![]() |
| Prison Break, Si Kumis Lele :p |
Hari ini hari sabtu, sudah kuniatkan semalam untuk tidur sepuasnya diakhir pekan ini. Sungguh pekan yang menjengkelkan, ditendang dari kost-an, dapat kerjaan baru yang buat kau harus naik tangga 5 kali dalam sehari menuju lantai 3, dalam keadaan tidak fit lagi. Argghh…! Saya mau balas dendam dengan bermalas-malasan di akhir pekan ini. Hehehe
Sabtu subuh, mata terus melotot pada layar komputer, kebetulan sinyalnya modem lagi ciamik, juga ada teman keren yang sudi untuk ku ganggu. Lagian ini demi dia yang punya penyakit insomnia akut, jadilah kami ngobrol lewat monitor. Hahaha. Pengeras suara dah teriak-teriak di subuh buta, itu tandanya saya harus segera cabut menuju pulau kapuk. Saya akhirnya ngorok di samping perempuan tua yang kepincut sama pesbuk. Apalagi tak lama berselang hujan pun turun, tidur makin sempurna, sungguh menyenangkan.
Belum lagi matahari merangsek keluar dari kumpulan awan hitam, tiba-tiba kudengar suara pintu digedor kuat, akhirnya dengan malas saya bangun dan membuka pintu. Ternyata si pria bengis berhati merah muda yang datang di jam 9 pagi. Ia menanyakan apakah Opa menitip sejumlah uang padaku. Kujawab tidak. Kutanyakan perihal uang tersebut padanya. Ia bilang buat bekal si kumis lele yang sedang mendekam LP akibat kasus kemaren. Kami tak ngobrol banyak, kutawarkan sisa uang kostku yang dikembalikan si empunya kost untuk ia pinjam. Uang itu rencananya kupakai untuk menyewa kamar bar, tapi karena sampai detik ini tidak ada kejelasan di mana kamar baru yang akan kupinang sebagai tempat menghabiskan penat, makanya saya tawarkan saja padanya. Ia lantas mengajakku ke sana tuk menjenguk si kumis lele. Saya mau saja, kan nanti setelah pulang dari sana, saya bisa melanjutkan tidur panjang yang sudah kuagendakan. :)
Motor dengan warna hijaunya yang menyebalkan itu melaju kencang di hari yang mendung. Kami terlibat perbicangan panjang tentang banyak hal, mulai dari soal kuliahnya hingga kabar teman-teman yang masih setia nongkrong di taman hitam. Selain berhati pink, ia adalah pria dengan segudang informasi yang dengan lancar bercerita. Tak terasa belasan kilometer telah kami lalu, sampailah kami di LP. Setelah markir motor, kami menuju loket registrasi pengunjung atau penjenguk tahanan. Saya mengeluarkan KTP ku, si penjaga loket kemudian menyemprotkan kalimat, “kalo ada uangmu di situ, bisa ko kasi untuk biaya adminstrasi? Kalo nda ada ndapapaji”. Saya kemudian bertanya berapa jumlah uangnya, pria tua berkacamata tersebut, menjawab, “dua ribu mo”. Saya nda pikir panjang, langsung saja saya beri uang yang ada di kantong belakangku.
Kami menuju pintu masuk yang pada sisi depannya terpampang gambar pohon beringin, dihiasi barisan huruf balok bertuliskan PEMBINAAN. Sebelum masuk, kami sempat menimpali kejadian tadi, “biar mi deh, kasi mi saja, mau ji juga makan itu bapak tadi”, kata si pria pink. Hahaha. Kami pun menyerahkan secarik kertas dari loket tadi dan ditukarkan dengan semacam Id Card pengunjung. Kami diarahkan petugas menuju ruang penggeledahan, tubuh kami didekatkan dengan alat pendeteksi logam, tas si pria pink digeledah demi mencari barang terlarang. Saya tak tahu barang seperti apa yang telarang. Ganja mungkin..hahaha
Kami menyerahkan secarik kertas tadi ke petugas jaga kunjungan, ia kemudian mengumumkannya melalui alat pengeras suara, nama si kumis lele pun membahana seantero kompleks penjara. Tak lama berselang si lele muncul, rambut kritingnya sudah tak ada, kepalanya hanya dibalut rambut tipis, kumis lelenya juga sudah menghilang, yang tersisa hanya senyum lebarnya yang khas yang ia bagi pada kami saat bertemu. Tak banyak perubahan pada dirinya, hanya saja ia mengeluh bosan, nassami bosan ka disitu terus ko bela.hahaha. Ia menumpahkan banyak kisah pada kami, tentang kasusnya, tentang kesehariannya di LP. Tepatnya ni si kumis punya kisah dilengkapi dengan OST dari lagunya Linkin Park “Waiting for The end”, atau The Killers dengan “Human”, hahaha, apa hubungannya coba? Cari mako sendiri!
Seringkali saya tak menyimak apa isi obrolan ini, saya sibuk dengan isi kepalaku sendiri. Mengapa ada penjara, ada sipir, ada polisi, ada tindakan kriminal? Alah, masa mesti nganalisis lagi di tulisan ini, capek tau! Hahahaha. Pokoknya barang macam ini (penjara cuy!) itu baru ada semenjak muculnya peradaban. Kerangkeng digunakan untuk mengucilkan orang-orang yang dianggap mengancam tatanan peradaban yang ada, baik itu karena gila, terkena penyakit menular, atau sekedar protes atas banyak TAI yang bermunculan karena adanya kekuasaan tersentral. Begini mo pade singkatnya, ni barang dipake untuk menciptakan terror demi menciptakan ketertundukan pada order yang sementara berjalan. Istilah kampusnya itu domestikasi manusia, penjinakan. Tahapan linear dari konsekuensi membangun peradaban, domestikasi alam, domestksi kehidupan harian kita! Sudah mi deh tambah parah nanti ini tulisan. :p
“Ting, ting, ting” suara bising keluar dari sumber yang tak ku ketahui di mana asalnya. Tiba-tiba ruang besuk menjadi gaduh, semua orang bercakap dengan terburu-buru, dua sejoli yang berada di samping kami pun melepaskan pelukan mereka. Banyak ekspresi keluar dari wajah mereka, ada yang muka bussu’, sedih, tetapi tetap ada simpul kecil yang melintang di beberapa wajah mereka. Ini tanda jam besuk sudah berakhir, si lele pun kembali melempar senyumnya kepada kami, “fella, buku nah nanti, bawakan ka’” sergap lele. Kamipun mengangguk dan pamit pulang.
Mendung masih saja nongkrong dilangit Makassar, membuat perjalanan kami tak terlalu penat. Si Hijau kali ini tak terburu-buru lagi karena di hari Sabtu si pria berhati pink berwajah garang tak punya agenda khusus, saya pun begitu. Dan kamipun kembali tenggelam dalam percakapan tak penting demi menolak kebosanan perjalanan menuju kota yang punya obsesi gila menjadi kota dunia. :p


alhendulillah.. bagus tulisanmu :) !
BalasHapus