Untuk kedua kalinya, saya bangun pagi, pagi sekali. Mungkin karena kondisi tubuh yang buruk memaksa ku untuk beristirahat lebih cepat di malam hari. Tapi, sama ji bangunnya juga terlalu cepat, hehehe..kenapa jam tidur dan bangunku seperti orang kantoran ya? Padahal ini rutinitas yang paling menyebalkan yang hampir setiap orang harus jalani, tidur cepat (demi kesehatan dan kebugaran) dan bangun di subuh hari (agar tak telat masuk kerja). Hei, kau melakukannya hampir tiap hari? Kau sinting ya? Hahahaha
Sudah-sudah, nanti saya melebar membahas panjang masalah alienasi dan pasar kerja, hahaha, kayaknya bukan di sini deh tempatnya. Kebetulan hari ini hari pertama ku cerai dari pondokan laknat perusak komputerku itu, untuk sementara saya ngungsi dulu di tempatnya anak-anak di Wesabbe, sambil mencari pondokan yang pas. Saya sebenarnya sedih berpisah dengan jalan bung. Tempat pertama kali saya habiskan malam di kota Makassar ya di bung ini. Saya masih ingat, ketika itu saya nda bisa tidur, terbangun jam 4 subuh, saya begitu terganggu dengan banyaknya suara yang berteriak-teriak melalui pengeras suara di subuh hari. Banyak dudui, deh, sampe-sampe sakit kepalaku.
Tapi ada yang hal yang tidak bisa kulupa dari jalan bung. Sebuah Warung makan, ia tak mempunyai nama jadi saya dan teman-teman dengan bebas menyebutnya warung tanta, ibu, atau Uni, nama anak dari ibu penjual makanan berat yang ketika itu tak jauh dari pondokan pertamaku. Seperti warung makan lainnya, ibu sebelum siang sudah siap dengan food gallery-nya, ada perkedel, ikan goreng, tempe tahu, sayur bening, tumis, santan. Sungguh tak jauh berbeda dengan jenis masakan di rumah di kampung, hal ini membuatku tak perlu bersusah payah beradaptasi dengan jenis makanan di Makassar yang ku kira akan sangat berbeda.
Ketika menjadi mahasiswa baru universitas hampir swasta Unhas di tahun 2004 silam, seingatku harga makanan dulu di Ibu itu seporsinya Rp 2.500,-. Itu sebelum BBM naik setahun kemudian. Ada satu hal yang menarik menurutku dari konsep Ibu menjual makanan sehingga mampu menarik banyak pembeli. Yaitu sistem prasmanan, kita bebas mengambil sendiri, mulai dari jenis makanan hingga jumlahnya yang ingin kita lahap di tempat itu. Bebas cuy, hanya saja kalau lauk utama seperti ikan atau telur kamu masukkan dalam satu porsi itu harganya agak sedikit naik, tapi seingatku untuk yang lainnya itu kalo ditambah nda dikenakan biaya tambahan, nyamanna makan sepuasnya. Hahaha
Ibu pun tidak hanya membangun relasi ekonomi semata dengan kami para anak kost, yang bisanya hanya sebatas pembeli dan penjual. Ia selalu menanyakan kabar kami, bagaimana kuliah kami, ospek kami, bahkan apa sudah ada pacar kami.hehehe. Ibu bertindak layaknya ibu, senyumnya yang membuat nyaman, repotnya ia ketika kami datang berbondon-bondong dengan memasang wajah bajipur (bajingan cipuru’) sepulang kuliah. Relasi emosional itu penting lho di tengah masyarakat sakit seperti sekarang ini yang hanya mengutamakan satu hal, pengejaran profit sebanyak-banyaknya. Peradaban kita sungguh dibangun pada satu pondasi yang lucu menurutku, yaitu kegilaan dan kesakitan. (aduh mulai lagi deh, kambuh :P)
Saya juga selalu melihat perubahan padanya dan keluarganya. Dulunya ibu rambutnya hitam lebat, entah kenapa setahun belakangan saya perhatikan sudah banyak uban, alias banyak rambut putih diantara arsiran rambut hitamnya. Saya juga sering bercanda dengan cucunya yang ketika dulu masih balita, deh sekarang sudah sekolah di SD Inpres Bung. Atau anak gadisnya Uni yang kini sudah menjadi Ibu dari bocah botak bermata sipit hasil perkawinannya dengan seorang pria gempal, hitam dan ramah.
Semua berubah, Ibu sudah mengganti TV kusam tua miliknya dengan TV baru dan canggih. Hehehe. Jadilah saya sering numpang nonton berita siang kalo sempat makan di situ. Sekarang ibu sudah jauh, dari wesabbe lumayan nampar betis lho kalo mau jalan kaki ke Bung :P. Untuk beberapa saat saya membiarkan lidahku jauh dari masakannya, jauh dari ibu dan nanti sekalian mampir bisa kutumpahkan semua kerinduanku, hahaha, makan cuy sampe poge’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar