Sabtu, 21 Februari 2015

Apa Kata TV Soal Konsumerisme

source : fineartamerica.com/profiles/allan-swart
Di ruang tengahnya yang hangat, David selonjoran di sofa, menjulurkan tangan lalu menekan tombol remot TV dengan malas, mencari-cari sesuatu untuk menghiburnya. Tapi percuma saja, Ia tetap gelisah menahan hasrat yang lebih besar daripada akal sehatnya. Matanya melirik jam dinding, sudah jam 1 malam rupanya. Dia tahu, kota seperti Sydney -tempat ia tinggal saat ini- ada banyak super market yang buka 24 jam. David sudah tidak tahan lagi, ia sambar baju hangat yang ada di ruang tengah, juga kunci mobil dan bergegas ke garasi. Mobil ia pacu, berharap agar ‘birahinya’ ini bisa segera menemukan pelampiasan.

Terang neon toko menyambut riang David, “oh saat-saat yang mendebarkan”, gumamnya.
Satu jam kemudian David keluar dari supermarket menenteng dua kantong besar belanjaan. Perjalanan dari kasir, ke pintu keluar menuju halaman parkir adalah puncak kenikmatan. Ia tak akan menyianyiakannya, David sedang “high”. Candu telah ia temukan, dihisap, dikunyah, dibiarkannya mengalir ke darah menuju otak dan mengantarkan domapin yang penuh kesenangan. Akhirnya Ia bisa tidur nyenyak malam ini.

Pagi, matahari lembut menyapu wajahnya. Tak jauh dari tempat tidur dua tumpuk barang bersesak-sesak di dalam kantong plastik putih. David menatap lesu. Penyesalan perlahan mengalir, memancar kemudian meledak di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hangat pagi membuatnya sadar, kecanduan akan belanja belum bisa ia kendalikan. Ia sakit dan butuh pertolongan.

Cerita mini di atas adalah potongan adegan program “Taboo” yang ditayangkan NG yang kali ini membahas tema “Addicted”. Sungguh sebuah kebetulan yang menarik sekaligus mengusik. Karena di malam yang sama saat tayangan itu muncul, saya baru saja menyelesaikan membaca buku “Sosiologi Waktu Luang: Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mall”. Buku ini ditulis oleh M. Ridha, seorang kenalan saat saya sedang aktif-aktifnya menghidupi sebuah jurnal bersama teman-teman di Makassar.

Addicted dan buku karya Ridha sama-sama membahas tentang konsumerisme, kebiasaan yang mulai menggeliat pada era pasca revolusi Industri, kemudian meledak di Eropa dan menjalar ke negara-negara dunia ke tiga termasuk Indonesia.Tentu saja keduanya membedah belanja dari perspektif yang berbeda. Dan karena perbedaan itulah saya membuat tulisan ini. Perbedaan-perbedaan ini serius adanya dan berimplikasi pada audiensnya masing-masing, pembaca pada buku M. Ridha dan pemirsa/penonton pada Addicted.

Pola, Narasumber dan Sudut Pandang “Addicted”

Baiklah saya akan bahas apa yang Addicted tawarkan ke pemirsa seperti saya. Lewat sebuah buku berjudul Analisis Framing yang kubaca 2008 silam, saya yang bukan mahasiswa Ilmu Komunikasi memperoleh sedikit panduan bagimana menilai sebuah karya Jurnalistik. Salah satunya adalah cara menebak sudut pandang sebuah berita (dalam kasus ini adalah sebuah dokumenter) melalui pemilihan narasumber. Mengetahui sudut pandang berarti mengetahui pesan “sebenarnya” yang ingin disampaikan oleh sebuah dokumenter sekaligus menyadari motif dibalik pembuatannya.

Sejauh yang saya amati ada 3 narasumber yang NG tampilkan dalam alur cerita Addicted. Yang pertama adalah David warga Sydney pengidap Shopaholic, Celia berprofesi sebagai psikiater dan terakhir dosen pengajar jurusan psikologi, Robert.

Ada pola yang berulang yang digunakan oleh NG dalam menceritakan Addicted. Menampilkan kisah David lebih dahulu, dikomentari oleh psikiater kemudian dilengkapi oleh pendapat dosen. Selama 30 menit menonton acara ini, pola ini cenderung konsisten dan tak berubah. David seperti terdakwa yang sedang disidang, ia dinilai oleh jaksa, hakim dan juri sekaligus. Tentu saja karena David adalah orang dengan perilaku menyimpang.

Namun, mengapa NG hanya menggunakan dua narasumber dari latar belakang yang sebenarnya hampir sama, psikologi? Addicted mengulik kecanduan belanja dari sudut pandang psikis semata! Hal ini menggiring saya (pemirsa TV) untuk menerima pesan bahwa shopaholic merupakan satu jenis penyakit jiwa disebabkan karena semata kelalaian dan kelemahan si pengidap serta faktor eksternal lain. Ada beberapa scene di mana faktor eksternal dijelaskan sebagai salah satu katalisator kecanduan pada David. Contohnya, scene di mana David diceritakan mewarisi beberapa juta dollar tabungan dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Selanjutnya ada kartu kredit dan bukti peminjaman dana. Kemudahan-kemudahan itu memberi jalan yang lapang bagi David untuk masuk ke dalam perangkap candu belanja.

Itu saja? Ya, saya pikir argumentasi NG melalui Addicted hanya sebatas pemberitahuan dan peringatan kepada pemirsanya. Ini adalah program TV yang memberi anda info tentang jenis kecanduan lain selain narkoba namanya shopaholic, ia berbahaya, bisa bikin bangkrut dan menghancurkan kehidupan (masa depan?) kita. Ini adalah sejenis penyakit yang muncul di jaman modern, kita harus berusaha keras untuk menghindarinya.

Itu adalah pesan yang baik, tulus dan menghindarkan kita dari bencana. Dan satu lagi, Addicted benar adanya, tapi tetap saja tayangan ini membut dahi saya berkerut.

Kedangkalan Bisa Jadi Sesat

Penggalian NG pada shopaholic hanyalah di permukaan saja, sementara sebab musabab lain masih dalam tertanam -tak dijangkau olehnya- sehingga pemirsa juga tak melihatnya. Apakah ini sengaja dilakukan? Atau karena soal durasi? Saya pikir bukan.  

Menuduh individu yang tak mampu menahan hasrat dan dukungan faktor eksternal sebagai penyebab gila belanja adalah kesimpulan yang prematur. Karena jika menilik akar historisnya shopaholic, konsumerisme disebabkan oleh faktor-faktor yang bersinggungan dengan lapangan ekonomi, politik, sosiologis juga psikologis (ranah yang dieksplogasi NG dengan sangat dangkal dalam addicted).

Tampaknya semakin rumit dan untuk menghindarinya saya tidak kan membahasnya terlalu panjang.

Sebagai televisi yang identik dengan nama majalah yang punya reputasi sangat baik, sebenarnya saya mengharapkan lebih ketika mereka menayangkan program-programnya. Namun tidak seperti artikel-artikel di majalah yang terkenal mendalam dengan pemilihan narasumber yang hati-hati dan kompeten, Addicted berbeda jauh secara kualitas.

Saya mengharapkan Addicted mampu mengeksplorasi shopaholic dengan lebih menyeluruh misalnya dengan menceritakan sejarahnya, latar sosial, ekonomi dan politik ketika penyakit jiwa tersebut mulai muncul dan menyebar. Siapa tahu saja, NG menemukan fakta bahwa penyakit gila belanja sudah temukan sebelum revolusi Industri dan revolusi Perancis terjadi. Dua momen penting sebagai tonggak lahirnya ideologi dominan hari ini : kapitalisme.

Saya juga berharap NG menampilkan data-data yang menjelaskan keterhubungan durasi menonton TV dengan jumlah konsumsi per kapita sebuah kota atau negara. Ekspektasi selanjutnya adalah Addicted akan menyuguhkan gambar saat peristiwa Malaise terjadi Amerika Serikat yang diakibatkan oleh over produksi. Momen yang diawali Selasa Kelam, peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929 menyebabkan depresi ekonomi berat di negeri uncle sam. Kejadian itu membuat korporasi belajar bahwa over produksi  adalah penyakit inheren dalam sistem kapitalisme dan obatnya selain ekspansi pasar juga mendorong semua pasar (baik yang dekat maupun yang letaknya ribuan kilometer jauhnya) untuk mempraktekkan budaya baru : konsumersime.

Saya mencurigai NG menyembunyikan fakta-fakta tentang konsumerisme sehingga pemirsanya mengambil kesimpulan yang prematur dan akhirnya tersesat. Penonton jadinya tak tahu duduk persoalan sebenarnya tentang konsumerisme, melanjutkan hidup dan tak akan mempertanyakan lebih jauh dunia seperti apa yang mereka jalani saat ini.

Agak naïf memang mengharapkan NG menelanjangi negara seperti AS-di mana korporasi raksasa bercokol-yang aktif mengekspor budaya mereka demi diadopsinya konsumerisme sesegera mungkin oleh negara-negara dunia ke tiga (baca: pasar). Naif memang, karena NG juga merupakan salah satu garda depan, bersama MTV, Hollywood dan kawan-kawannya yang aktif mengindtrodusir kebudayaan barat melalui tayangan-tayangannya. Standar hidup, membeli asuransi, makan di gerai-gerai cepat saji, jalan-jalan ke Mall, memakai baju, sepatu dan pernak-pernih yang dicontohkan para idola dari California adalah sedikit dari segudang kebiasaan baru yang diperkenalkan oleh barat ke negara-negara seperti Indonesia. American Dream, dua kata yang akrab saya dengar dari film Hollywood atau lirik dari lagu favorit saya.

Kita bisa tengok India, pada tahun 1990 hanya 10% dari total populasi masyarakat India yang mampu mengakses TV. Angka tersebut berubah menjadi 75% pada tahun 1999, delapan tahun setelah pemerintah India setuju untuk meminta bailout pada IMF dan merevisi sejumlah kebijakan ekonomi. Globalisasi ekonomi India kemudian diikuti oleh globalisasi kultur, beberapa orang menyebutnya sebagai westernisasi India. Stasiun TV asing meningkat pesat jumlahnya, begitu pula impor film Hollywood yang membanjiri pasar film nasional dan bersaing dengan film-film lokal[1]. Televisi yang banyak membawa nilai-nilai dari luar terutama dari Barat memberikan pola pemikiran baru, masyarakat mulai menginternalisasi nilai-nilai yang dipromosikan yang kemudian mendorong terciptanya gerakan bagi pola hidup mereka[2]. Seiring dengan hal tersebut, di India kemudian terbentuk jenis kelas sosial baru yaitu kelas menengah. Mereka mengejar standar hidup barat, fasih berbahasa Inggris dan menerima kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan (sesuatu yang tidak pernah ada di masyarakat India sebelumnya).

Di jaman di mana status jomblo sama dengan batu akik, sama-sama diekspoitasi demi menghidupi banyak orang, rasanya istilah Gegana (galau gundah gulana) bisa jadi katalisator yang baik bagi saya untuk menulis. Makanya tulisan ini selain disebabkan galau pada NG, juga karena ingin mengingatkan diri sendiri bahwa curiga tidak selamanya salah. Pemirsa televisi mesti memiliki sikap kritis terhadap tayangan televisi. Agar kita tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka sampaikan sebelum kita cerna baik-baik dan membandingkannya dengan sumber informasi lain yang punya sudut pandang yang berbeda. 

Ah rempong. Mana pilih, repot-repot berpikir atau terus dibodohi. :D

Atau mungkin kita bisa mengambil langkah lain. Matikan TV dan mulai mengerjakan hal-hal lain di mana kita berlaku sebagai subjek aktif, main game misalnya? :P 


Rujukan:
[1]http://mahrita-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-82498-PengantarGlobalisasi-Pengaruh Globalisasi terhadap Pergeseran Kelas dalam Masyarakat: Studi Kasus Fenomena Konsumerisme di India.html

[2] Ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sabtu, 21 Februari 2015

Apa Kata TV Soal Konsumerisme

source : fineartamerica.com/profiles/allan-swart
Di ruang tengahnya yang hangat, David selonjoran di sofa, menjulurkan tangan lalu menekan tombol remot TV dengan malas, mencari-cari sesuatu untuk menghiburnya. Tapi percuma saja, Ia tetap gelisah menahan hasrat yang lebih besar daripada akal sehatnya. Matanya melirik jam dinding, sudah jam 1 malam rupanya. Dia tahu, kota seperti Sydney -tempat ia tinggal saat ini- ada banyak super market yang buka 24 jam. David sudah tidak tahan lagi, ia sambar baju hangat yang ada di ruang tengah, juga kunci mobil dan bergegas ke garasi. Mobil ia pacu, berharap agar ‘birahinya’ ini bisa segera menemukan pelampiasan.

Terang neon toko menyambut riang David, “oh saat-saat yang mendebarkan”, gumamnya.
Satu jam kemudian David keluar dari supermarket menenteng dua kantong besar belanjaan. Perjalanan dari kasir, ke pintu keluar menuju halaman parkir adalah puncak kenikmatan. Ia tak akan menyianyiakannya, David sedang “high”. Candu telah ia temukan, dihisap, dikunyah, dibiarkannya mengalir ke darah menuju otak dan mengantarkan domapin yang penuh kesenangan. Akhirnya Ia bisa tidur nyenyak malam ini.

Pagi, matahari lembut menyapu wajahnya. Tak jauh dari tempat tidur dua tumpuk barang bersesak-sesak di dalam kantong plastik putih. David menatap lesu. Penyesalan perlahan mengalir, memancar kemudian meledak di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hangat pagi membuatnya sadar, kecanduan akan belanja belum bisa ia kendalikan. Ia sakit dan butuh pertolongan.

Cerita mini di atas adalah potongan adegan program “Taboo” yang ditayangkan NG yang kali ini membahas tema “Addicted”. Sungguh sebuah kebetulan yang menarik sekaligus mengusik. Karena di malam yang sama saat tayangan itu muncul, saya baru saja menyelesaikan membaca buku “Sosiologi Waktu Luang: Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mall”. Buku ini ditulis oleh M. Ridha, seorang kenalan saat saya sedang aktif-aktifnya menghidupi sebuah jurnal bersama teman-teman di Makassar.

Addicted dan buku karya Ridha sama-sama membahas tentang konsumerisme, kebiasaan yang mulai menggeliat pada era pasca revolusi Industri, kemudian meledak di Eropa dan menjalar ke negara-negara dunia ke tiga termasuk Indonesia.Tentu saja keduanya membedah belanja dari perspektif yang berbeda. Dan karena perbedaan itulah saya membuat tulisan ini. Perbedaan-perbedaan ini serius adanya dan berimplikasi pada audiensnya masing-masing, pembaca pada buku M. Ridha dan pemirsa/penonton pada Addicted.

Pola, Narasumber dan Sudut Pandang “Addicted”

Baiklah saya akan bahas apa yang Addicted tawarkan ke pemirsa seperti saya. Lewat sebuah buku berjudul Analisis Framing yang kubaca 2008 silam, saya yang bukan mahasiswa Ilmu Komunikasi memperoleh sedikit panduan bagimana menilai sebuah karya Jurnalistik. Salah satunya adalah cara menebak sudut pandang sebuah berita (dalam kasus ini adalah sebuah dokumenter) melalui pemilihan narasumber. Mengetahui sudut pandang berarti mengetahui pesan “sebenarnya” yang ingin disampaikan oleh sebuah dokumenter sekaligus menyadari motif dibalik pembuatannya.

Sejauh yang saya amati ada 3 narasumber yang NG tampilkan dalam alur cerita Addicted. Yang pertama adalah David warga Sydney pengidap Shopaholic, Celia berprofesi sebagai psikiater dan terakhir dosen pengajar jurusan psikologi, Robert.

Ada pola yang berulang yang digunakan oleh NG dalam menceritakan Addicted. Menampilkan kisah David lebih dahulu, dikomentari oleh psikiater kemudian dilengkapi oleh pendapat dosen. Selama 30 menit menonton acara ini, pola ini cenderung konsisten dan tak berubah. David seperti terdakwa yang sedang disidang, ia dinilai oleh jaksa, hakim dan juri sekaligus. Tentu saja karena David adalah orang dengan perilaku menyimpang.

Namun, mengapa NG hanya menggunakan dua narasumber dari latar belakang yang sebenarnya hampir sama, psikologi? Addicted mengulik kecanduan belanja dari sudut pandang psikis semata! Hal ini menggiring saya (pemirsa TV) untuk menerima pesan bahwa shopaholic merupakan satu jenis penyakit jiwa disebabkan karena semata kelalaian dan kelemahan si pengidap serta faktor eksternal lain. Ada beberapa scene di mana faktor eksternal dijelaskan sebagai salah satu katalisator kecanduan pada David. Contohnya, scene di mana David diceritakan mewarisi beberapa juta dollar tabungan dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Selanjutnya ada kartu kredit dan bukti peminjaman dana. Kemudahan-kemudahan itu memberi jalan yang lapang bagi David untuk masuk ke dalam perangkap candu belanja.

Itu saja? Ya, saya pikir argumentasi NG melalui Addicted hanya sebatas pemberitahuan dan peringatan kepada pemirsanya. Ini adalah program TV yang memberi anda info tentang jenis kecanduan lain selain narkoba namanya shopaholic, ia berbahaya, bisa bikin bangkrut dan menghancurkan kehidupan (masa depan?) kita. Ini adalah sejenis penyakit yang muncul di jaman modern, kita harus berusaha keras untuk menghindarinya.

Itu adalah pesan yang baik, tulus dan menghindarkan kita dari bencana. Dan satu lagi, Addicted benar adanya, tapi tetap saja tayangan ini membut dahi saya berkerut.

Kedangkalan Bisa Jadi Sesat

Penggalian NG pada shopaholic hanyalah di permukaan saja, sementara sebab musabab lain masih dalam tertanam -tak dijangkau olehnya- sehingga pemirsa juga tak melihatnya. Apakah ini sengaja dilakukan? Atau karena soal durasi? Saya pikir bukan.  

Menuduh individu yang tak mampu menahan hasrat dan dukungan faktor eksternal sebagai penyebab gila belanja adalah kesimpulan yang prematur. Karena jika menilik akar historisnya shopaholic, konsumerisme disebabkan oleh faktor-faktor yang bersinggungan dengan lapangan ekonomi, politik, sosiologis juga psikologis (ranah yang dieksplogasi NG dengan sangat dangkal dalam addicted).

Tampaknya semakin rumit dan untuk menghindarinya saya tidak kan membahasnya terlalu panjang.

Sebagai televisi yang identik dengan nama majalah yang punya reputasi sangat baik, sebenarnya saya mengharapkan lebih ketika mereka menayangkan program-programnya. Namun tidak seperti artikel-artikel di majalah yang terkenal mendalam dengan pemilihan narasumber yang hati-hati dan kompeten, Addicted berbeda jauh secara kualitas.

Saya mengharapkan Addicted mampu mengeksplorasi shopaholic dengan lebih menyeluruh misalnya dengan menceritakan sejarahnya, latar sosial, ekonomi dan politik ketika penyakit jiwa tersebut mulai muncul dan menyebar. Siapa tahu saja, NG menemukan fakta bahwa penyakit gila belanja sudah temukan sebelum revolusi Industri dan revolusi Perancis terjadi. Dua momen penting sebagai tonggak lahirnya ideologi dominan hari ini : kapitalisme.

Saya juga berharap NG menampilkan data-data yang menjelaskan keterhubungan durasi menonton TV dengan jumlah konsumsi per kapita sebuah kota atau negara. Ekspektasi selanjutnya adalah Addicted akan menyuguhkan gambar saat peristiwa Malaise terjadi Amerika Serikat yang diakibatkan oleh over produksi. Momen yang diawali Selasa Kelam, peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929 menyebabkan depresi ekonomi berat di negeri uncle sam. Kejadian itu membuat korporasi belajar bahwa over produksi  adalah penyakit inheren dalam sistem kapitalisme dan obatnya selain ekspansi pasar juga mendorong semua pasar (baik yang dekat maupun yang letaknya ribuan kilometer jauhnya) untuk mempraktekkan budaya baru : konsumersime.

Saya mencurigai NG menyembunyikan fakta-fakta tentang konsumerisme sehingga pemirsanya mengambil kesimpulan yang prematur dan akhirnya tersesat. Penonton jadinya tak tahu duduk persoalan sebenarnya tentang konsumerisme, melanjutkan hidup dan tak akan mempertanyakan lebih jauh dunia seperti apa yang mereka jalani saat ini.

Agak naïf memang mengharapkan NG menelanjangi negara seperti AS-di mana korporasi raksasa bercokol-yang aktif mengekspor budaya mereka demi diadopsinya konsumerisme sesegera mungkin oleh negara-negara dunia ke tiga (baca: pasar). Naif memang, karena NG juga merupakan salah satu garda depan, bersama MTV, Hollywood dan kawan-kawannya yang aktif mengindtrodusir kebudayaan barat melalui tayangan-tayangannya. Standar hidup, membeli asuransi, makan di gerai-gerai cepat saji, jalan-jalan ke Mall, memakai baju, sepatu dan pernak-pernih yang dicontohkan para idola dari California adalah sedikit dari segudang kebiasaan baru yang diperkenalkan oleh barat ke negara-negara seperti Indonesia. American Dream, dua kata yang akrab saya dengar dari film Hollywood atau lirik dari lagu favorit saya.

Kita bisa tengok India, pada tahun 1990 hanya 10% dari total populasi masyarakat India yang mampu mengakses TV. Angka tersebut berubah menjadi 75% pada tahun 1999, delapan tahun setelah pemerintah India setuju untuk meminta bailout pada IMF dan merevisi sejumlah kebijakan ekonomi. Globalisasi ekonomi India kemudian diikuti oleh globalisasi kultur, beberapa orang menyebutnya sebagai westernisasi India. Stasiun TV asing meningkat pesat jumlahnya, begitu pula impor film Hollywood yang membanjiri pasar film nasional dan bersaing dengan film-film lokal[1]. Televisi yang banyak membawa nilai-nilai dari luar terutama dari Barat memberikan pola pemikiran baru, masyarakat mulai menginternalisasi nilai-nilai yang dipromosikan yang kemudian mendorong terciptanya gerakan bagi pola hidup mereka[2]. Seiring dengan hal tersebut, di India kemudian terbentuk jenis kelas sosial baru yaitu kelas menengah. Mereka mengejar standar hidup barat, fasih berbahasa Inggris dan menerima kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan (sesuatu yang tidak pernah ada di masyarakat India sebelumnya).

Di jaman di mana status jomblo sama dengan batu akik, sama-sama diekspoitasi demi menghidupi banyak orang, rasanya istilah Gegana (galau gundah gulana) bisa jadi katalisator yang baik bagi saya untuk menulis. Makanya tulisan ini selain disebabkan galau pada NG, juga karena ingin mengingatkan diri sendiri bahwa curiga tidak selamanya salah. Pemirsa televisi mesti memiliki sikap kritis terhadap tayangan televisi. Agar kita tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka sampaikan sebelum kita cerna baik-baik dan membandingkannya dengan sumber informasi lain yang punya sudut pandang yang berbeda. 

Ah rempong. Mana pilih, repot-repot berpikir atau terus dibodohi. :D

Atau mungkin kita bisa mengambil langkah lain. Matikan TV dan mulai mengerjakan hal-hal lain di mana kita berlaku sebagai subjek aktif, main game misalnya? :P 


Rujukan:
[1]http://mahrita-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-82498-PengantarGlobalisasi-Pengaruh Globalisasi terhadap Pergeseran Kelas dalam Masyarakat: Studi Kasus Fenomena Konsumerisme di India.html

[2] Ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sabtu, 21 Februari 2015

Apa Kata TV Soal Konsumerisme

source : fineartamerica.com/profiles/allan-swart
Di ruang tengahnya yang hangat, David selonjoran di sofa, menjulurkan tangan lalu menekan tombol remot TV dengan malas, mencari-cari sesuatu untuk menghiburnya. Tapi percuma saja, Ia tetap gelisah menahan hasrat yang lebih besar daripada akal sehatnya. Matanya melirik jam dinding, sudah jam 1 malam rupanya. Dia tahu, kota seperti Sydney -tempat ia tinggal saat ini- ada banyak super market yang buka 24 jam. David sudah tidak tahan lagi, ia sambar baju hangat yang ada di ruang tengah, juga kunci mobil dan bergegas ke garasi. Mobil ia pacu, berharap agar ‘birahinya’ ini bisa segera menemukan pelampiasan.

Terang neon toko menyambut riang David, “oh saat-saat yang mendebarkan”, gumamnya.
Satu jam kemudian David keluar dari supermarket menenteng dua kantong besar belanjaan. Perjalanan dari kasir, ke pintu keluar menuju halaman parkir adalah puncak kenikmatan. Ia tak akan menyianyiakannya, David sedang “high”. Candu telah ia temukan, dihisap, dikunyah, dibiarkannya mengalir ke darah menuju otak dan mengantarkan domapin yang penuh kesenangan. Akhirnya Ia bisa tidur nyenyak malam ini.

Pagi, matahari lembut menyapu wajahnya. Tak jauh dari tempat tidur dua tumpuk barang bersesak-sesak di dalam kantong plastik putih. David menatap lesu. Penyesalan perlahan mengalir, memancar kemudian meledak di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hangat pagi membuatnya sadar, kecanduan akan belanja belum bisa ia kendalikan. Ia sakit dan butuh pertolongan.

Cerita mini di atas adalah potongan adegan program “Taboo” yang ditayangkan NG yang kali ini membahas tema “Addicted”. Sungguh sebuah kebetulan yang menarik sekaligus mengusik. Karena di malam yang sama saat tayangan itu muncul, saya baru saja menyelesaikan membaca buku “Sosiologi Waktu Luang: Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mall”. Buku ini ditulis oleh M. Ridha, seorang kenalan saat saya sedang aktif-aktifnya menghidupi sebuah jurnal bersama teman-teman di Makassar.

Addicted dan buku karya Ridha sama-sama membahas tentang konsumerisme, kebiasaan yang mulai menggeliat pada era pasca revolusi Industri, kemudian meledak di Eropa dan menjalar ke negara-negara dunia ke tiga termasuk Indonesia.Tentu saja keduanya membedah belanja dari perspektif yang berbeda. Dan karena perbedaan itulah saya membuat tulisan ini. Perbedaan-perbedaan ini serius adanya dan berimplikasi pada audiensnya masing-masing, pembaca pada buku M. Ridha dan pemirsa/penonton pada Addicted.

Pola, Narasumber dan Sudut Pandang “Addicted”

Baiklah saya akan bahas apa yang Addicted tawarkan ke pemirsa seperti saya. Lewat sebuah buku berjudul Analisis Framing yang kubaca 2008 silam, saya yang bukan mahasiswa Ilmu Komunikasi memperoleh sedikit panduan bagimana menilai sebuah karya Jurnalistik. Salah satunya adalah cara menebak sudut pandang sebuah berita (dalam kasus ini adalah sebuah dokumenter) melalui pemilihan narasumber. Mengetahui sudut pandang berarti mengetahui pesan “sebenarnya” yang ingin disampaikan oleh sebuah dokumenter sekaligus menyadari motif dibalik pembuatannya.

Sejauh yang saya amati ada 3 narasumber yang NG tampilkan dalam alur cerita Addicted. Yang pertama adalah David warga Sydney pengidap Shopaholic, Celia berprofesi sebagai psikiater dan terakhir dosen pengajar jurusan psikologi, Robert.

Ada pola yang berulang yang digunakan oleh NG dalam menceritakan Addicted. Menampilkan kisah David lebih dahulu, dikomentari oleh psikiater kemudian dilengkapi oleh pendapat dosen. Selama 30 menit menonton acara ini, pola ini cenderung konsisten dan tak berubah. David seperti terdakwa yang sedang disidang, ia dinilai oleh jaksa, hakim dan juri sekaligus. Tentu saja karena David adalah orang dengan perilaku menyimpang.

Namun, mengapa NG hanya menggunakan dua narasumber dari latar belakang yang sebenarnya hampir sama, psikologi? Addicted mengulik kecanduan belanja dari sudut pandang psikis semata! Hal ini menggiring saya (pemirsa TV) untuk menerima pesan bahwa shopaholic merupakan satu jenis penyakit jiwa disebabkan karena semata kelalaian dan kelemahan si pengidap serta faktor eksternal lain. Ada beberapa scene di mana faktor eksternal dijelaskan sebagai salah satu katalisator kecanduan pada David. Contohnya, scene di mana David diceritakan mewarisi beberapa juta dollar tabungan dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Selanjutnya ada kartu kredit dan bukti peminjaman dana. Kemudahan-kemudahan itu memberi jalan yang lapang bagi David untuk masuk ke dalam perangkap candu belanja.

Itu saja? Ya, saya pikir argumentasi NG melalui Addicted hanya sebatas pemberitahuan dan peringatan kepada pemirsanya. Ini adalah program TV yang memberi anda info tentang jenis kecanduan lain selain narkoba namanya shopaholic, ia berbahaya, bisa bikin bangkrut dan menghancurkan kehidupan (masa depan?) kita. Ini adalah sejenis penyakit yang muncul di jaman modern, kita harus berusaha keras untuk menghindarinya.

Itu adalah pesan yang baik, tulus dan menghindarkan kita dari bencana. Dan satu lagi, Addicted benar adanya, tapi tetap saja tayangan ini membut dahi saya berkerut.

Kedangkalan Bisa Jadi Sesat

Penggalian NG pada shopaholic hanyalah di permukaan saja, sementara sebab musabab lain masih dalam tertanam -tak dijangkau olehnya- sehingga pemirsa juga tak melihatnya. Apakah ini sengaja dilakukan? Atau karena soal durasi? Saya pikir bukan.  

Menuduh individu yang tak mampu menahan hasrat dan dukungan faktor eksternal sebagai penyebab gila belanja adalah kesimpulan yang prematur. Karena jika menilik akar historisnya shopaholic, konsumerisme disebabkan oleh faktor-faktor yang bersinggungan dengan lapangan ekonomi, politik, sosiologis juga psikologis (ranah yang dieksplogasi NG dengan sangat dangkal dalam addicted).

Tampaknya semakin rumit dan untuk menghindarinya saya tidak kan membahasnya terlalu panjang.

Sebagai televisi yang identik dengan nama majalah yang punya reputasi sangat baik, sebenarnya saya mengharapkan lebih ketika mereka menayangkan program-programnya. Namun tidak seperti artikel-artikel di majalah yang terkenal mendalam dengan pemilihan narasumber yang hati-hati dan kompeten, Addicted berbeda jauh secara kualitas.

Saya mengharapkan Addicted mampu mengeksplorasi shopaholic dengan lebih menyeluruh misalnya dengan menceritakan sejarahnya, latar sosial, ekonomi dan politik ketika penyakit jiwa tersebut mulai muncul dan menyebar. Siapa tahu saja, NG menemukan fakta bahwa penyakit gila belanja sudah temukan sebelum revolusi Industri dan revolusi Perancis terjadi. Dua momen penting sebagai tonggak lahirnya ideologi dominan hari ini : kapitalisme.

Saya juga berharap NG menampilkan data-data yang menjelaskan keterhubungan durasi menonton TV dengan jumlah konsumsi per kapita sebuah kota atau negara. Ekspektasi selanjutnya adalah Addicted akan menyuguhkan gambar saat peristiwa Malaise terjadi Amerika Serikat yang diakibatkan oleh over produksi. Momen yang diawali Selasa Kelam, peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929 menyebabkan depresi ekonomi berat di negeri uncle sam. Kejadian itu membuat korporasi belajar bahwa over produksi  adalah penyakit inheren dalam sistem kapitalisme dan obatnya selain ekspansi pasar juga mendorong semua pasar (baik yang dekat maupun yang letaknya ribuan kilometer jauhnya) untuk mempraktekkan budaya baru : konsumersime.

Saya mencurigai NG menyembunyikan fakta-fakta tentang konsumerisme sehingga pemirsanya mengambil kesimpulan yang prematur dan akhirnya tersesat. Penonton jadinya tak tahu duduk persoalan sebenarnya tentang konsumerisme, melanjutkan hidup dan tak akan mempertanyakan lebih jauh dunia seperti apa yang mereka jalani saat ini.

Agak naïf memang mengharapkan NG menelanjangi negara seperti AS-di mana korporasi raksasa bercokol-yang aktif mengekspor budaya mereka demi diadopsinya konsumerisme sesegera mungkin oleh negara-negara dunia ke tiga (baca: pasar). Naif memang, karena NG juga merupakan salah satu garda depan, bersama MTV, Hollywood dan kawan-kawannya yang aktif mengindtrodusir kebudayaan barat melalui tayangan-tayangannya. Standar hidup, membeli asuransi, makan di gerai-gerai cepat saji, jalan-jalan ke Mall, memakai baju, sepatu dan pernak-pernih yang dicontohkan para idola dari California adalah sedikit dari segudang kebiasaan baru yang diperkenalkan oleh barat ke negara-negara seperti Indonesia. American Dream, dua kata yang akrab saya dengar dari film Hollywood atau lirik dari lagu favorit saya.

Kita bisa tengok India, pada tahun 1990 hanya 10% dari total populasi masyarakat India yang mampu mengakses TV. Angka tersebut berubah menjadi 75% pada tahun 1999, delapan tahun setelah pemerintah India setuju untuk meminta bailout pada IMF dan merevisi sejumlah kebijakan ekonomi. Globalisasi ekonomi India kemudian diikuti oleh globalisasi kultur, beberapa orang menyebutnya sebagai westernisasi India. Stasiun TV asing meningkat pesat jumlahnya, begitu pula impor film Hollywood yang membanjiri pasar film nasional dan bersaing dengan film-film lokal[1]. Televisi yang banyak membawa nilai-nilai dari luar terutama dari Barat memberikan pola pemikiran baru, masyarakat mulai menginternalisasi nilai-nilai yang dipromosikan yang kemudian mendorong terciptanya gerakan bagi pola hidup mereka[2]. Seiring dengan hal tersebut, di India kemudian terbentuk jenis kelas sosial baru yaitu kelas menengah. Mereka mengejar standar hidup barat, fasih berbahasa Inggris dan menerima kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan (sesuatu yang tidak pernah ada di masyarakat India sebelumnya).

Di jaman di mana status jomblo sama dengan batu akik, sama-sama diekspoitasi demi menghidupi banyak orang, rasanya istilah Gegana (galau gundah gulana) bisa jadi katalisator yang baik bagi saya untuk menulis. Makanya tulisan ini selain disebabkan galau pada NG, juga karena ingin mengingatkan diri sendiri bahwa curiga tidak selamanya salah. Pemirsa televisi mesti memiliki sikap kritis terhadap tayangan televisi. Agar kita tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka sampaikan sebelum kita cerna baik-baik dan membandingkannya dengan sumber informasi lain yang punya sudut pandang yang berbeda. 

Ah rempong. Mana pilih, repot-repot berpikir atau terus dibodohi. :D

Atau mungkin kita bisa mengambil langkah lain. Matikan TV dan mulai mengerjakan hal-hal lain di mana kita berlaku sebagai subjek aktif, main game misalnya? :P 


Rujukan:
[1]http://mahrita-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-82498-PengantarGlobalisasi-Pengaruh Globalisasi terhadap Pergeseran Kelas dalam Masyarakat: Studi Kasus Fenomena Konsumerisme di India.html

[2] Ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar