| source : fineartamerica.com/profiles/allan-swart |
Di ruang tengahnya yang
hangat, David selonjoran di sofa, menjulurkan tangan lalu menekan tombol remot
TV dengan malas, mencari-cari sesuatu untuk menghiburnya. Tapi percuma saja, Ia
tetap gelisah menahan hasrat yang lebih besar daripada akal sehatnya. Matanya
melirik jam dinding, sudah jam 1 malam rupanya. Dia tahu, kota seperti Sydney -tempat
ia tinggal saat ini- ada banyak super market yang buka 24 jam. David sudah
tidak tahan lagi, ia sambar baju hangat yang ada di ruang tengah, juga kunci
mobil dan bergegas ke garasi. Mobil ia pacu, berharap agar ‘birahinya’ ini bisa
segera menemukan pelampiasan.
Terang neon toko
menyambut riang David, “oh saat-saat yang mendebarkan”, gumamnya.
Satu jam kemudian David
keluar dari supermarket menenteng dua kantong besar belanjaan. Perjalanan dari
kasir, ke pintu keluar menuju halaman parkir adalah puncak kenikmatan. Ia tak
akan menyianyiakannya, David sedang “high”. Candu telah ia temukan, dihisap,
dikunyah, dibiarkannya mengalir ke darah menuju otak dan mengantarkan domapin yang
penuh kesenangan. Akhirnya Ia bisa tidur nyenyak malam ini.
Pagi, matahari lembut
menyapu wajahnya. Tak jauh dari tempat tidur dua tumpuk barang bersesak-sesak
di dalam kantong plastik putih. David menatap lesu. Penyesalan perlahan
mengalir, memancar kemudian meledak di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hangat
pagi membuatnya sadar, kecanduan akan belanja belum bisa ia kendalikan. Ia
sakit dan butuh pertolongan.
Cerita
mini di atas adalah potongan adegan program “Taboo” yang ditayangkan NG yang
kali ini membahas tema “Addicted”. Sungguh sebuah kebetulan yang menarik
sekaligus mengusik. Karena di malam yang sama saat tayangan itu muncul, saya
baru saja menyelesaikan membaca buku “Sosiologi Waktu Luang: Eksploitasi dan Komodifikasi
Perempuan di Mall”. Buku ini ditulis oleh M. Ridha, seorang kenalan saat saya
sedang aktif-aktifnya menghidupi sebuah jurnal bersama teman-teman di Makassar.
Addicted
dan buku karya Ridha sama-sama membahas tentang konsumerisme, kebiasaan yang mulai
menggeliat pada era pasca revolusi Industri, kemudian meledak di Eropa dan
menjalar ke negara-negara dunia ke tiga termasuk Indonesia.Tentu saja keduanya
membedah belanja dari perspektif yang berbeda. Dan karena perbedaan itulah saya
membuat tulisan ini. Perbedaan-perbedaan ini serius adanya dan berimplikasi
pada audiensnya masing-masing, pembaca pada buku M. Ridha dan pemirsa/penonton
pada Addicted.
Pola, Narasumber dan
Sudut Pandang “Addicted”
Baiklah
saya akan bahas apa yang Addicted tawarkan ke pemirsa seperti saya. Lewat sebuah
buku berjudul Analisis Framing yang kubaca 2008 silam, saya yang bukan mahasiswa
Ilmu Komunikasi memperoleh sedikit panduan bagimana menilai sebuah karya
Jurnalistik. Salah satunya adalah cara menebak sudut pandang sebuah berita
(dalam kasus ini adalah sebuah dokumenter) melalui pemilihan narasumber. Mengetahui
sudut pandang berarti mengetahui pesan “sebenarnya” yang ingin disampaikan oleh
sebuah dokumenter sekaligus menyadari motif dibalik pembuatannya.
Sejauh
yang saya amati ada 3 narasumber yang NG tampilkan dalam alur cerita Addicted. Yang
pertama adalah David warga Sydney pengidap Shopaholic,
Celia berprofesi sebagai psikiater dan terakhir dosen pengajar jurusan
psikologi, Robert.
Ada
pola yang berulang yang digunakan oleh NG dalam menceritakan Addicted.
Menampilkan kisah David lebih dahulu, dikomentari oleh psikiater kemudian
dilengkapi oleh pendapat dosen. Selama 30 menit menonton acara ini, pola ini
cenderung konsisten dan tak berubah. David seperti terdakwa yang sedang
disidang, ia dinilai oleh jaksa, hakim dan juri sekaligus. Tentu saja karena
David adalah orang dengan perilaku menyimpang.
Namun,
mengapa NG hanya menggunakan dua narasumber dari latar belakang yang sebenarnya
hampir sama, psikologi? Addicted mengulik kecanduan belanja dari sudut pandang
psikis semata! Hal ini menggiring saya (pemirsa TV) untuk menerima pesan bahwa shopaholic merupakan satu jenis penyakit
jiwa disebabkan karena semata kelalaian dan kelemahan si pengidap serta faktor
eksternal lain. Ada beberapa scene di mana faktor eksternal dijelaskan sebagai
salah satu katalisator kecanduan pada David. Contohnya, scene di mana David diceritakan
mewarisi beberapa juta dollar tabungan dari kedua orang tuanya yang sudah
meninggal. Selanjutnya ada kartu kredit dan bukti peminjaman dana.
Kemudahan-kemudahan itu memberi jalan yang lapang bagi David untuk masuk ke
dalam perangkap candu belanja.
Itu
saja? Ya, saya pikir argumentasi NG melalui Addicted hanya sebatas
pemberitahuan dan peringatan kepada pemirsanya. Ini adalah program TV yang
memberi anda info tentang jenis kecanduan lain selain narkoba namanya shopaholic, ia berbahaya, bisa bikin
bangkrut dan menghancurkan kehidupan (masa depan?) kita. Ini adalah sejenis
penyakit yang muncul di jaman modern, kita harus berusaha keras untuk
menghindarinya.
Itu
adalah pesan yang baik, tulus dan menghindarkan kita dari bencana. Dan satu
lagi, Addicted benar adanya, tapi tetap saja tayangan ini membut dahi saya
berkerut.
Kedangkalan Bisa Jadi
Sesat
Penggalian
NG pada shopaholic hanyalah di
permukaan saja, sementara sebab musabab lain masih dalam tertanam -tak
dijangkau olehnya- sehingga pemirsa juga tak melihatnya. Apakah ini sengaja
dilakukan? Atau karena soal durasi? Saya pikir bukan.
Menuduh
individu yang tak mampu menahan hasrat dan dukungan faktor eksternal sebagai penyebab
gila belanja adalah kesimpulan yang prematur. Karena jika menilik akar
historisnya shopaholic, konsumerisme disebabkan
oleh faktor-faktor yang bersinggungan dengan lapangan ekonomi, politik, sosiologis
juga psikologis (ranah yang dieksplogasi NG dengan sangat dangkal dalam addicted).
Tampaknya
semakin rumit dan untuk menghindarinya saya tidak kan membahasnya terlalu
panjang.
Sebagai
televisi yang identik dengan nama majalah yang punya reputasi sangat baik,
sebenarnya saya mengharapkan lebih ketika mereka menayangkan
program-programnya. Namun tidak seperti artikel-artikel di majalah yang
terkenal mendalam dengan pemilihan narasumber yang hati-hati dan kompeten,
Addicted berbeda jauh secara kualitas.
Saya
mengharapkan Addicted mampu mengeksplorasi shopaholic
dengan lebih menyeluruh misalnya dengan menceritakan sejarahnya, latar
sosial, ekonomi dan politik ketika penyakit jiwa tersebut mulai muncul dan
menyebar. Siapa tahu saja, NG menemukan fakta bahwa penyakit gila belanja sudah
temukan sebelum revolusi Industri dan revolusi Perancis terjadi. Dua momen
penting sebagai tonggak lahirnya ideologi dominan hari ini : kapitalisme.
Saya
juga berharap NG menampilkan data-data yang menjelaskan keterhubungan durasi
menonton TV dengan jumlah konsumsi per kapita sebuah kota atau negara. Ekspektasi
selanjutnya adalah Addicted akan menyuguhkan gambar saat peristiwa Malaise
terjadi Amerika Serikat yang diakibatkan oleh over produksi. Momen yang diawali
Selasa Kelam, peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober
dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929 menyebabkan depresi
ekonomi berat di negeri uncle sam. Kejadian
itu membuat korporasi belajar bahwa over produksi adalah penyakit inheren dalam sistem
kapitalisme dan obatnya selain ekspansi pasar juga mendorong semua pasar (baik
yang dekat maupun yang letaknya ribuan kilometer jauhnya) untuk mempraktekkan budaya
baru : konsumersime.
Saya
mencurigai NG menyembunyikan fakta-fakta tentang konsumerisme sehingga pemirsanya
mengambil kesimpulan yang prematur dan akhirnya tersesat. Penonton jadinya tak
tahu duduk persoalan sebenarnya tentang konsumerisme, melanjutkan hidup dan tak
akan mempertanyakan lebih jauh dunia seperti apa yang mereka jalani saat ini.
Agak
naïf memang mengharapkan NG menelanjangi negara seperti AS-di mana korporasi
raksasa bercokol-yang aktif mengekspor budaya mereka demi diadopsinya
konsumerisme sesegera mungkin oleh negara-negara dunia ke tiga (baca: pasar). Naif
memang, karena NG juga merupakan salah satu garda depan, bersama MTV, Hollywood
dan kawan-kawannya yang aktif mengindtrodusir kebudayaan barat melalui
tayangan-tayangannya. Standar hidup, membeli asuransi, makan di gerai-gerai
cepat saji, jalan-jalan ke Mall, memakai baju, sepatu dan pernak-pernih yang
dicontohkan para idola dari California adalah sedikit dari segudang kebiasaan
baru yang diperkenalkan oleh barat ke negara-negara seperti Indonesia. American Dream, dua kata yang akrab saya
dengar dari film Hollywood atau lirik dari lagu favorit saya.
Kita bisa tengok India, pada tahun 1990 hanya 10% dari total populasi masyarakat India yang
mampu mengakses TV. Angka tersebut berubah menjadi 75% pada tahun 1999, delapan
tahun setelah pemerintah India setuju untuk meminta bailout pada IMF dan
merevisi sejumlah kebijakan ekonomi. Globalisasi ekonomi India kemudian diikuti
oleh globalisasi kultur, beberapa orang menyebutnya sebagai westernisasi India. Stasiun TV asing
meningkat pesat jumlahnya, begitu pula impor film Hollywood yang membanjiri pasar
film nasional dan bersaing dengan film-film lokal[1]. Televisi yang banyak
membawa nilai-nilai dari luar terutama dari Barat memberikan pola pemikiran
baru, masyarakat mulai menginternalisasi nilai-nilai yang dipromosikan yang
kemudian mendorong terciptanya gerakan bagi pola hidup mereka[2]. Seiring
dengan hal tersebut, di India kemudian terbentuk jenis kelas sosial baru yaitu
kelas menengah. Mereka mengejar standar hidup barat, fasih berbahasa Inggris
dan menerima kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan (sesuatu yang
tidak pernah ada di masyarakat India sebelumnya).
Di jaman di mana status jomblo sama dengan batu akik, sama-sama diekspoitasi demi menghidupi banyak orang, rasanya istilah Gegana (galau gundah gulana) bisa jadi katalisator yang baik bagi saya untuk menulis. Makanya tulisan ini selain disebabkan galau pada NG, juga karena ingin mengingatkan diri sendiri bahwa curiga tidak selamanya salah. Pemirsa televisi mesti memiliki sikap kritis terhadap tayangan
televisi. Agar kita tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka sampaikan
sebelum kita cerna baik-baik dan membandingkannya dengan sumber informasi lain yang
punya sudut pandang yang berbeda.
Ah rempong. Mana pilih, repot-repot berpikir atau terus dibodohi. :D
Ah rempong. Mana pilih, repot-repot berpikir atau terus dibodohi. :D
Atau
mungkin kita bisa mengambil langkah lain. Matikan TV dan mulai mengerjakan hal-hal
lain di mana kita berlaku sebagai subjek aktif, main game misalnya? :P
Rujukan:
[1]http://mahrita-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-82498-PengantarGlobalisasi-Pengaruh Globalisasi terhadap Pergeseran Kelas dalam Masyarakat:
Studi Kasus Fenomena Konsumerisme di India.html
[2] Ibid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar