Jumat, 25 Oktober 2013

Di mana Pencerita Lebah?


Jenny
Hari-hari di sini semakin membosankan. Di mana kah kau pencipta cerita lebah? Di kota ini semua yang kulakukan hampir sama. Walau membosankan, saya ingin bertahan. Tidak tahu sampai kapan. Saya rindu rumah, saya rindu mama, saya rindu bapak. Mereka tinggal berdua di rumah papan itu. Saya semakin rindu kalau hujan seperti ini, karena rumah selalu hangat oleh mereka.

Hei pencerita, kau masih hidup bukan? Kemarin saya mimpi soal kau. Saya juga berbincang dengan teman tentang dirimu. Untuk sesaat kenangan dulu memanjat ke permukaan. Kau ingat Mou? Dia akan sukses di Inggris. Kau membencinya? Hahahaha. Kita tetap rival dalam urusan sepakbola.

Saya tidak tau kita memang dekat atau tidak. Tapi kurasa musim hujan beberapa tahun yang lalu, kita lalui dengan baik sebagai pengangguran angkatan baru.

Semoga kau sehat-sehat saja. Saya sedang bosan. Semoga bisa bertemu denganmu. Saya rindu.

Senin, 09 Juli 2012

Tiga Cerita di Rumah Panggung

Kami sedang menunggu siang itu, saya dan dua orang temanku menanti beberapa orang ibu-ibu di tanah rawa. Rencananya akan ada pertemuan sore itu, kami hendak belajar bersama tentang berbagai macam hal, mulai dari keterampilan kreatif hingga pengetahuan kritis tentang kondisi hari ini. Pertemuan belum juga dimulai, kami bersama dua orang ibu yang baru datang sudah  terlibat  dalam pembicaraan serius tentang anak-anak mereka yang mendaftar di SD negeri dan tentang keponakannya yang sulit mendapatkan layanan pengobatan. Mungkin seperti ini rekaman saya saat itu.

Rumah sakit yang benar-benar sakit
Mace (kata yang artinya sama degan ibu dalam bahasa indonesia) Rusna lebih dulu melontarkan kekesalannya akibat ulah pihak rumah sakit yang berseblahan dengan hotel bertaraf internasional. Ia mulai dengan keponakannya yang berumur 10 bulan yang tiba-tiba sesak nafas di malam hari. Saudara Mace Rusna  sudah mendatangi dua rumah sakit dan selalu ditolak dengan alasan sudah tidak ada lagi ruang perawatan yang kosong. Melihat kondisi ini, akhirnya mace Rusna  berinisiatif menemani saudaranya untuk berbicara ke pihak rumah sakit. Sesampainya di sana, mace Rusna  ngotot agar keponakannya segera ditangani, ia pun diarahkan untuk menemui salah satu dokter. Ia diundang masuk ke sebuah ruangan dan diminta menjelaskan duduk persoalannya. Dengan berapi-api ia mencontohkan apa yang dikatakannya pada dokter malam itu. “Saya mengerti pak sepenuhnya kalau dibilang sudah penuh, tapi saya tidak mengerti kalau anak kecil ini tidak bisa diobat hanya karena tidak ada ruangan”, ujar mace Rusna  mencontohkan. Ia melontarkan kata-kata itu sambil menangis karena ia sempat menoleh ke ponakannya yang bernafas tersenggal-senggal. Si dokter pun ngotot tak bisa menerima pasien, “dari tadi kan saya bilang di sini sudah penuh, masa ibu tidak mengerti!”.
Mace Rusna  bersikeras, ia tetap berdiri di pintu ruangan dokter tersebut walaupun dokter sudah mengakhiri pembicaraan. Tetap membatu demi menunggu kesempatan. Ia kembali memperagakan gerutuannya dalam hati. “Begini mi kayaknya kalau miskin ki di, selalu tidak diperhatikan, selalu dinomor dua kan”. Tak lama berselang seorang ibu paruh baya menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi. Mace Rusna  pun menjelaskan semuanya. Ibu itupun menawarkan tempatnya yang berada di ruang perawatan kelas 3 (ekonomi) dan ia rela pindah ke ruang kelas 1 (yang agak mahal). Mace Rusna  pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Mace Rusna  dan saudaranya mengurus semua administrasi sementara keponakannya sudah mulai dirawat, diberikan bantuan pernafasan. Malam yang panjang dan melelahkan pun terlewati dan ia menutup ceritanya dengan deretan kata,” jika kita tidak berusaha menuntut hak kita, selamanya mereka yang bekuasa tidak akan mempedulikan kita”.

Lima Bocah yang ditolak
Sesekali Mace Asih menggoyang-goyangkan badannya ketika bayi nya mulai menangis. Ia lantas melanjutkan cerita tentang anak ke tiganya yang tidak diterima di SD negeri yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia tak menyangka anaknya yang sudah menginjak usia 9 tahun itu, tidak lulus masuk ke sekolah negeri tersebut. Bukan hanya anaknya, ada 4 anak lain dari tanah rawa yang juga tidak diterima. Pada hari pengumuman, Mace Asih penasaran mengapa anaknya tidak diterima. Ia pun berinisitaif mencari tahu dan bertanya pada panitia penyeleksi.

Sebelum bercerita lebih lanjut, mace Asih mengungkapkan keheranannya akan proses seleksi yang berlakukan pihak sekolah terhadap calon siswa. Setelah mendapatkan nomor pendaftaran, anak-anak tersebut masih harus menjalani tes membaca dan menulis. “Terus apa gunanya sekolah itu anak-anak kalau sudah tahu memang mi membaca sama menulis, sekolah kan gunanya untuk mengajari itu”, ketus mace Asih.
Benar saja, alasan utama mengapa anaknya ditolak karena ia tidak lancar membaca dan menulis. Ia pun berang, begitu juga dengan ibu-ibu lain baik dari tanah rawa maupun sekitarnya yang juga mendapati nomor pendaftaran anaknya tidak tertera di papan pengumuman kelulusan. Mereka pun pulang dengan sesak di dada. Beberapa ibu-ibu pun mengeluarkan celetukan, “kalo orang miskin susah sekali diterima, sementara yang kaya tidak banyak tanya langsung-langsung ji diterima”. Lima anak tanah rawa tak jadi bersekolah.

Bukan Pencuri
Saya kaget ketika Mace Lia tiba-tiba saja naik ke rumah panggung tempat kami berkumpul. Tidak biasanya mace yang satu ini antusias dengan keramaian. Beberapa kali kami mengajaknya untuk ikut berkumpul dengan ibu-ibu lain di tanah rawa, namun ia selalu punya alasan untuk menolak. Kali ini ia punya sesuatu untuk dibagi, namun ini bukan sesuatu yang menyenangkan.
Anaknya yang paling tua sedang ditahan di polsek, padahal ia jadi tulang punggung perekenomian keluarga  saat ini. Ia dituduh mencuri penutup ban mobil yang biasa nangkring di belakang mobil Jeep. Menurut mace Lia anaknya, saat itu tidak jauh dari TKP dan tiba-tiba ada dua anak berlari ke arahnya dan memberikan sesuatu. Ternyata itu adalah penutup ban mobil, ia terpaku tak mengerti. Tak lama setelahnya satpam mendatanginya. Ia kemudian disemprot dengan pertanyaan tanpa sempat menyela,kemudian di bawa ke pos satpam pasar.

Ia meminta pendapat dari ibu-ibu yang lain tentang bagaimana cara mengeluarkan anaknya dari tahanan polisi. Kami pun silih berganti berbicara. Pembicaraan mengerucut pada satu solusi, mace Lia disarankan berbicara pada penyidik anaknya dan memaparkan tentang kejadian dan kondisinya saat ini. Jika celah tak ada, kami sepakat akan mencari jalan lain yang memungkinkan.  

Mace Lia sudah berbagi, ia perih karena ia tahu ini akan sulit. Ia tahu bahwa polisi sangat suka duit agar anaknya bebas. Ia tahu bahwa orang sepertinya sangat mudah dituduh kriminal, tanpa punya kesempatan membela diri. Ia juga tahu, hari-hari setelah hari ini akan semakin sulit. Ia kini hanya punya setumpuk utang dan seorang anak remaja yang murung di balik jeruji.

****

Saat itu pula, saat tiga cerita mengalir tulus dari tiga ibu di tanah rawa, saat kami berkumpul di rumah panggung saya berniat menuliskannya di sini. Agar saya tidak lupa, bahwa perih pernah  tergores dalam di hati mereka. Agar saya tidak lupa bahwa hidup yang lebih baik layak diperjuangkan!

Kamis, 28 Juni 2012

Footballize Me!


Saya tidak tahu pasti kapan kegilaan saya terhadap sepakbola dimulai. Seingatku waktu SMP, beberapa kali saya menyempatkan diri menonton siaran sepakbola di TV. Liga Italia kala itu menjadi liga paling bergengsi di eropa, sebelum akhirnya terpuruk karena kasus pengaturan skor dan krisis ekonomi.  Kebetulan TV di Indonesia (sampai sekarang) dengan sokongan produsen rokok mampu membeli hak siar tersebut, sehingga saya yang berada di kota kecil mampu mengkonsumsinya.
Sekarang saya sangat suka menonton sepakbola, dari pertandingan tarkam (antar kampung), liga indonesia hingga pertandingan bergengsi selevel liga inggris dan champions eropa. Tentu saja ini hanya bisnis, sebuah industri yang di dalamnya ada pekerja dan pemilik modal serta orang-orang seperti saya, konsumen. Hahaha
Begitu krisis ekonomi datang, kualitas kompetisi pun ikut menurun. Klub-klub di Italia dan Spanyol merasakan sulitnya mengelelola sebuah klub dengan besarnya utang. Walhasil Hernan Cerspo di Italia dan Ruud Van Nisteltoy masih bermain di divisi teratas dan menjadi tulang punggung timnya masing-masing. Gaji yang tak lagi mahal plus pengalaman dan kemampuan yang masih tersisa di mantan pemain top dunia tersebut  menjadi alasan kuat bagi klub untuk mempertahankannya.
Saya tak begitu fanatik dengan sebuah tim, tapi saya menyukai Chelsea FC. Tim asal London barat ini adalah tim yang sering saya pakai saat bermain game PES atau Winning Eleven. Mungkin alasannya hanya itu saja. Saat masih diasuh Jose Mourinho mereka punya pemain-pemain yang punya fisik yang kuat, sehingga di PES saya bisa dengan mudah merebut bola dari kaki lawan.
Chelsea bermain di liga Inggris, di mana kompetisi ini merupakan variabel yang baik untuk melihat bagaimana sepakbola dikelola sebagai sebuah industri yang menghasilkan keuntungan bagi pemodal. Inggris layaknya negeri-negeri miskin seperti Indonesia di mana segala syarat untuk membangun sebuah imperium ekonomi tersedia di dalamnya. Jika di negara seperti Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah dan pekerja yang murah, Inggris memiliki kultur masyarakat yang gila sepakbola serta deretan sekolah sepakbola yang siap memasok pemain-pemain baru. Oleh karenanya tidak heran jika investor kelas kakap seperti Abrahamovic dan Syekh Masour tidak ragu meggelontorkan miliaran dollar untuk membangun tim yang kuat di Inggris.
Dan hal yang penting tentang sepakbola adalah kenangan dengan seorang teman. Dia juga gila bola, dan kami sering menonton pertandingan liga inggris bersama-sama. Saya masih ingat bagaimana ekspresinya ketika Intermilan- tim yang ia bela karena pelatihnya Jose Mourinho-berjumpa Bayern Munich di final Liga Champions musim 2009-2010. Dia seperti menonton langsung di stadion tempat digelarnya pertandingan. Berteriak-teriak, rambutnya diacak-acak, bahkan menutup mata saat pemain Bayern mendapat peluang yang baik untuk mencetak gol. Sungguh lebay fans sepakbola yang satu ini. Hahaha
Sekarang ia sedang berjuang agar bisa kembali menapak tanah dan menikmati sepakbola, tentu saja sendiri tanpa saya. 

Senin, 04 Juli 2011

Imanjinasi, jenis kudapan apa lagi itu?


Sungguh sudah  lama...tidak..tidak..baru saja beberapa hari kok..meninggalakan kota sombong ini kadang dipelukan untuk menjaga pikiranmu supaya tetap waras. Ah...memang sedari awal kota ini dipenuhi orang gila kok dan saya tak mau membahasnya di sini. Hehehe. Ayolah, kau harus datang kembali secepatnya dan gila lagi bersamaku, bersama ubin jalan setapak, bersama ruko kecil di sudut jalan, bersama lubang-lubang di tengah jalan yang selalu kita lalui bersama hampir tiap hari.
Kau tahu? Sudah berapa hari ini saya sedang tertarik dengan sebuah kata. Ia adalah imajinasi, mungkin kata ini yang membuat beberapa dari kita tetap waras, dan jangan mendebatku soal kata ‘waras’ ini. Ayolah kita sama-sama tahu mana yang dibilang waras dan yang tidak, walaupun ada tepi yang tak jelas diantara keduanya. Alah, jika kau menginginkan lebih....ahh pusing saya dibuatnya.
Saya dan seorang perempuan tua, beberapa waktu yang lalu, ya kami berdua tersesat dalam percakapan kami sendiri, percakapan acak tentang banyak hal -yang kau tahu- ini sangat mengandalkan imajinasi. Entah bagaimana, ia lantas bertanya soal apa yang kau lakukan ketika masyarakat kita sudah meninggalkan gaya hidup dengan opresi kelas sosialnya seperti sekarang ini. Banyak hal kubilang, yang pertama ya mencukupi kebutuhan dasarku dengan bertani. Mendirikan Adobe, bertetangga, kadang-kadang menenun, membuat sebuah lagu untukmu, mungkin juga melukis wajahmu, atau menemukan  lelucon yang bisa membuatmu tertawa (hahaha..I’m still working on it).
Saya meninggalkan percakapan itu, ia punya si bibir mancung sekarang untuk mengobrol, dan tentu saja menguras imajinasinya. Saya kemudian sibuk dengan kepalaku sendiri, menciptakan dunia sendiri setelah menyedu kopi dan membakar rokok murah yang kubeli dari warung sebelah rumah. Dunianya mungkin seperti ini:
Siang tadi ketika hendak membeli makanan, motor hitam rongsokanku itu kupacu di jalan menuju warung makan. Disepanjang jalan tampak beberapa bocah memegang kaleng yang dililiti benang, mereka sedang bermain layang-layang pikirku. Yap, benar sekali beberapa layangan tampak dilangit di atasku. Jika ada kendaraan yang lewat, mereka akan meninggikan benangnya agar tak nyangkut pada motor atau mobil yang lewat. Sungguh sulit mendapat tanah lapang di tengah kota sombong ini pikirku, dan mereka begitu gigih bermain di jalan raya yang tak kenal belas kasih itu.
Karenanya pula saya jadi ingat masa kecil ku di kota kecil yang sangat mengandalkan pelabuhannya untuk tetap bisa berdenyut. Tentang bau tanah merah, kaki yang berdarah setelah berlarian di tengah tanah berbalut rumput liar, tentang baju dan celanaku yang selalu sangat kotor ketika pulang ke rumah di sore hari untuk mandi kemudian makan. Tentang itik yang kupelihara dan kucuri telurnya di tiap pagi untuk kujadikan sarapan. Tentang rawa tempat memancing ikan gabus yang seringkali berakhir dengan kegagalan membawa pulang tangkapan. Jika sudah begitu, saya akan mengambil jaring bekas ayakan pasir milik tetangga dan memanggil beberapa temanku untuk menjaring ikan brengsek yang tak mau memakan umpanku. Hahaha. Mereka berakhir di panggangan dengan arang dari ranting kayu dan dedaunan. Itu hanya hanya masa kecil dan untunglah saya masih bisa mengingatnya.
***
Semalam, dengan telpon genggam pemberian saudaraku saya menerima telponmu dari kota yang jauh. Katamu tadi siang kamu baru saja menggoreng tempe dan membuat kue, senang mendengarnya :p. Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu kita pergi ke toko buku, mencari-cari buku yang cocok. Aku menemukan satu di toko buku pertama yang sebenarnya lebih mirip swalayan satationary. Judulnya Ketika Manusia Kloning Berkuasa, ketika pertamakali melihatnya, judul dan covernya sungguh tak menarik, tapi setelah membaca sinopsisnya saya jadi tertarik. Ya, imajinasi yang kuat pikirku, hmm ..tentang bagaimana kehidupan manusia di masa yang akan datang. Oh bukan, ketika manusia tak ada lagi, berganti manusia cebol tak beralat kelamin yang berkembang biak dengan cara mengkloning dirinya sendiri. Tema fiksi tentang peradaban yang hancur, akan hancur, telah hancur, cukup banyak loh. Sederet buku dan film tentang tema inipun ku koleksi diantranya the road, the day the earth stood still, resident evil, the matrix, the book of eli, terminator, kulupai sisanya. Dan kau tahu? Entah mengapa saya begitu menikmati ketika adegan dalam film atau novel yang kubaca berakhir dengan kehancuran peradaban. Sayu sepertinya sudah sinting.  :p
Tentu penulis novel dan naskah film bertema ini punya imajinasi yang cukup kuat, dan juga dibantu oleh pengetahuan penulis dan perspektifnya yang radikal dalam melihat dunia hari ini. Dan imajinasiku hanya berhenti di sini? Coba kuingat-ingat dulu, apa imajinasi ku tentang masa depan? Saya berpikir kuat, tak menemukannya, hanya ada bayang samar, hmm ...saya melihat  dirimu didalamnya. Dan itulah imajinasiku untuk masa depan! :P

Jumat, 25 Oktober 2013

Di mana Pencerita Lebah?


Jenny
Hari-hari di sini semakin membosankan. Di mana kah kau pencipta cerita lebah? Di kota ini semua yang kulakukan hampir sama. Walau membosankan, saya ingin bertahan. Tidak tahu sampai kapan. Saya rindu rumah, saya rindu mama, saya rindu bapak. Mereka tinggal berdua di rumah papan itu. Saya semakin rindu kalau hujan seperti ini, karena rumah selalu hangat oleh mereka.

Hei pencerita, kau masih hidup bukan? Kemarin saya mimpi soal kau. Saya juga berbincang dengan teman tentang dirimu. Untuk sesaat kenangan dulu memanjat ke permukaan. Kau ingat Mou? Dia akan sukses di Inggris. Kau membencinya? Hahahaha. Kita tetap rival dalam urusan sepakbola.

Saya tidak tau kita memang dekat atau tidak. Tapi kurasa musim hujan beberapa tahun yang lalu, kita lalui dengan baik sebagai pengangguran angkatan baru.

Semoga kau sehat-sehat saja. Saya sedang bosan. Semoga bisa bertemu denganmu. Saya rindu.

Senin, 09 Juli 2012

Tiga Cerita di Rumah Panggung

Kami sedang menunggu siang itu, saya dan dua orang temanku menanti beberapa orang ibu-ibu di tanah rawa. Rencananya akan ada pertemuan sore itu, kami hendak belajar bersama tentang berbagai macam hal, mulai dari keterampilan kreatif hingga pengetahuan kritis tentang kondisi hari ini. Pertemuan belum juga dimulai, kami bersama dua orang ibu yang baru datang sudah  terlibat  dalam pembicaraan serius tentang anak-anak mereka yang mendaftar di SD negeri dan tentang keponakannya yang sulit mendapatkan layanan pengobatan. Mungkin seperti ini rekaman saya saat itu.

Rumah sakit yang benar-benar sakit
Mace (kata yang artinya sama degan ibu dalam bahasa indonesia) Rusna lebih dulu melontarkan kekesalannya akibat ulah pihak rumah sakit yang berseblahan dengan hotel bertaraf internasional. Ia mulai dengan keponakannya yang berumur 10 bulan yang tiba-tiba sesak nafas di malam hari. Saudara Mace Rusna  sudah mendatangi dua rumah sakit dan selalu ditolak dengan alasan sudah tidak ada lagi ruang perawatan yang kosong. Melihat kondisi ini, akhirnya mace Rusna  berinisiatif menemani saudaranya untuk berbicara ke pihak rumah sakit. Sesampainya di sana, mace Rusna  ngotot agar keponakannya segera ditangani, ia pun diarahkan untuk menemui salah satu dokter. Ia diundang masuk ke sebuah ruangan dan diminta menjelaskan duduk persoalannya. Dengan berapi-api ia mencontohkan apa yang dikatakannya pada dokter malam itu. “Saya mengerti pak sepenuhnya kalau dibilang sudah penuh, tapi saya tidak mengerti kalau anak kecil ini tidak bisa diobat hanya karena tidak ada ruangan”, ujar mace Rusna  mencontohkan. Ia melontarkan kata-kata itu sambil menangis karena ia sempat menoleh ke ponakannya yang bernafas tersenggal-senggal. Si dokter pun ngotot tak bisa menerima pasien, “dari tadi kan saya bilang di sini sudah penuh, masa ibu tidak mengerti!”.
Mace Rusna  bersikeras, ia tetap berdiri di pintu ruangan dokter tersebut walaupun dokter sudah mengakhiri pembicaraan. Tetap membatu demi menunggu kesempatan. Ia kembali memperagakan gerutuannya dalam hati. “Begini mi kayaknya kalau miskin ki di, selalu tidak diperhatikan, selalu dinomor dua kan”. Tak lama berselang seorang ibu paruh baya menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi. Mace Rusna  pun menjelaskan semuanya. Ibu itupun menawarkan tempatnya yang berada di ruang perawatan kelas 3 (ekonomi) dan ia rela pindah ke ruang kelas 1 (yang agak mahal). Mace Rusna  pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Mace Rusna  dan saudaranya mengurus semua administrasi sementara keponakannya sudah mulai dirawat, diberikan bantuan pernafasan. Malam yang panjang dan melelahkan pun terlewati dan ia menutup ceritanya dengan deretan kata,” jika kita tidak berusaha menuntut hak kita, selamanya mereka yang bekuasa tidak akan mempedulikan kita”.

Lima Bocah yang ditolak
Sesekali Mace Asih menggoyang-goyangkan badannya ketika bayi nya mulai menangis. Ia lantas melanjutkan cerita tentang anak ke tiganya yang tidak diterima di SD negeri yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia tak menyangka anaknya yang sudah menginjak usia 9 tahun itu, tidak lulus masuk ke sekolah negeri tersebut. Bukan hanya anaknya, ada 4 anak lain dari tanah rawa yang juga tidak diterima. Pada hari pengumuman, Mace Asih penasaran mengapa anaknya tidak diterima. Ia pun berinisitaif mencari tahu dan bertanya pada panitia penyeleksi.

Sebelum bercerita lebih lanjut, mace Asih mengungkapkan keheranannya akan proses seleksi yang berlakukan pihak sekolah terhadap calon siswa. Setelah mendapatkan nomor pendaftaran, anak-anak tersebut masih harus menjalani tes membaca dan menulis. “Terus apa gunanya sekolah itu anak-anak kalau sudah tahu memang mi membaca sama menulis, sekolah kan gunanya untuk mengajari itu”, ketus mace Asih.
Benar saja, alasan utama mengapa anaknya ditolak karena ia tidak lancar membaca dan menulis. Ia pun berang, begitu juga dengan ibu-ibu lain baik dari tanah rawa maupun sekitarnya yang juga mendapati nomor pendaftaran anaknya tidak tertera di papan pengumuman kelulusan. Mereka pun pulang dengan sesak di dada. Beberapa ibu-ibu pun mengeluarkan celetukan, “kalo orang miskin susah sekali diterima, sementara yang kaya tidak banyak tanya langsung-langsung ji diterima”. Lima anak tanah rawa tak jadi bersekolah.

Bukan Pencuri
Saya kaget ketika Mace Lia tiba-tiba saja naik ke rumah panggung tempat kami berkumpul. Tidak biasanya mace yang satu ini antusias dengan keramaian. Beberapa kali kami mengajaknya untuk ikut berkumpul dengan ibu-ibu lain di tanah rawa, namun ia selalu punya alasan untuk menolak. Kali ini ia punya sesuatu untuk dibagi, namun ini bukan sesuatu yang menyenangkan.
Anaknya yang paling tua sedang ditahan di polsek, padahal ia jadi tulang punggung perekenomian keluarga  saat ini. Ia dituduh mencuri penutup ban mobil yang biasa nangkring di belakang mobil Jeep. Menurut mace Lia anaknya, saat itu tidak jauh dari TKP dan tiba-tiba ada dua anak berlari ke arahnya dan memberikan sesuatu. Ternyata itu adalah penutup ban mobil, ia terpaku tak mengerti. Tak lama setelahnya satpam mendatanginya. Ia kemudian disemprot dengan pertanyaan tanpa sempat menyela,kemudian di bawa ke pos satpam pasar.

Ia meminta pendapat dari ibu-ibu yang lain tentang bagaimana cara mengeluarkan anaknya dari tahanan polisi. Kami pun silih berganti berbicara. Pembicaraan mengerucut pada satu solusi, mace Lia disarankan berbicara pada penyidik anaknya dan memaparkan tentang kejadian dan kondisinya saat ini. Jika celah tak ada, kami sepakat akan mencari jalan lain yang memungkinkan.  

Mace Lia sudah berbagi, ia perih karena ia tahu ini akan sulit. Ia tahu bahwa polisi sangat suka duit agar anaknya bebas. Ia tahu bahwa orang sepertinya sangat mudah dituduh kriminal, tanpa punya kesempatan membela diri. Ia juga tahu, hari-hari setelah hari ini akan semakin sulit. Ia kini hanya punya setumpuk utang dan seorang anak remaja yang murung di balik jeruji.

****

Saat itu pula, saat tiga cerita mengalir tulus dari tiga ibu di tanah rawa, saat kami berkumpul di rumah panggung saya berniat menuliskannya di sini. Agar saya tidak lupa, bahwa perih pernah  tergores dalam di hati mereka. Agar saya tidak lupa bahwa hidup yang lebih baik layak diperjuangkan!

Kamis, 28 Juni 2012

Footballize Me!


Saya tidak tahu pasti kapan kegilaan saya terhadap sepakbola dimulai. Seingatku waktu SMP, beberapa kali saya menyempatkan diri menonton siaran sepakbola di TV. Liga Italia kala itu menjadi liga paling bergengsi di eropa, sebelum akhirnya terpuruk karena kasus pengaturan skor dan krisis ekonomi.  Kebetulan TV di Indonesia (sampai sekarang) dengan sokongan produsen rokok mampu membeli hak siar tersebut, sehingga saya yang berada di kota kecil mampu mengkonsumsinya.
Sekarang saya sangat suka menonton sepakbola, dari pertandingan tarkam (antar kampung), liga indonesia hingga pertandingan bergengsi selevel liga inggris dan champions eropa. Tentu saja ini hanya bisnis, sebuah industri yang di dalamnya ada pekerja dan pemilik modal serta orang-orang seperti saya, konsumen. Hahaha
Begitu krisis ekonomi datang, kualitas kompetisi pun ikut menurun. Klub-klub di Italia dan Spanyol merasakan sulitnya mengelelola sebuah klub dengan besarnya utang. Walhasil Hernan Cerspo di Italia dan Ruud Van Nisteltoy masih bermain di divisi teratas dan menjadi tulang punggung timnya masing-masing. Gaji yang tak lagi mahal plus pengalaman dan kemampuan yang masih tersisa di mantan pemain top dunia tersebut  menjadi alasan kuat bagi klub untuk mempertahankannya.
Saya tak begitu fanatik dengan sebuah tim, tapi saya menyukai Chelsea FC. Tim asal London barat ini adalah tim yang sering saya pakai saat bermain game PES atau Winning Eleven. Mungkin alasannya hanya itu saja. Saat masih diasuh Jose Mourinho mereka punya pemain-pemain yang punya fisik yang kuat, sehingga di PES saya bisa dengan mudah merebut bola dari kaki lawan.
Chelsea bermain di liga Inggris, di mana kompetisi ini merupakan variabel yang baik untuk melihat bagaimana sepakbola dikelola sebagai sebuah industri yang menghasilkan keuntungan bagi pemodal. Inggris layaknya negeri-negeri miskin seperti Indonesia di mana segala syarat untuk membangun sebuah imperium ekonomi tersedia di dalamnya. Jika di negara seperti Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah dan pekerja yang murah, Inggris memiliki kultur masyarakat yang gila sepakbola serta deretan sekolah sepakbola yang siap memasok pemain-pemain baru. Oleh karenanya tidak heran jika investor kelas kakap seperti Abrahamovic dan Syekh Masour tidak ragu meggelontorkan miliaran dollar untuk membangun tim yang kuat di Inggris.
Dan hal yang penting tentang sepakbola adalah kenangan dengan seorang teman. Dia juga gila bola, dan kami sering menonton pertandingan liga inggris bersama-sama. Saya masih ingat bagaimana ekspresinya ketika Intermilan- tim yang ia bela karena pelatihnya Jose Mourinho-berjumpa Bayern Munich di final Liga Champions musim 2009-2010. Dia seperti menonton langsung di stadion tempat digelarnya pertandingan. Berteriak-teriak, rambutnya diacak-acak, bahkan menutup mata saat pemain Bayern mendapat peluang yang baik untuk mencetak gol. Sungguh lebay fans sepakbola yang satu ini. Hahaha
Sekarang ia sedang berjuang agar bisa kembali menapak tanah dan menikmati sepakbola, tentu saja sendiri tanpa saya. 

Senin, 04 Juli 2011

Imanjinasi, jenis kudapan apa lagi itu?


Sungguh sudah  lama...tidak..tidak..baru saja beberapa hari kok..meninggalakan kota sombong ini kadang dipelukan untuk menjaga pikiranmu supaya tetap waras. Ah...memang sedari awal kota ini dipenuhi orang gila kok dan saya tak mau membahasnya di sini. Hehehe. Ayolah, kau harus datang kembali secepatnya dan gila lagi bersamaku, bersama ubin jalan setapak, bersama ruko kecil di sudut jalan, bersama lubang-lubang di tengah jalan yang selalu kita lalui bersama hampir tiap hari.
Kau tahu? Sudah berapa hari ini saya sedang tertarik dengan sebuah kata. Ia adalah imajinasi, mungkin kata ini yang membuat beberapa dari kita tetap waras, dan jangan mendebatku soal kata ‘waras’ ini. Ayolah kita sama-sama tahu mana yang dibilang waras dan yang tidak, walaupun ada tepi yang tak jelas diantara keduanya. Alah, jika kau menginginkan lebih....ahh pusing saya dibuatnya.
Saya dan seorang perempuan tua, beberapa waktu yang lalu, ya kami berdua tersesat dalam percakapan kami sendiri, percakapan acak tentang banyak hal -yang kau tahu- ini sangat mengandalkan imajinasi. Entah bagaimana, ia lantas bertanya soal apa yang kau lakukan ketika masyarakat kita sudah meninggalkan gaya hidup dengan opresi kelas sosialnya seperti sekarang ini. Banyak hal kubilang, yang pertama ya mencukupi kebutuhan dasarku dengan bertani. Mendirikan Adobe, bertetangga, kadang-kadang menenun, membuat sebuah lagu untukmu, mungkin juga melukis wajahmu, atau menemukan  lelucon yang bisa membuatmu tertawa (hahaha..I’m still working on it).
Saya meninggalkan percakapan itu, ia punya si bibir mancung sekarang untuk mengobrol, dan tentu saja menguras imajinasinya. Saya kemudian sibuk dengan kepalaku sendiri, menciptakan dunia sendiri setelah menyedu kopi dan membakar rokok murah yang kubeli dari warung sebelah rumah. Dunianya mungkin seperti ini:
Siang tadi ketika hendak membeli makanan, motor hitam rongsokanku itu kupacu di jalan menuju warung makan. Disepanjang jalan tampak beberapa bocah memegang kaleng yang dililiti benang, mereka sedang bermain layang-layang pikirku. Yap, benar sekali beberapa layangan tampak dilangit di atasku. Jika ada kendaraan yang lewat, mereka akan meninggikan benangnya agar tak nyangkut pada motor atau mobil yang lewat. Sungguh sulit mendapat tanah lapang di tengah kota sombong ini pikirku, dan mereka begitu gigih bermain di jalan raya yang tak kenal belas kasih itu.
Karenanya pula saya jadi ingat masa kecil ku di kota kecil yang sangat mengandalkan pelabuhannya untuk tetap bisa berdenyut. Tentang bau tanah merah, kaki yang berdarah setelah berlarian di tengah tanah berbalut rumput liar, tentang baju dan celanaku yang selalu sangat kotor ketika pulang ke rumah di sore hari untuk mandi kemudian makan. Tentang itik yang kupelihara dan kucuri telurnya di tiap pagi untuk kujadikan sarapan. Tentang rawa tempat memancing ikan gabus yang seringkali berakhir dengan kegagalan membawa pulang tangkapan. Jika sudah begitu, saya akan mengambil jaring bekas ayakan pasir milik tetangga dan memanggil beberapa temanku untuk menjaring ikan brengsek yang tak mau memakan umpanku. Hahaha. Mereka berakhir di panggangan dengan arang dari ranting kayu dan dedaunan. Itu hanya hanya masa kecil dan untunglah saya masih bisa mengingatnya.
***
Semalam, dengan telpon genggam pemberian saudaraku saya menerima telponmu dari kota yang jauh. Katamu tadi siang kamu baru saja menggoreng tempe dan membuat kue, senang mendengarnya :p. Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu kita pergi ke toko buku, mencari-cari buku yang cocok. Aku menemukan satu di toko buku pertama yang sebenarnya lebih mirip swalayan satationary. Judulnya Ketika Manusia Kloning Berkuasa, ketika pertamakali melihatnya, judul dan covernya sungguh tak menarik, tapi setelah membaca sinopsisnya saya jadi tertarik. Ya, imajinasi yang kuat pikirku, hmm ..tentang bagaimana kehidupan manusia di masa yang akan datang. Oh bukan, ketika manusia tak ada lagi, berganti manusia cebol tak beralat kelamin yang berkembang biak dengan cara mengkloning dirinya sendiri. Tema fiksi tentang peradaban yang hancur, akan hancur, telah hancur, cukup banyak loh. Sederet buku dan film tentang tema inipun ku koleksi diantranya the road, the day the earth stood still, resident evil, the matrix, the book of eli, terminator, kulupai sisanya. Dan kau tahu? Entah mengapa saya begitu menikmati ketika adegan dalam film atau novel yang kubaca berakhir dengan kehancuran peradaban. Sayu sepertinya sudah sinting.  :p
Tentu penulis novel dan naskah film bertema ini punya imajinasi yang cukup kuat, dan juga dibantu oleh pengetahuan penulis dan perspektifnya yang radikal dalam melihat dunia hari ini. Dan imajinasiku hanya berhenti di sini? Coba kuingat-ingat dulu, apa imajinasi ku tentang masa depan? Saya berpikir kuat, tak menemukannya, hanya ada bayang samar, hmm ...saya melihat  dirimu didalamnya. Dan itulah imajinasiku untuk masa depan! :P

Jumat, 25 Oktober 2013

Di mana Pencerita Lebah?


Jenny
Hari-hari di sini semakin membosankan. Di mana kah kau pencipta cerita lebah? Di kota ini semua yang kulakukan hampir sama. Walau membosankan, saya ingin bertahan. Tidak tahu sampai kapan. Saya rindu rumah, saya rindu mama, saya rindu bapak. Mereka tinggal berdua di rumah papan itu. Saya semakin rindu kalau hujan seperti ini, karena rumah selalu hangat oleh mereka.

Hei pencerita, kau masih hidup bukan? Kemarin saya mimpi soal kau. Saya juga berbincang dengan teman tentang dirimu. Untuk sesaat kenangan dulu memanjat ke permukaan. Kau ingat Mou? Dia akan sukses di Inggris. Kau membencinya? Hahahaha. Kita tetap rival dalam urusan sepakbola.

Saya tidak tau kita memang dekat atau tidak. Tapi kurasa musim hujan beberapa tahun yang lalu, kita lalui dengan baik sebagai pengangguran angkatan baru.

Semoga kau sehat-sehat saja. Saya sedang bosan. Semoga bisa bertemu denganmu. Saya rindu.

Senin, 09 Juli 2012

Tiga Cerita di Rumah Panggung

Kami sedang menunggu siang itu, saya dan dua orang temanku menanti beberapa orang ibu-ibu di tanah rawa. Rencananya akan ada pertemuan sore itu, kami hendak belajar bersama tentang berbagai macam hal, mulai dari keterampilan kreatif hingga pengetahuan kritis tentang kondisi hari ini. Pertemuan belum juga dimulai, kami bersama dua orang ibu yang baru datang sudah  terlibat  dalam pembicaraan serius tentang anak-anak mereka yang mendaftar di SD negeri dan tentang keponakannya yang sulit mendapatkan layanan pengobatan. Mungkin seperti ini rekaman saya saat itu.

Rumah sakit yang benar-benar sakit
Mace (kata yang artinya sama degan ibu dalam bahasa indonesia) Rusna lebih dulu melontarkan kekesalannya akibat ulah pihak rumah sakit yang berseblahan dengan hotel bertaraf internasional. Ia mulai dengan keponakannya yang berumur 10 bulan yang tiba-tiba sesak nafas di malam hari. Saudara Mace Rusna  sudah mendatangi dua rumah sakit dan selalu ditolak dengan alasan sudah tidak ada lagi ruang perawatan yang kosong. Melihat kondisi ini, akhirnya mace Rusna  berinisiatif menemani saudaranya untuk berbicara ke pihak rumah sakit. Sesampainya di sana, mace Rusna  ngotot agar keponakannya segera ditangani, ia pun diarahkan untuk menemui salah satu dokter. Ia diundang masuk ke sebuah ruangan dan diminta menjelaskan duduk persoalannya. Dengan berapi-api ia mencontohkan apa yang dikatakannya pada dokter malam itu. “Saya mengerti pak sepenuhnya kalau dibilang sudah penuh, tapi saya tidak mengerti kalau anak kecil ini tidak bisa diobat hanya karena tidak ada ruangan”, ujar mace Rusna  mencontohkan. Ia melontarkan kata-kata itu sambil menangis karena ia sempat menoleh ke ponakannya yang bernafas tersenggal-senggal. Si dokter pun ngotot tak bisa menerima pasien, “dari tadi kan saya bilang di sini sudah penuh, masa ibu tidak mengerti!”.
Mace Rusna  bersikeras, ia tetap berdiri di pintu ruangan dokter tersebut walaupun dokter sudah mengakhiri pembicaraan. Tetap membatu demi menunggu kesempatan. Ia kembali memperagakan gerutuannya dalam hati. “Begini mi kayaknya kalau miskin ki di, selalu tidak diperhatikan, selalu dinomor dua kan”. Tak lama berselang seorang ibu paruh baya menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi. Mace Rusna  pun menjelaskan semuanya. Ibu itupun menawarkan tempatnya yang berada di ruang perawatan kelas 3 (ekonomi) dan ia rela pindah ke ruang kelas 1 (yang agak mahal). Mace Rusna  pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Mace Rusna  dan saudaranya mengurus semua administrasi sementara keponakannya sudah mulai dirawat, diberikan bantuan pernafasan. Malam yang panjang dan melelahkan pun terlewati dan ia menutup ceritanya dengan deretan kata,” jika kita tidak berusaha menuntut hak kita, selamanya mereka yang bekuasa tidak akan mempedulikan kita”.

Lima Bocah yang ditolak
Sesekali Mace Asih menggoyang-goyangkan badannya ketika bayi nya mulai menangis. Ia lantas melanjutkan cerita tentang anak ke tiganya yang tidak diterima di SD negeri yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia tak menyangka anaknya yang sudah menginjak usia 9 tahun itu, tidak lulus masuk ke sekolah negeri tersebut. Bukan hanya anaknya, ada 4 anak lain dari tanah rawa yang juga tidak diterima. Pada hari pengumuman, Mace Asih penasaran mengapa anaknya tidak diterima. Ia pun berinisitaif mencari tahu dan bertanya pada panitia penyeleksi.

Sebelum bercerita lebih lanjut, mace Asih mengungkapkan keheranannya akan proses seleksi yang berlakukan pihak sekolah terhadap calon siswa. Setelah mendapatkan nomor pendaftaran, anak-anak tersebut masih harus menjalani tes membaca dan menulis. “Terus apa gunanya sekolah itu anak-anak kalau sudah tahu memang mi membaca sama menulis, sekolah kan gunanya untuk mengajari itu”, ketus mace Asih.
Benar saja, alasan utama mengapa anaknya ditolak karena ia tidak lancar membaca dan menulis. Ia pun berang, begitu juga dengan ibu-ibu lain baik dari tanah rawa maupun sekitarnya yang juga mendapati nomor pendaftaran anaknya tidak tertera di papan pengumuman kelulusan. Mereka pun pulang dengan sesak di dada. Beberapa ibu-ibu pun mengeluarkan celetukan, “kalo orang miskin susah sekali diterima, sementara yang kaya tidak banyak tanya langsung-langsung ji diterima”. Lima anak tanah rawa tak jadi bersekolah.

Bukan Pencuri
Saya kaget ketika Mace Lia tiba-tiba saja naik ke rumah panggung tempat kami berkumpul. Tidak biasanya mace yang satu ini antusias dengan keramaian. Beberapa kali kami mengajaknya untuk ikut berkumpul dengan ibu-ibu lain di tanah rawa, namun ia selalu punya alasan untuk menolak. Kali ini ia punya sesuatu untuk dibagi, namun ini bukan sesuatu yang menyenangkan.
Anaknya yang paling tua sedang ditahan di polsek, padahal ia jadi tulang punggung perekenomian keluarga  saat ini. Ia dituduh mencuri penutup ban mobil yang biasa nangkring di belakang mobil Jeep. Menurut mace Lia anaknya, saat itu tidak jauh dari TKP dan tiba-tiba ada dua anak berlari ke arahnya dan memberikan sesuatu. Ternyata itu adalah penutup ban mobil, ia terpaku tak mengerti. Tak lama setelahnya satpam mendatanginya. Ia kemudian disemprot dengan pertanyaan tanpa sempat menyela,kemudian di bawa ke pos satpam pasar.

Ia meminta pendapat dari ibu-ibu yang lain tentang bagaimana cara mengeluarkan anaknya dari tahanan polisi. Kami pun silih berganti berbicara. Pembicaraan mengerucut pada satu solusi, mace Lia disarankan berbicara pada penyidik anaknya dan memaparkan tentang kejadian dan kondisinya saat ini. Jika celah tak ada, kami sepakat akan mencari jalan lain yang memungkinkan.  

Mace Lia sudah berbagi, ia perih karena ia tahu ini akan sulit. Ia tahu bahwa polisi sangat suka duit agar anaknya bebas. Ia tahu bahwa orang sepertinya sangat mudah dituduh kriminal, tanpa punya kesempatan membela diri. Ia juga tahu, hari-hari setelah hari ini akan semakin sulit. Ia kini hanya punya setumpuk utang dan seorang anak remaja yang murung di balik jeruji.

****

Saat itu pula, saat tiga cerita mengalir tulus dari tiga ibu di tanah rawa, saat kami berkumpul di rumah panggung saya berniat menuliskannya di sini. Agar saya tidak lupa, bahwa perih pernah  tergores dalam di hati mereka. Agar saya tidak lupa bahwa hidup yang lebih baik layak diperjuangkan!

Kamis, 28 Juni 2012

Footballize Me!


Saya tidak tahu pasti kapan kegilaan saya terhadap sepakbola dimulai. Seingatku waktu SMP, beberapa kali saya menyempatkan diri menonton siaran sepakbola di TV. Liga Italia kala itu menjadi liga paling bergengsi di eropa, sebelum akhirnya terpuruk karena kasus pengaturan skor dan krisis ekonomi.  Kebetulan TV di Indonesia (sampai sekarang) dengan sokongan produsen rokok mampu membeli hak siar tersebut, sehingga saya yang berada di kota kecil mampu mengkonsumsinya.
Sekarang saya sangat suka menonton sepakbola, dari pertandingan tarkam (antar kampung), liga indonesia hingga pertandingan bergengsi selevel liga inggris dan champions eropa. Tentu saja ini hanya bisnis, sebuah industri yang di dalamnya ada pekerja dan pemilik modal serta orang-orang seperti saya, konsumen. Hahaha
Begitu krisis ekonomi datang, kualitas kompetisi pun ikut menurun. Klub-klub di Italia dan Spanyol merasakan sulitnya mengelelola sebuah klub dengan besarnya utang. Walhasil Hernan Cerspo di Italia dan Ruud Van Nisteltoy masih bermain di divisi teratas dan menjadi tulang punggung timnya masing-masing. Gaji yang tak lagi mahal plus pengalaman dan kemampuan yang masih tersisa di mantan pemain top dunia tersebut  menjadi alasan kuat bagi klub untuk mempertahankannya.
Saya tak begitu fanatik dengan sebuah tim, tapi saya menyukai Chelsea FC. Tim asal London barat ini adalah tim yang sering saya pakai saat bermain game PES atau Winning Eleven. Mungkin alasannya hanya itu saja. Saat masih diasuh Jose Mourinho mereka punya pemain-pemain yang punya fisik yang kuat, sehingga di PES saya bisa dengan mudah merebut bola dari kaki lawan.
Chelsea bermain di liga Inggris, di mana kompetisi ini merupakan variabel yang baik untuk melihat bagaimana sepakbola dikelola sebagai sebuah industri yang menghasilkan keuntungan bagi pemodal. Inggris layaknya negeri-negeri miskin seperti Indonesia di mana segala syarat untuk membangun sebuah imperium ekonomi tersedia di dalamnya. Jika di negara seperti Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah dan pekerja yang murah, Inggris memiliki kultur masyarakat yang gila sepakbola serta deretan sekolah sepakbola yang siap memasok pemain-pemain baru. Oleh karenanya tidak heran jika investor kelas kakap seperti Abrahamovic dan Syekh Masour tidak ragu meggelontorkan miliaran dollar untuk membangun tim yang kuat di Inggris.
Dan hal yang penting tentang sepakbola adalah kenangan dengan seorang teman. Dia juga gila bola, dan kami sering menonton pertandingan liga inggris bersama-sama. Saya masih ingat bagaimana ekspresinya ketika Intermilan- tim yang ia bela karena pelatihnya Jose Mourinho-berjumpa Bayern Munich di final Liga Champions musim 2009-2010. Dia seperti menonton langsung di stadion tempat digelarnya pertandingan. Berteriak-teriak, rambutnya diacak-acak, bahkan menutup mata saat pemain Bayern mendapat peluang yang baik untuk mencetak gol. Sungguh lebay fans sepakbola yang satu ini. Hahaha
Sekarang ia sedang berjuang agar bisa kembali menapak tanah dan menikmati sepakbola, tentu saja sendiri tanpa saya. 

Senin, 04 Juli 2011

Imanjinasi, jenis kudapan apa lagi itu?


Sungguh sudah  lama...tidak..tidak..baru saja beberapa hari kok..meninggalakan kota sombong ini kadang dipelukan untuk menjaga pikiranmu supaya tetap waras. Ah...memang sedari awal kota ini dipenuhi orang gila kok dan saya tak mau membahasnya di sini. Hehehe. Ayolah, kau harus datang kembali secepatnya dan gila lagi bersamaku, bersama ubin jalan setapak, bersama ruko kecil di sudut jalan, bersama lubang-lubang di tengah jalan yang selalu kita lalui bersama hampir tiap hari.
Kau tahu? Sudah berapa hari ini saya sedang tertarik dengan sebuah kata. Ia adalah imajinasi, mungkin kata ini yang membuat beberapa dari kita tetap waras, dan jangan mendebatku soal kata ‘waras’ ini. Ayolah kita sama-sama tahu mana yang dibilang waras dan yang tidak, walaupun ada tepi yang tak jelas diantara keduanya. Alah, jika kau menginginkan lebih....ahh pusing saya dibuatnya.
Saya dan seorang perempuan tua, beberapa waktu yang lalu, ya kami berdua tersesat dalam percakapan kami sendiri, percakapan acak tentang banyak hal -yang kau tahu- ini sangat mengandalkan imajinasi. Entah bagaimana, ia lantas bertanya soal apa yang kau lakukan ketika masyarakat kita sudah meninggalkan gaya hidup dengan opresi kelas sosialnya seperti sekarang ini. Banyak hal kubilang, yang pertama ya mencukupi kebutuhan dasarku dengan bertani. Mendirikan Adobe, bertetangga, kadang-kadang menenun, membuat sebuah lagu untukmu, mungkin juga melukis wajahmu, atau menemukan  lelucon yang bisa membuatmu tertawa (hahaha..I’m still working on it).
Saya meninggalkan percakapan itu, ia punya si bibir mancung sekarang untuk mengobrol, dan tentu saja menguras imajinasinya. Saya kemudian sibuk dengan kepalaku sendiri, menciptakan dunia sendiri setelah menyedu kopi dan membakar rokok murah yang kubeli dari warung sebelah rumah. Dunianya mungkin seperti ini:
Siang tadi ketika hendak membeli makanan, motor hitam rongsokanku itu kupacu di jalan menuju warung makan. Disepanjang jalan tampak beberapa bocah memegang kaleng yang dililiti benang, mereka sedang bermain layang-layang pikirku. Yap, benar sekali beberapa layangan tampak dilangit di atasku. Jika ada kendaraan yang lewat, mereka akan meninggikan benangnya agar tak nyangkut pada motor atau mobil yang lewat. Sungguh sulit mendapat tanah lapang di tengah kota sombong ini pikirku, dan mereka begitu gigih bermain di jalan raya yang tak kenal belas kasih itu.
Karenanya pula saya jadi ingat masa kecil ku di kota kecil yang sangat mengandalkan pelabuhannya untuk tetap bisa berdenyut. Tentang bau tanah merah, kaki yang berdarah setelah berlarian di tengah tanah berbalut rumput liar, tentang baju dan celanaku yang selalu sangat kotor ketika pulang ke rumah di sore hari untuk mandi kemudian makan. Tentang itik yang kupelihara dan kucuri telurnya di tiap pagi untuk kujadikan sarapan. Tentang rawa tempat memancing ikan gabus yang seringkali berakhir dengan kegagalan membawa pulang tangkapan. Jika sudah begitu, saya akan mengambil jaring bekas ayakan pasir milik tetangga dan memanggil beberapa temanku untuk menjaring ikan brengsek yang tak mau memakan umpanku. Hahaha. Mereka berakhir di panggangan dengan arang dari ranting kayu dan dedaunan. Itu hanya hanya masa kecil dan untunglah saya masih bisa mengingatnya.
***
Semalam, dengan telpon genggam pemberian saudaraku saya menerima telponmu dari kota yang jauh. Katamu tadi siang kamu baru saja menggoreng tempe dan membuat kue, senang mendengarnya :p. Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu kita pergi ke toko buku, mencari-cari buku yang cocok. Aku menemukan satu di toko buku pertama yang sebenarnya lebih mirip swalayan satationary. Judulnya Ketika Manusia Kloning Berkuasa, ketika pertamakali melihatnya, judul dan covernya sungguh tak menarik, tapi setelah membaca sinopsisnya saya jadi tertarik. Ya, imajinasi yang kuat pikirku, hmm ..tentang bagaimana kehidupan manusia di masa yang akan datang. Oh bukan, ketika manusia tak ada lagi, berganti manusia cebol tak beralat kelamin yang berkembang biak dengan cara mengkloning dirinya sendiri. Tema fiksi tentang peradaban yang hancur, akan hancur, telah hancur, cukup banyak loh. Sederet buku dan film tentang tema inipun ku koleksi diantranya the road, the day the earth stood still, resident evil, the matrix, the book of eli, terminator, kulupai sisanya. Dan kau tahu? Entah mengapa saya begitu menikmati ketika adegan dalam film atau novel yang kubaca berakhir dengan kehancuran peradaban. Sayu sepertinya sudah sinting.  :p
Tentu penulis novel dan naskah film bertema ini punya imajinasi yang cukup kuat, dan juga dibantu oleh pengetahuan penulis dan perspektifnya yang radikal dalam melihat dunia hari ini. Dan imajinasiku hanya berhenti di sini? Coba kuingat-ingat dulu, apa imajinasi ku tentang masa depan? Saya berpikir kuat, tak menemukannya, hanya ada bayang samar, hmm ...saya melihat  dirimu didalamnya. Dan itulah imajinasiku untuk masa depan! :P