Saya tidak tahu
pasti kapan kegilaan saya terhadap sepakbola dimulai. Seingatku waktu SMP,
beberapa kali saya menyempatkan diri menonton siaran sepakbola di TV. Liga
Italia kala itu menjadi liga paling bergengsi di eropa, sebelum akhirnya
terpuruk karena kasus pengaturan skor dan krisis ekonomi. Kebetulan TV di Indonesia (sampai sekarang) dengan
sokongan produsen rokok mampu membeli hak siar tersebut, sehingga saya yang
berada di kota kecil mampu mengkonsumsinya.
Sekarang saya
sangat suka menonton sepakbola, dari pertandingan tarkam (antar kampung), liga
indonesia hingga pertandingan bergengsi selevel liga inggris dan champions
eropa. Tentu saja ini hanya bisnis, sebuah industri yang di dalamnya ada
pekerja dan pemilik modal serta orang-orang seperti saya, konsumen. Hahaha
Begitu krisis
ekonomi datang, kualitas kompetisi pun ikut menurun. Klub-klub di Italia dan Spanyol
merasakan sulitnya mengelelola sebuah klub dengan besarnya utang. Walhasil
Hernan Cerspo di Italia dan Ruud Van Nisteltoy masih bermain di divisi teratas
dan menjadi tulang punggung timnya masing-masing. Gaji yang tak lagi mahal plus
pengalaman dan kemampuan yang masih tersisa di mantan pemain top dunia tersebut menjadi alasan kuat bagi klub untuk
mempertahankannya.
Saya tak begitu
fanatik dengan sebuah tim, tapi saya menyukai Chelsea FC. Tim asal London barat
ini adalah tim yang sering saya pakai saat bermain game PES atau Winning
Eleven. Mungkin alasannya hanya itu saja. Saat masih diasuh Jose Mourinho
mereka punya pemain-pemain yang punya fisik yang kuat, sehingga di PES saya
bisa dengan mudah merebut bola dari kaki lawan.
Chelsea bermain
di liga Inggris, di mana kompetisi ini merupakan variabel yang baik untuk
melihat bagaimana sepakbola dikelola sebagai sebuah industri yang menghasilkan
keuntungan bagi pemodal. Inggris layaknya negeri-negeri miskin seperti
Indonesia di mana segala syarat untuk membangun sebuah imperium ekonomi
tersedia di dalamnya. Jika di negara seperti Indonesia memiliki bahan baku yang
melimpah dan pekerja yang murah, Inggris memiliki kultur masyarakat yang gila
sepakbola serta deretan sekolah sepakbola yang siap memasok pemain-pemain baru.
Oleh karenanya tidak heran jika investor kelas kakap seperti Abrahamovic dan
Syekh Masour tidak ragu meggelontorkan miliaran dollar untuk membangun tim yang
kuat di Inggris.
Dan hal yang
penting tentang sepakbola adalah kenangan dengan seorang teman. Dia juga gila
bola, dan kami sering menonton pertandingan liga inggris bersama-sama. Saya
masih ingat bagaimana ekspresinya ketika Intermilan- tim yang ia bela karena
pelatihnya Jose Mourinho-berjumpa Bayern Munich di final Liga Champions musim
2009-2010. Dia seperti menonton langsung di stadion tempat digelarnya
pertandingan. Berteriak-teriak, rambutnya diacak-acak, bahkan menutup mata saat
pemain Bayern mendapat peluang yang baik untuk mencetak gol. Sungguh lebay fans
sepakbola yang satu ini. Hahaha
Sekarang ia
sedang berjuang agar bisa kembali menapak tanah dan menikmati sepakbola, tentu
saja sendiri tanpa saya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar