Senin, 09 Mei 2011

Untuk Sesaat Semua Menjadi Kami

Kami, ya kami! Hampir semuanya kami tinggalkan, tidak pekerjaan, tidak pula agenda pribadi. Di sabtu yang menjemukan ini, kami menutup pintu kamar dan meninggalkan dunia beserta semua adegan sirkusnya di luar sana. Untuk beberapa jam ke depan kami biarkan semua tergelatak, berkelahi, berserakan, menangis, tertawa, melata, melompat, menari, merenung, membaca, menulis, membisu, marah,  pasrah, terbang, terhempas, tertindih, perih, sendiri. 


Di ruang panas ini, hanya ada kipas kecil yang tak berdaya menawar terjangan mentari. Kami menemani sebuah kardus using berisi kaleng-kaleng berisi tinta yang hendak melompat dari mulut kardus. Ia jadi penawar dialog yang berujung pada bisu yang sesekali hadir di antara hangatnya perbincangan. 


Untuk beberapa waktu kemudian, biarkan kami memiliki dunia kami sendiri. Menikmati cumbu mentari sambil menggenggam erat jemari. Biar esok kami bisa sedikit mengerti di mana kami sedang berdiri, dan di setapak mana kami sedang berlari.

2 komentar:

Senin, 09 Mei 2011

Untuk Sesaat Semua Menjadi Kami

Kami, ya kami! Hampir semuanya kami tinggalkan, tidak pekerjaan, tidak pula agenda pribadi. Di sabtu yang menjemukan ini, kami menutup pintu kamar dan meninggalkan dunia beserta semua adegan sirkusnya di luar sana. Untuk beberapa jam ke depan kami biarkan semua tergelatak, berkelahi, berserakan, menangis, tertawa, melata, melompat, menari, merenung, membaca, menulis, membisu, marah,  pasrah, terbang, terhempas, tertindih, perih, sendiri. 


Di ruang panas ini, hanya ada kipas kecil yang tak berdaya menawar terjangan mentari. Kami menemani sebuah kardus using berisi kaleng-kaleng berisi tinta yang hendak melompat dari mulut kardus. Ia jadi penawar dialog yang berujung pada bisu yang sesekali hadir di antara hangatnya perbincangan. 


Untuk beberapa waktu kemudian, biarkan kami memiliki dunia kami sendiri. Menikmati cumbu mentari sambil menggenggam erat jemari. Biar esok kami bisa sedikit mengerti di mana kami sedang berdiri, dan di setapak mana kami sedang berlari.

2 komentar:

Senin, 09 Mei 2011

Untuk Sesaat Semua Menjadi Kami

Kami, ya kami! Hampir semuanya kami tinggalkan, tidak pekerjaan, tidak pula agenda pribadi. Di sabtu yang menjemukan ini, kami menutup pintu kamar dan meninggalkan dunia beserta semua adegan sirkusnya di luar sana. Untuk beberapa jam ke depan kami biarkan semua tergelatak, berkelahi, berserakan, menangis, tertawa, melata, melompat, menari, merenung, membaca, menulis, membisu, marah,  pasrah, terbang, terhempas, tertindih, perih, sendiri. 


Di ruang panas ini, hanya ada kipas kecil yang tak berdaya menawar terjangan mentari. Kami menemani sebuah kardus using berisi kaleng-kaleng berisi tinta yang hendak melompat dari mulut kardus. Ia jadi penawar dialog yang berujung pada bisu yang sesekali hadir di antara hangatnya perbincangan. 


Untuk beberapa waktu kemudian, biarkan kami memiliki dunia kami sendiri. Menikmati cumbu mentari sambil menggenggam erat jemari. Biar esok kami bisa sedikit mengerti di mana kami sedang berdiri, dan di setapak mana kami sedang berlari.

2 komentar: