Senin, 11 April 2011

Sepasang Gumpalan Daging

Di saat normal pun ia tampak jadi anomali di saluran kerongkonganku. Sesekali aku melihat bayangannnya melalui cermin. Rupanya pasangan ini sangat betah berlama-lama menempel di tubuhku. Katanya, mereka ini adalah pasukan penahan invasi virus dan kuman yang mau masuk ke tubuh melalui jalur kerongkongan. Dan seingatku mereka mulai bekerja bereaksi terhadap kondisi lingkungan yang buruk saat masih harus memakai seragam putih merah. Ketika tubuh tidak fit seperti saat saya menuliskan ini, di serang flu, kemudian sakit kepala, mereka pun bereaksi membengkak dan memicu produksi air liur dan dahag. Awweh...sungguh menyebalkan. 

Saya tidak tahu apa istilah medisnya, tapi orang-orang sering bilangnya kalo mereka adalah amandel. Gumpalan daging yang tumbuh pada saluran kerongkongan memang dirancang untuk tujuan khusus. Saat mereka membengkak ada beberapa hal yang bisa dilakukan sendiri untuk membuat amandel kembali menyusut dan infeksi tidak terjadi. Nih ada beberapa poin yang sempat ku curi dari blog nya orang hehehe:
* Diusahakan untuk minum banyak air atau cairan seperti sari buah, terutama selama demam.
* Jangan minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan, makanan awetan yang diasinkan, dan manisan.
* Berkumur air garam hangat 3-4 kali sehari.
* Menaruh kompres hangat pada leher setiap hari.
* diberikan terapi antibiotik (atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk mencegah komplikasi.
* Istirahat yang cukup. 

Sepertinya semua sarannya bisa dikategorikan DIY yah? Hehehe Do It Yourself, dude! Alias bisa dilakukan sendiri. Hehehe. Pace juga kasi resep, katanya perasan jeruk nipis dan air hangat membantu mempecepat amandel itu gembos. Ah, saat-saat begini jadi rindu hangat rumah. Hehehe. 

Mantap cuy, lagi beringus begini kita embat dia
Kayaknya memang penyebab membengkaknya tuh tameng berbahan dasar daging adalah kondisi eksternal seperti cuaca, atau masuknya debu, atau bahkan bahan aditif yang terkandug dalam makanan yang masuk ke kerongkongan. Sulit memang mencari kondisi yang aman (menurut katergori kesehatan) di tengah kota metropolitan yang sedang dihantam sihir pembangunan, seperti Makassar. Belum lagi kenyataan bahwa asupan makanan yang kita konsumsi sehari-hari hampir seluruhnya adalah hasil pertanian transgenik. Dan juga banyaknya zat aditif makanan artifisial yang ditambahkan produsen makanan siap saji, sebagai upaya untuk menjawab mekanisme pasar yang punya hukum permintaan dan penawaran. Dan juga sistem ekonomi kapitalisme mengamini persaingan bebas tanpa batas antara pengusaha, siapa yang tidak memproduksi dengan murah dan menjualnya dengan lebih murah dari perusahaan lain, maka ia akan mati. Menger jako? Saya tidak. Hehehehe

Jika sudah begitu kenyataannya, hanya ada beberapa pilihan kejam yang harus ditempuh produsen makanan agar bisa memangkas biaya produksi, yang pertama menurunkan upah buruh. Jika pimpinan serikat buruh sudah disuap, akhirnya anggotanya manut, langkah lainnya adalah memakai bahan aditif makanan untuk menjaga rasa tetap enak walaupun dikurangi jumlah bahan baku yang betul-betul bahan makanan asli. Selain itu, zat aditif berupa monosodium glutamat atau yang na bilang maceku vitsin itu memang luar biasa bekerja menyedapkan makanan, hmm bubuk ajaib, aditif sekaligus adiktif.  Tapi deh, ko tau apa yang dampak jangka panjangnya bagi tubuh kalo terus-menerus dikonsumsi sepanjang hidup? Nanti pi kucari lagi. Hahaha

Belum selesai tadi soal tumbuhan dan hewan transgenik yang kita konsumsi sehari-hari. Aduh tapi ini ingus keluar-keluar mi. Kalo penasaran soal ini ada buku bagus pernah kubaca judulnya Rekayasa Genetik: Impian atau Petaka, terbitannya Insisst Press. Hehehe. Sampai nanti ya, saya mau menyedu mie instan  dulu, sarapan pagi anak kost, hehehe. Wah, ada MSG nya hahahaha. Tak apa, masih ada Rumah Sakit yang mengalunkan lagu Sakit Sendiri nya buatku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Senin, 11 April 2011

Sepasang Gumpalan Daging

Di saat normal pun ia tampak jadi anomali di saluran kerongkonganku. Sesekali aku melihat bayangannnya melalui cermin. Rupanya pasangan ini sangat betah berlama-lama menempel di tubuhku. Katanya, mereka ini adalah pasukan penahan invasi virus dan kuman yang mau masuk ke tubuh melalui jalur kerongkongan. Dan seingatku mereka mulai bekerja bereaksi terhadap kondisi lingkungan yang buruk saat masih harus memakai seragam putih merah. Ketika tubuh tidak fit seperti saat saya menuliskan ini, di serang flu, kemudian sakit kepala, mereka pun bereaksi membengkak dan memicu produksi air liur dan dahag. Awweh...sungguh menyebalkan. 

Saya tidak tahu apa istilah medisnya, tapi orang-orang sering bilangnya kalo mereka adalah amandel. Gumpalan daging yang tumbuh pada saluran kerongkongan memang dirancang untuk tujuan khusus. Saat mereka membengkak ada beberapa hal yang bisa dilakukan sendiri untuk membuat amandel kembali menyusut dan infeksi tidak terjadi. Nih ada beberapa poin yang sempat ku curi dari blog nya orang hehehe:
* Diusahakan untuk minum banyak air atau cairan seperti sari buah, terutama selama demam.
* Jangan minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan, makanan awetan yang diasinkan, dan manisan.
* Berkumur air garam hangat 3-4 kali sehari.
* Menaruh kompres hangat pada leher setiap hari.
* diberikan terapi antibiotik (atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk mencegah komplikasi.
* Istirahat yang cukup. 

Sepertinya semua sarannya bisa dikategorikan DIY yah? Hehehe Do It Yourself, dude! Alias bisa dilakukan sendiri. Hehehe. Pace juga kasi resep, katanya perasan jeruk nipis dan air hangat membantu mempecepat amandel itu gembos. Ah, saat-saat begini jadi rindu hangat rumah. Hehehe. 

Mantap cuy, lagi beringus begini kita embat dia
Kayaknya memang penyebab membengkaknya tuh tameng berbahan dasar daging adalah kondisi eksternal seperti cuaca, atau masuknya debu, atau bahkan bahan aditif yang terkandug dalam makanan yang masuk ke kerongkongan. Sulit memang mencari kondisi yang aman (menurut katergori kesehatan) di tengah kota metropolitan yang sedang dihantam sihir pembangunan, seperti Makassar. Belum lagi kenyataan bahwa asupan makanan yang kita konsumsi sehari-hari hampir seluruhnya adalah hasil pertanian transgenik. Dan juga banyaknya zat aditif makanan artifisial yang ditambahkan produsen makanan siap saji, sebagai upaya untuk menjawab mekanisme pasar yang punya hukum permintaan dan penawaran. Dan juga sistem ekonomi kapitalisme mengamini persaingan bebas tanpa batas antara pengusaha, siapa yang tidak memproduksi dengan murah dan menjualnya dengan lebih murah dari perusahaan lain, maka ia akan mati. Menger jako? Saya tidak. Hehehehe

Jika sudah begitu kenyataannya, hanya ada beberapa pilihan kejam yang harus ditempuh produsen makanan agar bisa memangkas biaya produksi, yang pertama menurunkan upah buruh. Jika pimpinan serikat buruh sudah disuap, akhirnya anggotanya manut, langkah lainnya adalah memakai bahan aditif makanan untuk menjaga rasa tetap enak walaupun dikurangi jumlah bahan baku yang betul-betul bahan makanan asli. Selain itu, zat aditif berupa monosodium glutamat atau yang na bilang maceku vitsin itu memang luar biasa bekerja menyedapkan makanan, hmm bubuk ajaib, aditif sekaligus adiktif.  Tapi deh, ko tau apa yang dampak jangka panjangnya bagi tubuh kalo terus-menerus dikonsumsi sepanjang hidup? Nanti pi kucari lagi. Hahaha

Belum selesai tadi soal tumbuhan dan hewan transgenik yang kita konsumsi sehari-hari. Aduh tapi ini ingus keluar-keluar mi. Kalo penasaran soal ini ada buku bagus pernah kubaca judulnya Rekayasa Genetik: Impian atau Petaka, terbitannya Insisst Press. Hehehe. Sampai nanti ya, saya mau menyedu mie instan  dulu, sarapan pagi anak kost, hehehe. Wah, ada MSG nya hahahaha. Tak apa, masih ada Rumah Sakit yang mengalunkan lagu Sakit Sendiri nya buatku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Senin, 11 April 2011

