![]() |
| Kantung Ajaib Sebenarnya |
Kantung mataku tampak seperti jelaga, melingkar di sekelilingnya dan belum juga mau menyusut, hari ini pun saya mesti bangun pagi setelah sebelumnya berjibaku dengan setumpuk pekerjaan hingga subuh hari. Jenis pekerjaanku ini mengandalkan satu hal, kelihaian jari ku menari di atas keyboard komputer. Ya, menjadi seorang yang bertanggungjawab untuk mendokumentasikan sebuah kegiatan dalam bentuk tulisan membuatku mampu meninggalkan teknik lama mengetik dengan ’11 jari’ menuju ‘unlimited finger for typing shit’ (hahahaha). Namun tetap saja, durasi kegiatan yang begitu panjang membuat ku harus menuliskan semuanya ke dalam puluhan bahkan ratusan lembar, yang memakan waktu cukup lama. Dan alat satu-satunya yang saya punya agar bisa merampungkannya adalah komputer butut peninggalan masa kuliah dahulu. Dia sungguh kuat, hingga hari ini mampu menemaniku ditiap bilik masa yang ku lalui.
Jika ia bisa bicara, mungkin komputer ku ini akan melayangkan protes padaku. Kenapa ia begitu jarang saya istirahatkan, hampir tak pernah aku bersihkan atau sekedar menambahkan hardware baru untuk membantunya ‘berlari’ saat bekerja. Ah, ia memang temanku yang setia. Sudah 4 ruang kamar sewa yang kutempati, dan ia selalu punya spasi di tiap kamar tersebut. Bagiku, ia seperti kantung ajaib Doraemon yang begitu berharga dalam kondisi apapun. Selagi bosan, saya bisa memutar lagu atau menghibur diri dengan game miliknya. Jika banyak tugas atau kerjaan, ia punya alat yang pas agar pekerjaanku cepat selesai. Saat saya rindu dengan semua temanku, aku bisa menggapainya lewat dunia maya melalui layarnya yang mulai kusam itu. Jika ingin membaca, ia punya segunung bahan bacaan, artikel buku dan sebagainya. Laparnya mata ini ketika ingin nonton film, ia sudah kupersiapkan dengan setumpuk file film menarik. Hei kamu, komputerku , kau sangat berguna. hahahahaha
Meskipun kau sering sakit akibat virus brengsek buatan korporasi antivirus rakus itu, namun sedianya saya selalu bisa menemukan obat yang pas. Jadilah kau sangat jarang sakit, apalagi sampai tidak bisa bekerja. Tetapi setahun terakhir, kau dan aku berhadapan dengan masalah baru, kelayakan pasokan listrik untuk bisa membuat otot dan otak mu bekerja sama sekali buruk. Seringnya listrik rumah kost padam akibat kelebihan pemakaian yang tidak sebanding dengan daya normal yang terpasang membuat perangkat kerasmu compang camping. Gudang data mu alias hardisk adalah organ tubuh pertama yang menjadi tumbal akibat krisis listrik ini. Kemudian disusul bunyi bising dari perangkat audio pada motherboard mu. Semuanya sungguh mengganggu. Puncaknya ketika hardisk berkapasitas 160 GB harus saya cabut dari tubuhmu dan menggantinya dengan yang baru karna rusak parah. Ini namanya“Sungguh terlalu” , kata bang Rhoma.
Bukannya tanpa sebab, mengapa listrik di kost ke empatku ini sering ‘latto’. Kehadiran kulkas milik ibu kost yang memutuskan untuk ikut tinggal di dalam rumah kost menjadi penyebab utama ketidakmampuan daya 900 watt milik rumah ini memikul semua hisapan listrik alat elektronik yang dimiliki semua penghuni. Jadilah, bapak meteran mengambil langkah taktis ketika pemakaian melewati batas kemampuan, mematikannya!
Ketidakmampuanku membeli UPS yang punya fungsi seperti baterai isi ulang pada laptop dan handphone, agar mencegah komputer ikut padam ketika listrik mati, membuat organ tubuh si dia rontok satu persatu. Karena komputer memiliki banyak komponen yang sangat sensitif terhadap perubahan tegangan, apalagi listrik yang tiba-tiba terputus pasokannya. Seorang teman yang jago soal komputer pernah menjelaskannya padaku, ia bilang hardisk memiliki dua komponen vital, jarum pembaca sekaligus penulis, dan piringan tempat menaruh/menuliskan data. Jarak antara keduanya ia gambarkan hanya setebal rambut manusia saat tidak dinyalakan. Saat bekerja, kedua permukaannya bersentuhan dengan batas pekerjaan yang diperintahkan, apakah membaca atau menuliskan data. Dan ketika listrik padam, kedua komponen ini saling bergesekan tajam tak terkontrol akibat kehilangan daya. Jadilah piringan tersebut tergores sana sini. Sisi yang tergores biasanya disebut bad sector, yang sudah tidak bisa lagi dipakai untuk ditulis atau dibaca oleh jarum ‘sakti‘. Semakin sering komputer mati tak wajar alias tidak dimatikan dengan perintah kita melalui OS yang kita install, maka semakin banyak bad sector yang muncul, bagai panu yang menjalar ke seluruh tubuh. Akhirnya, bang! Hardisk totally broken, damn it!
Dengan jerih payah mengetik semua dokumentasi kegiatan yang diselenggarakan sebuah lembaga donor asal negeri yang paling ‘kassa’ produksi sepeda motor itu, saya akhirnya mampu membeli hardisk baru. Kapasitasnya juga lumayan 1 Tera Byte, ‘senangnya dalam hati’seperti kata si Ahmad Dhani dalam lagu daur ulangnya madu tiga. Tetapi akar permasalahan belum juga terselesaikan, listrik di rumah kost masih saja sering padam. Di minggu ke tiganya, hardisk baru mulai menujukkan tanda-tanda ketidaknormalannya. Salah satu partisinya setiap kali log on OS, itu seringkali meminta disk checking. “Anjritt, masa’ hardisk ku yang baru sudah rusak lagi”. Saya memendamya dalam-dalam, lagian saya seringkali melupakannya karena tumpukan kesibukan di tiap harinya.
Tibalah saya pada satu momen, setelah merampungkan dokumentasi tulisku saya kemudian didaulat untuk menjadi sekretaris kegiatan lokakarya jurnalistik bagi alumnus Jurusan Ilmu Kelautan Unhas. Namanya juga sekertartis, sedikit banyak bersentuhan dengan tugas ketik mengetik berbagai keperluan adiministrasi untuk mendukung terlaksananya kegiatan ini. Dasar brengsek, di pagi hari nan cerah ketika saya sedang olah jari di atas keyboard listrik tiba-tiba padam, selang beberapa menit kemudian menyala kembali. Dengan sesak di dada menahan jengkel, saya menyalakan kembali komputerku, mencari dokumen yang baru saja ku ketik. Saya mulai merapikan beberapa bagian yang tidak sempat disave, saya mesti mengetiknya kembali, bertambahlah kekesalanku. Tak lama kemudian, listrik kembali padam, saya tak bisa membendung lagi amarahku, keluarlah makian dari mulut, ditambah tendangan telak ke badan pintu kamar.
Saya lantas mencari biang kerok permasalahan yang tak lain adalah pemilik rumah kost. Saya mendapatinya di teras rumah. Saya membuka percakapan dengan nada tinggi, menumpahkan kekesalanku selama ini, tentang listrik yang sering kali padam, daya listrik yang tak sesuai dengan konsumsi listrik semua penghuni dan tentu saja mengenai kepemilikan kulkas jahanam empunya kos yang membuat ini semua terjadi. Percakapan menemui jalan buntu, karena saya dan bos kos diselimuti amarah. Saya lantas melontarkan peryataan menantang, “jika tidak ada solusi, saya menolak membayar uang listrik untuk bulan ini, jika anda tidak terima, boleh usir saya tapi kembalikan uang sewa saya”. Saya pun meninggalkannya dalam kebisuan, menuju kamar ku untuk melanjutkan pekerjaan dan berharap listrik tidak lagi padam. Selang beberapa saat empunya kos menyatroni kamarku. Membawa secarik kertas dan beberapa lembar uang merah. Rupanya ia menerima permintaanku untuk pindah, entah karena ia tidak suka dengan kelakuanku tadi, atau apa. Saya pun langsung menerima uang itu dan mengajukan tenggat waktu pindah selama 1 minggu . Ia menyetujuinya, saya menghindari percakapannya soal listrik tadi, karena saya sudah bosan dengan argumennya yang kering solusi. Saya menutup percakapan itu dengan segera karena harus melanjutkan pekerjaan saya.
Tapi setelah saya pikir-pikir, biaya hidup yang terlalu tinggi menyebabkan pemilik kost-kostan segan untuk menaikkan daya listrik di tempat kami. Jika daya listrik dinaikkan, maka biaya beban normal tanpa pemakaian juga akan naik, tentu saja hal ini makin memberatkan penghuni rumah kost ini. PLN sebagai institusi di bawah naungan pemerintah terus mendapatkan rapor buruk sebagi BUMN yang paling sering mengalami kebocoran dana, penyebabnya apa lagi, ya kalau bukan korupsi. Di tiap akhir pelaporan anggaran, PLN selalu mengumumkan kerugian yang besar, padahal dana segar yang dihisap dari konsumennya yaitu masyarakt itu sendiri, lebih banyak masuk ke kantong pejabat terasnya. Relasi sosial yang mirip dengan bentuk upeti jaman feodal dahulu nyatanya terjadi di masa sekarang, namun dengan bentuk yang lebih samar. Kami para pekerja upahan, bersusah payah banting tulang di tiap jam kerja, lantas seketika dirampok penghasilan kami melalui pembayaran tagihan listrik yang tinggi. Dan nyatanya kenaikan tarif dasar listrik di tiap masa setelah perhelatan pemilu besar-besaran di negeri ini, sama sekali tidak di ikuti peningkatan pelayanan yang berarti. Sebut saja pemadaman bergilir yang berlangsung setahun silam di kota Makassar. Kita bisa melihat betapa tololnya pemerintah dengan menyetejui membeli dan membangun infrastruktur PLTA Bakaru Pinrang tanpa menyiapkan tenaga teknis yang mampu memelihara dan memperbaiki peralatan tersebut. Akibatnya ketika satu elemen kecil dalam mesin pada PLTA Bakaru rusak, kita harus menunggu berbulan-bulan hingga datang tenaga teknis dari Jerman, asal mesin tersebut dibuat. Dan kami sebagai konsumen dipaksa menikmati pemadaman bergilir yang menghancurkan property elektronik kami. Dan anehnya, tidak ada perubahan signifikan dari jumlah tagihan listrik sebelum adanya pemadaman dan setelahnya. Sungguh korup PLN ini!
Dari pada saya terus menggerutu dengan analisa pas-pasan dan sotta’ mending saya akhiri saja. Sekedar informasi boy, saya menulis gerutuan ini 4 hari setelah saya mengajukan protes itu dan masih belum menemukan kamar kost yang baru untuk tinggal nantinya. Oh Iya, juga sementara berlangsung pelatihan atau Lokakarya Jurnalistiknya ISLA, dan Nurhady Sirimorok yang didaulat menjadi pematerinya mampu membakarku untuk kembali menulis, maka jadilah onggokan huruf-huruf ini. :P

Tidak ada komentar:
Posting Komentar