Sabtu, 23 April 2011

Hal Brengsek dari Mengakhiri Sesuatu adalah Ketika Kita Tak Sadar Bahwa Kita Sedang Memulainya Kembali

Biar saja, malam sepi ini hanya ingin kumaki, toh hanya ada sedikit telinga yang kan mendengarnya. Tidak pula kau yang punya setumpuk alasan untuk menutup rapat telinga dan tenggelam dengan rutinitas sampah itu. Taik! Tak ada yang lebih menyebalkan dari duduk dan memaki semuanya sendiri di layar monitor ini.

Ah, saya tau nya hanya menggerutu, mengutuk diri. Besok saya kan mengakhirnya! Lihat saja!

Jumat, 22 April 2011

Beberapa Baris yang Rindu

Seperti yang sudah-sudah, saya hendak tidur sementara kau sibuk merayakan insomnia gilamu. 
Di balik semuanyanya, kau menyembunyikan rapuh tubuhmu 
Dan menyimpan rapi segunung beban yang hanya pada pundakmu.
 ***
Besok menjadi semakin menyenangkan karena ada perayaan menjadi manusia
Sayangnya kau tak bisa turut dalam parade adrenalin ini.
Tak apalah, toh kau lebih aman jika tidak bersamaku untuk saat ini.
 ***
Senin masih begitu jauh
Semoga esok aku tak kalah
Semoga lusa kau tak jatuh
Hingga nanti tiba waktunya kita berbagi peluh

Selasa, 19 April 2011

2 Menit Untukmu

Ini tidak akan panjang, kau akan menemukanku terkapar tak berdaya segera setelah membacanya. Ya sayang, hari aku tak bisa menemanimu, menjadi bidak pion terdepan adalah peran yang mesti kujalani demi bertahan hidup. Hampir saja semuanya kutukar dengan hal menyebalkan ini, bekerja! Bahkan saat kau pun sakit aku hanya bisa memberikan sedikit waktu untukmu, hanya 2 menit! Itupun aku harus lihai mencurinya dari panjangnya jam kerja yang membosankan. 

Semoga kau tidak terus-terusan dipusingkan dengan prosedur sampah kampus, yang memaksamu melakukan hal yang sama sekali tak kau sukai.  Jika semuanya sampai di titik didih kejenuhan, kita toh masih punya sedikit spasi diantara bosannya rutinitas. Kita akan merayakan kematian kepalsuan diri dengan bergandengan, tertawa dan mencaci semua yang sudah berlalu. Brengsek! Hidup begitu pendek untuk dijalani dengan hal-hal yang miskin makna.  

Saya akan mentupnya dengan kecupan hangat, tentu saja hanya buatmu dan ini dari ku. Semoga itu cukup untuk menawar sepi dan penat di esok hari, selamat tidur dan teruslah bermimpi wahai kau  feromonku :p.

Minggu, 17 April 2011

Free Download "Collapse", Jared Diamond

Resensi oleh Ishmael Yahalah
Sekali lagi Jared Diamond membongkar erorr peradaban, dan berikut adalah salah satu karyanya yang berhasil divisualisasikan oleh salah satu production house raksasa dunia NG. Nikmati filmnya pada link berikut:
Sebelumnya, kamu bisa membaca resensinya yang di blog ini saya ambil dari:


Resensi

Sebuah Dunia Yang Akan Kolaps





Judul
: Collapse (Based on The Book of Jared Diamond)
Sutradara/penulis : Noel Dockstader
Editor : Steve Eagleton
Tahun : September, 2010
Produser : Noel Dockstader
Produksi : Far West Film Co. & National Geographic Television
Peresensi : Ishmael Yahalah


Jared Diamond
telah menggugah banyak orang di berbagai belahan dunia ini. Dalam tulisan-tulisannya, Diamond memberikan pandangan dan penafsiran ulang atas sejarah dan peradaban yang berdiri saat ini. Tulisannya yang kaya sekaligus kontroversial merentang dari sejarah hingga geografi, dari fisiologi hingga arkeologi. Dalam buku terkenalnya Gun, Germs, and Steel (2006) yang memenangi hadiah Pulitzer, Profesor Diamond menyingkap bagaimana peradaban di dunia ini bisa terbentuk sedemikian rupa melalui proses yang tidaklah alamiah. Ia menjelajahi gurun di Afrika, hutan Papua, kota-kota kuno di Bulan Sabit Subur, hingga Amerika Selatan. Salah satu tesis pentingnya bahwa agrikultur adalah “kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia”, menjadi perbincangan yang sengit di kalangan yang mendukung dan menolak tesis tersebut.

Dan
di buku setelahnya Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed (2005), Diamond belum beranjak dari tesis awalnya tersebut. Jika dalam “Gun, Germs and Steel” profesor fisiolog ini menjabarkan tentang asal usul dan kejatuhan sebuah peradaban, maka “Collapse” lebih banyak mengurai konsekuensi yang tidak bisa dijauhkan, manakala sebuah peradaban berjalan. Yang pada akhirnya, dikarenakan karakternya yang destruktif, peradaban akan runtuh mengulangi sejarah-sejarah terdahulu di masa silam.
Film “Collapse”
ini adalah kolaborasi kedua National Geographic dengan sang Professor, setelah Gun, Germs and Steel (2008) yang terdiri atas tiga seri diproduksi.

Seperti
gagasan inti dalam buku yang melatarbelakangi film ini, Collapse membawa sebuah pertanyaan besar ke ruang tengah rumah kita saat menontonnya : apa yang akan terjadi dengan bumi ini jika kehidupan kita pertahankan seperti sekarang ini? Jawabnya : kolaps!

Collapse
adalah pengujian mengenai kebiasaan-kebiasaan dalam peradaban manusia yang dapat berdampak pada keseluruhan jejaring kehidupan dan bumi. Film ini meninjau ulang, mengujinya dengan standar pengetahuan terkini, dan memberikan kesimpulan mengenai relasi antara metode kehidupan harian kita dengan efeknya ke depan. Dan tentu saja, berdasarkan kejadian-kejadian di masa silam serta fakta dan kecenderungan terkini, ia menunjukkan bahwa apa yang terjadi belakangan ini seperti penyusutan lahan, krisis pangan, air dan sumber energi berpotensi mendorong kolapsnya peradaban.
 
Memang bukanlah hal baru dalam mengkonversi buku menjadi film. Namun jika buku yang dimaksud adalah buku non-fiksi setebal 571 halaman, untuk kemudian diperas menjadi film dokumenter berdurasi lebih dari 90 menit yang bisa ditonton oleh semua kalangan, tentu memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Tetapi sang sutradara sekaligus penulis skenario Noel Dockstader punya siasat.
Berbeda dengan Inconventional Truth dimana Al Gore membangun argumen yang kuat dan populer tentang gejala pemanasan global dengan menyandingkan  paradoks masa lalu dengan yang kini terjadi di bumi. Dalam Collapse, Dockstader juga sekaligus membangun visualisasi masa depan untuk menggambarkan situasi yang bisa (atau akan!) terjadi –namun belum nampak disebabkan jaraknya yang terlalu dekat dengan kita dan karenanya lebih sering diremehkan. Dengan plot alur maju-mundur, versi film ini cukup berhasil memisahkan diri keluar dari bayang-bayang Collapse versi buku yang lebih dahulu popular.

Collapse mengajak melakukan perjalanan waktu menembus 200 tahun ke masa depan untuk melihat seperti apa sebuah peradaban yang kita tempati ini nantinya, sambil sesekali melongok ke ribuan tahun yang lampau. Interpretasi visual terhadap tulisan Jared Diamond ini memang cukup membantu untuk membangun kontras dan abstraksi antara kisah masa silam, sekarang dan masa depan.

Diceritakan, sekelompok ilmuwan di tahun 2210 yang tergabung dalam Project Collapse, paska kolapsnya peradaban saat ini, meneliti sisa-sisa keruntuhan. Mereka meneliti sisa-sisa dan artefak dari 200 tahun yang lalu (yakni masa sekarang) untuk mencari tahu mengapa peradaban sekarang runtuh. Para ilmuwan di masa depan tersebut mendatangi gurun bekas kota Phoenix, yang peradabannya runtuh karena pengelolaan sumber air. Mereka juga mengunjungi Central Valley, bekas lahan pertanian raksasa di California, hingga menyelami laut di perairan yang dulunya merupakan kota padat Cape Canaveral, Florida.

Berbagai artefak sisa-sisa manusia jaman sekarang ditemukan para peneliti. Dari kolam renang di rumah-rumah warga Amerika, bangkai pesawat luar angkasa, hingga ikon peradaban modern kita : mobil. Berdasarkan temuan artefak-artefak tersebut para ahli menelusuri mengapa peradaban yang berdiri saat ini bisa runtuh.

Apa yang dimaksud dengan situasi “kolaps” sendiri dijabarkan Jared dalam bukunya ‘Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed’, sebagai “penurunan drastis jumlah populasi manusia dan atau kompleksitasnya secara sosial, ekonomi, politik, pada wilayah dalam sebuah rentangan waktu.” Kejatuhan sebuah peradaban diawali oleh kemunduran-kemunduran yang dialaminya sedikit demi sedikit, yang dapat ditandai dengan beberapa bentuk-bentuk kecil (milder type) sebelumnya.

Bentuk-bentuk tersebut dapat berupa kemunculan atau kejatuhan yang bersifat minor yang ditandai dengan terjadinya restrukturisasi dalam sebuah masyarakat secara politik, ekonomi atau sosial; ditaklukkannya sebuah masyarakat oleh masyarakat tetangganya, atau kemundurannya terkait kejayaan daerah tetangganya tanpa adanya perubahan dalam keseluruhan populasi atau kompleksitas pada seluruh wilayah tersebut; dan pergantian elit penguasa dari satu ke satu lainnya.

Diamond memberikan beberapa contoh peradaban yang kolaps dalam sejarah dunia silam seperti Anasazi dan Cahokia di daerah yang kini kita kenal sebagai perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko, kota-kota suku Maya di Amerika Tengah,  masyarakat Moche dan Tiwanaku di daerah selatan benua Amerika, peradaban Mycenean di Yunani serta Minoan Crete di Eropa, zaman kebesaran Zimbabwe di Afrika, era Kuil Angkor di Kamboja, peradaban di kota-kota di Lembah Hindus, hingga Pulau Easter di kawasan Pasifik.

Di awal, Diamond mencontohkan peradaban Anasazi di Yucatan Peninzula, Meksiko yang hilang ribuan tahun yang lalu. Apa yang ironik disini adalah bahwa situs tersebut merupakan bekas peradaban asli Amerika yang termaju sebelum kedatangan orang-orang Eropa. Perkembangan arsitektur, kultur masyarakat, seni pahat dan ukir, serta seni lukisnya mengagumkan sehingga dijuluki sebagai Mesoamerica, Dunia Baru.

Namun, pada puncak peradabannya, kota-kota kuno tersebut mengalami penyusutan populasi secara ekstrim dalam waktu yang singkat dan berakhir dengan keruntuhan peradaban Maya kuno. Penduduk yang pada awalnya membangun kota tersebut menjadi sedemikian megah dan hidup dalam titik puncak peradaban, akhirnya keluar dari kota dan terpaksa mencari tempat baru. Ada apa gerangan?

Puncak peradaban Anasazi adalah menyulap padang pasir dengan curah hujan yang fluktuatif dan situasi geografis yang relatif terisolasi, menjadi kota yang dipenuhi dengan rumah bertingkat, pepohonan, dan sumber pangan yang melimpah. Perkembangan masyarakatnya dapat menjawab permasalahan-permasalahan sosial seperti bagaimana memberi makan seluruh penduduknya.
Dalam menghadapi alam yang kering misalnya, mereka menggali dataran rendah, memodifikasinya, membendung aliran air, menyadap rembesan dari karst (dan batuan kapur bawah tanah) dan membuatkannya saluran menuju sebuah penampungan air raksasa yang juga dapat menampung air hujan. Dengan begitu, mereka dapat menyediakan air minum untuk 10.000 orang selama 18 bulan. Dan kehidupan Maya berkembang menuju puncaknya.
Tetapi seiring itu, orang Maya harus membayar mahal. Lingkungan dan iklim yang mereka taklukkan pun berubah. Para klimatolog (ahli iklim) dan paleoecologist (ahli lingkungan masa lampau) menemukan beberapa bukti mengenai perubahan iklim dan lingkungan yang menyumbang kejatuhan. Tanpa sadar, dengan memodifikasi alam, mereka telah merusak lingkungannya sendiri, termasuk pembabatan hutan untuk pembukaan lahan pertanian dan erosi tanah oleh eksploitasi berlebihan.  Bangsa Maya kuno ditimpa kekeringan berkali-kali, dan memaksa mereka untuk eksodus. Situasi ini ditambah dengan faktor kultural dan politik, seperti persaingan antar raja-raja dan para bangsawan, yang berujung pada perang.

Kisah peradaban Anasazi kuno ini merupakan sudut pandang orang masa sekarang melihat masa lampau. Sementara untuk memahami masa kini, Diamond mengajak memakai sudut pandang orang masa depan. Maka sepanjang film ini ada banyak ilustrasi mengenai bagaimana para ilmuwan masa depan mendapati artefak-artefak sekarang untuk menjelaskan sebuah keruntuhan peradaban terkini.

Collapse mengajukan Las Vegas dan Los Angeles, sebagai sampel (calon) kota peradaban yang runtuh dengan puing-puing dunia modernnya. Kemajuan kota-kota modern tersebut digambarkan serupa dengan kota Anasazi kuno. Yang pada akhirnya ditinggal oleh penduduknya karena tidak memungkinkan lagi untuk hidup di tempat tersebut. Alasannya sederhana, pola kehidupan di kota-kota yang digambarkannya sudah tidak lagi masuk akal. Bagaimana sungai yang memiliki ekosistemnya sendiri dibendung untuk menyuplai air masyarakat kota, lahan pertanian massal dihamparkan dengan menggunduli hutan tropis terlebih dahulu.

Dalam salah satu scene digambarkan bagaimana sebuah usaha pertanian di Huron, harus membunuh (mereka menyebutnya rasionalisasi) pohon-pohon almond produktif yang awalnya mati-matian mereka tanam. Jumlah pohon yang dirasionalisasi mencapai setengah dari lahan, yang terpaksa dilakukan karena defisit air. Sesuatu yang lahir setelah bertahun-tahun mereka mengekstrak air tanpa batas. Di tahun 1950an, California adalah padang gersang yang disulap menjadi taman eden. Mereka melakukannya dengan membuat saluran air berjarak ratusan mil dari sumbernya untuk menyuplai kebutuhan pertanian dan kehidupan sehari-hari. Ini lantas menjadikan wilayah tersebut menjadi salah satu daerah pertanian paling produktif di seluruh dunia.

Sekarang, orang-orang di California mesti menggali sedalam 700 meter hanya untuk mendapatkan air. Sementara satu pohon almond mengkonsumsi 400 liter air setiap hari. Petani harus melakukan langkah radikal untuk beradaptasi dengan krisis atau Los Angeles, California akan menjadi Anasazi di masa kini.
Jared Diamond juga mengajukan krisis energi dan moneter sebagai salah satu hal penting yang menyumbang keruntuhan peradaban. Di masa silam, persoalan energi dan moneter ini sama-sama muncul dalam peradaban Romawi dan Maya. Meskipun kedua peradaban ini saling berjauhan dan belum terkoneksi secara langsung karena situasi teknologi telekomunikasi dan transportasi saat itu, namun keduanya memiliki sesuatu yang sama. Setelah berabad-abad dominasi kejayaannya, era kedua peradaban tersebut akhirnya habis.

Pada era Romawi, perang dan penaklukan serta imperialisme-lah yang membuat peradaban tersebut bertahan. Salah satu yang menopangnya adalah jaringan jalan. Namun seiring waktu, Romawi kehabisan energi untuk terus memperbesar wilayah dan menjalankan tata pemerintahannya.

Kini terdapat setidaknya 2 milyar mobil yang akan menjadi rongsokan berbahaya. Ini adalah salah satu penanda bagaimana absurdnya peradaban ini menyedot dan mengelola energi. Menurut para ahli, kita hanya butuh 200 tahun semenjak revolusi industri, untuk menghabisi cadangan bahan bakar berbasis fosil. Berdasarkan perhitungannya, dalam satu hari kerja manual hanya akan menghasilkan minyak sebanyak satu sendok makan. Ini berarti untuk satu tangki bensin yang tunggal setara dengan dua tahun kerja manusia!
Sementara itu, para ilmuwan dan kaum industrialis terus mengembangkan pembangkit listrik dengan teknologi terbaru. Nyatanya, teknologi yang kita pakai 50 tahun lebih itu hanya mampu mengekstrak 25 persen energi yang tersedia dan membuang percuma 75 persen sisanya. Saat hal itu dirasa tidak mencukupi, mereka kemudian mengembangkan teknologi yang dipandang bisa menghasilkan sumber energi berkali lipat : nuklir!
* * *
Peradaban adalah soal bagaimana menaklukkan alam. Hal ini berlaku semenjak peradaban pertama dimulai dengan pertanian sebagai upaya awal menundukkan dan memanipulasi alam. Pertanian terbukti mengambil lebih banyak dari tanah ketimbang yang bisa dikembalikannya. Dan karenanya Diamond memang benar bahwa hal ini adalah kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia.

Kini, penaklukan alam dalam peradaban modern ini sangatlah mengerikan. Pertambangan minyak, gas, logam dan mineral, menghasilkan lebih banyak kerusakan alam dan ketimpangan sosial ketimbang kemakmuran merata di masyarakat seperti mitos yang dijanjikan. Sementara di tempat lain, juga digambarkan bagaimana laju produksi kendaraan bermotor tak lagi terbendung. Ini akan terus menyerap permintaan akan sumber energi/bahan bakar fosil atau ‘gantinya’ berupa biofuel.

Sebagai konsekuensi inheren dalam peradaban, ancaman krisis pangan, perubahan iklim, bencana alam, gagal panen, genosida, serta perang militer besar-besaran adalah sesuatu yang melekat tak terpisahkan dari kehidupan saat ini.

Apa yang disampaikan Jared Diamond dalam Collapse ini sebenarnya bukanlah hal baru, melainkan rangkuman tentang konsekuensi dari tata kehidupan harian kita. Terbenam dalam peradaban, kita dapat menghancurkan planet ini bahkan dari kamar mandi saja. Tidak perlu ke hutan, dan cukup biarkan Unilever dan Sinar Mas menghabisi hutan tropis di Kalimantan untuk memproduksi sampo atau sabun mandi kita. Tetapi, mode kehidupan modern telah pelan-pelan menyandera kepekaan kita dalam memikirkan dampak dari kehidupan yang kita jalani saat ini. Segala sesuatu yang ‘masih jauh’ itu belum terasa padahal apa yang berlangsung di masa silam telah berulangkali membuktikan bahwa konvergensi kekeringan, kelaparan, bencana lingkungan dan kehancuran finansial adalah penyebab keruntuhan peradaban.
* * *
Peradaban adalah tema sentral dalam beberapa karya Diamond. Ia bukanlah yang pertama dan satu-satunya yang berbicara tentang tema ini. Namun karena pengetahuannya yang luas, keahliannya yang mumpuni, Diamond banyak menginspirasi gerakan radikal seperti kelompok-kelompok anarkis-hijau, anarkis-primitivis, maupun anarkis-antiperadaban secara luas.
Tetapi sang Profesor tetaplah seorang ilmuwan yang dibesarkan oleh peradaban sains itu sendiri yang belum sepenuhnya lepas dari nalar pencerahan. Nampaknya Diamond terlalu khawatir akan keruntuhan yang diramalkannya itu. Kadang pula ia menyamakan kejatuhan peradaban sebagai hal yang similar dengan berakhirnya kehidupan. Proposalnya adalah mempertahankan peradaban modern ini dengan sesuatu yang lebih berkelanjutan. Dalam tawaran praktisnya mendorong manajemen sumberdaya yang arif dan bijaksana di bawah kendali pemerintah dan swasta –sesuatu yang mustahil. Ini mengingatkan rekomendasi optimistiknya di Gun, Germs, and Steell, tentang wabah malaria dan kemiskinan akan dapat ditangani dengan baik lewat ‘kerjasama internasional yang solid’.

Ini sangat berbeda dengan ekspresi anti-peradaban dalam gerakan radikal seperti anarkis-primitivis maupun anarkis non-primitivis yang mengagendakan penghancuran peradaban sebagai satu-satunya jalan untuk mengembalikan harmoni dan kealamian yang lestari. Bukan mempertahankan, melainkan membalikkan arahnya. Dan tentu saja juga sangat berbeda dengan penghancuran dan kehancuran sebagai konsekuensi dari karakter peradaban itu sendiri.

Akhir kata, akan lebih baik jika membaca versi bukunya yang lebih lengkap dan detail. Serta untuk mengurangi kekecewaan atas rekomendasi agenda sang Professor, sering-seringlah mengingat bahwa bagaimanapun ini adalah dokumenter produksi National Geographic! [iy]

Sabtu, 16 April 2011

Kerangkeng Hari Sabtu

Image Hosted by PicturePush - Photo Sharing
Prison Break, Si Kumis Lele :p
Hari ini hari sabtu, sudah kuniatkan semalam untuk tidur sepuasnya diakhir pekan ini. Sungguh pekan yang menjengkelkan, ditendang dari kost-an, dapat kerjaan baru yang buat kau harus naik tangga 5 kali dalam sehari menuju lantai 3, dalam keadaan tidak fit lagi. Argghh…! Saya mau balas dendam dengan bermalas-malasan di akhir pekan ini. Hehehe


Sabtu subuh, mata terus melotot pada layar komputer, kebetulan sinyalnya modem lagi ciamik, juga ada teman keren yang sudi untuk ku ganggu. Lagian ini demi dia yang  punya penyakit insomnia akut, jadilah kami ngobrol lewat monitor. Hahaha. Pengeras suara dah teriak-teriak di subuh buta, itu tandanya saya harus segera cabut menuju pulau kapuk. Saya akhirnya ngorok di samping perempuan tua yang kepincut sama pesbuk. Apalagi tak lama berselang hujan pun turun, tidur makin sempurna, sungguh menyenangkan. 


Belum lagi matahari merangsek keluar dari kumpulan awan hitam, tiba-tiba kudengar suara pintu digedor kuat, akhirnya dengan malas saya bangun dan membuka pintu. Ternyata si pria bengis berhati merah muda yang datang di jam 9 pagi. Ia menanyakan apakah Opa menitip sejumlah uang padaku. Kujawab tidak. Kutanyakan perihal uang tersebut padanya. Ia bilang buat bekal si kumis lele yang sedang mendekam LP akibat kasus kemaren. Kami tak ngobrol banyak, kutawarkan sisa uang kostku yang dikembalikan si empunya kost untuk ia pinjam. Uang itu rencananya kupakai untuk menyewa kamar bar, tapi karena sampai detik ini tidak ada kejelasan di mana kamar baru yang akan kupinang sebagai tempat menghabiskan penat, makanya saya tawarkan saja padanya. Ia lantas mengajakku ke sana tuk menjenguk si kumis lele. Saya mau saja, kan nanti setelah pulang dari sana, saya bisa melanjutkan tidur panjang yang sudah kuagendakan. :)


Motor dengan warna hijaunya yang menyebalkan itu melaju kencang di hari yang mendung. Kami terlibat perbicangan panjang tentang banyak hal, mulai dari soal kuliahnya hingga kabar teman-teman yang masih setia nongkrong di taman hitam. Selain berhati pink, ia adalah pria dengan segudang informasi yang dengan lancar bercerita. Tak terasa belasan kilometer telah kami lalu, sampailah kami di LP. Setelah markir motor, kami menuju loket registrasi pengunjung atau penjenguk tahanan. Saya mengeluarkan KTP ku, si penjaga loket kemudian menyemprotkan kalimat, “kalo ada uangmu di situ, bisa ko kasi untuk biaya adminstrasi? Kalo nda ada ndapapaji”. Saya kemudian bertanya berapa jumlah uangnya, pria tua berkacamata tersebut, menjawab, “dua ribu mo”. Saya nda pikir panjang, langsung saja saya beri uang yang ada di kantong belakangku.  


Kami menuju pintu masuk yang pada sisi depannya terpampang gambar pohon beringin, dihiasi barisan huruf balok bertuliskan PEMBINAAN. Sebelum masuk, kami sempat menimpali kejadian tadi, “biar mi deh, kasi mi saja, mau ji juga makan itu bapak tadi”, kata si pria pink. Hahaha. Kami pun menyerahkan secarik kertas dari loket tadi dan ditukarkan dengan semacam Id Card pengunjung. Kami  diarahkan petugas menuju ruang penggeledahan, tubuh kami didekatkan dengan alat pendeteksi logam, tas si pria pink digeledah demi mencari barang terlarang. Saya tak tahu barang seperti apa yang telarang. Ganja mungkin..hahaha


Kami menyerahkan secarik kertas tadi ke petugas jaga kunjungan, ia kemudian mengumumkannya melalui alat pengeras suara, nama si kumis lele pun membahana seantero kompleks penjara. Tak lama berselang si lele muncul, rambut kritingnya sudah tak ada, kepalanya hanya dibalut rambut tipis, kumis lelenya juga sudah menghilang, yang tersisa hanya senyum lebarnya yang khas yang ia bagi pada kami saat bertemu. Tak banyak perubahan pada dirinya, hanya saja ia mengeluh bosan, nassami bosan ka disitu terus ko bela.hahaha.  Ia menumpahkan banyak kisah pada kami, tentang kasusnya, tentang kesehariannya di LP. Tepatnya ni si kumis punya kisah dilengkapi dengan OST dari lagunya Linkin Park “Waiting for The end”, atau The Killers dengan “Human”, hahaha, apa hubungannya coba? Cari mako sendiri! 


Seringkali saya tak menyimak apa isi obrolan ini, saya sibuk dengan isi kepalaku sendiri. Mengapa ada penjara, ada sipir, ada polisi, ada tindakan kriminal? Alah, masa mesti nganalisis lagi di tulisan ini, capek tau! Hahahaha. Pokoknya barang macam ini (penjara cuy!) itu baru ada semenjak muculnya peradaban. Kerangkeng digunakan untuk mengucilkan orang-orang yang dianggap mengancam tatanan peradaban yang ada, baik itu karena gila, terkena penyakit menular, atau sekedar protes atas banyak TAI yang bermunculan karena adanya kekuasaan tersentral. Begini mo pade singkatnya, ni barang dipake untuk menciptakan terror demi menciptakan ketertundukan pada order  yang sementara berjalan. Istilah kampusnya itu domestikasi manusia, penjinakan. Tahapan linear dari konsekuensi membangun peradaban, domestikasi alam, domestksi kehidupan harian kita! Sudah mi deh tambah parah nanti ini tulisan. :p


“Ting, ting, ting” suara bising keluar dari sumber yang tak ku ketahui di mana asalnya. Tiba-tiba ruang besuk menjadi gaduh, semua orang bercakap dengan terburu-buru, dua sejoli yang berada di samping kami pun melepaskan pelukan mereka. Banyak ekspresi keluar dari wajah mereka, ada yang muka bussu’, sedih, tetapi tetap ada simpul kecil yang melintang di beberapa wajah mereka. Ini tanda jam besuk sudah berakhir, si lele pun kembali melempar senyumnya kepada kami, “fella, buku nah nanti, bawakan ka’” sergap lele. Kamipun mengangguk dan pamit pulang. 


Mendung masih saja nongkrong dilangit Makassar, membuat perjalanan kami tak terlalu penat. Si Hijau kali ini tak terburu-buru lagi karena di hari Sabtu si pria berhati pink berwajah garang tak punya agenda khusus, saya pun begitu. Dan kamipun kembali tenggelam dalam percakapan tak penting demi menolak kebosanan perjalanan menuju kota yang punya obsesi gila menjadi kota dunia. :p

Selasa, 12 April 2011

Ini tentang Ibu, Tanta atau Uni di Jalan Bung!

Untuk kedua kalinya, saya bangun pagi, pagi sekali. Mungkin karena kondisi tubuh yang buruk memaksa ku untuk beristirahat lebih cepat di malam hari. Tapi, sama ji bangunnya juga terlalu cepat, hehehe..kenapa jam tidur dan bangunku seperti orang kantoran ya? Padahal ini rutinitas yang paling menyebalkan yang hampir setiap orang harus jalani, tidur cepat (demi kesehatan dan kebugaran) dan bangun di subuh hari (agar tak telat masuk kerja). Hei, kau melakukannya hampir tiap hari? Kau sinting ya? Hahahaha

Sudah-sudah, nanti saya melebar membahas panjang masalah alienasi dan pasar kerja, hahaha, kayaknya bukan di sini deh tempatnya. Kebetulan hari ini hari pertama ku cerai dari pondokan laknat perusak komputerku itu, untuk sementara saya ngungsi dulu di tempatnya anak-anak di Wesabbe, sambil mencari pondokan yang pas. Saya sebenarnya sedih berpisah dengan jalan bung. Tempat pertama kali saya habiskan malam di kota Makassar ya di bung ini. Saya masih ingat, ketika itu saya nda bisa tidur, terbangun jam 4 subuh, saya begitu terganggu dengan banyaknya suara yang berteriak-teriak melalui pengeras suara di subuh hari. Banyak dudui, deh, sampe-sampe sakit kepalaku.

Tapi ada yang hal yang tidak bisa kulupa dari jalan bung. Sebuah Warung makan, ia tak mempunyai nama jadi saya dan teman-teman dengan bebas menyebutnya warung tanta, ibu, atau Uni, nama anak dari ibu penjual makanan berat yang ketika itu tak jauh dari pondokan pertamaku. Seperti warung makan lainnya, ibu sebelum siang sudah siap dengan food gallery-nya, ada perkedel, ikan goreng, tempe tahu,  sayur bening, tumis, santan. Sungguh tak jauh berbeda dengan jenis masakan di rumah di kampung, hal ini membuatku tak perlu bersusah payah beradaptasi dengan jenis makanan di Makassar yang ku kira akan sangat berbeda. 

Ketika menjadi mahasiswa baru universitas hampir swasta Unhas di tahun  2004 silam, seingatku harga makanan dulu di Ibu itu seporsinya Rp 2.500,-. Itu sebelum BBM naik setahun kemudian. Ada satu hal yang menarik menurutku dari konsep Ibu menjual makanan sehingga mampu menarik banyak pembeli. Yaitu sistem prasmanan, kita bebas mengambil sendiri, mulai dari jenis makanan hingga jumlahnya yang ingin kita lahap di tempat itu. Bebas cuy, hanya saja kalau lauk utama seperti ikan atau telur kamu masukkan dalam satu porsi itu harganya agak sedikit naik, tapi seingatku untuk yang lainnya itu kalo ditambah nda dikenakan biaya tambahan, nyamanna makan sepuasnya. Hahaha

Ibu pun tidak hanya membangun relasi ekonomi semata dengan kami para anak kost, yang bisanya hanya sebatas pembeli dan penjual. Ia selalu menanyakan kabar kami, bagaimana kuliah kami, ospek kami, bahkan apa sudah ada pacar kami.hehehe. Ibu bertindak layaknya ibu, senyumnya yang membuat nyaman, repotnya ia ketika kami datang berbondon-bondong dengan memasang wajah bajipur (bajingan cipuru’) sepulang kuliah. Relasi emosional itu penting lho di tengah masyarakat sakit seperti sekarang ini yang hanya mengutamakan satu hal, pengejaran profit sebanyak-banyaknya. Peradaban kita sungguh dibangun pada satu pondasi yang lucu menurutku, yaitu kegilaan dan kesakitan. (aduh mulai lagi deh, kambuh :P)

Saya juga selalu melihat perubahan padanya dan keluarganya. Dulunya ibu rambutnya hitam lebat, entah kenapa setahun belakangan saya perhatikan sudah banyak uban, alias banyak rambut putih diantara arsiran rambut hitamnya. Saya juga sering bercanda dengan cucunya yang ketika dulu masih balita, deh sekarang sudah sekolah di SD Inpres Bung. Atau anak gadisnya Uni yang kini sudah menjadi Ibu dari bocah botak bermata sipit hasil perkawinannya dengan seorang pria gempal, hitam dan ramah. 

Semua berubah, Ibu sudah mengganti TV kusam tua miliknya dengan TV baru dan canggih. Hehehe. Jadilah saya sering numpang nonton berita siang kalo sempat makan di situ. Sekarang ibu sudah jauh, dari wesabbe lumayan nampar betis lho kalo mau jalan kaki ke Bung :P. Untuk beberapa saat saya membiarkan lidahku jauh dari masakannya, jauh dari ibu dan nanti sekalian mampir bisa kutumpahkan semua kerinduanku, hahaha, makan cuy sampe poge’.

Senin, 11 April 2011

Sepasang Gumpalan Daging

Di saat normal pun ia tampak jadi anomali di saluran kerongkonganku. Sesekali aku melihat bayangannnya melalui cermin. Rupanya pasangan ini sangat betah berlama-lama menempel di tubuhku. Katanya, mereka ini adalah pasukan penahan invasi virus dan kuman yang mau masuk ke tubuh melalui jalur kerongkongan. Dan seingatku mereka mulai bekerja bereaksi terhadap kondisi lingkungan yang buruk saat masih harus memakai seragam putih merah. Ketika tubuh tidak fit seperti saat saya menuliskan ini, di serang flu, kemudian sakit kepala, mereka pun bereaksi membengkak dan memicu produksi air liur dan dahag. Awweh...sungguh menyebalkan. 

Saya tidak tahu apa istilah medisnya, tapi orang-orang sering bilangnya kalo mereka adalah amandel. Gumpalan daging yang tumbuh pada saluran kerongkongan memang dirancang untuk tujuan khusus. Saat mereka membengkak ada beberapa hal yang bisa dilakukan sendiri untuk membuat amandel kembali menyusut dan infeksi tidak terjadi. Nih ada beberapa poin yang sempat ku curi dari blog nya orang hehehe:
* Diusahakan untuk minum banyak air atau cairan seperti sari buah, terutama selama demam.
* Jangan minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan, makanan awetan yang diasinkan, dan manisan.
* Berkumur air garam hangat 3-4 kali sehari.
* Menaruh kompres hangat pada leher setiap hari.
* diberikan terapi antibiotik (atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk mencegah komplikasi.
* Istirahat yang cukup. 

Sepertinya semua sarannya bisa dikategorikan DIY yah? Hehehe Do It Yourself, dude! Alias bisa dilakukan sendiri. Hehehe. Pace juga kasi resep, katanya perasan jeruk nipis dan air hangat membantu mempecepat amandel itu gembos. Ah, saat-saat begini jadi rindu hangat rumah. Hehehe. 

Mantap cuy, lagi beringus begini kita embat dia
Kayaknya memang penyebab membengkaknya tuh tameng berbahan dasar daging adalah kondisi eksternal seperti cuaca, atau masuknya debu, atau bahkan bahan aditif yang terkandug dalam makanan yang masuk ke kerongkongan. Sulit memang mencari kondisi yang aman (menurut katergori kesehatan) di tengah kota metropolitan yang sedang dihantam sihir pembangunan, seperti Makassar. Belum lagi kenyataan bahwa asupan makanan yang kita konsumsi sehari-hari hampir seluruhnya adalah hasil pertanian transgenik. Dan juga banyaknya zat aditif makanan artifisial yang ditambahkan produsen makanan siap saji, sebagai upaya untuk menjawab mekanisme pasar yang punya hukum permintaan dan penawaran. Dan juga sistem ekonomi kapitalisme mengamini persaingan bebas tanpa batas antara pengusaha, siapa yang tidak memproduksi dengan murah dan menjualnya dengan lebih murah dari perusahaan lain, maka ia akan mati. Menger jako? Saya tidak. Hehehehe

Jika sudah begitu kenyataannya, hanya ada beberapa pilihan kejam yang harus ditempuh produsen makanan agar bisa memangkas biaya produksi, yang pertama menurunkan upah buruh. Jika pimpinan serikat buruh sudah disuap, akhirnya anggotanya manut, langkah lainnya adalah memakai bahan aditif makanan untuk menjaga rasa tetap enak walaupun dikurangi jumlah bahan baku yang betul-betul bahan makanan asli. Selain itu, zat aditif berupa monosodium glutamat atau yang na bilang maceku vitsin itu memang luar biasa bekerja menyedapkan makanan, hmm bubuk ajaib, aditif sekaligus adiktif.  Tapi deh, ko tau apa yang dampak jangka panjangnya bagi tubuh kalo terus-menerus dikonsumsi sepanjang hidup? Nanti pi kucari lagi. Hahaha

Belum selesai tadi soal tumbuhan dan hewan transgenik yang kita konsumsi sehari-hari. Aduh tapi ini ingus keluar-keluar mi. Kalo penasaran soal ini ada buku bagus pernah kubaca judulnya Rekayasa Genetik: Impian atau Petaka, terbitannya Insisst Press. Hehehe. Sampai nanti ya, saya mau menyedu mie instan  dulu, sarapan pagi anak kost, hehehe. Wah, ada MSG nya hahahaha. Tak apa, masih ada Rumah Sakit yang mengalunkan lagu Sakit Sendiri nya buatku.

Minggu, 10 April 2011

Menjaga Kantong Ajaib

Kantung Ajaib Sebenarnya
Kantung mataku tampak seperti jelaga, melingkar di sekelilingnya dan belum juga mau menyusut, hari ini pun saya mesti bangun pagi setelah sebelumnya berjibaku dengan setumpuk pekerjaan hingga  subuh hari. Jenis pekerjaanku ini mengandalkan satu hal, kelihaian jari ku menari di atas keyboard komputer. Ya, menjadi seorang yang bertanggungjawab untuk mendokumentasikan sebuah kegiatan dalam bentuk tulisan membuatku mampu meninggalkan teknik lama mengetik dengan ’11 jari’ menuju ‘unlimited finger for typing shit’ (hahahaha). Namun tetap saja, durasi kegiatan yang begitu panjang membuat ku harus menuliskan semuanya ke dalam puluhan bahkan ratusan lembar, yang memakan waktu cukup lama.  Dan alat satu-satunya yang saya punya agar bisa merampungkannya adalah komputer butut peninggalan masa kuliah dahulu. Dia sungguh kuat, hingga hari ini mampu menemaniku ditiap bilik masa yang ku lalui. 

Jika ia bisa bicara, mungkin komputer ku ini akan melayangkan protes padaku. Kenapa ia begitu jarang saya istirahatkan, hampir tak pernah aku bersihkan atau sekedar menambahkan hardware baru untuk membantunya ‘berlari’ saat bekerja. Ah, ia memang temanku yang setia. Sudah 4 ruang kamar sewa yang kutempati, dan ia selalu punya spasi di tiap kamar tersebut. Bagiku, ia seperti kantung ajaib Doraemon yang begitu berharga dalam kondisi apapun. Selagi bosan, saya bisa memutar lagu atau menghibur diri dengan game miliknya. Jika banyak tugas atau kerjaan, ia punya alat yang pas agar pekerjaanku cepat selesai. Saat saya rindu dengan semua temanku, aku bisa menggapainya lewat dunia maya melalui layarnya yang mulai kusam itu. Jika ingin membaca, ia punya segunung bahan bacaan, artikel buku dan sebagainya. Laparnya mata ini ketika ingin nonton film, ia sudah kupersiapkan dengan setumpuk file film menarik. Hei kamu, komputerku , kau sangat berguna. hahahahaha

Meskipun kau sering sakit akibat virus brengsek buatan korporasi antivirus rakus itu, namun sedianya saya selalu bisa menemukan obat yang pas. Jadilah kau sangat jarang sakit, apalagi sampai tidak bisa bekerja. Tetapi setahun terakhir, kau dan aku berhadapan dengan masalah baru, kelayakan pasokan listrik untuk bisa membuat otot dan otak mu bekerja sama sekali buruk. Seringnya listrik rumah kost padam akibat kelebihan pemakaian yang tidak sebanding dengan daya normal yang terpasang membuat perangkat kerasmu compang camping. Gudang data mu alias hardisk adalah organ tubuh pertama yang menjadi tumbal akibat krisis listrik ini. Kemudian disusul bunyi bising dari perangkat audio pada motherboard mu. Semuanya sungguh mengganggu. Puncaknya ketika hardisk berkapasitas 160 GB harus saya cabut dari tubuhmu dan menggantinya dengan yang baru karna rusak parah. Ini namanya“Sungguh terlalu” , kata bang Rhoma.

Bukannya tanpa sebab, mengapa listrik di kost ke empatku ini sering ‘latto’. Kehadiran kulkas milik ibu kost yang memutuskan untuk ikut tinggal di dalam rumah kost menjadi penyebab utama ketidakmampuan daya 900 watt milik rumah ini memikul semua hisapan listrik alat elektronik yang dimiliki semua penghuni. Jadilah, bapak meteran mengambil langkah taktis ketika pemakaian melewati batas kemampuan, mematikannya!

Ketidakmampuanku membeli UPS yang punya fungsi seperti baterai isi ulang pada laptop dan handphone, agar mencegah komputer ikut padam ketika listrik mati, membuat organ tubuh si dia rontok satu persatu. Karena komputer memiliki banyak komponen yang sangat sensitif terhadap perubahan tegangan, apalagi listrik yang tiba-tiba terputus pasokannya. Seorang teman yang jago soal komputer pernah menjelaskannya padaku, ia bilang hardisk memiliki dua komponen vital, jarum pembaca sekaligus penulis, dan piringan tempat menaruh/menuliskan data. Jarak antara keduanya ia gambarkan hanya setebal rambut manusia saat tidak dinyalakan. Saat bekerja, kedua permukaannya bersentuhan dengan batas pekerjaan yang diperintahkan, apakah membaca atau menuliskan data. Dan ketika listrik padam, kedua komponen ini saling bergesekan tajam tak terkontrol akibat kehilangan daya. Jadilah piringan tersebut tergores sana sini. Sisi yang tergores biasanya disebut bad sector, yang sudah tidak bisa lagi dipakai untuk ditulis atau dibaca oleh jarum ‘sakti‘. Semakin sering komputer mati tak wajar alias tidak dimatikan dengan perintah kita melalui OS yang kita install, maka semakin banyak bad sector yang muncul, bagai panu yang menjalar ke seluruh tubuh. Akhirnya, bang! Hardisk totally broken, damn it!

Dengan jerih payah mengetik semua dokumentasi kegiatan yang diselenggarakan sebuah lembaga donor asal negeri yang paling ‘kassa’ produksi sepeda motor itu, saya akhirnya mampu membeli hardisk baru. Kapasitasnya juga lumayan 1 Tera Byte, ‘senangnya dalam hati’seperti kata si Ahmad Dhani dalam lagu daur ulangnya madu tiga. Tetapi akar permasalahan belum juga terselesaikan, listrik di rumah kost masih saja sering padam. Di minggu ke tiganya, hardisk baru mulai menujukkan tanda-tanda ketidaknormalannya. Salah satu partisinya setiap kali log on OS, itu seringkali meminta disk checking. “Anjritt, masa’ hardisk ku yang baru sudah rusak lagi”. Saya memendamya dalam-dalam, lagian saya seringkali melupakannya karena tumpukan kesibukan di tiap harinya. 

Tibalah saya pada satu momen, setelah merampungkan dokumentasi tulisku saya kemudian didaulat untuk menjadi sekretaris kegiatan lokakarya jurnalistik bagi alumnus Jurusan Ilmu Kelautan Unhas. Namanya juga sekertartis, sedikit banyak bersentuhan dengan tugas ketik mengetik berbagai keperluan adiministrasi untuk mendukung terlaksananya kegiatan ini. Dasar brengsek, di pagi hari nan cerah ketika saya sedang olah jari di atas keyboard listrik tiba-tiba padam, selang beberapa menit kemudian menyala kembali. Dengan sesak di dada menahan jengkel, saya menyalakan kembali komputerku, mencari dokumen yang baru saja ku ketik. Saya mulai merapikan beberapa bagian yang tidak sempat disave, saya mesti mengetiknya kembali, bertambahlah kekesalanku. Tak lama kemudian, listrik kembali padam, saya tak bisa membendung lagi amarahku, keluarlah makian dari mulut, ditambah tendangan telak ke badan pintu kamar. 

Saya lantas mencari biang kerok permasalahan yang tak lain adalah pemilik rumah kost. Saya mendapatinya di teras rumah. Saya membuka percakapan dengan nada tinggi, menumpahkan kekesalanku selama ini, tentang listrik yang sering kali padam, daya listrik yang tak sesuai dengan konsumsi listrik semua penghuni dan tentu saja mengenai kepemilikan kulkas jahanam empunya kos yang membuat ini semua terjadi. Percakapan menemui jalan buntu, karena saya dan bos kos diselimuti amarah. Saya lantas melontarkan peryataan menantang, “jika tidak ada solusi, saya menolak membayar uang listrik untuk bulan ini, jika anda tidak terima, boleh usir saya tapi kembalikan uang sewa saya”. Saya pun meninggalkannya dalam kebisuan, menuju kamar ku untuk melanjutkan pekerjaan dan berharap listrik tidak lagi padam. Selang beberapa saat empunya kos menyatroni kamarku. Membawa secarik kertas dan beberapa lembar uang merah. Rupanya ia menerima permintaanku untuk pindah, entah karena ia tidak suka dengan kelakuanku tadi, atau apa. Saya pun langsung menerima uang itu dan mengajukan tenggat waktu pindah selama 1 minggu . Ia menyetujuinya, saya menghindari percakapannya soal listrik tadi, karena saya sudah bosan dengan argumennya yang kering solusi.  Saya menutup percakapan  itu dengan segera karena harus melanjutkan pekerjaan saya. 

Tapi setelah saya pikir-pikir, biaya hidup yang terlalu tinggi menyebabkan pemilik kost-kostan segan untuk menaikkan daya listrik di tempat kami. Jika daya listrik dinaikkan, maka biaya beban normal tanpa pemakaian juga akan naik, tentu saja hal ini makin memberatkan penghuni rumah kost ini. PLN sebagai institusi di bawah naungan pemerintah terus mendapatkan rapor buruk sebagi BUMN yang paling sering mengalami kebocoran dana, penyebabnya apa lagi, ya kalau bukan korupsi. Di tiap akhir pelaporan anggaran, PLN selalu mengumumkan kerugian yang besar, padahal dana segar yang dihisap dari konsumennya yaitu masyarakt itu sendiri, lebih banyak masuk ke kantong pejabat terasnya. Relasi sosial yang mirip dengan bentuk upeti jaman feodal dahulu nyatanya terjadi di masa sekarang, namun dengan bentuk yang lebih samar. Kami para pekerja upahan, bersusah payah banting tulang di tiap jam kerja, lantas seketika dirampok penghasilan kami melalui pembayaran tagihan listrik yang tinggi. Dan nyatanya kenaikan tarif dasar listrik di tiap masa setelah perhelatan pemilu besar-besaran di negeri ini, sama sekali tidak di ikuti peningkatan pelayanan yang berarti. Sebut saja pemadaman bergilir yang berlangsung setahun silam di kota Makassar. Kita bisa melihat betapa tololnya pemerintah dengan menyetejui membeli dan membangun infrastruktur PLTA Bakaru Pinrang tanpa menyiapkan tenaga teknis yang mampu memelihara dan memperbaiki peralatan tersebut. Akibatnya ketika satu elemen kecil dalam mesin pada PLTA Bakaru rusak, kita harus menunggu berbulan-bulan hingga datang tenaga teknis dari Jerman, asal mesin tersebut dibuat. Dan kami sebagai konsumen dipaksa menikmati pemadaman bergilir yang menghancurkan property elektronik kami. Dan anehnya, tidak ada perubahan signifikan dari jumlah tagihan listrik sebelum adanya pemadaman dan setelahnya. Sungguh korup PLN ini! 

Dari pada saya terus menggerutu dengan analisa pas-pasan dan sotta’ mending saya akhiri saja. Sekedar informasi boy, saya menulis gerutuan ini 4 hari setelah saya mengajukan protes itu dan masih belum menemukan kamar kost yang baru untuk tinggal nantinya. Oh Iya, juga sementara berlangsung pelatihan atau Lokakarya Jurnalistiknya ISLA, dan Nurhady Sirimorok yang didaulat menjadi pematerinya mampu membakarku untuk kembali menulis, maka jadilah onggokan huruf-huruf ini. :P

Resensi Film: Ikigami*

Pemerintah Jepang turut andil dalam pelaksanaan sebuah program di mana warga negara yang beumur di bawah 24 tahun, yang memenuhi syarat akan dipilih secara acak, untuk ditentukan hari kematiannya. Sampai pada umur 24 tahun, Kengo Fujimoto diangkat sebagai salah satu dari sekian banyakpekerja yang bertanggung jawab untuk menangani Ikigami, atau surat kematian, memberitahu orang yang hanya tinggal menyisakan umur satu hari atau 24 Jam untuk hidup. Ini hanya cuplikan, walaupun begitu, cara kematian ini sebenarnya disebabkan oleh nanokapsul yang disuntikkan pada waktu masih kanak-kanak. Nanokapsul ini hinggap pada pembuluh darah arteri menunggu diaktifkan oleh pemerintah untuk meledakkan pembuluh darah si korban. Fujimoto sangat menentang aturan ini, tetapi ia tidak dalam posisi yang tepat untuk bisa berbicara lantang melawan hal ini. Malahan ia melanjutkan pekerjaannya seperti diharapkannya. Saat menjalankan tugas ia harus berhadapan dengan berbagai respon emosional dari korban yang mengetahui bahwa umurnya tinggal 24 jam. (film.com)


*ditranslate seadanya dari film.com
-film ini membutikan bahwa negara memang berbahaya bagi siapapun termasuk kamu!-
(dicuri dari blog lama ku hehehe)

Merayakan Gayung Baru

Tepat pukul 01.25 pagi, blog baru ku ini lahir. Ia adalah perayaan dari matinya wadah lama ku yang mengarat karena tak pernah aku urus. Semoga bayi baru ku ini tak bernasib sama dengannya, karena aku punya modal semangat menggebu untuk selalu menulis, latahan dari pelatihan menulis yang baru saja aku ikuti. Pemateri dan fasiltatornya dengan sangat keren membuatku bergairah untuk menulis lagi.

Aku mengambil nama gayung plastik dari sebuah judul cerita pendek dalam anotologi cerpen milik Puthut EA Kupu-Kupu Bersayap Gelap. Gayung plastik adalah salah satu janin dari rahim Kupu-Kupu Bersayap Gelap yang begitu berkesan olehku. Kisah tentang orang gila (dalam terma umum bagi orang yang bertingkah di luar kewajaran) yang mewarnai perjalanan keseharian warga di sebuah kompleks perumahan. Jika kamu ingin mengetahui mengapa cerita ini bisa tertanam dalam kepalaku, kusarankan kau untuk membacanya. Segera curi dari toko buku terdekat, atau segera pinjam dari temanmu. :p

Ketika menulis catatan pembuka ini, saya sedang merayakan kelahiran gayung baru, sekaligus menabur bunga di pusara gayung lapuk tak bertuan.  :(  -_-' :)

Sabtu, 23 April 2011

Hal Brengsek dari Mengakhiri Sesuatu adalah Ketika Kita Tak Sadar Bahwa Kita Sedang Memulainya Kembali

Biar saja, malam sepi ini hanya ingin kumaki, toh hanya ada sedikit telinga yang kan mendengarnya. Tidak pula kau yang punya setumpuk alasan untuk menutup rapat telinga dan tenggelam dengan rutinitas sampah itu. Taik! Tak ada yang lebih menyebalkan dari duduk dan memaki semuanya sendiri di layar monitor ini.

Ah, saya tau nya hanya menggerutu, mengutuk diri. Besok saya kan mengakhirnya! Lihat saja!

Jumat, 22 April 2011

Beberapa Baris yang Rindu

Seperti yang sudah-sudah, saya hendak tidur sementara kau sibuk merayakan insomnia gilamu. 
Di balik semuanyanya, kau menyembunyikan rapuh tubuhmu 
Dan menyimpan rapi segunung beban yang hanya pada pundakmu.
 ***
Besok menjadi semakin menyenangkan karena ada perayaan menjadi manusia
Sayangnya kau tak bisa turut dalam parade adrenalin ini.
Tak apalah, toh kau lebih aman jika tidak bersamaku untuk saat ini.
 ***
Senin masih begitu jauh
Semoga esok aku tak kalah
Semoga lusa kau tak jatuh
Hingga nanti tiba waktunya kita berbagi peluh

Selasa, 19 April 2011

2 Menit Untukmu

Ini tidak akan panjang, kau akan menemukanku terkapar tak berdaya segera setelah membacanya. Ya sayang, hari aku tak bisa menemanimu, menjadi bidak pion terdepan adalah peran yang mesti kujalani demi bertahan hidup. Hampir saja semuanya kutukar dengan hal menyebalkan ini, bekerja! Bahkan saat kau pun sakit aku hanya bisa memberikan sedikit waktu untukmu, hanya 2 menit! Itupun aku harus lihai mencurinya dari panjangnya jam kerja yang membosankan. 

Semoga kau tidak terus-terusan dipusingkan dengan prosedur sampah kampus, yang memaksamu melakukan hal yang sama sekali tak kau sukai.  Jika semuanya sampai di titik didih kejenuhan, kita toh masih punya sedikit spasi diantara bosannya rutinitas. Kita akan merayakan kematian kepalsuan diri dengan bergandengan, tertawa dan mencaci semua yang sudah berlalu. Brengsek! Hidup begitu pendek untuk dijalani dengan hal-hal yang miskin makna.  

Saya akan mentupnya dengan kecupan hangat, tentu saja hanya buatmu dan ini dari ku. Semoga itu cukup untuk menawar sepi dan penat di esok hari, selamat tidur dan teruslah bermimpi wahai kau  feromonku :p.

Minggu, 17 April 2011

Free Download "Collapse", Jared Diamond

Resensi oleh Ishmael Yahalah
Sekali lagi Jared Diamond membongkar erorr peradaban, dan berikut adalah salah satu karyanya yang berhasil divisualisasikan oleh salah satu production house raksasa dunia NG. Nikmati filmnya pada link berikut:
Sebelumnya, kamu bisa membaca resensinya yang di blog ini saya ambil dari:


Resensi

Sebuah Dunia Yang Akan Kolaps





Judul
: Collapse (Based on The Book of Jared Diamond)
Sutradara/penulis : Noel Dockstader
Editor : Steve Eagleton
Tahun : September, 2010
Produser : Noel Dockstader
Produksi : Far West Film Co. & National Geographic Television
Peresensi : Ishmael Yahalah


Jared Diamond
telah menggugah banyak orang di berbagai belahan dunia ini. Dalam tulisan-tulisannya, Diamond memberikan pandangan dan penafsiran ulang atas sejarah dan peradaban yang berdiri saat ini. Tulisannya yang kaya sekaligus kontroversial merentang dari sejarah hingga geografi, dari fisiologi hingga arkeologi. Dalam buku terkenalnya Gun, Germs, and Steel (2006) yang memenangi hadiah Pulitzer, Profesor Diamond menyingkap bagaimana peradaban di dunia ini bisa terbentuk sedemikian rupa melalui proses yang tidaklah alamiah. Ia menjelajahi gurun di Afrika, hutan Papua, kota-kota kuno di Bulan Sabit Subur, hingga Amerika Selatan. Salah satu tesis pentingnya bahwa agrikultur adalah “kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia”, menjadi perbincangan yang sengit di kalangan yang mendukung dan menolak tesis tersebut.

Dan
di buku setelahnya Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed (2005), Diamond belum beranjak dari tesis awalnya tersebut. Jika dalam “Gun, Germs and Steel” profesor fisiolog ini menjabarkan tentang asal usul dan kejatuhan sebuah peradaban, maka “Collapse” lebih banyak mengurai konsekuensi yang tidak bisa dijauhkan, manakala sebuah peradaban berjalan. Yang pada akhirnya, dikarenakan karakternya yang destruktif, peradaban akan runtuh mengulangi sejarah-sejarah terdahulu di masa silam.
Film “Collapse”
ini adalah kolaborasi kedua National Geographic dengan sang Professor, setelah Gun, Germs and Steel (2008) yang terdiri atas tiga seri diproduksi.

Seperti
gagasan inti dalam buku yang melatarbelakangi film ini, Collapse membawa sebuah pertanyaan besar ke ruang tengah rumah kita saat menontonnya : apa yang akan terjadi dengan bumi ini jika kehidupan kita pertahankan seperti sekarang ini? Jawabnya : kolaps!

Collapse
adalah pengujian mengenai kebiasaan-kebiasaan dalam peradaban manusia yang dapat berdampak pada keseluruhan jejaring kehidupan dan bumi. Film ini meninjau ulang, mengujinya dengan standar pengetahuan terkini, dan memberikan kesimpulan mengenai relasi antara metode kehidupan harian kita dengan efeknya ke depan. Dan tentu saja, berdasarkan kejadian-kejadian di masa silam serta fakta dan kecenderungan terkini, ia menunjukkan bahwa apa yang terjadi belakangan ini seperti penyusutan lahan, krisis pangan, air dan sumber energi berpotensi mendorong kolapsnya peradaban.
 
Memang bukanlah hal baru dalam mengkonversi buku menjadi film. Namun jika buku yang dimaksud adalah buku non-fiksi setebal 571 halaman, untuk kemudian diperas menjadi film dokumenter berdurasi lebih dari 90 menit yang bisa ditonton oleh semua kalangan, tentu memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Tetapi sang sutradara sekaligus penulis skenario Noel Dockstader punya siasat.
Berbeda dengan Inconventional Truth dimana Al Gore membangun argumen yang kuat dan populer tentang gejala pemanasan global dengan menyandingkan  paradoks masa lalu dengan yang kini terjadi di bumi. Dalam Collapse, Dockstader juga sekaligus membangun visualisasi masa depan untuk menggambarkan situasi yang bisa (atau akan!) terjadi –namun belum nampak disebabkan jaraknya yang terlalu dekat dengan kita dan karenanya lebih sering diremehkan. Dengan plot alur maju-mundur, versi film ini cukup berhasil memisahkan diri keluar dari bayang-bayang Collapse versi buku yang lebih dahulu popular.

Collapse mengajak melakukan perjalanan waktu menembus 200 tahun ke masa depan untuk melihat seperti apa sebuah peradaban yang kita tempati ini nantinya, sambil sesekali melongok ke ribuan tahun yang lampau. Interpretasi visual terhadap tulisan Jared Diamond ini memang cukup membantu untuk membangun kontras dan abstraksi antara kisah masa silam, sekarang dan masa depan.

Diceritakan, sekelompok ilmuwan di tahun 2210 yang tergabung dalam Project Collapse, paska kolapsnya peradaban saat ini, meneliti sisa-sisa keruntuhan. Mereka meneliti sisa-sisa dan artefak dari 200 tahun yang lalu (yakni masa sekarang) untuk mencari tahu mengapa peradaban sekarang runtuh. Para ilmuwan di masa depan tersebut mendatangi gurun bekas kota Phoenix, yang peradabannya runtuh karena pengelolaan sumber air. Mereka juga mengunjungi Central Valley, bekas lahan pertanian raksasa di California, hingga menyelami laut di perairan yang dulunya merupakan kota padat Cape Canaveral, Florida.

Berbagai artefak sisa-sisa manusia jaman sekarang ditemukan para peneliti. Dari kolam renang di rumah-rumah warga Amerika, bangkai pesawat luar angkasa, hingga ikon peradaban modern kita : mobil. Berdasarkan temuan artefak-artefak tersebut para ahli menelusuri mengapa peradaban yang berdiri saat ini bisa runtuh.

Apa yang dimaksud dengan situasi “kolaps” sendiri dijabarkan Jared dalam bukunya ‘Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed’, sebagai “penurunan drastis jumlah populasi manusia dan atau kompleksitasnya secara sosial, ekonomi, politik, pada wilayah dalam sebuah rentangan waktu.” Kejatuhan sebuah peradaban diawali oleh kemunduran-kemunduran yang dialaminya sedikit demi sedikit, yang dapat ditandai dengan beberapa bentuk-bentuk kecil (milder type) sebelumnya.

Bentuk-bentuk tersebut dapat berupa kemunculan atau kejatuhan yang bersifat minor yang ditandai dengan terjadinya restrukturisasi dalam sebuah masyarakat secara politik, ekonomi atau sosial; ditaklukkannya sebuah masyarakat oleh masyarakat tetangganya, atau kemundurannya terkait kejayaan daerah tetangganya tanpa adanya perubahan dalam keseluruhan populasi atau kompleksitas pada seluruh wilayah tersebut; dan pergantian elit penguasa dari satu ke satu lainnya.

Diamond memberikan beberapa contoh peradaban yang kolaps dalam sejarah dunia silam seperti Anasazi dan Cahokia di daerah yang kini kita kenal sebagai perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko, kota-kota suku Maya di Amerika Tengah,  masyarakat Moche dan Tiwanaku di daerah selatan benua Amerika, peradaban Mycenean di Yunani serta Minoan Crete di Eropa, zaman kebesaran Zimbabwe di Afrika, era Kuil Angkor di Kamboja, peradaban di kota-kota di Lembah Hindus, hingga Pulau Easter di kawasan Pasifik.

Di awal, Diamond mencontohkan peradaban Anasazi di Yucatan Peninzula, Meksiko yang hilang ribuan tahun yang lalu. Apa yang ironik disini adalah bahwa situs tersebut merupakan bekas peradaban asli Amerika yang termaju sebelum kedatangan orang-orang Eropa. Perkembangan arsitektur, kultur masyarakat, seni pahat dan ukir, serta seni lukisnya mengagumkan sehingga dijuluki sebagai Mesoamerica, Dunia Baru.

Namun, pada puncak peradabannya, kota-kota kuno tersebut mengalami penyusutan populasi secara ekstrim dalam waktu yang singkat dan berakhir dengan keruntuhan peradaban Maya kuno. Penduduk yang pada awalnya membangun kota tersebut menjadi sedemikian megah dan hidup dalam titik puncak peradaban, akhirnya keluar dari kota dan terpaksa mencari tempat baru. Ada apa gerangan?

Puncak peradaban Anasazi adalah menyulap padang pasir dengan curah hujan yang fluktuatif dan situasi geografis yang relatif terisolasi, menjadi kota yang dipenuhi dengan rumah bertingkat, pepohonan, dan sumber pangan yang melimpah. Perkembangan masyarakatnya dapat menjawab permasalahan-permasalahan sosial seperti bagaimana memberi makan seluruh penduduknya.
Dalam menghadapi alam yang kering misalnya, mereka menggali dataran rendah, memodifikasinya, membendung aliran air, menyadap rembesan dari karst (dan batuan kapur bawah tanah) dan membuatkannya saluran menuju sebuah penampungan air raksasa yang juga dapat menampung air hujan. Dengan begitu, mereka dapat menyediakan air minum untuk 10.000 orang selama 18 bulan. Dan kehidupan Maya berkembang menuju puncaknya.
Tetapi seiring itu, orang Maya harus membayar mahal. Lingkungan dan iklim yang mereka taklukkan pun berubah. Para klimatolog (ahli iklim) dan paleoecologist (ahli lingkungan masa lampau) menemukan beberapa bukti mengenai perubahan iklim dan lingkungan yang menyumbang kejatuhan. Tanpa sadar, dengan memodifikasi alam, mereka telah merusak lingkungannya sendiri, termasuk pembabatan hutan untuk pembukaan lahan pertanian dan erosi tanah oleh eksploitasi berlebihan.  Bangsa Maya kuno ditimpa kekeringan berkali-kali, dan memaksa mereka untuk eksodus. Situasi ini ditambah dengan faktor kultural dan politik, seperti persaingan antar raja-raja dan para bangsawan, yang berujung pada perang.

Kisah peradaban Anasazi kuno ini merupakan sudut pandang orang masa sekarang melihat masa lampau. Sementara untuk memahami masa kini, Diamond mengajak memakai sudut pandang orang masa depan. Maka sepanjang film ini ada banyak ilustrasi mengenai bagaimana para ilmuwan masa depan mendapati artefak-artefak sekarang untuk menjelaskan sebuah keruntuhan peradaban terkini.

Collapse mengajukan Las Vegas dan Los Angeles, sebagai sampel (calon) kota peradaban yang runtuh dengan puing-puing dunia modernnya. Kemajuan kota-kota modern tersebut digambarkan serupa dengan kota Anasazi kuno. Yang pada akhirnya ditinggal oleh penduduknya karena tidak memungkinkan lagi untuk hidup di tempat tersebut. Alasannya sederhana, pola kehidupan di kota-kota yang digambarkannya sudah tidak lagi masuk akal. Bagaimana sungai yang memiliki ekosistemnya sendiri dibendung untuk menyuplai air masyarakat kota, lahan pertanian massal dihamparkan dengan menggunduli hutan tropis terlebih dahulu.

Dalam salah satu scene digambarkan bagaimana sebuah usaha pertanian di Huron, harus membunuh (mereka menyebutnya rasionalisasi) pohon-pohon almond produktif yang awalnya mati-matian mereka tanam. Jumlah pohon yang dirasionalisasi mencapai setengah dari lahan, yang terpaksa dilakukan karena defisit air. Sesuatu yang lahir setelah bertahun-tahun mereka mengekstrak air tanpa batas. Di tahun 1950an, California adalah padang gersang yang disulap menjadi taman eden. Mereka melakukannya dengan membuat saluran air berjarak ratusan mil dari sumbernya untuk menyuplai kebutuhan pertanian dan kehidupan sehari-hari. Ini lantas menjadikan wilayah tersebut menjadi salah satu daerah pertanian paling produktif di seluruh dunia.

Sekarang, orang-orang di California mesti menggali sedalam 700 meter hanya untuk mendapatkan air. Sementara satu pohon almond mengkonsumsi 400 liter air setiap hari. Petani harus melakukan langkah radikal untuk beradaptasi dengan krisis atau Los Angeles, California akan menjadi Anasazi di masa kini.
Jared Diamond juga mengajukan krisis energi dan moneter sebagai salah satu hal penting yang menyumbang keruntuhan peradaban. Di masa silam, persoalan energi dan moneter ini sama-sama muncul dalam peradaban Romawi dan Maya. Meskipun kedua peradaban ini saling berjauhan dan belum terkoneksi secara langsung karena situasi teknologi telekomunikasi dan transportasi saat itu, namun keduanya memiliki sesuatu yang sama. Setelah berabad-abad dominasi kejayaannya, era kedua peradaban tersebut akhirnya habis.

Pada era Romawi, perang dan penaklukan serta imperialisme-lah yang membuat peradaban tersebut bertahan. Salah satu yang menopangnya adalah jaringan jalan. Namun seiring waktu, Romawi kehabisan energi untuk terus memperbesar wilayah dan menjalankan tata pemerintahannya.

Kini terdapat setidaknya 2 milyar mobil yang akan menjadi rongsokan berbahaya. Ini adalah salah satu penanda bagaimana absurdnya peradaban ini menyedot dan mengelola energi. Menurut para ahli, kita hanya butuh 200 tahun semenjak revolusi industri, untuk menghabisi cadangan bahan bakar berbasis fosil. Berdasarkan perhitungannya, dalam satu hari kerja manual hanya akan menghasilkan minyak sebanyak satu sendok makan. Ini berarti untuk satu tangki bensin yang tunggal setara dengan dua tahun kerja manusia!
Sementara itu, para ilmuwan dan kaum industrialis terus mengembangkan pembangkit listrik dengan teknologi terbaru. Nyatanya, teknologi yang kita pakai 50 tahun lebih itu hanya mampu mengekstrak 25 persen energi yang tersedia dan membuang percuma 75 persen sisanya. Saat hal itu dirasa tidak mencukupi, mereka kemudian mengembangkan teknologi yang dipandang bisa menghasilkan sumber energi berkali lipat : nuklir!
* * *
Peradaban adalah soal bagaimana menaklukkan alam. Hal ini berlaku semenjak peradaban pertama dimulai dengan pertanian sebagai upaya awal menundukkan dan memanipulasi alam. Pertanian terbukti mengambil lebih banyak dari tanah ketimbang yang bisa dikembalikannya. Dan karenanya Diamond memang benar bahwa hal ini adalah kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia.

Kini, penaklukan alam dalam peradaban modern ini sangatlah mengerikan. Pertambangan minyak, gas, logam dan mineral, menghasilkan lebih banyak kerusakan alam dan ketimpangan sosial ketimbang kemakmuran merata di masyarakat seperti mitos yang dijanjikan. Sementara di tempat lain, juga digambarkan bagaimana laju produksi kendaraan bermotor tak lagi terbendung. Ini akan terus menyerap permintaan akan sumber energi/bahan bakar fosil atau ‘gantinya’ berupa biofuel.

Sebagai konsekuensi inheren dalam peradaban, ancaman krisis pangan, perubahan iklim, bencana alam, gagal panen, genosida, serta perang militer besar-besaran adalah sesuatu yang melekat tak terpisahkan dari kehidupan saat ini.

Apa yang disampaikan Jared Diamond dalam Collapse ini sebenarnya bukanlah hal baru, melainkan rangkuman tentang konsekuensi dari tata kehidupan harian kita. Terbenam dalam peradaban, kita dapat menghancurkan planet ini bahkan dari kamar mandi saja. Tidak perlu ke hutan, dan cukup biarkan Unilever dan Sinar Mas menghabisi hutan tropis di Kalimantan untuk memproduksi sampo atau sabun mandi kita. Tetapi, mode kehidupan modern telah pelan-pelan menyandera kepekaan kita dalam memikirkan dampak dari kehidupan yang kita jalani saat ini. Segala sesuatu yang ‘masih jauh’ itu belum terasa padahal apa yang berlangsung di masa silam telah berulangkali membuktikan bahwa konvergensi kekeringan, kelaparan, bencana lingkungan dan kehancuran finansial adalah penyebab keruntuhan peradaban.
* * *
Peradaban adalah tema sentral dalam beberapa karya Diamond. Ia bukanlah yang pertama dan satu-satunya yang berbicara tentang tema ini. Namun karena pengetahuannya yang luas, keahliannya yang mumpuni, Diamond banyak menginspirasi gerakan radikal seperti kelompok-kelompok anarkis-hijau, anarkis-primitivis, maupun anarkis-antiperadaban secara luas.
Tetapi sang Profesor tetaplah seorang ilmuwan yang dibesarkan oleh peradaban sains itu sendiri yang belum sepenuhnya lepas dari nalar pencerahan. Nampaknya Diamond terlalu khawatir akan keruntuhan yang diramalkannya itu. Kadang pula ia menyamakan kejatuhan peradaban sebagai hal yang similar dengan berakhirnya kehidupan. Proposalnya adalah mempertahankan peradaban modern ini dengan sesuatu yang lebih berkelanjutan. Dalam tawaran praktisnya mendorong manajemen sumberdaya yang arif dan bijaksana di bawah kendali pemerintah dan swasta –sesuatu yang mustahil. Ini mengingatkan rekomendasi optimistiknya di Gun, Germs, and Steell, tentang wabah malaria dan kemiskinan akan dapat ditangani dengan baik lewat ‘kerjasama internasional yang solid’.

Ini sangat berbeda dengan ekspresi anti-peradaban dalam gerakan radikal seperti anarkis-primitivis maupun anarkis non-primitivis yang mengagendakan penghancuran peradaban sebagai satu-satunya jalan untuk mengembalikan harmoni dan kealamian yang lestari. Bukan mempertahankan, melainkan membalikkan arahnya. Dan tentu saja juga sangat berbeda dengan penghancuran dan kehancuran sebagai konsekuensi dari karakter peradaban itu sendiri.

Akhir kata, akan lebih baik jika membaca versi bukunya yang lebih lengkap dan detail. Serta untuk mengurangi kekecewaan atas rekomendasi agenda sang Professor, sering-seringlah mengingat bahwa bagaimanapun ini adalah dokumenter produksi National Geographic! [iy]

Sabtu, 16 April 2011

Kerangkeng Hari Sabtu

Image Hosted by PicturePush - Photo Sharing
Prison Break, Si Kumis Lele :p
Hari ini hari sabtu, sudah kuniatkan semalam untuk tidur sepuasnya diakhir pekan ini. Sungguh pekan yang menjengkelkan, ditendang dari kost-an, dapat kerjaan baru yang buat kau harus naik tangga 5 kali dalam sehari menuju lantai 3, dalam keadaan tidak fit lagi. Argghh…! Saya mau balas dendam dengan bermalas-malasan di akhir pekan ini. Hehehe


Sabtu subuh, mata terus melotot pada layar komputer, kebetulan sinyalnya modem lagi ciamik, juga ada teman keren yang sudi untuk ku ganggu. Lagian ini demi dia yang  punya penyakit insomnia akut, jadilah kami ngobrol lewat monitor. Hahaha. Pengeras suara dah teriak-teriak di subuh buta, itu tandanya saya harus segera cabut menuju pulau kapuk. Saya akhirnya ngorok di samping perempuan tua yang kepincut sama pesbuk. Apalagi tak lama berselang hujan pun turun, tidur makin sempurna, sungguh menyenangkan. 


Belum lagi matahari merangsek keluar dari kumpulan awan hitam, tiba-tiba kudengar suara pintu digedor kuat, akhirnya dengan malas saya bangun dan membuka pintu. Ternyata si pria bengis berhati merah muda yang datang di jam 9 pagi. Ia menanyakan apakah Opa menitip sejumlah uang padaku. Kujawab tidak. Kutanyakan perihal uang tersebut padanya. Ia bilang buat bekal si kumis lele yang sedang mendekam LP akibat kasus kemaren. Kami tak ngobrol banyak, kutawarkan sisa uang kostku yang dikembalikan si empunya kost untuk ia pinjam. Uang itu rencananya kupakai untuk menyewa kamar bar, tapi karena sampai detik ini tidak ada kejelasan di mana kamar baru yang akan kupinang sebagai tempat menghabiskan penat, makanya saya tawarkan saja padanya. Ia lantas mengajakku ke sana tuk menjenguk si kumis lele. Saya mau saja, kan nanti setelah pulang dari sana, saya bisa melanjutkan tidur panjang yang sudah kuagendakan. :)


Motor dengan warna hijaunya yang menyebalkan itu melaju kencang di hari yang mendung. Kami terlibat perbicangan panjang tentang banyak hal, mulai dari soal kuliahnya hingga kabar teman-teman yang masih setia nongkrong di taman hitam. Selain berhati pink, ia adalah pria dengan segudang informasi yang dengan lancar bercerita. Tak terasa belasan kilometer telah kami lalu, sampailah kami di LP. Setelah markir motor, kami menuju loket registrasi pengunjung atau penjenguk tahanan. Saya mengeluarkan KTP ku, si penjaga loket kemudian menyemprotkan kalimat, “kalo ada uangmu di situ, bisa ko kasi untuk biaya adminstrasi? Kalo nda ada ndapapaji”. Saya kemudian bertanya berapa jumlah uangnya, pria tua berkacamata tersebut, menjawab, “dua ribu mo”. Saya nda pikir panjang, langsung saja saya beri uang yang ada di kantong belakangku.  


Kami menuju pintu masuk yang pada sisi depannya terpampang gambar pohon beringin, dihiasi barisan huruf balok bertuliskan PEMBINAAN. Sebelum masuk, kami sempat menimpali kejadian tadi, “biar mi deh, kasi mi saja, mau ji juga makan itu bapak tadi”, kata si pria pink. Hahaha. Kami pun menyerahkan secarik kertas dari loket tadi dan ditukarkan dengan semacam Id Card pengunjung. Kami  diarahkan petugas menuju ruang penggeledahan, tubuh kami didekatkan dengan alat pendeteksi logam, tas si pria pink digeledah demi mencari barang terlarang. Saya tak tahu barang seperti apa yang telarang. Ganja mungkin..hahaha


Kami menyerahkan secarik kertas tadi ke petugas jaga kunjungan, ia kemudian mengumumkannya melalui alat pengeras suara, nama si kumis lele pun membahana seantero kompleks penjara. Tak lama berselang si lele muncul, rambut kritingnya sudah tak ada, kepalanya hanya dibalut rambut tipis, kumis lelenya juga sudah menghilang, yang tersisa hanya senyum lebarnya yang khas yang ia bagi pada kami saat bertemu. Tak banyak perubahan pada dirinya, hanya saja ia mengeluh bosan, nassami bosan ka disitu terus ko bela.hahaha.  Ia menumpahkan banyak kisah pada kami, tentang kasusnya, tentang kesehariannya di LP. Tepatnya ni si kumis punya kisah dilengkapi dengan OST dari lagunya Linkin Park “Waiting for The end”, atau The Killers dengan “Human”, hahaha, apa hubungannya coba? Cari mako sendiri! 


Seringkali saya tak menyimak apa isi obrolan ini, saya sibuk dengan isi kepalaku sendiri. Mengapa ada penjara, ada sipir, ada polisi, ada tindakan kriminal? Alah, masa mesti nganalisis lagi di tulisan ini, capek tau! Hahahaha. Pokoknya barang macam ini (penjara cuy!) itu baru ada semenjak muculnya peradaban. Kerangkeng digunakan untuk mengucilkan orang-orang yang dianggap mengancam tatanan peradaban yang ada, baik itu karena gila, terkena penyakit menular, atau sekedar protes atas banyak TAI yang bermunculan karena adanya kekuasaan tersentral. Begini mo pade singkatnya, ni barang dipake untuk menciptakan terror demi menciptakan ketertundukan pada order  yang sementara berjalan. Istilah kampusnya itu domestikasi manusia, penjinakan. Tahapan linear dari konsekuensi membangun peradaban, domestikasi alam, domestksi kehidupan harian kita! Sudah mi deh tambah parah nanti ini tulisan. :p


“Ting, ting, ting” suara bising keluar dari sumber yang tak ku ketahui di mana asalnya. Tiba-tiba ruang besuk menjadi gaduh, semua orang bercakap dengan terburu-buru, dua sejoli yang berada di samping kami pun melepaskan pelukan mereka. Banyak ekspresi keluar dari wajah mereka, ada yang muka bussu’, sedih, tetapi tetap ada simpul kecil yang melintang di beberapa wajah mereka. Ini tanda jam besuk sudah berakhir, si lele pun kembali melempar senyumnya kepada kami, “fella, buku nah nanti, bawakan ka’” sergap lele. Kamipun mengangguk dan pamit pulang. 


Mendung masih saja nongkrong dilangit Makassar, membuat perjalanan kami tak terlalu penat. Si Hijau kali ini tak terburu-buru lagi karena di hari Sabtu si pria berhati pink berwajah garang tak punya agenda khusus, saya pun begitu. Dan kamipun kembali tenggelam dalam percakapan tak penting demi menolak kebosanan perjalanan menuju kota yang punya obsesi gila menjadi kota dunia. :p

Selasa, 12 April 2011

Ini tentang Ibu, Tanta atau Uni di Jalan Bung!

Untuk kedua kalinya, saya bangun pagi, pagi sekali. Mungkin karena kondisi tubuh yang buruk memaksa ku untuk beristirahat lebih cepat di malam hari. Tapi, sama ji bangunnya juga terlalu cepat, hehehe..kenapa jam tidur dan bangunku seperti orang kantoran ya? Padahal ini rutinitas yang paling menyebalkan yang hampir setiap orang harus jalani, tidur cepat (demi kesehatan dan kebugaran) dan bangun di subuh hari (agar tak telat masuk kerja). Hei, kau melakukannya hampir tiap hari? Kau sinting ya? Hahahaha

Sudah-sudah, nanti saya melebar membahas panjang masalah alienasi dan pasar kerja, hahaha, kayaknya bukan di sini deh tempatnya. Kebetulan hari ini hari pertama ku cerai dari pondokan laknat perusak komputerku itu, untuk sementara saya ngungsi dulu di tempatnya anak-anak di Wesabbe, sambil mencari pondokan yang pas. Saya sebenarnya sedih berpisah dengan jalan bung. Tempat pertama kali saya habiskan malam di kota Makassar ya di bung ini. Saya masih ingat, ketika itu saya nda bisa tidur, terbangun jam 4 subuh, saya begitu terganggu dengan banyaknya suara yang berteriak-teriak melalui pengeras suara di subuh hari. Banyak dudui, deh, sampe-sampe sakit kepalaku.

Tapi ada yang hal yang tidak bisa kulupa dari jalan bung. Sebuah Warung makan, ia tak mempunyai nama jadi saya dan teman-teman dengan bebas menyebutnya warung tanta, ibu, atau Uni, nama anak dari ibu penjual makanan berat yang ketika itu tak jauh dari pondokan pertamaku. Seperti warung makan lainnya, ibu sebelum siang sudah siap dengan food gallery-nya, ada perkedel, ikan goreng, tempe tahu,  sayur bening, tumis, santan. Sungguh tak jauh berbeda dengan jenis masakan di rumah di kampung, hal ini membuatku tak perlu bersusah payah beradaptasi dengan jenis makanan di Makassar yang ku kira akan sangat berbeda. 

Ketika menjadi mahasiswa baru universitas hampir swasta Unhas di tahun  2004 silam, seingatku harga makanan dulu di Ibu itu seporsinya Rp 2.500,-. Itu sebelum BBM naik setahun kemudian. Ada satu hal yang menarik menurutku dari konsep Ibu menjual makanan sehingga mampu menarik banyak pembeli. Yaitu sistem prasmanan, kita bebas mengambil sendiri, mulai dari jenis makanan hingga jumlahnya yang ingin kita lahap di tempat itu. Bebas cuy, hanya saja kalau lauk utama seperti ikan atau telur kamu masukkan dalam satu porsi itu harganya agak sedikit naik, tapi seingatku untuk yang lainnya itu kalo ditambah nda dikenakan biaya tambahan, nyamanna makan sepuasnya. Hahaha

Ibu pun tidak hanya membangun relasi ekonomi semata dengan kami para anak kost, yang bisanya hanya sebatas pembeli dan penjual. Ia selalu menanyakan kabar kami, bagaimana kuliah kami, ospek kami, bahkan apa sudah ada pacar kami.hehehe. Ibu bertindak layaknya ibu, senyumnya yang membuat nyaman, repotnya ia ketika kami datang berbondon-bondong dengan memasang wajah bajipur (bajingan cipuru’) sepulang kuliah. Relasi emosional itu penting lho di tengah masyarakat sakit seperti sekarang ini yang hanya mengutamakan satu hal, pengejaran profit sebanyak-banyaknya. Peradaban kita sungguh dibangun pada satu pondasi yang lucu menurutku, yaitu kegilaan dan kesakitan. (aduh mulai lagi deh, kambuh :P)

Saya juga selalu melihat perubahan padanya dan keluarganya. Dulunya ibu rambutnya hitam lebat, entah kenapa setahun belakangan saya perhatikan sudah banyak uban, alias banyak rambut putih diantara arsiran rambut hitamnya. Saya juga sering bercanda dengan cucunya yang ketika dulu masih balita, deh sekarang sudah sekolah di SD Inpres Bung. Atau anak gadisnya Uni yang kini sudah menjadi Ibu dari bocah botak bermata sipit hasil perkawinannya dengan seorang pria gempal, hitam dan ramah. 

Semua berubah, Ibu sudah mengganti TV kusam tua miliknya dengan TV baru dan canggih. Hehehe. Jadilah saya sering numpang nonton berita siang kalo sempat makan di situ. Sekarang ibu sudah jauh, dari wesabbe lumayan nampar betis lho kalo mau jalan kaki ke Bung :P. Untuk beberapa saat saya membiarkan lidahku jauh dari masakannya, jauh dari ibu dan nanti sekalian mampir bisa kutumpahkan semua kerinduanku, hahaha, makan cuy sampe poge’.

Senin, 11 April 2011

Sepasang Gumpalan Daging

Di saat normal pun ia tampak jadi anomali di saluran kerongkonganku. Sesekali aku melihat bayangannnya melalui cermin. Rupanya pasangan ini sangat betah berlama-lama menempel di tubuhku. Katanya, mereka ini adalah pasukan penahan invasi virus dan kuman yang mau masuk ke tubuh melalui jalur kerongkongan. Dan seingatku mereka mulai bekerja bereaksi terhadap kondisi lingkungan yang buruk saat masih harus memakai seragam putih merah. Ketika tubuh tidak fit seperti saat saya menuliskan ini, di serang flu, kemudian sakit kepala, mereka pun bereaksi membengkak dan memicu produksi air liur dan dahag. Awweh...sungguh menyebalkan. 

Saya tidak tahu apa istilah medisnya, tapi orang-orang sering bilangnya kalo mereka adalah amandel. Gumpalan daging yang tumbuh pada saluran kerongkongan memang dirancang untuk tujuan khusus. Saat mereka membengkak ada beberapa hal yang bisa dilakukan sendiri untuk membuat amandel kembali menyusut dan infeksi tidak terjadi. Nih ada beberapa poin yang sempat ku curi dari blog nya orang hehehe:
* Diusahakan untuk minum banyak air atau cairan seperti sari buah, terutama selama demam.
* Jangan minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan, makanan awetan yang diasinkan, dan manisan.
* Berkumur air garam hangat 3-4 kali sehari.
* Menaruh kompres hangat pada leher setiap hari.
* diberikan terapi antibiotik (atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk mencegah komplikasi.
* Istirahat yang cukup. 

Sepertinya semua sarannya bisa dikategorikan DIY yah? Hehehe Do It Yourself, dude! Alias bisa dilakukan sendiri. Hehehe. Pace juga kasi resep, katanya perasan jeruk nipis dan air hangat membantu mempecepat amandel itu gembos. Ah, saat-saat begini jadi rindu hangat rumah. Hehehe. 

Mantap cuy, lagi beringus begini kita embat dia
Kayaknya memang penyebab membengkaknya tuh tameng berbahan dasar daging adalah kondisi eksternal seperti cuaca, atau masuknya debu, atau bahkan bahan aditif yang terkandug dalam makanan yang masuk ke kerongkongan. Sulit memang mencari kondisi yang aman (menurut katergori kesehatan) di tengah kota metropolitan yang sedang dihantam sihir pembangunan, seperti Makassar. Belum lagi kenyataan bahwa asupan makanan yang kita konsumsi sehari-hari hampir seluruhnya adalah hasil pertanian transgenik. Dan juga banyaknya zat aditif makanan artifisial yang ditambahkan produsen makanan siap saji, sebagai upaya untuk menjawab mekanisme pasar yang punya hukum permintaan dan penawaran. Dan juga sistem ekonomi kapitalisme mengamini persaingan bebas tanpa batas antara pengusaha, siapa yang tidak memproduksi dengan murah dan menjualnya dengan lebih murah dari perusahaan lain, maka ia akan mati. Menger jako? Saya tidak. Hehehehe

Jika sudah begitu kenyataannya, hanya ada beberapa pilihan kejam yang harus ditempuh produsen makanan agar bisa memangkas biaya produksi, yang pertama menurunkan upah buruh. Jika pimpinan serikat buruh sudah disuap, akhirnya anggotanya manut, langkah lainnya adalah memakai bahan aditif makanan untuk menjaga rasa tetap enak walaupun dikurangi jumlah bahan baku yang betul-betul bahan makanan asli. Selain itu, zat aditif berupa monosodium glutamat atau yang na bilang maceku vitsin itu memang luar biasa bekerja menyedapkan makanan, hmm bubuk ajaib, aditif sekaligus adiktif.  Tapi deh, ko tau apa yang dampak jangka panjangnya bagi tubuh kalo terus-menerus dikonsumsi sepanjang hidup? Nanti pi kucari lagi. Hahaha

Belum selesai tadi soal tumbuhan dan hewan transgenik yang kita konsumsi sehari-hari. Aduh tapi ini ingus keluar-keluar mi. Kalo penasaran soal ini ada buku bagus pernah kubaca judulnya Rekayasa Genetik: Impian atau Petaka, terbitannya Insisst Press. Hehehe. Sampai nanti ya, saya mau menyedu mie instan  dulu, sarapan pagi anak kost, hehehe. Wah, ada MSG nya hahahaha. Tak apa, masih ada Rumah Sakit yang mengalunkan lagu Sakit Sendiri nya buatku.

Minggu, 10 April 2011

Menjaga Kantong Ajaib

Kantung Ajaib Sebenarnya
Kantung mataku tampak seperti jelaga, melingkar di sekelilingnya dan belum juga mau menyusut, hari ini pun saya mesti bangun pagi setelah sebelumnya berjibaku dengan setumpuk pekerjaan hingga  subuh hari. Jenis pekerjaanku ini mengandalkan satu hal, kelihaian jari ku menari di atas keyboard komputer. Ya, menjadi seorang yang bertanggungjawab untuk mendokumentasikan sebuah kegiatan dalam bentuk tulisan membuatku mampu meninggalkan teknik lama mengetik dengan ’11 jari’ menuju ‘unlimited finger for typing shit’ (hahahaha). Namun tetap saja, durasi kegiatan yang begitu panjang membuat ku harus menuliskan semuanya ke dalam puluhan bahkan ratusan lembar, yang memakan waktu cukup lama.  Dan alat satu-satunya yang saya punya agar bisa merampungkannya adalah komputer butut peninggalan masa kuliah dahulu. Dia sungguh kuat, hingga hari ini mampu menemaniku ditiap bilik masa yang ku lalui. 

Jika ia bisa bicara, mungkin komputer ku ini akan melayangkan protes padaku. Kenapa ia begitu jarang saya istirahatkan, hampir tak pernah aku bersihkan atau sekedar menambahkan hardware baru untuk membantunya ‘berlari’ saat bekerja. Ah, ia memang temanku yang setia. Sudah 4 ruang kamar sewa yang kutempati, dan ia selalu punya spasi di tiap kamar tersebut. Bagiku, ia seperti kantung ajaib Doraemon yang begitu berharga dalam kondisi apapun. Selagi bosan, saya bisa memutar lagu atau menghibur diri dengan game miliknya. Jika banyak tugas atau kerjaan, ia punya alat yang pas agar pekerjaanku cepat selesai. Saat saya rindu dengan semua temanku, aku bisa menggapainya lewat dunia maya melalui layarnya yang mulai kusam itu. Jika ingin membaca, ia punya segunung bahan bacaan, artikel buku dan sebagainya. Laparnya mata ini ketika ingin nonton film, ia sudah kupersiapkan dengan setumpuk file film menarik. Hei kamu, komputerku , kau sangat berguna. hahahahaha

Meskipun kau sering sakit akibat virus brengsek buatan korporasi antivirus rakus itu, namun sedianya saya selalu bisa menemukan obat yang pas. Jadilah kau sangat jarang sakit, apalagi sampai tidak bisa bekerja. Tetapi setahun terakhir, kau dan aku berhadapan dengan masalah baru, kelayakan pasokan listrik untuk bisa membuat otot dan otak mu bekerja sama sekali buruk. Seringnya listrik rumah kost padam akibat kelebihan pemakaian yang tidak sebanding dengan daya normal yang terpasang membuat perangkat kerasmu compang camping. Gudang data mu alias hardisk adalah organ tubuh pertama yang menjadi tumbal akibat krisis listrik ini. Kemudian disusul bunyi bising dari perangkat audio pada motherboard mu. Semuanya sungguh mengganggu. Puncaknya ketika hardisk berkapasitas 160 GB harus saya cabut dari tubuhmu dan menggantinya dengan yang baru karna rusak parah. Ini namanya“Sungguh terlalu” , kata bang Rhoma.

Bukannya tanpa sebab, mengapa listrik di kost ke empatku ini sering ‘latto’. Kehadiran kulkas milik ibu kost yang memutuskan untuk ikut tinggal di dalam rumah kost menjadi penyebab utama ketidakmampuan daya 900 watt milik rumah ini memikul semua hisapan listrik alat elektronik yang dimiliki semua penghuni. Jadilah, bapak meteran mengambil langkah taktis ketika pemakaian melewati batas kemampuan, mematikannya!

Ketidakmampuanku membeli UPS yang punya fungsi seperti baterai isi ulang pada laptop dan handphone, agar mencegah komputer ikut padam ketika listrik mati, membuat organ tubuh si dia rontok satu persatu. Karena komputer memiliki banyak komponen yang sangat sensitif terhadap perubahan tegangan, apalagi listrik yang tiba-tiba terputus pasokannya. Seorang teman yang jago soal komputer pernah menjelaskannya padaku, ia bilang hardisk memiliki dua komponen vital, jarum pembaca sekaligus penulis, dan piringan tempat menaruh/menuliskan data. Jarak antara keduanya ia gambarkan hanya setebal rambut manusia saat tidak dinyalakan. Saat bekerja, kedua permukaannya bersentuhan dengan batas pekerjaan yang diperintahkan, apakah membaca atau menuliskan data. Dan ketika listrik padam, kedua komponen ini saling bergesekan tajam tak terkontrol akibat kehilangan daya. Jadilah piringan tersebut tergores sana sini. Sisi yang tergores biasanya disebut bad sector, yang sudah tidak bisa lagi dipakai untuk ditulis atau dibaca oleh jarum ‘sakti‘. Semakin sering komputer mati tak wajar alias tidak dimatikan dengan perintah kita melalui OS yang kita install, maka semakin banyak bad sector yang muncul, bagai panu yang menjalar ke seluruh tubuh. Akhirnya, bang! Hardisk totally broken, damn it!

Dengan jerih payah mengetik semua dokumentasi kegiatan yang diselenggarakan sebuah lembaga donor asal negeri yang paling ‘kassa’ produksi sepeda motor itu, saya akhirnya mampu membeli hardisk baru. Kapasitasnya juga lumayan 1 Tera Byte, ‘senangnya dalam hati’seperti kata si Ahmad Dhani dalam lagu daur ulangnya madu tiga. Tetapi akar permasalahan belum juga terselesaikan, listrik di rumah kost masih saja sering padam. Di minggu ke tiganya, hardisk baru mulai menujukkan tanda-tanda ketidaknormalannya. Salah satu partisinya setiap kali log on OS, itu seringkali meminta disk checking. “Anjritt, masa’ hardisk ku yang baru sudah rusak lagi”. Saya memendamya dalam-dalam, lagian saya seringkali melupakannya karena tumpukan kesibukan di tiap harinya. 

Tibalah saya pada satu momen, setelah merampungkan dokumentasi tulisku saya kemudian didaulat untuk menjadi sekretaris kegiatan lokakarya jurnalistik bagi alumnus Jurusan Ilmu Kelautan Unhas. Namanya juga sekertartis, sedikit banyak bersentuhan dengan tugas ketik mengetik berbagai keperluan adiministrasi untuk mendukung terlaksananya kegiatan ini. Dasar brengsek, di pagi hari nan cerah ketika saya sedang olah jari di atas keyboard listrik tiba-tiba padam, selang beberapa menit kemudian menyala kembali. Dengan sesak di dada menahan jengkel, saya menyalakan kembali komputerku, mencari dokumen yang baru saja ku ketik. Saya mulai merapikan beberapa bagian yang tidak sempat disave, saya mesti mengetiknya kembali, bertambahlah kekesalanku. Tak lama kemudian, listrik kembali padam, saya tak bisa membendung lagi amarahku, keluarlah makian dari mulut, ditambah tendangan telak ke badan pintu kamar. 

Saya lantas mencari biang kerok permasalahan yang tak lain adalah pemilik rumah kost. Saya mendapatinya di teras rumah. Saya membuka percakapan dengan nada tinggi, menumpahkan kekesalanku selama ini, tentang listrik yang sering kali padam, daya listrik yang tak sesuai dengan konsumsi listrik semua penghuni dan tentu saja mengenai kepemilikan kulkas jahanam empunya kos yang membuat ini semua terjadi. Percakapan menemui jalan buntu, karena saya dan bos kos diselimuti amarah. Saya lantas melontarkan peryataan menantang, “jika tidak ada solusi, saya menolak membayar uang listrik untuk bulan ini, jika anda tidak terima, boleh usir saya tapi kembalikan uang sewa saya”. Saya pun meninggalkannya dalam kebisuan, menuju kamar ku untuk melanjutkan pekerjaan dan berharap listrik tidak lagi padam. Selang beberapa saat empunya kos menyatroni kamarku. Membawa secarik kertas dan beberapa lembar uang merah. Rupanya ia menerima permintaanku untuk pindah, entah karena ia tidak suka dengan kelakuanku tadi, atau apa. Saya pun langsung menerima uang itu dan mengajukan tenggat waktu pindah selama 1 minggu . Ia menyetujuinya, saya menghindari percakapannya soal listrik tadi, karena saya sudah bosan dengan argumennya yang kering solusi.  Saya menutup percakapan  itu dengan segera karena harus melanjutkan pekerjaan saya. 

Tapi setelah saya pikir-pikir, biaya hidup yang terlalu tinggi menyebabkan pemilik kost-kostan segan untuk menaikkan daya listrik di tempat kami. Jika daya listrik dinaikkan, maka biaya beban normal tanpa pemakaian juga akan naik, tentu saja hal ini makin memberatkan penghuni rumah kost ini. PLN sebagai institusi di bawah naungan pemerintah terus mendapatkan rapor buruk sebagi BUMN yang paling sering mengalami kebocoran dana, penyebabnya apa lagi, ya kalau bukan korupsi. Di tiap akhir pelaporan anggaran, PLN selalu mengumumkan kerugian yang besar, padahal dana segar yang dihisap dari konsumennya yaitu masyarakt itu sendiri, lebih banyak masuk ke kantong pejabat terasnya. Relasi sosial yang mirip dengan bentuk upeti jaman feodal dahulu nyatanya terjadi di masa sekarang, namun dengan bentuk yang lebih samar. Kami para pekerja upahan, bersusah payah banting tulang di tiap jam kerja, lantas seketika dirampok penghasilan kami melalui pembayaran tagihan listrik yang tinggi. Dan nyatanya kenaikan tarif dasar listrik di tiap masa setelah perhelatan pemilu besar-besaran di negeri ini, sama sekali tidak di ikuti peningkatan pelayanan yang berarti. Sebut saja pemadaman bergilir yang berlangsung setahun silam di kota Makassar. Kita bisa melihat betapa tololnya pemerintah dengan menyetejui membeli dan membangun infrastruktur PLTA Bakaru Pinrang tanpa menyiapkan tenaga teknis yang mampu memelihara dan memperbaiki peralatan tersebut. Akibatnya ketika satu elemen kecil dalam mesin pada PLTA Bakaru rusak, kita harus menunggu berbulan-bulan hingga datang tenaga teknis dari Jerman, asal mesin tersebut dibuat. Dan kami sebagai konsumen dipaksa menikmati pemadaman bergilir yang menghancurkan property elektronik kami. Dan anehnya, tidak ada perubahan signifikan dari jumlah tagihan listrik sebelum adanya pemadaman dan setelahnya. Sungguh korup PLN ini! 

Dari pada saya terus menggerutu dengan analisa pas-pasan dan sotta’ mending saya akhiri saja. Sekedar informasi boy, saya menulis gerutuan ini 4 hari setelah saya mengajukan protes itu dan masih belum menemukan kamar kost yang baru untuk tinggal nantinya. Oh Iya, juga sementara berlangsung pelatihan atau Lokakarya Jurnalistiknya ISLA, dan Nurhady Sirimorok yang didaulat menjadi pematerinya mampu membakarku untuk kembali menulis, maka jadilah onggokan huruf-huruf ini. :P

Resensi Film: Ikigami*

Pemerintah Jepang turut andil dalam pelaksanaan sebuah program di mana warga negara yang beumur di bawah 24 tahun, yang memenuhi syarat akan dipilih secara acak, untuk ditentukan hari kematiannya. Sampai pada umur 24 tahun, Kengo Fujimoto diangkat sebagai salah satu dari sekian banyakpekerja yang bertanggung jawab untuk menangani Ikigami, atau surat kematian, memberitahu orang yang hanya tinggal menyisakan umur satu hari atau 24 Jam untuk hidup. Ini hanya cuplikan, walaupun begitu, cara kematian ini sebenarnya disebabkan oleh nanokapsul yang disuntikkan pada waktu masih kanak-kanak. Nanokapsul ini hinggap pada pembuluh darah arteri menunggu diaktifkan oleh pemerintah untuk meledakkan pembuluh darah si korban. Fujimoto sangat menentang aturan ini, tetapi ia tidak dalam posisi yang tepat untuk bisa berbicara lantang melawan hal ini. Malahan ia melanjutkan pekerjaannya seperti diharapkannya. Saat menjalankan tugas ia harus berhadapan dengan berbagai respon emosional dari korban yang mengetahui bahwa umurnya tinggal 24 jam. (film.com)


*ditranslate seadanya dari film.com
-film ini membutikan bahwa negara memang berbahaya bagi siapapun termasuk kamu!-
(dicuri dari blog lama ku hehehe)

Merayakan Gayung Baru

Tepat pukul 01.25 pagi, blog baru ku ini lahir. Ia adalah perayaan dari matinya wadah lama ku yang mengarat karena tak pernah aku urus. Semoga bayi baru ku ini tak bernasib sama dengannya, karena aku punya modal semangat menggebu untuk selalu menulis, latahan dari pelatihan menulis yang baru saja aku ikuti. Pemateri dan fasiltatornya dengan sangat keren membuatku bergairah untuk menulis lagi.

Aku mengambil nama gayung plastik dari sebuah judul cerita pendek dalam anotologi cerpen milik Puthut EA Kupu-Kupu Bersayap Gelap. Gayung plastik adalah salah satu janin dari rahim Kupu-Kupu Bersayap Gelap yang begitu berkesan olehku. Kisah tentang orang gila (dalam terma umum bagi orang yang bertingkah di luar kewajaran) yang mewarnai perjalanan keseharian warga di sebuah kompleks perumahan. Jika kamu ingin mengetahui mengapa cerita ini bisa tertanam dalam kepalaku, kusarankan kau untuk membacanya. Segera curi dari toko buku terdekat, atau segera pinjam dari temanmu. :p

Ketika menulis catatan pembuka ini, saya sedang merayakan kelahiran gayung baru, sekaligus menabur bunga di pusara gayung lapuk tak bertuan.  :(  -_-' :)

Sabtu, 23 April 2011

Hal Brengsek dari Mengakhiri Sesuatu adalah Ketika Kita Tak Sadar Bahwa Kita Sedang Memulainya Kembali

Biar saja, malam sepi ini hanya ingin kumaki, toh hanya ada sedikit telinga yang kan mendengarnya. Tidak pula kau yang punya setumpuk alasan untuk menutup rapat telinga dan tenggelam dengan rutinitas sampah itu. Taik! Tak ada yang lebih menyebalkan dari duduk dan memaki semuanya sendiri di layar monitor ini.

Ah, saya tau nya hanya menggerutu, mengutuk diri. Besok saya kan mengakhirnya! Lihat saja!

Jumat, 22 April 2011

Beberapa Baris yang Rindu

Seperti yang sudah-sudah, saya hendak tidur sementara kau sibuk merayakan insomnia gilamu. 
Di balik semuanyanya, kau menyembunyikan rapuh tubuhmu 
Dan menyimpan rapi segunung beban yang hanya pada pundakmu.
 ***
Besok menjadi semakin menyenangkan karena ada perayaan menjadi manusia
Sayangnya kau tak bisa turut dalam parade adrenalin ini.
Tak apalah, toh kau lebih aman jika tidak bersamaku untuk saat ini.
 ***
Senin masih begitu jauh
Semoga esok aku tak kalah
Semoga lusa kau tak jatuh
Hingga nanti tiba waktunya kita berbagi peluh

Selasa, 19 April 2011

2 Menit Untukmu

Ini tidak akan panjang, kau akan menemukanku terkapar tak berdaya segera setelah membacanya. Ya sayang, hari aku tak bisa menemanimu, menjadi bidak pion terdepan adalah peran yang mesti kujalani demi bertahan hidup. Hampir saja semuanya kutukar dengan hal menyebalkan ini, bekerja! Bahkan saat kau pun sakit aku hanya bisa memberikan sedikit waktu untukmu, hanya 2 menit! Itupun aku harus lihai mencurinya dari panjangnya jam kerja yang membosankan. 

Semoga kau tidak terus-terusan dipusingkan dengan prosedur sampah kampus, yang memaksamu melakukan hal yang sama sekali tak kau sukai.  Jika semuanya sampai di titik didih kejenuhan, kita toh masih punya sedikit spasi diantara bosannya rutinitas. Kita akan merayakan kematian kepalsuan diri dengan bergandengan, tertawa dan mencaci semua yang sudah berlalu. Brengsek! Hidup begitu pendek untuk dijalani dengan hal-hal yang miskin makna.  

Saya akan mentupnya dengan kecupan hangat, tentu saja hanya buatmu dan ini dari ku. Semoga itu cukup untuk menawar sepi dan penat di esok hari, selamat tidur dan teruslah bermimpi wahai kau  feromonku :p.

Minggu, 17 April 2011

Free Download "Collapse", Jared Diamond

Resensi oleh Ishmael Yahalah
Sekali lagi Jared Diamond membongkar erorr peradaban, dan berikut adalah salah satu karyanya yang berhasil divisualisasikan oleh salah satu production house raksasa dunia NG. Nikmati filmnya pada link berikut:
Sebelumnya, kamu bisa membaca resensinya yang di blog ini saya ambil dari:


Resensi

Sebuah Dunia Yang Akan Kolaps





Judul
: Collapse (Based on The Book of Jared Diamond)
Sutradara/penulis : Noel Dockstader
Editor : Steve Eagleton
Tahun : September, 2010
Produser : Noel Dockstader
Produksi : Far West Film Co. & National Geographic Television
Peresensi : Ishmael Yahalah


Jared Diamond
telah menggugah banyak orang di berbagai belahan dunia ini. Dalam tulisan-tulisannya, Diamond memberikan pandangan dan penafsiran ulang atas sejarah dan peradaban yang berdiri saat ini. Tulisannya yang kaya sekaligus kontroversial merentang dari sejarah hingga geografi, dari fisiologi hingga arkeologi. Dalam buku terkenalnya Gun, Germs, and Steel (2006) yang memenangi hadiah Pulitzer, Profesor Diamond menyingkap bagaimana peradaban di dunia ini bisa terbentuk sedemikian rupa melalui proses yang tidaklah alamiah. Ia menjelajahi gurun di Afrika, hutan Papua, kota-kota kuno di Bulan Sabit Subur, hingga Amerika Selatan. Salah satu tesis pentingnya bahwa agrikultur adalah “kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia”, menjadi perbincangan yang sengit di kalangan yang mendukung dan menolak tesis tersebut.

Dan
di buku setelahnya Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed (2005), Diamond belum beranjak dari tesis awalnya tersebut. Jika dalam “Gun, Germs and Steel” profesor fisiolog ini menjabarkan tentang asal usul dan kejatuhan sebuah peradaban, maka “Collapse” lebih banyak mengurai konsekuensi yang tidak bisa dijauhkan, manakala sebuah peradaban berjalan. Yang pada akhirnya, dikarenakan karakternya yang destruktif, peradaban akan runtuh mengulangi sejarah-sejarah terdahulu di masa silam.
Film “Collapse”
ini adalah kolaborasi kedua National Geographic dengan sang Professor, setelah Gun, Germs and Steel (2008) yang terdiri atas tiga seri diproduksi.

Seperti
gagasan inti dalam buku yang melatarbelakangi film ini, Collapse membawa sebuah pertanyaan besar ke ruang tengah rumah kita saat menontonnya : apa yang akan terjadi dengan bumi ini jika kehidupan kita pertahankan seperti sekarang ini? Jawabnya : kolaps!

Collapse
adalah pengujian mengenai kebiasaan-kebiasaan dalam peradaban manusia yang dapat berdampak pada keseluruhan jejaring kehidupan dan bumi. Film ini meninjau ulang, mengujinya dengan standar pengetahuan terkini, dan memberikan kesimpulan mengenai relasi antara metode kehidupan harian kita dengan efeknya ke depan. Dan tentu saja, berdasarkan kejadian-kejadian di masa silam serta fakta dan kecenderungan terkini, ia menunjukkan bahwa apa yang terjadi belakangan ini seperti penyusutan lahan, krisis pangan, air dan sumber energi berpotensi mendorong kolapsnya peradaban.
 
Memang bukanlah hal baru dalam mengkonversi buku menjadi film. Namun jika buku yang dimaksud adalah buku non-fiksi setebal 571 halaman, untuk kemudian diperas menjadi film dokumenter berdurasi lebih dari 90 menit yang bisa ditonton oleh semua kalangan, tentu memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Tetapi sang sutradara sekaligus penulis skenario Noel Dockstader punya siasat.
Berbeda dengan Inconventional Truth dimana Al Gore membangun argumen yang kuat dan populer tentang gejala pemanasan global dengan menyandingkan  paradoks masa lalu dengan yang kini terjadi di bumi. Dalam Collapse, Dockstader juga sekaligus membangun visualisasi masa depan untuk menggambarkan situasi yang bisa (atau akan!) terjadi –namun belum nampak disebabkan jaraknya yang terlalu dekat dengan kita dan karenanya lebih sering diremehkan. Dengan plot alur maju-mundur, versi film ini cukup berhasil memisahkan diri keluar dari bayang-bayang Collapse versi buku yang lebih dahulu popular.

Collapse mengajak melakukan perjalanan waktu menembus 200 tahun ke masa depan untuk melihat seperti apa sebuah peradaban yang kita tempati ini nantinya, sambil sesekali melongok ke ribuan tahun yang lampau. Interpretasi visual terhadap tulisan Jared Diamond ini memang cukup membantu untuk membangun kontras dan abstraksi antara kisah masa silam, sekarang dan masa depan.

Diceritakan, sekelompok ilmuwan di tahun 2210 yang tergabung dalam Project Collapse, paska kolapsnya peradaban saat ini, meneliti sisa-sisa keruntuhan. Mereka meneliti sisa-sisa dan artefak dari 200 tahun yang lalu (yakni masa sekarang) untuk mencari tahu mengapa peradaban sekarang runtuh. Para ilmuwan di masa depan tersebut mendatangi gurun bekas kota Phoenix, yang peradabannya runtuh karena pengelolaan sumber air. Mereka juga mengunjungi Central Valley, bekas lahan pertanian raksasa di California, hingga menyelami laut di perairan yang dulunya merupakan kota padat Cape Canaveral, Florida.

Berbagai artefak sisa-sisa manusia jaman sekarang ditemukan para peneliti. Dari kolam renang di rumah-rumah warga Amerika, bangkai pesawat luar angkasa, hingga ikon peradaban modern kita : mobil. Berdasarkan temuan artefak-artefak tersebut para ahli menelusuri mengapa peradaban yang berdiri saat ini bisa runtuh.

Apa yang dimaksud dengan situasi “kolaps” sendiri dijabarkan Jared dalam bukunya ‘Collapse : How Society Choose to Fail or Succeed’, sebagai “penurunan drastis jumlah populasi manusia dan atau kompleksitasnya secara sosial, ekonomi, politik, pada wilayah dalam sebuah rentangan waktu.” Kejatuhan sebuah peradaban diawali oleh kemunduran-kemunduran yang dialaminya sedikit demi sedikit, yang dapat ditandai dengan beberapa bentuk-bentuk kecil (milder type) sebelumnya.

Bentuk-bentuk tersebut dapat berupa kemunculan atau kejatuhan yang bersifat minor yang ditandai dengan terjadinya restrukturisasi dalam sebuah masyarakat secara politik, ekonomi atau sosial; ditaklukkannya sebuah masyarakat oleh masyarakat tetangganya, atau kemundurannya terkait kejayaan daerah tetangganya tanpa adanya perubahan dalam keseluruhan populasi atau kompleksitas pada seluruh wilayah tersebut; dan pergantian elit penguasa dari satu ke satu lainnya.

Diamond memberikan beberapa contoh peradaban yang kolaps dalam sejarah dunia silam seperti Anasazi dan Cahokia di daerah yang kini kita kenal sebagai perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko, kota-kota suku Maya di Amerika Tengah,  masyarakat Moche dan Tiwanaku di daerah selatan benua Amerika, peradaban Mycenean di Yunani serta Minoan Crete di Eropa, zaman kebesaran Zimbabwe di Afrika, era Kuil Angkor di Kamboja, peradaban di kota-kota di Lembah Hindus, hingga Pulau Easter di kawasan Pasifik.

Di awal, Diamond mencontohkan peradaban Anasazi di Yucatan Peninzula, Meksiko yang hilang ribuan tahun yang lalu. Apa yang ironik disini adalah bahwa situs tersebut merupakan bekas peradaban asli Amerika yang termaju sebelum kedatangan orang-orang Eropa. Perkembangan arsitektur, kultur masyarakat, seni pahat dan ukir, serta seni lukisnya mengagumkan sehingga dijuluki sebagai Mesoamerica, Dunia Baru.

Namun, pada puncak peradabannya, kota-kota kuno tersebut mengalami penyusutan populasi secara ekstrim dalam waktu yang singkat dan berakhir dengan keruntuhan peradaban Maya kuno. Penduduk yang pada awalnya membangun kota tersebut menjadi sedemikian megah dan hidup dalam titik puncak peradaban, akhirnya keluar dari kota dan terpaksa mencari tempat baru. Ada apa gerangan?

Puncak peradaban Anasazi adalah menyulap padang pasir dengan curah hujan yang fluktuatif dan situasi geografis yang relatif terisolasi, menjadi kota yang dipenuhi dengan rumah bertingkat, pepohonan, dan sumber pangan yang melimpah. Perkembangan masyarakatnya dapat menjawab permasalahan-permasalahan sosial seperti bagaimana memberi makan seluruh penduduknya.
Dalam menghadapi alam yang kering misalnya, mereka menggali dataran rendah, memodifikasinya, membendung aliran air, menyadap rembesan dari karst (dan batuan kapur bawah tanah) dan membuatkannya saluran menuju sebuah penampungan air raksasa yang juga dapat menampung air hujan. Dengan begitu, mereka dapat menyediakan air minum untuk 10.000 orang selama 18 bulan. Dan kehidupan Maya berkembang menuju puncaknya.
Tetapi seiring itu, orang Maya harus membayar mahal. Lingkungan dan iklim yang mereka taklukkan pun berubah. Para klimatolog (ahli iklim) dan paleoecologist (ahli lingkungan masa lampau) menemukan beberapa bukti mengenai perubahan iklim dan lingkungan yang menyumbang kejatuhan. Tanpa sadar, dengan memodifikasi alam, mereka telah merusak lingkungannya sendiri, termasuk pembabatan hutan untuk pembukaan lahan pertanian dan erosi tanah oleh eksploitasi berlebihan.  Bangsa Maya kuno ditimpa kekeringan berkali-kali, dan memaksa mereka untuk eksodus. Situasi ini ditambah dengan faktor kultural dan politik, seperti persaingan antar raja-raja dan para bangsawan, yang berujung pada perang.

Kisah peradaban Anasazi kuno ini merupakan sudut pandang orang masa sekarang melihat masa lampau. Sementara untuk memahami masa kini, Diamond mengajak memakai sudut pandang orang masa depan. Maka sepanjang film ini ada banyak ilustrasi mengenai bagaimana para ilmuwan masa depan mendapati artefak-artefak sekarang untuk menjelaskan sebuah keruntuhan peradaban terkini.

Collapse mengajukan Las Vegas dan Los Angeles, sebagai sampel (calon) kota peradaban yang runtuh dengan puing-puing dunia modernnya. Kemajuan kota-kota modern tersebut digambarkan serupa dengan kota Anasazi kuno. Yang pada akhirnya ditinggal oleh penduduknya karena tidak memungkinkan lagi untuk hidup di tempat tersebut. Alasannya sederhana, pola kehidupan di kota-kota yang digambarkannya sudah tidak lagi masuk akal. Bagaimana sungai yang memiliki ekosistemnya sendiri dibendung untuk menyuplai air masyarakat kota, lahan pertanian massal dihamparkan dengan menggunduli hutan tropis terlebih dahulu.

Dalam salah satu scene digambarkan bagaimana sebuah usaha pertanian di Huron, harus membunuh (mereka menyebutnya rasionalisasi) pohon-pohon almond produktif yang awalnya mati-matian mereka tanam. Jumlah pohon yang dirasionalisasi mencapai setengah dari lahan, yang terpaksa dilakukan karena defisit air. Sesuatu yang lahir setelah bertahun-tahun mereka mengekstrak air tanpa batas. Di tahun 1950an, California adalah padang gersang yang disulap menjadi taman eden. Mereka melakukannya dengan membuat saluran air berjarak ratusan mil dari sumbernya untuk menyuplai kebutuhan pertanian dan kehidupan sehari-hari. Ini lantas menjadikan wilayah tersebut menjadi salah satu daerah pertanian paling produktif di seluruh dunia.

Sekarang, orang-orang di California mesti menggali sedalam 700 meter hanya untuk mendapatkan air. Sementara satu pohon almond mengkonsumsi 400 liter air setiap hari. Petani harus melakukan langkah radikal untuk beradaptasi dengan krisis atau Los Angeles, California akan menjadi Anasazi di masa kini.
Jared Diamond juga mengajukan krisis energi dan moneter sebagai salah satu hal penting yang menyumbang keruntuhan peradaban. Di masa silam, persoalan energi dan moneter ini sama-sama muncul dalam peradaban Romawi dan Maya. Meskipun kedua peradaban ini saling berjauhan dan belum terkoneksi secara langsung karena situasi teknologi telekomunikasi dan transportasi saat itu, namun keduanya memiliki sesuatu yang sama. Setelah berabad-abad dominasi kejayaannya, era kedua peradaban tersebut akhirnya habis.

Pada era Romawi, perang dan penaklukan serta imperialisme-lah yang membuat peradaban tersebut bertahan. Salah satu yang menopangnya adalah jaringan jalan. Namun seiring waktu, Romawi kehabisan energi untuk terus memperbesar wilayah dan menjalankan tata pemerintahannya.

Kini terdapat setidaknya 2 milyar mobil yang akan menjadi rongsokan berbahaya. Ini adalah salah satu penanda bagaimana absurdnya peradaban ini menyedot dan mengelola energi. Menurut para ahli, kita hanya butuh 200 tahun semenjak revolusi industri, untuk menghabisi cadangan bahan bakar berbasis fosil. Berdasarkan perhitungannya, dalam satu hari kerja manual hanya akan menghasilkan minyak sebanyak satu sendok makan. Ini berarti untuk satu tangki bensin yang tunggal setara dengan dua tahun kerja manusia!
Sementara itu, para ilmuwan dan kaum industrialis terus mengembangkan pembangkit listrik dengan teknologi terbaru. Nyatanya, teknologi yang kita pakai 50 tahun lebih itu hanya mampu mengekstrak 25 persen energi yang tersedia dan membuang percuma 75 persen sisanya. Saat hal itu dirasa tidak mencukupi, mereka kemudian mengembangkan teknologi yang dipandang bisa menghasilkan sumber energi berkali lipat : nuklir!
* * *
Peradaban adalah soal bagaimana menaklukkan alam. Hal ini berlaku semenjak peradaban pertama dimulai dengan pertanian sebagai upaya awal menundukkan dan memanipulasi alam. Pertanian terbukti mengambil lebih banyak dari tanah ketimbang yang bisa dikembalikannya. Dan karenanya Diamond memang benar bahwa hal ini adalah kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia.

Kini, penaklukan alam dalam peradaban modern ini sangatlah mengerikan. Pertambangan minyak, gas, logam dan mineral, menghasilkan lebih banyak kerusakan alam dan ketimpangan sosial ketimbang kemakmuran merata di masyarakat seperti mitos yang dijanjikan. Sementara di tempat lain, juga digambarkan bagaimana laju produksi kendaraan bermotor tak lagi terbendung. Ini akan terus menyerap permintaan akan sumber energi/bahan bakar fosil atau ‘gantinya’ berupa biofuel.

Sebagai konsekuensi inheren dalam peradaban, ancaman krisis pangan, perubahan iklim, bencana alam, gagal panen, genosida, serta perang militer besar-besaran adalah sesuatu yang melekat tak terpisahkan dari kehidupan saat ini.

Apa yang disampaikan Jared Diamond dalam Collapse ini sebenarnya bukanlah hal baru, melainkan rangkuman tentang konsekuensi dari tata kehidupan harian kita. Terbenam dalam peradaban, kita dapat menghancurkan planet ini bahkan dari kamar mandi saja. Tidak perlu ke hutan, dan cukup biarkan Unilever dan Sinar Mas menghabisi hutan tropis di Kalimantan untuk memproduksi sampo atau sabun mandi kita. Tetapi, mode kehidupan modern telah pelan-pelan menyandera kepekaan kita dalam memikirkan dampak dari kehidupan yang kita jalani saat ini. Segala sesuatu yang ‘masih jauh’ itu belum terasa padahal apa yang berlangsung di masa silam telah berulangkali membuktikan bahwa konvergensi kekeringan, kelaparan, bencana lingkungan dan kehancuran finansial adalah penyebab keruntuhan peradaban.
* * *
Peradaban adalah tema sentral dalam beberapa karya Diamond. Ia bukanlah yang pertama dan satu-satunya yang berbicara tentang tema ini. Namun karena pengetahuannya yang luas, keahliannya yang mumpuni, Diamond banyak menginspirasi gerakan radikal seperti kelompok-kelompok anarkis-hijau, anarkis-primitivis, maupun anarkis-antiperadaban secara luas.
Tetapi sang Profesor tetaplah seorang ilmuwan yang dibesarkan oleh peradaban sains itu sendiri yang belum sepenuhnya lepas dari nalar pencerahan. Nampaknya Diamond terlalu khawatir akan keruntuhan yang diramalkannya itu. Kadang pula ia menyamakan kejatuhan peradaban sebagai hal yang similar dengan berakhirnya kehidupan. Proposalnya adalah mempertahankan peradaban modern ini dengan sesuatu yang lebih berkelanjutan. Dalam tawaran praktisnya mendorong manajemen sumberdaya yang arif dan bijaksana di bawah kendali pemerintah dan swasta –sesuatu yang mustahil. Ini mengingatkan rekomendasi optimistiknya di Gun, Germs, and Steell, tentang wabah malaria dan kemiskinan akan dapat ditangani dengan baik lewat ‘kerjasama internasional yang solid’.

Ini sangat berbeda dengan ekspresi anti-peradaban dalam gerakan radikal seperti anarkis-primitivis maupun anarkis non-primitivis yang mengagendakan penghancuran peradaban sebagai satu-satunya jalan untuk mengembalikan harmoni dan kealamian yang lestari. Bukan mempertahankan, melainkan membalikkan arahnya. Dan tentu saja juga sangat berbeda dengan penghancuran dan kehancuran sebagai konsekuensi dari karakter peradaban itu sendiri.

Akhir kata, akan lebih baik jika membaca versi bukunya yang lebih lengkap dan detail. Serta untuk mengurangi kekecewaan atas rekomendasi agenda sang Professor, sering-seringlah mengingat bahwa bagaimanapun ini adalah dokumenter produksi National Geographic! [iy]

Sabtu, 16 April 2011

Kerangkeng Hari Sabtu

Image Hosted by PicturePush - Photo Sharing
Prison Break, Si Kumis Lele :p
Hari ini hari sabtu, sudah kuniatkan semalam untuk tidur sepuasnya diakhir pekan ini. Sungguh pekan yang menjengkelkan, ditendang dari kost-an, dapat kerjaan baru yang buat kau harus naik tangga 5 kali dalam sehari menuju lantai 3, dalam keadaan tidak fit lagi. Argghh…! Saya mau balas dendam dengan bermalas-malasan di akhir pekan ini. Hehehe


Sabtu subuh, mata terus melotot pada layar komputer, kebetulan sinyalnya modem lagi ciamik, juga ada teman keren yang sudi untuk ku ganggu. Lagian ini demi dia yang  punya penyakit insomnia akut, jadilah kami ngobrol lewat monitor. Hahaha. Pengeras suara dah teriak-teriak di subuh buta, itu tandanya saya harus segera cabut menuju pulau kapuk. Saya akhirnya ngorok di samping perempuan tua yang kepincut sama pesbuk. Apalagi tak lama berselang hujan pun turun, tidur makin sempurna, sungguh menyenangkan. 


Belum lagi matahari merangsek keluar dari kumpulan awan hitam, tiba-tiba kudengar suara pintu digedor kuat, akhirnya dengan malas saya bangun dan membuka pintu. Ternyata si pria bengis berhati merah muda yang datang di jam 9 pagi. Ia menanyakan apakah Opa menitip sejumlah uang padaku. Kujawab tidak. Kutanyakan perihal uang tersebut padanya. Ia bilang buat bekal si kumis lele yang sedang mendekam LP akibat kasus kemaren. Kami tak ngobrol banyak, kutawarkan sisa uang kostku yang dikembalikan si empunya kost untuk ia pinjam. Uang itu rencananya kupakai untuk menyewa kamar bar, tapi karena sampai detik ini tidak ada kejelasan di mana kamar baru yang akan kupinang sebagai tempat menghabiskan penat, makanya saya tawarkan saja padanya. Ia lantas mengajakku ke sana tuk menjenguk si kumis lele. Saya mau saja, kan nanti setelah pulang dari sana, saya bisa melanjutkan tidur panjang yang sudah kuagendakan. :)


Motor dengan warna hijaunya yang menyebalkan itu melaju kencang di hari yang mendung. Kami terlibat perbicangan panjang tentang banyak hal, mulai dari soal kuliahnya hingga kabar teman-teman yang masih setia nongkrong di taman hitam. Selain berhati pink, ia adalah pria dengan segudang informasi yang dengan lancar bercerita. Tak terasa belasan kilometer telah kami lalu, sampailah kami di LP. Setelah markir motor, kami menuju loket registrasi pengunjung atau penjenguk tahanan. Saya mengeluarkan KTP ku, si penjaga loket kemudian menyemprotkan kalimat, “kalo ada uangmu di situ, bisa ko kasi untuk biaya adminstrasi? Kalo nda ada ndapapaji”. Saya kemudian bertanya berapa jumlah uangnya, pria tua berkacamata tersebut, menjawab, “dua ribu mo”. Saya nda pikir panjang, langsung saja saya beri uang yang ada di kantong belakangku.  


Kami menuju pintu masuk yang pada sisi depannya terpampang gambar pohon beringin, dihiasi barisan huruf balok bertuliskan PEMBINAAN. Sebelum masuk, kami sempat menimpali kejadian tadi, “biar mi deh, kasi mi saja, mau ji juga makan itu bapak tadi”, kata si pria pink. Hahaha. Kami pun menyerahkan secarik kertas dari loket tadi dan ditukarkan dengan semacam Id Card pengunjung. Kami  diarahkan petugas menuju ruang penggeledahan, tubuh kami didekatkan dengan alat pendeteksi logam, tas si pria pink digeledah demi mencari barang terlarang. Saya tak tahu barang seperti apa yang telarang. Ganja mungkin..hahaha


Kami menyerahkan secarik kertas tadi ke petugas jaga kunjungan, ia kemudian mengumumkannya melalui alat pengeras suara, nama si kumis lele pun membahana seantero kompleks penjara. Tak lama berselang si lele muncul, rambut kritingnya sudah tak ada, kepalanya hanya dibalut rambut tipis, kumis lelenya juga sudah menghilang, yang tersisa hanya senyum lebarnya yang khas yang ia bagi pada kami saat bertemu. Tak banyak perubahan pada dirinya, hanya saja ia mengeluh bosan, nassami bosan ka disitu terus ko bela.hahaha.  Ia menumpahkan banyak kisah pada kami, tentang kasusnya, tentang kesehariannya di LP. Tepatnya ni si kumis punya kisah dilengkapi dengan OST dari lagunya Linkin Park “Waiting for The end”, atau The Killers dengan “Human”, hahaha, apa hubungannya coba? Cari mako sendiri! 


Seringkali saya tak menyimak apa isi obrolan ini, saya sibuk dengan isi kepalaku sendiri. Mengapa ada penjara, ada sipir, ada polisi, ada tindakan kriminal? Alah, masa mesti nganalisis lagi di tulisan ini, capek tau! Hahahaha. Pokoknya barang macam ini (penjara cuy!) itu baru ada semenjak muculnya peradaban. Kerangkeng digunakan untuk mengucilkan orang-orang yang dianggap mengancam tatanan peradaban yang ada, baik itu karena gila, terkena penyakit menular, atau sekedar protes atas banyak TAI yang bermunculan karena adanya kekuasaan tersentral. Begini mo pade singkatnya, ni barang dipake untuk menciptakan terror demi menciptakan ketertundukan pada order  yang sementara berjalan. Istilah kampusnya itu domestikasi manusia, penjinakan. Tahapan linear dari konsekuensi membangun peradaban, domestikasi alam, domestksi kehidupan harian kita! Sudah mi deh tambah parah nanti ini tulisan. :p


“Ting, ting, ting” suara bising keluar dari sumber yang tak ku ketahui di mana asalnya. Tiba-tiba ruang besuk menjadi gaduh, semua orang bercakap dengan terburu-buru, dua sejoli yang berada di samping kami pun melepaskan pelukan mereka. Banyak ekspresi keluar dari wajah mereka, ada yang muka bussu’, sedih, tetapi tetap ada simpul kecil yang melintang di beberapa wajah mereka. Ini tanda jam besuk sudah berakhir, si lele pun kembali melempar senyumnya kepada kami, “fella, buku nah nanti, bawakan ka’” sergap lele. Kamipun mengangguk dan pamit pulang. 


Mendung masih saja nongkrong dilangit Makassar, membuat perjalanan kami tak terlalu penat. Si Hijau kali ini tak terburu-buru lagi karena di hari Sabtu si pria berhati pink berwajah garang tak punya agenda khusus, saya pun begitu. Dan kamipun kembali tenggelam dalam percakapan tak penting demi menolak kebosanan perjalanan menuju kota yang punya obsesi gila menjadi kota dunia. :p

Selasa, 12 April 2011

Ini tentang Ibu, Tanta atau Uni di Jalan Bung!

Untuk kedua kalinya, saya bangun pagi, pagi sekali. Mungkin karena kondisi tubuh yang buruk memaksa ku untuk beristirahat lebih cepat di malam hari. Tapi, sama ji bangunnya juga terlalu cepat, hehehe..kenapa jam tidur dan bangunku seperti orang kantoran ya? Padahal ini rutinitas yang paling menyebalkan yang hampir setiap orang harus jalani, tidur cepat (demi kesehatan dan kebugaran) dan bangun di subuh hari (agar tak telat masuk kerja). Hei, kau melakukannya hampir tiap hari? Kau sinting ya? Hahahaha

Sudah-sudah, nanti saya melebar membahas panjang masalah alienasi dan pasar kerja, hahaha, kayaknya bukan di sini deh tempatnya. Kebetulan hari ini hari pertama ku cerai dari pondokan laknat perusak komputerku itu, untuk sementara saya ngungsi dulu di tempatnya anak-anak di Wesabbe, sambil mencari pondokan yang pas. Saya sebenarnya sedih berpisah dengan jalan bung. Tempat pertama kali saya habiskan malam di kota Makassar ya di bung ini. Saya masih ingat, ketika itu saya nda bisa tidur, terbangun jam 4 subuh, saya begitu terganggu dengan banyaknya suara yang berteriak-teriak melalui pengeras suara di subuh hari. Banyak dudui, deh, sampe-sampe sakit kepalaku.

Tapi ada yang hal yang tidak bisa kulupa dari jalan bung. Sebuah Warung makan, ia tak mempunyai nama jadi saya dan teman-teman dengan bebas menyebutnya warung tanta, ibu, atau Uni, nama anak dari ibu penjual makanan berat yang ketika itu tak jauh dari pondokan pertamaku. Seperti warung makan lainnya, ibu sebelum siang sudah siap dengan food gallery-nya, ada perkedel, ikan goreng, tempe tahu,  sayur bening, tumis, santan. Sungguh tak jauh berbeda dengan jenis masakan di rumah di kampung, hal ini membuatku tak perlu bersusah payah beradaptasi dengan jenis makanan di Makassar yang ku kira akan sangat berbeda. 

Ketika menjadi mahasiswa baru universitas hampir swasta Unhas di tahun  2004 silam, seingatku harga makanan dulu di Ibu itu seporsinya Rp 2.500,-. Itu sebelum BBM naik setahun kemudian. Ada satu hal yang menarik menurutku dari konsep Ibu menjual makanan sehingga mampu menarik banyak pembeli. Yaitu sistem prasmanan, kita bebas mengambil sendiri, mulai dari jenis makanan hingga jumlahnya yang ingin kita lahap di tempat itu. Bebas cuy, hanya saja kalau lauk utama seperti ikan atau telur kamu masukkan dalam satu porsi itu harganya agak sedikit naik, tapi seingatku untuk yang lainnya itu kalo ditambah nda dikenakan biaya tambahan, nyamanna makan sepuasnya. Hahaha

Ibu pun tidak hanya membangun relasi ekonomi semata dengan kami para anak kost, yang bisanya hanya sebatas pembeli dan penjual. Ia selalu menanyakan kabar kami, bagaimana kuliah kami, ospek kami, bahkan apa sudah ada pacar kami.hehehe. Ibu bertindak layaknya ibu, senyumnya yang membuat nyaman, repotnya ia ketika kami datang berbondon-bondong dengan memasang wajah bajipur (bajingan cipuru’) sepulang kuliah. Relasi emosional itu penting lho di tengah masyarakat sakit seperti sekarang ini yang hanya mengutamakan satu hal, pengejaran profit sebanyak-banyaknya. Peradaban kita sungguh dibangun pada satu pondasi yang lucu menurutku, yaitu kegilaan dan kesakitan. (aduh mulai lagi deh, kambuh :P)

Saya juga selalu melihat perubahan padanya dan keluarganya. Dulunya ibu rambutnya hitam lebat, entah kenapa setahun belakangan saya perhatikan sudah banyak uban, alias banyak rambut putih diantara arsiran rambut hitamnya. Saya juga sering bercanda dengan cucunya yang ketika dulu masih balita, deh sekarang sudah sekolah di SD Inpres Bung. Atau anak gadisnya Uni yang kini sudah menjadi Ibu dari bocah botak bermata sipit hasil perkawinannya dengan seorang pria gempal, hitam dan ramah. 

Semua berubah, Ibu sudah mengganti TV kusam tua miliknya dengan TV baru dan canggih. Hehehe. Jadilah saya sering numpang nonton berita siang kalo sempat makan di situ. Sekarang ibu sudah jauh, dari wesabbe lumayan nampar betis lho kalo mau jalan kaki ke Bung :P. Untuk beberapa saat saya membiarkan lidahku jauh dari masakannya, jauh dari ibu dan nanti sekalian mampir bisa kutumpahkan semua kerinduanku, hahaha, makan cuy sampe poge’.

Senin, 11 April 2011

Sepasang Gumpalan Daging

Di saat normal pun ia tampak jadi anomali di saluran kerongkonganku. Sesekali aku melihat bayangannnya melalui cermin. Rupanya pasangan ini sangat betah berlama-lama menempel di tubuhku. Katanya, mereka ini adalah pasukan penahan invasi virus dan kuman yang mau masuk ke tubuh melalui jalur kerongkongan. Dan seingatku mereka mulai bekerja bereaksi terhadap kondisi lingkungan yang buruk saat masih harus memakai seragam putih merah. Ketika tubuh tidak fit seperti saat saya menuliskan ini, di serang flu, kemudian sakit kepala, mereka pun bereaksi membengkak dan memicu produksi air liur dan dahag. Awweh...sungguh menyebalkan. 

Saya tidak tahu apa istilah medisnya, tapi orang-orang sering bilangnya kalo mereka adalah amandel. Gumpalan daging yang tumbuh pada saluran kerongkongan memang dirancang untuk tujuan khusus. Saat mereka membengkak ada beberapa hal yang bisa dilakukan sendiri untuk membuat amandel kembali menyusut dan infeksi tidak terjadi. Nih ada beberapa poin yang sempat ku curi dari blog nya orang hehehe:
* Diusahakan untuk minum banyak air atau cairan seperti sari buah, terutama selama demam.
* Jangan minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan, makanan awetan yang diasinkan, dan manisan.
* Berkumur air garam hangat 3-4 kali sehari.
* Menaruh kompres hangat pada leher setiap hari.
* diberikan terapi antibiotik (atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk mencegah komplikasi.
* Istirahat yang cukup. 

Sepertinya semua sarannya bisa dikategorikan DIY yah? Hehehe Do It Yourself, dude! Alias bisa dilakukan sendiri. Hehehe. Pace juga kasi resep, katanya perasan jeruk nipis dan air hangat membantu mempecepat amandel itu gembos. Ah, saat-saat begini jadi rindu hangat rumah. Hehehe. 

Mantap cuy, lagi beringus begini kita embat dia
Kayaknya memang penyebab membengkaknya tuh tameng berbahan dasar daging adalah kondisi eksternal seperti cuaca, atau masuknya debu, atau bahkan bahan aditif yang terkandug dalam makanan yang masuk ke kerongkongan. Sulit memang mencari kondisi yang aman (menurut katergori kesehatan) di tengah kota metropolitan yang sedang dihantam sihir pembangunan, seperti Makassar. Belum lagi kenyataan bahwa asupan makanan yang kita konsumsi sehari-hari hampir seluruhnya adalah hasil pertanian transgenik. Dan juga banyaknya zat aditif makanan artifisial yang ditambahkan produsen makanan siap saji, sebagai upaya untuk menjawab mekanisme pasar yang punya hukum permintaan dan penawaran. Dan juga sistem ekonomi kapitalisme mengamini persaingan bebas tanpa batas antara pengusaha, siapa yang tidak memproduksi dengan murah dan menjualnya dengan lebih murah dari perusahaan lain, maka ia akan mati. Menger jako? Saya tidak. Hehehehe

Jika sudah begitu kenyataannya, hanya ada beberapa pilihan kejam yang harus ditempuh produsen makanan agar bisa memangkas biaya produksi, yang pertama menurunkan upah buruh. Jika pimpinan serikat buruh sudah disuap, akhirnya anggotanya manut, langkah lainnya adalah memakai bahan aditif makanan untuk menjaga rasa tetap enak walaupun dikurangi jumlah bahan baku yang betul-betul bahan makanan asli. Selain itu, zat aditif berupa monosodium glutamat atau yang na bilang maceku vitsin itu memang luar biasa bekerja menyedapkan makanan, hmm bubuk ajaib, aditif sekaligus adiktif.  Tapi deh, ko tau apa yang dampak jangka panjangnya bagi tubuh kalo terus-menerus dikonsumsi sepanjang hidup? Nanti pi kucari lagi. Hahaha

Belum selesai tadi soal tumbuhan dan hewan transgenik yang kita konsumsi sehari-hari. Aduh tapi ini ingus keluar-keluar mi. Kalo penasaran soal ini ada buku bagus pernah kubaca judulnya Rekayasa Genetik: Impian atau Petaka, terbitannya Insisst Press. Hehehe. Sampai nanti ya, saya mau menyedu mie instan  dulu, sarapan pagi anak kost, hehehe. Wah, ada MSG nya hahahaha. Tak apa, masih ada Rumah Sakit yang mengalunkan lagu Sakit Sendiri nya buatku.

Minggu, 10 April 2011

Menjaga Kantong Ajaib

Kantung Ajaib Sebenarnya
Kantung mataku tampak seperti jelaga, melingkar di sekelilingnya dan belum juga mau menyusut, hari ini pun saya mesti bangun pagi setelah sebelumnya berjibaku dengan setumpuk pekerjaan hingga  subuh hari. Jenis pekerjaanku ini mengandalkan satu hal, kelihaian jari ku menari di atas keyboard komputer. Ya, menjadi seorang yang bertanggungjawab untuk mendokumentasikan sebuah kegiatan dalam bentuk tulisan membuatku mampu meninggalkan teknik lama mengetik dengan ’11 jari’ menuju ‘unlimited finger for typing shit’ (hahahaha). Namun tetap saja, durasi kegiatan yang begitu panjang membuat ku harus menuliskan semuanya ke dalam puluhan bahkan ratusan lembar, yang memakan waktu cukup lama.  Dan alat satu-satunya yang saya punya agar bisa merampungkannya adalah komputer butut peninggalan masa kuliah dahulu. Dia sungguh kuat, hingga hari ini mampu menemaniku ditiap bilik masa yang ku lalui. 

Jika ia bisa bicara, mungkin komputer ku ini akan melayangkan protes padaku. Kenapa ia begitu jarang saya istirahatkan, hampir tak pernah aku bersihkan atau sekedar menambahkan hardware baru untuk membantunya ‘berlari’ saat bekerja. Ah, ia memang temanku yang setia. Sudah 4 ruang kamar sewa yang kutempati, dan ia selalu punya spasi di tiap kamar tersebut. Bagiku, ia seperti kantung ajaib Doraemon yang begitu berharga dalam kondisi apapun. Selagi bosan, saya bisa memutar lagu atau menghibur diri dengan game miliknya. Jika banyak tugas atau kerjaan, ia punya alat yang pas agar pekerjaanku cepat selesai. Saat saya rindu dengan semua temanku, aku bisa menggapainya lewat dunia maya melalui layarnya yang mulai kusam itu. Jika ingin membaca, ia punya segunung bahan bacaan, artikel buku dan sebagainya. Laparnya mata ini ketika ingin nonton film, ia sudah kupersiapkan dengan setumpuk file film menarik. Hei kamu, komputerku , kau sangat berguna. hahahahaha

Meskipun kau sering sakit akibat virus brengsek buatan korporasi antivirus rakus itu, namun sedianya saya selalu bisa menemukan obat yang pas. Jadilah kau sangat jarang sakit, apalagi sampai tidak bisa bekerja. Tetapi setahun terakhir, kau dan aku berhadapan dengan masalah baru, kelayakan pasokan listrik untuk bisa membuat otot dan otak mu bekerja sama sekali buruk. Seringnya listrik rumah kost padam akibat kelebihan pemakaian yang tidak sebanding dengan daya normal yang terpasang membuat perangkat kerasmu compang camping. Gudang data mu alias hardisk adalah organ tubuh pertama yang menjadi tumbal akibat krisis listrik ini. Kemudian disusul bunyi bising dari perangkat audio pada motherboard mu. Semuanya sungguh mengganggu. Puncaknya ketika hardisk berkapasitas 160 GB harus saya cabut dari tubuhmu dan menggantinya dengan yang baru karna rusak parah. Ini namanya“Sungguh terlalu” , kata bang Rhoma.

Bukannya tanpa sebab, mengapa listrik di kost ke empatku ini sering ‘latto’. Kehadiran kulkas milik ibu kost yang memutuskan untuk ikut tinggal di dalam rumah kost menjadi penyebab utama ketidakmampuan daya 900 watt milik rumah ini memikul semua hisapan listrik alat elektronik yang dimiliki semua penghuni. Jadilah, bapak meteran mengambil langkah taktis ketika pemakaian melewati batas kemampuan, mematikannya!

Ketidakmampuanku membeli UPS yang punya fungsi seperti baterai isi ulang pada laptop dan handphone, agar mencegah komputer ikut padam ketika listrik mati, membuat organ tubuh si dia rontok satu persatu. Karena komputer memiliki banyak komponen yang sangat sensitif terhadap perubahan tegangan, apalagi listrik yang tiba-tiba terputus pasokannya. Seorang teman yang jago soal komputer pernah menjelaskannya padaku, ia bilang hardisk memiliki dua komponen vital, jarum pembaca sekaligus penulis, dan piringan tempat menaruh/menuliskan data. Jarak antara keduanya ia gambarkan hanya setebal rambut manusia saat tidak dinyalakan. Saat bekerja, kedua permukaannya bersentuhan dengan batas pekerjaan yang diperintahkan, apakah membaca atau menuliskan data. Dan ketika listrik padam, kedua komponen ini saling bergesekan tajam tak terkontrol akibat kehilangan daya. Jadilah piringan tersebut tergores sana sini. Sisi yang tergores biasanya disebut bad sector, yang sudah tidak bisa lagi dipakai untuk ditulis atau dibaca oleh jarum ‘sakti‘. Semakin sering komputer mati tak wajar alias tidak dimatikan dengan perintah kita melalui OS yang kita install, maka semakin banyak bad sector yang muncul, bagai panu yang menjalar ke seluruh tubuh. Akhirnya, bang! Hardisk totally broken, damn it!

Dengan jerih payah mengetik semua dokumentasi kegiatan yang diselenggarakan sebuah lembaga donor asal negeri yang paling ‘kassa’ produksi sepeda motor itu, saya akhirnya mampu membeli hardisk baru. Kapasitasnya juga lumayan 1 Tera Byte, ‘senangnya dalam hati’seperti kata si Ahmad Dhani dalam lagu daur ulangnya madu tiga. Tetapi akar permasalahan belum juga terselesaikan, listrik di rumah kost masih saja sering padam. Di minggu ke tiganya, hardisk baru mulai menujukkan tanda-tanda ketidaknormalannya. Salah satu partisinya setiap kali log on OS, itu seringkali meminta disk checking. “Anjritt, masa’ hardisk ku yang baru sudah rusak lagi”. Saya memendamya dalam-dalam, lagian saya seringkali melupakannya karena tumpukan kesibukan di tiap harinya. 

Tibalah saya pada satu momen, setelah merampungkan dokumentasi tulisku saya kemudian didaulat untuk menjadi sekretaris kegiatan lokakarya jurnalistik bagi alumnus Jurusan Ilmu Kelautan Unhas. Namanya juga sekertartis, sedikit banyak bersentuhan dengan tugas ketik mengetik berbagai keperluan adiministrasi untuk mendukung terlaksananya kegiatan ini. Dasar brengsek, di pagi hari nan cerah ketika saya sedang olah jari di atas keyboard listrik tiba-tiba padam, selang beberapa menit kemudian menyala kembali. Dengan sesak di dada menahan jengkel, saya menyalakan kembali komputerku, mencari dokumen yang baru saja ku ketik. Saya mulai merapikan beberapa bagian yang tidak sempat disave, saya mesti mengetiknya kembali, bertambahlah kekesalanku. Tak lama kemudian, listrik kembali padam, saya tak bisa membendung lagi amarahku, keluarlah makian dari mulut, ditambah tendangan telak ke badan pintu kamar. 

Saya lantas mencari biang kerok permasalahan yang tak lain adalah pemilik rumah kost. Saya mendapatinya di teras rumah. Saya membuka percakapan dengan nada tinggi, menumpahkan kekesalanku selama ini, tentang listrik yang sering kali padam, daya listrik yang tak sesuai dengan konsumsi listrik semua penghuni dan tentu saja mengenai kepemilikan kulkas jahanam empunya kos yang membuat ini semua terjadi. Percakapan menemui jalan buntu, karena saya dan bos kos diselimuti amarah. Saya lantas melontarkan peryataan menantang, “jika tidak ada solusi, saya menolak membayar uang listrik untuk bulan ini, jika anda tidak terima, boleh usir saya tapi kembalikan uang sewa saya”. Saya pun meninggalkannya dalam kebisuan, menuju kamar ku untuk melanjutkan pekerjaan dan berharap listrik tidak lagi padam. Selang beberapa saat empunya kos menyatroni kamarku. Membawa secarik kertas dan beberapa lembar uang merah. Rupanya ia menerima permintaanku untuk pindah, entah karena ia tidak suka dengan kelakuanku tadi, atau apa. Saya pun langsung menerima uang itu dan mengajukan tenggat waktu pindah selama 1 minggu . Ia menyetujuinya, saya menghindari percakapannya soal listrik tadi, karena saya sudah bosan dengan argumennya yang kering solusi.  Saya menutup percakapan  itu dengan segera karena harus melanjutkan pekerjaan saya. 

Tapi setelah saya pikir-pikir, biaya hidup yang terlalu tinggi menyebabkan pemilik kost-kostan segan untuk menaikkan daya listrik di tempat kami. Jika daya listrik dinaikkan, maka biaya beban normal tanpa pemakaian juga akan naik, tentu saja hal ini makin memberatkan penghuni rumah kost ini. PLN sebagai institusi di bawah naungan pemerintah terus mendapatkan rapor buruk sebagi BUMN yang paling sering mengalami kebocoran dana, penyebabnya apa lagi, ya kalau bukan korupsi. Di tiap akhir pelaporan anggaran, PLN selalu mengumumkan kerugian yang besar, padahal dana segar yang dihisap dari konsumennya yaitu masyarakt itu sendiri, lebih banyak masuk ke kantong pejabat terasnya. Relasi sosial yang mirip dengan bentuk upeti jaman feodal dahulu nyatanya terjadi di masa sekarang, namun dengan bentuk yang lebih samar. Kami para pekerja upahan, bersusah payah banting tulang di tiap jam kerja, lantas seketika dirampok penghasilan kami melalui pembayaran tagihan listrik yang tinggi. Dan nyatanya kenaikan tarif dasar listrik di tiap masa setelah perhelatan pemilu besar-besaran di negeri ini, sama sekali tidak di ikuti peningkatan pelayanan yang berarti. Sebut saja pemadaman bergilir yang berlangsung setahun silam di kota Makassar. Kita bisa melihat betapa tololnya pemerintah dengan menyetejui membeli dan membangun infrastruktur PLTA Bakaru Pinrang tanpa menyiapkan tenaga teknis yang mampu memelihara dan memperbaiki peralatan tersebut. Akibatnya ketika satu elemen kecil dalam mesin pada PLTA Bakaru rusak, kita harus menunggu berbulan-bulan hingga datang tenaga teknis dari Jerman, asal mesin tersebut dibuat. Dan kami sebagai konsumen dipaksa menikmati pemadaman bergilir yang menghancurkan property elektronik kami. Dan anehnya, tidak ada perubahan signifikan dari jumlah tagihan listrik sebelum adanya pemadaman dan setelahnya. Sungguh korup PLN ini! 

Dari pada saya terus menggerutu dengan analisa pas-pasan dan sotta’ mending saya akhiri saja. Sekedar informasi boy, saya menulis gerutuan ini 4 hari setelah saya mengajukan protes itu dan masih belum menemukan kamar kost yang baru untuk tinggal nantinya. Oh Iya, juga sementara berlangsung pelatihan atau Lokakarya Jurnalistiknya ISLA, dan Nurhady Sirimorok yang didaulat menjadi pematerinya mampu membakarku untuk kembali menulis, maka jadilah onggokan huruf-huruf ini. :P

Resensi Film: Ikigami*

Pemerintah Jepang turut andil dalam pelaksanaan sebuah program di mana warga negara yang beumur di bawah 24 tahun, yang memenuhi syarat akan dipilih secara acak, untuk ditentukan hari kematiannya. Sampai pada umur 24 tahun, Kengo Fujimoto diangkat sebagai salah satu dari sekian banyakpekerja yang bertanggung jawab untuk menangani Ikigami, atau surat kematian, memberitahu orang yang hanya tinggal menyisakan umur satu hari atau 24 Jam untuk hidup. Ini hanya cuplikan, walaupun begitu, cara kematian ini sebenarnya disebabkan oleh nanokapsul yang disuntikkan pada waktu masih kanak-kanak. Nanokapsul ini hinggap pada pembuluh darah arteri menunggu diaktifkan oleh pemerintah untuk meledakkan pembuluh darah si korban. Fujimoto sangat menentang aturan ini, tetapi ia tidak dalam posisi yang tepat untuk bisa berbicara lantang melawan hal ini. Malahan ia melanjutkan pekerjaannya seperti diharapkannya. Saat menjalankan tugas ia harus berhadapan dengan berbagai respon emosional dari korban yang mengetahui bahwa umurnya tinggal 24 jam. (film.com)


*ditranslate seadanya dari film.com
-film ini membutikan bahwa negara memang berbahaya bagi siapapun termasuk kamu!-
(dicuri dari blog lama ku hehehe)

Merayakan Gayung Baru

Tepat pukul 01.25 pagi, blog baru ku ini lahir. Ia adalah perayaan dari matinya wadah lama ku yang mengarat karena tak pernah aku urus. Semoga bayi baru ku ini tak bernasib sama dengannya, karena aku punya modal semangat menggebu untuk selalu menulis, latahan dari pelatihan menulis yang baru saja aku ikuti. Pemateri dan fasiltatornya dengan sangat keren membuatku bergairah untuk menulis lagi.

Aku mengambil nama gayung plastik dari sebuah judul cerita pendek dalam anotologi cerpen milik Puthut EA Kupu-Kupu Bersayap Gelap. Gayung plastik adalah salah satu janin dari rahim Kupu-Kupu Bersayap Gelap yang begitu berkesan olehku. Kisah tentang orang gila (dalam terma umum bagi orang yang bertingkah di luar kewajaran) yang mewarnai perjalanan keseharian warga di sebuah kompleks perumahan. Jika kamu ingin mengetahui mengapa cerita ini bisa tertanam dalam kepalaku, kusarankan kau untuk membacanya. Segera curi dari toko buku terdekat, atau segera pinjam dari temanmu. :p

Ketika menulis catatan pembuka ini, saya sedang merayakan kelahiran gayung baru, sekaligus menabur bunga di pusara gayung lapuk tak bertuan.  :(  -_-' :)