka bersolidaritaslah!
Posko induk lengang, kawan-kawan yang malam tadi nginap di tanah rawa, masih menikmati keintimannya dengan pagi. Ini masih jam 7 pagi, kabut belum juga mau berpisah dengan muka rawa. Tampaknya ada perayaan kecil semalam di tanah rawa, demi menyambut om eman yang kan datang esok hari.
***
Hari semakin panas, canda tawa mulai tak bisa membunuh bosan kami menunggu serangan dari om eman. Sel  FNB (Food Not Bombs) sudah pula menyelesaikan misinya hari ini, logistik perang sudah siap di gudang altileri. Pria skinny di sampingku mengutuk dalam gerah dan marah, “sialan, tak ditunggu si eman muncul, saat kami siap menyambut dengan red carpet, mereka tak datang, sial!”. Hahaha, saya hanya bisa tertawa mendengarnya, saya sudah terlalu capek untuk menimpalinya. Hahaha

Ditengah-tengah kejemuan akut itu, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di kompleks tanah rawa, saya menemukan beberapa teman sedang ngobrol dengan warga, kuputuskan untuk masuk dalam sidang itu. Mereka sedang bercerita tentang berbagai topik, cukup panjang dan ramai, hingga akhirnya beberapa teman memutuskan untuk minggat, sepertinya ingin beristirahat. Tersisa kami berdua, saya dan bapak berkacamata dengan kemeja lusuh berwarna krem warga asli tanah rawa.

Setelah puas dengan topik pembicaraan di luar ‘kita’, akhirnya saya bertanya soal seputar tanah rawa dan kehidupan bapak berkacamata. Ia kemudian menyambutnya dengan aliran kisah pertama kali ia sampai di tanah ini. Tahun 1984 ia mendapati tanah ini adalah rawa-rawa yang dikelilingi pepohonan lebat. “Hanya di hitung jari ji rumah di dulu, masih sepi”, kenang bapak 3 anak ini. Ia mengisap dalam-dalam rokok di tangannya sembari mendengar tanggapanku. 

Saya lantas bertanya, di mana tepatnya letak rumahnya di tanah rawa ini, ia lantas menunjuk rumah panggung berdinding tripleks. Saya menengoknya dalam, “yang banyak lubang di dindingnya itu?”, gumamku dalam hati. Ia menarikku kembali dalam perbincangan dan berkata, “itu mi juga, saya mau perbaiki sedikit-sedikit tapi nda ada pi uang”. 

Ia lantas bercerita tentang hidupnya di kota ini, yang akhirnya berakhir sebagai tukang parkir di salah satu fasilitas umum tak jauh dari tanah rawa. Tanah rawa memang strategis, ia di apit barisan bangunan mewah menjulang yang tak lain adalah pusat perbelanjaan dan gedung berorientasi niaga. Ia seperti luka menganga di permukaan kulit mulus. Tak heran si Hanoman kepincut untuk menguasainya. 

Kami kembali larut dalam percakapan saat ia melontarkan barisan kata tentang kondisi anak dan istrinya. Ia terpaksa memboyong 2 anak serta istrinya pulang ke kampungnya di pesisir selatan celebes, semenjak kondisi kesehatan istrinya memburuk, ia takut rumah super sederhananya tak mampu menghadirkan kehangatan kala tubuh rapuh dan kedinginan. Hanya anaknya yang sudah berumur 18 tahun yang bertahan menemaninya.  Hitam kulitnya jadi penanda bahwa siang harinya ia lewati di bawah sengatan matahari, dan malamnya ia berkelahi dengan dingin. 

Selasa, 19 April 2011

2 Menit Untukmu

Ini tidak akan panjang, kau akan menemukanku terkapar tak berdaya segera setelah membacanya. Ya sayang, hari aku tak bisa menemanimu, menjadi bidak pion terdepan adalah peran yang mesti kujalani demi bertahan hidup. Hampir saja semuanya kutukar dengan hal menyebalkan ini, bekerja! Bahkan saat kau pun sakit aku hanya bisa memberikan sedikit waktu untukmu, hanya 2 menit! Itupun aku harus lihai mencurinya dari panjangnya jam kerja yang membosankan. 

Semoga kau tidak terus-terusan dipusingkan dengan prosedur sampah kampus, yang memaksamu melakukan hal yang sama sekali tak kau sukai.  Jika semuanya sampai di titik didih kejenuhan, kita toh masih punya sedikit spasi diantara bosannya rutinitas. Kita akan merayakan kematian kepalsuan diri dengan bergandengan, tertawa dan mencaci semua yang sudah berlalu. Brengsek! Hidup begitu pendek untuk dijalani dengan hal-hal yang miskin makna.  

Saya akan mentupnya dengan kecupan hangat, tentu saja hanya buatmu dan ini dari ku. Semoga itu cukup untuk menawar sepi dan penat di esok hari, selamat tidur dan teruslah bermimpi wahai kau  feromonku :p.

Sabtu, 16 April 2011

Kerangkeng Hari Sabtu

Image Hosted by PicturePush - Photo Sharing
Prison Break, Si Kumis Lele :p
Hari ini hari sabtu, sudah kuniatkan semalam untuk tidur sepuasnya diakhir pekan ini. Sungguh pekan yang menjengkelkan, ditendang dari kost-an, dapat kerjaan baru yang buat kau harus naik tangga 5 kali dalam sehari menuju lantai 3, dalam keadaan tidak fit lagi. Argghh…! Saya mau balas dendam dengan bermalas-malasan di akhir pekan ini. Hehehe


Sabtu subuh, mata terus melotot pada layar komputer, kebetulan sinyalnya modem lagi ciamik, juga ada teman keren yang sudi untuk ku ganggu. Lagian ini demi dia yang  punya penyakit insomnia akut, jadilah kami ngobrol lewat monitor. Hahaha. Pengeras suara dah teriak-teriak di subuh buta, itu tandanya saya harus segera cabut menuju pulau kapuk. Saya akhirnya ngorok di samping perempuan tua yang kepincut sama pesbuk. Apalagi tak lama berselang hujan pun turun, tidur makin sempurna, sungguh menyenangkan. 


Belum lagi matahari merangsek keluar dari kumpulan awan hitam, tiba-tiba kudengar suara pintu digedor kuat, akhirnya dengan malas saya bangun dan membuka pintu. Ternyata si pria bengis berhati merah muda yang datang di jam 9 pagi. Ia menanyakan apakah Opa menitip sejumlah uang padaku. Kujawab tidak. Kutanyakan perihal uang tersebut padanya. Ia bilang buat bekal si kumis lele yang sedang mendekam LP akibat kasus kemaren. Kami tak ngobrol banyak, kutawarkan sisa uang kostku yang dikembalikan si empunya kost untuk ia pinjam. Uang itu rencananya kupakai untuk menyewa kamar bar, tapi karena sampai detik ini tidak ada kejelasan di mana kamar baru yang akan kupinang sebagai tempat menghabiskan penat, makanya saya tawarkan saja padanya. Ia lantas mengajakku ke sana tuk menjenguk si kumis lele. Saya mau saja, kan nanti setelah pulang dari sana, saya bisa melanjutkan tidur panjang yang sudah kuagendakan. :)


Motor dengan warna hijaunya yang menyebalkan itu melaju kencang di hari yang mendung. Kami terlibat perbicangan panjang tentang banyak hal, mulai dari soal kuliahnya hingga kabar teman-teman yang masih setia nongkrong di taman hitam. Selain berhati pink, ia adalah pria dengan segudang informasi yang dengan lancar bercerita. Tak terasa belasan kilometer telah kami lalu, sampailah kami di LP. Setelah markir motor, kami menuju loket registrasi pengunjung atau penjenguk tahanan. Saya mengeluarkan KTP ku, si penjaga loket kemudian menyemprotkan kalimat, “kalo ada uangmu di situ, bisa ko kasi untuk biaya adminstrasi? Kalo nda ada ndapapaji”. Saya kemudian bertanya berapa jumlah uangnya, pria tua berkacamata tersebut, menjawab, “dua ribu mo”. Saya nda pikir panjang, langsung saja saya beri uang yang ada di kantong belakangku.  


Kami menuju pintu masuk yang pada sisi depannya terpampang gambar pohon beringin, dihiasi barisan huruf balok bertuliskan PEMBINAAN. Sebelum masuk, kami sempat menimpali kejadian tadi, “biar mi deh, kasi mi saja, mau ji juga makan itu bapak tadi”, kata si pria pink. Hahaha. Kami pun menyerahkan secarik kertas dari loket tadi dan ditukarkan dengan semacam Id Card pengunjung. Kami  diarahkan petugas menuju ruang penggeledahan, tubuh kami didekatkan dengan alat pendeteksi logam, tas si pria pink digeledah demi mencari barang terlarang. Saya tak tahu barang seperti apa yang telarang. Ganja mungkin..hahaha


Kami menyerahkan secarik kertas tadi ke petugas jaga kunjungan, ia kemudian mengumumkannya melalui alat pengeras suara, nama si kumis lele pun membahana seantero kompleks penjara. Tak lama berselang si lele muncul, rambut kritingnya sudah tak ada, kepalanya hanya dibalut rambut tipis, kumis lelenya juga sudah menghilang, yang tersisa hanya senyum lebarnya yang khas yang ia bagi pada kami saat bertemu. Tak banyak perubahan pada dirinya, hanya saja ia mengeluh bosan, nassami bosan ka disitu terus ko bela.hahaha.  Ia menumpahkan banyak kisah pada kami, tentang kasusnya, tentang kesehariannya di LP. Tepatnya ni si kumis punya kisah dilengkapi dengan OST dari lagunya Linkin Park “Waiting for The end”, atau The Killers dengan “Human”, hahaha, apa hubungannya coba? Cari mako sendiri! 


Seringkali saya tak menyimak apa isi obrolan ini, saya sibuk dengan isi kepalaku sendiri. Mengapa ada penjara, ada sipir, ada polisi, ada tindakan kriminal? Alah, masa mesti nganalisis lagi di tulisan ini, capek tau! Hahahaha. Pokoknya barang macam ini (penjara cuy!) itu baru ada semenjak muculnya peradaban. Kerangkeng digunakan untuk mengucilkan orang-orang yang dianggap mengancam tatanan peradaban yang ada, baik itu karena gila, terkena penyakit menular, atau sekedar protes atas banyak TAI yang bermunculan karena adanya kekuasaan tersentral. Begini mo pade singkatnya, ni barang dipake untuk menciptakan terror demi menciptakan ketertundukan pada order  yang sementara berjalan. Istilah kampusnya itu domestikasi manusia, penjinakan. Tahapan linear dari konsekuensi membangun peradaban, domestikasi alam, domestksi kehidupan harian kita! Sudah mi deh tambah parah nanti ini tulisan. :p


“Ting, ting, ting” suara bising keluar dari sumber yang tak ku ketahui di mana asalnya. Tiba-tiba ruang besuk menjadi gaduh, semua orang bercakap dengan terburu-buru, dua sejoli yang berada di samping kami pun melepaskan pelukan mereka. Banyak ekspresi keluar dari wajah mereka, ada yang muka bussu’, sedih, tetapi tetap ada simpul kecil yang melintang di beberapa wajah mereka. Ini tanda jam besuk sudah berakhir, si lele pun kembali melempar senyumnya kepada kami, “fella, buku nah nanti, bawakan ka’” sergap lele. Kamipun mengangguk dan pamit pulang. 


Mendung masih saja nongkrong dilangit Makassar, membuat perjalanan kami tak terlalu penat. Si Hijau kali ini tak terburu-buru lagi karena di hari Sabtu si pria berhati pink berwajah garang tak punya agenda khusus, saya pun begitu. Dan kamipun kembali tenggelam dalam percakapan tak penting demi menolak kebosanan perjalanan menuju kota yang punya obsesi gila menjadi kota dunia. :p

Selasa, 12 April 2011

Ini tentang Ibu, Tanta atau Uni di Jalan Bung!

Untuk kedua kalinya, saya bangun pagi, pagi sekali. Mungkin karena kondisi tubuh yang buruk memaksa ku untuk beristirahat lebih cepat di malam hari. Tapi, sama ji bangunnya juga terlalu cepat, hehehe..kenapa jam tidur dan bangunku seperti orang kantoran ya? Padahal ini rutinitas yang paling menyebalkan yang hampir setiap orang harus jalani, tidur cepat (demi kesehatan dan kebugaran) dan bangun di subuh hari (agar tak telat masuk kerja). Hei, kau melakukannya hampir tiap hari? Kau sinting ya? Hahahaha

Sudah-sudah, nanti saya melebar membahas panjang masalah alienasi dan pasar kerja, hahaha, kayaknya bukan di sini deh tempatnya. Kebetulan hari ini hari pertama ku cerai dari pondokan laknat perusak komputerku itu, untuk sementara saya ngungsi dulu di tempatnya anak-anak di Wesabbe, sambil mencari pondokan yang pas. Saya sebenarnya sedih berpisah dengan jalan bung. Tempat pertama kali saya habiskan malam di kota Makassar ya di bung ini. Saya masih ingat, ketika itu saya nda bisa tidur, terbangun jam 4 subuh, saya begitu terganggu dengan banyaknya suara yang berteriak-teriak melalui pengeras suara di subuh hari. Banyak dudui, deh, sampe-sampe sakit kepalaku.

Tapi ada yang hal yang tidak bisa kulupa dari jalan bung. Sebuah Warung makan, ia tak mempunyai nama jadi saya dan teman-teman dengan bebas menyebutnya warung tanta, ibu, atau Uni, nama anak dari ibu penjual makanan berat yang ketika itu tak jauh dari pondokan pertamaku. Seperti warung makan lainnya, ibu sebelum siang sudah siap dengan food gallery-nya, ada perkedel, ikan goreng, tempe tahu,  sayur bening, tumis, santan. Sungguh tak jauh berbeda dengan jenis masakan di rumah di kampung, hal ini membuatku tak perlu bersusah payah beradaptasi dengan jenis makanan di Makassar yang ku kira akan sangat berbeda. 

Ketika menjadi mahasiswa baru universitas hampir swasta Unhas di tahun  2004 silam, seingatku harga makanan dulu di Ibu itu seporsinya Rp 2.500,-. Itu sebelum BBM naik setahun kemudian. Ada satu hal yang menarik menurutku dari konsep Ibu menjual makanan sehingga mampu menarik banyak pembeli. Yaitu sistem prasmanan, kita bebas mengambil sendiri, mulai dari jenis makanan hingga jumlahnya yang ingin kita lahap di tempat itu. Bebas cuy, hanya saja kalau lauk utama seperti ikan atau telur kamu masukkan dalam satu porsi itu harganya agak sedikit naik, tapi seingatku untuk yang lainnya itu kalo ditambah nda dikenakan biaya tambahan, nyamanna makan sepuasnya. Hahaha

Ibu pun tidak hanya membangun relasi ekonomi semata dengan kami para anak kost, yang bisanya hanya sebatas pembeli dan penjual. Ia selalu menanyakan kabar kami, bagaimana kuliah kami, ospek kami, bahkan apa sudah ada pacar kami.hehehe. Ibu bertindak layaknya ibu, senyumnya yang membuat nyaman, repotnya ia ketika kami datang berbondon-bondong dengan memasang wajah bajipur (bajingan cipuru’) sepulang kuliah. Relasi emosional itu penting lho di tengah masyarakat sakit seperti sekarang ini yang hanya mengutamakan satu hal, pengejaran profit sebanyak-banyaknya. Peradaban kita sungguh dibangun pada satu pondasi yang lucu menurutku, yaitu kegilaan dan kesakitan. (aduh mulai lagi deh, kambuh :P)

Saya juga selalu melihat perubahan padanya dan keluarganya. Dulunya ibu rambutnya hitam lebat, entah kenapa setahun belakangan saya perhatikan sudah banyak uban, alias banyak rambut putih diantara arsiran rambut hitamnya. Saya juga sering bercanda dengan cucunya yang ketika dulu masih balita, deh sekarang sudah sekolah di SD Inpres Bung. Atau anak gadisnya Uni yang kini sudah menjadi Ibu dari bocah botak bermata sipit hasil perkawinannya dengan seorang pria gempal, hitam dan ramah. 

Semua berubah, Ibu sudah mengganti TV kusam tua miliknya dengan TV baru dan canggih. Hehehe. Jadilah saya sering numpang nonton berita siang kalo sempat makan di situ. Sekarang ibu sudah jauh, dari wesabbe lumayan nampar betis lho kalo mau jalan kaki ke Bung :P. Untuk beberapa saat saya membiarkan lidahku jauh dari masakannya, jauh dari ibu dan nanti sekalian mampir bisa kutumpahkan semua kerinduanku, hahaha, makan cuy sampe poge’.

Senin, 11 April 2011

Sepasang Gumpalan Daging

Di saat normal pun ia tampak jadi anomali di saluran kerongkonganku. Sesekali aku melihat bayangannnya melalui cermin. Rupanya pasangan ini sangat betah berlama-lama menempel di tubuhku. Katanya, mereka ini adalah pasukan penahan invasi virus dan kuman yang mau masuk ke tubuh melalui jalur kerongkongan. Dan seingatku mereka mulai bekerja bereaksi terhadap kondisi lingkungan yang buruk saat masih harus memakai seragam putih merah. Ketika tubuh tidak fit seperti saat saya menuliskan ini, di serang flu, kemudian sakit kepala, mereka pun bereaksi membengkak dan memicu produksi air liur dan dahag. Awweh...sungguh menyebalkan. 

Saya tidak tahu apa istilah medisnya, tapi orang-orang sering bilangnya kalo mereka adalah amandel. Gumpalan daging yang tumbuh pada saluran kerongkongan memang dirancang untuk tujuan khusus. Saat mereka membengkak ada beberapa hal yang bisa dilakukan sendiri untuk membuat amandel kembali menyusut dan infeksi tidak terjadi. Nih ada beberapa poin yang sempat ku curi dari blog nya orang hehehe:
* Diusahakan untuk minum banyak air atau cairan seperti sari buah, terutama selama demam.
* Jangan minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan, makanan awetan yang diasinkan, dan manisan.
* Berkumur air garam hangat 3-4 kali sehari.
* Menaruh kompres hangat pada leher setiap hari.
* diberikan terapi antibiotik (atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk mencegah komplikasi.
* Istirahat yang cukup. 

Sepertinya semua sarannya bisa dikategorikan DIY yah? Hehehe Do It Yourself, dude! Alias bisa dilakukan sendiri. Hehehe. Pace juga kasi resep, katanya perasan jeruk nipis dan air hangat membantu mempecepat amandel itu gembos. Ah, saat-saat begini jadi rindu hangat rumah. Hehehe. 

Mantap cuy, lagi beringus begini kita embat dia
Kayaknya memang penyebab membengkaknya tuh tameng berbahan dasar daging adalah kondisi eksternal seperti cuaca, atau masuknya debu, atau bahkan bahan aditif yang terkandug dalam makanan yang masuk ke kerongkongan. Sulit memang mencari kondisi yang aman (menurut katergori kesehatan) di tengah kota metropolitan yang sedang dihantam sihir pembangunan, seperti Makassar. Belum lagi kenyataan bahwa asupan makanan yang kita konsumsi sehari-hari hampir seluruhnya adalah hasil pertanian transgenik. Dan juga banyaknya zat aditif makanan artifisial yang ditambahkan produsen makanan siap saji, sebagai upaya untuk menjawab mekanisme pasar yang punya hukum permintaan dan penawaran. Dan juga sistem ekonomi kapitalisme mengamini persaingan bebas tanpa batas antara pengusaha, siapa yang tidak memproduksi dengan murah dan menjualnya dengan lebih murah dari perusahaan lain, maka ia akan mati. Menger jako? Saya tidak. Hehehehe

Jika sudah begitu kenyataannya, hanya ada beberapa pilihan kejam yang harus ditempuh produsen makanan agar bisa memangkas biaya produksi, yang pertama menurunkan upah buruh. Jika pimpinan serikat buruh sudah disuap, akhirnya anggotanya manut, langkah lainnya adalah memakai bahan aditif makanan untuk menjaga rasa tetap enak walaupun dikurangi jumlah bahan baku yang betul-betul bahan makanan asli. Selain itu, zat aditif berupa monosodium glutamat atau yang na bilang maceku vitsin itu memang luar biasa bekerja menyedapkan makanan, hmm bubuk ajaib, aditif sekaligus adiktif.  Tapi deh, ko tau apa yang dampak jangka panjangnya bagi tubuh kalo terus-menerus dikonsumsi sepanjang hidup? Nanti pi kucari lagi. Hahaha

Belum selesai tadi soal tumbuhan dan hewan transgenik yang kita konsumsi sehari-hari. Aduh tapi ini ingus keluar-keluar mi. Kalo penasaran soal ini ada buku bagus pernah kubaca judulnya Rekayasa Genetik: Impian atau Petaka, terbitannya Insisst Press. Hehehe. Sampai nanti ya, saya mau menyedu mie instan  dulu, sarapan pagi anak kost, hehehe. Wah, ada MSG nya hahahaha. Tak apa, masih ada Rumah Sakit yang mengalunkan lagu Sakit Sendiri nya buatku.

Minggu, 10 April 2011

Menjaga Kantong Ajaib

Kantung Ajaib Sebenarnya
Kantung mataku tampak seperti jelaga, melingkar di sekelilingnya dan belum juga mau menyusut, hari ini pun saya mesti bangun pagi setelah sebelumnya berjibaku dengan setumpuk pekerjaan hingga  subuh hari. Jenis pekerjaanku ini mengandalkan satu hal, kelihaian jari ku menari di atas keyboard komputer. Ya, menjadi seorang yang bertanggungjawab untuk mendokumentasikan sebuah kegiatan dalam bentuk tulisan membuatku mampu meninggalkan teknik lama mengetik dengan ’11 jari’ menuju ‘unlimited finger for typing shit’ (hahahaha). Namun tetap saja, durasi kegiatan yang begitu panjang membuat ku harus menuliskan semuanya ke dalam puluhan bahkan ratusan lembar, yang memakan waktu cukup lama.  Dan alat satu-satunya yang saya punya agar bisa merampungkannya adalah komputer butut peninggalan masa kuliah dahulu. Dia sungguh kuat, hingga hari ini mampu menemaniku ditiap bilik masa yang ku lalui. 

Jika ia bisa bicara, mungkin komputer ku ini akan melayangkan protes padaku. Kenapa ia begitu jarang saya istirahatkan, hampir tak pernah aku bersihkan atau sekedar menambahkan hardware baru untuk membantunya ‘berlari’ saat bekerja. Ah, ia memang temanku yang setia. Sudah 4 ruang kamar sewa yang kutempati, dan ia selalu punya spasi di tiap kamar tersebut. Bagiku, ia seperti kantung ajaib Doraemon yang begitu berharga dalam kondisi apapun. Selagi bosan, saya bisa memutar lagu atau menghibur diri dengan game miliknya. Jika banyak tugas atau kerjaan, ia punya alat yang pas agar pekerjaanku cepat selesai. Saat saya rindu dengan semua temanku, aku bisa menggapainya lewat dunia maya melalui layarnya yang mulai kusam itu. Jika ingin membaca, ia punya segunung bahan bacaan, artikel buku dan sebagainya. Laparnya mata ini ketika ingin nonton film, ia sudah kupersiapkan dengan setumpuk file film menarik. Hei kamu, komputerku , kau sangat berguna. hahahahaha

Meskipun kau sering sakit akibat virus brengsek buatan korporasi antivirus rakus itu, namun sedianya saya selalu bisa menemukan obat yang pas. Jadilah kau sangat jarang sakit, apalagi sampai tidak bisa bekerja. Tetapi setahun terakhir, kau dan aku berhadapan dengan masalah baru, kelayakan pasokan listrik untuk bisa membuat otot dan otak mu bekerja sama sekali buruk. Seringnya listrik rumah kost padam akibat kelebihan pemakaian yang tidak sebanding dengan daya normal yang terpasang membuat perangkat kerasmu compang camping. Gudang data mu alias hardisk adalah organ tubuh pertama yang menjadi tumbal akibat krisis listrik ini. Kemudian disusul bunyi bising dari perangkat audio pada motherboard mu. Semuanya sungguh mengganggu. Puncaknya ketika hardisk berkapasitas 160 GB harus saya cabut dari tubuhmu dan menggantinya dengan yang baru karna rusak parah. Ini namanya“Sungguh terlalu” , kata bang Rhoma.

Bukannya tanpa sebab, mengapa listrik di kost ke empatku ini sering ‘latto’. Kehadiran kulkas milik ibu kost yang memutuskan untuk ikut tinggal di dalam rumah kost menjadi penyebab utama ketidakmampuan daya 900 watt milik rumah ini memikul semua hisapan listrik alat elektronik yang dimiliki semua penghuni. Jadilah, bapak meteran mengambil langkah taktis ketika pemakaian melewati batas kemampuan, mematikannya!

Ketidakmampuanku membeli UPS yang punya fungsi seperti baterai isi ulang pada laptop dan handphone, agar mencegah komputer ikut padam ketika listrik mati, membuat organ tubuh si dia rontok satu persatu. Karena komputer memiliki banyak komponen yang sangat sensitif terhadap perubahan tegangan, apalagi listrik yang tiba-tiba terputus pasokannya. Seorang teman yang jago soal komputer pernah menjelaskannya padaku, ia bilang hardisk memiliki dua komponen vital, jarum pembaca sekaligus penulis, dan piringan tempat menaruh/menuliskan data. Jarak antara keduanya ia gambarkan hanya setebal rambut manusia saat tidak dinyalakan. Saat bekerja, kedua permukaannya bersentuhan dengan batas pekerjaan yang diperintahkan, apakah membaca atau menuliskan data. Dan ketika listrik padam, kedua komponen ini saling bergesekan tajam tak terkontrol akibat kehilangan daya. Jadilah piringan tersebut tergores sana sini. Sisi yang tergores biasanya disebut bad sector, yang sudah tidak bisa lagi dipakai untuk ditulis atau dibaca oleh jarum ‘sakti‘. Semakin sering komputer mati tak wajar alias tidak dimatikan dengan perintah kita melalui OS yang kita install, maka semakin banyak bad sector yang muncul, bagai panu yang menjalar ke seluruh tubuh. Akhirnya, bang! Hardisk totally broken, damn it!

Dengan jerih payah mengetik semua dokumentasi kegiatan yang diselenggarakan sebuah lembaga donor asal negeri yang paling ‘kassa’ produksi sepeda motor itu, saya akhirnya mampu membeli hardisk baru. Kapasitasnya juga lumayan 1 Tera Byte, ‘senangnya dalam hati’seperti kata si Ahmad Dhani dalam lagu daur ulangnya madu tiga. Tetapi akar permasalahan belum juga terselesaikan, listrik di rumah kost masih saja sering padam. Di minggu ke tiganya, hardisk baru mulai menujukkan tanda-tanda ketidaknormalannya. Salah satu partisinya setiap kali log on OS, itu seringkali meminta disk checking. “Anjritt, masa’ hardisk ku yang baru sudah rusak lagi”. Saya memendamya dalam-dalam, lagian saya seringkali melupakannya karena tumpukan kesibukan di tiap harinya. 

Tibalah saya pada satu momen, setelah merampungkan dokumentasi tulisku saya kemudian didaulat untuk menjadi sekretaris kegiatan lokakarya jurnalistik bagi alumnus Jurusan Ilmu Kelautan Unhas. Namanya juga sekertartis, sedikit banyak bersentuhan dengan tugas ketik mengetik berbagai keperluan adiministrasi untuk mendukung terlaksananya kegiatan ini. Dasar brengsek, di pagi hari nan cerah ketika saya sedang olah jari di atas keyboard listrik tiba-tiba padam, selang beberapa menit kemudian menyala kembali. Dengan sesak di dada menahan jengkel, saya menyalakan kembali komputerku, mencari dokumen yang baru saja ku ketik. Saya mulai merapikan beberapa bagian yang tidak sempat disave, saya mesti mengetiknya kembali, bertambahlah kekesalanku. Tak lama kemudian, listrik kembali padam, saya tak bisa membendung lagi amarahku, keluarlah makian dari mulut, ditambah tendangan telak ke badan pintu kamar. 

Saya lantas mencari biang kerok permasalahan yang tak lain adalah pemilik rumah kost. Saya mendapatinya di teras rumah. Saya membuka percakapan dengan nada tinggi, menumpahkan kekesalanku selama ini, tentang listrik yang sering kali padam, daya listrik yang tak sesuai dengan konsumsi listrik semua penghuni dan tentu saja mengenai kepemilikan kulkas jahanam empunya kos yang membuat ini semua terjadi. Percakapan menemui jalan buntu, karena saya dan bos kos diselimuti amarah. Saya lantas melontarkan peryataan menantang, “jika tidak ada solusi, saya menolak membayar uang listrik untuk bulan ini, jika anda tidak terima, boleh usir saya tapi kembalikan uang sewa saya”. Saya pun meninggalkannya dalam kebisuan, menuju kamar ku untuk melanjutkan pekerjaan dan berharap listrik tidak lagi padam. Selang beberapa saat empunya kos menyatroni kamarku. Membawa secarik kertas dan beberapa lembar uang merah. Rupanya ia menerima permintaanku untuk pindah, entah karena ia tidak suka dengan kelakuanku tadi, atau apa. Saya pun langsung menerima uang itu dan mengajukan tenggat waktu pindah selama 1 minggu . Ia menyetujuinya, saya menghindari percakapannya soal listrik tadi, karena saya sudah bosan dengan argumennya yang kering solusi.  Saya menutup percakapan  itu dengan segera karena harus melanjutkan pekerjaan saya. 

Tapi setelah saya pikir-pikir, biaya hidup yang terlalu tinggi menyebabkan pemilik kost-kostan segan untuk menaikkan daya listrik di tempat kami. Jika daya listrik dinaikkan, maka biaya beban normal tanpa pemakaian juga akan naik, tentu saja hal ini makin memberatkan penghuni rumah kost ini. PLN sebagai institusi di bawah naungan pemerintah terus mendapatkan rapor buruk sebagi BUMN yang paling sering mengalami kebocoran dana, penyebabnya apa lagi, ya kalau bukan korupsi. Di tiap akhir pelaporan anggaran, PLN selalu mengumumkan kerugian yang besar, padahal dana segar yang dihisap dari konsumennya yaitu masyarakt itu sendiri, lebih banyak masuk ke kantong pejabat terasnya. Relasi sosial yang mirip dengan bentuk upeti jaman feodal dahulu nyatanya terjadi di masa sekarang, namun dengan bentuk yang lebih samar. Kami para pekerja upahan, bersusah payah banting tulang di tiap jam kerja, lantas seketika dirampok penghasilan kami melalui pembayaran tagihan listrik yang tinggi. Dan nyatanya kenaikan tarif dasar listrik di tiap masa setelah perhelatan pemilu besar-besaran di negeri ini, sama sekali tidak di ikuti peningkatan pelayanan yang berarti. Sebut saja pemadaman bergilir yang berlangsung setahun silam di kota Makassar. Kita bisa melihat betapa tololnya pemerintah dengan menyetejui membeli dan membangun infrastruktur PLTA Bakaru Pinrang tanpa menyiapkan tenaga teknis yang mampu memelihara dan memperbaiki peralatan tersebut. Akibatnya ketika satu elemen kecil dalam mesin pada PLTA Bakaru rusak, kita harus menunggu berbulan-bulan hingga datang tenaga teknis dari Jerman, asal mesin tersebut dibuat. Dan kami sebagai konsumen dipaksa menikmati pemadaman bergilir yang menghancurkan property elektronik kami. Dan anehnya, tidak ada perubahan signifikan dari jumlah tagihan listrik sebelum adanya pemadaman dan setelahnya. Sungguh korup PLN ini! 

Dari pada saya terus menggerutu dengan analisa pas-pasan dan sotta’ mending saya akhiri saja. Sekedar informasi boy, saya menulis gerutuan ini 4 hari setelah saya mengajukan protes itu dan masih belum menemukan kamar kost yang baru untuk tinggal nantinya. Oh Iya, juga sementara berlangsung pelatihan atau Lokakarya Jurnalistiknya ISLA, dan Nurhady Sirimorok yang didaulat menjadi pematerinya mampu membakarku untuk kembali menulis, maka jadilah onggokan huruf-huruf ini. :P

Tampilkan postingan dengan label Catatan Biasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Biasa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2015

Apa Kata TV Soal Konsumerisme

source : fineartamerica.com/profiles/allan-swart
Di ruang tengahnya yang hangat, David selonjoran di sofa, menjulurkan tangan lalu menekan tombol remot TV dengan malas, mencari-cari sesuatu untuk menghiburnya. Tapi percuma saja, Ia tetap gelisah menahan hasrat yang lebih besar daripada akal sehatnya. Matanya melirik jam dinding, sudah jam 1 malam rupanya. Dia tahu, kota seperti Sydney -tempat ia tinggal saat ini- ada banyak super market yang buka 24 jam. David sudah tidak tahan lagi, ia sambar baju hangat yang ada di ruang tengah, juga kunci mobil dan bergegas ke garasi. Mobil ia pacu, berharap agar ‘birahinya’ ini bisa segera menemukan pelampiasan.

Terang neon toko menyambut riang David, “oh saat-saat yang mendebarkan”, gumamnya.
Satu jam kemudian David keluar dari supermarket menenteng dua kantong besar belanjaan. Perjalanan dari kasir, ke pintu keluar menuju halaman parkir adalah puncak kenikmatan. Ia tak akan menyianyiakannya, David sedang “high”. Candu telah ia temukan, dihisap, dikunyah, dibiarkannya mengalir ke darah menuju otak dan mengantarkan domapin yang penuh kesenangan. Akhirnya Ia bisa tidur nyenyak malam ini.

Pagi, matahari lembut menyapu wajahnya. Tak jauh dari tempat tidur dua tumpuk barang bersesak-sesak di dalam kantong plastik putih. David menatap lesu. Penyesalan perlahan mengalir, memancar kemudian meledak di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hangat pagi membuatnya sadar, kecanduan akan belanja belum bisa ia kendalikan. Ia sakit dan butuh pertolongan.

Cerita mini di atas adalah potongan adegan program “Taboo” yang ditayangkan NG yang kali ini membahas tema “Addicted”. Sungguh sebuah kebetulan yang menarik sekaligus mengusik. Karena di malam yang sama saat tayangan itu muncul, saya baru saja menyelesaikan membaca buku “Sosiologi Waktu Luang: Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mall”. Buku ini ditulis oleh M. Ridha, seorang kenalan saat saya sedang aktif-aktifnya menghidupi sebuah jurnal bersama teman-teman di Makassar.

Addicted dan buku karya Ridha sama-sama membahas tentang konsumerisme, kebiasaan yang mulai menggeliat pada era pasca revolusi Industri, kemudian meledak di Eropa dan menjalar ke negara-negara dunia ke tiga termasuk Indonesia.Tentu saja keduanya membedah belanja dari perspektif yang berbeda. Dan karena perbedaan itulah saya membuat tulisan ini. Perbedaan-perbedaan ini serius adanya dan berimplikasi pada audiensnya masing-masing, pembaca pada buku M. Ridha dan pemirsa/penonton pada Addicted.

Pola, Narasumber dan Sudut Pandang “Addicted”

Baiklah saya akan bahas apa yang Addicted tawarkan ke pemirsa seperti saya. Lewat sebuah buku berjudul Analisis Framing yang kubaca 2008 silam, saya yang bukan mahasiswa Ilmu Komunikasi memperoleh sedikit panduan bagimana menilai sebuah karya Jurnalistik. Salah satunya adalah cara menebak sudut pandang sebuah berita (dalam kasus ini adalah sebuah dokumenter) melalui pemilihan narasumber. Mengetahui sudut pandang berarti mengetahui pesan “sebenarnya” yang ingin disampaikan oleh sebuah dokumenter sekaligus menyadari motif dibalik pembuatannya.

Sejauh yang saya amati ada 3 narasumber yang NG tampilkan dalam alur cerita Addicted. Yang pertama adalah David warga Sydney pengidap Shopaholic, Celia berprofesi sebagai psikiater dan terakhir dosen pengajar jurusan psikologi, Robert.

Ada pola yang berulang yang digunakan oleh NG dalam menceritakan Addicted. Menampilkan kisah David lebih dahulu, dikomentari oleh psikiater kemudian dilengkapi oleh pendapat dosen. Selama 30 menit menonton acara ini, pola ini cenderung konsisten dan tak berubah. David seperti terdakwa yang sedang disidang, ia dinilai oleh jaksa, hakim dan juri sekaligus. Tentu saja karena David adalah orang dengan perilaku menyimpang.

Namun, mengapa NG hanya menggunakan dua narasumber dari latar belakang yang sebenarnya hampir sama, psikologi? Addicted mengulik kecanduan belanja dari sudut pandang psikis semata! Hal ini menggiring saya (pemirsa TV) untuk menerima pesan bahwa shopaholic merupakan satu jenis penyakit jiwa disebabkan karena semata kelalaian dan kelemahan si pengidap serta faktor eksternal lain. Ada beberapa scene di mana faktor eksternal dijelaskan sebagai salah satu katalisator kecanduan pada David. Contohnya, scene di mana David diceritakan mewarisi beberapa juta dollar tabungan dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Selanjutnya ada kartu kredit dan bukti peminjaman dana. Kemudahan-kemudahan itu memberi jalan yang lapang bagi David untuk masuk ke dalam perangkap candu belanja.

Itu saja? Ya, saya pikir argumentasi NG melalui Addicted hanya sebatas pemberitahuan dan peringatan kepada pemirsanya. Ini adalah program TV yang memberi anda info tentang jenis kecanduan lain selain narkoba namanya shopaholic, ia berbahaya, bisa bikin bangkrut dan menghancurkan kehidupan (masa depan?) kita. Ini adalah sejenis penyakit yang muncul di jaman modern, kita harus berusaha keras untuk menghindarinya.

Itu adalah pesan yang baik, tulus dan menghindarkan kita dari bencana. Dan satu lagi, Addicted benar adanya, tapi tetap saja tayangan ini membut dahi saya berkerut.

Kedangkalan Bisa Jadi Sesat

Penggalian NG pada shopaholic hanyalah di permukaan saja, sementara sebab musabab lain masih dalam tertanam -tak dijangkau olehnya- sehingga pemirsa juga tak melihatnya. Apakah ini sengaja dilakukan? Atau karena soal durasi? Saya pikir bukan.  

Menuduh individu yang tak mampu menahan hasrat dan dukungan faktor eksternal sebagai penyebab gila belanja adalah kesimpulan yang prematur. Karena jika menilik akar historisnya shopaholic, konsumerisme disebabkan oleh faktor-faktor yang bersinggungan dengan lapangan ekonomi, politik, sosiologis juga psikologis (ranah yang dieksplogasi NG dengan sangat dangkal dalam addicted).

Tampaknya semakin rumit dan untuk menghindarinya saya tidak kan membahasnya terlalu panjang.

Sebagai televisi yang identik dengan nama majalah yang punya reputasi sangat baik, sebenarnya saya mengharapkan lebih ketika mereka menayangkan program-programnya. Namun tidak seperti artikel-artikel di majalah yang terkenal mendalam dengan pemilihan narasumber yang hati-hati dan kompeten, Addicted berbeda jauh secara kualitas.

Saya mengharapkan Addicted mampu mengeksplorasi shopaholic dengan lebih menyeluruh misalnya dengan menceritakan sejarahnya, latar sosial, ekonomi dan politik ketika penyakit jiwa tersebut mulai muncul dan menyebar. Siapa tahu saja, NG menemukan fakta bahwa penyakit gila belanja sudah temukan sebelum revolusi Industri dan revolusi Perancis terjadi. Dua momen penting sebagai tonggak lahirnya ideologi dominan hari ini : kapitalisme.

Saya juga berharap NG menampilkan data-data yang menjelaskan keterhubungan durasi menonton TV dengan jumlah konsumsi per kapita sebuah kota atau negara. Ekspektasi selanjutnya adalah Addicted akan menyuguhkan gambar saat peristiwa Malaise terjadi Amerika Serikat yang diakibatkan oleh over produksi. Momen yang diawali Selasa Kelam, peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929 menyebabkan depresi ekonomi berat di negeri uncle sam. Kejadian itu membuat korporasi belajar bahwa over produksi  adalah penyakit inheren dalam sistem kapitalisme dan obatnya selain ekspansi pasar juga mendorong semua pasar (baik yang dekat maupun yang letaknya ribuan kilometer jauhnya) untuk mempraktekkan budaya baru : konsumersime.

Saya mencurigai NG menyembunyikan fakta-fakta tentang konsumerisme sehingga pemirsanya mengambil kesimpulan yang prematur dan akhirnya tersesat. Penonton jadinya tak tahu duduk persoalan sebenarnya tentang konsumerisme, melanjutkan hidup dan tak akan mempertanyakan lebih jauh dunia seperti apa yang mereka jalani saat ini.

Agak naïf memang mengharapkan NG menelanjangi negara seperti AS-di mana korporasi raksasa bercokol-yang aktif mengekspor budaya mereka demi diadopsinya konsumerisme sesegera mungkin oleh negara-negara dunia ke tiga (baca: pasar). Naif memang, karena NG juga merupakan salah satu garda depan, bersama MTV, Hollywood dan kawan-kawannya yang aktif mengindtrodusir kebudayaan barat melalui tayangan-tayangannya. Standar hidup, membeli asuransi, makan di gerai-gerai cepat saji, jalan-jalan ke Mall, memakai baju, sepatu dan pernak-pernih yang dicontohkan para idola dari California adalah sedikit dari segudang kebiasaan baru yang diperkenalkan oleh barat ke negara-negara seperti Indonesia. American Dream, dua kata yang akrab saya dengar dari film Hollywood atau lirik dari lagu favorit saya.

Kita bisa tengok India, pada tahun 1990 hanya 10% dari total populasi masyarakat India yang mampu mengakses TV. Angka tersebut berubah menjadi 75% pada tahun 1999, delapan tahun setelah pemerintah India setuju untuk meminta bailout pada IMF dan merevisi sejumlah kebijakan ekonomi. Globalisasi ekonomi India kemudian diikuti oleh globalisasi kultur, beberapa orang menyebutnya sebagai westernisasi India. Stasiun TV asing meningkat pesat jumlahnya, begitu pula impor film Hollywood yang membanjiri pasar film nasional dan bersaing dengan film-film lokal[1]. Televisi yang banyak membawa nilai-nilai dari luar terutama dari Barat memberikan pola pemikiran baru, masyarakat mulai menginternalisasi nilai-nilai yang dipromosikan yang kemudian mendorong terciptanya gerakan bagi pola hidup mereka[2]. Seiring dengan hal tersebut, di India kemudian terbentuk jenis kelas sosial baru yaitu kelas menengah. Mereka mengejar standar hidup barat, fasih berbahasa Inggris dan menerima kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan (sesuatu yang tidak pernah ada di masyarakat India sebelumnya).

Di jaman di mana status jomblo sama dengan batu akik, sama-sama diekspoitasi demi menghidupi banyak orang, rasanya istilah Gegana (galau gundah gulana) bisa jadi katalisator yang baik bagi saya untuk menulis. Makanya tulisan ini selain disebabkan galau pada NG, juga karena ingin mengingatkan diri sendiri bahwa curiga tidak selamanya salah. Pemirsa televisi mesti memiliki sikap kritis terhadap tayangan televisi. Agar kita tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka sampaikan sebelum kita cerna baik-baik dan membandingkannya dengan sumber informasi lain yang punya sudut pandang yang berbeda. 

Ah rempong. Mana pilih, repot-repot berpikir atau terus dibodohi. :D

Atau mungkin kita bisa mengambil langkah lain. Matikan TV dan mulai mengerjakan hal-hal lain di mana kita berlaku sebagai subjek aktif, main game misalnya? :P 


Rujukan:
[1]http://mahrita-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-82498-PengantarGlobalisasi-Pengaruh Globalisasi terhadap Pergeseran Kelas dalam Masyarakat: Studi Kasus Fenomena Konsumerisme di India.html

[2] Ibid

Jumat, 23 Mei 2014

Tentang RR dan The Trees and The Wild

Pada suatu siang yang lowong ditemani laptop butut dengan koneksi yang masyallah lambatnya, saya bertemu dengan seseorang di dunia maya. Di sudut sunyi tanpa hiruk pikuk pemirsa fb dan laman sejenisnya yang tengah sibuk membicarakan siapa pendamping jokowow di bursa transfer presiden yang akan memantati seluruh warga negara, saya bertemu dengan RR. Siapa dia? Saya juga tidak mengenalnya. Saya hanya tertarik dengan selera musiknya, saya bertanya dan ia menjawab. Saat dia bertanya saya menjawab. Seperti itulah hubungan pertemanan yang berjalan satu jam ini.

Ia menyodorkan satu band, indie katanya dari Bandung. Tak ada salahnya mencoba, saya pun mencari ‘The Trees and The Wild’ di google. Selang beberapa detik saya menemukannya di soundcloud. Tanpa pikir panjang soal koneksi dan kuota yang lagi cekak, saya download satu lagu, judulnya ‘malino’. Memang prinsip jurnalistik yaitu proximitas selalu benar adanya. Saya memilih judul karena sama dengan nama daerah wisata gunung yang tak jauh dari Makassar dan tentu saja karena saya pernah ke sana. Tak ada kenangan buruk di tempat itu, jadi saya akan ingat.

Balik lagi ke soal lagu. Setelah menunggu sambil masak mie, bersih-bersih kamar, cuci baju, menolong tetangga yang cantik nan seksi membuang sampah, akhirnya donlotan yang tak sampai 4 mb itu selesai juga. Saya langsung putar, kebetulan speaker butut dengan denguangan bass yang ciamik sudah terhubung dengan lappy.

Intronya sungguh menggoda, petikan gitar yang jernih dan menjanjikan, dalam hati saya menggerutu riang. Saat suara vocal masuk saya sedikit kecewa, kedengarannya mirip dengan gaya bernyanyinya si band sok keren Alexa. Hehehe.

Ah…saya jatuh cinta dengan lagu ini. Membuat hayalan bisa ke mana-mana. Saat mendengarkan, saya berbagi dengan RR betapa nyamannya mendengar lagu ini. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih telah karena ia telah mengenalkan saya dengan band ini. RR bilang dia hanya suka band dengan konsep akustik, saya tak mengerti soal genre dan bukan tak punya banyak kata tentang jagad musik.

RR dari Toraja, ia sedang kuliah saat ini dan senang membaca.  Koneksi terputus, dan berpisahlah kami. Tak tau bagaimana cara menghubunginya lagi. Sejam yang menyenangkan, pikirku.

Saya kemudian mengkhayal ditemani bisikan di telinga suara “mari rasuk- mari rasuk”…..


Jumat, 25 Oktober 2013

Di mana Pencerita Lebah?


Jenny
Hari-hari di sini semakin membosankan. Di mana kah kau pencipta cerita lebah? Di kota ini semua yang kulakukan hampir sama. Walau membosankan, saya ingin bertahan. Tidak tahu sampai kapan. Saya rindu rumah, saya rindu mama, saya rindu bapak. Mereka tinggal berdua di rumah papan itu. Saya semakin rindu kalau hujan seperti ini, karena rumah selalu hangat oleh mereka.

Hei pencerita, kau masih hidup bukan? Kemarin saya mimpi soal kau. Saya juga berbincang dengan teman tentang dirimu. Untuk sesaat kenangan dulu memanjat ke permukaan. Kau ingat Mou? Dia akan sukses di Inggris. Kau membencinya? Hahahaha. Kita tetap rival dalam urusan sepakbola.

Saya tidak tau kita memang dekat atau tidak. Tapi kurasa musim hujan beberapa tahun yang lalu, kita lalui dengan baik sebagai pengangguran angkatan baru.

Semoga kau sehat-sehat saja. Saya sedang bosan. Semoga bisa bertemu denganmu. Saya rindu.

Senin, 09 Juli 2012

Tiga Cerita di Rumah Panggung

Kami sedang menunggu siang itu, saya dan dua orang temanku menanti beberapa orang ibu-ibu di tanah rawa. Rencananya akan ada pertemuan sore itu, kami hendak belajar bersama tentang berbagai macam hal, mulai dari keterampilan kreatif hingga pengetahuan kritis tentang kondisi hari ini. Pertemuan belum juga dimulai, kami bersama dua orang ibu yang baru datang sudah  terlibat  dalam pembicaraan serius tentang anak-anak mereka yang mendaftar di SD negeri dan tentang keponakannya yang sulit mendapatkan layanan pengobatan. Mungkin seperti ini rekaman saya saat itu.

Rumah sakit yang benar-benar sakit
Mace (kata yang artinya sama degan ibu dalam bahasa indonesia) Rusna lebih dulu melontarkan kekesalannya akibat ulah pihak rumah sakit yang berseblahan dengan hotel bertaraf internasional. Ia mulai dengan keponakannya yang berumur 10 bulan yang tiba-tiba sesak nafas di malam hari. Saudara Mace Rusna  sudah mendatangi dua rumah sakit dan selalu ditolak dengan alasan sudah tidak ada lagi ruang perawatan yang kosong. Melihat kondisi ini, akhirnya mace Rusna  berinisiatif menemani saudaranya untuk berbicara ke pihak rumah sakit. Sesampainya di sana, mace Rusna  ngotot agar keponakannya segera ditangani, ia pun diarahkan untuk menemui salah satu dokter. Ia diundang masuk ke sebuah ruangan dan diminta menjelaskan duduk persoalannya. Dengan berapi-api ia mencontohkan apa yang dikatakannya pada dokter malam itu. “Saya mengerti pak sepenuhnya kalau dibilang sudah penuh, tapi saya tidak mengerti kalau anak kecil ini tidak bisa diobat hanya karena tidak ada ruangan”, ujar mace Rusna  mencontohkan. Ia melontarkan kata-kata itu sambil menangis karena ia sempat menoleh ke ponakannya yang bernafas tersenggal-senggal. Si dokter pun ngotot tak bisa menerima pasien, “dari tadi kan saya bilang di sini sudah penuh, masa ibu tidak mengerti!”.
Mace Rusna  bersikeras, ia tetap berdiri di pintu ruangan dokter tersebut walaupun dokter sudah mengakhiri pembicaraan. Tetap membatu demi menunggu kesempatan. Ia kembali memperagakan gerutuannya dalam hati. “Begini mi kayaknya kalau miskin ki di, selalu tidak diperhatikan, selalu dinomor dua kan”. Tak lama berselang seorang ibu paruh baya menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi. Mace Rusna  pun menjelaskan semuanya. Ibu itupun menawarkan tempatnya yang berada di ruang perawatan kelas 3 (ekonomi) dan ia rela pindah ke ruang kelas 1 (yang agak mahal). Mace Rusna  pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Mace Rusna  dan saudaranya mengurus semua administrasi sementara keponakannya sudah mulai dirawat, diberikan bantuan pernafasan. Malam yang panjang dan melelahkan pun terlewati dan ia menutup ceritanya dengan deretan kata,” jika kita tidak berusaha menuntut hak kita, selamanya mereka yang bekuasa tidak akan mempedulikan kita”.

Lima Bocah yang ditolak
Sesekali Mace Asih menggoyang-goyangkan badannya ketika bayi nya mulai menangis. Ia lantas melanjutkan cerita tentang anak ke tiganya yang tidak diterima di SD negeri yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia tak menyangka anaknya yang sudah menginjak usia 9 tahun itu, tidak lulus masuk ke sekolah negeri tersebut. Bukan hanya anaknya, ada 4 anak lain dari tanah rawa yang juga tidak diterima. Pada hari pengumuman, Mace Asih penasaran mengapa anaknya tidak diterima. Ia pun berinisitaif mencari tahu dan bertanya pada panitia penyeleksi.

Sebelum bercerita lebih lanjut, mace Asih mengungkapkan keheranannya akan proses seleksi yang berlakukan pihak sekolah terhadap calon siswa. Setelah mendapatkan nomor pendaftaran, anak-anak tersebut masih harus menjalani tes membaca dan menulis. “Terus apa gunanya sekolah itu anak-anak kalau sudah tahu memang mi membaca sama menulis, sekolah kan gunanya untuk mengajari itu”, ketus mace Asih.
Benar saja, alasan utama mengapa anaknya ditolak karena ia tidak lancar membaca dan menulis. Ia pun berang, begitu juga dengan ibu-ibu lain baik dari tanah rawa maupun sekitarnya yang juga mendapati nomor pendaftaran anaknya tidak tertera di papan pengumuman kelulusan. Mereka pun pulang dengan sesak di dada. Beberapa ibu-ibu pun mengeluarkan celetukan, “kalo orang miskin susah sekali diterima, sementara yang kaya tidak banyak tanya langsung-langsung ji diterima”. Lima anak tanah rawa tak jadi bersekolah.

Bukan Pencuri
Saya kaget ketika Mace Lia tiba-tiba saja naik ke rumah panggung tempat kami berkumpul. Tidak biasanya mace yang satu ini antusias dengan keramaian. Beberapa kali kami mengajaknya untuk ikut berkumpul dengan ibu-ibu lain di tanah rawa, namun ia selalu punya alasan untuk menolak. Kali ini ia punya sesuatu untuk dibagi, namun ini bukan sesuatu yang menyenangkan.
Anaknya yang paling tua sedang ditahan di polsek, padahal ia jadi tulang punggung perekenomian keluarga  saat ini. Ia dituduh mencuri penutup ban mobil yang biasa nangkring di belakang mobil Jeep. Menurut mace Lia anaknya, saat itu tidak jauh dari TKP dan tiba-tiba ada dua anak berlari ke arahnya dan memberikan sesuatu. Ternyata itu adalah penutup ban mobil, ia terpaku tak mengerti. Tak lama setelahnya satpam mendatanginya. Ia kemudian disemprot dengan pertanyaan tanpa sempat menyela,kemudian di bawa ke pos satpam pasar.

Ia meminta pendapat dari ibu-ibu yang lain tentang bagaimana cara mengeluarkan anaknya dari tahanan polisi. Kami pun silih berganti berbicara. Pembicaraan mengerucut pada satu solusi, mace Lia disarankan berbicara pada penyidik anaknya dan memaparkan tentang kejadian dan kondisinya saat ini. Jika celah tak ada, kami sepakat akan mencari jalan lain yang memungkinkan.  

Mace Lia sudah berbagi, ia perih karena ia tahu ini akan sulit. Ia tahu bahwa polisi sangat suka duit agar anaknya bebas. Ia tahu bahwa orang sepertinya sangat mudah dituduh kriminal, tanpa punya kesempatan membela diri. Ia juga tahu, hari-hari setelah hari ini akan semakin sulit. Ia kini hanya punya setumpuk utang dan seorang anak remaja yang murung di balik jeruji.

****

Saat itu pula, saat tiga cerita mengalir tulus dari tiga ibu di tanah rawa, saat kami berkumpul di rumah panggung saya berniat menuliskannya di sini. Agar saya tidak lupa, bahwa perih pernah  tergores dalam di hati mereka. Agar saya tidak lupa bahwa hidup yang lebih baik layak diperjuangkan!

Kamis, 28 Juni 2012

Footballize Me!


Saya tidak tahu pasti kapan kegilaan saya terhadap sepakbola dimulai. Seingatku waktu SMP, beberapa kali saya menyempatkan diri menonton siaran sepakbola di TV. Liga Italia kala itu menjadi liga paling bergengsi di eropa, sebelum akhirnya terpuruk karena kasus pengaturan skor dan krisis ekonomi.  Kebetulan TV di Indonesia (sampai sekarang) dengan sokongan produsen rokok mampu membeli hak siar tersebut, sehingga saya yang berada di kota kecil mampu mengkonsumsinya.
Sekarang saya sangat suka menonton sepakbola, dari pertandingan tarkam (antar kampung), liga indonesia hingga pertandingan bergengsi selevel liga inggris dan champions eropa. Tentu saja ini hanya bisnis, sebuah industri yang di dalamnya ada pekerja dan pemilik modal serta orang-orang seperti saya, konsumen. Hahaha
Begitu krisis ekonomi datang, kualitas kompetisi pun ikut menurun. Klub-klub di Italia dan Spanyol merasakan sulitnya mengelelola sebuah klub dengan besarnya utang. Walhasil Hernan Cerspo di Italia dan Ruud Van Nisteltoy masih bermain di divisi teratas dan menjadi tulang punggung timnya masing-masing. Gaji yang tak lagi mahal plus pengalaman dan kemampuan yang masih tersisa di mantan pemain top dunia tersebut  menjadi alasan kuat bagi klub untuk mempertahankannya.
Saya tak begitu fanatik dengan sebuah tim, tapi saya menyukai Chelsea FC. Tim asal London barat ini adalah tim yang sering saya pakai saat bermain game PES atau Winning Eleven. Mungkin alasannya hanya itu saja. Saat masih diasuh Jose Mourinho mereka punya pemain-pemain yang punya fisik yang kuat, sehingga di PES saya bisa dengan mudah merebut bola dari kaki lawan.
Chelsea bermain di liga Inggris, di mana kompetisi ini merupakan variabel yang baik untuk melihat bagaimana sepakbola dikelola sebagai sebuah industri yang menghasilkan keuntungan bagi pemodal. Inggris layaknya negeri-negeri miskin seperti Indonesia di mana segala syarat untuk membangun sebuah imperium ekonomi tersedia di dalamnya. Jika di negara seperti Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah dan pekerja yang murah, Inggris memiliki kultur masyarakat yang gila sepakbola serta deretan sekolah sepakbola yang siap memasok pemain-pemain baru. Oleh karenanya tidak heran jika investor kelas kakap seperti Abrahamovic dan Syekh Masour tidak ragu meggelontorkan miliaran dollar untuk membangun tim yang kuat di Inggris.
Dan hal yang penting tentang sepakbola adalah kenangan dengan seorang teman. Dia juga gila bola, dan kami sering menonton pertandingan liga inggris bersama-sama. Saya masih ingat bagaimana ekspresinya ketika Intermilan- tim yang ia bela karena pelatihnya Jose Mourinho-berjumpa Bayern Munich di final Liga Champions musim 2009-2010. Dia seperti menonton langsung di stadion tempat digelarnya pertandingan. Berteriak-teriak, rambutnya diacak-acak, bahkan menutup mata saat pemain Bayern mendapat peluang yang baik untuk mencetak gol. Sungguh lebay fans sepakbola yang satu ini. Hahaha
Sekarang ia sedang berjuang agar bisa kembali menapak tanah dan menikmati sepakbola, tentu saja sendiri tanpa saya. 

Senin, 04 Juli 2011

Imanjinasi, jenis kudapan apa lagi itu?


Sungguh sudah  lama...tidak..tidak..baru saja beberapa hari kok..meninggalakan kota sombong ini kadang dipelukan untuk menjaga pikiranmu supaya tetap waras. Ah...memang sedari awal kota ini dipenuhi orang gila kok dan saya tak mau membahasnya di sini. Hehehe. Ayolah, kau harus datang kembali secepatnya dan gila lagi bersamaku, bersama ubin jalan setapak, bersama ruko kecil di sudut jalan, bersama lubang-lubang di tengah jalan yang selalu kita lalui bersama hampir tiap hari.
Kau tahu? Sudah berapa hari ini saya sedang tertarik dengan sebuah kata. Ia adalah imajinasi, mungkin kata ini yang membuat beberapa dari kita tetap waras, dan jangan mendebatku soal kata ‘waras’ ini. Ayolah kita sama-sama tahu mana yang dibilang waras dan yang tidak, walaupun ada tepi yang tak jelas diantara keduanya. Alah, jika kau menginginkan lebih....ahh pusing saya dibuatnya.
Saya dan seorang perempuan tua, beberapa waktu yang lalu, ya kami berdua tersesat dalam percakapan kami sendiri, percakapan acak tentang banyak hal -yang kau tahu- ini sangat mengandalkan imajinasi. Entah bagaimana, ia lantas bertanya soal apa yang kau lakukan ketika masyarakat kita sudah meninggalkan gaya hidup dengan opresi kelas sosialnya seperti sekarang ini. Banyak hal kubilang, yang pertama ya mencukupi kebutuhan dasarku dengan bertani. Mendirikan Adobe, bertetangga, kadang-kadang menenun, membuat sebuah lagu untukmu, mungkin juga melukis wajahmu, atau menemukan  lelucon yang bisa membuatmu tertawa (hahaha..I’m still working on it).
Saya meninggalkan percakapan itu, ia punya si bibir mancung sekarang untuk mengobrol, dan tentu saja menguras imajinasinya. Saya kemudian sibuk dengan kepalaku sendiri, menciptakan dunia sendiri setelah menyedu kopi dan membakar rokok murah yang kubeli dari warung sebelah rumah. Dunianya mungkin seperti ini:
Siang tadi ketika hendak membeli makanan, motor hitam rongsokanku itu kupacu di jalan menuju warung makan. Disepanjang jalan tampak beberapa bocah memegang kaleng yang dililiti benang, mereka sedang bermain layang-layang pikirku. Yap, benar sekali beberapa layangan tampak dilangit di atasku. Jika ada kendaraan yang lewat, mereka akan meninggikan benangnya agar tak nyangkut pada motor atau mobil yang lewat. Sungguh sulit mendapat tanah lapang di tengah kota sombong ini pikirku, dan mereka begitu gigih bermain di jalan raya yang tak kenal belas kasih itu.
Karenanya pula saya jadi ingat masa kecil ku di kota kecil yang sangat mengandalkan pelabuhannya untuk tetap bisa berdenyut. Tentang bau tanah merah, kaki yang berdarah setelah berlarian di tengah tanah berbalut rumput liar, tentang baju dan celanaku yang selalu sangat kotor ketika pulang ke rumah di sore hari untuk mandi kemudian makan. Tentang itik yang kupelihara dan kucuri telurnya di tiap pagi untuk kujadikan sarapan. Tentang rawa tempat memancing ikan gabus yang seringkali berakhir dengan kegagalan membawa pulang tangkapan. Jika sudah begitu, saya akan mengambil jaring bekas ayakan pasir milik tetangga dan memanggil beberapa temanku untuk menjaring ikan brengsek yang tak mau memakan umpanku. Hahaha. Mereka berakhir di panggangan dengan arang dari ranting kayu dan dedaunan. Itu hanya hanya masa kecil dan untunglah saya masih bisa mengingatnya.
***
Semalam, dengan telpon genggam pemberian saudaraku saya menerima telponmu dari kota yang jauh. Katamu tadi siang kamu baru saja menggoreng tempe dan membuat kue, senang mendengarnya :p. Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu kita pergi ke toko buku, mencari-cari buku yang cocok. Aku menemukan satu di toko buku pertama yang sebenarnya lebih mirip swalayan satationary. Judulnya Ketika Manusia Kloning Berkuasa, ketika pertamakali melihatnya, judul dan covernya sungguh tak menarik, tapi setelah membaca sinopsisnya saya jadi tertarik. Ya, imajinasi yang kuat pikirku, hmm ..tentang bagaimana kehidupan manusia di masa yang akan datang. Oh bukan, ketika manusia tak ada lagi, berganti manusia cebol tak beralat kelamin yang berkembang biak dengan cara mengkloning dirinya sendiri. Tema fiksi tentang peradaban yang hancur, akan hancur, telah hancur, cukup banyak loh. Sederet buku dan film tentang tema inipun ku koleksi diantranya the road, the day the earth stood still, resident evil, the matrix, the book of eli, terminator, kulupai sisanya. Dan kau tahu? Entah mengapa saya begitu menikmati ketika adegan dalam film atau novel yang kubaca berakhir dengan kehancuran peradaban. Sayu sepertinya sudah sinting.  :p
Tentu penulis novel dan naskah film bertema ini punya imajinasi yang cukup kuat, dan juga dibantu oleh pengetahuan penulis dan perspektifnya yang radikal dalam melihat dunia hari ini. Dan imajinasiku hanya berhenti di sini? Coba kuingat-ingat dulu, apa imajinasi ku tentang masa depan? Saya berpikir kuat, tak menemukannya, hanya ada bayang samar, hmm ...saya melihat  dirimu didalamnya. Dan itulah imajinasiku untuk masa depan! :P

Minggu, 01 Mei 2011

Menantimu di Tanah Rawa

Kami membuat sebuah janji, lebih  tepatnya disebut kesepakatan untuk tak bertemu selama tiga hari, juga tak saling menghubungi. Hahaha. Aneh, sungguh persetujuan yang menyebalkan di antara membaranya kasihku padanya. Hahaha. Dan di antara tiga hari yang berat itu, tersiar kabar bahwa tanah rawa akan diserbu sekawanan preman yang dibayar oleh seorang pengusaha tambun yang hendak merampas sebidang lahan tersebut dari pemilik sah, orang-orang tanah rawa. 

Saudara tuaku Boriel, intens berkomunikasi dengan Enos pria lincah asal negeri timur matahari yang beberapa bulan terakhir sering nongkrong di tanah rawa. Boriel akhirnya menghubungiku dan saudara-saudaraku yang lain. Kami hendak ke tanah rawa di hari sabtu, hari ke dua dari perjanjianku selama tiga hari dengan gadis feromon. 

Pagi -pagi sekali, kami berempat sudah bangun. Sedikit merapikan diri sambil menyeruput kopi panas buatan Pinko, perempuan tua  tangguh yang tak lain adalah kekasih Boriel. Kami hanya sedikit mengobrol, tentang hasil pertemuan semalam, tentang kode sandi sampai strategi perang yang sudah disusun oleh barikade anti penggusuran tanah rawa. Kami mengakhirinya dengan tertawa lepas, sambil menimpali busuknya permainan negara dan pengusaha yang selalu kompak melakukan hal-hal seperti di tanah rawa ini, merebut ruang hidup dan kehidupan. 

Tak memakan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai di tanah rawa dari tempat kami nginap, kampung biru. Akhir pekan yang menjemukan, selalu membuat kota megapolitan ini lengang dan lesu, tak ada wajah yang terburu-buru, tak ada kuda besi yang tergesa-gesa menyelip deretan mobil pribadi mewah. Akhirnya kami sampai dengan selamat. Hehehe.
Sore di Tanah Rawa (diambil pake hengpong ji :p)
Inilah pagi di tanah rawa, bambu tua berderet rapi melintang di atas genangan besar air yang memisahkan satu rumah dengan rumah lainnya. Sesekali, riak air pecah di permukaannya akibat lambaian ekor ikan berwarna hitam dan mungil. Mereka tampaknya terganggu dengan kehadiran kaki-kaki kami yang kaku berjalan di atas jalan bambu ini. Pinko dan boriel begitu lamban berjalan, sementara saya dan Jo sibuk dengan kepala masing-masing setelah disuguhi adegan dingin seorang warga yang sedang mengasah sebilah parang.  Bukan sebilah, ada lima bilah! Kami menyaksikan ekspresi dingin khas luapan insting bertahan dan melindungi. Kami tak berkomentar, Jo hanya melempar senyum padaku dan kami melanjutkan perjalanan menuju posko induk tempat berkumpulnya teman-teman barikade anti penggusuran. 

Sebelum kulanjutkan, saya ingin membagikan sesuatu. Sialan! Jika kamu berpikir kami ke tanah rawa karena iba pada orang tanah rawa dan panggilan moral, kamu salah! Solidaritas adalah senjata yang paling ampuh untuk merenggut kehidupan yang telah lama dicuri oleh sistem bobrok ini. Hidup kami telah lama dicuri sejak saat itu, saat  kami telah dilabeli dengan embel-embel warga negara melalui akta kelahiran hingga diberi sistem kepercayaan demi menciptakan ketertundukan. Kami hanya tak mau lagi dicuri lebih banyak, tidak juga bagi orang-orang tanah rawa yang hendak dicuri tanahnya oleh Hanoman itu. Maka bersolidaritaslah!
Posko induk lengang, kawan-kawan yang malam tadi nginap di tanah rawa, masih menikmati keintimannya dengan pagi. Ini masih jam 7 pagi, kabut belum juga mau berpisah dengan muka rawa. Tampaknya ada perayaan kecil semalam di tanah rawa, demi menyambut om eman yang kan datang esok hari.
***
Hari semakin panas, canda tawa mulai tak bisa membunuh bosan kami menunggu serangan dari om eman. Sel  FNB (Food Not Bombs) sudah pula menyelesaikan misinya hari ini, logistik perang sudah siap di gudang altileri. Pria skinny di sampingku mengutuk dalam gerah dan marah, “sialan, tak ditunggu si eman muncul, saat kami siap menyambut dengan red carpet, mereka tak datang, sial!”. Hahaha, saya hanya bisa tertawa mendengarnya, saya sudah terlalu capek untuk menimpalinya. Hahaha

Ditengah-tengah kejemuan akut itu, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di kompleks tanah rawa, saya menemukan beberapa teman sedang ngobrol dengan warga, kuputuskan untuk masuk dalam sidang itu. Mereka sedang bercerita tentang berbagai topik, cukup panjang dan ramai, hingga akhirnya beberapa teman memutuskan untuk minggat, sepertinya ingin beristirahat. Tersisa kami berdua, saya dan bapak berkacamata dengan kemeja lusuh berwarna krem warga asli tanah rawa.

Setelah puas dengan topik pembicaraan di luar ‘kita’, akhirnya saya bertanya soal seputar tanah rawa dan kehidupan bapak berkacamata. Ia kemudian menyambutnya dengan aliran kisah pertama kali ia sampai di tanah ini. Tahun 1984 ia mendapati tanah ini adalah rawa-rawa yang dikelilingi pepohonan lebat. “Hanya di hitung jari ji rumah di dulu, masih sepi”, kenang bapak 3 anak ini. Ia mengisap dalam-dalam rokok di tangannya sembari mendengar tanggapanku. 

Saya lantas bertanya, di mana tepatnya letak rumahnya di tanah rawa ini, ia lantas menunjuk rumah panggung berdinding tripleks. Saya menengoknya dalam, “yang banyak lubang di dindingnya itu?”, gumamku dalam hati. Ia menarikku kembali dalam perbincangan dan berkata, “itu mi juga, saya mau perbaiki sedikit-sedikit tapi nda ada pi uang”. 

Ia lantas bercerita tentang hidupnya di kota ini, yang akhirnya berakhir sebagai tukang parkir di salah satu fasilitas umum tak jauh dari tanah rawa. Tanah rawa memang strategis, ia di apit barisan bangunan mewah menjulang yang tak lain adalah pusat perbelanjaan dan gedung berorientasi niaga. Ia seperti luka menganga di permukaan kulit mulus. Tak heran si Hanoman kepincut untuk menguasainya. 

Kami kembali larut dalam percakapan saat ia melontarkan barisan kata tentang kondisi anak dan istrinya. Ia terpaksa memboyong 2 anak serta istrinya pulang ke kampungnya di pesisir selatan celebes, semenjak kondisi kesehatan istrinya memburuk, ia takut rumah super sederhananya tak mampu menghadirkan kehangatan kala tubuh rapuh dan kedinginan. Hanya anaknya yang sudah berumur 18 tahun yang bertahan menemaninya.  Hitam kulitnya jadi penanda bahwa siang harinya ia lewati di bawah sengatan matahari, dan malamnya ia berkelahi dengan dingin. 

Selasa, 19 April 2011

2 Menit Untukmu

Ini tidak akan panjang, kau akan menemukanku terkapar tak berdaya segera setelah membacanya. Ya sayang, hari aku tak bisa menemanimu, menjadi bidak pion terdepan adalah peran yang mesti kujalani demi bertahan hidup. Hampir saja semuanya kutukar dengan hal menyebalkan ini, bekerja! Bahkan saat kau pun sakit aku hanya bisa memberikan sedikit waktu untukmu, hanya 2 menit! Itupun aku harus lihai mencurinya dari panjangnya jam kerja yang membosankan. 

Semoga kau tidak terus-terusan dipusingkan dengan prosedur sampah kampus, yang memaksamu melakukan hal yang sama sekali tak kau sukai.  Jika semuanya sampai di titik didih kejenuhan, kita toh masih punya sedikit spasi diantara bosannya rutinitas. Kita akan merayakan kematian kepalsuan diri dengan bergandengan, tertawa dan mencaci semua yang sudah berlalu. Brengsek! Hidup begitu pendek untuk dijalani dengan hal-hal yang miskin makna.  

Saya akan mentupnya dengan kecupan hangat, tentu saja hanya buatmu dan ini dari ku. Semoga itu cukup untuk menawar sepi dan penat di esok hari, selamat tidur dan teruslah bermimpi wahai kau  feromonku :p.

Sabtu, 16 April 2011

Kerangkeng Hari Sabtu

Image Hosted by PicturePush - Photo Sharing
Prison Break, Si Kumis Lele :p
Hari ini hari sabtu, sudah kuniatkan semalam untuk tidur sepuasnya diakhir pekan ini. Sungguh pekan yang menjengkelkan, ditendang dari kost-an, dapat kerjaan baru yang buat kau harus naik tangga 5 kali dalam sehari menuju lantai 3, dalam keadaan tidak fit lagi. Argghh…! Saya mau balas dendam dengan bermalas-malasan di akhir pekan ini. Hehehe


Sabtu subuh, mata terus melotot pada layar komputer, kebetulan sinyalnya modem lagi ciamik, juga ada teman keren yang sudi untuk ku ganggu. Lagian ini demi dia yang  punya penyakit insomnia akut, jadilah kami ngobrol lewat monitor. Hahaha. Pengeras suara dah teriak-teriak di subuh buta, itu tandanya saya harus segera cabut menuju pulau kapuk. Saya akhirnya ngorok di samping perempuan tua yang kepincut sama pesbuk. Apalagi tak lama berselang hujan pun turun, tidur makin sempurna, sungguh menyenangkan. 


Belum lagi matahari merangsek keluar dari kumpulan awan hitam, tiba-tiba kudengar suara pintu digedor kuat, akhirnya dengan malas saya bangun dan membuka pintu. Ternyata si pria bengis berhati merah muda yang datang di jam 9 pagi. Ia menanyakan apakah Opa menitip sejumlah uang padaku. Kujawab tidak. Kutanyakan perihal uang tersebut padanya. Ia bilang buat bekal si kumis lele yang sedang mendekam LP akibat kasus kemaren. Kami tak ngobrol banyak, kutawarkan sisa uang kostku yang dikembalikan si empunya kost untuk ia pinjam. Uang itu rencananya kupakai untuk menyewa kamar bar, tapi karena sampai detik ini tidak ada kejelasan di mana kamar baru yang akan kupinang sebagai tempat menghabiskan penat, makanya saya tawarkan saja padanya. Ia lantas mengajakku ke sana tuk menjenguk si kumis lele. Saya mau saja, kan nanti setelah pulang dari sana, saya bisa melanjutkan tidur panjang yang sudah kuagendakan. :)


Motor dengan warna hijaunya yang menyebalkan itu melaju kencang di hari yang mendung. Kami terlibat perbicangan panjang tentang banyak hal, mulai dari soal kuliahnya hingga kabar teman-teman yang masih setia nongkrong di taman hitam. Selain berhati pink, ia adalah pria dengan segudang informasi yang dengan lancar bercerita. Tak terasa belasan kilometer telah kami lalu, sampailah kami di LP. Setelah markir motor, kami menuju loket registrasi pengunjung atau penjenguk tahanan. Saya mengeluarkan KTP ku, si penjaga loket kemudian menyemprotkan kalimat, “kalo ada uangmu di situ, bisa ko kasi untuk biaya adminstrasi? Kalo nda ada ndapapaji”. Saya kemudian bertanya berapa jumlah uangnya, pria tua berkacamata tersebut, menjawab, “dua ribu mo”. Saya nda pikir panjang, langsung saja saya beri uang yang ada di kantong belakangku.  


Kami menuju pintu masuk yang pada sisi depannya terpampang gambar pohon beringin, dihiasi barisan huruf balok bertuliskan PEMBINAAN. Sebelum masuk, kami sempat menimpali kejadian tadi, “biar mi deh, kasi mi saja, mau ji juga makan itu bapak tadi”, kata si pria pink. Hahaha. Kami pun menyerahkan secarik kertas dari loket tadi dan ditukarkan dengan semacam Id Card pengunjung. Kami  diarahkan petugas menuju ruang penggeledahan, tubuh kami didekatkan dengan alat pendeteksi logam, tas si pria pink digeledah demi mencari barang terlarang. Saya tak tahu barang seperti apa yang telarang. Ganja mungkin..hahaha


Kami menyerahkan secarik kertas tadi ke petugas jaga kunjungan, ia kemudian mengumumkannya melalui alat pengeras suara, nama si kumis lele pun membahana seantero kompleks penjara. Tak lama berselang si lele muncul, rambut kritingnya sudah tak ada, kepalanya hanya dibalut rambut tipis, kumis lelenya juga sudah menghilang, yang tersisa hanya senyum lebarnya yang khas yang ia bagi pada kami saat bertemu. Tak banyak perubahan pada dirinya, hanya saja ia mengeluh bosan, nassami bosan ka disitu terus ko bela.hahaha.  Ia menumpahkan banyak kisah pada kami, tentang kasusnya, tentang kesehariannya di LP. Tepatnya ni si kumis punya kisah dilengkapi dengan OST dari lagunya Linkin Park “Waiting for The end”, atau The Killers dengan “Human”, hahaha, apa hubungannya coba? Cari mako sendiri! 


Seringkali saya tak menyimak apa isi obrolan ini, saya sibuk dengan isi kepalaku sendiri. Mengapa ada penjara, ada sipir, ada polisi, ada tindakan kriminal? Alah, masa mesti nganalisis lagi di tulisan ini, capek tau! Hahahaha. Pokoknya barang macam ini (penjara cuy!) itu baru ada semenjak muculnya peradaban. Kerangkeng digunakan untuk mengucilkan orang-orang yang dianggap mengancam tatanan peradaban yang ada, baik itu karena gila, terkena penyakit menular, atau sekedar protes atas banyak TAI yang bermunculan karena adanya kekuasaan tersentral. Begini mo pade singkatnya, ni barang dipake untuk menciptakan terror demi menciptakan ketertundukan pada order  yang sementara berjalan. Istilah kampusnya itu domestikasi manusia, penjinakan. Tahapan linear dari konsekuensi membangun peradaban, domestikasi alam, domestksi kehidupan harian kita! Sudah mi deh tambah parah nanti ini tulisan. :p


“Ting, ting, ting” suara bising keluar dari sumber yang tak ku ketahui di mana asalnya. Tiba-tiba ruang besuk menjadi gaduh, semua orang bercakap dengan terburu-buru, dua sejoli yang berada di samping kami pun melepaskan pelukan mereka. Banyak ekspresi keluar dari wajah mereka, ada yang muka bussu’, sedih, tetapi tetap ada simpul kecil yang melintang di beberapa wajah mereka. Ini tanda jam besuk sudah berakhir, si lele pun kembali melempar senyumnya kepada kami, “fella, buku nah nanti, bawakan ka’” sergap lele. Kamipun mengangguk dan pamit pulang. 


Mendung masih saja nongkrong dilangit Makassar, membuat perjalanan kami tak terlalu penat. Si Hijau kali ini tak terburu-buru lagi karena di hari Sabtu si pria berhati pink berwajah garang tak punya agenda khusus, saya pun begitu. Dan kamipun kembali tenggelam dalam percakapan tak penting demi menolak kebosanan perjalanan menuju kota yang punya obsesi gila menjadi kota dunia. :p

Selasa, 12 April 2011

Ini tentang Ibu, Tanta atau Uni di Jalan Bung!

Untuk kedua kalinya, saya bangun pagi, pagi sekali. Mungkin karena kondisi tubuh yang buruk memaksa ku untuk beristirahat lebih cepat di malam hari. Tapi, sama ji bangunnya juga terlalu cepat, hehehe..kenapa jam tidur dan bangunku seperti orang kantoran ya? Padahal ini rutinitas yang paling menyebalkan yang hampir setiap orang harus jalani, tidur cepat (demi kesehatan dan kebugaran) dan bangun di subuh hari (agar tak telat masuk kerja). Hei, kau melakukannya hampir tiap hari? Kau sinting ya? Hahahaha

Sudah-sudah, nanti saya melebar membahas panjang masalah alienasi dan pasar kerja, hahaha, kayaknya bukan di sini deh tempatnya. Kebetulan hari ini hari pertama ku cerai dari pondokan laknat perusak komputerku itu, untuk sementara saya ngungsi dulu di tempatnya anak-anak di Wesabbe, sambil mencari pondokan yang pas. Saya sebenarnya sedih berpisah dengan jalan bung. Tempat pertama kali saya habiskan malam di kota Makassar ya di bung ini. Saya masih ingat, ketika itu saya nda bisa tidur, terbangun jam 4 subuh, saya begitu terganggu dengan banyaknya suara yang berteriak-teriak melalui pengeras suara di subuh hari. Banyak dudui, deh, sampe-sampe sakit kepalaku.

Tapi ada yang hal yang tidak bisa kulupa dari jalan bung. Sebuah Warung makan, ia tak mempunyai nama jadi saya dan teman-teman dengan bebas menyebutnya warung tanta, ibu, atau Uni, nama anak dari ibu penjual makanan berat yang ketika itu tak jauh dari pondokan pertamaku. Seperti warung makan lainnya, ibu sebelum siang sudah siap dengan food gallery-nya, ada perkedel, ikan goreng, tempe tahu,  sayur bening, tumis, santan. Sungguh tak jauh berbeda dengan jenis masakan di rumah di kampung, hal ini membuatku tak perlu bersusah payah beradaptasi dengan jenis makanan di Makassar yang ku kira akan sangat berbeda. 

Ketika menjadi mahasiswa baru universitas hampir swasta Unhas di tahun  2004 silam, seingatku harga makanan dulu di Ibu itu seporsinya Rp 2.500,-. Itu sebelum BBM naik setahun kemudian. Ada satu hal yang menarik menurutku dari konsep Ibu menjual makanan sehingga mampu menarik banyak pembeli. Yaitu sistem prasmanan, kita bebas mengambil sendiri, mulai dari jenis makanan hingga jumlahnya yang ingin kita lahap di tempat itu. Bebas cuy, hanya saja kalau lauk utama seperti ikan atau telur kamu masukkan dalam satu porsi itu harganya agak sedikit naik, tapi seingatku untuk yang lainnya itu kalo ditambah nda dikenakan biaya tambahan, nyamanna makan sepuasnya. Hahaha

Ibu pun tidak hanya membangun relasi ekonomi semata dengan kami para anak kost, yang bisanya hanya sebatas pembeli dan penjual. Ia selalu menanyakan kabar kami, bagaimana kuliah kami, ospek kami, bahkan apa sudah ada pacar kami.hehehe. Ibu bertindak layaknya ibu, senyumnya yang membuat nyaman, repotnya ia ketika kami datang berbondon-bondong dengan memasang wajah bajipur (bajingan cipuru’) sepulang kuliah. Relasi emosional itu penting lho di tengah masyarakat sakit seperti sekarang ini yang hanya mengutamakan satu hal, pengejaran profit sebanyak-banyaknya. Peradaban kita sungguh dibangun pada satu pondasi yang lucu menurutku, yaitu kegilaan dan kesakitan. (aduh mulai lagi deh, kambuh :P)

Saya juga selalu melihat perubahan padanya dan keluarganya. Dulunya ibu rambutnya hitam lebat, entah kenapa setahun belakangan saya perhatikan sudah banyak uban, alias banyak rambut putih diantara arsiran rambut hitamnya. Saya juga sering bercanda dengan cucunya yang ketika dulu masih balita, deh sekarang sudah sekolah di SD Inpres Bung. Atau anak gadisnya Uni yang kini sudah menjadi Ibu dari bocah botak bermata sipit hasil perkawinannya dengan seorang pria gempal, hitam dan ramah. 

Semua berubah, Ibu sudah mengganti TV kusam tua miliknya dengan TV baru dan canggih. Hehehe. Jadilah saya sering numpang nonton berita siang kalo sempat makan di situ. Sekarang ibu sudah jauh, dari wesabbe lumayan nampar betis lho kalo mau jalan kaki ke Bung :P. Untuk beberapa saat saya membiarkan lidahku jauh dari masakannya, jauh dari ibu dan nanti sekalian mampir bisa kutumpahkan semua kerinduanku, hahaha, makan cuy sampe poge’.

Senin, 11 April 2011

Sepasang Gumpalan Daging

Di saat normal pun ia tampak jadi anomali di saluran kerongkonganku. Sesekali aku melihat bayangannnya melalui cermin. Rupanya pasangan ini sangat betah berlama-lama menempel di tubuhku. Katanya, mereka ini adalah pasukan penahan invasi virus dan kuman yang mau masuk ke tubuh melalui jalur kerongkongan. Dan seingatku mereka mulai bekerja bereaksi terhadap kondisi lingkungan yang buruk saat masih harus memakai seragam putih merah. Ketika tubuh tidak fit seperti saat saya menuliskan ini, di serang flu, kemudian sakit kepala, mereka pun bereaksi membengkak dan memicu produksi air liur dan dahag. Awweh...sungguh menyebalkan. 

Saya tidak tahu apa istilah medisnya, tapi orang-orang sering bilangnya kalo mereka adalah amandel. Gumpalan daging yang tumbuh pada saluran kerongkongan memang dirancang untuk tujuan khusus. Saat mereka membengkak ada beberapa hal yang bisa dilakukan sendiri untuk membuat amandel kembali menyusut dan infeksi tidak terjadi. Nih ada beberapa poin yang sempat ku curi dari blog nya orang hehehe:
* Diusahakan untuk minum banyak air atau cairan seperti sari buah, terutama selama demam.
* Jangan minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan, makanan awetan yang diasinkan, dan manisan.
* Berkumur air garam hangat 3-4 kali sehari.
* Menaruh kompres hangat pada leher setiap hari.
* diberikan terapi antibiotik (atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk mencegah komplikasi.
* Istirahat yang cukup. 

Sepertinya semua sarannya bisa dikategorikan DIY yah? Hehehe Do It Yourself, dude! Alias bisa dilakukan sendiri. Hehehe. Pace juga kasi resep, katanya perasan jeruk nipis dan air hangat membantu mempecepat amandel itu gembos. Ah, saat-saat begini jadi rindu hangat rumah. Hehehe. 

Mantap cuy, lagi beringus begini kita embat dia
Kayaknya memang penyebab membengkaknya tuh tameng berbahan dasar daging adalah kondisi eksternal seperti cuaca, atau masuknya debu, atau bahkan bahan aditif yang terkandug dalam makanan yang masuk ke kerongkongan. Sulit memang mencari kondisi yang aman (menurut katergori kesehatan) di tengah kota metropolitan yang sedang dihantam sihir pembangunan, seperti Makassar. Belum lagi kenyataan bahwa asupan makanan yang kita konsumsi sehari-hari hampir seluruhnya adalah hasil pertanian transgenik. Dan juga banyaknya zat aditif makanan artifisial yang ditambahkan produsen makanan siap saji, sebagai upaya untuk menjawab mekanisme pasar yang punya hukum permintaan dan penawaran. Dan juga sistem ekonomi kapitalisme mengamini persaingan bebas tanpa batas antara pengusaha, siapa yang tidak memproduksi dengan murah dan menjualnya dengan lebih murah dari perusahaan lain, maka ia akan mati. Menger jako? Saya tidak. Hehehehe

Jika sudah begitu kenyataannya, hanya ada beberapa pilihan kejam yang harus ditempuh produsen makanan agar bisa memangkas biaya produksi, yang pertama menurunkan upah buruh. Jika pimpinan serikat buruh sudah disuap, akhirnya anggotanya manut, langkah lainnya adalah memakai bahan aditif makanan untuk menjaga rasa tetap enak walaupun dikurangi jumlah bahan baku yang betul-betul bahan makanan asli. Selain itu, zat aditif berupa monosodium glutamat atau yang na bilang maceku vitsin itu memang luar biasa bekerja menyedapkan makanan, hmm bubuk ajaib, aditif sekaligus adiktif.  Tapi deh, ko tau apa yang dampak jangka panjangnya bagi tubuh kalo terus-menerus dikonsumsi sepanjang hidup? Nanti pi kucari lagi. Hahaha

Belum selesai tadi soal tumbuhan dan hewan transgenik yang kita konsumsi sehari-hari. Aduh tapi ini ingus keluar-keluar mi. Kalo penasaran soal ini ada buku bagus pernah kubaca judulnya Rekayasa Genetik: Impian atau Petaka, terbitannya Insisst Press. Hehehe. Sampai nanti ya, saya mau menyedu mie instan  dulu, sarapan pagi anak kost, hehehe. Wah, ada MSG nya hahahaha. Tak apa, masih ada Rumah Sakit yang mengalunkan lagu Sakit Sendiri nya buatku.

Minggu, 10 April 2011

Menjaga Kantong Ajaib

Kantung Ajaib Sebenarnya
Kantung mataku tampak seperti jelaga, melingkar di sekelilingnya dan belum juga mau menyusut, hari ini pun saya mesti bangun pagi setelah sebelumnya berjibaku dengan setumpuk pekerjaan hingga  subuh hari. Jenis pekerjaanku ini mengandalkan satu hal, kelihaian jari ku menari di atas keyboard komputer. Ya, menjadi seorang yang bertanggungjawab untuk mendokumentasikan sebuah kegiatan dalam bentuk tulisan membuatku mampu meninggalkan teknik lama mengetik dengan ’11 jari’ menuju ‘unlimited finger for typing shit’ (hahahaha). Namun tetap saja, durasi kegiatan yang begitu panjang membuat ku harus menuliskan semuanya ke dalam puluhan bahkan ratusan lembar, yang memakan waktu cukup lama.  Dan alat satu-satunya yang saya punya agar bisa merampungkannya adalah komputer butut peninggalan masa kuliah dahulu. Dia sungguh kuat, hingga hari ini mampu menemaniku ditiap bilik masa yang ku lalui. 

Jika ia bisa bicara, mungkin komputer ku ini akan melayangkan protes padaku. Kenapa ia begitu jarang saya istirahatkan, hampir tak pernah aku bersihkan atau sekedar menambahkan hardware baru untuk membantunya ‘berlari’ saat bekerja. Ah, ia memang temanku yang setia. Sudah 4 ruang kamar sewa yang kutempati, dan ia selalu punya spasi di tiap kamar tersebut. Bagiku, ia seperti kantung ajaib Doraemon yang begitu berharga dalam kondisi apapun. Selagi bosan, saya bisa memutar lagu atau menghibur diri dengan game miliknya. Jika banyak tugas atau kerjaan, ia punya alat yang pas agar pekerjaanku cepat selesai. Saat saya rindu dengan semua temanku, aku bisa menggapainya lewat dunia maya melalui layarnya yang mulai kusam itu. Jika ingin membaca, ia punya segunung bahan bacaan, artikel buku dan sebagainya. Laparnya mata ini ketika ingin nonton film, ia sudah kupersiapkan dengan setumpuk file film menarik. Hei kamu, komputerku , kau sangat berguna. hahahahaha

Meskipun kau sering sakit akibat virus brengsek buatan korporasi antivirus rakus itu, namun sedianya saya selalu bisa menemukan obat yang pas. Jadilah kau sangat jarang sakit, apalagi sampai tidak bisa bekerja. Tetapi setahun terakhir, kau dan aku berhadapan dengan masalah baru, kelayakan pasokan listrik untuk bisa membuat otot dan otak mu bekerja sama sekali buruk. Seringnya listrik rumah kost padam akibat kelebihan pemakaian yang tidak sebanding dengan daya normal yang terpasang membuat perangkat kerasmu compang camping. Gudang data mu alias hardisk adalah organ tubuh pertama yang menjadi tumbal akibat krisis listrik ini. Kemudian disusul bunyi bising dari perangkat audio pada motherboard mu. Semuanya sungguh mengganggu. Puncaknya ketika hardisk berkapasitas 160 GB harus saya cabut dari tubuhmu dan menggantinya dengan yang baru karna rusak parah. Ini namanya“Sungguh terlalu” , kata bang Rhoma.

Bukannya tanpa sebab, mengapa listrik di kost ke empatku ini sering ‘latto’. Kehadiran kulkas milik ibu kost yang memutuskan untuk ikut tinggal di dalam rumah kost menjadi penyebab utama ketidakmampuan daya 900 watt milik rumah ini memikul semua hisapan listrik alat elektronik yang dimiliki semua penghuni. Jadilah, bapak meteran mengambil langkah taktis ketika pemakaian melewati batas kemampuan, mematikannya!

Ketidakmampuanku membeli UPS yang punya fungsi seperti baterai isi ulang pada laptop dan handphone, agar mencegah komputer ikut padam ketika listrik mati, membuat organ tubuh si dia rontok satu persatu. Karena komputer memiliki banyak komponen yang sangat sensitif terhadap perubahan tegangan, apalagi listrik yang tiba-tiba terputus pasokannya. Seorang teman yang jago soal komputer pernah menjelaskannya padaku, ia bilang hardisk memiliki dua komponen vital, jarum pembaca sekaligus penulis, dan piringan tempat menaruh/menuliskan data. Jarak antara keduanya ia gambarkan hanya setebal rambut manusia saat tidak dinyalakan. Saat bekerja, kedua permukaannya bersentuhan dengan batas pekerjaan yang diperintahkan, apakah membaca atau menuliskan data. Dan ketika listrik padam, kedua komponen ini saling bergesekan tajam tak terkontrol akibat kehilangan daya. Jadilah piringan tersebut tergores sana sini. Sisi yang tergores biasanya disebut bad sector, yang sudah tidak bisa lagi dipakai untuk ditulis atau dibaca oleh jarum ‘sakti‘. Semakin sering komputer mati tak wajar alias tidak dimatikan dengan perintah kita melalui OS yang kita install, maka semakin banyak bad sector yang muncul, bagai panu yang menjalar ke seluruh tubuh. Akhirnya, bang! Hardisk totally broken, damn it!

Dengan jerih payah mengetik semua dokumentasi kegiatan yang diselenggarakan sebuah lembaga donor asal negeri yang paling ‘kassa’ produksi sepeda motor itu, saya akhirnya mampu membeli hardisk baru. Kapasitasnya juga lumayan 1 Tera Byte, ‘senangnya dalam hati’seperti kata si Ahmad Dhani dalam lagu daur ulangnya madu tiga. Tetapi akar permasalahan belum juga terselesaikan, listrik di rumah kost masih saja sering padam. Di minggu ke tiganya, hardisk baru mulai menujukkan tanda-tanda ketidaknormalannya. Salah satu partisinya setiap kali log on OS, itu seringkali meminta disk checking. “Anjritt, masa’ hardisk ku yang baru sudah rusak lagi”. Saya memendamya dalam-dalam, lagian saya seringkali melupakannya karena tumpukan kesibukan di tiap harinya. 

Tibalah saya pada satu momen, setelah merampungkan dokumentasi tulisku saya kemudian didaulat untuk menjadi sekretaris kegiatan lokakarya jurnalistik bagi alumnus Jurusan Ilmu Kelautan Unhas. Namanya juga sekertartis, sedikit banyak bersentuhan dengan tugas ketik mengetik berbagai keperluan adiministrasi untuk mendukung terlaksananya kegiatan ini. Dasar brengsek, di pagi hari nan cerah ketika saya sedang olah jari di atas keyboard listrik tiba-tiba padam, selang beberapa menit kemudian menyala kembali. Dengan sesak di dada menahan jengkel, saya menyalakan kembali komputerku, mencari dokumen yang baru saja ku ketik. Saya mulai merapikan beberapa bagian yang tidak sempat disave, saya mesti mengetiknya kembali, bertambahlah kekesalanku. Tak lama kemudian, listrik kembali padam, saya tak bisa membendung lagi amarahku, keluarlah makian dari mulut, ditambah tendangan telak ke badan pintu kamar. 

Saya lantas mencari biang kerok permasalahan yang tak lain adalah pemilik rumah kost. Saya mendapatinya di teras rumah. Saya membuka percakapan dengan nada tinggi, menumpahkan kekesalanku selama ini, tentang listrik yang sering kali padam, daya listrik yang tak sesuai dengan konsumsi listrik semua penghuni dan tentu saja mengenai kepemilikan kulkas jahanam empunya kos yang membuat ini semua terjadi. Percakapan menemui jalan buntu, karena saya dan bos kos diselimuti amarah. Saya lantas melontarkan peryataan menantang, “jika tidak ada solusi, saya menolak membayar uang listrik untuk bulan ini, jika anda tidak terima, boleh usir saya tapi kembalikan uang sewa saya”. Saya pun meninggalkannya dalam kebisuan, menuju kamar ku untuk melanjutkan pekerjaan dan berharap listrik tidak lagi padam. Selang beberapa saat empunya kos menyatroni kamarku. Membawa secarik kertas dan beberapa lembar uang merah. Rupanya ia menerima permintaanku untuk pindah, entah karena ia tidak suka dengan kelakuanku tadi, atau apa. Saya pun langsung menerima uang itu dan mengajukan tenggat waktu pindah selama 1 minggu . Ia menyetujuinya, saya menghindari percakapannya soal listrik tadi, karena saya sudah bosan dengan argumennya yang kering solusi.  Saya menutup percakapan  itu dengan segera karena harus melanjutkan pekerjaan saya. 

Tapi setelah saya pikir-pikir, biaya hidup yang terlalu tinggi menyebabkan pemilik kost-kostan segan untuk menaikkan daya listrik di tempat kami. Jika daya listrik dinaikkan, maka biaya beban normal tanpa pemakaian juga akan naik, tentu saja hal ini makin memberatkan penghuni rumah kost ini. PLN sebagai institusi di bawah naungan pemerintah terus mendapatkan rapor buruk sebagi BUMN yang paling sering mengalami kebocoran dana, penyebabnya apa lagi, ya kalau bukan korupsi. Di tiap akhir pelaporan anggaran, PLN selalu mengumumkan kerugian yang besar, padahal dana segar yang dihisap dari konsumennya yaitu masyarakt itu sendiri, lebih banyak masuk ke kantong pejabat terasnya. Relasi sosial yang mirip dengan bentuk upeti jaman feodal dahulu nyatanya terjadi di masa sekarang, namun dengan bentuk yang lebih samar. Kami para pekerja upahan, bersusah payah banting tulang di tiap jam kerja, lantas seketika dirampok penghasilan kami melalui pembayaran tagihan listrik yang tinggi. Dan nyatanya kenaikan tarif dasar listrik di tiap masa setelah perhelatan pemilu besar-besaran di negeri ini, sama sekali tidak di ikuti peningkatan pelayanan yang berarti. Sebut saja pemadaman bergilir yang berlangsung setahun silam di kota Makassar. Kita bisa melihat betapa tololnya pemerintah dengan menyetejui membeli dan membangun infrastruktur PLTA Bakaru Pinrang tanpa menyiapkan tenaga teknis yang mampu memelihara dan memperbaiki peralatan tersebut. Akibatnya ketika satu elemen kecil dalam mesin pada PLTA Bakaru rusak, kita harus menunggu berbulan-bulan hingga datang tenaga teknis dari Jerman, asal mesin tersebut dibuat. Dan kami sebagai konsumen dipaksa menikmati pemadaman bergilir yang menghancurkan property elektronik kami. Dan anehnya, tidak ada perubahan signifikan dari jumlah tagihan listrik sebelum adanya pemadaman dan setelahnya. Sungguh korup PLN ini! 

Dari pada saya terus menggerutu dengan analisa pas-pasan dan sotta’ mending saya akhiri saja. Sekedar informasi boy, saya menulis gerutuan ini 4 hari setelah saya mengajukan protes itu dan masih belum menemukan kamar kost yang baru untuk tinggal nantinya. Oh Iya, juga sementara berlangsung pelatihan atau Lokakarya Jurnalistiknya ISLA, dan Nurhady Sirimorok yang didaulat menjadi pematerinya mampu membakarku untuk kembali menulis, maka jadilah onggokan huruf-huruf ini. :P