Senin, 04 Juli 2011

Imanjinasi, jenis kudapan apa lagi itu?


Sungguh sudah  lama...tidak..tidak..baru saja beberapa hari kok..meninggalakan kota sombong ini kadang dipelukan untuk menjaga pikiranmu supaya tetap waras. Ah...memang sedari awal kota ini dipenuhi orang gila kok dan saya tak mau membahasnya di sini. Hehehe. Ayolah, kau harus datang kembali secepatnya dan gila lagi bersamaku, bersama ubin jalan setapak, bersama ruko kecil di sudut jalan, bersama lubang-lubang di tengah jalan yang selalu kita lalui bersama hampir tiap hari.
Kau tahu? Sudah berapa hari ini saya sedang tertarik dengan sebuah kata. Ia adalah imajinasi, mungkin kata ini yang membuat beberapa dari kita tetap waras, dan jangan mendebatku soal kata ‘waras’ ini. Ayolah kita sama-sama tahu mana yang dibilang waras dan yang tidak, walaupun ada tepi yang tak jelas diantara keduanya. Alah, jika kau menginginkan lebih....ahh pusing saya dibuatnya.
Saya dan seorang perempuan tua, beberapa waktu yang lalu, ya kami berdua tersesat dalam percakapan kami sendiri, percakapan acak tentang banyak hal -yang kau tahu- ini sangat mengandalkan imajinasi. Entah bagaimana, ia lantas bertanya soal apa yang kau lakukan ketika masyarakat kita sudah meninggalkan gaya hidup dengan opresi kelas sosialnya seperti sekarang ini. Banyak hal kubilang, yang pertama ya mencukupi kebutuhan dasarku dengan bertani. Mendirikan Adobe, bertetangga, kadang-kadang menenun, membuat sebuah lagu untukmu, mungkin juga melukis wajahmu, atau menemukan  lelucon yang bisa membuatmu tertawa (hahaha..I’m still working on it).
Saya meninggalkan percakapan itu, ia punya si bibir mancung sekarang untuk mengobrol, dan tentu saja menguras imajinasinya. Saya kemudian sibuk dengan kepalaku sendiri, menciptakan dunia sendiri setelah menyedu kopi dan membakar rokok murah yang kubeli dari warung sebelah rumah. Dunianya mungkin seperti ini:
Siang tadi ketika hendak membeli makanan, motor hitam rongsokanku itu kupacu di jalan menuju warung makan. Disepanjang jalan tampak beberapa bocah memegang kaleng yang dililiti benang, mereka sedang bermain layang-layang pikirku. Yap, benar sekali beberapa layangan tampak dilangit di atasku. Jika ada kendaraan yang lewat, mereka akan meninggikan benangnya agar tak nyangkut pada motor atau mobil yang lewat. Sungguh sulit mendapat tanah lapang di tengah kota sombong ini pikirku, dan mereka begitu gigih bermain di jalan raya yang tak kenal belas kasih itu.
Karenanya pula saya jadi ingat masa kecil ku di kota kecil yang sangat mengandalkan pelabuhannya untuk tetap bisa berdenyut. Tentang bau tanah merah, kaki yang berdarah setelah berlarian di tengah tanah berbalut rumput liar, tentang baju dan celanaku yang selalu sangat kotor ketika pulang ke rumah di sore hari untuk mandi kemudian makan. Tentang itik yang kupelihara dan kucuri telurnya di tiap pagi untuk kujadikan sarapan. Tentang rawa tempat memancing ikan gabus yang seringkali berakhir dengan kegagalan membawa pulang tangkapan. Jika sudah begitu, saya akan mengambil jaring bekas ayakan pasir milik tetangga dan memanggil beberapa temanku untuk menjaring ikan brengsek yang tak mau memakan umpanku. Hahaha. Mereka berakhir di panggangan dengan arang dari ranting kayu dan dedaunan. Itu hanya hanya masa kecil dan untunglah saya masih bisa mengingatnya.
***
Semalam, dengan telpon genggam pemberian saudaraku saya menerima telponmu dari kota yang jauh. Katamu tadi siang kamu baru saja menggoreng tempe dan membuat kue, senang mendengarnya :p. Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu kita pergi ke toko buku, mencari-cari buku yang cocok. Aku menemukan satu di toko buku pertama yang sebenarnya lebih mirip swalayan satationary. Judulnya Ketika Manusia Kloning Berkuasa, ketika pertamakali melihatnya, judul dan covernya sungguh tak menarik, tapi setelah membaca sinopsisnya saya jadi tertarik. Ya, imajinasi yang kuat pikirku, hmm ..tentang bagaimana kehidupan manusia di masa yang akan datang. Oh bukan, ketika manusia tak ada lagi, berganti manusia cebol tak beralat kelamin yang berkembang biak dengan cara mengkloning dirinya sendiri. Tema fiksi tentang peradaban yang hancur, akan hancur, telah hancur, cukup banyak loh. Sederet buku dan film tentang tema inipun ku koleksi diantranya the road, the day the earth stood still, resident evil, the matrix, the book of eli, terminator, kulupai sisanya. Dan kau tahu? Entah mengapa saya begitu menikmati ketika adegan dalam film atau novel yang kubaca berakhir dengan kehancuran peradaban. Sayu sepertinya sudah sinting.  :p
Tentu penulis novel dan naskah film bertema ini punya imajinasi yang cukup kuat, dan juga dibantu oleh pengetahuan penulis dan perspektifnya yang radikal dalam melihat dunia hari ini. Dan imajinasiku hanya berhenti di sini? Coba kuingat-ingat dulu, apa imajinasi ku tentang masa depan? Saya berpikir kuat, tak menemukannya, hanya ada bayang samar, hmm ...saya melihat  dirimu didalamnya. Dan itulah imajinasiku untuk masa depan! :P

Senin, 09 Mei 2011

Untuk Sesaat Semua Menjadi Kami

Kami, ya kami! Hampir semuanya kami tinggalkan, tidak pekerjaan, tidak pula agenda pribadi. Di sabtu yang menjemukan ini, kami menutup pintu kamar dan meninggalkan dunia beserta semua adegan sirkusnya di luar sana. Untuk beberapa jam ke depan kami biarkan semua tergelatak, berkelahi, berserakan, menangis, tertawa, melata, melompat, menari, merenung, membaca, menulis, membisu, marah,  pasrah, terbang, terhempas, tertindih, perih, sendiri. 


Di ruang panas ini, hanya ada kipas kecil yang tak berdaya menawar terjangan mentari. Kami menemani sebuah kardus using berisi kaleng-kaleng berisi tinta yang hendak melompat dari mulut kardus. Ia jadi penawar dialog yang berujung pada bisu yang sesekali hadir di antara hangatnya perbincangan. 


Untuk beberapa waktu kemudian, biarkan kami memiliki dunia kami sendiri. Menikmati cumbu mentari sambil menggenggam erat jemari. Biar esok kami bisa sedikit mengerti di mana kami sedang berdiri, dan di setapak mana kami sedang berlari.

Minggu, 01 Mei 2011

Menantimu di Tanah Rawa

Kami membuat sebuah janji, lebih  tepatnya disebut kesepakatan untuk tak bertemu selama tiga hari, juga tak saling menghubungi. Hahaha. Aneh, sungguh persetujuan yang menyebalkan di antara membaranya kasihku padanya. Hahaha. Dan di antara tiga hari yang berat itu, tersiar kabar bahwa tanah rawa akan diserbu sekawanan preman yang dibayar oleh seorang pengusaha tambun yang hendak merampas sebidang lahan tersebut dari pemilik sah, orang-orang tanah rawa. 

Saudara tuaku Boriel, intens berkomunikasi dengan Enos pria lincah asal negeri timur matahari yang beberapa bulan terakhir sering nongkrong di tanah rawa. Boriel akhirnya menghubungiku dan saudara-saudaraku yang lain. Kami hendak ke tanah rawa di hari sabtu, hari ke dua dari perjanjianku selama tiga hari dengan gadis feromon. 

Pagi -pagi sekali, kami berempat sudah bangun. Sedikit merapikan diri sambil menyeruput kopi panas buatan Pinko, perempuan tua  tangguh yang tak lain adalah kekasih Boriel. Kami hanya sedikit mengobrol, tentang hasil pertemuan semalam, tentang kode sandi sampai strategi perang yang sudah disusun oleh barikade anti penggusuran tanah rawa. Kami mengakhirinya dengan tertawa lepas, sambil menimpali busuknya permainan negara dan pengusaha yang selalu kompak melakukan hal-hal seperti di tanah rawa ini, merebut ruang hidup dan kehidupan. 

Tak memakan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai di tanah rawa dari tempat kami nginap, kampung biru. Akhir pekan yang menjemukan, selalu membuat kota megapolitan ini lengang dan lesu, tak ada wajah yang terburu-buru, tak ada kuda besi yang tergesa-gesa menyelip deretan mobil pribadi mewah. Akhirnya kami sampai dengan selamat. Hehehe.
Sore di Tanah Rawa (diambil pake hengpong ji :p)
Inilah pagi di tanah rawa, bambu tua berderet rapi melintang di atas genangan besar air yang memisahkan satu rumah dengan rumah lainnya. Sesekali, riak air pecah di permukaannya akibat lambaian ekor ikan berwarna hitam dan mungil. Mereka tampaknya terganggu dengan kehadiran kaki-kaki kami yang kaku berjalan di atas jalan bambu ini. Pinko dan boriel begitu lamban berjalan, sementara saya dan Jo sibuk dengan kepala masing-masing setelah disuguhi adegan dingin seorang warga yang sedang mengasah sebilah parang.  Bukan sebilah, ada lima bilah! Kami menyaksikan ekspresi dingin khas luapan insting bertahan dan melindungi. Kami tak berkomentar, Jo hanya melempar senyum padaku dan kami melanjutkan perjalanan menuju posko induk tempat berkumpulnya teman-teman barikade anti penggusuran. 

Sebelum kulanjutkan, saya ingin membagikan sesuatu. Sialan! Jika kamu berpikir kami ke tanah rawa karena iba pada orang tanah rawa dan panggilan moral, kamu salah! Solidaritas adalah senjata yang paling ampuh untuk merenggut kehidupan yang telah lama dicuri oleh sistem bobrok ini. Hidup kami telah lama dicuri sejak saat itu, saat  kami telah dilabeli dengan embel-embel warga negara melalui akta kelahiran hingga diberi sistem kepercayaan demi menciptakan ketertundukan. Kami hanya tak mau lagi dicuri lebih banyak, tidak juga bagi orang-orang tanah rawa yang hendak dicuri tanahnya oleh Hanoman itu. Maka bersolidaritaslah!
Posko induk lengang, kawan-kawan yang malam tadi nginap di tanah rawa, masih menikmati keintimannya dengan pagi. Ini masih jam 7 pagi, kabut belum juga mau berpisah dengan muka rawa. Tampaknya ada perayaan kecil semalam di tanah rawa, demi menyambut om eman yang kan datang esok hari.
***
Hari semakin panas, canda tawa mulai tak bisa membunuh bosan kami menunggu serangan dari om eman. Sel  FNB (Food Not Bombs) sudah pula menyelesaikan misinya hari ini, logistik perang sudah siap di gudang altileri. Pria skinny di sampingku mengutuk dalam gerah dan marah, “sialan, tak ditunggu si eman muncul, saat kami siap menyambut dengan red carpet, mereka tak datang, sial!”. Hahaha, saya hanya bisa tertawa mendengarnya, saya sudah terlalu capek untuk menimpalinya. Hahaha

Ditengah-tengah kejemuan akut itu, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di kompleks tanah rawa, saya menemukan beberapa teman sedang ngobrol dengan warga, kuputuskan untuk masuk dalam sidang itu. Mereka sedang bercerita tentang berbagai topik, cukup panjang dan ramai, hingga akhirnya beberapa teman memutuskan untuk minggat, sepertinya ingin beristirahat. Tersisa kami berdua, saya dan bapak berkacamata dengan kemeja lusuh berwarna krem warga asli tanah rawa.

Setelah puas dengan topik pembicaraan di luar ‘kita’, akhirnya saya bertanya soal seputar tanah rawa dan kehidupan bapak berkacamata. Ia kemudian menyambutnya dengan aliran kisah pertama kali ia sampai di tanah ini. Tahun 1984 ia mendapati tanah ini adalah rawa-rawa yang dikelilingi pepohonan lebat. “Hanya di hitung jari ji rumah di dulu, masih sepi”, kenang bapak 3 anak ini. Ia mengisap dalam-dalam rokok di tangannya sembari mendengar tanggapanku. 

Saya lantas bertanya, di mana tepatnya letak rumahnya di tanah rawa ini, ia lantas menunjuk rumah panggung berdinding tripleks. Saya menengoknya dalam, “yang banyak lubang di dindingnya itu?”, gumamku dalam hati. Ia menarikku kembali dalam perbincangan dan berkata, “itu mi juga, saya mau perbaiki sedikit-sedikit tapi nda ada pi uang”. 

Ia lantas bercerita tentang hidupnya di kota ini, yang akhirnya berakhir sebagai tukang parkir di salah satu fasilitas umum tak jauh dari tanah rawa. Tanah rawa memang strategis, ia di apit barisan bangunan mewah menjulang yang tak lain adalah pusat perbelanjaan dan gedung berorientasi niaga. Ia seperti luka menganga di permukaan kulit mulus. Tak heran si Hanoman kepincut untuk menguasainya. 

Kami kembali larut dalam percakapan saat ia melontarkan barisan kata tentang kondisi anak dan istrinya. Ia terpaksa memboyong 2 anak serta istrinya pulang ke kampungnya di pesisir selatan celebes, semenjak kondisi kesehatan istrinya memburuk, ia takut rumah super sederhananya tak mampu menghadirkan kehangatan kala tubuh rapuh dan kedinginan. Hanya anaknya yang sudah berumur 18 tahun yang bertahan menemaninya.  Hitam kulitnya jadi penanda bahwa siang harinya ia lewati di bawah sengatan matahari, dan malamnya ia berkelahi dengan dingin. 

Sabtu, 23 April 2011

Hal Brengsek dari Mengakhiri Sesuatu adalah Ketika Kita Tak Sadar Bahwa Kita Sedang Memulainya Kembali

Biar saja, malam sepi ini hanya ingin kumaki, toh hanya ada sedikit telinga yang kan mendengarnya. Tidak pula kau yang punya setumpuk alasan untuk menutup rapat telinga dan tenggelam dengan rutinitas sampah itu. Taik! Tak ada yang lebih menyebalkan dari duduk dan memaki semuanya sendiri di layar monitor ini.

Ah, saya tau nya hanya menggerutu, mengutuk diri. Besok saya kan mengakhirnya! Lihat saja!

Senin, 04 Juli 2011

Imanjinasi, jenis kudapan apa lagi itu?


Sungguh sudah  lama...tidak..tidak..baru saja beberapa hari kok..meninggalakan kota sombong ini kadang dipelukan untuk menjaga pikiranmu supaya tetap waras. Ah...memang sedari awal kota ini dipenuhi orang gila kok dan saya tak mau membahasnya di sini. Hehehe. Ayolah, kau harus datang kembali secepatnya dan gila lagi bersamaku, bersama ubin jalan setapak, bersama ruko kecil di sudut jalan, bersama lubang-lubang di tengah jalan yang selalu kita lalui bersama hampir tiap hari.
Kau tahu? Sudah berapa hari ini saya sedang tertarik dengan sebuah kata. Ia adalah imajinasi, mungkin kata ini yang membuat beberapa dari kita tetap waras, dan jangan mendebatku soal kata ‘waras’ ini. Ayolah kita sama-sama tahu mana yang dibilang waras dan yang tidak, walaupun ada tepi yang tak jelas diantara keduanya. Alah, jika kau menginginkan lebih....ahh pusing saya dibuatnya.
Saya dan seorang perempuan tua, beberapa waktu yang lalu, ya kami berdua tersesat dalam percakapan kami sendiri, percakapan acak tentang banyak hal -yang kau tahu- ini sangat mengandalkan imajinasi. Entah bagaimana, ia lantas bertanya soal apa yang kau lakukan ketika masyarakat kita sudah meninggalkan gaya hidup dengan opresi kelas sosialnya seperti sekarang ini. Banyak hal kubilang, yang pertama ya mencukupi kebutuhan dasarku dengan bertani. Mendirikan Adobe, bertetangga, kadang-kadang menenun, membuat sebuah lagu untukmu, mungkin juga melukis wajahmu, atau menemukan  lelucon yang bisa membuatmu tertawa (hahaha..I’m still working on it).
Saya meninggalkan percakapan itu, ia punya si bibir mancung sekarang untuk mengobrol, dan tentu saja menguras imajinasinya. Saya kemudian sibuk dengan kepalaku sendiri, menciptakan dunia sendiri setelah menyedu kopi dan membakar rokok murah yang kubeli dari warung sebelah rumah. Dunianya mungkin seperti ini:
Siang tadi ketika hendak membeli makanan, motor hitam rongsokanku itu kupacu di jalan menuju warung makan. Disepanjang jalan tampak beberapa bocah memegang kaleng yang dililiti benang, mereka sedang bermain layang-layang pikirku. Yap, benar sekali beberapa layangan tampak dilangit di atasku. Jika ada kendaraan yang lewat, mereka akan meninggikan benangnya agar tak nyangkut pada motor atau mobil yang lewat. Sungguh sulit mendapat tanah lapang di tengah kota sombong ini pikirku, dan mereka begitu gigih bermain di jalan raya yang tak kenal belas kasih itu.
Karenanya pula saya jadi ingat masa kecil ku di kota kecil yang sangat mengandalkan pelabuhannya untuk tetap bisa berdenyut. Tentang bau tanah merah, kaki yang berdarah setelah berlarian di tengah tanah berbalut rumput liar, tentang baju dan celanaku yang selalu sangat kotor ketika pulang ke rumah di sore hari untuk mandi kemudian makan. Tentang itik yang kupelihara dan kucuri telurnya di tiap pagi untuk kujadikan sarapan. Tentang rawa tempat memancing ikan gabus yang seringkali berakhir dengan kegagalan membawa pulang tangkapan. Jika sudah begitu, saya akan mengambil jaring bekas ayakan pasir milik tetangga dan memanggil beberapa temanku untuk menjaring ikan brengsek yang tak mau memakan umpanku. Hahaha. Mereka berakhir di panggangan dengan arang dari ranting kayu dan dedaunan. Itu hanya hanya masa kecil dan untunglah saya masih bisa mengingatnya.
***
Semalam, dengan telpon genggam pemberian saudaraku saya menerima telponmu dari kota yang jauh. Katamu tadi siang kamu baru saja menggoreng tempe dan membuat kue, senang mendengarnya :p. Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu kita pergi ke toko buku, mencari-cari buku yang cocok. Aku menemukan satu di toko buku pertama yang sebenarnya lebih mirip swalayan satationary. Judulnya Ketika Manusia Kloning Berkuasa, ketika pertamakali melihatnya, judul dan covernya sungguh tak menarik, tapi setelah membaca sinopsisnya saya jadi tertarik. Ya, imajinasi yang kuat pikirku, hmm ..tentang bagaimana kehidupan manusia di masa yang akan datang. Oh bukan, ketika manusia tak ada lagi, berganti manusia cebol tak beralat kelamin yang berkembang biak dengan cara mengkloning dirinya sendiri. Tema fiksi tentang peradaban yang hancur, akan hancur, telah hancur, cukup banyak loh. Sederet buku dan film tentang tema inipun ku koleksi diantranya the road, the day the earth stood still, resident evil, the matrix, the book of eli, terminator, kulupai sisanya. Dan kau tahu? Entah mengapa saya begitu menikmati ketika adegan dalam film atau novel yang kubaca berakhir dengan kehancuran peradaban. Sayu sepertinya sudah sinting.  :p
Tentu penulis novel dan naskah film bertema ini punya imajinasi yang cukup kuat, dan juga dibantu oleh pengetahuan penulis dan perspektifnya yang radikal dalam melihat dunia hari ini. Dan imajinasiku hanya berhenti di sini? Coba kuingat-ingat dulu, apa imajinasi ku tentang masa depan? Saya berpikir kuat, tak menemukannya, hanya ada bayang samar, hmm ...saya melihat  dirimu didalamnya. Dan itulah imajinasiku untuk masa depan! :P

Senin, 09 Mei 2011

Untuk Sesaat Semua Menjadi Kami

Kami, ya kami! Hampir semuanya kami tinggalkan, tidak pekerjaan, tidak pula agenda pribadi. Di sabtu yang menjemukan ini, kami menutup pintu kamar dan meninggalkan dunia beserta semua adegan sirkusnya di luar sana. Untuk beberapa jam ke depan kami biarkan semua tergelatak, berkelahi, berserakan, menangis, tertawa, melata, melompat, menari, merenung, membaca, menulis, membisu, marah,  pasrah, terbang, terhempas, tertindih, perih, sendiri. 


Di ruang panas ini, hanya ada kipas kecil yang tak berdaya menawar terjangan mentari. Kami menemani sebuah kardus using berisi kaleng-kaleng berisi tinta yang hendak melompat dari mulut kardus. Ia jadi penawar dialog yang berujung pada bisu yang sesekali hadir di antara hangatnya perbincangan. 


Untuk beberapa waktu kemudian, biarkan kami memiliki dunia kami sendiri. Menikmati cumbu mentari sambil menggenggam erat jemari. Biar esok kami bisa sedikit mengerti di mana kami sedang berdiri, dan di setapak mana kami sedang berlari.

Minggu, 01 Mei 2011

Menantimu di Tanah Rawa

Kami membuat sebuah janji, lebih  tepatnya disebut kesepakatan untuk tak bertemu selama tiga hari, juga tak saling menghubungi. Hahaha. Aneh, sungguh persetujuan yang menyebalkan di antara membaranya kasihku padanya. Hahaha. Dan di antara tiga hari yang berat itu, tersiar kabar bahwa tanah rawa akan diserbu sekawanan preman yang dibayar oleh seorang pengusaha tambun yang hendak merampas sebidang lahan tersebut dari pemilik sah, orang-orang tanah rawa. 

Saudara tuaku Boriel, intens berkomunikasi dengan Enos pria lincah asal negeri timur matahari yang beberapa bulan terakhir sering nongkrong di tanah rawa. Boriel akhirnya menghubungiku dan saudara-saudaraku yang lain. Kami hendak ke tanah rawa di hari sabtu, hari ke dua dari perjanjianku selama tiga hari dengan gadis feromon. 

Pagi -pagi sekali, kami berempat sudah bangun. Sedikit merapikan diri sambil menyeruput kopi panas buatan Pinko, perempuan tua  tangguh yang tak lain adalah kekasih Boriel. Kami hanya sedikit mengobrol, tentang hasil pertemuan semalam, tentang kode sandi sampai strategi perang yang sudah disusun oleh barikade anti penggusuran tanah rawa. Kami mengakhirinya dengan tertawa lepas, sambil menimpali busuknya permainan negara dan pengusaha yang selalu kompak melakukan hal-hal seperti di tanah rawa ini, merebut ruang hidup dan kehidupan. 

Tak memakan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai di tanah rawa dari tempat kami nginap, kampung biru. Akhir pekan yang menjemukan, selalu membuat kota megapolitan ini lengang dan lesu, tak ada wajah yang terburu-buru, tak ada kuda besi yang tergesa-gesa menyelip deretan mobil pribadi mewah. Akhirnya kami sampai dengan selamat. Hehehe.
Sore di Tanah Rawa (diambil pake hengpong ji :p)
Inilah pagi di tanah rawa, bambu tua berderet rapi melintang di atas genangan besar air yang memisahkan satu rumah dengan rumah lainnya. Sesekali, riak air pecah di permukaannya akibat lambaian ekor ikan berwarna hitam dan mungil. Mereka tampaknya terganggu dengan kehadiran kaki-kaki kami yang kaku berjalan di atas jalan bambu ini. Pinko dan boriel begitu lamban berjalan, sementara saya dan Jo sibuk dengan kepala masing-masing setelah disuguhi adegan dingin seorang warga yang sedang mengasah sebilah parang.  Bukan sebilah, ada lima bilah! Kami menyaksikan ekspresi dingin khas luapan insting bertahan dan melindungi. Kami tak berkomentar, Jo hanya melempar senyum padaku dan kami melanjutkan perjalanan menuju posko induk tempat berkumpulnya teman-teman barikade anti penggusuran. 

Sebelum kulanjutkan, saya ingin membagikan sesuatu. Sialan! Jika kamu berpikir kami ke tanah rawa karena iba pada orang tanah rawa dan panggilan moral, kamu salah! Solidaritas adalah senjata yang paling ampuh untuk merenggut kehidupan yang telah lama dicuri oleh sistem bobrok ini. Hidup kami telah lama dicuri sejak saat itu, saat  kami telah dilabeli dengan embel-embel warga negara melalui akta kelahiran hingga diberi sistem kepercayaan demi menciptakan ketertundukan. Kami hanya tak mau lagi dicuri lebih banyak, tidak juga bagi orang-orang tanah rawa yang hendak dicuri tanahnya oleh Hanoman itu. Maka bersolidaritaslah!
Posko induk lengang, kawan-kawan yang malam tadi nginap di tanah rawa, masih menikmati keintimannya dengan pagi. Ini masih jam 7 pagi, kabut belum juga mau berpisah dengan muka rawa. Tampaknya ada perayaan kecil semalam di tanah rawa, demi menyambut om eman yang kan datang esok hari.
***
Hari semakin panas, canda tawa mulai tak bisa membunuh bosan kami menunggu serangan dari om eman. Sel  FNB (Food Not Bombs) sudah pula menyelesaikan misinya hari ini, logistik perang sudah siap di gudang altileri. Pria skinny di sampingku mengutuk dalam gerah dan marah, “sialan, tak ditunggu si eman muncul, saat kami siap menyambut dengan red carpet, mereka tak datang, sial!”. Hahaha, saya hanya bisa tertawa mendengarnya, saya sudah terlalu capek untuk menimpalinya. Hahaha

Ditengah-tengah kejemuan akut itu, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di kompleks tanah rawa, saya menemukan beberapa teman sedang ngobrol dengan warga, kuputuskan untuk masuk dalam sidang itu. Mereka sedang bercerita tentang berbagai topik, cukup panjang dan ramai, hingga akhirnya beberapa teman memutuskan untuk minggat, sepertinya ingin beristirahat. Tersisa kami berdua, saya dan bapak berkacamata dengan kemeja lusuh berwarna krem warga asli tanah rawa.

Setelah puas dengan topik pembicaraan di luar ‘kita’, akhirnya saya bertanya soal seputar tanah rawa dan kehidupan bapak berkacamata. Ia kemudian menyambutnya dengan aliran kisah pertama kali ia sampai di tanah ini. Tahun 1984 ia mendapati tanah ini adalah rawa-rawa yang dikelilingi pepohonan lebat. “Hanya di hitung jari ji rumah di dulu, masih sepi”, kenang bapak 3 anak ini. Ia mengisap dalam-dalam rokok di tangannya sembari mendengar tanggapanku. 

Saya lantas bertanya, di mana tepatnya letak rumahnya di tanah rawa ini, ia lantas menunjuk rumah panggung berdinding tripleks. Saya menengoknya dalam, “yang banyak lubang di dindingnya itu?”, gumamku dalam hati. Ia menarikku kembali dalam perbincangan dan berkata, “itu mi juga, saya mau perbaiki sedikit-sedikit tapi nda ada pi uang”. 

Ia lantas bercerita tentang hidupnya di kota ini, yang akhirnya berakhir sebagai tukang parkir di salah satu fasilitas umum tak jauh dari tanah rawa. Tanah rawa memang strategis, ia di apit barisan bangunan mewah menjulang yang tak lain adalah pusat perbelanjaan dan gedung berorientasi niaga. Ia seperti luka menganga di permukaan kulit mulus. Tak heran si Hanoman kepincut untuk menguasainya. 

Kami kembali larut dalam percakapan saat ia melontarkan barisan kata tentang kondisi anak dan istrinya. Ia terpaksa memboyong 2 anak serta istrinya pulang ke kampungnya di pesisir selatan celebes, semenjak kondisi kesehatan istrinya memburuk, ia takut rumah super sederhananya tak mampu menghadirkan kehangatan kala tubuh rapuh dan kedinginan. Hanya anaknya yang sudah berumur 18 tahun yang bertahan menemaninya.  Hitam kulitnya jadi penanda bahwa siang harinya ia lewati di bawah sengatan matahari, dan malamnya ia berkelahi dengan dingin. 

Sabtu, 23 April 2011

Hal Brengsek dari Mengakhiri Sesuatu adalah Ketika Kita Tak Sadar Bahwa Kita Sedang Memulainya Kembali

Biar saja, malam sepi ini hanya ingin kumaki, toh hanya ada sedikit telinga yang kan mendengarnya. Tidak pula kau yang punya setumpuk alasan untuk menutup rapat telinga dan tenggelam dengan rutinitas sampah itu. Taik! Tak ada yang lebih menyebalkan dari duduk dan memaki semuanya sendiri di layar monitor ini.

Ah, saya tau nya hanya menggerutu, mengutuk diri. Besok saya kan mengakhirnya! Lihat saja!

Senin, 04 Juli 2011

Imanjinasi, jenis kudapan apa lagi itu?


Sungguh sudah  lama...tidak..tidak..baru saja beberapa hari kok..meninggalakan kota sombong ini kadang dipelukan untuk menjaga pikiranmu supaya tetap waras. Ah...memang sedari awal kota ini dipenuhi orang gila kok dan saya tak mau membahasnya di sini. Hehehe. Ayolah, kau harus datang kembali secepatnya dan gila lagi bersamaku, bersama ubin jalan setapak, bersama ruko kecil di sudut jalan, bersama lubang-lubang di tengah jalan yang selalu kita lalui bersama hampir tiap hari.
Kau tahu? Sudah berapa hari ini saya sedang tertarik dengan sebuah kata. Ia adalah imajinasi, mungkin kata ini yang membuat beberapa dari kita tetap waras, dan jangan mendebatku soal kata ‘waras’ ini. Ayolah kita sama-sama tahu mana yang dibilang waras dan yang tidak, walaupun ada tepi yang tak jelas diantara keduanya. Alah, jika kau menginginkan lebih....ahh pusing saya dibuatnya.
Saya dan seorang perempuan tua, beberapa waktu yang lalu, ya kami berdua tersesat dalam percakapan kami sendiri, percakapan acak tentang banyak hal -yang kau tahu- ini sangat mengandalkan imajinasi. Entah bagaimana, ia lantas bertanya soal apa yang kau lakukan ketika masyarakat kita sudah meninggalkan gaya hidup dengan opresi kelas sosialnya seperti sekarang ini. Banyak hal kubilang, yang pertama ya mencukupi kebutuhan dasarku dengan bertani. Mendirikan Adobe, bertetangga, kadang-kadang menenun, membuat sebuah lagu untukmu, mungkin juga melukis wajahmu, atau menemukan  lelucon yang bisa membuatmu tertawa (hahaha..I’m still working on it).
Saya meninggalkan percakapan itu, ia punya si bibir mancung sekarang untuk mengobrol, dan tentu saja menguras imajinasinya. Saya kemudian sibuk dengan kepalaku sendiri, menciptakan dunia sendiri setelah menyedu kopi dan membakar rokok murah yang kubeli dari warung sebelah rumah. Dunianya mungkin seperti ini:
Siang tadi ketika hendak membeli makanan, motor hitam rongsokanku itu kupacu di jalan menuju warung makan. Disepanjang jalan tampak beberapa bocah memegang kaleng yang dililiti benang, mereka sedang bermain layang-layang pikirku. Yap, benar sekali beberapa layangan tampak dilangit di atasku. Jika ada kendaraan yang lewat, mereka akan meninggikan benangnya agar tak nyangkut pada motor atau mobil yang lewat. Sungguh sulit mendapat tanah lapang di tengah kota sombong ini pikirku, dan mereka begitu gigih bermain di jalan raya yang tak kenal belas kasih itu.
Karenanya pula saya jadi ingat masa kecil ku di kota kecil yang sangat mengandalkan pelabuhannya untuk tetap bisa berdenyut. Tentang bau tanah merah, kaki yang berdarah setelah berlarian di tengah tanah berbalut rumput liar, tentang baju dan celanaku yang selalu sangat kotor ketika pulang ke rumah di sore hari untuk mandi kemudian makan. Tentang itik yang kupelihara dan kucuri telurnya di tiap pagi untuk kujadikan sarapan. Tentang rawa tempat memancing ikan gabus yang seringkali berakhir dengan kegagalan membawa pulang tangkapan. Jika sudah begitu, saya akan mengambil jaring bekas ayakan pasir milik tetangga dan memanggil beberapa temanku untuk menjaring ikan brengsek yang tak mau memakan umpanku. Hahaha. Mereka berakhir di panggangan dengan arang dari ranting kayu dan dedaunan. Itu hanya hanya masa kecil dan untunglah saya masih bisa mengingatnya.
***
Semalam, dengan telpon genggam pemberian saudaraku saya menerima telponmu dari kota yang jauh. Katamu tadi siang kamu baru saja menggoreng tempe dan membuat kue, senang mendengarnya :p. Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu kita pergi ke toko buku, mencari-cari buku yang cocok. Aku menemukan satu di toko buku pertama yang sebenarnya lebih mirip swalayan satationary. Judulnya Ketika Manusia Kloning Berkuasa, ketika pertamakali melihatnya, judul dan covernya sungguh tak menarik, tapi setelah membaca sinopsisnya saya jadi tertarik. Ya, imajinasi yang kuat pikirku, hmm ..tentang bagaimana kehidupan manusia di masa yang akan datang. Oh bukan, ketika manusia tak ada lagi, berganti manusia cebol tak beralat kelamin yang berkembang biak dengan cara mengkloning dirinya sendiri. Tema fiksi tentang peradaban yang hancur, akan hancur, telah hancur, cukup banyak loh. Sederet buku dan film tentang tema inipun ku koleksi diantranya the road, the day the earth stood still, resident evil, the matrix, the book of eli, terminator, kulupai sisanya. Dan kau tahu? Entah mengapa saya begitu menikmati ketika adegan dalam film atau novel yang kubaca berakhir dengan kehancuran peradaban. Sayu sepertinya sudah sinting.  :p
Tentu penulis novel dan naskah film bertema ini punya imajinasi yang cukup kuat, dan juga dibantu oleh pengetahuan penulis dan perspektifnya yang radikal dalam melihat dunia hari ini. Dan imajinasiku hanya berhenti di sini? Coba kuingat-ingat dulu, apa imajinasi ku tentang masa depan? Saya berpikir kuat, tak menemukannya, hanya ada bayang samar, hmm ...saya melihat  dirimu didalamnya. Dan itulah imajinasiku untuk masa depan! :P

Senin, 09 Mei 2011

Untuk Sesaat Semua Menjadi Kami

Kami, ya kami! Hampir semuanya kami tinggalkan, tidak pekerjaan, tidak pula agenda pribadi. Di sabtu yang menjemukan ini, kami menutup pintu kamar dan meninggalkan dunia beserta semua adegan sirkusnya di luar sana. Untuk beberapa jam ke depan kami biarkan semua tergelatak, berkelahi, berserakan, menangis, tertawa, melata, melompat, menari, merenung, membaca, menulis, membisu, marah,  pasrah, terbang, terhempas, tertindih, perih, sendiri. 


Di ruang panas ini, hanya ada kipas kecil yang tak berdaya menawar terjangan mentari. Kami menemani sebuah kardus using berisi kaleng-kaleng berisi tinta yang hendak melompat dari mulut kardus. Ia jadi penawar dialog yang berujung pada bisu yang sesekali hadir di antara hangatnya perbincangan. 


Untuk beberapa waktu kemudian, biarkan kami memiliki dunia kami sendiri. Menikmati cumbu mentari sambil menggenggam erat jemari. Biar esok kami bisa sedikit mengerti di mana kami sedang berdiri, dan di setapak mana kami sedang berlari.

Minggu, 01 Mei 2011

Menantimu di Tanah Rawa

Kami membuat sebuah janji, lebih  tepatnya disebut kesepakatan untuk tak bertemu selama tiga hari, juga tak saling menghubungi. Hahaha. Aneh, sungguh persetujuan yang menyebalkan di antara membaranya kasihku padanya. Hahaha. Dan di antara tiga hari yang berat itu, tersiar kabar bahwa tanah rawa akan diserbu sekawanan preman yang dibayar oleh seorang pengusaha tambun yang hendak merampas sebidang lahan tersebut dari pemilik sah, orang-orang tanah rawa. 

Saudara tuaku Boriel, intens berkomunikasi dengan Enos pria lincah asal negeri timur matahari yang beberapa bulan terakhir sering nongkrong di tanah rawa. Boriel akhirnya menghubungiku dan saudara-saudaraku yang lain. Kami hendak ke tanah rawa di hari sabtu, hari ke dua dari perjanjianku selama tiga hari dengan gadis feromon. 

Pagi -pagi sekali, kami berempat sudah bangun. Sedikit merapikan diri sambil menyeruput kopi panas buatan Pinko, perempuan tua  tangguh yang tak lain adalah kekasih Boriel. Kami hanya sedikit mengobrol, tentang hasil pertemuan semalam, tentang kode sandi sampai strategi perang yang sudah disusun oleh barikade anti penggusuran tanah rawa. Kami mengakhirinya dengan tertawa lepas, sambil menimpali busuknya permainan negara dan pengusaha yang selalu kompak melakukan hal-hal seperti di tanah rawa ini, merebut ruang hidup dan kehidupan. 

Tak memakan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai di tanah rawa dari tempat kami nginap, kampung biru. Akhir pekan yang menjemukan, selalu membuat kota megapolitan ini lengang dan lesu, tak ada wajah yang terburu-buru, tak ada kuda besi yang tergesa-gesa menyelip deretan mobil pribadi mewah. Akhirnya kami sampai dengan selamat. Hehehe.
Sore di Tanah Rawa (diambil pake hengpong ji :p)
Inilah pagi di tanah rawa, bambu tua berderet rapi melintang di atas genangan besar air yang memisahkan satu rumah dengan rumah lainnya. Sesekali, riak air pecah di permukaannya akibat lambaian ekor ikan berwarna hitam dan mungil. Mereka tampaknya terganggu dengan kehadiran kaki-kaki kami yang kaku berjalan di atas jalan bambu ini. Pinko dan boriel begitu lamban berjalan, sementara saya dan Jo sibuk dengan kepala masing-masing setelah disuguhi adegan dingin seorang warga yang sedang mengasah sebilah parang.  Bukan sebilah, ada lima bilah! Kami menyaksikan ekspresi dingin khas luapan insting bertahan dan melindungi. Kami tak berkomentar, Jo hanya melempar senyum padaku dan kami melanjutkan perjalanan menuju posko induk tempat berkumpulnya teman-teman barikade anti penggusuran. 

Sebelum kulanjutkan, saya ingin membagikan sesuatu. Sialan! Jika kamu berpikir kami ke tanah rawa karena iba pada orang tanah rawa dan panggilan moral, kamu salah! Solidaritas adalah senjata yang paling ampuh untuk merenggut kehidupan yang telah lama dicuri oleh sistem bobrok ini. Hidup kami telah lama dicuri sejak saat itu, saat  kami telah dilabeli dengan embel-embel warga negara melalui akta kelahiran hingga diberi sistem kepercayaan demi menciptakan ketertundukan. Kami hanya tak mau lagi dicuri lebih banyak, tidak juga bagi orang-orang tanah rawa yang hendak dicuri tanahnya oleh Hanoman itu. Maka bersolidaritaslah!
Posko induk lengang, kawan-kawan yang malam tadi nginap di tanah rawa, masih menikmati keintimannya dengan pagi. Ini masih jam 7 pagi, kabut belum juga mau berpisah dengan muka rawa. Tampaknya ada perayaan kecil semalam di tanah rawa, demi menyambut om eman yang kan datang esok hari.
***
Hari semakin panas, canda tawa mulai tak bisa membunuh bosan kami menunggu serangan dari om eman. Sel  FNB (Food Not Bombs) sudah pula menyelesaikan misinya hari ini, logistik perang sudah siap di gudang altileri. Pria skinny di sampingku mengutuk dalam gerah dan marah, “sialan, tak ditunggu si eman muncul, saat kami siap menyambut dengan red carpet, mereka tak datang, sial!”. Hahaha, saya hanya bisa tertawa mendengarnya, saya sudah terlalu capek untuk menimpalinya. Hahaha

Ditengah-tengah kejemuan akut itu, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di kompleks tanah rawa, saya menemukan beberapa teman sedang ngobrol dengan warga, kuputuskan untuk masuk dalam sidang itu. Mereka sedang bercerita tentang berbagai topik, cukup panjang dan ramai, hingga akhirnya beberapa teman memutuskan untuk minggat, sepertinya ingin beristirahat. Tersisa kami berdua, saya dan bapak berkacamata dengan kemeja lusuh berwarna krem warga asli tanah rawa.

Setelah puas dengan topik pembicaraan di luar ‘kita’, akhirnya saya bertanya soal seputar tanah rawa dan kehidupan bapak berkacamata. Ia kemudian menyambutnya dengan aliran kisah pertama kali ia sampai di tanah ini. Tahun 1984 ia mendapati tanah ini adalah rawa-rawa yang dikelilingi pepohonan lebat. “Hanya di hitung jari ji rumah di dulu, masih sepi”, kenang bapak 3 anak ini. Ia mengisap dalam-dalam rokok di tangannya sembari mendengar tanggapanku. 

Saya lantas bertanya, di mana tepatnya letak rumahnya di tanah rawa ini, ia lantas menunjuk rumah panggung berdinding tripleks. Saya menengoknya dalam, “yang banyak lubang di dindingnya itu?”, gumamku dalam hati. Ia menarikku kembali dalam perbincangan dan berkata, “itu mi juga, saya mau perbaiki sedikit-sedikit tapi nda ada pi uang”. 

Ia lantas bercerita tentang hidupnya di kota ini, yang akhirnya berakhir sebagai tukang parkir di salah satu fasilitas umum tak jauh dari tanah rawa. Tanah rawa memang strategis, ia di apit barisan bangunan mewah menjulang yang tak lain adalah pusat perbelanjaan dan gedung berorientasi niaga. Ia seperti luka menganga di permukaan kulit mulus. Tak heran si Hanoman kepincut untuk menguasainya. 

Kami kembali larut dalam percakapan saat ia melontarkan barisan kata tentang kondisi anak dan istrinya. Ia terpaksa memboyong 2 anak serta istrinya pulang ke kampungnya di pesisir selatan celebes, semenjak kondisi kesehatan istrinya memburuk, ia takut rumah super sederhananya tak mampu menghadirkan kehangatan kala tubuh rapuh dan kedinginan. Hanya anaknya yang sudah berumur 18 tahun yang bertahan menemaninya.  Hitam kulitnya jadi penanda bahwa siang harinya ia lewati di bawah sengatan matahari, dan malamnya ia berkelahi dengan dingin. 

Sabtu, 23 April 2011

Hal Brengsek dari Mengakhiri Sesuatu adalah Ketika Kita Tak Sadar Bahwa Kita Sedang Memulainya Kembali

Biar saja, malam sepi ini hanya ingin kumaki, toh hanya ada sedikit telinga yang kan mendengarnya. Tidak pula kau yang punya setumpuk alasan untuk menutup rapat telinga dan tenggelam dengan rutinitas sampah itu. Taik! Tak ada yang lebih menyebalkan dari duduk dan memaki semuanya sendiri di layar monitor ini.

Ah, saya tau nya hanya menggerutu, mengutuk diri. Besok saya kan mengakhirnya! Lihat saja!