Kamis, 28 Juni 2012

Footballize Me!


Saya tidak tahu pasti kapan kegilaan saya terhadap sepakbola dimulai. Seingatku waktu SMP, beberapa kali saya menyempatkan diri menonton siaran sepakbola di TV. Liga Italia kala itu menjadi liga paling bergengsi di eropa, sebelum akhirnya terpuruk karena kasus pengaturan skor dan krisis ekonomi.  Kebetulan TV di Indonesia (sampai sekarang) dengan sokongan produsen rokok mampu membeli hak siar tersebut, sehingga saya yang berada di kota kecil mampu mengkonsumsinya.
Sekarang saya sangat suka menonton sepakbola, dari pertandingan tarkam (antar kampung), liga indonesia hingga pertandingan bergengsi selevel liga inggris dan champions eropa. Tentu saja ini hanya bisnis, sebuah industri yang di dalamnya ada pekerja dan pemilik modal serta orang-orang seperti saya, konsumen. Hahaha
Begitu krisis ekonomi datang, kualitas kompetisi pun ikut menurun. Klub-klub di Italia dan Spanyol merasakan sulitnya mengelelola sebuah klub dengan besarnya utang. Walhasil Hernan Cerspo di Italia dan Ruud Van Nisteltoy masih bermain di divisi teratas dan menjadi tulang punggung timnya masing-masing. Gaji yang tak lagi mahal plus pengalaman dan kemampuan yang masih tersisa di mantan pemain top dunia tersebut  menjadi alasan kuat bagi klub untuk mempertahankannya.
Saya tak begitu fanatik dengan sebuah tim, tapi saya menyukai Chelsea FC. Tim asal London barat ini adalah tim yang sering saya pakai saat bermain game PES atau Winning Eleven. Mungkin alasannya hanya itu saja. Saat masih diasuh Jose Mourinho mereka punya pemain-pemain yang punya fisik yang kuat, sehingga di PES saya bisa dengan mudah merebut bola dari kaki lawan.
Chelsea bermain di liga Inggris, di mana kompetisi ini merupakan variabel yang baik untuk melihat bagaimana sepakbola dikelola sebagai sebuah industri yang menghasilkan keuntungan bagi pemodal. Inggris layaknya negeri-negeri miskin seperti Indonesia di mana segala syarat untuk membangun sebuah imperium ekonomi tersedia di dalamnya. Jika di negara seperti Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah dan pekerja yang murah, Inggris memiliki kultur masyarakat yang gila sepakbola serta deretan sekolah sepakbola yang siap memasok pemain-pemain baru. Oleh karenanya tidak heran jika investor kelas kakap seperti Abrahamovic dan Syekh Masour tidak ragu meggelontorkan miliaran dollar untuk membangun tim yang kuat di Inggris.
Dan hal yang penting tentang sepakbola adalah kenangan dengan seorang teman. Dia juga gila bola, dan kami sering menonton pertandingan liga inggris bersama-sama. Saya masih ingat bagaimana ekspresinya ketika Intermilan- tim yang ia bela karena pelatihnya Jose Mourinho-berjumpa Bayern Munich di final Liga Champions musim 2009-2010. Dia seperti menonton langsung di stadion tempat digelarnya pertandingan. Berteriak-teriak, rambutnya diacak-acak, bahkan menutup mata saat pemain Bayern mendapat peluang yang baik untuk mencetak gol. Sungguh lebay fans sepakbola yang satu ini. Hahaha
Sekarang ia sedang berjuang agar bisa kembali menapak tanah dan menikmati sepakbola, tentu saja sendiri tanpa saya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamis, 28 Juni 2012

Footballize Me!


Saya tidak tahu pasti kapan kegilaan saya terhadap sepakbola dimulai. Seingatku waktu SMP, beberapa kali saya menyempatkan diri menonton siaran sepakbola di TV. Liga Italia kala itu menjadi liga paling bergengsi di eropa, sebelum akhirnya terpuruk karena kasus pengaturan skor dan krisis ekonomi.  Kebetulan TV di Indonesia (sampai sekarang) dengan sokongan produsen rokok mampu membeli hak siar tersebut, sehingga saya yang berada di kota kecil mampu mengkonsumsinya.
Sekarang saya sangat suka menonton sepakbola, dari pertandingan tarkam (antar kampung), liga indonesia hingga pertandingan bergengsi selevel liga inggris dan champions eropa. Tentu saja ini hanya bisnis, sebuah industri yang di dalamnya ada pekerja dan pemilik modal serta orang-orang seperti saya, konsumen. Hahaha
Begitu krisis ekonomi datang, kualitas kompetisi pun ikut menurun. Klub-klub di Italia dan Spanyol merasakan sulitnya mengelelola sebuah klub dengan besarnya utang. Walhasil Hernan Cerspo di Italia dan Ruud Van Nisteltoy masih bermain di divisi teratas dan menjadi tulang punggung timnya masing-masing. Gaji yang tak lagi mahal plus pengalaman dan kemampuan yang masih tersisa di mantan pemain top dunia tersebut  menjadi alasan kuat bagi klub untuk mempertahankannya.
Saya tak begitu fanatik dengan sebuah tim, tapi saya menyukai Chelsea FC. Tim asal London barat ini adalah tim yang sering saya pakai saat bermain game PES atau Winning Eleven. Mungkin alasannya hanya itu saja. Saat masih diasuh Jose Mourinho mereka punya pemain-pemain yang punya fisik yang kuat, sehingga di PES saya bisa dengan mudah merebut bola dari kaki lawan.
Chelsea bermain di liga Inggris, di mana kompetisi ini merupakan variabel yang baik untuk melihat bagaimana sepakbola dikelola sebagai sebuah industri yang menghasilkan keuntungan bagi pemodal. Inggris layaknya negeri-negeri miskin seperti Indonesia di mana segala syarat untuk membangun sebuah imperium ekonomi tersedia di dalamnya. Jika di negara seperti Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah dan pekerja yang murah, Inggris memiliki kultur masyarakat yang gila sepakbola serta deretan sekolah sepakbola yang siap memasok pemain-pemain baru. Oleh karenanya tidak heran jika investor kelas kakap seperti Abrahamovic dan Syekh Masour tidak ragu meggelontorkan miliaran dollar untuk membangun tim yang kuat di Inggris.
Dan hal yang penting tentang sepakbola adalah kenangan dengan seorang teman. Dia juga gila bola, dan kami sering menonton pertandingan liga inggris bersama-sama. Saya masih ingat bagaimana ekspresinya ketika Intermilan- tim yang ia bela karena pelatihnya Jose Mourinho-berjumpa Bayern Munich di final Liga Champions musim 2009-2010. Dia seperti menonton langsung di stadion tempat digelarnya pertandingan. Berteriak-teriak, rambutnya diacak-acak, bahkan menutup mata saat pemain Bayern mendapat peluang yang baik untuk mencetak gol. Sungguh lebay fans sepakbola yang satu ini. Hahaha
Sekarang ia sedang berjuang agar bisa kembali menapak tanah dan menikmati sepakbola, tentu saja sendiri tanpa saya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamis, 28 Juni 2012

Footballize Me!


Saya tidak tahu pasti kapan kegilaan saya terhadap sepakbola dimulai. Seingatku waktu SMP, beberapa kali saya menyempatkan diri menonton siaran sepakbola di TV. Liga Italia kala itu menjadi liga paling bergengsi di eropa, sebelum akhirnya terpuruk karena kasus pengaturan skor dan krisis ekonomi.  Kebetulan TV di Indonesia (sampai sekarang) dengan sokongan produsen rokok mampu membeli hak siar tersebut, sehingga saya yang berada di kota kecil mampu mengkonsumsinya.
Sekarang saya sangat suka menonton sepakbola, dari pertandingan tarkam (antar kampung), liga indonesia hingga pertandingan bergengsi selevel liga inggris dan champions eropa. Tentu saja ini hanya bisnis, sebuah industri yang di dalamnya ada pekerja dan pemilik modal serta orang-orang seperti saya, konsumen. Hahaha
Begitu krisis ekonomi datang, kualitas kompetisi pun ikut menurun. Klub-klub di Italia dan Spanyol merasakan sulitnya mengelelola sebuah klub dengan besarnya utang. Walhasil Hernan Cerspo di Italia dan Ruud Van Nisteltoy masih bermain di divisi teratas dan menjadi tulang punggung timnya masing-masing. Gaji yang tak lagi mahal plus pengalaman dan kemampuan yang masih tersisa di mantan pemain top dunia tersebut  menjadi alasan kuat bagi klub untuk mempertahankannya.
Saya tak begitu fanatik dengan sebuah tim, tapi saya menyukai Chelsea FC. Tim asal London barat ini adalah tim yang sering saya pakai saat bermain game PES atau Winning Eleven. Mungkin alasannya hanya itu saja. Saat masih diasuh Jose Mourinho mereka punya pemain-pemain yang punya fisik yang kuat, sehingga di PES saya bisa dengan mudah merebut bola dari kaki lawan.
Chelsea bermain di liga Inggris, di mana kompetisi ini merupakan variabel yang baik untuk melihat bagaimana sepakbola dikelola sebagai sebuah industri yang menghasilkan keuntungan bagi pemodal. Inggris layaknya negeri-negeri miskin seperti Indonesia di mana segala syarat untuk membangun sebuah imperium ekonomi tersedia di dalamnya. Jika di negara seperti Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah dan pekerja yang murah, Inggris memiliki kultur masyarakat yang gila sepakbola serta deretan sekolah sepakbola yang siap memasok pemain-pemain baru. Oleh karenanya tidak heran jika investor kelas kakap seperti Abrahamovic dan Syekh Masour tidak ragu meggelontorkan miliaran dollar untuk membangun tim yang kuat di Inggris.
Dan hal yang penting tentang sepakbola adalah kenangan dengan seorang teman. Dia juga gila bola, dan kami sering menonton pertandingan liga inggris bersama-sama. Saya masih ingat bagaimana ekspresinya ketika Intermilan- tim yang ia bela karena pelatihnya Jose Mourinho-berjumpa Bayern Munich di final Liga Champions musim 2009-2010. Dia seperti menonton langsung di stadion tempat digelarnya pertandingan. Berteriak-teriak, rambutnya diacak-acak, bahkan menutup mata saat pemain Bayern mendapat peluang yang baik untuk mencetak gol. Sungguh lebay fans sepakbola yang satu ini. Hahaha
Sekarang ia sedang berjuang agar bisa kembali menapak tanah dan menikmati sepakbola, tentu saja sendiri tanpa saya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar