Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2015

Apa Kata TV Soal Konsumerisme

source : fineartamerica.com/profiles/allan-swart
Di ruang tengahnya yang hangat, David selonjoran di sofa, menjulurkan tangan lalu menekan tombol remot TV dengan malas, mencari-cari sesuatu untuk menghiburnya. Tapi percuma saja, Ia tetap gelisah menahan hasrat yang lebih besar daripada akal sehatnya. Matanya melirik jam dinding, sudah jam 1 malam rupanya. Dia tahu, kota seperti Sydney -tempat ia tinggal saat ini- ada banyak super market yang buka 24 jam. David sudah tidak tahan lagi, ia sambar baju hangat yang ada di ruang tengah, juga kunci mobil dan bergegas ke garasi. Mobil ia pacu, berharap agar ‘birahinya’ ini bisa segera menemukan pelampiasan.

Terang neon toko menyambut riang David, “oh saat-saat yang mendebarkan”, gumamnya.
Satu jam kemudian David keluar dari supermarket menenteng dua kantong besar belanjaan. Perjalanan dari kasir, ke pintu keluar menuju halaman parkir adalah puncak kenikmatan. Ia tak akan menyianyiakannya, David sedang “high”. Candu telah ia temukan, dihisap, dikunyah, dibiarkannya mengalir ke darah menuju otak dan mengantarkan domapin yang penuh kesenangan. Akhirnya Ia bisa tidur nyenyak malam ini.

Pagi, matahari lembut menyapu wajahnya. Tak jauh dari tempat tidur dua tumpuk barang bersesak-sesak di dalam kantong plastik putih. David menatap lesu. Penyesalan perlahan mengalir, memancar kemudian meledak di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hangat pagi membuatnya sadar, kecanduan akan belanja belum bisa ia kendalikan. Ia sakit dan butuh pertolongan.

Cerita mini di atas adalah potongan adegan program “Taboo” yang ditayangkan NG yang kali ini membahas tema “Addicted”. Sungguh sebuah kebetulan yang menarik sekaligus mengusik. Karena di malam yang sama saat tayangan itu muncul, saya baru saja menyelesaikan membaca buku “Sosiologi Waktu Luang: Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mall”. Buku ini ditulis oleh M. Ridha, seorang kenalan saat saya sedang aktif-aktifnya menghidupi sebuah jurnal bersama teman-teman di Makassar.

Addicted dan buku karya Ridha sama-sama membahas tentang konsumerisme, kebiasaan yang mulai menggeliat pada era pasca revolusi Industri, kemudian meledak di Eropa dan menjalar ke negara-negara dunia ke tiga termasuk Indonesia.Tentu saja keduanya membedah belanja dari perspektif yang berbeda. Dan karena perbedaan itulah saya membuat tulisan ini. Perbedaan-perbedaan ini serius adanya dan berimplikasi pada audiensnya masing-masing, pembaca pada buku M. Ridha dan pemirsa/penonton pada Addicted.

Pola, Narasumber dan Sudut Pandang “Addicted”

Baiklah saya akan bahas apa yang Addicted tawarkan ke pemirsa seperti saya. Lewat sebuah buku berjudul Analisis Framing yang kubaca 2008 silam, saya yang bukan mahasiswa Ilmu Komunikasi memperoleh sedikit panduan bagimana menilai sebuah karya Jurnalistik. Salah satunya adalah cara menebak sudut pandang sebuah berita (dalam kasus ini adalah sebuah dokumenter) melalui pemilihan narasumber. Mengetahui sudut pandang berarti mengetahui pesan “sebenarnya” yang ingin disampaikan oleh sebuah dokumenter sekaligus menyadari motif dibalik pembuatannya.

Sejauh yang saya amati ada 3 narasumber yang NG tampilkan dalam alur cerita Addicted. Yang pertama adalah David warga Sydney pengidap Shopaholic, Celia berprofesi sebagai psikiater dan terakhir dosen pengajar jurusan psikologi, Robert.

Ada pola yang berulang yang digunakan oleh NG dalam menceritakan Addicted. Menampilkan kisah David lebih dahulu, dikomentari oleh psikiater kemudian dilengkapi oleh pendapat dosen. Selama 30 menit menonton acara ini, pola ini cenderung konsisten dan tak berubah. David seperti terdakwa yang sedang disidang, ia dinilai oleh jaksa, hakim dan juri sekaligus. Tentu saja karena David adalah orang dengan perilaku menyimpang.

Namun, mengapa NG hanya menggunakan dua narasumber dari latar belakang yang sebenarnya hampir sama, psikologi? Addicted mengulik kecanduan belanja dari sudut pandang psikis semata! Hal ini menggiring saya (pemirsa TV) untuk menerima pesan bahwa shopaholic merupakan satu jenis penyakit jiwa disebabkan karena semata kelalaian dan kelemahan si pengidap serta faktor eksternal lain. Ada beberapa scene di mana faktor eksternal dijelaskan sebagai salah satu katalisator kecanduan pada David. Contohnya, scene di mana David diceritakan mewarisi beberapa juta dollar tabungan dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Selanjutnya ada kartu kredit dan bukti peminjaman dana. Kemudahan-kemudahan itu memberi jalan yang lapang bagi David untuk masuk ke dalam perangkap candu belanja.

Itu saja? Ya, saya pikir argumentasi NG melalui Addicted hanya sebatas pemberitahuan dan peringatan kepada pemirsanya. Ini adalah program TV yang memberi anda info tentang jenis kecanduan lain selain narkoba namanya shopaholic, ia berbahaya, bisa bikin bangkrut dan menghancurkan kehidupan (masa depan?) kita. Ini adalah sejenis penyakit yang muncul di jaman modern, kita harus berusaha keras untuk menghindarinya.

Itu adalah pesan yang baik, tulus dan menghindarkan kita dari bencana. Dan satu lagi, Addicted benar adanya, tapi tetap saja tayangan ini membut dahi saya berkerut.

Kedangkalan Bisa Jadi Sesat

Penggalian NG pada shopaholic hanyalah di permukaan saja, sementara sebab musabab lain masih dalam tertanam -tak dijangkau olehnya- sehingga pemirsa juga tak melihatnya. Apakah ini sengaja dilakukan? Atau karena soal durasi? Saya pikir bukan.  

Menuduh individu yang tak mampu menahan hasrat dan dukungan faktor eksternal sebagai penyebab gila belanja adalah kesimpulan yang prematur. Karena jika menilik akar historisnya shopaholic, konsumerisme disebabkan oleh faktor-faktor yang bersinggungan dengan lapangan ekonomi, politik, sosiologis juga psikologis (ranah yang dieksplogasi NG dengan sangat dangkal dalam addicted).

Tampaknya semakin rumit dan untuk menghindarinya saya tidak kan membahasnya terlalu panjang.

Sebagai televisi yang identik dengan nama majalah yang punya reputasi sangat baik, sebenarnya saya mengharapkan lebih ketika mereka menayangkan program-programnya. Namun tidak seperti artikel-artikel di majalah yang terkenal mendalam dengan pemilihan narasumber yang hati-hati dan kompeten, Addicted berbeda jauh secara kualitas.

Saya mengharapkan Addicted mampu mengeksplorasi shopaholic dengan lebih menyeluruh misalnya dengan menceritakan sejarahnya, latar sosial, ekonomi dan politik ketika penyakit jiwa tersebut mulai muncul dan menyebar. Siapa tahu saja, NG menemukan fakta bahwa penyakit gila belanja sudah temukan sebelum revolusi Industri dan revolusi Perancis terjadi. Dua momen penting sebagai tonggak lahirnya ideologi dominan hari ini : kapitalisme.

Saya juga berharap NG menampilkan data-data yang menjelaskan keterhubungan durasi menonton TV dengan jumlah konsumsi per kapita sebuah kota atau negara. Ekspektasi selanjutnya adalah Addicted akan menyuguhkan gambar saat peristiwa Malaise terjadi Amerika Serikat yang diakibatkan oleh over produksi. Momen yang diawali Selasa Kelam, peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929 menyebabkan depresi ekonomi berat di negeri uncle sam. Kejadian itu membuat korporasi belajar bahwa over produksi  adalah penyakit inheren dalam sistem kapitalisme dan obatnya selain ekspansi pasar juga mendorong semua pasar (baik yang dekat maupun yang letaknya ribuan kilometer jauhnya) untuk mempraktekkan budaya baru : konsumersime.

Saya mencurigai NG menyembunyikan fakta-fakta tentang konsumerisme sehingga pemirsanya mengambil kesimpulan yang prematur dan akhirnya tersesat. Penonton jadinya tak tahu duduk persoalan sebenarnya tentang konsumerisme, melanjutkan hidup dan tak akan mempertanyakan lebih jauh dunia seperti apa yang mereka jalani saat ini.

Agak naïf memang mengharapkan NG menelanjangi negara seperti AS-di mana korporasi raksasa bercokol-yang aktif mengekspor budaya mereka demi diadopsinya konsumerisme sesegera mungkin oleh negara-negara dunia ke tiga (baca: pasar). Naif memang, karena NG juga merupakan salah satu garda depan, bersama MTV, Hollywood dan kawan-kawannya yang aktif mengindtrodusir kebudayaan barat melalui tayangan-tayangannya. Standar hidup, membeli asuransi, makan di gerai-gerai cepat saji, jalan-jalan ke Mall, memakai baju, sepatu dan pernak-pernih yang dicontohkan para idola dari California adalah sedikit dari segudang kebiasaan baru yang diperkenalkan oleh barat ke negara-negara seperti Indonesia. American Dream, dua kata yang akrab saya dengar dari film Hollywood atau lirik dari lagu favorit saya.

Kita bisa tengok India, pada tahun 1990 hanya 10% dari total populasi masyarakat India yang mampu mengakses TV. Angka tersebut berubah menjadi 75% pada tahun 1999, delapan tahun setelah pemerintah India setuju untuk meminta bailout pada IMF dan merevisi sejumlah kebijakan ekonomi. Globalisasi ekonomi India kemudian diikuti oleh globalisasi kultur, beberapa orang menyebutnya sebagai westernisasi India. Stasiun TV asing meningkat pesat jumlahnya, begitu pula impor film Hollywood yang membanjiri pasar film nasional dan bersaing dengan film-film lokal[1]. Televisi yang banyak membawa nilai-nilai dari luar terutama dari Barat memberikan pola pemikiran baru, masyarakat mulai menginternalisasi nilai-nilai yang dipromosikan yang kemudian mendorong terciptanya gerakan bagi pola hidup mereka[2]. Seiring dengan hal tersebut, di India kemudian terbentuk jenis kelas sosial baru yaitu kelas menengah. Mereka mengejar standar hidup barat, fasih berbahasa Inggris dan menerima kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan (sesuatu yang tidak pernah ada di masyarakat India sebelumnya).

Di jaman di mana status jomblo sama dengan batu akik, sama-sama diekspoitasi demi menghidupi banyak orang, rasanya istilah Gegana (galau gundah gulana) bisa jadi katalisator yang baik bagi saya untuk menulis. Makanya tulisan ini selain disebabkan galau pada NG, juga karena ingin mengingatkan diri sendiri bahwa curiga tidak selamanya salah. Pemirsa televisi mesti memiliki sikap kritis terhadap tayangan televisi. Agar kita tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka sampaikan sebelum kita cerna baik-baik dan membandingkannya dengan sumber informasi lain yang punya sudut pandang yang berbeda. 

Ah rempong. Mana pilih, repot-repot berpikir atau terus dibodohi. :D

Atau mungkin kita bisa mengambil langkah lain. Matikan TV dan mulai mengerjakan hal-hal lain di mana kita berlaku sebagai subjek aktif, main game misalnya? :P 


Rujukan:
[1]http://mahrita-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-82498-PengantarGlobalisasi-Pengaruh Globalisasi terhadap Pergeseran Kelas dalam Masyarakat: Studi Kasus Fenomena Konsumerisme di India.html

[2] Ibid

Minggu, 17 April 2011

Free Download "Collapse", Jared Diamond

Resensi oleh Ishmael Yahalah
Sekali lagi Jared Diamond membongkar erorr peradaban, dan berikut adalah salah satu karyanya yang berhasil divisualisasikan oleh salah satu production house raksasa dunia NG. Nikmati filmnya pada link berikut:
Sebelumnya, kamu bisa membaca resensinya yang di blog ini saya ambil dari:


Resensi

Sebuah Dunia Yang Akan Kolaps





Judul
: Collapse (Based on The Book of Jared Diamond)
Sutradara/penulis : Noel Dockstader
Editor : Steve Eagleton
Tahun : September, 2010
Produser : Noel Dockstader
Produksi : Far West Film Co. & National Geographic Television
Peresensi : Ishmael Yahalah


Jared Diamond
telah menggugah banyak orang di berbagai belahan dunia ini. Dalam tulisan-tulisannya, Diamond memberikan pandangan dan penafsiran ulang atas sejarah dan peradaban yang berdiri saat ini. Tulisannya yang kaya sekaligus kontroversial merentang dari sejarah hingga geografi, dari fisiologi hingga arkeologi. Dalam buku terkenalnya Gun, Germs, and Steel (2006) yang memenangi hadiah Pulitzer, Profesor Diamond menyingkap bagaimana peradaban di dunia ini bisa terbentuk sedemikian rupa melalui proses yang tidaklah alamiah. Ia menjelajahi gurun di Afrika, hutan Papua, kota-kota kuno di Bulan Sabit Subur, hingga Amerika Selatan. Salah satu tesis pentingnya bahwa agrikultur adalah “kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia”, menjadi perbincangan yang sengit di kalangan yang mendukung dan menolak tesis tersebut.

Dan
di buku setelahnya Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed (2005), Diamond belum beranjak dari tesis awalnya tersebut. Jika dalam “Gun, Germs and Steel” profesor fisiolog ini menjabarkan tentang asal usul dan kejatuhan sebuah peradaban, maka “Collapse” lebih banyak mengurai konsekuensi yang tidak bisa dijauhkan, manakala sebuah peradaban berjalan. Yang pada akhirnya, dikarenakan karakternya yang destruktif, peradaban akan runtuh mengulangi sejarah-sejarah terdahulu di masa silam.
Film “Collapse”
ini adalah kolaborasi kedua National Geographic dengan sang Professor, setelah Gun, Germs and Steel (2008) yang terdiri atas tiga seri diproduksi.

Seperti
gagasan inti dalam buku yang melatarbelakangi film ini, Collapse membawa sebuah pertanyaan besar ke ruang tengah rumah kita saat menontonnya : apa yang akan terjadi dengan bumi ini jika kehidupan kita pertahankan seperti sekarang ini? Jawabnya : kolaps!

Collapse
adalah pengujian mengenai kebiasaan-kebiasaan dalam peradaban manusia yang dapat berdampak pada keseluruhan jejaring kehidupan dan bumi. Film ini meninjau ulang, mengujinya dengan standar pengetahuan terkini, dan memberikan kesimpulan mengenai relasi antara metode kehidupan harian kita dengan efeknya ke depan. Dan tentu saja, berdasarkan kejadian-kejadian di masa silam serta fakta dan kecenderungan terkini, ia menunjukkan bahwa apa yang terjadi belakangan ini seperti penyusutan lahan, krisis pangan, air dan sumber energi berpotensi mendorong kolapsnya peradaban.
 
Memang bukanlah hal baru dalam mengkonversi buku menjadi film. Namun jika buku yang dimaksud adalah buku non-fiksi setebal 571 halaman, untuk kemudian diperas menjadi film dokumenter berdurasi lebih dari 90 menit yang bisa ditonton oleh semua kalangan, tentu memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Tetapi sang sutradara sekaligus penulis skenario Noel Dockstader punya siasat.
Berbeda dengan Inconventional Truth dimana Al Gore membangun argumen yang kuat dan populer tentang gejala pemanasan global dengan menyandingkan  paradoks masa lalu dengan yang kini terjadi di bumi. Dalam Collapse, Dockstader juga sekaligus membangun visualisasi masa depan untuk menggambarkan situasi yang bisa (atau akan!) terjadi –namun belum nampak disebabkan jaraknya yang terlalu dekat dengan kita dan karenanya lebih sering diremehkan. Dengan plot alur maju-mundur, versi film ini cukup berhasil memisahkan diri keluar dari bayang-bayang Collapse versi buku yang lebih dahulu popular.

Collapse mengajak melakukan perjalanan waktu menembus 200 tahun ke masa depan untuk melihat seperti apa sebuah peradaban yang kita tempati ini nantinya, sambil sesekali melongok ke ribuan tahun yang lampau. Interpretasi visual terhadap tulisan Jared Diamond ini memang cukup membantu untuk membangun kontras dan abstraksi antara kisah masa silam, sekarang dan masa depan.

Diceritakan, sekelompok ilmuwan di tahun 2210 yang tergabung dalam Project Collapse, paska kolapsnya peradaban saat ini, meneliti sisa-sisa keruntuhan. Mereka meneliti sisa-sisa dan artefak dari 200 tahun yang lalu (yakni masa sekarang) untuk mencari tahu mengapa peradaban sekarang runtuh. Para ilmuwan di masa depan tersebut mendatangi gurun bekas kota Phoenix, yang peradabannya runtuh karena pengelolaan sumber air. Mereka juga mengunjungi Central Valley, bekas lahan pertanian raksasa di California, hingga menyelami laut di perairan yang dulunya merupakan kota padat Cape Canaveral, Florida.

Berbagai artefak sisa-sisa manusia jaman sekarang ditemukan para peneliti. Dari kolam renang di rumah-rumah warga Amerika, bangkai pesawat luar angkasa, hingga ikon peradaban modern kita : mobil. Berdasarkan temuan artefak-artefak tersebut para ahli menelusuri mengapa peradaban yang berdiri saat ini bisa runtuh.

Apa yang dimaksud dengan situasi “kolaps” sendiri dijabarkan Jared dalam bukunya ‘Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed’, sebagai “penurunan drastis jumlah populasi manusia dan atau kompleksitasnya secara sosial, ekonomi, politik, pada wilayah dalam sebuah rentangan waktu.” Kejatuhan sebuah peradaban diawali oleh kemunduran-kemunduran yang dialaminya sedikit demi sedikit, yang dapat ditandai dengan beberapa bentuk-bentuk kecil (milder type) sebelumnya.

Bentuk-bentuk tersebut dapat berupa kemunculan atau kejatuhan yang bersifat minor yang ditandai dengan terjadinya restrukturisasi dalam sebuah masyarakat secara politik, ekonomi atau sosial; ditaklukkannya sebuah masyarakat oleh masyarakat tetangganya, atau kemundurannya terkait kejayaan daerah tetangganya tanpa adanya perubahan dalam keseluruhan populasi atau kompleksitas pada seluruh wilayah tersebut; dan pergantian elit penguasa dari satu ke satu lainnya.

Diamond memberikan beberapa contoh peradaban yang kolaps dalam sejarah dunia silam seperti Anasazi dan Cahokia di daerah yang kini kita kenal sebagai perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko, kota-kota suku Maya di Amerika Tengah,  masyarakat Moche dan Tiwanaku di daerah selatan benua Amerika, peradaban Mycenean di Yunani serta Minoan Crete di Eropa, zaman kebesaran Zimbabwe di Afrika, era Kuil Angkor di Kamboja, peradaban di kota-kota di Lembah Hindus, hingga Pulau Easter di kawasan Pasifik.

Di awal, Diamond mencontohkan peradaban Anasazi di Yucatan Peninzula, Meksiko yang hilang ribuan tahun yang lalu. Apa yang ironik disini adalah bahwa situs tersebut merupakan bekas peradaban asli Amerika yang termaju sebelum kedatangan orang-orang Eropa. Perkembangan arsitektur, kultur masyarakat, seni pahat dan ukir, serta seni lukisnya mengagumkan sehingga dijuluki sebagai Mesoamerica, Dunia Baru.

Namun, pada puncak peradabannya, kota-kota kuno tersebut mengalami penyusutan populasi secara ekstrim dalam waktu yang singkat dan berakhir dengan keruntuhan peradaban Maya kuno. Penduduk yang pada awalnya membangun kota tersebut menjadi sedemikian megah dan hidup dalam titik puncak peradaban, akhirnya keluar dari kota dan terpaksa mencari tempat baru. Ada apa gerangan?

Puncak peradaban Anasazi adalah menyulap padang pasir dengan curah hujan yang fluktuatif dan situasi geografis yang relatif terisolasi, menjadi kota yang dipenuhi dengan rumah bertingkat, pepohonan, dan sumber pangan yang melimpah. Perkembangan masyarakatnya dapat menjawab permasalahan-permasalahan sosial seperti bagaimana memberi makan seluruh penduduknya.
Dalam menghadapi alam yang kering misalnya, mereka menggali dataran rendah, memodifikasinya, membendung aliran air, menyadap rembesan dari karst (dan batuan kapur bawah tanah) dan membuatkannya saluran menuju sebuah penampungan air raksasa yang juga dapat menampung air hujan. Dengan begitu, mereka dapat menyediakan air minum untuk 10.000 orang selama 18 bulan. Dan kehidupan Maya berkembang menuju puncaknya.
Tetapi seiring itu, orang Maya harus membayar mahal. Lingkungan dan iklim yang mereka taklukkan pun berubah. Para klimatolog (ahli iklim) dan paleoecologist (ahli lingkungan masa lampau) menemukan beberapa bukti mengenai perubahan iklim dan lingkungan yang menyumbang kejatuhan. Tanpa sadar, dengan memodifikasi alam, mereka telah merusak lingkungannya sendiri, termasuk pembabatan hutan untuk pembukaan lahan pertanian dan erosi tanah oleh eksploitasi berlebihan.  Bangsa Maya kuno ditimpa kekeringan berkali-kali, dan memaksa mereka untuk eksodus. Situasi ini ditambah dengan faktor kultural dan politik, seperti persaingan antar raja-raja dan para bangsawan, yang berujung pada perang.

Kisah peradaban Anasazi kuno ini merupakan sudut pandang orang masa sekarang melihat masa lampau. Sementara untuk memahami masa kini, Diamond mengajak memakai sudut pandang orang masa depan. Maka sepanjang film ini ada banyak ilustrasi mengenai bagaimana para ilmuwan masa depan mendapati artefak-artefak sekarang untuk menjelaskan sebuah keruntuhan peradaban terkini.

Collapse mengajukan Las Vegas dan Los Angeles, sebagai sampel (calon) kota peradaban yang runtuh dengan puing-puing dunia modernnya. Kemajuan kota-kota modern tersebut digambarkan serupa dengan kota Anasazi kuno. Yang pada akhirnya ditinggal oleh penduduknya karena tidak memungkinkan lagi untuk hidup di tempat tersebut. Alasannya sederhana, pola kehidupan di kota-kota yang digambarkannya sudah tidak lagi masuk akal. Bagaimana sungai yang memiliki ekosistemnya sendiri dibendung untuk menyuplai air masyarakat kota, lahan pertanian massal dihamparkan dengan menggunduli hutan tropis terlebih dahulu.

Dalam salah satu scene digambarkan bagaimana sebuah usaha pertanian di Huron, harus membunuh (mereka menyebutnya rasionalisasi) pohon-pohon almond produktif yang awalnya mati-matian mereka tanam. Jumlah pohon yang dirasionalisasi mencapai setengah dari lahan, yang terpaksa dilakukan karena defisit air. Sesuatu yang lahir setelah bertahun-tahun mereka mengekstrak air tanpa batas. Di tahun 1950an, California adalah padang gersang yang disulap menjadi taman eden. Mereka melakukannya dengan membuat saluran air berjarak ratusan mil dari sumbernya untuk menyuplai kebutuhan pertanian dan kehidupan sehari-hari. Ini lantas menjadikan wilayah tersebut menjadi salah satu daerah pertanian paling produktif di seluruh dunia.

Sekarang, orang-orang di California mesti menggali sedalam 700 meter hanya untuk mendapatkan air. Sementara satu pohon almond mengkonsumsi 400 liter air setiap hari. Petani harus melakukan langkah radikal untuk beradaptasi dengan krisis atau Los Angeles, California akan menjadi Anasazi di masa kini.
Jared Diamond juga mengajukan krisis energi dan moneter sebagai salah satu hal penting yang menyumbang keruntuhan peradaban. Di masa silam, persoalan energi dan moneter ini sama-sama muncul dalam peradaban Romawi dan Maya. Meskipun kedua peradaban ini saling berjauhan dan belum terkoneksi secara langsung karena situasi teknologi telekomunikasi dan transportasi saat itu, namun keduanya memiliki sesuatu yang sama. Setelah berabad-abad dominasi kejayaannya, era kedua peradaban tersebut akhirnya habis.

Pada era Romawi, perang dan penaklukan serta imperialisme-lah yang membuat peradaban tersebut bertahan. Salah satu yang menopangnya adalah jaringan jalan. Namun seiring waktu, Romawi kehabisan energi untuk terus memperbesar wilayah dan menjalankan tata pemerintahannya.

Kini terdapat setidaknya 2 milyar mobil yang akan menjadi rongsokan berbahaya. Ini adalah salah satu penanda bagaimana absurdnya peradaban ini menyedot dan mengelola energi. Menurut para ahli, kita hanya butuh 200 tahun semenjak revolusi industri, untuk menghabisi cadangan bahan bakar berbasis fosil. Berdasarkan perhitungannya, dalam satu hari kerja manual hanya akan menghasilkan minyak sebanyak satu sendok makan. Ini berarti untuk satu tangki bensin yang tunggal setara dengan dua tahun kerja manusia!
Sementara itu, para ilmuwan dan kaum industrialis terus mengembangkan pembangkit listrik dengan teknologi terbaru. Nyatanya, teknologi yang kita pakai 50 tahun lebih itu hanya mampu mengekstrak 25 persen energi yang tersedia dan membuang percuma 75 persen sisanya. Saat hal itu dirasa tidak mencukupi, mereka kemudian mengembangkan teknologi yang dipandang bisa menghasilkan sumber energi berkali lipat : nuklir!
* * *
Peradaban adalah soal bagaimana menaklukkan alam. Hal ini berlaku semenjak peradaban pertama dimulai dengan pertanian sebagai upaya awal menundukkan dan memanipulasi alam. Pertanian terbukti mengambil lebih banyak dari tanah ketimbang yang bisa dikembalikannya. Dan karenanya Diamond memang benar bahwa hal ini adalah kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia.

Kini, penaklukan alam dalam peradaban modern ini sangatlah mengerikan. Pertambangan minyak, gas, logam dan mineral, menghasilkan lebih banyak kerusakan alam dan ketimpangan sosial ketimbang kemakmuran merata di masyarakat seperti mitos yang dijanjikan. Sementara di tempat lain, juga digambarkan bagaimana laju produksi kendaraan bermotor tak lagi terbendung. Ini akan terus menyerap permintaan akan sumber energi/bahan bakar fosil atau ‘gantinya’ berupa biofuel.

Sebagai konsekuensi inheren dalam peradaban, ancaman krisis pangan, perubahan iklim, bencana alam, gagal panen, genosida, serta perang militer besar-besaran adalah sesuatu yang melekat tak terpisahkan dari kehidupan saat ini.

Apa yang disampaikan Jared Diamond dalam Collapse ini sebenarnya bukanlah hal baru, melainkan rangkuman tentang konsekuensi dari tata kehidupan harian kita. Terbenam dalam peradaban, kita dapat menghancurkan planet ini bahkan dari kamar mandi saja. Tidak perlu ke hutan, dan cukup biarkan Unilever dan Sinar Mas menghabisi hutan tropis di Kalimantan untuk memproduksi sampo atau sabun mandi kita. Tetapi, mode kehidupan modern telah pelan-pelan menyandera kepekaan kita dalam memikirkan dampak dari kehidupan yang kita jalani saat ini. Segala sesuatu yang ‘masih jauh’ itu belum terasa padahal apa yang berlangsung di masa silam telah berulangkali membuktikan bahwa konvergensi kekeringan, kelaparan, bencana lingkungan dan kehancuran finansial adalah penyebab keruntuhan peradaban.
* * *
Peradaban adalah tema sentral dalam beberapa karya Diamond. Ia bukanlah yang pertama dan satu-satunya yang berbicara tentang tema ini. Namun karena pengetahuannya yang luas, keahliannya yang mumpuni, Diamond banyak menginspirasi gerakan radikal seperti kelompok-kelompok anarkis-hijau, anarkis-primitivis, maupun anarkis-antiperadaban secara luas.
Tetapi sang Profesor tetaplah seorang ilmuwan yang dibesarkan oleh peradaban sains itu sendiri yang belum sepenuhnya lepas dari nalar pencerahan. Nampaknya Diamond terlalu khawatir akan keruntuhan yang diramalkannya itu. Kadang pula ia menyamakan kejatuhan peradaban sebagai hal yang similar dengan berakhirnya kehidupan. Proposalnya adalah mempertahankan peradaban modern ini dengan sesuatu yang lebih berkelanjutan. Dalam tawaran praktisnya mendorong manajemen sumberdaya yang arif dan bijaksana di bawah kendali pemerintah dan swasta –sesuatu yang mustahil. Ini mengingatkan rekomendasi optimistiknya di Gun, Germs, and Steell, tentang wabah malaria dan kemiskinan akan dapat ditangani dengan baik lewat ‘kerjasama internasional yang solid’.

Ini sangat berbeda dengan ekspresi anti-peradaban dalam gerakan radikal seperti anarkis-primitivis maupun anarkis non-primitivis yang mengagendakan penghancuran peradaban sebagai satu-satunya jalan untuk mengembalikan harmoni dan kealamian yang lestari. Bukan mempertahankan, melainkan membalikkan arahnya. Dan tentu saja juga sangat berbeda dengan penghancuran dan kehancuran sebagai konsekuensi dari karakter peradaban itu sendiri.

Akhir kata, akan lebih baik jika membaca versi bukunya yang lebih lengkap dan detail. Serta untuk mengurangi kekecewaan atas rekomendasi agenda sang Professor, sering-seringlah mengingat bahwa bagaimanapun ini adalah dokumenter produksi National Geographic! [iy]

Minggu, 10 April 2011

Resensi Film: Ikigami*

Pemerintah Jepang turut andil dalam pelaksanaan sebuah program di mana warga negara yang beumur di bawah 24 tahun, yang memenuhi syarat akan dipilih secara acak, untuk ditentukan hari kematiannya. Sampai pada umur 24 tahun, Kengo Fujimoto diangkat sebagai salah satu dari sekian banyakpekerja yang bertanggung jawab untuk menangani Ikigami, atau surat kematian, memberitahu orang yang hanya tinggal menyisakan umur satu hari atau 24 Jam untuk hidup. Ini hanya cuplikan, walaupun begitu, cara kematian ini sebenarnya disebabkan oleh nanokapsul yang disuntikkan pada waktu masih kanak-kanak. Nanokapsul ini hinggap pada pembuluh darah arteri menunggu diaktifkan oleh pemerintah untuk meledakkan pembuluh darah si korban. Fujimoto sangat menentang aturan ini, tetapi ia tidak dalam posisi yang tepat untuk bisa berbicara lantang melawan hal ini. Malahan ia melanjutkan pekerjaannya seperti diharapkannya. Saat menjalankan tugas ia harus berhadapan dengan berbagai respon emosional dari korban yang mengetahui bahwa umurnya tinggal 24 jam. (film.com)


*ditranslate seadanya dari film.com
-film ini membutikan bahwa negara memang berbahaya bagi siapapun termasuk kamu!-
(dicuri dari blog lama ku hehehe)
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2015

Apa Kata TV Soal Konsumerisme

source : fineartamerica.com/profiles/allan-swart
Di ruang tengahnya yang hangat, David selonjoran di sofa, menjulurkan tangan lalu menekan tombol remot TV dengan malas, mencari-cari sesuatu untuk menghiburnya. Tapi percuma saja, Ia tetap gelisah menahan hasrat yang lebih besar daripada akal sehatnya. Matanya melirik jam dinding, sudah jam 1 malam rupanya. Dia tahu, kota seperti Sydney -tempat ia tinggal saat ini- ada banyak super market yang buka 24 jam. David sudah tidak tahan lagi, ia sambar baju hangat yang ada di ruang tengah, juga kunci mobil dan bergegas ke garasi. Mobil ia pacu, berharap agar ‘birahinya’ ini bisa segera menemukan pelampiasan.

Terang neon toko menyambut riang David, “oh saat-saat yang mendebarkan”, gumamnya.
Satu jam kemudian David keluar dari supermarket menenteng dua kantong besar belanjaan. Perjalanan dari kasir, ke pintu keluar menuju halaman parkir adalah puncak kenikmatan. Ia tak akan menyianyiakannya, David sedang “high”. Candu telah ia temukan, dihisap, dikunyah, dibiarkannya mengalir ke darah menuju otak dan mengantarkan domapin yang penuh kesenangan. Akhirnya Ia bisa tidur nyenyak malam ini.

Pagi, matahari lembut menyapu wajahnya. Tak jauh dari tempat tidur dua tumpuk barang bersesak-sesak di dalam kantong plastik putih. David menatap lesu. Penyesalan perlahan mengalir, memancar kemudian meledak di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hangat pagi membuatnya sadar, kecanduan akan belanja belum bisa ia kendalikan. Ia sakit dan butuh pertolongan.

Cerita mini di atas adalah potongan adegan program “Taboo” yang ditayangkan NG yang kali ini membahas tema “Addicted”. Sungguh sebuah kebetulan yang menarik sekaligus mengusik. Karena di malam yang sama saat tayangan itu muncul, saya baru saja menyelesaikan membaca buku “Sosiologi Waktu Luang: Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mall”. Buku ini ditulis oleh M. Ridha, seorang kenalan saat saya sedang aktif-aktifnya menghidupi sebuah jurnal bersama teman-teman di Makassar.

Addicted dan buku karya Ridha sama-sama membahas tentang konsumerisme, kebiasaan yang mulai menggeliat pada era pasca revolusi Industri, kemudian meledak di Eropa dan menjalar ke negara-negara dunia ke tiga termasuk Indonesia.Tentu saja keduanya membedah belanja dari perspektif yang berbeda. Dan karena perbedaan itulah saya membuat tulisan ini. Perbedaan-perbedaan ini serius adanya dan berimplikasi pada audiensnya masing-masing, pembaca pada buku M. Ridha dan pemirsa/penonton pada Addicted.

Pola, Narasumber dan Sudut Pandang “Addicted”

Baiklah saya akan bahas apa yang Addicted tawarkan ke pemirsa seperti saya. Lewat sebuah buku berjudul Analisis Framing yang kubaca 2008 silam, saya yang bukan mahasiswa Ilmu Komunikasi memperoleh sedikit panduan bagimana menilai sebuah karya Jurnalistik. Salah satunya adalah cara menebak sudut pandang sebuah berita (dalam kasus ini adalah sebuah dokumenter) melalui pemilihan narasumber. Mengetahui sudut pandang berarti mengetahui pesan “sebenarnya” yang ingin disampaikan oleh sebuah dokumenter sekaligus menyadari motif dibalik pembuatannya.

Sejauh yang saya amati ada 3 narasumber yang NG tampilkan dalam alur cerita Addicted. Yang pertama adalah David warga Sydney pengidap Shopaholic, Celia berprofesi sebagai psikiater dan terakhir dosen pengajar jurusan psikologi, Robert.

Ada pola yang berulang yang digunakan oleh NG dalam menceritakan Addicted. Menampilkan kisah David lebih dahulu, dikomentari oleh psikiater kemudian dilengkapi oleh pendapat dosen. Selama 30 menit menonton acara ini, pola ini cenderung konsisten dan tak berubah. David seperti terdakwa yang sedang disidang, ia dinilai oleh jaksa, hakim dan juri sekaligus. Tentu saja karena David adalah orang dengan perilaku menyimpang.

Namun, mengapa NG hanya menggunakan dua narasumber dari latar belakang yang sebenarnya hampir sama, psikologi? Addicted mengulik kecanduan belanja dari sudut pandang psikis semata! Hal ini menggiring saya (pemirsa TV) untuk menerima pesan bahwa shopaholic merupakan satu jenis penyakit jiwa disebabkan karena semata kelalaian dan kelemahan si pengidap serta faktor eksternal lain. Ada beberapa scene di mana faktor eksternal dijelaskan sebagai salah satu katalisator kecanduan pada David. Contohnya, scene di mana David diceritakan mewarisi beberapa juta dollar tabungan dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Selanjutnya ada kartu kredit dan bukti peminjaman dana. Kemudahan-kemudahan itu memberi jalan yang lapang bagi David untuk masuk ke dalam perangkap candu belanja.

Itu saja? Ya, saya pikir argumentasi NG melalui Addicted hanya sebatas pemberitahuan dan peringatan kepada pemirsanya. Ini adalah program TV yang memberi anda info tentang jenis kecanduan lain selain narkoba namanya shopaholic, ia berbahaya, bisa bikin bangkrut dan menghancurkan kehidupan (masa depan?) kita. Ini adalah sejenis penyakit yang muncul di jaman modern, kita harus berusaha keras untuk menghindarinya.

Itu adalah pesan yang baik, tulus dan menghindarkan kita dari bencana. Dan satu lagi, Addicted benar adanya, tapi tetap saja tayangan ini membut dahi saya berkerut.

Kedangkalan Bisa Jadi Sesat

Penggalian NG pada shopaholic hanyalah di permukaan saja, sementara sebab musabab lain masih dalam tertanam -tak dijangkau olehnya- sehingga pemirsa juga tak melihatnya. Apakah ini sengaja dilakukan? Atau karena soal durasi? Saya pikir bukan.  

Menuduh individu yang tak mampu menahan hasrat dan dukungan faktor eksternal sebagai penyebab gila belanja adalah kesimpulan yang prematur. Karena jika menilik akar historisnya shopaholic, konsumerisme disebabkan oleh faktor-faktor yang bersinggungan dengan lapangan ekonomi, politik, sosiologis juga psikologis (ranah yang dieksplogasi NG dengan sangat dangkal dalam addicted).

Tampaknya semakin rumit dan untuk menghindarinya saya tidak kan membahasnya terlalu panjang.

Sebagai televisi yang identik dengan nama majalah yang punya reputasi sangat baik, sebenarnya saya mengharapkan lebih ketika mereka menayangkan program-programnya. Namun tidak seperti artikel-artikel di majalah yang terkenal mendalam dengan pemilihan narasumber yang hati-hati dan kompeten, Addicted berbeda jauh secara kualitas.

Saya mengharapkan Addicted mampu mengeksplorasi shopaholic dengan lebih menyeluruh misalnya dengan menceritakan sejarahnya, latar sosial, ekonomi dan politik ketika penyakit jiwa tersebut mulai muncul dan menyebar. Siapa tahu saja, NG menemukan fakta bahwa penyakit gila belanja sudah temukan sebelum revolusi Industri dan revolusi Perancis terjadi. Dua momen penting sebagai tonggak lahirnya ideologi dominan hari ini : kapitalisme.

Saya juga berharap NG menampilkan data-data yang menjelaskan keterhubungan durasi menonton TV dengan jumlah konsumsi per kapita sebuah kota atau negara. Ekspektasi selanjutnya adalah Addicted akan menyuguhkan gambar saat peristiwa Malaise terjadi Amerika Serikat yang diakibatkan oleh over produksi. Momen yang diawali Selasa Kelam, peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929 menyebabkan depresi ekonomi berat di negeri uncle sam. Kejadian itu membuat korporasi belajar bahwa over produksi  adalah penyakit inheren dalam sistem kapitalisme dan obatnya selain ekspansi pasar juga mendorong semua pasar (baik yang dekat maupun yang letaknya ribuan kilometer jauhnya) untuk mempraktekkan budaya baru : konsumersime.

Saya mencurigai NG menyembunyikan fakta-fakta tentang konsumerisme sehingga pemirsanya mengambil kesimpulan yang prematur dan akhirnya tersesat. Penonton jadinya tak tahu duduk persoalan sebenarnya tentang konsumerisme, melanjutkan hidup dan tak akan mempertanyakan lebih jauh dunia seperti apa yang mereka jalani saat ini.

Agak naïf memang mengharapkan NG menelanjangi negara seperti AS-di mana korporasi raksasa bercokol-yang aktif mengekspor budaya mereka demi diadopsinya konsumerisme sesegera mungkin oleh negara-negara dunia ke tiga (baca: pasar). Naif memang, karena NG juga merupakan salah satu garda depan, bersama MTV, Hollywood dan kawan-kawannya yang aktif mengindtrodusir kebudayaan barat melalui tayangan-tayangannya. Standar hidup, membeli asuransi, makan di gerai-gerai cepat saji, jalan-jalan ke Mall, memakai baju, sepatu dan pernak-pernih yang dicontohkan para idola dari California adalah sedikit dari segudang kebiasaan baru yang diperkenalkan oleh barat ke negara-negara seperti Indonesia. American Dream, dua kata yang akrab saya dengar dari film Hollywood atau lirik dari lagu favorit saya.

Kita bisa tengok India, pada tahun 1990 hanya 10% dari total populasi masyarakat India yang mampu mengakses TV. Angka tersebut berubah menjadi 75% pada tahun 1999, delapan tahun setelah pemerintah India setuju untuk meminta bailout pada IMF dan merevisi sejumlah kebijakan ekonomi. Globalisasi ekonomi India kemudian diikuti oleh globalisasi kultur, beberapa orang menyebutnya sebagai westernisasi India. Stasiun TV asing meningkat pesat jumlahnya, begitu pula impor film Hollywood yang membanjiri pasar film nasional dan bersaing dengan film-film lokal[1]. Televisi yang banyak membawa nilai-nilai dari luar terutama dari Barat memberikan pola pemikiran baru, masyarakat mulai menginternalisasi nilai-nilai yang dipromosikan yang kemudian mendorong terciptanya gerakan bagi pola hidup mereka[2]. Seiring dengan hal tersebut, di India kemudian terbentuk jenis kelas sosial baru yaitu kelas menengah. Mereka mengejar standar hidup barat, fasih berbahasa Inggris dan menerima kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan (sesuatu yang tidak pernah ada di masyarakat India sebelumnya).

Di jaman di mana status jomblo sama dengan batu akik, sama-sama diekspoitasi demi menghidupi banyak orang, rasanya istilah Gegana (galau gundah gulana) bisa jadi katalisator yang baik bagi saya untuk menulis. Makanya tulisan ini selain disebabkan galau pada NG, juga karena ingin mengingatkan diri sendiri bahwa curiga tidak selamanya salah. Pemirsa televisi mesti memiliki sikap kritis terhadap tayangan televisi. Agar kita tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka sampaikan sebelum kita cerna baik-baik dan membandingkannya dengan sumber informasi lain yang punya sudut pandang yang berbeda. 

Ah rempong. Mana pilih, repot-repot berpikir atau terus dibodohi. :D

Atau mungkin kita bisa mengambil langkah lain. Matikan TV dan mulai mengerjakan hal-hal lain di mana kita berlaku sebagai subjek aktif, main game misalnya? :P 


Rujukan:
[1]http://mahrita-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-82498-PengantarGlobalisasi-Pengaruh Globalisasi terhadap Pergeseran Kelas dalam Masyarakat: Studi Kasus Fenomena Konsumerisme di India.html

[2] Ibid

Minggu, 17 April 2011

Free Download "Collapse", Jared Diamond

Resensi oleh Ishmael Yahalah
Sekali lagi Jared Diamond membongkar erorr peradaban, dan berikut adalah salah satu karyanya yang berhasil divisualisasikan oleh salah satu production house raksasa dunia NG. Nikmati filmnya pada link berikut:
Sebelumnya, kamu bisa membaca resensinya yang di blog ini saya ambil dari:


Resensi

Sebuah Dunia Yang Akan Kolaps





Judul
: Collapse (Based on The Book of Jared Diamond)
Sutradara/penulis : Noel Dockstader
Editor : Steve Eagleton
Tahun : September, 2010
Produser : Noel Dockstader
Produksi : Far West Film Co. & National Geographic Television
Peresensi : Ishmael Yahalah


Jared Diamond
telah menggugah banyak orang di berbagai belahan dunia ini. Dalam tulisan-tulisannya, Diamond memberikan pandangan dan penafsiran ulang atas sejarah dan peradaban yang berdiri saat ini. Tulisannya yang kaya sekaligus kontroversial merentang dari sejarah hingga geografi, dari fisiologi hingga arkeologi. Dalam buku terkenalnya Gun, Germs, and Steel (2006) yang memenangi hadiah Pulitzer, Profesor Diamond menyingkap bagaimana peradaban di dunia ini bisa terbentuk sedemikian rupa melalui proses yang tidaklah alamiah. Ia menjelajahi gurun di Afrika, hutan Papua, kota-kota kuno di Bulan Sabit Subur, hingga Amerika Selatan. Salah satu tesis pentingnya bahwa agrikultur adalah “kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia”, menjadi perbincangan yang sengit di kalangan yang mendukung dan menolak tesis tersebut.

Dan
di buku setelahnya Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed (2005), Diamond belum beranjak dari tesis awalnya tersebut. Jika dalam “Gun, Germs and Steel” profesor fisiolog ini menjabarkan tentang asal usul dan kejatuhan sebuah peradaban, maka “Collapse” lebih banyak mengurai konsekuensi yang tidak bisa dijauhkan, manakala sebuah peradaban berjalan. Yang pada akhirnya, dikarenakan karakternya yang destruktif, peradaban akan runtuh mengulangi sejarah-sejarah terdahulu di masa silam.
Film “Collapse”
ini adalah kolaborasi kedua National Geographic dengan sang Professor, setelah Gun, Germs and Steel (2008) yang terdiri atas tiga seri diproduksi.

Seperti
gagasan inti dalam buku yang melatarbelakangi film ini, Collapse membawa sebuah pertanyaan besar ke ruang tengah rumah kita saat menontonnya : apa yang akan terjadi dengan bumi ini jika kehidupan kita pertahankan seperti sekarang ini? Jawabnya : kolaps!

Collapse
adalah pengujian mengenai kebiasaan-kebiasaan dalam peradaban manusia yang dapat berdampak pada keseluruhan jejaring kehidupan dan bumi. Film ini meninjau ulang, mengujinya dengan standar pengetahuan terkini, dan memberikan kesimpulan mengenai relasi antara metode kehidupan harian kita dengan efeknya ke depan. Dan tentu saja, berdasarkan kejadian-kejadian di masa silam serta fakta dan kecenderungan terkini, ia menunjukkan bahwa apa yang terjadi belakangan ini seperti penyusutan lahan, krisis pangan, air dan sumber energi berpotensi mendorong kolapsnya peradaban.
 
Memang bukanlah hal baru dalam mengkonversi buku menjadi film. Namun jika buku yang dimaksud adalah buku non-fiksi setebal 571 halaman, untuk kemudian diperas menjadi film dokumenter berdurasi lebih dari 90 menit yang bisa ditonton oleh semua kalangan, tentu memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Tetapi sang sutradara sekaligus penulis skenario Noel Dockstader punya siasat.
Berbeda dengan Inconventional Truth dimana Al Gore membangun argumen yang kuat dan populer tentang gejala pemanasan global dengan menyandingkan  paradoks masa lalu dengan yang kini terjadi di bumi. Dalam Collapse, Dockstader juga sekaligus membangun visualisasi masa depan untuk menggambarkan situasi yang bisa (atau akan!) terjadi –namun belum nampak disebabkan jaraknya yang terlalu dekat dengan kita dan karenanya lebih sering diremehkan. Dengan plot alur maju-mundur, versi film ini cukup berhasil memisahkan diri keluar dari bayang-bayang Collapse versi buku yang lebih dahulu popular.

Collapse mengajak melakukan perjalanan waktu menembus 200 tahun ke masa depan untuk melihat seperti apa sebuah peradaban yang kita tempati ini nantinya, sambil sesekali melongok ke ribuan tahun yang lampau. Interpretasi visual terhadap tulisan Jared Diamond ini memang cukup membantu untuk membangun kontras dan abstraksi antara kisah masa silam, sekarang dan masa depan.

Diceritakan, sekelompok ilmuwan di tahun 2210 yang tergabung dalam Project Collapse, paska kolapsnya peradaban saat ini, meneliti sisa-sisa keruntuhan. Mereka meneliti sisa-sisa dan artefak dari 200 tahun yang lalu (yakni masa sekarang) untuk mencari tahu mengapa peradaban sekarang runtuh. Para ilmuwan di masa depan tersebut mendatangi gurun bekas kota Phoenix, yang peradabannya runtuh karena pengelolaan sumber air. Mereka juga mengunjungi Central Valley, bekas lahan pertanian raksasa di California, hingga menyelami laut di perairan yang dulunya merupakan kota padat Cape Canaveral, Florida.

Berbagai artefak sisa-sisa manusia jaman sekarang ditemukan para peneliti. Dari kolam renang di rumah-rumah warga Amerika, bangkai pesawat luar angkasa, hingga ikon peradaban modern kita : mobil. Berdasarkan temuan artefak-artefak tersebut para ahli menelusuri mengapa peradaban yang berdiri saat ini bisa runtuh.

Apa yang dimaksud dengan situasi “kolaps” sendiri dijabarkan Jared dalam bukunya ‘Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed’, sebagai “penurunan drastis jumlah populasi manusia dan atau kompleksitasnya secara sosial, ekonomi, politik, pada wilayah dalam sebuah rentangan waktu.” Kejatuhan sebuah peradaban diawali oleh kemunduran-kemunduran yang dialaminya sedikit demi sedikit, yang dapat ditandai dengan beberapa bentuk-bentuk kecil (milder type) sebelumnya.

Bentuk-bentuk tersebut dapat berupa kemunculan atau kejatuhan yang bersifat minor yang ditandai dengan terjadinya restrukturisasi dalam sebuah masyarakat secara politik, ekonomi atau sosial; ditaklukkannya sebuah masyarakat oleh masyarakat tetangganya, atau kemundurannya terkait kejayaan daerah tetangganya tanpa adanya perubahan dalam keseluruhan populasi atau kompleksitas pada seluruh wilayah tersebut; dan pergantian elit penguasa dari satu ke satu lainnya.

Diamond memberikan beberapa contoh peradaban yang kolaps dalam sejarah dunia silam seperti Anasazi dan Cahokia di daerah yang kini kita kenal sebagai perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko, kota-kota suku Maya di Amerika Tengah,  masyarakat Moche dan Tiwanaku di daerah selatan benua Amerika, peradaban Mycenean di Yunani serta Minoan Crete di Eropa, zaman kebesaran Zimbabwe di Afrika, era Kuil Angkor di Kamboja, peradaban di kota-kota di Lembah Hindus, hingga Pulau Easter di kawasan Pasifik.

Di awal, Diamond mencontohkan peradaban Anasazi di Yucatan Peninzula, Meksiko yang hilang ribuan tahun yang lalu. Apa yang ironik disini adalah bahwa situs tersebut merupakan bekas peradaban asli Amerika yang termaju sebelum kedatangan orang-orang Eropa. Perkembangan arsitektur, kultur masyarakat, seni pahat dan ukir, serta seni lukisnya mengagumkan sehingga dijuluki sebagai Mesoamerica, Dunia Baru.

Namun, pada puncak peradabannya, kota-kota kuno tersebut mengalami penyusutan populasi secara ekstrim dalam waktu yang singkat dan berakhir dengan keruntuhan peradaban Maya kuno. Penduduk yang pada awalnya membangun kota tersebut menjadi sedemikian megah dan hidup dalam titik puncak peradaban, akhirnya keluar dari kota dan terpaksa mencari tempat baru. Ada apa gerangan?

Puncak peradaban Anasazi adalah menyulap padang pasir dengan curah hujan yang fluktuatif dan situasi geografis yang relatif terisolasi, menjadi kota yang dipenuhi dengan rumah bertingkat, pepohonan, dan sumber pangan yang melimpah. Perkembangan masyarakatnya dapat menjawab permasalahan-permasalahan sosial seperti bagaimana memberi makan seluruh penduduknya.
Dalam menghadapi alam yang kering misalnya, mereka menggali dataran rendah, memodifikasinya, membendung aliran air, menyadap rembesan dari karst (dan batuan kapur bawah tanah) dan membuatkannya saluran menuju sebuah penampungan air raksasa yang juga dapat menampung air hujan. Dengan begitu, mereka dapat menyediakan air minum untuk 10.000 orang selama 18 bulan. Dan kehidupan Maya berkembang menuju puncaknya.
Tetapi seiring itu, orang Maya harus membayar mahal. Lingkungan dan iklim yang mereka taklukkan pun berubah. Para klimatolog (ahli iklim) dan paleoecologist (ahli lingkungan masa lampau) menemukan beberapa bukti mengenai perubahan iklim dan lingkungan yang menyumbang kejatuhan. Tanpa sadar, dengan memodifikasi alam, mereka telah merusak lingkungannya sendiri, termasuk pembabatan hutan untuk pembukaan lahan pertanian dan erosi tanah oleh eksploitasi berlebihan.  Bangsa Maya kuno ditimpa kekeringan berkali-kali, dan memaksa mereka untuk eksodus. Situasi ini ditambah dengan faktor kultural dan politik, seperti persaingan antar raja-raja dan para bangsawan, yang berujung pada perang.

Kisah peradaban Anasazi kuno ini merupakan sudut pandang orang masa sekarang melihat masa lampau. Sementara untuk memahami masa kini, Diamond mengajak memakai sudut pandang orang masa depan. Maka sepanjang film ini ada banyak ilustrasi mengenai bagaimana para ilmuwan masa depan mendapati artefak-artefak sekarang untuk menjelaskan sebuah keruntuhan peradaban terkini.

Collapse mengajukan Las Vegas dan Los Angeles, sebagai sampel (calon) kota peradaban yang runtuh dengan puing-puing dunia modernnya. Kemajuan kota-kota modern tersebut digambarkan serupa dengan kota Anasazi kuno. Yang pada akhirnya ditinggal oleh penduduknya karena tidak memungkinkan lagi untuk hidup di tempat tersebut. Alasannya sederhana, pola kehidupan di kota-kota yang digambarkannya sudah tidak lagi masuk akal. Bagaimana sungai yang memiliki ekosistemnya sendiri dibendung untuk menyuplai air masyarakat kota, lahan pertanian massal dihamparkan dengan menggunduli hutan tropis terlebih dahulu.

Dalam salah satu scene digambarkan bagaimana sebuah usaha pertanian di Huron, harus membunuh (mereka menyebutnya rasionalisasi) pohon-pohon almond produktif yang awalnya mati-matian mereka tanam. Jumlah pohon yang dirasionalisasi mencapai setengah dari lahan, yang terpaksa dilakukan karena defisit air. Sesuatu yang lahir setelah bertahun-tahun mereka mengekstrak air tanpa batas. Di tahun 1950an, California adalah padang gersang yang disulap menjadi taman eden. Mereka melakukannya dengan membuat saluran air berjarak ratusan mil dari sumbernya untuk menyuplai kebutuhan pertanian dan kehidupan sehari-hari. Ini lantas menjadikan wilayah tersebut menjadi salah satu daerah pertanian paling produktif di seluruh dunia.

Sekarang, orang-orang di California mesti menggali sedalam 700 meter hanya untuk mendapatkan air. Sementara satu pohon almond mengkonsumsi 400 liter air setiap hari. Petani harus melakukan langkah radikal untuk beradaptasi dengan krisis atau Los Angeles, California akan menjadi Anasazi di masa kini.
Jared Diamond juga mengajukan krisis energi dan moneter sebagai salah satu hal penting yang menyumbang keruntuhan peradaban. Di masa silam, persoalan energi dan moneter ini sama-sama muncul dalam peradaban Romawi dan Maya. Meskipun kedua peradaban ini saling berjauhan dan belum terkoneksi secara langsung karena situasi teknologi telekomunikasi dan transportasi saat itu, namun keduanya memiliki sesuatu yang sama. Setelah berabad-abad dominasi kejayaannya, era kedua peradaban tersebut akhirnya habis.

Pada era Romawi, perang dan penaklukan serta imperialisme-lah yang membuat peradaban tersebut bertahan. Salah satu yang menopangnya adalah jaringan jalan. Namun seiring waktu, Romawi kehabisan energi untuk terus memperbesar wilayah dan menjalankan tata pemerintahannya.

Kini terdapat setidaknya 2 milyar mobil yang akan menjadi rongsokan berbahaya. Ini adalah salah satu penanda bagaimana absurdnya peradaban ini menyedot dan mengelola energi. Menurut para ahli, kita hanya butuh 200 tahun semenjak revolusi industri, untuk menghabisi cadangan bahan bakar berbasis fosil. Berdasarkan perhitungannya, dalam satu hari kerja manual hanya akan menghasilkan minyak sebanyak satu sendok makan. Ini berarti untuk satu tangki bensin yang tunggal setara dengan dua tahun kerja manusia!
Sementara itu, para ilmuwan dan kaum industrialis terus mengembangkan pembangkit listrik dengan teknologi terbaru. Nyatanya, teknologi yang kita pakai 50 tahun lebih itu hanya mampu mengekstrak 25 persen energi yang tersedia dan membuang percuma 75 persen sisanya. Saat hal itu dirasa tidak mencukupi, mereka kemudian mengembangkan teknologi yang dipandang bisa menghasilkan sumber energi berkali lipat : nuklir!
* * *
Peradaban adalah soal bagaimana menaklukkan alam. Hal ini berlaku semenjak peradaban pertama dimulai dengan pertanian sebagai upaya awal menundukkan dan memanipulasi alam. Pertanian terbukti mengambil lebih banyak dari tanah ketimbang yang bisa dikembalikannya. Dan karenanya Diamond memang benar bahwa hal ini adalah kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia.

Kini, penaklukan alam dalam peradaban modern ini sangatlah mengerikan. Pertambangan minyak, gas, logam dan mineral, menghasilkan lebih banyak kerusakan alam dan ketimpangan sosial ketimbang kemakmuran merata di masyarakat seperti mitos yang dijanjikan. Sementara di tempat lain, juga digambarkan bagaimana laju produksi kendaraan bermotor tak lagi terbendung. Ini akan terus menyerap permintaan akan sumber energi/bahan bakar fosil atau ‘gantinya’ berupa biofuel.

Sebagai konsekuensi inheren dalam peradaban, ancaman krisis pangan, perubahan iklim, bencana alam, gagal panen, genosida, serta perang militer besar-besaran adalah sesuatu yang melekat tak terpisahkan dari kehidupan saat ini.

Apa yang disampaikan Jared Diamond dalam Collapse ini sebenarnya bukanlah hal baru, melainkan rangkuman tentang konsekuensi dari tata kehidupan harian kita. Terbenam dalam peradaban, kita dapat menghancurkan planet ini bahkan dari kamar mandi saja. Tidak perlu ke hutan, dan cukup biarkan Unilever dan Sinar Mas menghabisi hutan tropis di Kalimantan untuk memproduksi sampo atau sabun mandi kita. Tetapi, mode kehidupan modern telah pelan-pelan menyandera kepekaan kita dalam memikirkan dampak dari kehidupan yang kita jalani saat ini. Segala sesuatu yang ‘masih jauh’ itu belum terasa padahal apa yang berlangsung di masa silam telah berulangkali membuktikan bahwa konvergensi kekeringan, kelaparan, bencana lingkungan dan kehancuran finansial adalah penyebab keruntuhan peradaban.
* * *
Peradaban adalah tema sentral dalam beberapa karya Diamond. Ia bukanlah yang pertama dan satu-satunya yang berbicara tentang tema ini. Namun karena pengetahuannya yang luas, keahliannya yang mumpuni, Diamond banyak menginspirasi gerakan radikal seperti kelompok-kelompok anarkis-hijau, anarkis-primitivis, maupun anarkis-antiperadaban secara luas.
Tetapi sang Profesor tetaplah seorang ilmuwan yang dibesarkan oleh peradaban sains itu sendiri yang belum sepenuhnya lepas dari nalar pencerahan. Nampaknya Diamond terlalu khawatir akan keruntuhan yang diramalkannya itu. Kadang pula ia menyamakan kejatuhan peradaban sebagai hal yang similar dengan berakhirnya kehidupan. Proposalnya adalah mempertahankan peradaban modern ini dengan sesuatu yang lebih berkelanjutan. Dalam tawaran praktisnya mendorong manajemen sumberdaya yang arif dan bijaksana di bawah kendali pemerintah dan swasta –sesuatu yang mustahil. Ini mengingatkan rekomendasi optimistiknya di Gun, Germs, and Steell, tentang wabah malaria dan kemiskinan akan dapat ditangani dengan baik lewat ‘kerjasama internasional yang solid’.

Ini sangat berbeda dengan ekspresi anti-peradaban dalam gerakan radikal seperti anarkis-primitivis maupun anarkis non-primitivis yang mengagendakan penghancuran peradaban sebagai satu-satunya jalan untuk mengembalikan harmoni dan kealamian yang lestari. Bukan mempertahankan, melainkan membalikkan arahnya. Dan tentu saja juga sangat berbeda dengan penghancuran dan kehancuran sebagai konsekuensi dari karakter peradaban itu sendiri.

Akhir kata, akan lebih baik jika membaca versi bukunya yang lebih lengkap dan detail. Serta untuk mengurangi kekecewaan atas rekomendasi agenda sang Professor, sering-seringlah mengingat bahwa bagaimanapun ini adalah dokumenter produksi National Geographic! [iy]

Minggu, 10 April 2011

Resensi Film: Ikigami*

Pemerintah Jepang turut andil dalam pelaksanaan sebuah program di mana warga negara yang beumur di bawah 24 tahun, yang memenuhi syarat akan dipilih secara acak, untuk ditentukan hari kematiannya. Sampai pada umur 24 tahun, Kengo Fujimoto diangkat sebagai salah satu dari sekian banyakpekerja yang bertanggung jawab untuk menangani Ikigami, atau surat kematian, memberitahu orang yang hanya tinggal menyisakan umur satu hari atau 24 Jam untuk hidup. Ini hanya cuplikan, walaupun begitu, cara kematian ini sebenarnya disebabkan oleh nanokapsul yang disuntikkan pada waktu masih kanak-kanak. Nanokapsul ini hinggap pada pembuluh darah arteri menunggu diaktifkan oleh pemerintah untuk meledakkan pembuluh darah si korban. Fujimoto sangat menentang aturan ini, tetapi ia tidak dalam posisi yang tepat untuk bisa berbicara lantang melawan hal ini. Malahan ia melanjutkan pekerjaannya seperti diharapkannya. Saat menjalankan tugas ia harus berhadapan dengan berbagai respon emosional dari korban yang mengetahui bahwa umurnya tinggal 24 jam. (film.com)


*ditranslate seadanya dari film.com
-film ini membutikan bahwa negara memang berbahaya bagi siapapun termasuk kamu!-
(dicuri dari blog lama ku hehehe)
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2015

Apa Kata TV Soal Konsumerisme

source : fineartamerica.com/profiles/allan-swart
Di ruang tengahnya yang hangat, David selonjoran di sofa, menjulurkan tangan lalu menekan tombol remot TV dengan malas, mencari-cari sesuatu untuk menghiburnya. Tapi percuma saja, Ia tetap gelisah menahan hasrat yang lebih besar daripada akal sehatnya. Matanya melirik jam dinding, sudah jam 1 malam rupanya. Dia tahu, kota seperti Sydney -tempat ia tinggal saat ini- ada banyak super market yang buka 24 jam. David sudah tidak tahan lagi, ia sambar baju hangat yang ada di ruang tengah, juga kunci mobil dan bergegas ke garasi. Mobil ia pacu, berharap agar ‘birahinya’ ini bisa segera menemukan pelampiasan.

Terang neon toko menyambut riang David, “oh saat-saat yang mendebarkan”, gumamnya.
Satu jam kemudian David keluar dari supermarket menenteng dua kantong besar belanjaan. Perjalanan dari kasir, ke pintu keluar menuju halaman parkir adalah puncak kenikmatan. Ia tak akan menyianyiakannya, David sedang “high”. Candu telah ia temukan, dihisap, dikunyah, dibiarkannya mengalir ke darah menuju otak dan mengantarkan domapin yang penuh kesenangan. Akhirnya Ia bisa tidur nyenyak malam ini.

Pagi, matahari lembut menyapu wajahnya. Tak jauh dari tempat tidur dua tumpuk barang bersesak-sesak di dalam kantong plastik putih. David menatap lesu. Penyesalan perlahan mengalir, memancar kemudian meledak di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hangat pagi membuatnya sadar, kecanduan akan belanja belum bisa ia kendalikan. Ia sakit dan butuh pertolongan.

Cerita mini di atas adalah potongan adegan program “Taboo” yang ditayangkan NG yang kali ini membahas tema “Addicted”. Sungguh sebuah kebetulan yang menarik sekaligus mengusik. Karena di malam yang sama saat tayangan itu muncul, saya baru saja menyelesaikan membaca buku “Sosiologi Waktu Luang: Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mall”. Buku ini ditulis oleh M. Ridha, seorang kenalan saat saya sedang aktif-aktifnya menghidupi sebuah jurnal bersama teman-teman di Makassar.

Addicted dan buku karya Ridha sama-sama membahas tentang konsumerisme, kebiasaan yang mulai menggeliat pada era pasca revolusi Industri, kemudian meledak di Eropa dan menjalar ke negara-negara dunia ke tiga termasuk Indonesia.Tentu saja keduanya membedah belanja dari perspektif yang berbeda. Dan karena perbedaan itulah saya membuat tulisan ini. Perbedaan-perbedaan ini serius adanya dan berimplikasi pada audiensnya masing-masing, pembaca pada buku M. Ridha dan pemirsa/penonton pada Addicted.

Pola, Narasumber dan Sudut Pandang “Addicted”

Baiklah saya akan bahas apa yang Addicted tawarkan ke pemirsa seperti saya. Lewat sebuah buku berjudul Analisis Framing yang kubaca 2008 silam, saya yang bukan mahasiswa Ilmu Komunikasi memperoleh sedikit panduan bagimana menilai sebuah karya Jurnalistik. Salah satunya adalah cara menebak sudut pandang sebuah berita (dalam kasus ini adalah sebuah dokumenter) melalui pemilihan narasumber. Mengetahui sudut pandang berarti mengetahui pesan “sebenarnya” yang ingin disampaikan oleh sebuah dokumenter sekaligus menyadari motif dibalik pembuatannya.

Sejauh yang saya amati ada 3 narasumber yang NG tampilkan dalam alur cerita Addicted. Yang pertama adalah David warga Sydney pengidap Shopaholic, Celia berprofesi sebagai psikiater dan terakhir dosen pengajar jurusan psikologi, Robert.

Ada pola yang berulang yang digunakan oleh NG dalam menceritakan Addicted. Menampilkan kisah David lebih dahulu, dikomentari oleh psikiater kemudian dilengkapi oleh pendapat dosen. Selama 30 menit menonton acara ini, pola ini cenderung konsisten dan tak berubah. David seperti terdakwa yang sedang disidang, ia dinilai oleh jaksa, hakim dan juri sekaligus. Tentu saja karena David adalah orang dengan perilaku menyimpang.

Namun, mengapa NG hanya menggunakan dua narasumber dari latar belakang yang sebenarnya hampir sama, psikologi? Addicted mengulik kecanduan belanja dari sudut pandang psikis semata! Hal ini menggiring saya (pemirsa TV) untuk menerima pesan bahwa shopaholic merupakan satu jenis penyakit jiwa disebabkan karena semata kelalaian dan kelemahan si pengidap serta faktor eksternal lain. Ada beberapa scene di mana faktor eksternal dijelaskan sebagai salah satu katalisator kecanduan pada David. Contohnya, scene di mana David diceritakan mewarisi beberapa juta dollar tabungan dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Selanjutnya ada kartu kredit dan bukti peminjaman dana. Kemudahan-kemudahan itu memberi jalan yang lapang bagi David untuk masuk ke dalam perangkap candu belanja.

Itu saja? Ya, saya pikir argumentasi NG melalui Addicted hanya sebatas pemberitahuan dan peringatan kepada pemirsanya. Ini adalah program TV yang memberi anda info tentang jenis kecanduan lain selain narkoba namanya shopaholic, ia berbahaya, bisa bikin bangkrut dan menghancurkan kehidupan (masa depan?) kita. Ini adalah sejenis penyakit yang muncul di jaman modern, kita harus berusaha keras untuk menghindarinya.

Itu adalah pesan yang baik, tulus dan menghindarkan kita dari bencana. Dan satu lagi, Addicted benar adanya, tapi tetap saja tayangan ini membut dahi saya berkerut.

Kedangkalan Bisa Jadi Sesat

Penggalian NG pada shopaholic hanyalah di permukaan saja, sementara sebab musabab lain masih dalam tertanam -tak dijangkau olehnya- sehingga pemirsa juga tak melihatnya. Apakah ini sengaja dilakukan? Atau karena soal durasi? Saya pikir bukan.  

Menuduh individu yang tak mampu menahan hasrat dan dukungan faktor eksternal sebagai penyebab gila belanja adalah kesimpulan yang prematur. Karena jika menilik akar historisnya shopaholic, konsumerisme disebabkan oleh faktor-faktor yang bersinggungan dengan lapangan ekonomi, politik, sosiologis juga psikologis (ranah yang dieksplogasi NG dengan sangat dangkal dalam addicted).

Tampaknya semakin rumit dan untuk menghindarinya saya tidak kan membahasnya terlalu panjang.

Sebagai televisi yang identik dengan nama majalah yang punya reputasi sangat baik, sebenarnya saya mengharapkan lebih ketika mereka menayangkan program-programnya. Namun tidak seperti artikel-artikel di majalah yang terkenal mendalam dengan pemilihan narasumber yang hati-hati dan kompeten, Addicted berbeda jauh secara kualitas.

Saya mengharapkan Addicted mampu mengeksplorasi shopaholic dengan lebih menyeluruh misalnya dengan menceritakan sejarahnya, latar sosial, ekonomi dan politik ketika penyakit jiwa tersebut mulai muncul dan menyebar. Siapa tahu saja, NG menemukan fakta bahwa penyakit gila belanja sudah temukan sebelum revolusi Industri dan revolusi Perancis terjadi. Dua momen penting sebagai tonggak lahirnya ideologi dominan hari ini : kapitalisme.

Saya juga berharap NG menampilkan data-data yang menjelaskan keterhubungan durasi menonton TV dengan jumlah konsumsi per kapita sebuah kota atau negara. Ekspektasi selanjutnya adalah Addicted akan menyuguhkan gambar saat peristiwa Malaise terjadi Amerika Serikat yang diakibatkan oleh over produksi. Momen yang diawali Selasa Kelam, peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929 menyebabkan depresi ekonomi berat di negeri uncle sam. Kejadian itu membuat korporasi belajar bahwa over produksi  adalah penyakit inheren dalam sistem kapitalisme dan obatnya selain ekspansi pasar juga mendorong semua pasar (baik yang dekat maupun yang letaknya ribuan kilometer jauhnya) untuk mempraktekkan budaya baru : konsumersime.

Saya mencurigai NG menyembunyikan fakta-fakta tentang konsumerisme sehingga pemirsanya mengambil kesimpulan yang prematur dan akhirnya tersesat. Penonton jadinya tak tahu duduk persoalan sebenarnya tentang konsumerisme, melanjutkan hidup dan tak akan mempertanyakan lebih jauh dunia seperti apa yang mereka jalani saat ini.

Agak naïf memang mengharapkan NG menelanjangi negara seperti AS-di mana korporasi raksasa bercokol-yang aktif mengekspor budaya mereka demi diadopsinya konsumerisme sesegera mungkin oleh negara-negara dunia ke tiga (baca: pasar). Naif memang, karena NG juga merupakan salah satu garda depan, bersama MTV, Hollywood dan kawan-kawannya yang aktif mengindtrodusir kebudayaan barat melalui tayangan-tayangannya. Standar hidup, membeli asuransi, makan di gerai-gerai cepat saji, jalan-jalan ke Mall, memakai baju, sepatu dan pernak-pernih yang dicontohkan para idola dari California adalah sedikit dari segudang kebiasaan baru yang diperkenalkan oleh barat ke negara-negara seperti Indonesia. American Dream, dua kata yang akrab saya dengar dari film Hollywood atau lirik dari lagu favorit saya.

Kita bisa tengok India, pada tahun 1990 hanya 10% dari total populasi masyarakat India yang mampu mengakses TV. Angka tersebut berubah menjadi 75% pada tahun 1999, delapan tahun setelah pemerintah India setuju untuk meminta bailout pada IMF dan merevisi sejumlah kebijakan ekonomi. Globalisasi ekonomi India kemudian diikuti oleh globalisasi kultur, beberapa orang menyebutnya sebagai westernisasi India. Stasiun TV asing meningkat pesat jumlahnya, begitu pula impor film Hollywood yang membanjiri pasar film nasional dan bersaing dengan film-film lokal[1]. Televisi yang banyak membawa nilai-nilai dari luar terutama dari Barat memberikan pola pemikiran baru, masyarakat mulai menginternalisasi nilai-nilai yang dipromosikan yang kemudian mendorong terciptanya gerakan bagi pola hidup mereka[2]. Seiring dengan hal tersebut, di India kemudian terbentuk jenis kelas sosial baru yaitu kelas menengah. Mereka mengejar standar hidup barat, fasih berbahasa Inggris dan menerima kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan (sesuatu yang tidak pernah ada di masyarakat India sebelumnya).

Di jaman di mana status jomblo sama dengan batu akik, sama-sama diekspoitasi demi menghidupi banyak orang, rasanya istilah Gegana (galau gundah gulana) bisa jadi katalisator yang baik bagi saya untuk menulis. Makanya tulisan ini selain disebabkan galau pada NG, juga karena ingin mengingatkan diri sendiri bahwa curiga tidak selamanya salah. Pemirsa televisi mesti memiliki sikap kritis terhadap tayangan televisi. Agar kita tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka sampaikan sebelum kita cerna baik-baik dan membandingkannya dengan sumber informasi lain yang punya sudut pandang yang berbeda. 

Ah rempong. Mana pilih, repot-repot berpikir atau terus dibodohi. :D

Atau mungkin kita bisa mengambil langkah lain. Matikan TV dan mulai mengerjakan hal-hal lain di mana kita berlaku sebagai subjek aktif, main game misalnya? :P 


Rujukan:
[1]http://mahrita-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-82498-PengantarGlobalisasi-Pengaruh Globalisasi terhadap Pergeseran Kelas dalam Masyarakat: Studi Kasus Fenomena Konsumerisme di India.html

[2] Ibid

Minggu, 17 April 2011

Free Download "Collapse", Jared Diamond

Resensi oleh Ishmael Yahalah
Sekali lagi Jared Diamond membongkar erorr peradaban, dan berikut adalah salah satu karyanya yang berhasil divisualisasikan oleh salah satu production house raksasa dunia NG. Nikmati filmnya pada link berikut:
Sebelumnya, kamu bisa membaca resensinya yang di blog ini saya ambil dari:


Resensi

Sebuah Dunia Yang Akan Kolaps





Judul
: Collapse (Based on The Book of Jared Diamond)
Sutradara/penulis : Noel Dockstader
Editor : Steve Eagleton
Tahun : September, 2010
Produser : Noel Dockstader
Produksi : Far West Film Co. & National Geographic Television
Peresensi : Ishmael Yahalah


Jared Diamond
telah menggugah banyak orang di berbagai belahan dunia ini. Dalam tulisan-tulisannya, Diamond memberikan pandangan dan penafsiran ulang atas sejarah dan peradaban yang berdiri saat ini. Tulisannya yang kaya sekaligus kontroversial merentang dari sejarah hingga geografi, dari fisiologi hingga arkeologi. Dalam buku terkenalnya Gun, Germs, and Steel (2006) yang memenangi hadiah Pulitzer, Profesor Diamond menyingkap bagaimana peradaban di dunia ini bisa terbentuk sedemikian rupa melalui proses yang tidaklah alamiah. Ia menjelajahi gurun di Afrika, hutan Papua, kota-kota kuno di Bulan Sabit Subur, hingga Amerika Selatan. Salah satu tesis pentingnya bahwa agrikultur adalah “kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia”, menjadi perbincangan yang sengit di kalangan yang mendukung dan menolak tesis tersebut.

Dan
di buku setelahnya Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed (2005), Diamond belum beranjak dari tesis awalnya tersebut. Jika dalam “Gun, Germs and Steel” profesor fisiolog ini menjabarkan tentang asal usul dan kejatuhan sebuah peradaban, maka “Collapse” lebih banyak mengurai konsekuensi yang tidak bisa dijauhkan, manakala sebuah peradaban berjalan. Yang pada akhirnya, dikarenakan karakternya yang destruktif, peradaban akan runtuh mengulangi sejarah-sejarah terdahulu di masa silam.
Film “Collapse”
ini adalah kolaborasi kedua National Geographic dengan sang Professor, setelah Gun, Germs and Steel (2008) yang terdiri atas tiga seri diproduksi.

Seperti
gagasan inti dalam buku yang melatarbelakangi film ini, Collapse membawa sebuah pertanyaan besar ke ruang tengah rumah kita saat menontonnya : apa yang akan terjadi dengan bumi ini jika kehidupan kita pertahankan seperti sekarang ini? Jawabnya : kolaps!

Collapse
adalah pengujian mengenai kebiasaan-kebiasaan dalam peradaban manusia yang dapat berdampak pada keseluruhan jejaring kehidupan dan bumi. Film ini meninjau ulang, mengujinya dengan standar pengetahuan terkini, dan memberikan kesimpulan mengenai relasi antara metode kehidupan harian kita dengan efeknya ke depan. Dan tentu saja, berdasarkan kejadian-kejadian di masa silam serta fakta dan kecenderungan terkini, ia menunjukkan bahwa apa yang terjadi belakangan ini seperti penyusutan lahan, krisis pangan, air dan sumber energi berpotensi mendorong kolapsnya peradaban.
 
Memang bukanlah hal baru dalam mengkonversi buku menjadi film. Namun jika buku yang dimaksud adalah buku non-fiksi setebal 571 halaman, untuk kemudian diperas menjadi film dokumenter berdurasi lebih dari 90 menit yang bisa ditonton oleh semua kalangan, tentu memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Tetapi sang sutradara sekaligus penulis skenario Noel Dockstader punya siasat.
Berbeda dengan Inconventional Truth dimana Al Gore membangun argumen yang kuat dan populer tentang gejala pemanasan global dengan menyandingkan  paradoks masa lalu dengan yang kini terjadi di bumi. Dalam Collapse, Dockstader juga sekaligus membangun visualisasi masa depan untuk menggambarkan situasi yang bisa (atau akan!) terjadi –namun belum nampak disebabkan jaraknya yang terlalu dekat dengan kita dan karenanya lebih sering diremehkan. Dengan plot alur maju-mundur, versi film ini cukup berhasil memisahkan diri keluar dari bayang-bayang Collapse versi buku yang lebih dahulu popular.

Collapse mengajak melakukan perjalanan waktu menembus 200 tahun ke masa depan untuk melihat seperti apa sebuah peradaban yang kita tempati ini nantinya, sambil sesekali melongok ke ribuan tahun yang lampau. Interpretasi visual terhadap tulisan Jared Diamond ini memang cukup membantu untuk membangun kontras dan abstraksi antara kisah masa silam, sekarang dan masa depan.

Diceritakan, sekelompok ilmuwan di tahun 2210 yang tergabung dalam Project Collapse, paska kolapsnya peradaban saat ini, meneliti sisa-sisa keruntuhan. Mereka meneliti sisa-sisa dan artefak dari 200 tahun yang lalu (yakni masa sekarang) untuk mencari tahu mengapa peradaban sekarang runtuh. Para ilmuwan di masa depan tersebut mendatangi gurun bekas kota Phoenix, yang peradabannya runtuh karena pengelolaan sumber air. Mereka juga mengunjungi Central Valley, bekas lahan pertanian raksasa di California, hingga menyelami laut di perairan yang dulunya merupakan kota padat Cape Canaveral, Florida.

Berbagai artefak sisa-sisa manusia jaman sekarang ditemukan para peneliti. Dari kolam renang di rumah-rumah warga Amerika, bangkai pesawat luar angkasa, hingga ikon peradaban modern kita : mobil. Berdasarkan temuan artefak-artefak tersebut para ahli menelusuri mengapa peradaban yang berdiri saat ini bisa runtuh.

Apa yang dimaksud dengan situasi “kolaps” sendiri dijabarkan Jared dalam bukunya ‘Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed’, sebagai “penurunan drastis jumlah populasi manusia dan atau kompleksitasnya secara sosial, ekonomi, politik, pada wilayah dalam sebuah rentangan waktu.” Kejatuhan sebuah peradaban diawali oleh kemunduran-kemunduran yang dialaminya sedikit demi sedikit, yang dapat ditandai dengan beberapa bentuk-bentuk kecil (milder type) sebelumnya.

Bentuk-bentuk tersebut dapat berupa kemunculan atau kejatuhan yang bersifat minor yang ditandai dengan terjadinya restrukturisasi dalam sebuah masyarakat secara politik, ekonomi atau sosial; ditaklukkannya sebuah masyarakat oleh masyarakat tetangganya, atau kemundurannya terkait kejayaan daerah tetangganya tanpa adanya perubahan dalam keseluruhan populasi atau kompleksitas pada seluruh wilayah tersebut; dan pergantian elit penguasa dari satu ke satu lainnya.

Diamond memberikan beberapa contoh peradaban yang kolaps dalam sejarah dunia silam seperti Anasazi dan Cahokia di daerah yang kini kita kenal sebagai perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko, kota-kota suku Maya di Amerika Tengah,  masyarakat Moche dan Tiwanaku di daerah selatan benua Amerika, peradaban Mycenean di Yunani serta Minoan Crete di Eropa, zaman kebesaran Zimbabwe di Afrika, era Kuil Angkor di Kamboja, peradaban di kota-kota di Lembah Hindus, hingga Pulau Easter di kawasan Pasifik.

Di awal, Diamond mencontohkan peradaban Anasazi di Yucatan Peninzula, Meksiko yang hilang ribuan tahun yang lalu. Apa yang ironik disini adalah bahwa situs tersebut merupakan bekas peradaban asli Amerika yang termaju sebelum kedatangan orang-orang Eropa. Perkembangan arsitektur, kultur masyarakat, seni pahat dan ukir, serta seni lukisnya mengagumkan sehingga dijuluki sebagai Mesoamerica, Dunia Baru.

Namun, pada puncak peradabannya, kota-kota kuno tersebut mengalami penyusutan populasi secara ekstrim dalam waktu yang singkat dan berakhir dengan keruntuhan peradaban Maya kuno. Penduduk yang pada awalnya membangun kota tersebut menjadi sedemikian megah dan hidup dalam titik puncak peradaban, akhirnya keluar dari kota dan terpaksa mencari tempat baru. Ada apa gerangan?

Puncak peradaban Anasazi adalah menyulap padang pasir dengan curah hujan yang fluktuatif dan situasi geografis yang relatif terisolasi, menjadi kota yang dipenuhi dengan rumah bertingkat, pepohonan, dan sumber pangan yang melimpah. Perkembangan masyarakatnya dapat menjawab permasalahan-permasalahan sosial seperti bagaimana memberi makan seluruh penduduknya.
Dalam menghadapi alam yang kering misalnya, mereka menggali dataran rendah, memodifikasinya, membendung aliran air, menyadap rembesan dari karst (dan batuan kapur bawah tanah) dan membuatkannya saluran menuju sebuah penampungan air raksasa yang juga dapat menampung air hujan. Dengan begitu, mereka dapat menyediakan air minum untuk 10.000 orang selama 18 bulan. Dan kehidupan Maya berkembang menuju puncaknya.
Tetapi seiring itu, orang Maya harus membayar mahal. Lingkungan dan iklim yang mereka taklukkan pun berubah. Para klimatolog (ahli iklim) dan paleoecologist (ahli lingkungan masa lampau) menemukan beberapa bukti mengenai perubahan iklim dan lingkungan yang menyumbang kejatuhan. Tanpa sadar, dengan memodifikasi alam, mereka telah merusak lingkungannya sendiri, termasuk pembabatan hutan untuk pembukaan lahan pertanian dan erosi tanah oleh eksploitasi berlebihan.  Bangsa Maya kuno ditimpa kekeringan berkali-kali, dan memaksa mereka untuk eksodus. Situasi ini ditambah dengan faktor kultural dan politik, seperti persaingan antar raja-raja dan para bangsawan, yang berujung pada perang.

Kisah peradaban Anasazi kuno ini merupakan sudut pandang orang masa sekarang melihat masa lampau. Sementara untuk memahami masa kini, Diamond mengajak memakai sudut pandang orang masa depan. Maka sepanjang film ini ada banyak ilustrasi mengenai bagaimana para ilmuwan masa depan mendapati artefak-artefak sekarang untuk menjelaskan sebuah keruntuhan peradaban terkini.

Collapse mengajukan Las Vegas dan Los Angeles, sebagai sampel (calon) kota peradaban yang runtuh dengan puing-puing dunia modernnya. Kemajuan kota-kota modern tersebut digambarkan serupa dengan kota Anasazi kuno. Yang pada akhirnya ditinggal oleh penduduknya karena tidak memungkinkan lagi untuk hidup di tempat tersebut. Alasannya sederhana, pola kehidupan di kota-kota yang digambarkannya sudah tidak lagi masuk akal. Bagaimana sungai yang memiliki ekosistemnya sendiri dibendung untuk menyuplai air masyarakat kota, lahan pertanian massal dihamparkan dengan menggunduli hutan tropis terlebih dahulu.

Dalam salah satu scene digambarkan bagaimana sebuah usaha pertanian di Huron, harus membunuh (mereka menyebutnya rasionalisasi) pohon-pohon almond produktif yang awalnya mati-matian mereka tanam. Jumlah pohon yang dirasionalisasi mencapai setengah dari lahan, yang terpaksa dilakukan karena defisit air. Sesuatu yang lahir setelah bertahun-tahun mereka mengekstrak air tanpa batas. Di tahun 1950an, California adalah padang gersang yang disulap menjadi taman eden. Mereka melakukannya dengan membuat saluran air berjarak ratusan mil dari sumbernya untuk menyuplai kebutuhan pertanian dan kehidupan sehari-hari. Ini lantas menjadikan wilayah tersebut menjadi salah satu daerah pertanian paling produktif di seluruh dunia.

Sekarang, orang-orang di California mesti menggali sedalam 700 meter hanya untuk mendapatkan air. Sementara satu pohon almond mengkonsumsi 400 liter air setiap hari. Petani harus melakukan langkah radikal untuk beradaptasi dengan krisis atau Los Angeles, California akan menjadi Anasazi di masa kini.
Jared Diamond juga mengajukan krisis energi dan moneter sebagai salah satu hal penting yang menyumbang keruntuhan peradaban. Di masa silam, persoalan energi dan moneter ini sama-sama muncul dalam peradaban Romawi dan Maya. Meskipun kedua peradaban ini saling berjauhan dan belum terkoneksi secara langsung karena situasi teknologi telekomunikasi dan transportasi saat itu, namun keduanya memiliki sesuatu yang sama. Setelah berabad-abad dominasi kejayaannya, era kedua peradaban tersebut akhirnya habis.

Pada era Romawi, perang dan penaklukan serta imperialisme-lah yang membuat peradaban tersebut bertahan. Salah satu yang menopangnya adalah jaringan jalan. Namun seiring waktu, Romawi kehabisan energi untuk terus memperbesar wilayah dan menjalankan tata pemerintahannya.

Kini terdapat setidaknya 2 milyar mobil yang akan menjadi rongsokan berbahaya. Ini adalah salah satu penanda bagaimana absurdnya peradaban ini menyedot dan mengelola energi. Menurut para ahli, kita hanya butuh 200 tahun semenjak revolusi industri, untuk menghabisi cadangan bahan bakar berbasis fosil. Berdasarkan perhitungannya, dalam satu hari kerja manual hanya akan menghasilkan minyak sebanyak satu sendok makan. Ini berarti untuk satu tangki bensin yang tunggal setara dengan dua tahun kerja manusia!
Sementara itu, para ilmuwan dan kaum industrialis terus mengembangkan pembangkit listrik dengan teknologi terbaru. Nyatanya, teknologi yang kita pakai 50 tahun lebih itu hanya mampu mengekstrak 25 persen energi yang tersedia dan membuang percuma 75 persen sisanya. Saat hal itu dirasa tidak mencukupi, mereka kemudian mengembangkan teknologi yang dipandang bisa menghasilkan sumber energi berkali lipat : nuklir!
* * *
Peradaban adalah soal bagaimana menaklukkan alam. Hal ini berlaku semenjak peradaban pertama dimulai dengan pertanian sebagai upaya awal menundukkan dan memanipulasi alam. Pertanian terbukti mengambil lebih banyak dari tanah ketimbang yang bisa dikembalikannya. Dan karenanya Diamond memang benar bahwa hal ini adalah kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia.

Kini, penaklukan alam dalam peradaban modern ini sangatlah mengerikan. Pertambangan minyak, gas, logam dan mineral, menghasilkan lebih banyak kerusakan alam dan ketimpangan sosial ketimbang kemakmuran merata di masyarakat seperti mitos yang dijanjikan. Sementara di tempat lain, juga digambarkan bagaimana laju produksi kendaraan bermotor tak lagi terbendung. Ini akan terus menyerap permintaan akan sumber energi/bahan bakar fosil atau ‘gantinya’ berupa biofuel.

Sebagai konsekuensi inheren dalam peradaban, ancaman krisis pangan, perubahan iklim, bencana alam, gagal panen, genosida, serta perang militer besar-besaran adalah sesuatu yang melekat tak terpisahkan dari kehidupan saat ini.

Apa yang disampaikan Jared Diamond dalam Collapse ini sebenarnya bukanlah hal baru, melainkan rangkuman tentang konsekuensi dari tata kehidupan harian kita. Terbenam dalam peradaban, kita dapat menghancurkan planet ini bahkan dari kamar mandi saja. Tidak perlu ke hutan, dan cukup biarkan Unilever dan Sinar Mas menghabisi hutan tropis di Kalimantan untuk memproduksi sampo atau sabun mandi kita. Tetapi, mode kehidupan modern telah pelan-pelan menyandera kepekaan kita dalam memikirkan dampak dari kehidupan yang kita jalani saat ini. Segala sesuatu yang ‘masih jauh’ itu belum terasa padahal apa yang berlangsung di masa silam telah berulangkali membuktikan bahwa konvergensi kekeringan, kelaparan, bencana lingkungan dan kehancuran finansial adalah penyebab keruntuhan peradaban.
* * *
Peradaban adalah tema sentral dalam beberapa karya Diamond. Ia bukanlah yang pertama dan satu-satunya yang berbicara tentang tema ini. Namun karena pengetahuannya yang luas, keahliannya yang mumpuni, Diamond banyak menginspirasi gerakan radikal seperti kelompok-kelompok anarkis-hijau, anarkis-primitivis, maupun anarkis-antiperadaban secara luas.
Tetapi sang Profesor tetaplah seorang ilmuwan yang dibesarkan oleh peradaban sains itu sendiri yang belum sepenuhnya lepas dari nalar pencerahan. Nampaknya Diamond terlalu khawatir akan keruntuhan yang diramalkannya itu. Kadang pula ia menyamakan kejatuhan peradaban sebagai hal yang similar dengan berakhirnya kehidupan. Proposalnya adalah mempertahankan peradaban modern ini dengan sesuatu yang lebih berkelanjutan. Dalam tawaran praktisnya mendorong manajemen sumberdaya yang arif dan bijaksana di bawah kendali pemerintah dan swasta –sesuatu yang mustahil. Ini mengingatkan rekomendasi optimistiknya di Gun, Germs, and Steell, tentang wabah malaria dan kemiskinan akan dapat ditangani dengan baik lewat ‘kerjasama internasional yang solid’.

Ini sangat berbeda dengan ekspresi anti-peradaban dalam gerakan radikal seperti anarkis-primitivis maupun anarkis non-primitivis yang mengagendakan penghancuran peradaban sebagai satu-satunya jalan untuk mengembalikan harmoni dan kealamian yang lestari. Bukan mempertahankan, melainkan membalikkan arahnya. Dan tentu saja juga sangat berbeda dengan penghancuran dan kehancuran sebagai konsekuensi dari karakter peradaban itu sendiri.

Akhir kata, akan lebih baik jika membaca versi bukunya yang lebih lengkap dan detail. Serta untuk mengurangi kekecewaan atas rekomendasi agenda sang Professor, sering-seringlah mengingat bahwa bagaimanapun ini adalah dokumenter produksi National Geographic! [iy]

Minggu, 10 April 2011

Resensi Film: Ikigami*

Pemerintah Jepang turut andil dalam pelaksanaan sebuah program di mana warga negara yang beumur di bawah 24 tahun, yang memenuhi syarat akan dipilih secara acak, untuk ditentukan hari kematiannya. Sampai pada umur 24 tahun, Kengo Fujimoto diangkat sebagai salah satu dari sekian banyakpekerja yang bertanggung jawab untuk menangani Ikigami, atau surat kematian, memberitahu orang yang hanya tinggal menyisakan umur satu hari atau 24 Jam untuk hidup. Ini hanya cuplikan, walaupun begitu, cara kematian ini sebenarnya disebabkan oleh nanokapsul yang disuntikkan pada waktu masih kanak-kanak. Nanokapsul ini hinggap pada pembuluh darah arteri menunggu diaktifkan oleh pemerintah untuk meledakkan pembuluh darah si korban. Fujimoto sangat menentang aturan ini, tetapi ia tidak dalam posisi yang tepat untuk bisa berbicara lantang melawan hal ini. Malahan ia melanjutkan pekerjaannya seperti diharapkannya. Saat menjalankan tugas ia harus berhadapan dengan berbagai respon emosional dari korban yang mengetahui bahwa umurnya tinggal 24 jam. (film.com)


*ditranslate seadanya dari film.com
-film ini membutikan bahwa negara memang berbahaya bagi siapapun termasuk kamu!-
(dicuri dari blog lama ku hehehe)