Sepasang Gumpalan Daging

Di saat normal pun ia tampak jadi anomali di saluran kerongkonganku. Sesekali aku melihat bayangannnya melalui cermin. Rupanya pasangan ini sangat betah berlama-lama menempel di tubuhku. Katanya, mereka ini adalah pasukan penahan invasi virus dan kuman yang mau masuk ke tubuh melalui jalur kerongkongan. Dan seingatku mereka mulai bekerja bereaksi terhadap kondisi lingkungan yang buruk saat masih harus memakai seragam putih merah. Ketika tubuh tidak fit seperti saat saya menuliskan ini, di serang flu, kemudian sakit kepala, mereka pun bereaksi membengkak dan memicu produksi air liur dan dahag. Awweh...sungguh menyebalkan. 

Saya tidak tahu apa istilah medisnya, tapi orang-orang sering bilangnya kalo mereka adalah amandel. Gumpalan daging yang tumbuh pada saluran kerongkongan memang dirancang untuk tujuan khusus. Saat mereka membengkak ada beberapa hal yang bisa dilakukan sendiri untuk membuat amandel kembali menyusut dan infeksi tidak terjadi. Nih ada beberapa poin yang sempat ku curi dari blog nya orang hehehe:
* Diusahakan untuk minum banyak air atau cairan seperti sari buah, terutama selama demam.
* Jangan minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan, makanan awetan yang diasinkan, dan manisan.
* Berkumur air garam hangat 3-4 kali sehari.
* Menaruh kompres hangat pada leher setiap hari.
* diberikan terapi antibiotik (atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk mencegah komplikasi.
* Istirahat yang cukup. 

Sepertinya semua sarannya bisa dikategorikan DIY yah? Hehehe Do It Yourself, dude! Alias bisa dilakukan sendiri. Hehehe. Pace juga kasi resep, katanya perasan jeruk nipis dan air hangat membantu mempecepat amandel itu gembos. Ah, saat-saat begini jadi rindu hangat rumah. Hehehe. 

Mantap cuy, lagi beringus begini kita embat dia
Kayaknya memang penyebab membengkaknya tuh tameng berbahan dasar daging adalah kondisi eksternal seperti cuaca, atau masuknya debu, atau bahkan bahan aditif yang terkandug dalam makanan yang masuk ke kerongkongan. Sulit memang mencari kondisi yang aman (menurut katergori kesehatan) di tengah kota metropolitan yang sedang dihantam sihir pembangunan, seperti Makassar. Belum lagi kenyataan bahwa asupan makanan yang kita konsumsi sehari-hari hampir seluruhnya adalah hasil pertanian transgenik. Dan juga banyaknya zat aditif makanan artifisial yang ditambahkan produsen makanan siap saji, sebagai upaya untuk menjawab mekanisme pasar yang punya hukum permintaan dan penawaran. Dan juga sistem ekonomi kapitalisme mengamini persaingan bebas tanpa batas antara pengusaha, siapa yang tidak memproduksi dengan murah dan menjualnya dengan lebih murah dari perusahaan lain, maka ia akan mati. Menger jako? Saya tidak. Hehehehe

Jika sudah begitu kenyataannya, hanya ada beberapa pilihan kejam yang harus ditempuh produsen makanan agar bisa memangkas biaya produksi, yang pertama menurunkan upah buruh. Jika pimpinan serikat buruh sudah disuap, akhirnya anggotanya manut, langkah lainnya adalah memakai bahan aditif makanan untuk menjaga rasa tetap enak walaupun dikurangi jumlah bahan baku yang betul-betul bahan makanan asli. Selain itu, zat aditif berupa monosodium glutamat atau yang na bilang maceku vitsin itu memang luar biasa bekerja menyedapkan makanan, hmm bubuk ajaib, aditif sekaligus adiktif.  Tapi deh, ko tau apa yang dampak jangka panjangnya bagi tubuh kalo terus-menerus dikonsumsi sepanjang hidup? Nanti pi kucari lagi. Hahaha

Belum selesai tadi soal tumbuhan dan hewan transgenik yang kita konsumsi sehari-hari. Aduh tapi ini ingus keluar-keluar mi. Kalo penasaran soal ini ada buku bagus pernah kubaca judulnya Rekayasa Genetik: Impian atau Petaka, terbitannya Insisst Press. Hehehe. Sampai nanti ya, saya mau menyedu mie instan  dulu, sarapan pagi anak kost, hehehe. Wah, ada MSG nya hahahaha. Tak apa, masih ada Rumah Sakit yang mengalunkan lagu Sakit Sendiri nya buatku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar