Sungguh sudah lama...tidak..tidak..baru saja beberapa hari kok..meninggalakan kota sombong ini kadang dipelukan untuk menjaga pikiranmu supaya tetap waras. Ah...memang sedari awal kota ini dipenuhi orang gila kok dan saya tak mau membahasnya di sini. Hehehe. Ayolah, kau harus datang kembali secepatnya dan gila lagi bersamaku, bersama ubin jalan setapak, bersama ruko kecil di sudut jalan, bersama lubang-lubang di tengah jalan yang selalu kita lalui bersama hampir tiap hari.
Kau tahu? Sudah berapa hari ini saya sedang tertarik dengan sebuah kata. Ia adalah imajinasi, mungkin kata ini yang membuat beberapa dari kita tetap waras, dan jangan mendebatku soal kata ‘waras’ ini. Ayolah kita sama-sama tahu mana yang dibilang waras dan yang tidak, walaupun ada tepi yang tak jelas diantara keduanya. Alah, jika kau menginginkan lebih....ahh pusing saya dibuatnya.
Saya dan seorang perempuan tua, beberapa waktu yang lalu, ya kami berdua tersesat dalam percakapan kami sendiri, percakapan acak tentang banyak hal -yang kau tahu- ini sangat mengandalkan imajinasi. Entah bagaimana, ia lantas bertanya soal apa yang kau lakukan ketika masyarakat kita sudah meninggalkan gaya hidup dengan opresi kelas sosialnya seperti sekarang ini. Banyak hal kubilang, yang pertama ya mencukupi kebutuhan dasarku dengan bertani. Mendirikan Adobe, bertetangga, kadang-kadang menenun, membuat sebuah lagu untukmu, mungkin juga melukis wajahmu, atau menemukan lelucon yang bisa membuatmu tertawa (hahaha..I’m still working on it).
Saya meninggalkan percakapan itu, ia punya si bibir mancung sekarang untuk mengobrol, dan tentu saja menguras imajinasinya. Saya kemudian sibuk dengan kepalaku sendiri, menciptakan dunia sendiri setelah menyedu kopi dan membakar rokok murah yang kubeli dari warung sebelah rumah. Dunianya mungkin seperti ini:
Siang tadi ketika hendak membeli makanan, motor hitam rongsokanku itu kupacu di jalan menuju warung makan. Disepanjang jalan tampak beberapa bocah memegang kaleng yang dililiti benang, mereka sedang bermain layang-layang pikirku. Yap, benar sekali beberapa layangan tampak dilangit di atasku. Jika ada kendaraan yang lewat, mereka akan meninggikan benangnya agar tak nyangkut pada motor atau mobil yang lewat. Sungguh sulit mendapat tanah lapang di tengah kota sombong ini pikirku, dan mereka begitu gigih bermain di jalan raya yang tak kenal belas kasih itu.
Karenanya pula saya jadi ingat masa kecil ku di kota kecil yang sangat mengandalkan pelabuhannya untuk tetap bisa berdenyut. Tentang bau tanah merah, kaki yang berdarah setelah berlarian di tengah tanah berbalut rumput liar, tentang baju dan celanaku yang selalu sangat kotor ketika pulang ke rumah di sore hari untuk mandi kemudian makan. Tentang itik yang kupelihara dan kucuri telurnya di tiap pagi untuk kujadikan sarapan. Tentang rawa tempat memancing ikan gabus yang seringkali berakhir dengan kegagalan membawa pulang tangkapan. Jika sudah begitu, saya akan mengambil jaring bekas ayakan pasir milik tetangga dan memanggil beberapa temanku untuk menjaring ikan brengsek yang tak mau memakan umpanku. Hahaha. Mereka berakhir di panggangan dengan arang dari ranting kayu dan dedaunan. Itu hanya hanya masa kecil dan untunglah saya masih bisa mengingatnya.
***
Semalam, dengan telpon genggam pemberian saudaraku saya menerima telponmu dari kota yang jauh. Katamu tadi siang kamu baru saja menggoreng tempe dan membuat kue, senang mendengarnya :p. Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu kita pergi ke toko buku, mencari-cari buku yang cocok. Aku menemukan satu di toko buku pertama yang sebenarnya lebih mirip swalayan satationary. Judulnya Ketika Manusia Kloning Berkuasa, ketika pertamakali melihatnya, judul dan covernya sungguh tak menarik, tapi setelah membaca sinopsisnya saya jadi tertarik. Ya, imajinasi yang kuat pikirku, hmm ..tentang bagaimana kehidupan manusia di masa yang akan datang. Oh bukan, ketika manusia tak ada lagi, berganti manusia cebol tak beralat kelamin yang berkembang biak dengan cara mengkloning dirinya sendiri. Tema fiksi tentang peradaban yang hancur, akan hancur, telah hancur, cukup banyak loh. Sederet buku dan film tentang tema inipun ku koleksi diantranya the road, the day the earth stood still, resident evil, the matrix, the book of eli, terminator, kulupai sisanya. Dan kau tahu? Entah mengapa saya begitu menikmati ketika adegan dalam film atau novel yang kubaca berakhir dengan kehancuran peradaban. Sayu sepertinya sudah sinting. :p
Tentu penulis novel dan naskah film bertema ini punya imajinasi yang cukup kuat, dan juga dibantu oleh pengetahuan penulis dan perspektifnya yang radikal dalam melihat dunia hari ini. Dan imajinasiku hanya berhenti di sini? Coba kuingat-ingat dulu, apa imajinasi ku tentang masa depan? Saya berpikir kuat, tak menemukannya, hanya ada bayang samar, hmm ...saya melihat dirimu didalamnya. Dan itulah imajinasiku untuk masa depan! :P