Senin, 09 Juli 2012

Tiga Cerita di Rumah Panggung

Kami sedang menunggu siang itu, saya dan dua orang temanku menanti beberapa orang ibu-ibu di tanah rawa. Rencananya akan ada pertemuan sore itu, kami hendak belajar bersama tentang berbagai macam hal, mulai dari keterampilan kreatif hingga pengetahuan kritis tentang kondisi hari ini. Pertemuan belum juga dimulai, kami bersama dua orang ibu yang baru datang sudah  terlibat  dalam pembicaraan serius tentang anak-anak mereka yang mendaftar di SD negeri dan tentang keponakannya yang sulit mendapatkan layanan pengobatan. Mungkin seperti ini rekaman saya saat itu.

Rumah sakit yang benar-benar sakit
Mace (kata yang artinya sama degan ibu dalam bahasa indonesia) Rusna lebih dulu melontarkan kekesalannya akibat ulah pihak rumah sakit yang berseblahan dengan hotel bertaraf internasional. Ia mulai dengan keponakannya yang berumur 10 bulan yang tiba-tiba sesak nafas di malam hari. Saudara Mace Rusna  sudah mendatangi dua rumah sakit dan selalu ditolak dengan alasan sudah tidak ada lagi ruang perawatan yang kosong. Melihat kondisi ini, akhirnya mace Rusna  berinisiatif menemani saudaranya untuk berbicara ke pihak rumah sakit. Sesampainya di sana, mace Rusna  ngotot agar keponakannya segera ditangani, ia pun diarahkan untuk menemui salah satu dokter. Ia diundang masuk ke sebuah ruangan dan diminta menjelaskan duduk persoalannya. Dengan berapi-api ia mencontohkan apa yang dikatakannya pada dokter malam itu. “Saya mengerti pak sepenuhnya kalau dibilang sudah penuh, tapi saya tidak mengerti kalau anak kecil ini tidak bisa diobat hanya karena tidak ada ruangan”, ujar mace Rusna  mencontohkan. Ia melontarkan kata-kata itu sambil menangis karena ia sempat menoleh ke ponakannya yang bernafas tersenggal-senggal. Si dokter pun ngotot tak bisa menerima pasien, “dari tadi kan saya bilang di sini sudah penuh, masa ibu tidak mengerti!”.
Mace Rusna  bersikeras, ia tetap berdiri di pintu ruangan dokter tersebut walaupun dokter sudah mengakhiri pembicaraan. Tetap membatu demi menunggu kesempatan. Ia kembali memperagakan gerutuannya dalam hati. “Begini mi kayaknya kalau miskin ki di, selalu tidak diperhatikan, selalu dinomor dua kan”. Tak lama berselang seorang ibu paruh baya menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi. Mace Rusna  pun menjelaskan semuanya. Ibu itupun menawarkan tempatnya yang berada di ruang perawatan kelas 3 (ekonomi) dan ia rela pindah ke ruang kelas 1 (yang agak mahal). Mace Rusna  pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Mace Rusna  dan saudaranya mengurus semua administrasi sementara keponakannya sudah mulai dirawat, diberikan bantuan pernafasan. Malam yang panjang dan melelahkan pun terlewati dan ia menutup ceritanya dengan deretan kata,” jika kita tidak berusaha menuntut hak kita, selamanya mereka yang bekuasa tidak akan mempedulikan kita”.

Lima Bocah yang ditolak
Sesekali Mace Asih menggoyang-goyangkan badannya ketika bayi nya mulai menangis. Ia lantas melanjutkan cerita tentang anak ke tiganya yang tidak diterima di SD negeri yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia tak menyangka anaknya yang sudah menginjak usia 9 tahun itu, tidak lulus masuk ke sekolah negeri tersebut. Bukan hanya anaknya, ada 4 anak lain dari tanah rawa yang juga tidak diterima. Pada hari pengumuman, Mace Asih penasaran mengapa anaknya tidak diterima. Ia pun berinisitaif mencari tahu dan bertanya pada panitia penyeleksi.

Sebelum bercerita lebih lanjut, mace Asih mengungkapkan keheranannya akan proses seleksi yang berlakukan pihak sekolah terhadap calon siswa. Setelah mendapatkan nomor pendaftaran, anak-anak tersebut masih harus menjalani tes membaca dan menulis. “Terus apa gunanya sekolah itu anak-anak kalau sudah tahu memang mi membaca sama menulis, sekolah kan gunanya untuk mengajari itu”, ketus mace Asih.
Benar saja, alasan utama mengapa anaknya ditolak karena ia tidak lancar membaca dan menulis. Ia pun berang, begitu juga dengan ibu-ibu lain baik dari tanah rawa maupun sekitarnya yang juga mendapati nomor pendaftaran anaknya tidak tertera di papan pengumuman kelulusan. Mereka pun pulang dengan sesak di dada. Beberapa ibu-ibu pun mengeluarkan celetukan, “kalo orang miskin susah sekali diterima, sementara yang kaya tidak banyak tanya langsung-langsung ji diterima”. Lima anak tanah rawa tak jadi bersekolah.

Bukan Pencuri
Saya kaget ketika Mace Lia tiba-tiba saja naik ke rumah panggung tempat kami berkumpul. Tidak biasanya mace yang satu ini antusias dengan keramaian. Beberapa kali kami mengajaknya untuk ikut berkumpul dengan ibu-ibu lain di tanah rawa, namun ia selalu punya alasan untuk menolak. Kali ini ia punya sesuatu untuk dibagi, namun ini bukan sesuatu yang menyenangkan.
Anaknya yang paling tua sedang ditahan di polsek, padahal ia jadi tulang punggung perekenomian keluarga  saat ini. Ia dituduh mencuri penutup ban mobil yang biasa nangkring di belakang mobil Jeep. Menurut mace Lia anaknya, saat itu tidak jauh dari TKP dan tiba-tiba ada dua anak berlari ke arahnya dan memberikan sesuatu. Ternyata itu adalah penutup ban mobil, ia terpaku tak mengerti. Tak lama setelahnya satpam mendatanginya. Ia kemudian disemprot dengan pertanyaan tanpa sempat menyela,kemudian di bawa ke pos satpam pasar.

Ia meminta pendapat dari ibu-ibu yang lain tentang bagaimana cara mengeluarkan anaknya dari tahanan polisi. Kami pun silih berganti berbicara. Pembicaraan mengerucut pada satu solusi, mace Lia disarankan berbicara pada penyidik anaknya dan memaparkan tentang kejadian dan kondisinya saat ini. Jika celah tak ada, kami sepakat akan mencari jalan lain yang memungkinkan.  

Mace Lia sudah berbagi, ia perih karena ia tahu ini akan sulit. Ia tahu bahwa polisi sangat suka duit agar anaknya bebas. Ia tahu bahwa orang sepertinya sangat mudah dituduh kriminal, tanpa punya kesempatan membela diri. Ia juga tahu, hari-hari setelah hari ini akan semakin sulit. Ia kini hanya punya setumpuk utang dan seorang anak remaja yang murung di balik jeruji.

****

Saat itu pula, saat tiga cerita mengalir tulus dari tiga ibu di tanah rawa, saat kami berkumpul di rumah panggung saya berniat menuliskannya di sini. Agar saya tidak lupa, bahwa perih pernah  tergores dalam di hati mereka. Agar saya tidak lupa bahwa hidup yang lebih baik layak diperjuangkan!

2 komentar:

  1. lupa cerita tentang mace yang kepengen makan roti pas ngidam. dan mace yang ketemu kembali ma anaknya. damn! :)

    BalasHapus
  2. ooh...yang saya ingat mace ndut menangis mengenang saat dipisahkan paksa dari anaknya yang masih kecil..so sad..hiks

    BalasHapus

Senin, 09 Juli 2012

Tiga Cerita di Rumah Panggung

Kami sedang menunggu siang itu, saya dan dua orang temanku menanti beberapa orang ibu-ibu di tanah rawa. Rencananya akan ada pertemuan sore itu, kami hendak belajar bersama tentang berbagai macam hal, mulai dari keterampilan kreatif hingga pengetahuan kritis tentang kondisi hari ini. Pertemuan belum juga dimulai, kami bersama dua orang ibu yang baru datang sudah  terlibat  dalam pembicaraan serius tentang anak-anak mereka yang mendaftar di SD negeri dan tentang keponakannya yang sulit mendapatkan layanan pengobatan. Mungkin seperti ini rekaman saya saat itu.

Rumah sakit yang benar-benar sakit
Mace (kata yang artinya sama degan ibu dalam bahasa indonesia) Rusna lebih dulu melontarkan kekesalannya akibat ulah pihak rumah sakit yang berseblahan dengan hotel bertaraf internasional. Ia mulai dengan keponakannya yang berumur 10 bulan yang tiba-tiba sesak nafas di malam hari. Saudara Mace Rusna  sudah mendatangi dua rumah sakit dan selalu ditolak dengan alasan sudah tidak ada lagi ruang perawatan yang kosong. Melihat kondisi ini, akhirnya mace Rusna  berinisiatif menemani saudaranya untuk berbicara ke pihak rumah sakit. Sesampainya di sana, mace Rusna  ngotot agar keponakannya segera ditangani, ia pun diarahkan untuk menemui salah satu dokter. Ia diundang masuk ke sebuah ruangan dan diminta menjelaskan duduk persoalannya. Dengan berapi-api ia mencontohkan apa yang dikatakannya pada dokter malam itu. “Saya mengerti pak sepenuhnya kalau dibilang sudah penuh, tapi saya tidak mengerti kalau anak kecil ini tidak bisa diobat hanya karena tidak ada ruangan”, ujar mace Rusna  mencontohkan. Ia melontarkan kata-kata itu sambil menangis karena ia sempat menoleh ke ponakannya yang bernafas tersenggal-senggal. Si dokter pun ngotot tak bisa menerima pasien, “dari tadi kan saya bilang di sini sudah penuh, masa ibu tidak mengerti!”.
Mace Rusna  bersikeras, ia tetap berdiri di pintu ruangan dokter tersebut walaupun dokter sudah mengakhiri pembicaraan. Tetap membatu demi menunggu kesempatan. Ia kembali memperagakan gerutuannya dalam hati. “Begini mi kayaknya kalau miskin ki di, selalu tidak diperhatikan, selalu dinomor dua kan”. Tak lama berselang seorang ibu paruh baya menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi. Mace Rusna  pun menjelaskan semuanya. Ibu itupun menawarkan tempatnya yang berada di ruang perawatan kelas 3 (ekonomi) dan ia rela pindah ke ruang kelas 1 (yang agak mahal). Mace Rusna  pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Mace Rusna  dan saudaranya mengurus semua administrasi sementara keponakannya sudah mulai dirawat, diberikan bantuan pernafasan. Malam yang panjang dan melelahkan pun terlewati dan ia menutup ceritanya dengan deretan kata,” jika kita tidak berusaha menuntut hak kita, selamanya mereka yang bekuasa tidak akan mempedulikan kita”.

Lima Bocah yang ditolak
Sesekali Mace Asih menggoyang-goyangkan badannya ketika bayi nya mulai menangis. Ia lantas melanjutkan cerita tentang anak ke tiganya yang tidak diterima di SD negeri yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia tak menyangka anaknya yang sudah menginjak usia 9 tahun itu, tidak lulus masuk ke sekolah negeri tersebut. Bukan hanya anaknya, ada 4 anak lain dari tanah rawa yang juga tidak diterima. Pada hari pengumuman, Mace Asih penasaran mengapa anaknya tidak diterima. Ia pun berinisitaif mencari tahu dan bertanya pada panitia penyeleksi.

Sebelum bercerita lebih lanjut, mace Asih mengungkapkan keheranannya akan proses seleksi yang berlakukan pihak sekolah terhadap calon siswa. Setelah mendapatkan nomor pendaftaran, anak-anak tersebut masih harus menjalani tes membaca dan menulis. “Terus apa gunanya sekolah itu anak-anak kalau sudah tahu memang mi membaca sama menulis, sekolah kan gunanya untuk mengajari itu”, ketus mace Asih.
Benar saja, alasan utama mengapa anaknya ditolak karena ia tidak lancar membaca dan menulis. Ia pun berang, begitu juga dengan ibu-ibu lain baik dari tanah rawa maupun sekitarnya yang juga mendapati nomor pendaftaran anaknya tidak tertera di papan pengumuman kelulusan. Mereka pun pulang dengan sesak di dada. Beberapa ibu-ibu pun mengeluarkan celetukan, “kalo orang miskin susah sekali diterima, sementara yang kaya tidak banyak tanya langsung-langsung ji diterima”. Lima anak tanah rawa tak jadi bersekolah.

Bukan Pencuri
Saya kaget ketika Mace Lia tiba-tiba saja naik ke rumah panggung tempat kami berkumpul. Tidak biasanya mace yang satu ini antusias dengan keramaian. Beberapa kali kami mengajaknya untuk ikut berkumpul dengan ibu-ibu lain di tanah rawa, namun ia selalu punya alasan untuk menolak. Kali ini ia punya sesuatu untuk dibagi, namun ini bukan sesuatu yang menyenangkan.
Anaknya yang paling tua sedang ditahan di polsek, padahal ia jadi tulang punggung perekenomian keluarga  saat ini. Ia dituduh mencuri penutup ban mobil yang biasa nangkring di belakang mobil Jeep. Menurut mace Lia anaknya, saat itu tidak jauh dari TKP dan tiba-tiba ada dua anak berlari ke arahnya dan memberikan sesuatu. Ternyata itu adalah penutup ban mobil, ia terpaku tak mengerti. Tak lama setelahnya satpam mendatanginya. Ia kemudian disemprot dengan pertanyaan tanpa sempat menyela,kemudian di bawa ke pos satpam pasar.

Ia meminta pendapat dari ibu-ibu yang lain tentang bagaimana cara mengeluarkan anaknya dari tahanan polisi. Kami pun silih berganti berbicara. Pembicaraan mengerucut pada satu solusi, mace Lia disarankan berbicara pada penyidik anaknya dan memaparkan tentang kejadian dan kondisinya saat ini. Jika celah tak ada, kami sepakat akan mencari jalan lain yang memungkinkan.  

Mace Lia sudah berbagi, ia perih karena ia tahu ini akan sulit. Ia tahu bahwa polisi sangat suka duit agar anaknya bebas. Ia tahu bahwa orang sepertinya sangat mudah dituduh kriminal, tanpa punya kesempatan membela diri. Ia juga tahu, hari-hari setelah hari ini akan semakin sulit. Ia kini hanya punya setumpuk utang dan seorang anak remaja yang murung di balik jeruji.

****

Saat itu pula, saat tiga cerita mengalir tulus dari tiga ibu di tanah rawa, saat kami berkumpul di rumah panggung saya berniat menuliskannya di sini. Agar saya tidak lupa, bahwa perih pernah  tergores dalam di hati mereka. Agar saya tidak lupa bahwa hidup yang lebih baik layak diperjuangkan!

2 komentar:

  1. lupa cerita tentang mace yang kepengen makan roti pas ngidam. dan mace yang ketemu kembali ma anaknya. damn! :)

    BalasHapus
  2. ooh...yang saya ingat mace ndut menangis mengenang saat dipisahkan paksa dari anaknya yang masih kecil..so sad..hiks

    BalasHapus

Senin, 09 Juli 2012

Tiga Cerita di Rumah Panggung

Kami sedang menunggu siang itu, saya dan dua orang temanku menanti beberapa orang ibu-ibu di tanah rawa. Rencananya akan ada pertemuan sore itu, kami hendak belajar bersama tentang berbagai macam hal, mulai dari keterampilan kreatif hingga pengetahuan kritis tentang kondisi hari ini. Pertemuan belum juga dimulai, kami bersama dua orang ibu yang baru datang sudah  terlibat  dalam pembicaraan serius tentang anak-anak mereka yang mendaftar di SD negeri dan tentang keponakannya yang sulit mendapatkan layanan pengobatan. Mungkin seperti ini rekaman saya saat itu.

Rumah sakit yang benar-benar sakit
Mace (kata yang artinya sama degan ibu dalam bahasa indonesia) Rusna lebih dulu melontarkan kekesalannya akibat ulah pihak rumah sakit yang berseblahan dengan hotel bertaraf internasional. Ia mulai dengan keponakannya yang berumur 10 bulan yang tiba-tiba sesak nafas di malam hari. Saudara Mace Rusna  sudah mendatangi dua rumah sakit dan selalu ditolak dengan alasan sudah tidak ada lagi ruang perawatan yang kosong. Melihat kondisi ini, akhirnya mace Rusna  berinisiatif menemani saudaranya untuk berbicara ke pihak rumah sakit. Sesampainya di sana, mace Rusna  ngotot agar keponakannya segera ditangani, ia pun diarahkan untuk menemui salah satu dokter. Ia diundang masuk ke sebuah ruangan dan diminta menjelaskan duduk persoalannya. Dengan berapi-api ia mencontohkan apa yang dikatakannya pada dokter malam itu. “Saya mengerti pak sepenuhnya kalau dibilang sudah penuh, tapi saya tidak mengerti kalau anak kecil ini tidak bisa diobat hanya karena tidak ada ruangan”, ujar mace Rusna  mencontohkan. Ia melontarkan kata-kata itu sambil menangis karena ia sempat menoleh ke ponakannya yang bernafas tersenggal-senggal. Si dokter pun ngotot tak bisa menerima pasien, “dari tadi kan saya bilang di sini sudah penuh, masa ibu tidak mengerti!”.
Mace Rusna  bersikeras, ia tetap berdiri di pintu ruangan dokter tersebut walaupun dokter sudah mengakhiri pembicaraan. Tetap membatu demi menunggu kesempatan. Ia kembali memperagakan gerutuannya dalam hati. “Begini mi kayaknya kalau miskin ki di, selalu tidak diperhatikan, selalu dinomor dua kan”. Tak lama berselang seorang ibu paruh baya menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi. Mace Rusna  pun menjelaskan semuanya. Ibu itupun menawarkan tempatnya yang berada di ruang perawatan kelas 3 (ekonomi) dan ia rela pindah ke ruang kelas 1 (yang agak mahal). Mace Rusna  pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Mace Rusna  dan saudaranya mengurus semua administrasi sementara keponakannya sudah mulai dirawat, diberikan bantuan pernafasan. Malam yang panjang dan melelahkan pun terlewati dan ia menutup ceritanya dengan deretan kata,” jika kita tidak berusaha menuntut hak kita, selamanya mereka yang bekuasa tidak akan mempedulikan kita”.

Lima Bocah yang ditolak
Sesekali Mace Asih menggoyang-goyangkan badannya ketika bayi nya mulai menangis. Ia lantas melanjutkan cerita tentang anak ke tiganya yang tidak diterima di SD negeri yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia tak menyangka anaknya yang sudah menginjak usia 9 tahun itu, tidak lulus masuk ke sekolah negeri tersebut. Bukan hanya anaknya, ada 4 anak lain dari tanah rawa yang juga tidak diterima. Pada hari pengumuman, Mace Asih penasaran mengapa anaknya tidak diterima. Ia pun berinisitaif mencari tahu dan bertanya pada panitia penyeleksi.

Sebelum bercerita lebih lanjut, mace Asih mengungkapkan keheranannya akan proses seleksi yang berlakukan pihak sekolah terhadap calon siswa. Setelah mendapatkan nomor pendaftaran, anak-anak tersebut masih harus menjalani tes membaca dan menulis. “Terus apa gunanya sekolah itu anak-anak kalau sudah tahu memang mi membaca sama menulis, sekolah kan gunanya untuk mengajari itu”, ketus mace Asih.
Benar saja, alasan utama mengapa anaknya ditolak karena ia tidak lancar membaca dan menulis. Ia pun berang, begitu juga dengan ibu-ibu lain baik dari tanah rawa maupun sekitarnya yang juga mendapati nomor pendaftaran anaknya tidak tertera di papan pengumuman kelulusan. Mereka pun pulang dengan sesak di dada. Beberapa ibu-ibu pun mengeluarkan celetukan, “kalo orang miskin susah sekali diterima, sementara yang kaya tidak banyak tanya langsung-langsung ji diterima”. Lima anak tanah rawa tak jadi bersekolah.

Bukan Pencuri
Saya kaget ketika Mace Lia tiba-tiba saja naik ke rumah panggung tempat kami berkumpul. Tidak biasanya mace yang satu ini antusias dengan keramaian. Beberapa kali kami mengajaknya untuk ikut berkumpul dengan ibu-ibu lain di tanah rawa, namun ia selalu punya alasan untuk menolak. Kali ini ia punya sesuatu untuk dibagi, namun ini bukan sesuatu yang menyenangkan.
Anaknya yang paling tua sedang ditahan di polsek, padahal ia jadi tulang punggung perekenomian keluarga  saat ini. Ia dituduh mencuri penutup ban mobil yang biasa nangkring di belakang mobil Jeep. Menurut mace Lia anaknya, saat itu tidak jauh dari TKP dan tiba-tiba ada dua anak berlari ke arahnya dan memberikan sesuatu. Ternyata itu adalah penutup ban mobil, ia terpaku tak mengerti. Tak lama setelahnya satpam mendatanginya. Ia kemudian disemprot dengan pertanyaan tanpa sempat menyela,kemudian di bawa ke pos satpam pasar.

Ia meminta pendapat dari ibu-ibu yang lain tentang bagaimana cara mengeluarkan anaknya dari tahanan polisi. Kami pun silih berganti berbicara. Pembicaraan mengerucut pada satu solusi, mace Lia disarankan berbicara pada penyidik anaknya dan memaparkan tentang kejadian dan kondisinya saat ini. Jika celah tak ada, kami sepakat akan mencari jalan lain yang memungkinkan.  

Mace Lia sudah berbagi, ia perih karena ia tahu ini akan sulit. Ia tahu bahwa polisi sangat suka duit agar anaknya bebas. Ia tahu bahwa orang sepertinya sangat mudah dituduh kriminal, tanpa punya kesempatan membela diri. Ia juga tahu, hari-hari setelah hari ini akan semakin sulit. Ia kini hanya punya setumpuk utang dan seorang anak remaja yang murung di balik jeruji.

****

Saat itu pula, saat tiga cerita mengalir tulus dari tiga ibu di tanah rawa, saat kami berkumpul di rumah panggung saya berniat menuliskannya di sini. Agar saya tidak lupa, bahwa perih pernah  tergores dalam di hati mereka. Agar saya tidak lupa bahwa hidup yang lebih baik layak diperjuangkan!

2 komentar:

  1. lupa cerita tentang mace yang kepengen makan roti pas ngidam. dan mace yang ketemu kembali ma anaknya. damn! :)

    BalasHapus
  2. ooh...yang saya ingat mace ndut menangis mengenang saat dipisahkan paksa dari anaknya yang masih kecil..so sad..hiks

    BalasHapus