Pada suatu
siang yang lowong ditemani laptop butut dengan koneksi yang masyallah
lambatnya, saya bertemu dengan seseorang di dunia maya. Di sudut sunyi tanpa
hiruk pikuk pemirsa fb dan laman sejenisnya yang tengah sibuk membicarakan
siapa pendamping jokowow di bursa transfer presiden yang akan memantati seluruh
warga negara, saya bertemu dengan RR. Siapa dia? Saya juga tidak mengenalnya.
Saya hanya tertarik dengan selera musiknya, saya bertanya dan ia menjawab. Saat
dia bertanya saya menjawab. Seperti itulah hubungan pertemanan yang berjalan
satu jam ini.
Ia
menyodorkan satu band, indie katanya dari Bandung. Tak ada salahnya mencoba,
saya pun mencari ‘The Trees and The Wild’ di google. Selang beberapa detik saya
menemukannya di soundcloud. Tanpa pikir panjang soal koneksi dan kuota yang
lagi cekak, saya download satu lagu, judulnya ‘malino’. Memang prinsip
jurnalistik yaitu proximitas selalu benar adanya. Saya memilih judul karena
sama dengan nama daerah wisata gunung yang tak jauh dari Makassar dan tentu saja
karena saya pernah ke sana. Tak ada kenangan buruk di tempat itu, jadi saya
akan ingat.
Balik lagi
ke soal lagu. Setelah menunggu sambil masak mie, bersih-bersih kamar, cuci
baju, menolong tetangga yang cantik nan seksi membuang sampah, akhirnya
donlotan yang tak sampai 4 mb itu selesai juga. Saya langsung putar, kebetulan
speaker butut dengan denguangan bass yang ciamik sudah terhubung dengan lappy.
Intronya
sungguh menggoda, petikan gitar yang jernih dan menjanjikan, dalam hati saya
menggerutu riang. Saat suara vocal masuk saya sedikit kecewa, kedengarannya
mirip dengan gaya bernyanyinya si band sok keren Alexa. Hehehe.
Ah…saya
jatuh cinta dengan lagu ini. Membuat hayalan bisa ke mana-mana. Saat
mendengarkan, saya berbagi dengan RR betapa nyamannya mendengar lagu ini. Tak
lupa saya mengucapkan terima kasih telah karena ia telah mengenalkan saya
dengan band ini. RR bilang dia hanya suka band dengan konsep akustik, saya tak
mengerti soal genre dan bukan tak punya banyak kata tentang jagad musik.
RR dari
Toraja, ia sedang kuliah saat ini dan senang membaca. Koneksi terputus, dan berpisahlah kami. Tak
tau bagaimana cara menghubunginya lagi. Sejam yang menyenangkan, pikirku.
Saya
kemudian mengkhayal ditemani bisikan di telinga suara “mari rasuk-
mari rasuk”…..

