Senin, 09 Mei 2011

Untuk Sesaat Semua Menjadi Kami

Kami, ya kami! Hampir semuanya kami tinggalkan, tidak pekerjaan, tidak pula agenda pribadi. Di sabtu yang menjemukan ini, kami menutup pintu kamar dan meninggalkan dunia beserta semua adegan sirkusnya di luar sana. Untuk beberapa jam ke depan kami biarkan semua tergelatak, berkelahi, berserakan, menangis, tertawa, melata, melompat, menari, merenung, membaca, menulis, membisu, marah,  pasrah, terbang, terhempas, tertindih, perih, sendiri. 


Di ruang panas ini, hanya ada kipas kecil yang tak berdaya menawar terjangan mentari. Kami menemani sebuah kardus using berisi kaleng-kaleng berisi tinta yang hendak melompat dari mulut kardus. Ia jadi penawar dialog yang berujung pada bisu yang sesekali hadir di antara hangatnya perbincangan. 


Untuk beberapa waktu kemudian, biarkan kami memiliki dunia kami sendiri. Menikmati cumbu mentari sambil menggenggam erat jemari. Biar esok kami bisa sedikit mengerti di mana kami sedang berdiri, dan di setapak mana kami sedang berlari.

Minggu, 01 Mei 2011

Menantimu di Tanah Rawa

Kami membuat sebuah janji, lebih  tepatnya disebut kesepakatan untuk tak bertemu selama tiga hari, juga tak saling menghubungi. Hahaha. Aneh, sungguh persetujuan yang menyebalkan di antara membaranya kasihku padanya. Hahaha. Dan di antara tiga hari yang berat itu, tersiar kabar bahwa tanah rawa akan diserbu sekawanan preman yang dibayar oleh seorang pengusaha tambun yang hendak merampas sebidang lahan tersebut dari pemilik sah, orang-orang tanah rawa. 

Saudara tuaku Boriel, intens berkomunikasi dengan Enos pria lincah asal negeri timur matahari yang beberapa bulan terakhir sering nongkrong di tanah rawa. Boriel akhirnya menghubungiku dan saudara-saudaraku yang lain. Kami hendak ke tanah rawa di hari sabtu, hari ke dua dari perjanjianku selama tiga hari dengan gadis feromon. 

Pagi -pagi sekali, kami berempat sudah bangun. Sedikit merapikan diri sambil menyeruput kopi panas buatan Pinko, perempuan tua  tangguh yang tak lain adalah kekasih Boriel. Kami hanya sedikit mengobrol, tentang hasil pertemuan semalam, tentang kode sandi sampai strategi perang yang sudah disusun oleh barikade anti penggusuran tanah rawa. Kami mengakhirinya dengan tertawa lepas, sambil menimpali busuknya permainan negara dan pengusaha yang selalu kompak melakukan hal-hal seperti di tanah rawa ini, merebut ruang hidup dan kehidupan. 

Tak memakan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai di tanah rawa dari tempat kami nginap, kampung biru. Akhir pekan yang menjemukan, selalu membuat kota megapolitan ini lengang dan lesu, tak ada wajah yang terburu-buru, tak ada kuda besi yang tergesa-gesa menyelip deretan mobil pribadi mewah. Akhirnya kami sampai dengan selamat. Hehehe.
Sore di Tanah Rawa (diambil pake hengpong ji :p)
Inilah pagi di tanah rawa, bambu tua berderet rapi melintang di atas genangan besar air yang memisahkan satu rumah dengan rumah lainnya. Sesekali, riak air pecah di permukaannya akibat lambaian ekor ikan berwarna hitam dan mungil. Mereka tampaknya terganggu dengan kehadiran kaki-kaki kami yang kaku berjalan di atas jalan bambu ini. Pinko dan boriel begitu lamban berjalan, sementara saya dan Jo sibuk dengan kepala masing-masing setelah disuguhi adegan dingin seorang warga yang sedang mengasah sebilah parang.  Bukan sebilah, ada lima bilah! Kami menyaksikan ekspresi dingin khas luapan insting bertahan dan melindungi. Kami tak berkomentar, Jo hanya melempar senyum padaku dan kami melanjutkan perjalanan menuju posko induk tempat berkumpulnya teman-teman barikade anti penggusuran. 

Sebelum kulanjutkan, saya ingin membagikan sesuatu. Sialan! Jika kamu berpikir kami ke tanah rawa karena iba pada orang tanah rawa dan panggilan moral, kamu salah! Solidaritas adalah senjata yang paling ampuh untuk merenggut kehidupan yang telah lama dicuri oleh sistem bobrok ini. Hidup kami telah lama dicuri sejak saat itu, saat  kami telah dilabeli dengan embel-embel warga negara melalui akta kelahiran hingga diberi sistem kepercayaan demi menciptakan ketertundukan. Kami hanya tak mau lagi dicuri lebih banyak, tidak juga bagi orang-orang tanah rawa yang hendak dicuri tanahnya oleh Hanoman itu. Maka bersolidaritaslah!
Posko induk lengang, kawan-kawan yang malam tadi nginap di tanah rawa, masih menikmati keintimannya dengan pagi. Ini masih jam 7 pagi, kabut belum juga mau berpisah dengan muka rawa. Tampaknya ada perayaan kecil semalam di tanah rawa, demi menyambut om eman yang kan datang esok hari.
***
Hari semakin panas, canda tawa mulai tak bisa membunuh bosan kami menunggu serangan dari om eman. Sel  FNB (Food Not Bombs) sudah pula menyelesaikan misinya hari ini, logistik perang sudah siap di gudang altileri. Pria skinny di sampingku mengutuk dalam gerah dan marah, “sialan, tak ditunggu si eman muncul, saat kami siap menyambut dengan red carpet, mereka tak datang, sial!”. Hahaha, saya hanya bisa tertawa mendengarnya, saya sudah terlalu capek untuk menimpalinya. Hahaha

Ditengah-tengah kejemuan akut itu, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di kompleks tanah rawa, saya menemukan beberapa teman sedang ngobrol dengan warga, kuputuskan untuk masuk dalam sidang itu. Mereka sedang bercerita tentang berbagai topik, cukup panjang dan ramai, hingga akhirnya beberapa teman memutuskan untuk minggat, sepertinya ingin beristirahat. Tersisa kami berdua, saya dan bapak berkacamata dengan kemeja lusuh berwarna krem warga asli tanah rawa.

Setelah puas dengan topik pembicaraan di luar ‘kita’, akhirnya saya bertanya soal seputar tanah rawa dan kehidupan bapak berkacamata. Ia kemudian menyambutnya dengan aliran kisah pertama kali ia sampai di tanah ini. Tahun 1984 ia mendapati tanah ini adalah rawa-rawa yang dikelilingi pepohonan lebat. “Hanya di hitung jari ji rumah di dulu, masih sepi”, kenang bapak 3 anak ini. Ia mengisap dalam-dalam rokok di tangannya sembari mendengar tanggapanku. 

Saya lantas bertanya, di mana tepatnya letak rumahnya di tanah rawa ini, ia lantas menunjuk rumah panggung berdinding tripleks. Saya menengoknya dalam, “yang banyak lubang di dindingnya itu?”, gumamku dalam hati. Ia menarikku kembali dalam perbincangan dan berkata, “itu mi juga, saya mau perbaiki sedikit-sedikit tapi nda ada pi uang”. 

Ia lantas bercerita tentang hidupnya di kota ini, yang akhirnya berakhir sebagai tukang parkir di salah satu fasilitas umum tak jauh dari tanah rawa. Tanah rawa memang strategis, ia di apit barisan bangunan mewah menjulang yang tak lain adalah pusat perbelanjaan dan gedung berorientasi niaga. Ia seperti luka menganga di permukaan kulit mulus. Tak heran si Hanoman kepincut untuk menguasainya. 

Kami kembali larut dalam percakapan saat ia melontarkan barisan kata tentang kondisi anak dan istrinya. Ia terpaksa memboyong 2 anak serta istrinya pulang ke kampungnya di pesisir selatan celebes, semenjak kondisi kesehatan istrinya memburuk, ia takut rumah super sederhananya tak mampu menghadirkan kehangatan kala tubuh rapuh dan kedinginan. Hanya anaknya yang sudah berumur 18 tahun yang bertahan menemaninya.  Hitam kulitnya jadi penanda bahwa siang harinya ia lewati di bawah sengatan matahari, dan malamnya ia berkelahi dengan dingin. 

Senin, 09 Mei 2011

Untuk Sesaat Semua Menjadi Kami

Kami, ya kami! Hampir semuanya kami tinggalkan, tidak pekerjaan, tidak pula agenda pribadi. Di sabtu yang menjemukan ini, kami menutup pintu kamar dan meninggalkan dunia beserta semua adegan sirkusnya di luar sana. Untuk beberapa jam ke depan kami biarkan semua tergelatak, berkelahi, berserakan, menangis, tertawa, melata, melompat, menari, merenung, membaca, menulis, membisu, marah,  pasrah, terbang, terhempas, tertindih, perih, sendiri. 


Di ruang panas ini, hanya ada kipas kecil yang tak berdaya menawar terjangan mentari. Kami menemani sebuah kardus using berisi kaleng-kaleng berisi tinta yang hendak melompat dari mulut kardus. Ia jadi penawar dialog yang berujung pada bisu yang sesekali hadir di antara hangatnya perbincangan. 


Untuk beberapa waktu kemudian, biarkan kami memiliki dunia kami sendiri. Menikmati cumbu mentari sambil menggenggam erat jemari. Biar esok kami bisa sedikit mengerti di mana kami sedang berdiri, dan di setapak mana kami sedang berlari.

Minggu, 01 Mei 2011

Menantimu di Tanah Rawa

Kami membuat sebuah janji, lebih  tepatnya disebut kesepakatan untuk tak bertemu selama tiga hari, juga tak saling menghubungi. Hahaha. Aneh, sungguh persetujuan yang menyebalkan di antara membaranya kasihku padanya. Hahaha. Dan di antara tiga hari yang berat itu, tersiar kabar bahwa tanah rawa akan diserbu sekawanan preman yang dibayar oleh seorang pengusaha tambun yang hendak merampas sebidang lahan tersebut dari pemilik sah, orang-orang tanah rawa. 

Saudara tuaku Boriel, intens berkomunikasi dengan Enos pria lincah asal negeri timur matahari yang beberapa bulan terakhir sering nongkrong di tanah rawa. Boriel akhirnya menghubungiku dan saudara-saudaraku yang lain. Kami hendak ke tanah rawa di hari sabtu, hari ke dua dari perjanjianku selama tiga hari dengan gadis feromon. 

Pagi -pagi sekali, kami berempat sudah bangun. Sedikit merapikan diri sambil menyeruput kopi panas buatan Pinko, perempuan tua  tangguh yang tak lain adalah kekasih Boriel. Kami hanya sedikit mengobrol, tentang hasil pertemuan semalam, tentang kode sandi sampai strategi perang yang sudah disusun oleh barikade anti penggusuran tanah rawa. Kami mengakhirinya dengan tertawa lepas, sambil menimpali busuknya permainan negara dan pengusaha yang selalu kompak melakukan hal-hal seperti di tanah rawa ini, merebut ruang hidup dan kehidupan. 

Tak memakan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai di tanah rawa dari tempat kami nginap, kampung biru. Akhir pekan yang menjemukan, selalu membuat kota megapolitan ini lengang dan lesu, tak ada wajah yang terburu-buru, tak ada kuda besi yang tergesa-gesa menyelip deretan mobil pribadi mewah. Akhirnya kami sampai dengan selamat. Hehehe.
Sore di Tanah Rawa (diambil pake hengpong ji :p)
Inilah pagi di tanah rawa, bambu tua berderet rapi melintang di atas genangan besar air yang memisahkan satu rumah dengan rumah lainnya. Sesekali, riak air pecah di permukaannya akibat lambaian ekor ikan berwarna hitam dan mungil. Mereka tampaknya terganggu dengan kehadiran kaki-kaki kami yang kaku berjalan di atas jalan bambu ini. Pinko dan boriel begitu lamban berjalan, sementara saya dan Jo sibuk dengan kepala masing-masing setelah disuguhi adegan dingin seorang warga yang sedang mengasah sebilah parang.  Bukan sebilah, ada lima bilah! Kami menyaksikan ekspresi dingin khas luapan insting bertahan dan melindungi. Kami tak berkomentar, Jo hanya melempar senyum padaku dan kami melanjutkan perjalanan menuju posko induk tempat berkumpulnya teman-teman barikade anti penggusuran. 

Sebelum kulanjutkan, saya ingin membagikan sesuatu. Sialan! Jika kamu berpikir kami ke tanah rawa karena iba pada orang tanah rawa dan panggilan moral, kamu salah! Solidaritas adalah senjata yang paling ampuh untuk merenggut kehidupan yang telah lama dicuri oleh sistem bobrok ini. Hidup kami telah lama dicuri sejak saat itu, saat  kami telah dilabeli dengan embel-embel warga negara melalui akta kelahiran hingga diberi sistem kepercayaan demi menciptakan ketertundukan. Kami hanya tak mau lagi dicuri lebih banyak, tidak juga bagi orang-orang tanah rawa yang hendak dicuri tanahnya oleh Hanoman itu. Maka bersolidaritaslah!
Posko induk lengang, kawan-kawan yang malam tadi nginap di tanah rawa, masih menikmati keintimannya dengan pagi. Ini masih jam 7 pagi, kabut belum juga mau berpisah dengan muka rawa. Tampaknya ada perayaan kecil semalam di tanah rawa, demi menyambut om eman yang kan datang esok hari.
***
Hari semakin panas, canda tawa mulai tak bisa membunuh bosan kami menunggu serangan dari om eman. Sel  FNB (Food Not Bombs) sudah pula menyelesaikan misinya hari ini, logistik perang sudah siap di gudang altileri. Pria skinny di sampingku mengutuk dalam gerah dan marah, “sialan, tak ditunggu si eman muncul, saat kami siap menyambut dengan red carpet, mereka tak datang, sial!”. Hahaha, saya hanya bisa tertawa mendengarnya, saya sudah terlalu capek untuk menimpalinya. Hahaha

Ditengah-tengah kejemuan akut itu, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di kompleks tanah rawa, saya menemukan beberapa teman sedang ngobrol dengan warga, kuputuskan untuk masuk dalam sidang itu. Mereka sedang bercerita tentang berbagai topik, cukup panjang dan ramai, hingga akhirnya beberapa teman memutuskan untuk minggat, sepertinya ingin beristirahat. Tersisa kami berdua, saya dan bapak berkacamata dengan kemeja lusuh berwarna krem warga asli tanah rawa.

Setelah puas dengan topik pembicaraan di luar ‘kita’, akhirnya saya bertanya soal seputar tanah rawa dan kehidupan bapak berkacamata. Ia kemudian menyambutnya dengan aliran kisah pertama kali ia sampai di tanah ini. Tahun 1984 ia mendapati tanah ini adalah rawa-rawa yang dikelilingi pepohonan lebat. “Hanya di hitung jari ji rumah di dulu, masih sepi”, kenang bapak 3 anak ini. Ia mengisap dalam-dalam rokok di tangannya sembari mendengar tanggapanku. 

Saya lantas bertanya, di mana tepatnya letak rumahnya di tanah rawa ini, ia lantas menunjuk rumah panggung berdinding tripleks. Saya menengoknya dalam, “yang banyak lubang di dindingnya itu?”, gumamku dalam hati. Ia menarikku kembali dalam perbincangan dan berkata, “itu mi juga, saya mau perbaiki sedikit-sedikit tapi nda ada pi uang”. 

Ia lantas bercerita tentang hidupnya di kota ini, yang akhirnya berakhir sebagai tukang parkir di salah satu fasilitas umum tak jauh dari tanah rawa. Tanah rawa memang strategis, ia di apit barisan bangunan mewah menjulang yang tak lain adalah pusat perbelanjaan dan gedung berorientasi niaga. Ia seperti luka menganga di permukaan kulit mulus. Tak heran si Hanoman kepincut untuk menguasainya. 

Kami kembali larut dalam percakapan saat ia melontarkan barisan kata tentang kondisi anak dan istrinya. Ia terpaksa memboyong 2 anak serta istrinya pulang ke kampungnya di pesisir selatan celebes, semenjak kondisi kesehatan istrinya memburuk, ia takut rumah super sederhananya tak mampu menghadirkan kehangatan kala tubuh rapuh dan kedinginan. Hanya anaknya yang sudah berumur 18 tahun yang bertahan menemaninya.  Hitam kulitnya jadi penanda bahwa siang harinya ia lewati di bawah sengatan matahari, dan malamnya ia berkelahi dengan dingin. 

Senin, 09 Mei 2011

Untuk Sesaat Semua Menjadi Kami

Kami, ya kami! Hampir semuanya kami tinggalkan, tidak pekerjaan, tidak pula agenda pribadi. Di sabtu yang menjemukan ini, kami menutup pintu kamar dan meninggalkan dunia beserta semua adegan sirkusnya di luar sana. Untuk beberapa jam ke depan kami biarkan semua tergelatak, berkelahi, berserakan, menangis, tertawa, melata, melompat, menari, merenung, membaca, menulis, membisu, marah,  pasrah, terbang, terhempas, tertindih, perih, sendiri. 


Di ruang panas ini, hanya ada kipas kecil yang tak berdaya menawar terjangan mentari. Kami menemani sebuah kardus using berisi kaleng-kaleng berisi tinta yang hendak melompat dari mulut kardus. Ia jadi penawar dialog yang berujung pada bisu yang sesekali hadir di antara hangatnya perbincangan. 


Untuk beberapa waktu kemudian, biarkan kami memiliki dunia kami sendiri. Menikmati cumbu mentari sambil menggenggam erat jemari. Biar esok kami bisa sedikit mengerti di mana kami sedang berdiri, dan di setapak mana kami sedang berlari.

Minggu, 01 Mei 2011

Menantimu di Tanah Rawa

Kami membuat sebuah janji, lebih  tepatnya disebut kesepakatan untuk tak bertemu selama tiga hari, juga tak saling menghubungi. Hahaha. Aneh, sungguh persetujuan yang menyebalkan di antara membaranya kasihku padanya. Hahaha. Dan di antara tiga hari yang berat itu, tersiar kabar bahwa tanah rawa akan diserbu sekawanan preman yang dibayar oleh seorang pengusaha tambun yang hendak merampas sebidang lahan tersebut dari pemilik sah, orang-orang tanah rawa. 

Saudara tuaku Boriel, intens berkomunikasi dengan Enos pria lincah asal negeri timur matahari yang beberapa bulan terakhir sering nongkrong di tanah rawa. Boriel akhirnya menghubungiku dan saudara-saudaraku yang lain. Kami hendak ke tanah rawa di hari sabtu, hari ke dua dari perjanjianku selama tiga hari dengan gadis feromon. 

Pagi -pagi sekali, kami berempat sudah bangun. Sedikit merapikan diri sambil menyeruput kopi panas buatan Pinko, perempuan tua  tangguh yang tak lain adalah kekasih Boriel. Kami hanya sedikit mengobrol, tentang hasil pertemuan semalam, tentang kode sandi sampai strategi perang yang sudah disusun oleh barikade anti penggusuran tanah rawa. Kami mengakhirinya dengan tertawa lepas, sambil menimpali busuknya permainan negara dan pengusaha yang selalu kompak melakukan hal-hal seperti di tanah rawa ini, merebut ruang hidup dan kehidupan. 

Tak memakan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai di tanah rawa dari tempat kami nginap, kampung biru. Akhir pekan yang menjemukan, selalu membuat kota megapolitan ini lengang dan lesu, tak ada wajah yang terburu-buru, tak ada kuda besi yang tergesa-gesa menyelip deretan mobil pribadi mewah. Akhirnya kami sampai dengan selamat. Hehehe.
Sore di Tanah Rawa (diambil pake hengpong ji :p)
Inilah pagi di tanah rawa, bambu tua berderet rapi melintang di atas genangan besar air yang memisahkan satu rumah dengan rumah lainnya. Sesekali, riak air pecah di permukaannya akibat lambaian ekor ikan berwarna hitam dan mungil. Mereka tampaknya terganggu dengan kehadiran kaki-kaki kami yang kaku berjalan di atas jalan bambu ini. Pinko dan boriel begitu lamban berjalan, sementara saya dan Jo sibuk dengan kepala masing-masing setelah disuguhi adegan dingin seorang warga yang sedang mengasah sebilah parang.  Bukan sebilah, ada lima bilah! Kami menyaksikan ekspresi dingin khas luapan insting bertahan dan melindungi. Kami tak berkomentar, Jo hanya melempar senyum padaku dan kami melanjutkan perjalanan menuju posko induk tempat berkumpulnya teman-teman barikade anti penggusuran. 

Sebelum kulanjutkan, saya ingin membagikan sesuatu. Sialan! Jika kamu berpikir kami ke tanah rawa karena iba pada orang tanah rawa dan panggilan moral, kamu salah! Solidaritas adalah senjata yang paling ampuh untuk merenggut kehidupan yang telah lama dicuri oleh sistem bobrok ini. Hidup kami telah lama dicuri sejak saat itu, saat  kami telah dilabeli dengan embel-embel warga negara melalui akta kelahiran hingga diberi sistem kepercayaan demi menciptakan ketertundukan. Kami hanya tak mau lagi dicuri lebih banyak, tidak juga bagi orang-orang tanah rawa yang hendak dicuri tanahnya oleh Hanoman itu. Maka bersolidaritaslah!
Posko induk lengang, kawan-kawan yang malam tadi nginap di tanah rawa, masih menikmati keintimannya dengan pagi. Ini masih jam 7 pagi, kabut belum juga mau berpisah dengan muka rawa. Tampaknya ada perayaan kecil semalam di tanah rawa, demi menyambut om eman yang kan datang esok hari.
***
Hari semakin panas, canda tawa mulai tak bisa membunuh bosan kami menunggu serangan dari om eman. Sel  FNB (Food Not Bombs) sudah pula menyelesaikan misinya hari ini, logistik perang sudah siap di gudang altileri. Pria skinny di sampingku mengutuk dalam gerah dan marah, “sialan, tak ditunggu si eman muncul, saat kami siap menyambut dengan red carpet, mereka tak datang, sial!”. Hahaha, saya hanya bisa tertawa mendengarnya, saya sudah terlalu capek untuk menimpalinya. Hahaha

Ditengah-tengah kejemuan akut itu, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di kompleks tanah rawa, saya menemukan beberapa teman sedang ngobrol dengan warga, kuputuskan untuk masuk dalam sidang itu. Mereka sedang bercerita tentang berbagai topik, cukup panjang dan ramai, hingga akhirnya beberapa teman memutuskan untuk minggat, sepertinya ingin beristirahat. Tersisa kami berdua, saya dan bapak berkacamata dengan kemeja lusuh berwarna krem warga asli tanah rawa.

Setelah puas dengan topik pembicaraan di luar ‘kita’, akhirnya saya bertanya soal seputar tanah rawa dan kehidupan bapak berkacamata. Ia kemudian menyambutnya dengan aliran kisah pertama kali ia sampai di tanah ini. Tahun 1984 ia mendapati tanah ini adalah rawa-rawa yang dikelilingi pepohonan lebat. “Hanya di hitung jari ji rumah di dulu, masih sepi”, kenang bapak 3 anak ini. Ia mengisap dalam-dalam rokok di tangannya sembari mendengar tanggapanku. 

Saya lantas bertanya, di mana tepatnya letak rumahnya di tanah rawa ini, ia lantas menunjuk rumah panggung berdinding tripleks. Saya menengoknya dalam, “yang banyak lubang di dindingnya itu?”, gumamku dalam hati. Ia menarikku kembali dalam perbincangan dan berkata, “itu mi juga, saya mau perbaiki sedikit-sedikit tapi nda ada pi uang”. 

Ia lantas bercerita tentang hidupnya di kota ini, yang akhirnya berakhir sebagai tukang parkir di salah satu fasilitas umum tak jauh dari tanah rawa. Tanah rawa memang strategis, ia di apit barisan bangunan mewah menjulang yang tak lain adalah pusat perbelanjaan dan gedung berorientasi niaga. Ia seperti luka menganga di permukaan kulit mulus. Tak heran si Hanoman kepincut untuk menguasainya. 

Kami kembali larut dalam percakapan saat ia melontarkan barisan kata tentang kondisi anak dan istrinya. Ia terpaksa memboyong 2 anak serta istrinya pulang ke kampungnya di pesisir selatan celebes, semenjak kondisi kesehatan istrinya memburuk, ia takut rumah super sederhananya tak mampu menghadirkan kehangatan kala tubuh rapuh dan kedinginan. Hanya anaknya yang sudah berumur 18 tahun yang bertahan menemaninya.  Hitam kulitnya jadi penanda bahwa siang harinya ia lewati di bawah sengatan matahari, dan malamnya ia berkelahi dengan dingin.